Makam Kyai Ageng Henis Laweyan

Sebuah kejutan ketika "menemukan" Makam Kyai Ageng Henis Laweyan, tepat di sebelah Masjid Laweyan, masjid kuno yang tengah saya cari. Menyenangkan, itu karena nama Kyai Ageng Henis atau Ki Ageng Henis terdengar tak asing di telinga, meski di ingatan agak samar dan baru segar setelah bertemu kuncen dan menulisnya.

Adalah tengara di perempatan jalan Kampung Laweyan yang menuntun kami. Tengara itu tak lepas dari upaya warga Laweyan menghidupkan wisata heritage, selain menghidupkan industri Batik Laweyan, yang didukung penuh oleh pemkot Solo di bawah pemerintahan Jokowi ketika itu. Kendaraan roda empat harus diparkir di tanah lapang sebelum jembatan, di sebelah kanan sebuah warung sederhana yang menyediakan minuman kopi panas dan berbagai gorengan. Warung ini tampaknya biasa menjadi tempat nongkrong warga. Makam Kyai Ageng Henis ada di seberang jembatan, dicapai dengan melewati halaman Masjid Laweyan.

Kyai Ageng Henis adalah putera Ki Ageng Sela, keturunan langsung Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Saking saktinya konon Ki Ageng Sela bisa menangkap petir, yang boleh jadi sebuah kiasan. Menurut Babad Jawa versi Mangkunegaran, Ki Ageng Sela menikah dengan Nyai Bicak putri Ki Ageng Ngerang dan memiliki 6 puteri serta satu putera bungsunya, yaitu Kyai Ageng Henis.

makam kyai ageng henis laweyan
Gapura paduraksa Makam Kyai Ageng Henis Laweyan, dengan tengara nama tempat dan tengara Cagar Budaya yang menempel pada dinding tembok cukup tinggi. Di dalam tembok luar itu terdapat sebuah pendopo dengan beberapa makam di depannya, bersebelahan dengan gapura paduraksa kedua yang memisahkan pendopo dengan area kubur yang luas.

Kuncen bernama Abdul Azis (58 tahun) yang bertugas sejak 1986 menyapa kami di pendopo. Menurut penuturannya pendopo ini dibangun pada 1745 dan masih dalam kondisi asli. Setelah berbincang sejenak, ia mengantar kami masuk ke area makam, melewati gapura paduraksa ketiga, sampai ke lokasi paling ujung dimana Makam Kyai Ageng Henis berada.

makam kyai ageng henis laweyan
Pandangan ke arah Makam Kyai Ageng Henis yang berada di ujung kompleks makam di area yang terbuka tanpa cungkup. Ada tiga deret makam yang bentuk jirat kuburnya berbeda dengan makam-makam lain yang ada di kompleks makam paling ujung ini. Makam-makam itu berada di bawah Pohon Nogosari yang konon berusia lebih dari 500 tahun.

Dalam kisah fiksi berlatar sejarah 'Nagasasra dan Sabuk Inten' karya SH Mintardja, diceritakan bahwa masa kecil Mahesa Jenar dilalui sebagai teman bermain Nis atau Ki Ageng Sela Enom. Nis itu kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Ngenis atau Henis. Mahesa Jenar kemudian mendapatkan bisa ular Gundala Seta dari Ki Ageng Sela, ayah Ki Ageng Henis, yang membuatnya kebal terhadap segala macam racun.

makam kyai ageng henis laweyanmakam kyai ageng henis laweyan
Aniek Martani dan Dewi, serta Suwito di foto bawah, di samping Makam Kyai Ageng Henis. Suwito adalah suami Aniek Martani, yang datang berziarah bersama kedua anaknya yang mulai menginjak dewasa. Aniek menuturkan bahwa ia berziarah ke makam ini sudah sejak ketika masih anak kecil, dibawa neneknya yang masih kerabat dekat keraton. Anak-anak di Jawa umumnya memang diperkenalkan dengan kubur sejak masih kecil, dan kebiasaan itu dilestarikan secara turun temurun. Di sebelah kiri jirat kubur Ki Ageng Henis adalah Makam Nyai Ageng Pandaran (Nyai Ageng Rakitan), isteri pertama Ki Ageng Pandanaran (Sunan Tembayat). Di sebelah kanannya adalah Makam Nyai Ageng Pati, isteri Ki Penjawi. Kubur putih di sebelah kanan adalah Makam GPH Prabuwinoto, putera bungsu PB IX. Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan Ki Penjawi berperan penting dalam meneguhkan kekuasaan Sultan Hadiwijaya di Pajang, dan kemudian membuka jalan bagi berdirinya Mataram. Ki Panjawi adalah keturunan ke-5 dari Bhre Kertabhumi.

Kyai Ageng Henis memiliki dua putera, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Karatongan. Pemanahan menikah dengan sepupunya bernama Nyai Sabinah (adik Ki Juru Martani) dan mempunyai 26 putra-putri. Sulungnya bernama Adipati Manduranegara, dan putera kedua adalah Sutawijaya yang kemudian menjadi Raja Mataram pertama bergelar Panembahan Senopati. Panembahan Senopati menikahi 3 istri yang melahirkan 14 anak, yaitu Ratu Pambayun, Pangeran Ronggo Samudra (Adipati Pati), Pangeran Puger (Adipati Demak), Pangeran Teposono, Pangeran Purbaya, Pangeran Rio Manggala, Pangeran Adipati Jayaraga, Panembahan Seda ing Krapyak (Sultan Mataram ke 2, 1601-1613), Gusti Raden Ayu Demang Tanpa Nangkil, Gusti Raden Ayu Wiramantri, Pangeran Adipati Pringgoloyo I (Bupati Madiun, 1595-1601), Pangeran Djuminah (Bupati Madiun, 1601-1613), Pangeran Adipati Martoloyo (Bupati Madiun 1613-1645), dan Pangeran Tanpa Nangkil.

makam kyai ageng henis laweyan
Pandangan ke arah gapura paduraksa terakhir dengan memunggungi Makam Kyai Ageng Henis, memperlihatkan banyaknya makam tua di kompleks ini. Diantara makam tua itu ada Makam Pangeran Widjil I Kadilangu, yang adalah Pujangga Dalem Susuhunan Pakubuwana (PB) II - PB III, yang disebut memprakarsai pindahnya Keraton Kartasura ke Surakarta setelah peristiwa Geger Pecinan yang dipimpin Raden Mas Garendhi atau Sunan Kuning dan mengakibatkan hancurnya bangunan Keraton Kartasura. Sedikit jauh di sebelah kanan lagi ada Makam KGPH Prabuwidjojo (sulung PB IX), dan Makam KGPH Mangkubumi I. Makam lainnya adalah Makam PB II, Makam Permaisuri PB V, Makam Dalang Keraton Kasunanan Surakarta yang konon pernah diundang oleh Nyi Roro Kidul, dan Makam Kyai Ageng Proboyekso yang konon adalah jin dari Laut Utara.

Sebenarnya Ki Ageng Henis masih terbilang leluhur dari pihak ayah. Silsilah yang dibuat ayah saat masih sebagai pegawai menengah Kantor Asisten Wedana Gebang pada 1946, menjadikan ayah adalah keturunan ke-12 dari Ki Ageng Henis, melalui Ki Ageng Pemanahan -> Panembahan Senapati -> Panembahan Seda ing Krapyak -> Pangeran Bumidirja -> Kyai Bekel (Lurah Lundong Kebumen) -> Kyai Ragil -> Kyai Anggajoedo (Demang Kutowinagun Kebumen) -> RT Aroeng Binang I (Kentol Soerawidjaja) -> RB Wangsadikrama (Penewu Surakarta) -> RB Soemodiwirjo -> R. Hoedawikarta (Penatus Masaran). Tak jelas apakah faktor keturunan itu, selain pendidikannya, yang membuat ayah yang lahir di Masaran pada tahun 1910 itu kemudian menjadi Asisten Wedana (Camat) di Pagentan, Asisten Wedana di Purwonegoro, Asisten Wedana di Klampok, dan terakhir sebagai Wedana di Jatinom Klaten sebelum pensiun pada 1967 yang membuat kami semua pindah ke Purwokerto.

Duduk ndeprok di area dekat Makam Kyai Ageng Henis Laweyan ini terasa ada keteduhan dan kenyamanan. Semua makam di balik gapura ketiga adalah para kerabat dekat Keraton Kasunanan Solo. Dulu, menurut kuncen, untuk melewati gapura ke-2 para peziarah harus mencuci kaki. Ada baiknya kebiasaan itu dihidupkan kembali untuk menghargai leluhur. Baik pula jika peziarah mengenakan kain batik, dipakai seperti sarung, yang disediakan kuncen. Para pengrajin Kampung Batik Laweyan bisa bergotong royong untuk merancang dan menyediakannya, dan diganti setiap 4 tahun bersamaan dengan perayaan bersih-bersih. Dengan demikian selain sebagai penghormatan, budaya Jawa juga bisa dihidupkan.

Makam Kyai Ageng Henis Laweyan Solo

Alamat : Dusun Belukan, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo. Lokasi GPS : -7.57149, 110.79231, Waze. Rujukan : Hotel di Solo, Tempat Wisata di Solo, Peta Wisata Solo.