Tugu Monumen Nasional Jakarta

Kunjungan ke Tugu Monumen Nasional Jakarta sudah terjadi beberapa beberapa kali, dan terakhir terjadi beberapa waktu lalu. Secara umum kondisi Tugu Monas tak berubah, tetap menjulang tinggi dengan bongkah nyala api berlapis emas di puncaknya. Hanya saja Taman Medan Merdeka yang mengelilingi tugu tampak menjadi jauh lebih cantik, anggun, dan menyenangkan untuk mengayun langkah kaki.

Seingat saya, kawasan Tugu Monumen Nasional Jakarta mulai dibenahi di jaman Gubernur DKI Jakarta 'Jokowi' Joko Widodo dan kemudian diteruskan oleh Gubernur Basuki Tjahaja 'Ahok' Purnama. Pembenahan itu kini telah bisa dinikmati oleh pengunjung Monas, terlihat dengan adanya bangku-bangku kayu beralas besi cor bercat putih di jalur pedestrian sisi luar kawasan Monas, serta penataan Taman Medan Merdeka dengan jalur pedestrian lebar yang keren dan bangku-bangku tempat melepas penat di bawah pepohonan rimbun.

Saat saya berkunjung, tak terlihat ada satu pun pedagang asong dan PKL, karena semuanya telah diberi tempat layak oleh Pemprov DKI di area Lenggang Jakarta, sejak 2015. Dari area parkir IRTI Monas, di sisi Jl Merdeka Selatan, kami berjalan 700 meter melewati Lenggang Jakarta hingga ke dekat Tugu Monas, dan kemudian berjalan 200 meter lagi ke jalan masuk lorong bawah tanah di sebelah utara Tugu Monas. Tugu Monumen Nasional memang wisata jalan kaki, meski tersedia angkutan wisata jika sabar menunggu.

tugu monumen nasional monas jakarta
Sepertinya Tugu Monumen Nasional tak pernah kehilangan daya tarik, buktinya berbondong orang masih saja menyemut seperti kena sihir emasnya. Banyak yang baru datang, banyak pula yang meninggalkan lokasi lantaran sudah datang sejak pagi. Bersepeda, jogging, atau kegiatan olah raga berkelompok lainnya juga biasa dilakukan di sana. Adalah Presiden Soekarno yang berkeinginan mendirikan Tugu Monumen Nasional. Atas perintahnya, pada 17 Agustus 1954 dibentuk komite untuk menyelenggarakan lomba rancang monumen nasional pada 1955. Dari 51 rancangan, terpilih karya Frederich Silaban. Pada sayembara kedua tahun 1960 yang diikuti 136 peserta, tidak ada satu pun yang memenuhi persyaratan komite.

Ketika rancangan Silaban diperlihatkan kepada Soekarno, Silaban diminta oleh Soekarno untuk merancang ulang Monumen Nasional dengan mengadopsi bentuk Lingga Yoni. Hasil rancangan ulang Silaban ternyata memakan biaya sangat besar, akan tetapi Silaban menolak merancang bangunan monumen yang lebih kecil. Arsitek R.M. Soedarsono kemudian diminta Presiden Soekarno untuk melanjutkan rancangan Silaban. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, ke dalam rancangan Silaban. Tugu Monumen Nasional mulai dibangun 17 Agustus 1961 saat Presiden Soekarno secara simbolis menancapkan pasak beton pertama di area taman seluas 80 ha itu.

Di dekat Tugu Monumen Nasional ada bokor-bokor beton besar berhias relief Garuda tunggangan Wisnu di latar depan. Sayang sekali banyak kepala garuda sudah hilang entah kemana, menyisakan hanya sedikit yang masih utuh. Menurut catatan, fondasi Tugu Monas selesai dibuat pada Maret 1962 dengan 284 pasak beton sebagai fondasi bangunan dan 360 pasak bumi sebagai fondasi Museum Sejarah Nasional. Dinding museum selesai dikerjakan Oktober, dan tugu Lingga selesai dibuat Agustus 1963. Konsep Lingga Yoni yang digagas Presiden Soekarno ini, perlambang kesuburan dan keberlangsungan kehidupan, jauh lebih membumi ketimbang Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri. Tugu Monas juga melambangkan pasangan Alu - Lesung yang akrab dengan kehidupan para petani.

Jalur pejalan kaki menuju cawan Tugu Monumen Nasional terlihat setelah keluar dari lorong bawah tanah. Awal lorongnya berada di dekat Patung Pangeran Diponegoro yang terbuat dari perunggu seberat 8 ton, dibuat pemahat Italia bernama Coberlato dan disumbangkan oleh Konsul Jendral Honores, Dr Mario Bross. Di sebelah patung ada kolam refleksi, kolam memanjang yang memantulkan Tugu Monas jika dilihat dari ujung utara kolam. Di awal lorong bawah tanah kami membayar tiket masuk, yang bisa dilakukan dengan kartu Jakarta One atau secara tunai.

Saat itu antrian pengunjung terlihat menaga, karena besar dan panjangnya, di bawah cawan Tugu Monumen Nasional untuk masuk ke dalam lift yang akan membawa ke dek pandang di puncak tugu. Kami sempat mengantri selama beberapa menit, sebelum memutuskan untuk pergi karena lambatnya laju antrian. Jika ingin naik memang harus datang pagi-pagi, dan jangan mampir kemana-mana dulu. Di dalam cawan Monumen Nasional terdapat ruang berbentuk amphitheater yang disebut Ruang Kemerdekaan. Di sini disimpan di kotak kaca naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam gerbang berlapis emas, Garuda Pancasila, Peta NKRI berlapis emas, Bendera Merah Putih, dan dinding bertuliskan isi Naskah Proklamasi. Pelataran cawan tingginya 17 meter, sedangkan tinggi antara ruang Museum Sejarah Nasional Indonesia ke dasar cawan adalah 8 m (3 m di bawah tanah ditambah 5 m tangga ke dasar cawan), areanya berbentuk bujur sangkar 45 x 45 m, semuanya melambangkan angka keramat 17-8-1945.

Relief Sejarah Indonesia bisa dijumpai mengelilingi halaman pelataran Tugu Monumen Nasional Jakarta, yang bercerita mulai dari jaman kejayaan kerajaan Nusantara hingga jaman kemerdekaan. Ada penggambarkan kejayaan Kerajaan Singasari yang didirikan Ken Arok pada 1222, juga dari jaman Majapahit dengan patung Mapatih Gajah Mada yang gagah. Relief sisi lainnya menggambarkan penggalan kisah semasa penjajahan Belanda, perjuangan rakyat dan tokoh nasional Indonesia, bangkitnya pergerakan nasional di awal abad ke-20, peristiwa Sumpah Pemuda, penjajahan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan RI, perjuangan revolusi paska proklamasi, hingga masa pembangunan Indonesia.

Sedangkan obor kemerdekaan di puncak Tugu Monumen Nasional Jakarta yang fenomenal itu telah dilapis emas seberat 50 kg, 28 kg diantaranya sumbangan Teuku Markam, pengusaha asal Aceh. Obor emas itu tingginya 14 m, berdiameter 6 m, dan terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Obor yang semula beratnya 35 kg itu dilapis ulang dan ditambah berat emasnya menjadi 50 kg pada 1995 dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-50. Di bawah obor emas terdapat pelataran puncak berukuran 11 x 11 m pada ketinggian 115 meter dari permukaan tanah yang bisa dicapai dengan lift berkapasitas 11 orang. Di pelataran yang menampung sekitar 50 orang itu terdapat teropong untuk melihat ke seluruh penjuru Kota Jakarta. Baru sekali saya ke pelataran puncak itu.

Sebagai bagian sistem pendingin udara kawasan Tugu Monumen Nasional adalah kolam refleksi di sisi utara, kolam air mancur yang menari setiap malam Minggu di sisi Barat yang berdekatan dengan Halte TransJakarta, serta kolam air mancur lagi di sisi Timur, dekat Patung Kartini yang sebelumnya berada di samping Taman Suropati dan tempatnya digantikan dengan Patung Pangeran Diponegoro. Tugu Monumen Nasional resmi dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975, yang dilakukan oleh Presiden Soeharto, meski masih ada perbaikan di sana sini.

Tugu Monumen Nasional Jakarta

72 (tujuh puluh dua) foto lainnya ada di sini. Alamat : Taman Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Lokasi GPS : -6.175542, 106.827117, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 16.00. Senin pekan terakhir tutup. Harga tiket masuk : Rp. 5.000, pelajar Rp 3.000, anakRp 2.000, Rp. 10.000 puncak Monas, pelajar Rp 5.000, anak-anak Rp 2.000. Rujukan : Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat. Label : . Updated : August 02, 2018
Author : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok. Follow : Twitter, Facebook, Subscribe, Youtube.
Share   Tweet   WhatsApp   Telegram   Email   Print!