Tugu Monumen Nasional Jakarta

Kunjungan ke Tugu Monumen Nasional Jakarta sudah terjadi beberapa beberapa kali, dan terakhir terjadi beberapa waktu lalu. Secara umum kondisi Tugu Monas tak berubah, tetap menjulang tinggi dengan bongkah nyala api berlapis emas di puncaknya. Hanya saja Taman Medan Merdeka yang mengelilingi tugu tampak menjadi jauh lebih cantik, anggun, dan menyenangkan untuk mengayun langkah kaki.

Seingat saya, kawasan Tugu Monumen Nasional Jakarta mulai dibenahi di jaman Gubernur DKI Jakarta 'Jokowi' Joko Widodo dan kemudian diteruskan oleh Gubernur Basuki Tjahaja 'Ahok' Purnama. Pembenahan itu kini telah bisa dinikmati oleh pengunjung Monas, terlihat dengan adanya bangku-bangku kayu beralas besi cor bercat putih di jalur pedestrian sisi luar kawasan Monas, serta penataan Taman Medan Merdeka dengan jalur pedestrian lebar yang keren dan bangku-bangku tempat melepas penat di bawah pepohonan rimbun.

Saat saya berkunjung, tak terlihat ada satu pun pedagang asong dan PKL, karena semuanya telah diberi tempat layak oleh Pemprov DKI di area Lenggang Jakarta, sejak 2015. Dari area parkir IRTI Monas, di sisi Jl Merdeka Selatan, kami berjalan 700 meter melewati Lenggang Jakarta hingga ke dekat Tugu Monas, dan kemudian berjalan 200 meter lagi ke jalan masuk lorong bawah tanah di sebelah utara Tugu Monas. Tugu Monumen Nasional memang wisata jalan kaki, meski tersedia angkutan wisata jika sabar menunggu.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sepertinya Tugu Monumen Nasional tak pernah kehilangan daya tarik, buktinya berbondong orang masih saja menyemut seperti kena sihir emasnya. Banyak yang baru datang, banyak pula yang meninggalkan lokasi lantaran sudah datang sejak pagi. Bersepeda, jogging, atau kegiatan olah raga berkelompok lainnya juga biasa dilakukan di sana.

Di dekat Tugu Monumen Nasional ada bokor-bokor beton besar berhias relief Garuda tunggangan Wisnu di latar depan. Sayang sekali banyak kepala garuda sudah hilang entah kemana, menyisakan hanya sedikit yang masih utuh. Menurut catatan, fondasi Tugu Monas selesai dibuat pada Maret 1962 dengan 284 pasak beton sebagai fondasi bangunan dan 360 pasak bumi sebagai fondasi Museum Sejarah Nasional.

Dinding museum selesai dikerjakan Oktober, dan tugu Lingga selesai dibuat Agustus 1963. Konsep Lingga Yoni yang digagas Presiden Soekarno ini, perlambang kesuburan dan keberlangsungan kehidupan, jauh lebih membumi ketimbang Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri. Tugu Monas juga melambangkan pasangan Alu - Lesung yang akrab dengan kehidupan para petani.

Jalur pejalan kaki menuju cawan Tugu Monumen Nasional terlihat setelah keluar dari lorong bawah tanah. Awal lorongnya berada di dekat Patung Pangeran Diponegoro yang terbuat dari perunggu seberat 8 ton, dibuat pemahat Italia bernama Coberlato dan disumbangkan oleh Konsul Jendral Honores, Dr Mario Bross. Di sebelah patung ada kolam refleksi, kolam memanjang yang memantulkan Tugu Monas jika dilihat dari ujung utara kolam. Di awal lorong bawah tanah kami membayar tiket masuk, yang bisa dilakukan dengan kartu Jakarta One atau secara tunai.

tugu monumen nasional monas jakarta

Saat itu antrian pengunjung terlihat menaga, karena besar dan panjangnya, di bawah cawan Tugu Monumen Nasional untuk masuk ke dalam lift yang akan membawa ke dek pandang di puncak tugu. Kami sempat mengantri selama beberapa menit, sebelum memutuskan untuk pergi karena lambatnya laju antrian. Jika ingin naik memang harus datang pagi-pagi, dan jangan mampir kemana-mana dulu. Di dalam cawan Monumen Nasional terdapat ruang berbentuk amphitheater yang disebut Ruang Kemerdekaan.

Di sini disimpan di kotak kaca naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam gerbang berlapis emas, Garuda Pancasila, Peta NKRI berlapis emas, Bendera Merah Putih, dan dinding bertuliskan isi Naskah Proklamasi. Pelataran cawan tingginya 17 meter, sedangkan tinggi antara ruang Museum Sejarah Nasional Indonesia ke dasar cawan adalah 8 m (3 m di bawah tanah ditambah 5 m tangga ke dasar cawan), areanya berbentuk bujur sangkar 45 x 45 m, semuanya melambangkan angka keramat 17-8-1945.

Relief Sejarah Indonesia bisa dijumpai mengelilingi halaman pelataran Tugu Monumen Nasional Jakarta, yang bercerita mulai dari jaman kejayaan kerajaan Nusantara hingga jaman kemerdekaan. Ada penggambarkan kejayaan Kerajaan Singasari yang didirikan Ken Arok pada 1222, juga dari jaman Majapahit dengan patung Mapatih Gajah Mada yang gagah. Relief sisi lainnya menggambarkan penggalan kisah semasa penjajahan Belanda, perjuangan rakyat dan tokoh nasional Indonesia, bangkitnya pergerakan nasional di awal abad ke-20, peristiwa Sumpah Pemuda, penjajahan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan RI, perjuangan revolusi paska proklamasi, hingga masa pembangunan Indonesia.

Sedangkan obor kemerdekaan di puncak Tugu Monumen Nasional Jakarta yang fenomenal itu telah dilapis emas seberat 50 kg, 28 kg diantaranya sumbangan Teuku Markam, pengusaha asal Aceh. Obor emas itu tingginya 14 m, berdiameter 6 m, dan terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Obor yang semula beratnya 35 kg itu dilapis ulang dan ditambah berat emasnya menjadi 50 kg pada 1995 dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-50.

Di bawah obor emas terdapat pelataran puncak berukuran 11 x 11 m pada ketinggian 115 meter dari permukaan tanah yang bisa dicapai dengan lift berkapasitas 11 orang. Di pelataran yang menampung sekitar 50 orang itu terdapat teropong untuk melihat ke seluruh penjuru Kota Jakarta. Baru sekali saya ke pelataran puncak itu.

Sebagai bagian sistem pendingin udara kawasan Tugu Monumen Nasional adalah kolam refleksi di sisi utara, kolam air mancur yang menari setiap malam Minggu di sisi Barat yang berdekatan dengan Halte TransJakarta, serta kolam air mancur lagi di sisi Timur, dekat Patung Kartini yang sebelumnya berada di samping Taman Suropati dan tempatnya digantikan dengan Patung Pangeran Diponegoro.

Adalah Presiden Soekarno yang berkeinginan mendirikan Tugu Monumen Nasional. Atas perintahnya, pada 17 Agustus 1954 dibentuk komite untuk menyelenggarakan lomba rancang monumen nasional pada 1955. Dari 51 rancangan, terpilih karya Frederich Silaban. Pada sayembara kedua tahun 1960 yang diikuti 136 peserta, tidak ada satu pun yang memenuhi persyaratan komite.

Ketika rancangan Silaban diperlihatkan kepada Soekarno, Silaban diminta oleh Soekarno untuk merancang ulang Monumen Nasional dengan mengadopsi bentuk Lingga Yoni. Hasil rancangan ulang Silaban ternyata memakan biaya sangat besar, akan tetapi Silaban menolak merancang bangunan monumen yang lebih kecil. Arsitek R.M. Soedarsono kemudian diminta Presiden Soekarno untuk melanjutkan rancangan Silaban.

Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, ke dalam rancangan Silaban. Tugu Monumen Nasional mulai dibangun 17 Agustus 1961 saat Presiden Soekarno secara simbolis menancapkan pasak beton pertama di area taman seluas 80 ha itu. Tugu Monumen Nasional resmi dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975, yang dilakukan oleh Presiden Soeharto, meski masih ada perbaikan di sana sini.

Informasi Tugu Monumen Nasional Jakarta

Alamat : Taman Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Lokasi GPS : -6.175542, 106.827117, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 16.00. Senin pekan terakhir tutup. Harga tiket masuk : Rp. 5.000, pelajar Rp 3.000, anakRp 2.000, Rp. 10.000 puncak Monas, pelajar Rp 5.000, anak-anak Rp 2.000.

Galeri Foto Tugu Monumen Nasional

Jalur pejalan kaki menuju cawan Tugu Monumen Nasional sesaat setelah keluar dari lorong bawah tanah yang terlihat di sisi sebelah kiri pada foto. Awal lorongnya berada di seberang jalan di dekat tenda orange yang terlihat sebagian di sisi kanan foto. Di dekat tenda itu ada Patung Pangeran Diponegoro terbuat dari perunggu seberat 8 ton yang dibuat pemahat Italia bernama Coberlato, disumbangkan oleh Konsul Jendral Honores, Dr Mario Bross. Di sebelah patung ada kolam refleksi, kolam memanjang yang memantulkan Tugu Monas jika dilihat dari ujung utara kolam. Di awal lorong bawah tanah kami membayar tiket masuk, yang bisa dilakukan dengan kartu Jakarta One atau secara tunai.

tugu monumen nasional monas jakarta

Tugu Monumen Nasional dari jarak dekat dengan bokor beton besar berhias relief Garuda Wisnu. Fondasi Tugu Monas selesai bulan Maret 1962. Dinding museum selesai Oktober, dan tugu Lingga selesai pada Agustus 1963. Konsep Lingga Yoni gagasan Presiden Soekarno ini lebih membumi ketimbang gagasan Monumen Simpang Lima Gumul. Tugu Monas juga lambang Alu - Lesung.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief Sejarah Indonesia mengelilingi halaman pelataran Tugu Monumen Nasional Jakarta, dari jaman kerajaan Nusantara hingga era kemerdekaan. Ada Kerajaan Singasari yang dibuat Ken Arok pada tahun 1222, dan Kerajaan Majapahit dengan patung Maha Patih Gajah Mada.

tugu monumen nasional monas jakarta

Salah satu dari empat jalan lebar yang menuju ke arah Tugu Monumen Nasional yang disebut Jalan Silang Monas Tenggara. Di sebelah kanan jalan ini adalah Stasiun Gambir.

tugu monumen nasional monas jakarta

Jika sekarang dilihat dengan citra satelit, di tengah Jalan Silang Monas Tenggara ini ada median yang ditanami dengan rumput, dan demikian pula dengan jalan silang Monas di tiga pojok lainnya. Lebar jalan ini tak kurang dari 50 meter.

tugu monumen nasional monas jakarta

Meski agak sedikit kasar, namun Jalan Silang Monas ini masih cukup nyaman dan aman bagi anak-anak untuk bermain sepeda atao skuter.

tugu monumen nasional monas jakarta

Ini adalah jalan dengan paving blok yang berada di sekeliling Tugu Monas dan disebut sebagai Jalan Lingkar Monas. Sisi tenggara ini tak begitu ramai dibandingkan dengan Jalan Silang Monas Barat Daya, oleh sebab banyak pengunjuk yang parkir kendaraan di Lapangan Parkir IRTI dan berjalan masuk ke Tugu Monas lewat jalan itu.

tugu monumen nasional monas jakarta

Tugu Monumen Nasional yang menjulang tinggi dengan cawan besar di bawahnya, mengambil konsep Lingga Yoni, meski tak mirip bentuknya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Bokor beton berukuran besar dengan hiasan Garuda dan suluran dedaunan berwarna keemasan yang indah. Sayang, ada sangat banyak relief Garuda elok itu yang kepalanya sudah hilang, yang saya kira dipotek oleh orang yang tak bernalar dan tak berbudi.

tugu monumen nasional monas jakarta

Prasasti peresmian Taman Ruang Agung Medan Merdeka, tempat dimana bokor-bokor beton elok berada, oleh Gubernur DKI Sutiyoso pada 12 September 2007, dengan dana berasal dari PT Gudang Garam Tbk.

tugu monumen nasional monas jakarta

Kereta Wisata Monas dengan tiga gerbong yang kapasitas totalnya 36 orang sekali jalan. Kereta ini disediakan secara gratis bagi pengunjung Monas, dengan rute Jalan Silang Monas Barat Daya dekat area parkir IRTI atau Lenggang Jakarta hingga sampai ke dekat pintu masuk lorong bawah tanah untuk menuju ke Tugu Monas.

tugu monumen nasional monas jakarta

Tenda merah itu berada di dekat pintu masuk lorong bawah tanah yang harus dilewati jika pengunjung ingin ke area di sekitar cawan Monas, atau hendak naik ke puncak Monas dengan menggunakan lift. Tampak di latar belakang adalah Patung Pangeran Diponegoro.

tugu monumen nasional monas jakarta

Kereta Wisata berhenti di dekat tenda merah itu untuk menurunkan penumpang, dan tenda putih yang tampak hanya sebagian di sebelah kanan adalah tempat dimana pengunjung antri untuk naik kereta wisata Monas yang akan membawa mereka ke area dekat Lenggang Jakarta.

tugu monumen nasional monas jakarta

Tengara nama Tugu Monumen Nasional di dekat mulut turunan jalan masuk ke arah lorong bawah tanah, dengan Patung Pangeran Diponegoro di belakangnya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sepotong pemandangan di awal lorong bawah tanah dimana pengunjung membeli tiket masuk ke Tugu Monas.

tugu monumen nasional monas jakarta

Papan yang berisi harga tiket masuk ke kawasan Tugu Monumen Nasional, untuk umum ke cawan Rp5.000 dan naik ke puncak Monas Rp15.000, Mahasiswa Rp3.000 & Rp8.000, anak-anak/pelajar Rp2.000 & Rp4.000.

tugu monumen nasional monas jakarta

Suasana di dalam lorong bawah tanah menuju ke area cawan Tugu Monumen Nasional. Lorong ini diberi pendingin ruangan sehingga cukup menyenangkan bagi pengunjung yang lewat.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief dan patung menghiasi tembok di sekeliling pelataran dalam di bawah cawan Tugu Monumen Nasional. Di ujung kanan terlihat patung Gajah Mada dengan keris di tangan mengacung ke atas, saat mengucapkan Sumpah Palapa.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief Tugu Monas dengan latar Masjid Istiqlal di belakang sana.

tugu monumen nasional monas jakarta

Potongan relief Tugu Monas lainnya yang menggambarkan penggalan sejaran nasional di jaman kerajaan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief-relief itu dikerjakan dengan sangat baik, terlihat cantik dan hidup dengan detail indah. Hanya saja orang harus menduga-duga cerita yang dicoba digambarkannya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Jika tak salah, lambang di sebelah kiri adalah Surya Majapahit, dan relief ini tampaknya mencoba menggambarkan sejarah di masa kerajaan yang dibangun oleh Raden Wijaya itu.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pemandangan dari area di samping cawan Monumen Nasional yang letaknya memang lebih tinggi dari Jalan Silang Monas dan Taman Medan Merdeka.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pemandangan lainnya dari area di bawah cawan Tugu Monumen Nasional. Jika malas mengantri untuk naik lift ke puncak Monas, berada di sekitar cawan Monas juga sudah cukup menyenangkan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sudut pandang lainnya pada pelataran bawah cawan Tugu Monas. Jika matahari tak sedang terik sinarnya, cukup menyenangkan untuk berkeliling melihat relif dan patung-patung yang indah, sambil mencoba berimajinasi tentang kisah sejarahnya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Ujung sebelah kiri tengah adalah area dimana pengunjung baru saja keluar dari lorong bawah tanah. Di ujung sana dimana terdapat tenda merah dua buah adalah jalan masuk ke dalam lorong bawah tanag. Dua tenda putih adalah tempat antrian Kereta Wisata Monas.

tugu monumen nasional monas jakarta

Mungkin memang di sengaja bahwa di depan tembok relief ada cekungan cukup dalam yang menampung genangan air. Barangkali itu adalah simbol bahwa air dan air laut, yang merupakan penghubung kepulauan Nusantara.

tugu monumen nasional monas jakarta

Berfoto dengan latar relief sejarah perjalanan bangsa yang elok.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief yang sepertinya menggambarkan keadaan masyarakat di jaman penjajahan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Seorang tuan di atas tandu, dengan topi dan sepatu, sementara pengusungnya mengenakan ikat kepala, bertelanjang dada, dan mungkin tak memakai alas kaki.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sebelah kiri atas mungkin pembagunan rel kereta api, dan kanan atas telrihat lori yang membawa hasil tambang, mungkin batubara.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief yang menggambarkan pembangunan rel kereta api di jaman penjajahan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief berikutnya di area bawah cawan Tugu Monas.

tugu monumen nasional monas jakarta

Penggambaran kondisi rakyat di jaman penjajahan Jepang.

tugu monumen nasional monas jakarta

Relief ketika sejumlah pekerja mencoba menggerakkan tuas pompa air raksasa.

tugu monumen nasional monas jakarta

Melihat senjata yang dipegang orang di bagian belakang, yaitu rencong, mungkin itu menggambarkan sosok Teuku Umar, sementara ada sosok orang Belanda di bagian depannya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Logo VOC yang tengah diberdirikan oleh sejumlah orang, menandai era penjajahan oleh orang Belanda di wilayah Nusantara.

tugu monumen nasional monas jakarta

Tentara dan pertempuran, menandai era perjuangan semasa revolusi kemerdekaan dalam melawan penjajah.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sebuah relief yang bagus, namun sulit memahami peristiwa apa yang hendak digambarkan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Jika saja ada judul pada setiap blok relief suah akan sangat membantu pengunjung dalam mencoba memahami peristiwa sejarah yang hendak digambarkan. Segmen ini sepertinya di masa sebelum kemerdekaan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Penggambaran tentang Pangeran Diponegoro yang tengah mengendarai kuda, menandai episode perang Jawa pada kurun waktu 1825-1830. Siapa pun yang membuat relief ini sangatlah patut dipuji kepiawaiannya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Yang berdiri di sebelah kanan tentulah Ki Hajar Dewantara, namun tak jelas sedang berbicara dengan siapa, dam relief pada tembok tentulah Kartini.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sebelah kiri tampaknya adalah Pahlawan Nasional Pattimura, sayang pedangnya telah patah. Memang ada banyak bagian patung dan relief yang telah rusak dimakan waktu dan telah memerlukan perbaikan. Di sebelah kanan mungkin adalah Pahlawan Aceh Cut Nyak Dien.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pandangan dari samping tembok relief ke arah cawan Tugu Monumen Nasional dengan undakan yang menghubungkan keduanya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Fragmen relief lainnya, dengan sebuah pesawat terbang jenis capung melayang di angkasa, menandai era di masa perang Pasifik dan perang Kemerdekaan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Deret patung dengan pakaian dari berbagai daerah, mungkin melambangkan peristiwa bersejarah berlangsungnya Sumpah Pemuda.

tugu monumen nasional monas jakarta

Peristiwa pengibaran bendera, salah satu yang bersejarah adalah di Hotel Majapahit, dan di sebelah kiri ada orang bule dan orang Indonesia berjabat tangan, disaksikan seorang bule lainnya, mungkin menggambarkan Perundingan Linggarjati.

tugu monumen nasional monas jakarta

Patung para pejuang dan burung Garuda berukuran besar tengah mengembangkan sayapnya, dan di ujung sana adalah patung Soekarno - Hatta.

tugu monumen nasional monas jakarta

Patung Soekarno - Hatta dengan deretan patung serta relief yang melambangkan era revolusi kemerdekaan RI.

tugu monumen nasional monas jakarta

Jika saja dulu kolamnya diisi ikan lele mungkin sekarang sudah sangat besar, mengingatkan saya pada ikan lele di Lokawisata Baturraden.

tugu monumen nasional monas jakarta

Seorang petugas kebersihan tampak tengah bekerja di area di sekitar bokor beton raksasa yang dihiasi patung Garuda elok.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pandangan lebih dekat pada patung Garuda berwarna keemasan yang sangat elok itu. Perhatikan bahwa patung garuda di sebelah kanan kepalanya sudah hilang, demikian pula dengan dua patung garuda di sebelah belakang sana. Sayang sekali.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pinggiran kolam yang kering membuat anak-anak bisa duduk dan mendekati relief dan patung sejarah perjuangan bangsa.

tugu monumen nasional monas jakarta

Meski tidak jernih, namun genangan air di bawah patung itu tidak terlihat kotor. Hanya saja lumut telah tumbuh di dasar parit kolamnya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Petani dengan padi di tangannya, ada pula hasil bumi yang dibawa di atas kepala, menandai era pertanian dan pembangunan nasional.

tugu monumen nasional monas jakarta

Rumah ibadah dan para agamawan, memperlihatkan rakyat Indonesia yang religius, serta pentingnya dibangun kerukunan antar umat beragama dengan saling melindungi dan saling menghormati.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sudut pandang yang berbeda pada patung para agamawan serta rumah ibadah bagi umat agama dengan jumlah penganut besar di Indonesia.

tugu monumen nasional monas jakarta

Budaya dan pembangunan yang harus berjalan seiring yang memperkuat satu dengan yang lainnya. Tradisi melompat batu di Nias atau fahombo batu pada mulanya dilakukan para pemuda untuk menunjukan bahwa mereka sudah dewasa dan matang secara fisik.

tugu monumen nasional monas jakarta

Ada nelayan dengan jaring penuh berisi ikan, rumah Toraja, penari dengan kipasnya, sepasang ondel-ondel Betawi di pojok sana, dan sejumlah patung serta relief lainnya, serta pengunjung dengan ponselnya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Kesenian Reog Ponorogo juga ditampilkan pada dinding relief sejarah perjalanan bangsa di area Tugu Monas ini.

tugu monumen nasional monas jakarta

Di sebelah deretan orang yang tengah duduk di atas bangku panjang itu saya kira adalah lambang perusahaan rokok Gudang Garam, mungkin penyumbang dana bagi pembuatan patung dan relief ini.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sebuah kock berukuran besar, melambangkan kejayaan bulutangkis di Indonesia di kancah dunia. Meski tak selalu menjadi juara, namun Indonesia selalu memiliki pemain yang disegani di banyak pertandingan internasional.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sejumlah patung orang, mungkin pahlawan nasional, relief sepasang pandu, dan burung serta stawa khas nusantara, seperti komodo dan orang utan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Air yang cetek membuat anak-anak bisa berfoto dengan duduk di atas punggung komodo. Di sebelah kiri tampaknya adalah bunga bangkai.

tugu monumen nasional monas jakarta

Di sebelah kanan tampak relief sejumlah peralatan tempur seperti tank, kendaraan lapis baja dan pesawat tempur, serta patung petinggi militer. Sebuah patung kepala singa barong, atau Kala, tampak di kanan atas.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pandangan pada puncak Tugu Monumen Nasional dengan lidah api yang dilapis emas. Dek pandang tampak berada di bawahnya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Foto dokumentasi pada bagian cawan Tugu Monumen Nasional, sebelum renovasi yang terakhir kalinya dilakukan di sekeliling taman di bawahnya.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pandangan yang lebih dekat pada bagian puncak Tugu Monumen Nasional. Seingat saya baru sekali pernah naik ke dek pandang di atas sana itu.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pandangan penuh pada Tugu Monumen Nasional dari area di bawahnya. Sebuha cupu tampak di latar depan bawah.

tugu monumen nasional monas jakarta

Sudut pandang lainnya pada patung dan relief dari jaman Kerajaan Majapahit, dengan relief pura dan gunungan di sebelah kanan.

tugu monumen nasional monas jakarta

Pandangan lainnya pada patung dan relief di sekeliling area cawan Tugu Monumen Nasional, yang tampaknya merupakan bagian dari Museum Sejarah Nasional Indonesia, yang lokasinya tepat berada di bawah cawan Tugu Monas.

tugu monumen nasional monas jakarta

Info Jakarta

Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat, Nomor Telepon Penting.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑