Banjarnegara, Jawa Tengah, Makam

Makam R. Hoedawikarta Masaran Banjarnegara

Sudah lama saya tidak berkunjung ke Desa Masaran, Banjarnegara, tempat dimana Makam R. Hoedawikarta, eyang saya, berada. Jalan menuju ke desa sudah diaspal dan lebar. Sebagian adalah warisan jalan yang dibuat proyek pembangunan Waduk Mrica untuk mengangkut batu yang berasal dari penghancuran Gunung Tampomas.

Dulu, di akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an setelah mendiang bapak pensiun sebagai Wedana Jatinom - Klaten dan tidak lagi memakai mobil dinas Land Rover canvas bernomor polisi AD-11228, kami harus berjalan kaki sejauh 4 km dari Stasiun Mantrianom atau Pucang, melewati daerah yang disebut Petir, dan lewat di atas jembatan Kali Siluman beberapa saat sebelum sampai ke Desa Masaran.

Semasa hidupnya, yang saya belum lagi lahir, eyang R. Hoedawikarta (Hudawikarta, Hudowikarto) adalah Penatus Masaran, sebuah jabatan pemerintahan desa jaman dahulu yang membawahi sekitar seratusan cacah rumah tangga. Di atasnya ada jabatan Penewu yang membawahi seribu cacah, dan di bawahnya ada Peneket yang membawahi lima puluh cacah keluarga. Ada juga penglawe (25) dan penepuluh (10).

Ketika sampai di Desa Masaran saya benar-benar tak mengenali jalanan yang ada di sana. Proyek Waduk Mrica tampaknya telah merubah total jalanan Masaran yang terekam di ingatan. Setelah sempat tersesat sampai di jalan buruk menuju ke Gunung Tampomas, akhirnya saya bisa menemukan Makam eyang R. Hoedawikarta yang berada di kompleks makam di atas sebuah perbukitan yang tak begitu tinggi.

Makam Eyang R. Hoedawikarta kakung putri letaknya bersisian, lokasinya tak jauh setelah menapaki undakan makam. Tengara nama pada makamnya masih terlihat cukup jelas meski kuburnya terlihat kurang terawat. Kubur tengah di belakangnya yang berwarna keputihan adalah makam sepupu dan sekaligus adik ipar ayah, yang biasa kami sebut Pak Leman. Dulu kami cukup sering mampir ke rumahnya yang ada di dekat Alun-alun Banyumas.

R Ayu Arsantaka

Tidak jauh dari Makam R. Hoedawikarta ada makam di atas dengan tengara yang berbunyi "R Ayu Arsantaka". Belum saya temukan hubungan makam itu dengan Kyai Arsantaka dikenal cikal bakal pendiri Kabupaten Purbalingga. Kyai Arsantaka pernah tinggal di Desa Masaran dan ketika wafat juga dimakamkan di sana. Hanya saja nisan makamnya kemudian dipindahkan ke makam keluarga Arsantaka di Purbalingga.

Tak jelas bagaimana hubungan antara keluarga Kyai Arsantaka dengan R. Hoedawikarta, hanya kemungkinan mereka saling mengenal. R. Hoedawikarta sendiri bukanlah penduduk asli Masaran. Ia sampai ke desa itu dan menetap di sana karena menyingkir dari Solo atau Kebumen karena perang, dan lalu menikah dengan penduduk setempat. Eyang Hoedawikarta dikaruniai putera-puteri sebanyak empat belas belas orang, namun yang satu tak hidup.

Di sebelah Makam eyang R. Hoedawikarta terdapat sebuah makam yang dibatasi tembok batu yang sebagiannya sudah runtuh. Tak ada tengara pada makam ini, namun boleh jadi itu adalah makam Kyai Arsantaka.

Aroma Feodal

Saat saya masih kecil, aroma feodal masih sangat kental terasa di Dusun Masaran ini, setidaknya dari cara orang-orang kampung menghormati ayah. Kami anak-anaknya pun dipanggil dengan sebutan "Den", singkatan dari "Raden", gelar feodal yang memang tercantum di akta kelahiran kami.

Dulu kami punya kebun di Masaran yang dirawat oleh salah seorang penduduk kepercayaan ayah. Ada pula kebun yang berada di daerah Gunung Tampomas yang belum pernah saya kunjungi. Hasil kebun kadang diantar ke rumah kami di Mersi, berlangsung sampai setelah ayah meninggal pada 1975 dan ibu wafat pada 1995.

R. Hoedawikarta adalah putera dari RB Soemodiwirjo, atau cucu RB Wangsadikrama (Penewu Surakarta), atau cucu buyut R.T. Aroeng Binang I. Jika Makam Eyang RB Wangsadikrama telah saya lihat ada di dalam cungkup Makam Aroeng Binang II di kompleks Makam Aroeng Binang di Kebejen, Kutowinangun, Kebumen, belum saya ketahui dimana letak Makam Eyang RB Soemodiwirjo.

Ketigabelas putera-puteri eyang R. Hoedawikarta, adalah
  1. R. Sardjana (pakde Klerk, Purwonegoro, tidak berputra), pensiun Klerk S DS. Setelah berkunjung ke rumah pakde Klerk, kami selalu mampir ke rumah pakde Maun yang berada di sebelahnya.
  2. R. Soedjana (pakde Suja, Temanggung), pensiun Penilik Pend. Agama Provinsi.
  3. R. Soedibja (pakde Dibya, Weleri), pensiun Penilik Pend. Agama Kabupaten.
  4. R. Muhammad (pakde Muhammad, meninggal tidak menikah, kabarnya paling disayang eyang Hoedawikarta), pensiun Guru HIS
  5. R. Soemantri (Mersi, Purwokerto), pensiun Wedana Jatinom, Klaten. Mendiang ayah lahir tahun 1910 di Masaran, wafat tahun 1975 di Mersi, disemayamkan di pemakaman belakang Pasar Manis, Purwokerto, berputera,
    1. Rr. Nastiti (yu Titi), dimakamkan di Kecila, Kemranjen.
    2. R. Rochmatullah (mas Rochmat), dimakamkan di Delanggu.
    3. Rr. Sutji Hartati (yu Cek), Slawi
    4. R. M. Rumani (mas Ruman), Sojomerto, Wonosobo
    5. R. Bambang Sumitro (mas Bambang), dimakamkan di Jogja
    6. Rr. Sri Mulat (yu Sri), Mersi
    7. R. Bambang Sutedjo (mas Tejo), Purwokerto
    8. R. Bambang Sutjahjo (Cahyo), Jakarta.
  6. RNgt. Siti Wuryan (bulik Toha, Banjarnegara), bersuami R. Mohamad Thoha.
  7. RNgt. Siti Fatimah (bulik Leman, Banyumas), bersuami R. Soeleman pensiun Penilik Pend Agama Kabupaten, berputera
    1. R. Bambang Adi Santoso (dik Santoso)
    2. Rr. Sri Moelyani
    3. Rr. ... (dik Eni)
    4. Rr. ... (dik Wah)
    5. Rr. Sri Widayat (dik Wid)
  8. RNgt. Siti Asiyah (bulik Warjo, Kranji, Purwokerto), bersuami R. Soewardjo Wedana Sokaraja (meninggal sewaktu menjabat), berputera,
    1. Rr. Emy Mudiyati (dik Mudi), Purwokerto
    2. R. Arief Mudiyono (dik Yon), dimakamkan di Purwokerto
    3. Rr. Muliah Rose Ani (dik Ani), Purwokerto.

      Selain pernah berkunjung ke Kawedanan Sokaraja saat ayah dan paklik Warjo masih menjabat, setelah di tinggal Mersi saya sering pergi ke rumah bulik Warjo di Kranji, hanya untuk meminjam buku Api di Bukit Menoreh, dan kadang diledek bulik karena tak lama mampir di rumahnya. Namun ketika SMA, saya pernah tinggal di rumah bulik Warjo selama beberapa bulan.
  9. RNgt. Siti Amirin (bulik Musni), bersuami M. Bremono Moesni pensiun DitJen (Dinas) Transmigrasi Pekalongan, Veteran Pejuang Kemerdekaan RI, berputera,
    1. Rr. Noernaeni, meninggal saat balita, dimakamkan di Banjarnegara
    2. R. Bambang Sugianto, Sidoarjo
    3. Rr. Siti Sabariyah Solehatun (dik Sabar), Sidoarjo
    4. R. Mohammad Fu'ad, dimakamkan di Pekalongan
    5. R. Mulyono Budi Antoro, Sidoarjo
    6. Rr. Sri Maryunani (dik Nani), Kota Batu, Jawa Timur
  1. R. Soenarjo (R. Muslih, Paklik Sunar, tidak berputra).
  2. R. Soetojo (paklik Toyo, Batang), pensiun DitJen (Dinas) Penerangan Kabupaten Pekalongan, berputera,
    1. Rr. Noer Soesilowati
    2. Rr. Sri Marhati (alm)
    3. Rr. Riswati Andajani
    4. Rr. Ratnaningsih
    5. R. Ibnoe Hadi (wafat usia 1 ½ tahun)
    6. Rr. Eni Poernomowati
    7. Rr. Tri Worosoesanti
    8. Rr. Titik Boediarti
    9. R. Widodo Hadipoetranto
    10. Rr. Retnowidijati (wafat usia 1 ½ tahun)
    11. R. ...
    12. Rr. ...
    13. Rr. Rini Wigati (wafat usia 1 ½ tahun)
    14. R. Widjanarko Edy
    15. Rr. Widiastoeti Sri Redjeki
    16. R. Widijanto
    17. Rr. Widijani
  3. RNgt. Siti Chotidjah (bulik Tijah, Krucil), bersuami M Basroil pensiun Guru Agama dan Perintis
  4. R. Achmad Moestofa (paklik Achmad, Semarang), pensiun PNS di Zeni Bangunan KODAM VII Diponegoro (sekarang KODAM IV), dan pernah menjadi Tentara Pelajar Brigade 17 di Solo, semasa Perang Kemerdekaan, berputera,
    1. R. Wedyo Susatyo Tejo Purnomo (dik Didiek WS)
    2. Rr. Dyah Sulistyowati Purnama Ningrum (dik Lis)
    3. Rr. Eti Widayati Purnama Ningsih (dik Eti)
    4. Rr. Indah Susilaningsih Purnamawati (dik Indah)
    5. Rr. Indriana Kusumaningrum (dik Ana)
    6. Rr. Windu Hidayati Ratnaningrum (dik Ratna).
    Lahir 1930 di Masaran, Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah, Paklik Achmad wafat 1992 di Masjid Sunda Kelapa Jakarta pada tahun 1992 ketika sedang menjadi saksi pernikahan keponakannya Bulik Soenarti (isteri Paklik Achmad). Beliau dimakamkan di TPU Wonodri, Semarang. Selama hidupnya paklik Achmad tinggal di Komplek ABRI Singosari Timur, Wonodri, Semarang. Sekarang perumahan itu berada di sebelah RS. PKU Muhammadiyah - Roemani.

    Informasi ini dari dik Didiek WS, putera paklik Achmad yang belakangan terhubung berkat Rendra Hernawa, yang saya kenal melalui komunitas LKers dan ternyata masih ada hubungan saudara.

Eyang R. Hoedawikarta meninggal pada 1933, sedangkan eyang Penatus Putri (demikian beliau biasa dipanggil) wafat tahun 1960/61 ketika saya masih bayi umur 1-2 tahun, sehingga tak berkesempatan mengenalinya meski eyang putri pernah menggendong saya saat kami masih tinggal di Purwonegoro, sebelum pindah ke Klampok dan lalu ke Jatinom. Beberapa kakak dan adik ayah juga tak saya kenali dengan baik, bahkan ada yang tidak pernah bertemu.

makam r hoedawikarta masaran banjarnegara makam r hoedawikarta masaran banjarnegara makam r hoedawikarta masaran banjarnegara makam r hoedawikarta masaran banjarnegara makam r hoedawikarta masaran banjarnegara makam r hoedawikarta masaran banjarnegara makam r hoedawikarta masaran banjarnegara makam r hoedawikarta masaran banjarnegara
Masa kecil boleh jadi adalah kenangan yang sangat indah. Betapa pun pahitnya kehidupan saat itu akan terasa manis jika dikenang pada saat sekarang. Dan makam bisa menjadi semacam portal penghubung antara dunia masa lalu, dunia masa kecil, dan dunia saat ini. Mungkin karena itulah saya senang pergi ke makam, meski jarang ingat bahwa suatu saat saya pun akan menjadi penghuni di salah satu kompleks makam yang pernah saya kunjungi itu.

Makam R. Hoedawikarta Masaran Banjarnegara berada di Desa Masaran, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Lokasi GPS : -7.41958, 109.64400, Waze (parkir), -7.41951, 109.64359, Waze (makam). Tempat Wisata di Banjarnegara, Peta Wisata Banjarnegara, Hotel di Banjarnegara.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang lahir di Desa Mersi - Purwokerto, dan sekarang tinggal di Jakarta. Diperbarui: Juni 29, 2019.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".

« Tulisan Baru©2021 IkutiTulisan Lama »



Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.