Masjid Agung Demak

September 06, 2019. Label:
Masjid Agung Demak menjadi tempat pertama yang kami kunjungi sesampainya di wilayah kabupaten yang disebut sebagai Kota Wali ini. Nama Demak memang tak bisa dipisahkan dari Walisongo yang menopang berdirinya Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama dan terbesar di Pulau Jawa, setelah surutnya Kerajaan Majapahit.

Adalah Walisongo dan Raden Patah yang mendirikan Masjid Agung Demak, karenanya pada sokoguru masjid tertera nama para wali. Lokasi masjid berada di sisi barat Alun-alun Demak, dengan parkir kendaraan di sisi utara, dimana terdapat warung dan kios yang menjual cindera mata. Dari tempat parkir kami berjalan menyusur jalur pedestrian sejauh sekitar 100 meter sebelum tiba di gerbang depan Masjid Agung Demak. Saat itu sedang ada keramaian di Alun-alun Demak, dengan panggung pertunjukan budaya oleh pelajar di seberang gerbang masjid, sehingga terlihat lalu lalang remaja dengan mengenakan seragam sekolah menengah atas.

Pada 1964 bangunan di depan Masjid Agung Demak yang dianggap mengganggu keaslian masjid dibongkar oleh gubernur Jawa Tengah, yaitu regol, tratag rambat, tangki air, gedung sekolah Islam, KUA, dan rumah penduduk di Kauman gang I. Pada 1983 - 1986 Masjid Demak dipugar oleh Pemerintah RI bekerjsasama dengan Organisasi Konferensi Islam.

masjid agung demak

Masjid Agung Demak dengan atap limasan tumpang susun tiga yang khas, diartikan bahwa para Wali menjalankan agama bersumber pada Iman, Islam, dan Ihsan. Pada puncak masjid terdapat mustaka dengan tulisan Allah dalam aksara Arab. Bangunan masjid berbentuk segi empat dengan empat soko guru yang ditafsirkan bahwa para Wali adalah penganut Madzhab 4.

Masjid Agung Demak dibangun dalam tiga tahap. Candra Sengkala pertama berbunyi "Nogo Mulat Saliro Wani" atau 1388 Saka (1466 M), berdirinya masjid, saat Raden Patah berguru ke Sunan Ampel di Glagahwangi. Yang kedua "Kori Trus Gunaning Janmi", 1399 Saka (1477 M), rehab dan perluasan masjid saat Raden Patah menjadi Adipati di Glagahwangi, Bintoro.

Halaman depan Masjid Agung Demak lebarnya 20 meter dengan panjang 120 meter. Di sisi utara terdapat Museum Masjid Agung Demak, di sisi selatan Madrasah Tsanawiyah NU Demak, dan di samping belakang masjid terdapat makam raja-raja Demak. Di teras masjid yang berukuran 30 x 15 meter terlihat banyak orang duduk-duduk atau berbaring di lantainya.

Yang menarik di ruang utama Masjid Agung Demak adalah artefak yang disebut Maksuroh atau Kholwat bertahun 1287 H. Tempat pasujudan ini dibangun KRMA Aryo Purbaningrat, dengan tiang dan dinding dari Kayu Jati berukir krawangan, bebungaan, suluran, dan gambar jambangan. Ada 10 jendela dan 2 pintu berhias kaca kembang warna-warni dan kaligrafi Arab.

Menara Masjid Agung Demak dibuat pada 1932 dengan biaya 10.000 Gulden dari kas masjid dan infak. Pembuatannya diprakarsai Penghulu Demak KH Abdurrochman, dengan persetujuan teknis W. Coenrad, izin bangunan oleh Bupati Demak RAA Sosro Hadiwijaya, dan pelaksana NV Lyndetives Semarang, menggunakan konstruksi baja 4x4 m dengan tinggi 22 m.

Regol dan pagar depan masjid serta pawestren (tempat shalat wanita) dibangun pada 1804 oleh KRMT Aryo Purbaningrat. Tratag rambat, bangunan penghubung regol ke serambi masjid dibangun pada 1885 oleg KRMT Panji Purbaningrat. Lalu pada 1924 dibangun sumur dan menara air, serta rehab tempat wudlu di kanan kiri masjid oleh KRT Haryo Sosro Hadiwijoyo.

Sebagaimana umumnya masjid pada jaman dahulu, di Masjid Agung Demak juga ada kolam untuk berwudlu. Jika di banyak masjid lain kolamnya sudah ditimbun diratakan dengan tanah, dan tempat wudlunya sudah menggunakan keran air, di masjid ini kolam itu masih dipertahankan dan dijadikan situs kolam wudlu, mengingat nilai sejarahnya. Kolam itu pernah dilompati oleh Karebet secara berjongkok mundur karena Sultan Trenggana hendak lewat.

Di ruang utama masjid ada mimbar berangka tahun 1475 M yang adalah Dampar Kencana sebagai hadiah ketika Prabu Kertabumi melantik Raden Patah menjadi adipati di Glagahwangi Bintoro Demak. Pada dinding atas mihrab ada sejumlah ornamen, diantaranya lambang Hasta Brata atau Surya Majapahit yang mengajarkan 8 sifat kepemimpinan raja-raja Majapahit.

Prabu Kertabumi atau Raja Brawijaya V menganugerahi hadiah kepada Raden Patah berupa sebuah Pendopo Majapahit dengan delapan soko guru dari kayu berukir motif Majapahit yang bertumpu pada umpak batu andesit. Namun karena perluasan masjid maka pendopo itu kemudian dialihgunakan sebagai serambi Masjid Agung Demak.

Pandangan ke arah mihrab dari belakang pintu utama Masjid Agung Demak, yang fotonya sempat saya ambil, memperlihatkan keempat sokoguru, lampu gantung, lekukan pada bagian pengimaman dan ornamen pada bagian atas mihrab. Dua sokoguru di bagian depan masing-masing berisi tulisan Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga, sedangkan dua yang di belakang masing-masing ada tulisan Sunan Gunung Jati dan Sunan Bonang. Mungkin sebagai perlambang bahwa keempat sunan itu yang menjadi sokoguru tegaknya ajaran agama.

Prasasti pada dinding dalam mihrab bergambar bulus berbunyi "Sariro Sunyi Kiblating Gusti", dibaca sebagai 1401 Saka (1479 M), yaitu tahun ketika Raden Patah naik tahta menjadi Sultan Demak. Pada saat itulah masjid direhab dan menjadi Masjid Kasultanan Bintoro Demak. Raden Patah juga disebut sebagai Raden Fattah, R. Jimbun, R. Kasan atau R. Hasan.

Ajaran itu meneladani sifat alam, yaitu Watak Surya (Matahari), Watak Candra (Bulan), Watak Kartika (Bintang), Watak Angkasa (Langit), Watak Maruta (Angin), Watak Samudra (Laut atau Air), Watak Dahana (Api), dan Watak Bumi (Tanah). Itu karena Raden Patah adalah putra Brawijaya V dari seorang selir Tionghoa, puteri Kyai Batong (Tan Go Hwat).

Masjid Agung Demak

Alamat : Desa Kauman, Demak. Lokasi GPS : -6.894754, 110.637485, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 20.00 dan 24.00 - 06.00.

Galeri Foto Masjid Agung Demak

Menara Masjid Agung Demak ini dibuat pada 1932 dengan biaya 10.000 Gulden dari kas masjid dan infak. Pembuatannya diprakarsai Penghulu Demak KH Abdurrochman, dengan persetujuan teknis W. Coenrad, izin bangunan oleh Bupati Demak RAA Sosro Hadiwijaya, dan pelaksana NV Lyndetives Semarang, menggunakan konstruksi baja 4x4 m dengan tinggi 22 m.

masjid agung demak

Prabu Kertabumi atau Raja Brawijaya V menganugerahi hadiah kepada Raden Patah berupa sebuah Pendopo Majapahit dengan delapan soko guru dari kayu berukir motif Majapahit yang bertumpu pada umpak batu andesit. Namun karena perluasan masjid maka pendopo itu kemudian dialihgunakan sebagai serambi Masjid Agung Demak.

masjid agung demak

Pandangan ke arah mihrab dari belakang pintu utama Masjid Agung Demak, memperlihatkan keempat sokoguru, lampu gantung, lekukan pada bagian pengimaman dan ornamen pada bagian atas mihrab. Dua sokoguru di bagian depan masing-masing berisi tulisan Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga, sedangkan dua yang di belakang masing-masing ada tulisan Sunan Gunung Jati dan Sunan Bonang. Mungkin sebagai perlambang bahwa keempat sunan itu yang menjadi sokoguru tegaknya ajaran agama.

masjid agung demak

Menara Masjid Agung Demak ini memiliki dua buah dek pandang, satu di tengah dan satu di bawah kubah di puncaknya. Mungkin mengingat usia menara yang sudah tua, dan untuk menghindari tangan jahil yang senang mencorat-coret dan merusak, maka pada bagian bawah menara diberi pagar keliling, dengan pintu pagar besi yang digembok.

masjid agung demak

Tampak pojok Menara Masjid Agung Demak yang memperlihatkan pintu pagar keliling berwarna orange yang digembok. Kondisi menara sebenarnya terlihat masih bagus, dan bisa saja dibuka untuk umum dengan membatasi jumlah pengunjung yang naik ke menara dalam satu waktu tertentu. Di atas dek atas terlihat ada sejumlah pengeras suara yang dihadapkan ke empat penjuru mata angin.

masjid agung demak

Salah satu dari dua bedug Masjid Agung Demak yang ada di sisi selatan serambi, dengan ukiran suluran dan bunga-bunga pada badan bedug. Pada badan bedug juga ada tulisan ukir yang berbunyi "Masjid Agung Demak, 10 Muharrram 1433 H / 2011". Kentongan kayu terlihat menggantung di sisi kirinya.

masjid agung demak

Tampak muka Masjid Agung Demak dengan gapura masuk pendek, lampu di atasnya, dan tonjolan gemuk lengkung bernornamen suluran lancip di depannya. Atap masjid ditutup dengan sirap, yang sebagian sudah berubah bentuk karena kepanasan dan kehujanan. Di halaman masjid yang sepenuhnya sudah dikeramik terdapat sejumlah tanaman pohon pucuk merah.

masjid agung demak

Bedug Masjid Agung Demak yang ada di sisi utara yang terlihat lebih tua usianya, atau setidaknya lebih pudar warna pliturnya. Pada badan bedug juga terdapat ukiran suluran dan bunga, serta tulisan dengan aksara Arab dan Latin. Bedug ini berangka tahun 1989.

masjid agung demak

Seorang pelajar tengah duduk bersandar pada salah satu dari delapan soko guru di pendopo Majapahit yang sekarang menjadi serambi masjid. Ukiran pada pilar dibuat di bagian bawah dan atas, dengan bagian tengah polos tanpa ukiran. Ukiran pada keempat sisi pilar dibuat dengan motif yang persis sama.

masjid agung demak

Tiga orang jamaah tampak tertidur pulas di depan pintu utama Masjid Agung Demak. Kedua daun pintunya terdapat hiasan kaca berwarna hijau dan keemasan, menggambarkan bokor dan mahkota, serta bagian tengahnya ada Naga dengan mulut panjang bergerigi yang terbuka. Pintu ini merupakan replika Prasasti Pintu Bledeg (Pintu Petir) yang dibaca "Nogo Mulat Saliro Wani" atau 1388 Saka (1466 M). Naga itu konon pernah ditangkap Ki Ageng Sela, putra Bondan Kejawan, yang beristrikan Dewi Nawangsih, putri Jaka Tarub.

masjid agung demak

Hiasan ini ada pada dinding bagian depan luar masjid atau pada dinding serambi, di sisi sebelah selatan, menggambarkan seekor burung berleher panjang dengan sayap terpentang dan ekor mengembang seperti seekor kuntul, atau burung bangau.

masjid agung demak

Hiasan keramik lainnya pada dinding serambi masjid yang jika melihat kepalanya maka tampak seperti seekor rusa atau kijang dengan tanduk di atas kepala, namun badannya yang bisa melengkung tak tampak seperti rusa. Lebih menyerupai seekor anjing.

masjid agung demak

Sebuah tengara pada dinding Masjid yang menyebutkan bahwa masjid dibuka dua kali sehari dari jam 24.00 - 06.00 dan dari jam 09.00 - 20.00. Di luar jam itu pengunjung hanya bisa berada di serambi masjid untuk melakukan ibadah, atau sekadar rebahan untuk meluruskan punggung.

masjid agung demak

Pemandangan pada sisi sebelah kanan ruang utama Masjid Agung Demak dengan pintu-pintu masuk berbentuk lengkung yang tinggi. Nyaris tidak terlihat ada ornamen pada sisi ini, kecuali sebuah lampu gantung di ujung ruangan sana.

masjid agung demak

Sisi sebelah kiri ruang utama masjid, memperlihatkan dua diantara soko guru, dan pilar beton yang menyangga sisi tengah atap masjid. Di ujung sana terdapat undakan kayu yang menuju ke atas ruangan, dan pada tembok terdapat ornamen kaca patri.

masjid agung demak

Ruang tengah atau ruang utama Masjid Agung Demak dilihat dari pojok ruangan. Ruang tengah masjid memang terkesan agak sempit karena banyaknya pilar-pilar berukuran besar yang menghambat pemandangan, terutama pemandangan ke bagian mihrab.

masjid agung demak

Seorang jamaah tampak tengah shalat tepat pada pintu samping masjid. Setiap orang memang memiliki kesukaan sendiri pada bagian mana mereka akan mengerjakan shalat. Pada dinding tembok tampak sejumlah kitab Al-Quran, dan beberapa buku doa. Di ujung sana, pada dinding kayu di bagian atas, terdapat lambang Surya Majapahit, yang dikelilingi ornamen bulat.

masjid agung demak

Mimbar berangka tahun 1475 M yang sebelumnya merupakan Dampar Kencana sebagai hadiah ketika Prabu Kerta Bumi melantik Raden Patah menjadi adipati di Glagahwangi Bintoro Demak. Pada dinding atas mihrab ada sejumlah ornamen, diantaranya lambang Hasta Brata atau Surya Majapahit yang mengajarkan 8 sifat kepemimpinan raja-raja Majapahit. Mimbar ini aslinya terbuka, tanpa penutup kaca, tanpa kerdurung.

masjid agung demak

Keempat sokoguru yang sebagian kayunya telah diganti dengan yang baru lantaran kayu aslinya telah termakan usia. Ada satu tiang yang diganti hanya sedikit, dan pilar lainnya diganti cukup banyak. Potongan pilar-pilar masjid yang asli disimpan di Museum Masjid Agung Demak yang saya kunjungi belakangan.

masjid agung demak

Pilar Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari empat soko guru Masjid Agung Demak. Di Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga membuat pilar yang dikenal dengan nama Soko Tal, yang dibuat dengan menggunakan serpihan Kayu Jati. Sunan Kalijaga (R Syahid, Berandal Lokojoyo, R Joko Setio) adalah putera Adipati Tuban R Wilotikto.

masjid agung demak

Pilar Sunan Bonang di sisi utara timur Masjid Agung Demak. Beliau lahir pada 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim sebagai putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Sunan Bonang wafat pada 1525 M dan dimakamkan di Desa Bonang, meskipun yang sering diziarahi orang adalah yang ada di Kota Tuban.

masjid agung demak

Pilar Sunan Gunung Jati di Masjid Agung Demak. Sunan Gunung Jati diperkirakan lahir sekitar tahun 1450 dari ayah bernama Syarif Abdullah (Syekh Maulana Akbar) bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar asal Gujarat, dan ibu Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.

masjid agung demak

Pilar Sunan Ampel di sisi barat selatan ruang utama Masjid Agung Demak. Beliau lahir pada 1401 di Champa dengan nama Raden Rahmat. Ayahnya adalah Maulana Malik Ibrahim. Sunan Bonang dikenal banyak menggubah sastra berbentuk suluk, diantaranya Suluk Wijil, dan menggubah tembang Tamba Ati yang terkenal sampai sekarang itu.

masjid agung demak

Tulisan yang dibuat menggunakan aksara Jawa di bagian atas pintu utama Masjid Agung Demak yang dibentuk seperti cawan. Di bawahnya terdapat sebaris tulisan lain yang dibuat dengan memakai aksara Arab.

masjid agung demak

Di sebelah kiri adalah pintu samping Masjid Agung Demak yang dibuka, sedangkan pintu utama di tengah sana itu tertutup. Ada lagi pintu samping di ujung sana yang juga terbuka. Diantara pintu dan jendela terlihat sejumlah ornamen berupa keramik Tiongkok.

masjid agung demak

Undakan kayu yang digunakan untuk menuju ke ruangan yang ada di lantai dua. Namun saya tak mencoba naik ke atas, meskipun pintunya sepertinya tak terkunci waktu itu. Mungkin juga karena saat itu saya tidak melihat ada pengurus agar bisa meminta ijin naik.

masjid agung demak

Lukisan kaca patri yang berbunyi "Allah" yang dikelilingi ornamen bunga dan dedaunan. Ada sejumlah kaca patri lainnya yang menghias dinding masjid, yang sekaligus juga berfungsi sebagai sumber cahaya bagi ruangan masjid di siang hari.

masjid agung demak

Yang menarik di ruang utama Masjid Agung Demak adalah artefak yang disebut Maksuroh atau Kholwat bertahun 1347 H. Tempat pasujudan ini dibangun KRMA Aryo Purbaningrat, dengan tiang dan dinding dari Kayu Jati berukir krawangan, bebungaan, suluran, dan gambar jambangan. Ada 10 jendela dan 2 pintu berhias kaca kembang warna-warni dan kaligrafi Arab.

masjid agung demak

Meskipun agak samar karena diambil dari jarak yang cukup jauh, namun masih bisa terlihat bentuk bulus pada dinding bagian dalam mihrab yang dibaca "Sariro Sunyi Kiblating Gusti", atau 1401 Saka (1479 M), yaitu tahun ketika Raden Patah naik tahta menjadi Sultan Demak. Pada saat itulah masjid direhab dan menjadi Masjid Kasultanan Bintoro Demak.

masjid agung demak

Langit-langit Masjid Agung Demak berupa deretan kayu yang terlihat datar saja tanpa ornamen menonjol. Ini berbeda dengan langit-langit Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon misalnya, yang meskipun tanpa ornamen namun memiliki langit-langit tinggi dengan kayu-kayu malang melintang yang memberi kesan tersendiri ketika melihatnya.

masjid agung demak

Masjid Agung Demak dilihat dari arah selatan, memperlihatkan atap tajug limasan tumpang tiga yang menjadi ciri khasnya. Atap sirap masjid juga memberi kesan tersendiri. Tak jelas apakah atap sirap itu diganti secara berkala, seperti atap sirap pada Kramat Ki Buyut Trusmi yang diganti setiap delapan tahun sekali.

masjid agung demak

Masjid Demak dilihat dari sisi utara, dari area di sebelah situs kolam wudlu masjid yang bersejarah. Dahulu kala, para Wali dan jamaah wajib mengambil air wudlu di kolam seluas sekitar 75 m2 dengan kedalaman air 3 m, sebelum masuk ke dalam masjid. Konon di tempat inilah Karebet meloncat mundur seolah terbang dari serambi masjid melewati kolam.

masjid agung demak

Pagar luar Masjid Agung Demak yang berhias tanaman perdu, dengan jalur pedestrian di sebelah kiri, dan di latar belakang terlihat Menara Masjid yang tingginya 22 meter itu. Sama seperti di banyak tempat lainnya, kabel-kabel listrik dan telepon yang bergelantungan telah merusak pemandangan masjid dari arah depan. Entah kapan ada Bupati Demak yang mau membuat gorong-gorong besar di dalam tanah untuk saluran air dan sekaligus tempat disangkutkannya kabel-kabel itu.

masjid agung demak

Info Demak

Hotel di Demak, Peta Wisata Demak, Tempat Wisata di Demak.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑