Museum Sejarah Nasional Indonesia

Secara tak sengaja saya berkunjung ke Museum Sejarah Nasional Indonesia di Monas, Jakarta Pusat, setelah batal naik ke puncak Monas karena antrian yang sangat panjang. Maklum hari Sabtu, dan masih relatif pagi, waktu yang semua orang menduga lebih sepi, namun yang terjadi justru sebaliknya, karena orang berpikir sama. Museum Sejarah Nasional Indonesia lokasinya sangat dekat dengan lift ke puncak Monas, tepatnya 3 meter di bawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional.

Ruangannya berbentuk bujur sangkar yang berukuran 80 X 80 meter, dengan lantai, dinding, dan tiang berlapis marmer. Masuk ke area museum terlihat deretan diorama berjumlah 48 buah. Diorama dimulai dengan kehidupan jaman pra-sejarah, berlanjut masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, masa penjajahan, masa perjuangan mengusir penjajah, pergerakan nasional Indonesia, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, dan diorama jaman Orde Baru.

Kehidupan masyarakat Indonesia Purba yang hidup antara 3000 - 2000 SM juga ada dioramanya di Museum Sejarah Nasional Indonesia Monas. Peninggalan budaya jaman megalitikum itu tersebar di seluruh Nusantara, seperti Situs Cibalay, Gunung Padang, dan di Pasemah, berupa alat serpih, menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, dan arca.

museum sejarah nasional indonesia
Diorama Museum Sejarah Nasional Indonesia yang menggambarkan kedatangan Cheng Ho ke Majapahit pada 1405 semasa pemerintahan Raja Wirakramawardhana, suami Kusumawardhani, putri Hayam Wuruk. Sejak Majapahit mengalami zaman keemasan, hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga berlangsung dengan baik. Kedatangan Cheng Ho yang muslim memberi pengaruh pada berdirinya kelenteng untuk menghormatinya di beberapa tempat di Jawa yang jamaahnya tidak makan babi. Diorama di bagian ini menggambarkan jaman kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Diorama lainnya di bagian ini adalah peristiwa Sumpah Palapa Mapatih Gajah Mada pada 1331, pembangunan Bendungan Waringin Sapta pada abad ke-11 oleh Airlangga untuk mengendalikan air Kali Brantas serta untuk saluran irigasi, dan Candi Jawi yang dibangun pada 1292 pada jaman Kartanegara, raja terakhir Singasari. Ada pula diorama kesibukan Pelabuhan Sriwijaya pada abad 8 - 13 M yang menjadi jalur utama perdagangan Indonesia - Tiongkok - India, dan berdirinya Candi Borobudur pada 824 M oleh Raja Samaratungga dari keluarga Syailendra, berisi 504 Arca Budha dan 1555 stupa, yang menghabiskan hampir dua ribu kaki kubik batu gunung.

Selanjutnya ada diorama Museum Sejarah Nasional Indonesia tentang didirikannya perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara yang dijiwai semangat nasionalisme. Pada 1935 berlangsung Kongres Pendidikan Nasional pertama yang untuk menggalang persatuan dan mencari rumusan pendidikan nasional. Lalu ada suasana Gedung Stovia, ketika para mahasiswa kedokteran pribumi menyelenggarakan rapat pada 8 Mei 1908 dan melahirkan Boedi Oetomo sebagai awal pergerakan nasional Indonesia. Gedung STOVIA itu kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional.

Diorama lainnya di Museum Sejarah Nasional Indonesia menggambarkan Pertempuran Sunda Kelapa. Pada 1522 Raja Pajajaran meneken persetujuan dengan Henrique Leme yang memberi hak orang Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Untuk membendung pengaruh Portugis yang telah menguasai Malaka sejak awal abad ke-16, Raja Demak Sultan Trenggono mengirim Fatahillah dengan pasukannya yang berhasil mengalahkan armada Portugis dalam pertempuran di Pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527, dan lalu mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta atau kota kemenangan.

Bagian ini berisi diorama yang menggambarkan era dimulainya penjajahan dan perjuangan di berbagai daerah untuk mengusir mereka dari bumi Nusantara. Diantaranya pada 1619 Jan Pieterszoon Coen memimpin VOC menduduki Jayakarta setelah sebelumnya mengalahkan Kesultanan Banten. Jayakarta kemudian berubah nama menjadi Batavia. Sejumlah diorama lainnya adalah Puputan Jagaraga (1848-1849), perlawanan Sisingamangaraja (1877-1907), Perang Aceh (1873-1904), Perang Banjar (1859-1905), Perang Paderi (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perlawanan Pattimura (1817), dan Pertempuran Somba Opu (8-9 Agustus 1668).

Peristiwa penting lainnya adalah didirikannya perkumpulan Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Yogyakarta oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Muhammadiyah menjadi alat pembangunan jiwa kebangsaan melalui kegiatan pendidikan, sosial budaya, dan keagamaan. Ada pula diorama kegiatan Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia, PI) yang berdiri di Belanda pada 1922. Pada 1927 mereka ikut Kongres Pergerakan Antikolonialisme di Brussel. Sejak itu PI memulai pergerakan menuntut kemerdekaan Indonesia, hingga Pemerintah Belanda menangkap para pemimpinnya. Namun pengadilan memutus mereka tidak bersalah.

Ada siorama di Museum Sejarah Nasional Indonesia yang merupakan penggambaran suasana saat pengesahan Pancasila sebagai landasan falsafah negara dan UUD 1945 pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia tanggal 18 Agustus 1945 yang berlangsung di Pejambon Jakarta. Rapat juga memilih Soekarno menjadi Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Sebelumnya ada diorama proklamasi kemerdekaan, yang didahului Peristiwa Rengasdengklok, dan rapat di Jl Imam Bojol 1, Jakarta untuk merumuskan naskah proklamasi yang kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Pada 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan Barisan Keamanan Rakyat untuk memelihara keamanan dan ketertiban umum di wilayahnya masing-masing, dan tanggal 5 Oktober 1945 keluar dekrit pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat yang diperingati sebagai lahirnya ABRI. Juga ada peristiwa pertempuran heroik di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kisah pertempuran menggetarkan itu bisa dibaca di catatan Monumen Suryo. Mallaby, Jenderal Inggris yang kematiannya menjadi pemicu serangan Sekutu ke Surabaya, dikubur di Makam Perang Jakarta.

Selanjutnya diorama upacara Pengakuan Kedaulatan di Jakarta yang dipimpin Hamengku Buwono IX. Perjuangan militer dan diplomasi, memaksa Belanda ke meja perundingan. Pada 7 Juli 1949 tercapai kesepakatan penyelenggaraan Konferensi Meja Bundar. Pada KMB di Den Haag 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan RI dengan pembentukan Republik Indonesia Serikat. Juga penggambaran suasana ketika berlangsung Konferensi Asia - Afrika di Bandung pada 18 - 24 April 1955 yang membicarakan usaha bagi penyelamatan dunia dari bencana perang nuklir, dan pembentukan dunia baru yang aman dan damai, bebas dari kolonialisme. Konferensi ini diikuti oleh 30 negara dari benua Asia dan Afrika. Masih ada banyak diorama di Museum Sejarah Nasional Indonesia yang belum disebutkan dalam tulisan ini, yang ada baiknya Anda kunjungi dan lihat sendiri untuk menyegarkan ingatan tentang pergulatan sejarah bangsa ini.

Museum Sejarah Nasional Indonesia Monas

57 (lima puluh tujuh) foto lainnya ada di sini. Alamat : Monumen Nasional, Jalan Silang Monas, Jakarta. Nomor Telp 021-344 7733, 3514333, 3842777. Fax. 021-344 7733. Lokasi GPS : -6.175254, 106.826967, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : setiap hari 08.30 - 17.00. Libur tetap buka. Harga tiket masuk : Dewasa Rp 2.500, Rp 7.500 (Pelataran Puncak). Mahasiswa/Anak-anak Rp 1.000, Rp 3.500 (Pelataran Puncak). Rujukan : Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.
Label : . Updated : August 02, 2018.
Author : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok. Follow : Twitter, Facebook, Subscribe, Youtube.
Share   Tweet   WhatsApp   Telegram   Email   Print!