Lenggang Jakarta Monas

Beberapa waktu lalu kami sempat mampir di Lenggang Jakarta Monas, area kuliner, belanja aneka rupa, dan taman budaya di pinggiran kawasan Monumen Nasional, berdekatan dengan lapangan parkir IRTI. Jika saja kami bergegas masuk lewat jalan tembus dari area parkir ke kawasan utama Monas, boleh jadi kunjungan itu tak pernah terjadi. Saat itu acara senam baru saja selesai dan pintu jalan tembusnya sempat dibuka, namun karena lambat masuk, pintunya keburu ditutup lagi.

Lenggang Jakarta Monas yang menggunakan tagline Food and Culture Park dibuka pertama kali pada April 2015, sebagai upaya Pemprov DKI Jakarta untuk menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) di lokasi eks-IRTI. Tujuan yang hendak dicapai tentunya adalah agar kawasan Monas menjadi lebih rapih, bersih, tidak kumuh, aman, dan ramah bagi pengunjung.

Sebagai ikon Indonesia, bukan hanya Jakarta, dan juga sebagai tujuan wisata para pelancong dari seluruh penjuru dunia, kawasan Monumen Nasional memang selayaknya ditata menjadi kawasan elok, rapih, dan berselera, jika alergi dengan istilah berkelas. Berkelas memang sering soal selera, dan ada kaitannya dengan seni budaya, yang mestinya tak memandang kaya atau melaratnya seseorang.

lenggang jakarta monas
Tengara nama Lenggang Jakarta Monas yang dibuat sangat baik dan menarik, dengan logo sponsor di bawahnya, dan ornamen yang biasanya menghias kepala ondel-ondel Betawi di bagian tengah atasnya. Tagline 'Food & Culture Park' terlihat di atas kiri logo. Pintu masuknya ada di dekat jalan raya, sehingga pengunjung harus berjalan balik ke sana setelah parkir, jika pintu tembus tidak dibuka.

Area Lenggang Jakarta bisa dikatakan cukup luas, yang sebagian besar diisi dengan tenda-tenda lapak pedagang berlogo Pemprov DKI yang menjual berbagai macam barang keperluan sehari-hari, cindera mata, pakaian, aksesori, dan juga bermacam mainan anak. Suasananya terkadang seperti pasar, ramai dengan orang lalu lalang. Ada yang sekadar lewat dalam perjalanan ke Tugu Monas, ada pula yang memang hendak mampir berbelanja.

Suasana di kawasan Lenggang Jakarta Monas sangat hidup, dengan tenda-tenda yang sudah mulai kusam oleh sebab sudah berumur dua tahun lebih sejak tempat ini dibuka untuk umum. Keberadaan sejumlah pohon peneduh bisa agak membantu jika langit sedang bersih, namun saat kami di sana matahari tengah bersembunyi di balik awan kelabu. Selayaknya pasar, menawar adalah wajib jika hendak berbelanja di sini.

Di sisi lain ada pula deretan lapak-lapak penjual makanan berbagai macam, dengan tempat makan beratap lumayan luas dan bersih, namun jangan dulu dibandingkan mutu pelayanan dan makanannya dengan lapak-lapak kuliner di mal, meski harga makanan di sini tidak bisa dibilang murah. Para PKL di Lenggang Jakarta kabarnya pernah mendapat pelatihan masak dan usaha makanan dari Chef Ragil Imam Wibowo dan Chef Adzan Tri Budiman. Ada pula dukungan CSR dari Rekso Group melalui pembangunan sarana dan prasarana serta pelatihan kewirausahaan bagi PKL.

Sejumlah mainan dengan penataan dan mutu lumayan juga bisa dijumpai di kawasan Lenggang Jakarta Monas, yang boleh jadi bisa menipiskan dompet orang tua yang tadinya hanya ingin membawa anak-anaknya menikmati taman hutan kota. Tak saya lihat dengan detail, namun mudah-mudahan di area ini ada tempat bermain gratis dengan mutu bagus. Hanya saja tempatnya sepenuhnya terbuka, menjadikannya bergantung pada kebaikan awan untuk menutup matahari, dan bakal bubar jika hujan turun.

Perbaikan masih sangat bisa dilakukan di area bermain Lenggang Jakarta ini, agar lebih berselera, bisa beroperasi di segala cuaca, dan membuang kesan bahwa tempat hiburan rakyat boleh seadanya dan sekadarnya. Akan elok jika ada tenda raksasa atau pendopo besar tanpa dinding dan tanpa tiang tengah untuk memayungi area bermain. Mengganti paving blok bisa dengan bahan bermutu juga perlu, serta menyediakan karpet karet yang aman bagi anak-anak di sejumlah titik permainan.

Sebuah rumah dengan arsitektur bergaya Betawi terlihat berada di dalam kawasan Lenggang Jakarta, dengan plang nama pada dinding berbunyi "Betawi Store". Di terasnya terdapat sepasang ondel-ondel setinggi perawakan orang dewasa, berwajah merah dan berkumis baplang untuk yang pria dan berparas putih untuk yang wanita. Di depannya ada penjual kerak telor tengah melayani pembeli. Ada cukup banyak penjual kerak telor serta makanan Betawi lainnya di sana.

Ketika datang, kami melipir lewat pinggiran pagar agar bisa keluar lebih cepat dari area ini untuk masuk ke dalam area taman hutan kota Monas, oleh sebab hari masih pagi, perut belum lapar, tenggorok masih basah, dan tak hendak belanja di sana. Namun setelah kembali dari Tugu Monas, kami menembus bagian tengah Lenggang Jakarta, mampir di area kuliner, dan memesan makanan minuman untuk mengisi perut dan melegakan tenggorok. Masakannya lumayan, skor antara 6-7 pada skala 10.

Semoga saja Pemprov DKI meneruskan dan meningkatkan pembenahan para PKL yang sekarang berada di Lenggang Jakarta serta memperbaiki fasilitasnya secara bertahap untuk menjadi bintang wisata di kawasan Monas, bukannya malah membawa Monas kembali ke jaman jebot dengan membolehkan pedagang kaki lima dan para pengasong untuk beroperasi di dalam area Monumen Nasional. Keberpihakan adalah hal yang baik, namun mestinya dilakukan dengan cara yang baik pula.

Lenggang Jakarta Monas

12 (dua belas) foto lainnya ada di sini. Alamat : Jl. Medan Merdeka Selatan, Gambir, Kota Jakarta Pusat. Lokasi GPS : -6.1798036, 106.8254381, Waze. Harga tiket masuk : gratis. Jam buka : Senin s/d Kamis : 10.00 - 23.00; Jumat : 10.00 - 24.00; Sabtu – Minggu : 07.00 - 24.00. Rujukan : Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.
Author : . Updated :
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok.

.