Museum Masjid Agung Demak

September 05, 2019. Label:
Museum Masjid Agung Demak menempati gedung cukup besar di pojok Timur Laut di kompleks Masjid Agung Demak. Tengara namanya bisa dilihat dari jalur pedestrian di depan pagar luar masjid dan juga dari halaman masjid. Sesuai namanya, museum ini menyimpan peninggalan bersejarah terkait dengan Masjid Agung Demak.

Di sisi selatan Museum Masjid Agung Demak terdapat Situs Kolam Wudlu yang dilingkari pagar dan rantai, namun air kolam masih ada. Ada sejumlah batu di kolam dengan batu besar di tengah. Tanaman perdu yang berbunga ditanam di sekeliling kolam yang segarkan pemandangan. Sambil menunggu penjaga museum yang masih belum kembali dari shalat ashar di masjid, saya melihat-lihat sejumlah foto yang dipasang pada papan tegak di lorong di dekat pintu masuk ke museum. Foto-foto masjid jaman dahulu dan benda-benda bersejarah yang dilengkapi dengan keterangan itu sangat membantu pengunjung untuk mengenal sejarah masjid.

Koleksi Kitab Suci Kuno Al Qur'an 30 Juz tulisan tangan disimpan di dalam lemari pajang kaca museum, dengan pengawet alami di dekatnya. Kondisinya masih bagus. Ada koleksi Kayu Tiang Tatal buatan Sunan Kalijaga, Kap Lampu peninggalan Paku Buwono ke I tahun 1710 M, dan sejumlah gentong dari jaman Dinasti Ming hadiah Putri Campa abad XIV.

museum masjid agung demak

Tampak muka Museum Masjid Agung Demak yang menghadap ke selatan, dengan situs kolam wudlu tampak berada di sebelah kirinya. Bangunan di sebelah kirinya ada pendopo yang menjadi serambi dengan lorong ke kanan menuju museum, dan lorong ke kiri menuju kantor sekretariat masjid dan kemudian menuju ke kompleks Makam Raja-Raja Demak di belakangnya.

Pada papan informasi yang ada di lorong luar museum terdapat daftar Sultan dengan keterangan keturunan dan masa pemerintahan serta lokasi makam, nama para Walisongo berikut gelar dan lokasi makam, juga benda-benda bersejarah di kompleks Masjid Agung Demak. Disebutkan juga bahwa Haul Agung Raden Fattah dilakukan setiap 13 Jumadil Akhir.

Akhirnya juru kunci Museum Masjid Agung Demak pun datang, dan saya dipersilahkan masuk ke dalam tanpa dimintai uang masuk, namun ketika keluar saya meninggalkan selembar uang di atas meja sebagai sumbangan pemeliharaan. Ruangan utama museum tidaklah terlalu luas, dengan bagian tengahnya berupa peninggalan soko guru masjid yang asli.

museum masjid agung demak

Peninggalan pintu makam kasultanan yang berangka tahun 1710 M masih terlihat utuh dan cantik dengan ragam ukir suluran dan bunga pada bagian tengah pintu. Hanya saja kusen-kusennya, yang berada disamping dan atasnya memang terlihat sudah rusak dan tampak sangat tua. Betapa pun kuatnya kayu jati, namun tetap saja ada batas usianya.

Di kanannya adalah Pintu Bledeg buatan Ki Ageng Selo berangka tahun 1388 Saka (1466 M). Daun pintu ini terbuat dari Kayu Jati berukir tumbuhan, jambangan, mahkota, dan kepala Naga dengan mulut bergerigi menganga, menggambarkan petir yang ditangkap Ki Ageng Selo, dan merupakan Condro Sengkolo "Nogo Mulat Saliro Wani" atau 1388 Saka.

Koleksi Museum Masjid Agung Demak lainnya adalah Kentongan Wali Abad XV yang bentuknya seperti perahu, bedug Wali abad XV, sirap kayu jati Serambi Majaphit, dan Lampu Robyong Masjid Demak 1923 - 1936. Ada pula koleksi sejumlah batu andesit yang menjadi umpak soko guru di dekat pintu masuk ke museum.

Lambang Surya Majapahit asli disimpan di Museum Masjid Agung Demak yang sebelumnya berada di bagian atas mihrab Masjid Agung Demak. Delapan pedoman sifat luhur (Hasta Brata) yang terkandung dalam lambang ini adalah Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat Bumi) yang tegas, tetap, konsisten, dan apa adanya. Mahambeg Mring Surya (Matahari) yang memberi kehangatan, energi, dan sumber kehidupan. Mahambeg Mring Kartika (Bintang) yang menjadi petunjuk arah dan menjadi panutan.

Mahambeg Mring Candra (Rembulan) yang memberi penerangan saat gelap dengan cahaya lembut tak membuat silau. Mahambeg Mring Samodra (Laut) yang bersifat luas, dingin, dan menyejukkan. Mahambeg Mring Warih (Air) yang mampu menyesuaikan diri dengan siapapun termasuk pengikutnya, dan memperhatikan potensi, kebutuhan serta kepentingan pengikutnya. Mahambeg Mring Kismo Maruta (Angin) yang selalu ada dimana-mana, blusukan di tengah rakyat yang membutuhkannya. Mahambeg Mring Dahana (Api) yang tuntas menyelesaikan persoalan, tegas, tidak pandang bulu, serta tidak memihak.

Saya sempat mengambil foto potongan Soko Guru Sunan Gunung Jati Masjid Agung Demak asli yang telah rusak dan potongan ini panjangnya sekitar 1 meter. Diameternya 61,5 cm dan tinggi seluruh tiangnya adalah 16,3 meter. Potongan Soko Guru asli dengan ketiga nama wali lainnya berada di sekelilingnya yang semuanya lebih panjang potongan yang rusaknya ketimbang yang satu ini.

Di ruangan sebelahnya yang berukuran tak begitu besar dipasang foto-foto para penguasa Demak dari jaman Kesultanan Demak hingga sekarang. Ada pula silsilah darah biru, silsilah Wali Songo, dan keterangan mengenai Tata Urut Walisongo. Setidaknya ada 38 Adipati, Tumenggung dan Bupati yang berkuasa di Demak sejak 1582 hingga 2011.

Museum Masjid Agung Demak

Alamat : Kompleks Masjid Agung Demak, Desa Kauman, Demak. Lokasi GPS : -6.894344, 110.637753, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Museum Masjid Agung Demak

Lambang Surya Majapahit asli yang sebelumnya berada di bagian atas mihrab Masjid Agung Demak. Delapan pedoman sifat luhur (Hasta Brata) yang terkandung dalam lambang ini adalah Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat Bumi) yang tegas, tetap, konsisten, dan apa adanya. Mahambeg Mring Surya (Matahari) yang memberi kehangatan, energi, dan sumber kehidupan. Mahambeg Mring Kartika (Bintang) yang menjadi petunjuk arah dan menjadi panutan.

museum masjid agung demak

Potongan Soko Guru Sunan Gunung Jati Masjid Agung Demak asli yang telah rusak dan potongan ini panjangnya sekitar 1 meter. Diameternya 61,5 cm dan tinggi seluruh tiangnya adalah 16,3 meter. Potongan Soko Guru asli dengan ketiga nama wali lainnya berada di sekelilingnya yang semuanya lebih panjang potongan yang rusaknya ketimbang yang satu ini.

museum masjid agung demak

Sebuah batu besar di tengah kolam seperti sebuah prasasti serta batuan lainnya yang berderet dan menjadi tumpuan kaki saat mengambil air. Air di kolam terlihat cukup jernih, dan sepertinya selalu diganti secara teratur. Tanaman di sekelilingnya juga terlihat cukup subur dan terawat.

museum masjid agung demak

Lorong pintu masuk ke dalam Museum Masjid Agung Demak terlihat berada di sebelah kiri belakang dinding tengara nama museum. Sementara di latar depan adalah Situs Kolam Wudlu yang meskipun cukup bersih namun entah bagaimana masih ada sampah plastik yang mengambang, padahal sekeliling kolam telah dipagar kawat.

museum masjid agung demak

Pandangan yang menggambarkan posisi Situs Kolam Wudlu terhadao Masjid Agung Demak yang ada di sebelah kanan belakang, serta menara masjid yang terlihat di latar belakang sana. Jarak kolam ke pendopo masjid sebenarnya tak begitu lazim, karena cukup jauh. Kebanyakan kolam wudlu ada di depan atau tepat di samping masjid.

museum masjid agung demak

Foto koleksi Museum Masjid Agung Demak yang memperlihatkan kondisi masjid pada tahun 1800 M. Bangunan pada sayap kanan dan kiri masjid belum ada, demikian pula menara masjid juga belum ada. Halaman depan masjid juga tampak masih belum begitu lebar. Rancang bangun masjid ciptaan Walisongo ini memiliki arti filosofis. Bangunan persegi empat dengan empat soko guru ditafsirkan bahwa para Wali menganut Madzhab 4. Atapnya tajug tumpang tiga ditafsirkan para Wali menjalankan agama bersumber pada Iman, Islam, dan Ihsan (kesempurnaan).

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Museum Masjid Agung Demak yang memperlihatkan kondisi masjid pada tahun 1962, dengan menara yang yang dibuat pada 1932 sudah terpasang di sebelah kiri, dan di bagian depan ada regol cukup besar yang dibuat pada 1804 dan sekarang sudah tidak ada lagi karena dibongkar pada 1964, dan digantikan pilar tugu yang pendek.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi museum yang memperlihatkan serpihan kayu jati yang difoto dari ketinggian sekitar 17,5 meter di atas lantai Masjid Agung Demak, yang oleh masyarakat disebut sebagai Soko Tatal atau Tiang Tatal. Tiang ini merupakan ciptaan Sunan Kalijaga, yang bernama kecil R Syahid, putera dari R Wilotikto, Bupati Tuban.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Lambang Surya Majapahit yang ada di atas mihrab atau ruang pengimaman Masjid Agung Demak. Lambang yang juga disebut Hasta Brata ini sangat terkenal pada jaman Kerajaan Majapahit, sehingga ditafsirkan sebagai lambang Majapahit yang berisi delapan pedoman kepemimpinan Raja-Raja Majapahit, dengan mengambil metafora alam yang berasal dari budaya Hindu. Ada 3 lambang Surya Majapahit di dalam ruangan masjid.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Prasasti Pintu Bledeg atau Pintu Petir karya Ki Ageng Selo yang aslinya berada di pintu bagian tengah depan Masjid Agung Demak. Prasasti ini dibaca "Nogo Mulat Saliro Wani" atau 1388 Saka (1466 M). Ki Ageng Selo adalah putra Bondan Kejawen. Beliau beristeri Dewi Nawangsih, putri Jaka Tarub.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Dampar Kencana yang asli berangka tahun 1475 M, yang sekarang ini digunakan sebagai mimbar khotbah. Dampar ini sekarang telah ditutup sekelilingnya dengan kain dan kaca, sehingga tidak bisa lagi melihat bentuk aslinya. Dampar Kencana adalah hadiah Prabu Kerta Bumi (Brawijaya V) saat melantik Raden Patah menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro, Demak.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi mihrab atau bagian pengimaman Masjid Agung Demak. Mihrab menunjukkan arah kiblat masjid, atau arah ke Mekah. Pada dinding dalam mihrab ini terdapat prasasti berlambang Bulus atau Penyu, yang merupakan Candra Sengkala "Sariro Sunyi Kiblating Gusti" atau 1401 Saka (1479 M), sebagai tengara setelah pemugaran masjid menyusul naik tahtanya Raden Patah sebagai Sultan Demak pada 1400 Saka (1478 M) menyusul runtuhnya Majapahit dengan sengkalan "Sirno Ilang Kertaning Bumi".

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Makam Kaneman, tempat disemayamkannya Sultan Trenggono, yang dikunci dan saya tidak bisa masuk ke dalamnya. Di dalamnya terdapat 24 jirat / batu kubur yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama berada di dalam bilik kayu gebyok bermotif ukiran Jepara yang halus, yaitu jirat kubur Sultan Trenggono dan isteri, Sunan Prawoto, Pangeran Ketip, Nyi Ageng Pinatih, Kyai Ageng Wasi dan isteri, serta Maulana. Sedangkan Kelompok kedua yang bisa saya intip dari jeruji jendela disebut ruang Jogo Satru, terdiri dari 16 jirat kubur, diantaranya Tumenggung Tanpa Siring, Mas Galuwa, Patih Wonosalam, Patih Mangkurat, Pengeran Pandan (KA Wilopo), para Senopati, dan lain-lain.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Museum Masjid Agung Demak, memperlihatkan jirat kubur Sunan Prawoto, yang nama mudanya adalah R Haryo Bagus Mukmin, putera Trenggono yang mengirim orang untuk membunuh ayah Arya Penangsang, Pangeran Sekar, di tepi kali sehingga dikenal dengan nama Pangeran Sekar Seda Lepen. Sunan Prawoto sendiri kemudian mati bersama isterinya karena dibunuh oleh orang suruhan Arya Penangsang. Ada pula jirat kubur Sunan Prawoto di Desa Prawoto, Pati. Pangeran Sekar adalah kakak Trenggono lain ibu.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi jirat kubur Raden Patah, Pati Unus, dan permaisuri Raden Patah. Jirat kubur yang sekarang sudah jauh lebih baik dan lebih elegan dari yang terlihat pada dokumentasi foto ini. Jika ketiga makam pada foto tingginya kira-kira sama, maka yang sekarang jirat kubur Raden Patah lebih besar dan lebih tinggi dari kedua jirat kubur lainnya, hanya saja bentuk dan bahannya sama.

museum masjid agung demak

Pada papan informasi yang ada di lorong luar museum terdapat daftar Sultan dengan keterangan keturunan dan masa pemerintahan serta lokasi makam, nama para Walisongo berikut gelar dan lokasi makam, juga benda-benda bersejarah di kompleks Masjid Agung Demak. Disebutkan juga bahwa Haul Agung Raden Fattah dilakukan setiap 13 Jumadil Akhir. Nama, gelar, dan lokasi makam para Walisongo adalah sebagai berikut: Malik Ibrahim (Syekh Maulana Maghribi, Gresik), R. Rohmatullah (Sunan Ampel, Surabaya), R. Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang, Tuban), R. Paku Ainul Yakin (Sunan Giri, Gresik), R. Kosim Syarifudin Munat (Sunan Drajat, Lamongan), R.M. Syahid (Sunan Kalijaga, Kadilangu-Demak), Dja'far Shodiq (Sunan Kudus, Kudus), R. Umar Said (Sunan Muria, Muria - Kudus), dan R. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon). Sejauh ini hanya tinggal makam Sunan Bonang dan Sunan Drajat yang belum saya kunjungi.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Museum Masjid Agung Demak. Yang disebut Makam Kasepuhan adalah makam tanpa cungkup dimana terdapat jirat kubur Raden Patah, dan R Pati Unus, raja Demak pertama dan kedua. Jika diperhatikan, batu nisan yang ada pada foto dan yang sekarang ini (lihat Makam Raja-Raja Demak) sudah berbeda. Namun tak saya temukan batu nisan yang lama di dalam museum. Mungkin disimpan di tempat lain.

museum masjid agung demak

Koleksi Kitab Suci Kuno Al Qur’an 30 Juz tulisan tangan disimpan di dalam lemari pajang kaca Museum Masjid Agung Demak, dengan pengawet alami diletakkan di dekatnya. Kondisinya boleh dikatakan masih cukup bagus. Tidak jelas kapan terakhir kalinya kitab tulis tangan ini digunakan orang untuk mengaji.

museum masjid agung demak

Koleksi Kayu Tiang Tatal yang dibuat oleh Sunan Kalijaga yang dipakai di dalam soko guru Masjid Agung Demak. Ini mengingatkan saya pada tiang tal yang juga ciptaan Sunan Kalijaga di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibuat pada jaman Sunan Gunung Jati, satu-satunya wali sembilan yang ada di wilayah Jawa Barat.

museum masjid agung demak

Koleksi sejumlah Kap Lampu peninggalan dari Paku Buwono I tahun 1710 M. Bagaimana ceritanya sampai Paku Buwono I menghadiahkan kap-kap lampu gelas ini ke Masjid Agung Demak tidak jelas benar. Begitu pula kapan kap lampu ini tidak digunakan lagi di masjid.

museum masjid agung demak

Kap Lampu lainnya yang juga peninggalan Paku Buwono I tahun 1710. Sebelum naik tahta PB I dikenal dengan nama Pangeran Puger, dan sebelum mendapat gelar pangeran namanya adalah Raden Mas Darajat. Ia adalah putra Sunan Amangkurat I, raja terakhir Kesultanan Mataram di Plered, yang wafat di Tegalarum dalam pelarian ke Batavia, setelah keraton diserbu dan diduduki oleh Trunojoyo. Ibu RM Darajad berasal dari Kajoran, cabang keluarga keturunan Kesultanan Pajang. Sebuah versi menyebutkan bahwa Aroeng Binang I adalah anak Pangeran Puger, sedangkan ibunya adalah cucu buyut Pangeran Bumidirja. Pangeran Bumidirjo sendiri adalah paman dari Amangkurat I, yang menyingkir dari keraton lantaran hendak dibunuh oleh Amangkurat I, dan kemudian tinggal sebagai rakyat biasa di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kebumen.

museum masjid agung demak

Dua diantara Gentong Kong dari jaman Dinasti Ming hadiah Putri Campa dari abad ke XIV, dengan latar bedug kuno di sebelah kiri, dan kaca penutup soko guru di sebelah kanan. Gentong Kong ini juga ada di area Makam Raja-Raja Demak, dan sebagian orang menganggapnya keramat, termasuk air yang disimpan di dalamnya. Salah satu fungsi juru kunci makam adalah untuk meluruskan anggapan itu.

museum masjid agung demak

Bentuk utuh Gentong Kong dengan gurat-gurat tegak tidak teratur dan gurat melingkar pada beberapa tempat yang lebih rapi dan teratur. Umumnya gentong digunakan sebagai tempat air, atau tempat penyimpanan barang keperluan rumah tangga sehari-hari lainnya. Gayung bertangkai panjang biasa digunakan untuk mengeluarkan air dari dalamnya.

museum masjid agung demak

Gentong Kong lainnya, dengan bagian bawah terlihat lebih kusam, karena biasanya ditanam agar stabil ketika diisi air dalam jumlah yang besar. Di sebelah kiri belakang tampak koleksi lampu antik, dan di belakang sana adalah jam lemari yang pernah digunakan di dalam ruang Masjid Agung Demak namun sudah terlalu tua untuk digunakan.

museum masjid agung demak

Kentongan Wali dari Abda ke XV yang bentuknya tampak aneh untuk keadaan sekarang ini, karena lebih menyerupai bentuk sebuah kapal kecil ketimbang kentongan. Bagaimana pun namanya kentongan tentu digantung, tidak diletakkan seperti itu. Tangkai memanjang di bawah kentongan sebelah kiri adalah tempat tali untuk kemudian digantung pada tiang. Karena jaman dahulu belum ada speaker, kentong besar tentulah disukai karena bisa menghasilkan gema suara yang jauh.

museum masjid agung demak

Dua diantara koleksi beduh tua yang disimpan di Museum Masjid Agung Demak, lengkap dengan kentongannya, yang bentuknya menyerupai kentong sekarang ini. Kulit bedug tampaknya sudah pernah berlubang, sehingga ditambal dengan kulit lain dalam bentuk bulatan. Bagian tengah bedug adalah tempat yang paling sering dipukul, dan karenanya paling cepat rusak.

museum masjid agung demak

Koleksi Bedug Wali dari abad ke XV, yang berarti sudah berusia sekitar 600 tahun. Sebuah usia yang sangat tua untuk selembar kulit dan segelondong kayu yang menyusunnya. Pada jaman dahulu tidak sulit untuk mencari kayu dengan diameter besar, sehingga bedug semacam ini selalu dibuat dari satu kayu utuh yang dilubangi di tengahnya.

museum masjid agung demak

Di sebelah atas adalah ukiran kaligrafi pada kayu jati dengan detail yang rumit, dan ornamen yang indah. Di sebelah bawah adalah sejumlah sirap kayu jati bekas atap Serambi Majapahit Masjid Agung Demak yang dihadiahkan oleh Prabu Brawijaya V kepada Raden Patah.

museum masjid agung demak

Empat buah papan kayu jati dengan relief ukir yang menunjukkan tahun, namun tak saya temukan keterangan tentang angka tahun ini. Dua yang di atas tampaknya menurujuk pada tahun Saka, penanggalan Jawa, sedangkan dua yang di bawah sepertinya merujuk pada tahun Masehi. Masjid Agung Demak sendiri diperkirakan pertama kali dibangun pada 1388 Saka, sehingga 1344 Saka adalah 44 tahun sebelum berdirinya Masjid Agung Demak.

museum masjid agung demak

Potongan Soko Guru Sunan Gunung Jati Masjid Agung Demak asli yang telah rusak dan potongan ini panjangnya sekitar 1 meter. Diameternya 61,5 cm dan tinggi seluruh tiangnya adalah 16,3 meter. Potongan Soko Guru asli dengan ketiga nama wali lainnya berada di sekelilingnya yang semuanya lebih panjang potongan yang rusaknya ketimbang yang satu ini.

museum masjid agung demak

Pintu Bledeg atau Pintu Petir asli karya Ki Ageng Selo yang disimpan di Museum Masjid Agung Demak. Aslinya pintu ini berada bagian tengah depan Masjid Agung Demak. Di bagian atas terlihat sejenis mahkota raja, dan di bawahnya adalah kepala naga. Prasasti ini dibaca "Nogo Mulat Saliro Wani" atau 1388 Saka (1466 M), tahun pertama kalinya Masjid Agung Demak berdiri.

museum masjid agung demak

Prasasti Pintu Gledek pada bagian yang telah rusak, dan karena telah rusak itulah pintu ini dicopot dari masjid dan disimpan di Museum Masjid Agung Demak sebagai koleksi dan agar bisa lebih dirawat dan bertahan lama.

museum masjid agung demak

Bekas Soko Guru Sunan Ampel yang rusak dan dikonsulidasi sepanjang sekitar 725 cm. Diameter ini soko adalah 65 cm, dengan tinggi 16,3 meter. Itu artinya bahwa soko guru Sunan Ampel yang sekarang ada di dalam Masjid Agung Demak masih menyisakan tiang asli sepanjang 16,3 m - 7,25 m atau 9,05 meter sedangkan sepanjang 7,25 meter adalah soko jati yang baru.

museum masjid agung demak

Pandangan samping pada potongan Soko Guru Sunan Gunung Jati Masjid Agung Demak asli yang telah rusak dan panjangnya 1 meter itu. Di belakang dan sampingnya adalah potongan soko guru asli lainnya yang terpaksa dipotong dan digantikan dengan yang baru karena telah keropos atau rusak.

museum masjid agung demak

Tiga dari empat potongan soko guru asli peninggalan Wali Songo Abad XV tahun 1479 M yang disimpan di Museum Masjid Agung Demak, dan di tengahnya adalah Lampu Robyong Masjid Demak yang digunakan pada 1923 – 1936.

museum masjid agung demak

Pandangan dekat pada Lampu Robyong Masjid Demak 1923 – 1936. Lampu Robyong adalah lampu gantung dengan tangkai banyak yang biasa digunakan di dalam ruangan masjid maupun lobby hotel. Sekarang ini lampu robyong lebih banyak dibuat dengan bahan kuningan dan tembaga.

museum masjid agung demak

Potongan soko guru Sunan Bonang Masjid Agung Demak yang asli, sepanjang 7,25 meter, diameternya juga 62,7 cm dan tinggi 16,3 meter. Terlihat bahwa bagian bawah soko guru ini telah keropos saking tuanya dan terlalu lama menahan beban.

museum masjid agung demak

Foto penguasa Demak, dan daftar Penguasa Kesultanan Demak, daftar nama dan gelar serta lokasi makam para wali, serta benda-benda bersejarah yang ada di dalam Masjid Agung Demak. Daftar ini hampir sama dengan daftar yang ada pada lorong di dekat pintu masuk museum. Daftar berlatar hijau di kanan bawah berisi silsilah darah biru, silsilah Wali Songo, dan keterangan mengenai Tata Urut Walisongo.

museum masjid agung demak

Papan nama yang berisi keterangan tentang nama-nama Adipati dan bupati di Demak setelah Kesultanan Demak pindah ke Pajang. Setidaknya ada 38 Adipati, Tumenggung dan Bupati yang berkuasa di Demak sejak 1582 hingga 2011.

museum masjid agung demak

Poster di Museum Masjid Agung Demak yang berisi silsilah dari Walisongo yang dimulai dari Nabi Muhammad SAW. Silsilah yang konon dikutip dari Kitab Syamsu Dhohiroh karya Al-Alamah Al Habib Abu Bakar bin Husin bin Ali al Idrus Mesir ini isinya ternyata banyak bertentangan dengan silsilah yang selama ini telah dikenal secara umum.

museum masjid agung demak

Batu umpak yang disimpan menempel pada dinding di dekat pintu masuk Museum Masjid Agung Demak. Batu umpak digunakan sebagai landasan soko guru atau pun tiang-tiang penyangga bangunan, dan biasanya dibuat dari batu andesit yang kuat.

museum masjid agung demak

Sudut pandang yang memperlihatkan seluruh tiang asli atau soko guru asli Masjid Agung Demak yang telah berusia sekitar 600 tahunan, yang diletakkan di tengah ruangan Museum Masjid Agung Demak, dan merupakan koleksi terbesar dan tertinggi di museum ini.

museum masjid agung demak

Dokumentasi Museum Masjid Agung Demak yang memperlihatkan foto setelah dipugar pada tahun 1983 - 1986 oleh Pemerintah RI bekerjasama dengan Organisasi Konferensi Islam.

museum masjid agung demak

Catatan yang mengaitkan Masjid Agung Demak sebagai sebuah artefak arkeologi. Foto adalah gambar depan Masjid Agung Demak setelah dikonservasi pada tahun 2003.

museum masjid agung demak

Pada tahun 1978 - 1979 pengurus masjid telah memproyeksikan penataan halaman, paving block, tanaman vegetasi, pemasangan tiang listrik berikut lampu terang cahaya dengan aplikasi hemat energi.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi yang memperlihatkan penampakan menara Masjid Agung Demak pada tahun 1932.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi yang memperlihatkan keadaan Situs Kolam Wudlu yang konon dahulu dilompati mundur oleh Karebet dalam posisi berjongkok.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi artefak Masjid Agung Demak yang disebut Kholwat / Maksuroh bertarih 1287 H, yang merupakan pasujudan khusus yang berada di dalam masjid, dibangun oleh KRMA Aryo Purbaningrat.

museum masjid agung demak

Foto lawas yang menampilkan empat soko guru Masjid Agung Demak dari Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

museum masjid agung demak

Foto lama yang memperlihatkan gento dari Dinasti Ming hadiah dari Putri Campa di abad XIV.

museum masjid agung demak

Foto dokumentasi Museum Masjid Agung Demak yang memperlihatkan wujud bedug dan kentongan abad XV.

museum masjid agung demak

Tulisan di atas Pintu Bledeg ciptaan Ki Ageng Selo yang memberi informasi tentang ragam ukir pada pintu serta lambang yang diwakilinya, serta candra sangkala yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani.

museum masjid agung demak

Bekas Soko Guru Sunan Kalijogo dari Kadilangu Demak yang rusak dan dikonsolidasi sekitar 725cm dari tinggi 1630 cm.

museum masjid agung demak

Koleksi bekas pintu makam kasultanan yang berangka tahun 1710 M.

museum masjid agung demak

Seorang pelajar kelas menengah atas tengah melintas di bawah tengara Museum Masjid Agung Demak, dan tengara Situs Kolam Wudlu yang bersejarah berada di depannya. Dahulu orang wajib bersuci di kolam wudlu sebelum masuk ke dalam masjid untuk shalat.

museum masjid agung demak

Info Demak

Hotel di Demak, Peta Wisata Demak, Tempat Wisata di Demak.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑