Boyolali, Jawa Tengah, Makam, Pengging

Makam R.Ng. Yosodipuro

Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke daerah Pengging, ditandai dengan tapakan kaki di halaman depan Makam Raden Ngabehi Yosodipuro di Pengging, pujangga keraton pada jaman PB II, III dan IV, dengan tembok depan memanjang. Nama Pengging telah lama saya kenal, sejak kecil, lewat buku roman sejarah.

Buku itu karya legendaris SH Mintardja, "Nagasasra dan Sabuk Inten". Isinya adalah cerita tentang dua keris pusaka yang hilang karena dicuri dari keraton Demak Bintoro dan menjadi pusat kisah petualangan Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh atau Pangeran Handayaningrat, putra mantu Prabu Brawijaya V.

Sejak saat itu nama Pengging tak pernah lepas dari ingatan, dan imajinasi terus hidup tentang sebuah padepokan di Pengging dengan ilmu ajian pamungkas Sasra Birawa yang dikuasai tuntas oleh Mahesa Jenar berkat bimbingan tak lazim Kebo Kanigoro, kakak Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging.

Kebo Kanigoro dan Kebo Kenongo adalah putera Ki Ageng Pengging Sepuh. Uniknya, Kebo Kanigoro dan ayahnya memiliki guru olah kanuragan yang sama, sehingga ilmu Kebo Kanigoro tak kalah tinggi dari sang ayah, bahkan lebih oleh karena kegemarannya mengembara. Karena itulah ia bisa membantu meningkatkan ilmu Sasra Birawa Mahesa Jenar ke tataran tertinggi, yang bahkan lebih dahsyat dari gurunya sendiri, hanya dalam waktu singkat dengan cara yang unik dan luar biasa.

Selain sangat cerdas, Mahesa Jenar yang sebagai senapati Demak Bintoro bergelar Rangga Tohjaya juga kebal racun karena di dalam darahnya mengalir bisa ular Gundala Seta yang mampu menangkal segala macam jenis racun hingga yang paling kuat sekalipun. Bisa ular itu diperolehnya dari Ki Ageng Sela, ayah Kyai Ageng Henis, leluhur Raja-Raja Mataram.

Ziarah Makam R.Ng. Yosodipuro

Tembok luar Makam R. Ng. Yosodipuro Pengging yang cukup tinggi menjadi tengara yang mudah dikenali oleh para peziarah yang ingin berkunjung ke tempat ini. Stuktur dindingnya terlihat kokoh, namun bangunan yang menempel pada dinding luar itu sepertinya dibangun belakangan, tampaknya agar bisa membuat atap yang melindungi peziarah dari terik matahari dan hujan.

Saya menapaki undakan pendek yang menuju ke bagian dalam kompleks Makam R.Ng. Yosodipuro. Pada pintu terdapat relief simbol berwarna keemasan berbentuk bulat dengan puncak seperti mercu suar dengan tiga dek pengamatan. Kedua simbol itu nyaris sama, hanya berbeda pada ornamen daun dan bunganya saja. Di atas pintu terdapat tulisan "Makam Pujonggo R.Ng. Yosodipuro (Tus Pajang ke I) Pengging", dan di atasnya lagi ada tulisan "Tuturing Pandito trus nyawiji".

Di balik pintu terdapat tulisan "Tempat Pendaftaran Tamu" dan tulisan "Diharap Tertib dan Sopan". Tak terlihat ada petugas di sana. Alhasil saya mengayun kaki belok arah ke kiri mengikuti gerak hati saja. Di sekitar makam ada beberapa kubur dengan bentuk kubur dan nisan yang berbeda. Ada keunikan di beberapa kubur itu, baik di badan makam maupun pada nisannya yang berbentuk bulat seperti benteng dalam permainan catur.

Deretan jirat kubur terlihat berjejer rapi di ruangan serambi, namun sebagian tak ada tengara nama. Apabila melihat formasinya maka semua makam itu sepertinya telah berusia tua. Jika ada jasad baru, tak bisa tidak harus merusak keramik saat hendak menggali lubang kuburnya.

Setelah sempat termangu selama beberapa saat di serambi depan Makam R. Ng. Yosodipuro yang saya kira menjadi tempat masuk ke area dalam makam, seorang pria datang menyapa dan memperkenalkan diri sebagai kuncen makam. Serambi itu ternyata bukan akses masuk ke bagian dalam makam, namun dari pintu yang berada di sisi kanan cungkup makam. Beruntung ada kuncen sehingga saya tidak terlalu lama kebingungan di sana.

Di bagian dalam area Makam R. Ng. Yosodipuro Pengging terdapat cungkup makam beliau yang dibalut kain kelambu berwarna merah. Kubur di sebelah kanan cungkup adalah makam ketiga isteri R. Ng. Yosodipuro.

Menurut penuturan Ki Tjojo (waktu itu 54 tahun usianya), juru kunci Makam R.Ng. Yosodipuro yang sejak kecil sudah sering ikut bapaknya mengurus makam ini, dua tengara seperti nisan berbentuk segi lima di sebelah kiri cungkup adalah Pamejangan Syekh Siti Jenar dan Ki Kebo Kenongo, dua tokoh yang dihukum mati oleh Demak Bintoro karena dianggap membahayakan kekuasaan Sultan Demak. Pamejangan, yang disebut juga Pamujan, adalah tempat sang guru memberikan wejangan kepada muridnya.

Ada 8 kubur di depan cungkup. Paling kiri adalah makam Kertodiwiryo (menantu), lalu Iman Supingi II (Wareng), Nyai Sapingi II, Nyai Kertodiwiryo, R. Nganten Kromo Warsito (putra), R. Nganten Kromo Wastro (putra). Ketiga kubur lainnya belum diketahui namanya, demikian pula satu kubur lagi di kiri depannya.

Sanggaran

Setiap Sapar, di Pengging diselenggarakan ritual sebar apem yang dilakukan sejak jaman R. Ng. Yosodipuro, ini mengingatkan saya pada Ki Ageng Gribig di Jatinom. Ada pula Pesta Rakyat dan Budaya Pengging yang dilaksanakan mendekati Agustusan. Selain itu ada ritual sanggaran atau nyanggar, untuk mengetahui apakah keinginan yang dikendaki tercapai atau tidak. Ritual ini dikenal sejak tahun 1717 dan bisa dilakukan baik siang dan malam.

Umumnya Makam R.Ng. Yosodipuro dikunjungi lebih banyak orang pada setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jum'at Kliwon, namun lebih banyak lagi yang melakukannya pada malam Jum'at Pahing oleh karena karena merupakan hari kelahiran R.Ng. Yosodipuro. Para peziarah yang melakukan upacara sanggaran biasanya disertai dengan tirakatan, semedi dan bermalam di makam.

Di malam Jum'at Pahing juga sering ada sarasehan dimana para sesepuh berbagi ilmu batin. Konon tradisi sanggaran mengikuti amanat R. Ng. Yosodipuro yang diucapkan menjelang wafatnya, yaitu "marang anak putuku kang pada kepetengan pikire, supoyo nyanggarake janur kuning ing pasareanku, Insya Allah entuk pepadhang", yang artinya "kepada anak cucuku yang sedang gelap pikirannya, agar meletakkan janur kuning di makamku, Insya Allah akan mendapatkan penerang".

Peziarah yang ingin tahu apakah laku tirakatnya diterima bisa melihat pertanda pada janur kuning yang disanggarkannya. Petunjuk itu berbentuk huruf Arab atau huruf Jawa, namun ada pula yang mendapatkan petunjuk dengan kata yang cukup jelas. Bila belum terkabul atau belum mendapat petunjuk maka pada janur tidak ada hurufnya, dan peziarah bisa mengulangi ritual sampai 7 kali.

Upacaranya dipimpin oleh kuncen antara pukul 19.00 - 24.00 dimana peziarah meletakkan janurnya, dan subuh baru diterawang janurnya. Menunggu subuh ada yang tirakatan semalaman sambil berdo'a agar keinginannya terkabul, ada yang mengambil air dari umbul Sungsang untuk disiramkan pada saat tanam padi agar subur atau untuk mengusir hama, dan ada yang berendam untuk menenteramkan pikiran sambil memohon kemurahan Tuhan Yang Mahakuasa.

Makna dari setiap petuntuk dituliskan di papan khusus di dalam Makam R.Ng. Yosodipuro untuk memudahkan para penyanggar. Makna yang terkandung di dalam setiap huruf adalah seperti berikut ini,

Alip, اBeralamat baik, memberkati hajat.
Ba, بTuhan Allah memberi kebaikan.
Ta, تBertobatlah kepada Allah dan rajinlah dalam bekerja.
Tsa, ثLuhur namamu dalam agama, sampailah niatnya dan tergolong oleh musuhnya.
Jim, جMenemukan kebahagian dan keuntungan
Ha, حGusti Allah memberikan kemudahan niatnya.
Kho, خJanganb pergian, ada rahasia besar.
Dal, دKalau bepergian tidak jauh, hajatnya.
Dzal, ذMenang bertengkar dan niatnya terlaksana
Ro, رLuhur kekuasaannya, terlaksanalah khajatnya, memprihatinkan dunia akhirat.
Ja, زSemua khajatnya terlaksana.
Sin, سMenemukan kebaikan dan keuntungan dari pedagang.
Syin, شTakut pada musuhnya.
Shad, صTidak terlaksana khajatnya.
Dhod, ضTunggulah beberapa waktu.
Tha, طKalau bekerja tidak mendapatkan hasil, jauhilah.
Dha, ظYang dituju ada berkahnya.
Ain, عTidak terkabul hajatnya.
Ghain, غBersedekahlan untuk menolak bahaya.
Fa, فTelitilah pekerjaanya, setelah itu tekuni yang satu.
Qof, قLuhur dan terlaksana niatnya.
Kaf, كSampai pada posisi yang menyulitkan.
Lam, لKeuntungan dari orang berkelana.
Mim, مDinodai oleh orang yang berbudi rendah.
Nun, نMendapat manfaat dalam perbuatan baik, dan dapat mengalahkan musuhnya.
Wau, وMenemukan keuntungan dari perbuatan terpuji.
Hha, هTertolong dan bisa selamat dari marabahaya.
Lam-alip, لاYang diharapkan tidak terlaksana, lebih baik behenti dulu.
Hamzah, ءBertobatlah kepada Allah.
Ya, يMendapat kebaikan dan kesehatan

Dari Ki Tjojo saya mendapatkan sebuah buku kecil bersampul hijau, sepertinya hasil foto copy, yang berjudul "Mengenal R.Ng. Yosodipuro". Buku itu disusun oleh Drs. Soetomo W.E. dan Drs. Cahyo Budi Utomo dan diterbitkan oleh Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Jawa Tengah Bidang Jarahnitra, Semarang.

Dalam pengantarnya disebutkan bahwa sumber penulisannya banyak yang berasal dari buku 'Tus Pajang' karya R.M. Sasrasoemarto yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Soekeni Jitnoatmodjo dan Drs. Wijaya Heru Santoso dengan judul 'Kehidupan R.Ng. Yosodipuro I'. Petikan dari buku itu bisa dibaca di laman ini.

Riwayat Keluarga R. Ng. Yosodipuro

R. Ng. Yosodipuro I adalah putera Raden Tumenggung Padmonegoro dan Siti Mariyam (Nyi Ageng Padmonegoro). Pada masa mudanya, R.T. Padmonegoro adalah prajurit Mataram yang ikut dalam pasukan Sultan Agung pada waktu menyerbu benteng VOC di Batavia. Oleh karena kepandaian dan keberaniannya dalam peperangan, beliau diangkat menjadi Bupati Pekalongan yang menjadi garis depan pertahanan Mataram, karena kompeni telah menduduki Cirebon.

Jika dirunut ke atas, R.T. Padmonegoro merupakan keturunan Pajang, berturut-turut dari Sultan Hadiwijaya yang berputera P.A. Arya Prabuwijoyo (Pangeran Bawono), lalu Pangeran Emas (Panembahan Radin), kemudian Pangeran Haryo Wiromenggolo, selanjutnya Pangeran Adipati Wiromenggolo, lanjut ke Pangeran Haryo Danupoyo, yang merupakan ayah dari R.T. Padmonegoro.

Pada suatu pertempuran dahsyat antara pasukan Mataram melawan kompeni, pasukan Mataram terbunuh semua namun dengan keberaniannya yang luar biasa dan tanggung jawabnya yang besar, R.T. Padmonegoro pantang menyerah sehingga akhirnya tertangkap dan dibuang ke Palembang. Dengan bobolnya pertahanan Mataram di Pekalongan, kumpeni bisa menduduki daerah pantai utara Jawa hingga di Semarang.

Di pembuangan, R.T. Padmonegoro sempat berguru agama Islam kepada Kyai Jaenal Abidin, kyai terkenal di Palembang di masa itu. Hingga pada suatu hari beliau meloloskan diri dan kembali ke Jawa dengan menumpang perahu kecil milik nelayan. Setelah mendarat di Jawa, beliau menuju Pengging dan hidup sebagai rakyat biasa di Dukuh Geneng, Banyudono.

Sepeninggal Sultan Agung, Mataram mengalami pergolakan kekuasaan. Amangkurat I harus menyingkir dari Keraton Pleret setelah porak poranda diserbu pasukan Trunojoyo, hingga akhirnya beliau wafat dalam pelarian di Tegal Arum. Pangeran Puger, putera Amangkurat I, setelah berhasil merebut Keraton Pleret sempat menobatkan diri menjadi raja, namun akhirnya tunduk kepada kakaknya, yaitu Amangkurat II yang mendirikan Keraton Kartosuro.

Amangkurat III yang menggantikan ayahnya hanya berkuasa 2 tahun sebelum terusir oleh pasukan gabungan yang dipimpin Pangeran Puger yang kemudian menobatkan diri sebagai Sri Susuhunan Pakubuwana I. Di jaman inilah terjadi sebuah perselisihan yang sulit diatasi oleh sebab ada kerbau yang memakan tanaman padi.

Keraton Kartasuro sampai mengadakan sayembara, yaitu barang siapa yang bisa menyelesaikan masalah itu maka akan diangkat menjadi jaksa. R.T. Padmonegoro pun ikut sayembara dan berhasil menyelesaikan perselisihan itu dengan baik. Atas keberhasilannya, beliau dianugerahi jabatan Abdi Dalem Bupati Jekso dan mendapat bengkok seluas 50 Jung.

R.T. Padmonegoro dikenal kuat ibadahnya dan sangat luas pengetahuannya tentang agama Islam. Bersama dengan Kyai Kalipah Caripu, beliau mengembangkan agama Islam di daerah Pengging dan sekitarnya, hingga akhirnya beliau menjadi menantu Kyai Kalipah Caripu dengan menikahi puterinya yang bernama Siti Maryam (Nyai Ageng Padmonegoro).

Setelah Nyai Ageng melahirkan seorang anak perempuan, R.T. Padmonegoro ingin sekali agar dikaruniai seorang anak laki-laki, sehingga beliau banyak melakukan tapa brata dan laku prihatin siang dan malam, serta mengurangi makan dan tidur, agar keinginannya dikabulkan oleh Yang Mahakuasa.

Pada suatu malam, halaman rumah R.T. Padmonegoro dikerumuni banyak orang oleh sebab mereka melihat ndaru, yaitu sinar hijau keputihan sebesar cengkir yang jatuh di atas rumah beliau. Ternyata itu adalah pertanda keberuntungan, oleh karena Nyai Ageng Padmonegoro kemudian mengandung lagi.

Menjelang kelahiran sang jabang bayi, yaitu pada hari Kamis malam Jum'at Pahing, keluarga Kyai Ageng Padmonegoro kedatangan sesepuh dari daerah Pedan yang mengaku sebagai Petinggi Palar. Tamu itu berkata bahwa berdasarkan suatu nujum kalau ada bayi yang lahir di hari Jum'at Pahing, maka ia akan membawa keberuntungan dan kelak akan memiliki kelebihan dari anak yang lain.

Ketika Petinggi Palar itu sedang berbincang dengan Kyai Kalipah Caripu, datanglah Kyai Hanggamaya dari Bagelen yang ditemani dua orang pria. Kyai Hanggamaya yang menjadi sahabat karib Kyai Kalipah Caripu adalah seorang ulama besar yang sangat luas ilmunya dengan wawasan jernih dan tajam. Pada saat itulah Kyai Hanggamaya berkata bahwa Nyi Ageng Padmonegoro akan melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu subuh. Kelak anak itu akan menjadi orang pandai dan memiliki kelebihan serta dekat dengan raja.

Begitu asyiknya berbincang-bincang hingga tidak terasa waktu subuh sudah hampir tiba. Mereka pun mengambil air wudlu dan bersama-sama pergi ke surau untuk melaksanakan sembahyang Subuh. Selesai sembahyang, R.T. Padmonegoro telah ditunggu oleh salah seorang pembantunya yang memberitahukan bahwa Nyai Ageng akan segera melahirkan.

Ketika R.T. Padmonegoro baru saja memasuki rumah lahirlah sang jabang bayi yang masih terbungkus dan berkalung usus ibunya. Konon bayi yang sewaktu lahir lehernya dikalungi usus, jika sudah besar akan selalu pantas, serasi, dan luwes dalam berpakaian. Bungkus sang bayi kemudian digurat dengan sedikit garam oleh Kyai Hanggomoyo yang membuatnya pecah dan memperlihatkan wujud seorang bayi laki-laki sehat yang disambut dengan sangat gembira dan penuh rasa syukur oleh Kyai dan Nyai Ageng Padmonegoro.

Setelah berusia 5 hari, sang jabang bayi diberi nama Bagus Banjar, selain juga mendapat nama panggilan Jaka Subuh lantaran lahir diwaktu Subuh. Sedangkan Kyai Kalipah Caripu memberi nama Jaenal Ngalim kepada cucunya itu sebagai penghormatan kepada guru Kyai Ageng Padmonegoro sewaktu di Palembang.

Sepekan berada di Pengging, Kyai Hanggamaya dan Petinggi Palar Jurug Pawungan pun pamit dengan meninggalkan pesan bahwa setelah Bagus Banjar berusia sewindu nanti agar ia dikirim ke Bagelen untuk belajar ilmu pengtahuan dan seni budaya.

Berguru di Bagelen

Saat menginjak usia 8 tahun, Bagus Banjar diantar ayahnya untuk berguru kepada Kyai Hanggamaya di Bagelen, sesuai pesannya sang kyai dahulu. Kyai Ageng Padmonegoro menemani puteranya selama 2 bulan di Bagelen, namun ketika beliau pulang ke Pengging ternyata Kyai Kalipah Caripu telah wafat dan sudah dimakamkan di Desa Bendan, Pengging.

Di Bagelen, Kyai Hanggamaya mengajari Bagus Banjar cara menulis Jawa dan Arab, membaca buku sastra dan Al-Qur’an, mempelajari makna kata, ilmu tata bahasa dan kesususastraan, serta syariat Islam. Bagus Banjar juga belajar olah batin dengan laku tapa, mutih 40 hari, ngrowot (hanya makan sayur), ngebleng (puasa 24 jam), serta berlatih ilmu kanuragan dan ilmu pengetahuan lainnya. Di waktu luang ia membaca semua buku yang dimiliki oleh gurunya sehingga meski masih muda namun ilmunya terbilang sudah sangat tinggi. Setelah 6 tahun di Bagelen, Bagus Banjar pulang ke Pengging pada usia 14 tahun.

Saat itu di Keraton Kartasuro sedang terjadi Geger Pecinan atau Perang Kuning yang terjadi pada tahun 1742, dimana pasukan Cina yang bekerja sama dengan Mas Garendi berhasil menduduki keraton, dan lalu mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Amangkurat V atau Sunan Kuning. Benteng keraton yang jebol hingga kini masih bisa dilihat bekasnya di Petilasan Keraton Kartasura.

Mengabdi ke Sri Susuhunan Pakubuwana II

Jatuhnya keraton ke tangan pemberontak membuat Sri Susuhunan Pakubuwana II harus menyingkir hingga ke Ponorogo, dan membuat Pasanggrahan di Desa Kentheng. Ketika itulah Bagus Banjar menghadap sinuhun untuk mengabdikan diri, bersamaan dengan tiga pemuda lainnya, namun hanya Bagus Banjar yang diterima oleh sinuhun.

Bagus Bajar menjadi Abdi Dalem dengan sebutan Kuda Pengawe yang bertugas memegang pusaka Kyai Cakra. Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan dan Sunan Kuning berhasil ditangkap dan diasingkan, Susuhunan Paku Buwono II kembali ke Keraton Kartosuro. Namun karena keadaan keraton yang telah rusak dan tidak aman, maka sinuhun berencana memindahkan keraton ke tempat yang baru.

Memindahkan Keraton Kartasura

Oleh karena kecakapannya dan keahliannya, terutama sekali di bidang sastra, Bagus Banjar kemudian diberi tugas untuk mengabdi kepada Pangeran Wijil, yang bertanggung jawab mengolah kesusastraan Jawa. Setelah menghasilkan banyak karya sastra, Bagus Banjar kemudian mendapat sebutan sebagai Pujangga Taruna atau Pujangga Muda.

Bersama dengan Pangeran Wijil IV dan Tumenggung Aroeng Binang, Pujangga Taruna atau R. Ng. Yosodipuro sangat berjasa dalam pemindahan Keraton Kartasura, mulai dari pemilihan lokasi hingga pemindahannya ke Desa Sala yang kemudian menjadi pusat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pada awalnya Susuhunan Paku Buwana II mengutus Mayor Hagendrop, Adipati Pringgoloyo, Adipati Sindurejo serta beberapa Bupati Nayaka, termasuk para Abdi Dalem Juru Nujum, yang terdiri dari Kyai Tumenggung Hanggawangsa (KRT Aroeng Binang), Raden Tumenggung Pusponegoro, serta Raden Tumenggung Mangkuyudo. Tugasnya adalah untuk meneliti beberapa daerah yang dipandang ideal sebagai pusat pemerintahan yang baru.

Setelah beberapa hari bekerja, para utusan itu mendapatkan 3 lokasi yang dianggap memenuhi syarat. Yang pertama, Desa Kadipala karena tanahnya datar dan bersih sehingga Mayor dan Patih menganggapnya tepat untuk dijadikan lokasi pendirian keraton. Namun para Abdi Dalem Nujum berpendapat bahwa tempat itu masih ada cacatnya, yaitu kelak akan cepat menjadi ramai dan mudah rusak, sehingga kurang baik sebagai lokasi keraton.

Tempat kedua yang dipertimbangkan adalah Desa Sala yang menurut Raden Tumenggung Hanggawangsa merupakan lokasi paling ideal untuk sebuah keraton. Menurut para Abdi Dalem Nujum, Desa Sala kelak akan membawa kebaikan, keselamatan, keberuntungan, dan akan makin ramai, kukuh dan kuat sehingga membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat di Pulau Jawa. Selanjutnya dikatakan bahwa segala keuntungan dan rejeki dari tanah seberang akan datang melimpah ruah ke Pulau Jawa. Tempat ini akan senantiasa aman, jauh dari persengketaan dan perang.

Meskipun banyak diantara para utusan itu menyetujui untuk memilih Desa Sala, namun Mayor Hogendrop masih keberatan, dengan pertimbangan Desa Sala itu tidak datar seperti Desa Kadipala, dan dekat dengan bengawan. Menurutnya kalau berkeberatan dengan Desa Kadipala, maka harus dicari tempat yang lain.

Karena itu muncul pilihan lokasi ketiga, yaitu Desa Sanasewu. Namun Raden Tumenggung Hanggawangsa berpendapat bahwa tempat itu kurang baik bagi perkembangan rakyat dan kerajaan sebab menurut jika Desa Sanasewu dijadikan pusat kerajaan baru, orang-orang Jawa bisa-bisa kembali menganut agama Budha yang akhirnya dapat menimbulkan perang saudara yang besar.

Akhirnya diputuskan mengadakan sarasehan untuk dapat mempertemukan berbagai perbedaan, sehingga dicapai kata sepakat. Setelah mendengarkan berbagai pendapat dan pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk memilih Desa Sala. Hasil penyelidikan dan keputusanya itu kemudian diserahkan kepada Sri Paduka Paku Buwana II.

Sang Prabu kemudian memerintahkan Abdi Dalem, yaitu Pangeran Wijil, Abdi Dalem Suronoto, Kyai Kalipah Buyut, Pangulu Pekik Ibrahim, serta Pujangga Tumenggung Tirtowiguno untuk segera berangkat ke bagian Timur Kartasura. Di perjalanan mereka berhenti setelah menemukan tanah yang berbau wangi di Desa Talawangi, di sebelah Timur Desa Sala. Sayangnya desa itu kurang ramai.

Akhirnya setelah Pangeran Wijil dan Tumenggung Tirtowiguna melakukan tirakatan di tepi Kedung Kol mereka mendapatkan petunjuk yang menyatakan bahwa Desa Sala itu memang telah dikodratkan oleh Yang Mahaagung untuk menjadi pusat kerajaan yang besar dan berwibawa.

Selain itu, sebelum memulai membangun keraton hendaknya lebih dahulu menemui Kyai Gede Sala, karena beliau yang mengetahui asal usul desa tersebut. Pangeran Wijil dan Tumenggung Tirtowiguna pun segera menuju ke Desa Sala untuk menemui Kyai Gede Sala, dan dari beliau mereka mendapat cerita tentang babad terjadinya Desa Sala.

Pada Jaman Pajang, putra Tumenggung Mayang yang bernama Jaka Pabelan tewas dibunuh oleh prajurit Pajang setelah tertangkap dalam gerakan sandi. Bangkainya yang dihanyutkan di Sungai Lawian kemudian terdampar di sebelah timur Desa Sala. Oleh Kyai Sala yang menjadi bekel dan namanya digunakan sebagai nama desa, bangkai itu didorong ke tengah sungai agar hanyut.

Anehnya, esok harinya bangkai itu kembali lagi ke tempatnya semula. Kyai Sala menyimpulan bahwa mayat itu ingin dimakamkan di desanya. Setelah dimakamkan, lokasi kubur yang diberi nama makam Kyai Batang itu jika malam hari, terutama malam Jum'at dan malam Selasa Kliwon, sering mengeluarkan cahaya yang menerangi daerah sekitarnya.

Karena itulah makam Kyai Batang kemudian dikeramatkan dan banyak orang datang untuk mengalap berkah dengan cara menyepi, tirakatan atau bertapa. Setelah mendengarkan cerita Kyai Gede Sala, mereka lalu berkunjung ke lokasi makam dan setelah itu segera pulang untuk melaporkan kepada Sri Susuhunan Paku Buwono II.

Mendengar laporan dari Pangeran Wijil dan Tumenggung Tirtowiguna, sinuhun lalu memanggil Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura untuk dimintai pertimbangannya. Kedua orang itu kemudian berangkat ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Mereka lalu melaporkan bahwa tempat yang akan didirikan bangunan keraton adalah daerah di sekitar Rawa Kedung Kol.

Selanjutnya Pangeran Wijil dan Kyai Ngabehi Yasadipuro melakukan tapa brata di tengah Rawa Kedung Kol selama 7 hari 7 malam sampai akhirnya mendapatkan wisik berupa petunjuk agar supaya rawacepat surut maka ada beberapa syarat yang harus dilaksanakan, yaitu : 1.Membuat Gong Sekar Delima, 2.Menimbuni rawa dengan daun lumbu, dan 3.Memberikan korban seorang Waranggono atau sinden.

Setelah mendengar penuturan Kyai Ngabehi Yosodipuro dan Pangeran Wijil tentang wisik itu, Sri Paduka pun berfikir keras guna menjabarkan, dan setelah beliau dengan serius berkonsentrasi maka terbukalah tabir sasmita itu.

Gong Sekar Delima bermakna, gong adalah gangsa yang menghasilkan suara indah dan merdu, sekar adalah bunga yang harum, sedangkan delima diartikan akan menjadi buah bibir banyak orang. Daun Lumbu artinya tanah milik Kyai Gede Sala yang ditumbuhi Lumbu itu harus dibeli. Sedangkan korban waranggono adalah simbol uang ringgit yang waktu itu bergambar Waranggono, artinya pembangunan keraton akan memerlukan korban uang yang tidak sedikit.

Setelah tabir terungkap, pelaksanaan penimbunan rawa dilakukan sesuai petunjuk gaib itu. Selama pengerjaan, selain Pangeran Wijil dan Kyai Yosodipuro yang selalu berendam di rawa, Kyai Gede Sala juga bertirakatan di makam Kyai Batang. Sri Paduka Susuhunan Pakubuwono II pun melakukan munajad, yaitu dengan bertapa.

Pelaksana pembangunan istana adalah Mayor Hogendorp, Adipati Pringgoloyo, Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudo, dan Tumenggung Tirtowiguno. Perhitungan kekuatan bangunan dilakukan oleh Pangeran Wijil dan Kyai Kalipah Buyut. Kyai Yosodipuro dan Kyai Tohraya bertanggung jawab atas keindahan bangunan. Setelah bangunan Keraton Surakarta selesai dan berdiri dengan megah, maka boyongan keraton segera dilaksanakan.

Ngabehi Yosodipuro kemudian menjadi Abdi Dalem Kadipaten dan bertempat tinggal di bekas Kedung Kol, yang sekarang disebut Yasadipuran. Pada tahun 1749, hanya 5 tahun setelah Keraton Solo berdiri, terjadi suatu keajaiban ketika Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono II wafat dan akan dimakamkan di Astana Laweyan. Peti jenasahnya tidak bisa dimasukkan ke liang lahat, meskipun sudah perlebar dan diperpanjang.

R. Ng. Yosodipuro lalu menyingkir ke tempat sunyi untuk bersemedi hingga menerima wangsit mengenai keinginan Sri Susuhunan Paku Buwono II agar dimakamkan di Astana Imogiri. Hal itu disampaikan ke Kanjeng Pangeran Haryo Purboyo yang lalu mengatakan kepada Nyai Manggung Secanagara agar berikrar dihadapan peti jenasah agar Sri Paduka kanjeng Susuhunan Paku Buwono II berkenan untuk dimakamkan dahulu di Astana Laweyan untuk sementara waktu, dan nanti setelah negara aman akan dipindahkan ke Astana Imogiri.

Setelah ikrar selesai dilakukan, Nyai Menggung Secanegara memerintahkan agar peti jenasah dimasukkan ke dalam liang lahat, dan ternyata bisa dilakukan dengan mudah. Ketika keadaan sudah aman, ikrar itu dilaksanakan dengan memindahkan Jenasah Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono II ke Astana Imogiri dan beliau diberi gelar Sinuhun Kambul atau raja yang termasyhur.

R. Ng. Yosodipuro tidak hanya mengabdi kepada Sri Susuhunan Paku Buwono II, namun juga mengabdi kepada Sri Susuhunan Paku Buwono III dan Sri Susuhunan Paku Buwono IV. Pada tahun 1802 ketika menginjak usianya yang ke-73 R. Ng. Yosodipuro wafat, bersamaan dengan tahun kelahiran cicitnya yang bernama Ranggawarsita. Ranggawarsita inilah yang mewarisi kepujanggaan Yasadipura dari kakeknya, Yasadipura II.

Karya R. Ng. Yosodipuro

Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, kehidupan mulai pulih. Kerusakan akibat perang diperbaiki, dan perhatian Susuhunan Pakubuwana III terhadap kesusasteraan Jawa meningkat tinggi. Sinuhun lalu menitahkan Ngabehi Yosodipuro untuk mengurus kepustakaan keraton, mengisinya dengan karya karya baru, dan menulis kembali karya sastra lama yang rusak atau hilang akibat perang.

R. Ng. Yosodipuro memulai tugasnya dengan memperbarui perpustakaan kerajaan, mulai menulis karya sastranya sendiri, dan menterjemahkan serat dalam bahasa Jawa Kuno ke bahasa Jawa baru yang lebih mudah dimengerti. Empat karya R. Ng. Yosodipuro yang paling tinggi nilainya adalah Serat Rama (dari Kakawin Ramayana), Serat Baratayuda (dari Kakawin Bharatayuddha), Serat Mintaraga (dari Kakawin Arjuna Wiwaha), dan Serat Arjuna Sasrabahu (dari Kakawin Arjuna Wijaya), yang digubah dalam bentuk syair macapat. Ada pula serat Harjunasasrabahu dan Serat Dewa Ruci.

Beliau menterjemahkan pula karangan berbahasa Arab, seperti Serat Menak yang merupakan saduran Hikayat Amir Hamzah, berisi kisah kepahlawanan Hamzah bin Abdul-Muththalib paman Nabi Muhammad, dan menyelesaikan Kitab Ambya.

Isi perpustakaan keraton pada masa itu sebagian besar adalah karya-karyanya. Beliau kemudian beliau dibantu oleh pujangga muda yang tak lain puteranya sendiri bernama R.T. Sastranegara yang sangat berbakat dan rajin menulis.

Karya R.Ng. Yosodipuro lainnya adalah dokumen sejarah berjudul Babad Giyanti, yang berisi cerita terbaginya wilayah Kasunanan Surakarta pada 1755 menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Karya lainnya adalah Babad Prayud, Serat Cibolek, Serat Pasundhen Bedhaya dan banyak lagi lainnya.

makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro makam r ng yosodipuro

Di sekitar kompleks makam sebenarnya terdapat sebuah pamandian yang oleh masyarakat disebut sebagai Umbul Pengging, namun karena saat berkunjung saya belum mengetahui tentang umbul itu maka tak mampir ke sana. Umbul adalah kolam yang airnya berasal dari mata air yang keluar dari bawah tanah, sehingga umumnya airnya sangat jernih dan segar.

Makam R. Ng. Yosodipuro Boyolali berada di Pengging, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali pada lokasi GPS -7.55053, 110.67485, Waze. Tempat Wisata di Boyolali, Peta Wisata Boyolali, Hotel di Boyolali.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang lahir di Desa Mersi - Purwokerto, dan sekarang tinggal di Jakarta. Diperbarui: April 07, 2021.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".

« Tulisan Baru©2021 IkutiTulisan Lama »



Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.