Makam Raja-Raja Demak

September 10, 2019. Label:
aroengbinang.com - Lokasi Makam Raja-Raja Demak atau Makam Raja-Raja Kesultanan Demak berada di sisi Barat Laut Masjid Agung Demak, masih di kompleks masjid. Untuk menuju makam kami berjalan arah ke utara dari serambi masjid, melewati situs kolam wudlu yang ada di sisi kanan halaman. Di ujung halaman itu ada serambi dengan lorong penghubung.

Jika masuk ke serambi dan berjalan ke arah kanan maka pengunjung akan masuk ke dalam gedung Museum Masjid Agung Demak, yang saya kunjungi belakangan, setelah jam istirahat. Kami berjalan menyusur lorong ke arah kiri untuk sampai di area Makam Raja-Raja Demak yang masih terawat baik. Saat itu hanya ada beberapa peziarah, dan seorang juru kunci. Sebelum melihat berkeliling di Makam Raja-Raja Demak yang tak begitu luas itu saya sempat berbincang selama beberapa saat dengan kuncen makam yang bernama Sulhan sambil duduk santai di lantai lorong penghubung. Menurut pengakuannya, ia yang sekarang berumur 47 tahun sudah mengabdi menjadi kuncen di kompleks pemakaman ini selama 23 tahun.

Saya sempat mengambil foto dari jarak dekat pada tiga kubur utama yang ada di Makam Kasepuhan adalah Makam Raden Patah (Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo, Sultan Demak I), Raden Patiunus (Pangeran Sabrang Lor, Raja Demak II), dan Dewi Murthosimah permaisuri Raden Patah. Di sisi kanan kiri makam utama ini terdapat sejumlah makam lain yang sebagian nama-namanya saya bisa kenali.

makam raja-raja demak

Pemandangan pada lorong yang menghubungkan Museum Masjid Agung Demak dengan kuncup makam di ujung kiri kompleks Makam Raja-Raja Demak, yang terlihat di latar belakang. Dengan ukuran apa pun, apalagi letaknya di belakang masjid yang umumnya ramai pengunjung, kompleks makam ini terbilang rapih dan sangat baik perawatannya.

Di sebelah kiri depan pada foto adalah Kubur Pangeran Benawa, sebuah nama yang tidak asing di telinga. Sedangkan di sebelah kanan pada foto ada pendopo yang disebut Paseban, yang dipergunakan sebagai tempat oleh para peziarah duduk bersila menghadap makam ketika membaca ayat suci dan mengheningkan cipta memanjat doa kepada para penghuni kubur.

Deret kubur terbuka yang dihuni oleh jasad orang penting yang semasa hidupnya mengukir sejarah dan menghias buku pelajaran sekolah itu disebut Makam Kasepuhan. Sebagian nama menjadi lebih dikenal berkat buku cerita silat atau roman berlatar sejarah, seperti Nagasasra - Sabuk Inten karya SH Mintardja. Sedangkan kubur yang ada dalam cungkup disebut Makam Kaneman.

Makam Pangeran Benawa panjang kuburnya boleh dibilang tidak lazim, karena jauh lebih panjang dari makam pada umumnya, meskipun tidak sampai sepanjang makam panjang yang saya lihat di kompleks Makam Siti Fatimah Binti Maimun Gresik. Pada tengah kubur terdapat tulisan "Makam Kanjeng Pangeran Benowo, dipugar 11-10-2002 M, 4-8-1423 H".

Pangeran Benawa adalah Raja Pajang ketiga (1586-1587) bergelar Prabuwijaya. Mungkin karena itu, makamnya terpisah dari Makam Sultan Demak. Pangeran Benawa adalah putera Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), pendiri Pajang. Putrinya, Dyah Banowati, menikah dengan Mas Jolang (Panembahan Hanyakrawati), putra Sutawijaya, dan melahirkan Sultan Agung.

Pangeran Benawa juga memiliki putra bernama Pangeran Radin, yang kelak kemudian hari menurunkan nama-nama pujangga besar Kasunanan Surakarta, yaitu Yosodipuro dan Ronggowarsito. Pangeran Benawa adalah sultan Pajang terakhir. Sepeninggalnya, Pajang menjadi kadipaten dibawah kekuasaan Panembahan Senopati di Mataram.

Ada jirat kubur di kompleks Makam Raja-Raja Demak yang bertulis "Nyi Ageng Serang, Dewi Moersiyah", sedangkan kubur di sebelahnya tak ada tulisannya. Di dalam pagar jeruji tampak ketiga makam utama dan sejumlah makam lainnya. Di dalam cungkup kanan belakang adalah Makam Sultan Trenggana, Sultan Demak ke-3, dan sejumlah makam lainnya, dan di ujung sana adalah Masjid Agung Demak.

Memang terasa ganjil bahwa hanya kubur sultan Demak ketiga yang ada dalam cungkup terkunci dan baru dibuka pada hari tertentu. Mungkin karena Demak di masa Sultan Trenggana dianggap mencapai puncak kejayaannya dengan menguasai Sunda Kelapa dan Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan (1546).

Jirat kubur yang bersebelahan dengan tiga makam utama itu adalah makam Pangeran Mekah dan isterinya, serta makam Pangeran Sekar Sedolepen (ayah Arya Penangsang) yang dibunuh orang suruhan Raden Mukmin (nama muda Sunan Prawoto). Sultan Demak keempat, Sunan Prawoto, yang memindahkan pusat pemerintahan Demak dari Bintoro ke Prawoto dan hanya memerintah tiga tahun karena dibunuh oleh orang suruhan Arya Penangsang, juga tidak dimakamkan di kompleks Makam Raja-Raja Demak. Ia dimakamkan di pekuburan umum Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Makam Arya Penangsang, penguasa Demak yang kelima, belakangan saya lihat ada di Kadilangu, di kompleks Makam Sunan Kalijagaja. Ada pula kubur Sunang Ngudung, Walisongo yang juga ayah Sunan Kudus, serta kakak Sunan Ampel. Dalam perang melawan Majapahit, ia membunuh Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh, menantu Brawijaya V). Sunang Ngudung kemudian tewas oleh Raden Kusen, Adipati Terung, seorang muslim yang setia pada Majapahit dan makamnya ada di sana juga.

Makam Raja-Raja Demak

Alamat : Kompleks Masjid Agung Demak, Desa Kauman, Demak. Lokasi GPS : -6.894365, 110.637201, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Makam Raja-Raja Demak

Makam Pangeran Benawa yang panjang kuburnya boleh dibilang tidak lazim, karena jauh lebih panjang dari makam pada umumnya, meskipun tidak sampai sepanjang makam panjang yang saya lihat di kompleks Makam Siti Fatimah Binti Maimun Gresik. Pada tengah kubur terdapat tulisan "Makam Kanjeng Pangeran Benowo, dipugar 11-10-2002 M, 4-8-1423 H".

makam raja-raja demak

Kubur di depan bertulis "Nyi Ageng Serang, Dewi Moersiyah", sedangkan kubur di sebelahnya tak ada tulisannya. Di dalam pagar jeruji tampak ketiga makam utama dan sejumlah makam lainnya. Di dalam cungkup kanan belakang adalah Makam Sultan Trenggana, Sultan Demak ke-3, dan sejumlah makam lainnya, dan di ujung sana adalah Masjid Agung Demak.

makam raja-raja demak

Tiga kubur utama yang ada di Makam Kasepuhan adalah Makam Raden Patah (Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo, Sultan Demak I), Raden Patiunus (Pangeran Sabrang Lor, Raja Demak II), dan Dewi Murthosimah permaisuri Raden Patah. Di sisi kanan kiri makam utama ini terdapat sejumlah makam lain yang sebagian nama-namanya saya bisa kenali.

makam raja-raja demak

Tengara tulis pada Kubur Pangeran Benawa (dibaca Benowo) yang dibuat dalam huruf Latin di bagian atas, dan ada pula torehan tulisan dalam aksara Arab di bagian bawah. Pangeran Benawa adalah kakek Sultan Agung, raja Mataram yang terbesar. Sejak kecil ia telah menjadi sahabat Panembahan Senapati, yang juga kakek Sultan Agung, karena mereka berbesan.

makam raja-raja demak

Pada jirat kubur terlihat tulisan Nyi Ageng Serang, kemudian ada keterangan nama Dewi Moersiyah. Melihat keterangan namanya, tampaknya Nyi Ageng Serang pada kubur ini berbeda dengan Nyi Ageng Serang pahlawan nasional yang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Serang pada nama ini mengacu pada tempat di perbatasan Grobogan - Sragen, bukan Serang yang ada di Banten.

makam raja-raja demak

Makam Kyai R Natas Angin ini berada di sisi kiri kompleks makam Raja-Raja Demak. Kyai R Natas Angin bernama asli Daeng Mangemba Nattisoang, juga dikenal sebagai Pangeran Penatas Angin atau Sunan Ngatas Angin, asal Gowa, Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah Raja Gowa ke-9 bernama Karaeng Tumapa’risi Kalonna yang memerintah pada 1491 – 1527. Beliau mengabdi di Kesultanan Demak Bintoro selama 53 tahun pada periode 1515 - 1569, dari sultan Demak pertama hingga ketiga. Pada saat Pangeran Pati Unus menjadi raja, Pangeran Natas Angin diangkat sebagai salah seoarang Senopati perang di Kesultanan Demak Bintoro, dan berlanjut pada masa pemerintahan Sultan Trenggono.

makam raja-raja demak

Ketiga makam dengan latar Masjid Agung Demak. Mendekatkan makam dengan masjid banyak dikakukan di banyak tempat, karena selain memudahkan para peziarah, mungkin wilayah sekitar masjid dianggap memiliki aura yang lebih surgawi, selain puncak bukit atau gunung. Sebagai penghormatan, kubur Raden Patah di sebelah kanan tampak lebih besar dan lebih tinggi dari kubur Pangeran Sabrang Lor, dan kubur isterinya.

makam raja-raja demak

Ketiga kubur utama dengan latar cungkup makam Sultan Trenggono yang atapnya juga berbentuk tajug tumpang dari bahan sirap. Pati Unus atau Adipati Unus, kubur di tengah, memerintah Demak pada 1518 - 1521 dan merupakan sulung Raden Patah. Pada 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan ke benteng Portugis di Malaka dan gugur, sehingga dikenal dengan nama Pangeran Sabrang Lor. Trenggana yang menggantikan sebagai sultan Demak adalah adik kandungnya.

makam raja-raja demak

Kubur Pangeran Mekah dan isterinya yang berada di sebelah kubur permaisuri Raden Patah yang bernama Dewi Murthosimah. Nama Pangeran Mekah juga dikenal di wilayah Sumedang (Bupati Pangeran Aria Suriaatmaja), dan juga di Setono Gedong, Kediri (Mbah Wasil). Tak jelas siapa yang dimaksud dengan Pangeran Mekah pada makam di Demak ini.

makam raja-raja demak

Kubur Pangeran Sekar Sedolepen dan Kyai Ageng Campa, dan di belakang sana adalah kubur Kyai Ageng Ketu dan Nyai Ageng Ketu. Pangeran Sekar adalah putera kedua Raden Patah yang mestinya naik tahta ketika Raden Pati Unus wafat saat menyerang Malaka. Namun Pangeran Sekar mati dibunuh oleh orang suruhan Raden Mukmin (Sunan Prawoto) di dekat sebuah sungai, agar Trenggono (ayah Raden Mukmin) bisa naik tahta. Trenggono adalah adik tiri Pangeran Sekar. Anak Pangeran Sekar, Aryo Penangsang, membalas dengan mengirim orang membunuh Sunan Prawoto untuk menduduki tahta Demak.

makam raja-raja demak

Hiasan pada kemuncak atap tajug cungkup Makam Sultan Trenggono yang beratap sirap. Puncak kemuncak yang berbentuk silindris mengingatkan saya pada bentuk Lingga. Adanya kemuncak, dengan ragam ornamennya, memberi nuansa tersendiri pada rumah tradisional Jawa, dan biasanya mengandung makna filosofis tertentu.

makam raja-raja demak

Makam Sunan Ngudung yang berjejeran dengan makam isterinya. Ia adalah salah satu Walisongo yang juga ayah Sunan Kudus, serta kakak Sunan Ampel. Ayahnya adalah Maulana Malik Ibrahim. Dalam perang melawan Majapahit, ia membunuh Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh, menantu Brawijaya V). Sunang Ngudung kemudian tewas oleh Raden Kusen, Adipati Terung, seorang muslim namun setia pada Majapahit dan makamnya ada di sana juga.

makam raja-raja demak

Makam Prabu Darmokusumo di latar depan, makam Kyai Ageng Ketu di kanan belakang, dan Makam Adipati Terung di kiri belakang. Raden Kusen atau Adipati Terung sebenarnya adalah adik tiri Raden Patah, namun ia tetap setia pada Majapahit. Meskipun konon Sunan Ngudung memakai baju perang bernama Kyai Antakusuma (Kyai Gondil) pemberian Sunan Kalijaga, namun ia bisa tewas dalam pertempuran melawan Raden Kusen. Kabarnya di tempat ini juga ada Syeikh Maulana Maghribi, dan Makam Arya Panangsang, namun saya tak melihatnya.

makam raja-raja demak

Ada setidaknya dua makam dengan tanda nama Maulana di dalam area Makam Kasepuhan di kompleks Makam Raja-Raja Demak, tanpa ada nama di belakangnya. Entah memang namanya Maulana, atau hanya sebagai tengara bahwa orang yang dikubur di sana dianggap sebagai orang mulia atau yang dihormati, atau mungkin ada kaitannya dengan Maulana Maghribi.

makam raja-raja demak

Deret Makam Kasepuhan Raja-Raja Demak yang berada di tempat terbuka dilihat dari sudut sebelah kiri. Usia Kesultahan Demak yang didirikan oleh Raden Patah relatif pendek. Setelah Trenggana tewas ketika pasukannya menyerang Panarukan yang saat itu dikuasai Blambangan, pamor Demak memudar hingga kemudian digantikan oleh Pajang yang didirikan Karebet. Karebet adalah anak Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging), atau cucu Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh).

makam raja-raja demak

Pandangan lebih dekat pada jirat / batu kubur Raden Kusen atau Adipati Terung. Pada waktu membaca bahwa Handayaningrat tewas oleh Sunang Ngudung memang ada rasa trenyuh, karena bagi pembaca Nagasasra - Sabuk Inten, ada romantisme kenangan tersendiri dengan nama Ki Ageng Pengging Sepuh, dan juga Kebo Kanigoro dan Mahesa Jenar. Sehingga ketika tahu bahwa Sunang Ngudung tewas oleh Raden Kusen, seperti ada semacam hiburan. Bagaimana pun mereka tewas membela kepercayaan dan kebenarannya masing-masing.

makam raja-raja demak

Gentong Kong ini ada di ujung sebelah kiri kompleks Makam Raja-Raja Demak, atau di sebelah kanan jirat kubur Pangeran Natas Angin. Gentong dari jaman Dinasti Ming di abad ke XIV ini konon merupakan hadiah dari Putri Campa. Seperti deketahui, Raden Patah adalah putra Brawijaya V dari selir puteri Campa, sehingga sering juga disebut sebagai Pangeran Jin Bun.

makam raja-raja demak

Serambi cungkup Makam Kaneman, dimana terdapat jirat / batu kubur Sultan Trenggono di dalamnya. Sayangnya pintu masuknya terkunci, dan kuncen pun tak bisa membantu untuk membukakannya. Saya hanya bisa mengintip ke dalam dari sela kisi-kisi jendela yang ada pada dinding di sebelah kanan.

makam raja-raja demak

Foto yang diambil dari sela-sela kisi jendela, memperlihatkan sejumlah batu kubur dengan nama-nama di atasnya. Di sebelah kanan adalah pintu gebyog ukir yang biasanya dibuat dari bahan kayu jati, dan saya kira makam Sultan Trenggono ada di dalamnya, karena terlihat ada gembok pada pintunya.

makam raja-raja demak

Salah satu tanda nama di atas jirat/batu kubur di dalam Makam Kaneman yang ada di dalam cungkup, bertanda Tumenggung Tanpo Siring. Tak saya temukan informasi terkait nama ini. Sejumlah nama yang ada di dalam Makam Kaneman, belakangan saya ketahui setelah melihat foto dokumentasi di Museum Masjid Agung Demak.

makam raja-raja demak

Jirat kubur Pangeran Suruh dan beberapa makam lain di belakangnya. Selain jirat kubur Sultan Trenggono dan permaisurinya, di dalam Makam Kaneman juga ada batu kubur dari Nyi Ageng Pinatih, Sunan Prawoto (makam sebenarnya ada di Pati), Kyai Ageng Wasi dan isterinya, Pangeran Ketip, Pangeran Pandan, Patih Mangkurat, dan RM Gawulan.

makam raja-raja demak

Tiga jirat kubur yang dibuat berdanmpingan yang terdiri dari batu kubur R. Ibrhaim, isteri, dan puteranya. Seingat saya, menurut penuturan kuncen, beliau adalah penghulu Masjid Agung Demak. Di belakang pohon, di dalam bangunan, adalah tempat diletakkannya Gentong Kong.

makam raja-raja demak

Jirat kubur Pangeran Singo Yudo yang lokasinya agak terpisah dari makam-makam lainnya. Jika menilik namanya tentulah beliau ini jago dalam peperangan, atau dalam memimpin pasukan tempur, sehingga kemungkinan adalah seorang senopati atau panglima pasukan. Hanya saja tak saya temukan informasi tentang tokoh yang satu ini.

makam raja-raja demak

Foto utuh pada jirat kubur Pangeran Benawa di kompleks Makam Raja-Raja Demak. Putera Hadiwijaya yang sepeninggal ayahnya mestinya naik tahta ini akhirnya menjadi Sultan Pajang, setelah bersama Sutawaijaya berhasil menyingkirkan kakak iparnya sendiri Arya Pangiri yang telah mengambil tahta Demak darinya. Puteri Pangeran Benawa yang bernama Dyah Banowati menikah dengan putera Sutawijaya yang bernama Raden Mas Jolang. Dyah Banowati melahirkan Sultan Agung, raja terbesar Mataram. Sedangkan putera Pangeran Benawa yang bernama Pangeran Radin, menurunkan para pujangga besar seperti RNg Yosodipuro dan Ronggowarsito.

makam raja-raja demak

Dua makam yang berada di sisi sebelah kanan tiga makam utama Sultan Demak. Yang sebelah kiri adalah makam Nyai Ageng Campa dan yang sebelah kanan adalah kubur Nyai Ageng Manyuro yang disebut sebagai puteri dari Sunan Ampel dan isteri dari Kyai Ageng Manyoro, salah seorang petinggi di Kesultanan Demak Bintoro.

makam raja-raja demak

Info Jepara

Hotel di Demak, Peta Wisata Demak, Tempat Wisata di Demak.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.