Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta Pusat

Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta ada di Jl.Imam Bonjol 1, Jakarta, selepas lampu merah Taman Suropati kedua, melewati Patung Pangeran Diponegoro, arah Bundaran HI. Museum ini menempati sebuah bangunan tua bergaya Art Deco yang didirikan pada tahun 1920. Gedung museum di atas tanah 3.914 m2 itu pakai Asuransi Jiwasraya pada 1931, lalu Admiral Tadashi Maeda pada masa Jepang, markas besar Tentara Inggris pada perang Pasifik, beralih lagi ke Asuransi Jiwasraya, Kedutaan Inggris 1961 - 1981, dan Perpustakaan Nasional pada 1982.

Saat dihuni Laksamana Tadashi Maeda, gedung museum ini menjadi saksi peristiwa bersejarah pada 16-17 Agustus 1945, ketika perumusan naskah proklamasi dipersiapkan dan ditandatangani di tempat itu. Pada 1984, Prof. Nugroho Notosusanto, Menteri P&K, menjadikan bangunan itu sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Di gedung ini Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo disambut Tadashi Maeda sekitar jam 10 malam, pada 16 Agustus 1945, setelah kembali dari "penculikan" Rengasdengklok. Soekarno, Hatta, dan Maeda lalu menemui MayJen Nishimura untuk menjajagi sikapnya tentang rencana proklamasi kemerdekaan.

Nishimura berkata bahwa Jepang tidak boleh mengubah status quo karena sudah menyerah kepada Sekutu, karenanya Nishimura melarang rapat PPKI dalam rangka Proklamasi Kemerdekaan. Soekarno - Hatta pun berpendapat tidak ada gunanya lagi membicarakan kemerdekaan dengan Jepang. Mereka hanya berharap Jepang tidak menghalangi pelaksanaan proklamasi. Soekarno dan Hatta lalu kembali ke rumah Maeda. Rumah Maeda dipilih sebagai tempat penyusunan Naskah Proklamasi karena Maeda memberi jaminan keselamatan kepada Bung Karno serta tokoh-tokoh lainnya yang hadir. Maeda sendiri kemudian masuk ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah di rumah itu tengah berlangsung.

museum perumusan naskah proklamasi

Tampak muka Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Kalimat pertama teks proklamasi adalah saran Ahmad Soebardjo dari rumusan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dan kalimat terakhir disarankan oleh Mohammad Hatta. Sayuti Melik lalu mengetik naskah proklamasi kemerdekaan atas permintaan Soekarno, ditemani BM Diah.

Sayuti membuat tiga perubahan pada naskah, yaitu "tempoh" menjadi "tempo", "Wakil-wakil bangsa Indonesia" diubah menjadi "Atas nama bangsa Indonesia", dan format tanggal juga diganti. Di sudut ruangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi pengunjung bisa melihat patung Sayuti Melik di depan mesin ketik, bersebelahan dengan patung BM Diah.

Soekarno menyarankan untuk bersama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran itu didukung Hatta dengan mencontoh "Declaration of Independence" Amerika Serikat. Namun golongan pemuda menolak jika tokoh golongan tua yang disebut sebagai "budak-budak Jepang" turut menandatangani naskah proklamasi.

Adalah Sukarni yang kemudian mengusulkan agar penandatangan naskah proklamasi itu cukup dilakukan oleh dua orang saja, yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni akhirnya diterima. Soekarno dan Hatta pun lalu membubuhkan tanda tangannya pada naskah yang sudah diketik oleh Sayuti Melik.

Di dalam ruangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ada pula patung dada I Goesti Ketut Poedja, yang mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2011. I Goesti Ketut Poedja lahir di Singaraja Bali pada 19 Mei 1908 dan wafat di Jakarta pada 4 Mei 1971. Selain dikenal aktif dalam pergerakan kemerdekaan nasional Indonesia, ia juga sempat menduduki jabatan sebagai Gubernur Sunda Kecil.

museum perumusan naskah proklamasi

Ruangan utama di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta Pusat merupakan tempat dimana pada jam 3 dini hari, Jumat Legi, 17 Agustus 1945, bulan Ramadhan, Soekarno, Hatta dan Soebardjo merumuskan naskah proklamasi. Soekarno menulis naskah, Hatta dan Soebardjo memberikan saran secara lisan. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, menyaksikan bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah. Tokoh-tokoh lainnya menunggu di serambi muka.

Hadir pada pertemuan adalah Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo, Mohamad Amir, Boentaran Martoatmodjo, I Goesti Ketut Poedja, A Abbas, Iwa Kusumasumantri, Johanes Latoeharharry, Ki Bagoes Hadji Hadikoesoemo, Teukoe Moehammad Hasan, Ki Hadjar Dewantara, Otto Iskandardinata, K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, Soetardjo Kartohadikusumo, R. Soepomo, Soekardjo Wirjopranoto, G.S.S.J. Ratulangi, BM Diah, Sukarni, Chaerul Saleh, Sayuti Melik, Anang Abdoel Hamidhan, Andi Pangerang, Andi Sultan Daeng Radja, Semaun Bakry, Soediro, Abikoesno Tjokrosoejoso dan Samsi Sastrowidagdo.

Ruangan utama Museum Perumusan Naskah Proklamasi adalah tempat dimana seluruh tokoh yang hadir saat itu berkumpul setelah naskah selesai diketik. Pada jam 04.00 pagi, 17 Agustus 1945, Soekarno membuka pertemuan, dan lalu membacakan dengan pelan serta berulang-ulang naskah teks proklamasi itu. Semua yang hadir menyetujuinya. "Keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing". Setelah itu ada pembahasan untuk menentukan tempat. Sukarni mengatakan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya telah diserukan datang ke lapangan IKADA pada 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan.

Namun saran Sukarni ditolak Soekarno. "Tidak," kata Soekarno," lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden? Lapangan IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi." Sebelum meninggalkan rumah Maeda, Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Di Museum Perumusan Naskah Proklamasi menempel transkrip pidato singkat Soekarno sebelum ia membaca teks Proklamasi dan kata penutupnya. Wakil Walikota, Soewirjo, meminta Wilopo mempersiapkan mikrofon dan pengeras suara. Sudiro memerintahkan S. Suhud mempersiapkan tiang bendera. Suhud menemukan bambu di belakang rumah Soekarno, membersihkannya, diberi tali, dan ditanam beberapa langkah dari teras rumah. Ia tidak tahu kalau di depan rumah Soekarno ada dua tiang bendera dari besi. Bendera yang dijahit oleh Fatmawati sudah disiapkan.

Di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta Pusat ada sebuah poster yang memperlihatkan detik-detik ketika Soekarno yang mengenakan baju setelan putih-putih membaca teks proklamasi yang telah dirumuskan pada dinihari sebelum pembacaan. Mohammad Hatta tampak berdiri di sebelah kanan Bung Karno, dan para tokoh lainnya tampak berdiri agak jauh di belakangnya. Rumah Soekarno pada pagi itu dipadati para tokoh perjuangan, sejumlah massa pemuda dan rakyat. Saat hari semakin siang dan proklamasi belum juga dibacakan, para pemuda mendesak Soekarno, yang baru tidur setelah sejak semalam terserang demam, agar proklamasi segera dilakukan.

Namun Soekarno menolak membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan setelan putih-putih dan menjemput Soekarno di kamarnya. Soekarno pun bangkit dari tempat tidurnya dan lalu mengenakan setelan putih-putih juga. Keduanya lalu menuju teras rumah. Selanjutnya adalah sejarah.

Rumah di Jl. Pegangsaan Timur 56 itu dirobohkan atas perintah Soekarno sendiri, dan di lokasi pembacaan teks prokalamasi itu berdiri Tugu Petir yang kini di dalam kompleks Monumen Soekarno - Hatta. Berbagai koleksi foto tua dan poster disimpan di lantai dua Museum Perumusan Naskah Proklamasi, menggambarkan peristiwa bersejarah antara 1945 - 1950.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta merupakan tempat wisata sejarah di Jakarta yang sangat baik untuk dikunjungi bagi seluruh anggota keluarga untuk mengenang peristiwa yang menegangkan dan bersejarah menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan yang menjadi titik awal yang menentukan bagi perubahan nasib seluruh bangsa Indonesia.

Informasi Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Alamat : Jl. Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat. Nomor Telp 021-3144743, Fax. 021-3924259. Lokasi GPS : -6.20018, 106.8311, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa - Kamis 08.00 - 16.00; Jumat 08.30 - 11.00; 13.00 - 16.00; Sabtu - Minggu 08.30 - 17.00. Senin dan Hari Libur Nasional tutup. Harga tiket masuk : Rp. 2.000, rombongan 20 orang Rp. 1.000/orang. Anak Rp. 1.000, rombongan anak sedikitnya 20 orang Rp. 500/orang. Wisman Rp. 10.000.

Video Museum Perumusan Naskah Proklamasi



Galeri Foto Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Ruangan utama Museum Perumusan Naskah Proklamasi, disebut juga ruang pengesahan atau ruang penandatangan Naskah Proklamasi, dimana seluruh tokoh yang hadir saat itu berkumpul setelah naskah selesai diketik.

museum perumusan naskah proklamasi

Foto dokumentasi pada sebuah poster yang memperlihatkan detik-detik ketika Soekarno membaca teks proklamasi yang telah dirumuskan pada dinihari sebelum pembacaan. Mohammad Hatta tampak di sebelah kanan, dan para tokoh lainnya tampak agak jauh di belakangnya.

museum perumusan naskah proklamasi

Teks dalam bahasa Inggris yang memberi penjelasan pada ruang pertama Museum Perumusan Naskah Proklamasi dan apa yang terjadi ketika Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subardjo bertemu Maeda jam 10 malam 16 Agustus 1945 setelah tiba dari Rengasdengklok. Gagal mendapatkan dukungan dari Jenderal Nishimira, mereka kembali ke rumah Maeda jam 2.30 dinihari, Jumat legi, 17 Agustus 1945, bulan Ramadhan, dan mengatakan kepada Maeda bahwa akan segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Maeda tidak melibatkan diri dan naik ke lantai atas.

museum perumusan naskah proklamasi

Sebuah poster yang menggambarkan peristiwa Jepang Kalah dalam Perang Dunia II, menyusul jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah tanpa syarat pada 14 Agustus 1945, dan berita itu didengar oleh para pemuda radikal lewat siaran radio asing. Di lapangan terbang Kemayoran, saat sejumlah pemuda seperti Chairul Saleh, Asmara Hadi, AM Hanafi, Sudiro, dan SK Trimurti menjemput Bung Karno dan Bung Hatta yang baru saja datang dari Saigon untuk bertemu dengan panglima tertinggi Jepang untuk Asia Tengara, mereka gagal mendesak kedua tokoh itu untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

museum perumusan naskah proklamasi

Sebuah poster besar yang memperlihatkan foto dokumentasi serta teks tentang persiapan yang dilakukan oleh para pemimpin politik untuk menuju ke kemerdekaan.

museum perumusan naskah proklamasi

Ruangan pertama Museum Perumusan Naskah Proklamasi dimana Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo disambut Tadashi Maeda sekitar jam 10 malam, pada 16 Agustus 1945, setelah kembali dari "penculikan" Rengasdengklok.

museum perumusan naskah proklamasi

Teks dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang memberi penjelasan pada ruang kedua Museum Perumusan Naskah Proklamasi dan apa yang terjadi ketika itu di rumah Maeda. Pada jam 3 dini hari, Jumat legi, 17 Agustus 1945, bulan Ramadhan, Soekarno, Hatta dan Soebardjo masuk dan duduk untuk merumuskan naskah proklamasi.

museum perumusan naskah proklamasi

Patung Soekarno - Hatta serta patung Achmad Soebardjo yang berada di ruang kedua Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Mr. Achmad Soebardjo adalah Anggota BPUPKI/PPKI yang lahir di Karawang pada 23 Maret 1896 dan wafat pada 15 Desember 1978.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster di Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang memperlihatkan salinan teks proklamasi asli yang disarankan oleh Soekarno sebelum diketik oleh Sayuti Melik.

museum perumusan naskah proklamasi

Foto dokumentasi beberapa tokoh yang hadir pada malam perumusan naskah proklamasi, diantaranya Sayuti Melik, Chaerul Saleh, Sukarni, Teuku Muhammad Hasan, BM Diah, Anang Abdul Hamidan, Rivai, dan Abdul Abbas.

museum perumusan naskah proklamasi

Ruang ketiga dimana pada dini hari 17 Agustus 1945 Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi atas permintaan Soekarno, ditemani BM Diah. Sayuti membuat tiga perubahan pada naskah: “tempoh” menjadi “tempo”, “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”, dan format tanggal.

museum perumusan naskah proklamasi

Mereka adalah Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo, Mohamad Amir, Boentaran Martoatmodjo,I Goesti Ketut Poedja, Rivai, A Abbas, Iwa Kusuma Sumantri, Johanes Latoeharharry, Ki Bagoes Hadji Hadikoesoemo, Teukoe Moehammad Hasan, Ki Hadjar Dewantara, Andi Pangerang, Otto Iskandardinata, K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, Soetardjo Kartohadikusumo, R. Soepomo, Soekardjo Wirjopranoto, G.S.S.J. Ratulangi, Anang Abdoel Hamidan, BM Diah, Sukarni, Chaerul Saleh, Abikoesno Tjokrosoejoso, Samsi Sastrowidagdo, Sayuti Melik. Yang tidak ada di foto adalah Andi Sultan Daeng Radja, Semaun Bakry, Soediro.

museum perumusan naskah proklamasi

Sebuah poster yang menjelaskan mengenai ruang-ruang bersejarah yang ada di gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dari mulai ruang pertama sampai dengan ruang keempat atau ruang pengesahan atau penandatangan Naskah Proklamasi.

museum perumusan naskah proklamasi

Teks yang terdapat pada Ruang Pengesahan atau Ruang Penandatanganan Naskah Proklamasi, lengkap dengan daftar orang-orang yang hadir pada pertemuan itu.

museum perumusan naskah proklamasi

Ruang pengesahan dengan meja kursi asli yang digunakan pada pertemuan, foto Soekarno - Hatta dan foto para peserta lainnya. Prasasti di bagian tengah bertuliskan teks proklamasi dengan tanda-tangan Soekarno.

museum perumusan naskah proklamasi

Teks lengkap pidato yang diucapkan oleh Bung Karno saat membacakan Naskah Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Ada pidato pengantar sebelum naskah proklamasi dibaca, dan ada pidato penutupan setelahnya.

museum perumusan naskah proklamasi

Teks itu menyebutkan bahwa Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi didirikan sejak sekitar 1920. Setelah berganti kepemilikan beberapa kali, akhirnya berdasarkan SK Mendikbud pada 24 November 1992, gedung ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

museum perumusan naskah proklamasi

Piringan hitam ini merupakan PH yang pertama kali merekam proklamasi kemerdekaan, sumbangan koleksi dari Lokananta Solo.

museum perumusan naskah proklamasi

Sebuah poster yang menggambarkan perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI di Kalimantan Barat pada 17 Agustus 1949, dan perayaan pawai Proklamasi Kemerdekaan RI di Bukittinggi pada 18 Agustus 1946 yang disaksikan oleh Soekarno, Fatmawati, dan Latuharhary.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster yang menggambarkan suasana Proklamasi Kemerdekaan RI di Surabaya pada 17 Agustus 1949. Pojok kiri atas adalah gedung Nirom, studio pertama di Nusantara yang berdiri pada 1926 yang berperan dalam menyiarkan berita proklamasi ke luar negeri. Kanan atas adalah Masjid Besar Semarang dimana berita proklamasi pertama kali disiakan secara langsung oleh Radio Semarang ke seluruh masyarakat Semarang menjelang khotbah Jumat pada 17 Agutstus 1945.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster yang memberi gambaran suasana saat Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 jam 10.00 di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, dengan foto gedung di sebelaj kiri bawah poster.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster yang menggambarkan suasana saat pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh Latief Hendraningrta dan Suhu Martokusumo. Bendera Merah Putih itu dijahit oleh Fatmawati. Di bawah adalah mereka yang menjadi saksi peristiwa bersejarah proklamasi kemerdekaan.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster di Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang menggambarkan suasana saat Sidang PPKI berlangsung pada 18 Agustus 1945.

museum perumusan naskah proklamasi

Patung tokoh pergerakan nasional I Goesti Ketut Poedja, yang mendapat gelar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011. I Goesti Ketut Poedja lahir di Singaraja, Bali, pada 19 Mei 1908 dan wafat di Jakarta pada 4 Mei 1971. Selain dikenal aktif dalam pergerakan kemerdekaan, ia juga sempat menduduki jabatan sebagai Gubernur Sunda Kecil.

museum perumusan naskah proklamasi

Salah satu ruangan di dalam gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi dengan meja pamer, piringan hitam perekam proklamasi, poster-poster dan patung.

museum perumusan naskah proklamasi

Serombongan anak sekolah dengan berpakaian daerah tampak tengah melangkahkan kaki hendak memasuki gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jl Imam Bonjol No. 1 Jakarta.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster dengan foto daerah Bandung yang tengah terbakar serta teks yang menjelaskan peristiwa pada 23 Maret 1946 yang dikenal dengan nama Bandung Lautan Api, saat para pejuang menarik diri dan membumihanguskan Bandung untuk menyulitkan penjajah.

museum perumusan naskah proklamasi

Sebuah poster yang menjelaskan pertempuran Medan Area yang diawali dengan pertempuran pada 13 Oktober 1945 antara pemuda dengan pasukan Belanda, dan memuncak saat sekutu melakukan penyerbuan pada 10 Desember 1945. Foto bawah memperlihatkan dan menceritakan peristiwa Merah Putih yang terjadi di Sulawesi Utara.

museum perumusan naskah proklamasi

Sebuah poster di Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang memberi gambaran suasana di Surabaya menjelang pertempuran besar heroik pada 10 November 1945 yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

museum perumusan naskah proklamasi

Suasana di salah satu ruangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang berada di lantai dua. Poster-poster yang dipajang pada dinding memberi banyak informasi tentang peristiwa di seputar proklamasi dan perjuangan di awal-awal kemerdekaan RI.

museum perumusan naskah proklamasi

Perumusan Naskah Proklamasi dilihat dari lantai dua memperlihatkan pohon rindang dengan akar-akar cantik, serta pos jaga di pintu masuk gedung. Kedua arah Jalan Imam Bonjol juga terlihat pada foto di atas.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster yang memperlihatkan dan menceritakan peristiwa pertempuran lima hari lima malam di Palembang yang berlangsung pada 1 - 5 Januari 1947.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster yang menceritakan peristiwa hijrahnya Pasukan Siliwangi ke Jawa Tengah dengan menggunakan kereta api sebagai akibat dari Perjanjian Renville. Poster sebelah kiri menceritakan pertukaran tawanan perang pada Mei dan Juni 1948, juga sebagai bagian pelaksanaan persetujuan Renville.

museum perumusan naskah proklamasi

Poster yang menggambarkan peristiwa bersejarah penyambutan Panglima Jenderal Sudirman pada 10 Juli 1949 setelah bergerilya selama hampir 7 bulan.

museum perumusan naskah proklamasi

Suasana haru saat terjadi pertemuan antara Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan Presiden Soekarno setelah Soedirman kembali ke Yogyakarta sesudah menjalani perang gerilya selama tujuh bulan.

museum perumusan naskah proklamasi

Sebuah poster yang menggambarkan saat terjadinya peristiwa penyerahan mandat sebagai Perdana Menteri RIS kepada Presiden Soekarno di Jakarta pada 15 Agustus 1950.

museum perumusan naskah proklamasi

Teks pada Prolog ini diantaranya menyebutkan bahwa perjuangan pergerakan bangsa Indonesia selama bertahun-tahun telah mencapai puncaknya pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia telah menyatakan diri sebagai bangsa yang bebas dari segala bentuk ikatan penjajahan. Dan Kemerdekaan harus dipertahankan dan diisi.

museum perumusan naskah proklamasi

Teks Epilog yang ada di Museum Perumusan Naskah Proklamasi untuk dijadikan bahan renungan bagi para pengunjung museum.

museum perumusan naskah proklamasi

Di sisi kiri sebuah spanduk yang dipasang di lantai dua Museum Perumusan Naskah Proklamasi untuk menarik perhatian orang yang lewat di depannya. Keberadaan Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini tampaknya memang perlu lebih banyak dipromosikan.

museum perumusan naskah proklamasi

Papan nama Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang selama bertahun-tahun tak terlihat mata meskipun sudah sering melintasi jalan di depan museum.

museum perumusan naskah proklamasi

Info Tentang Jakarta

Hotel di Jakarta Pusat
Hotel Melati di Jakarta Pusat
Nomor Telepon Penting
Peta Wisata Jakarta
Peta Wisata Jakarta Pusat
Rute dan Jadwal Lengkap KRL Commuter Line Jabodetabek
Rute Lengkap TransJakarta
Tempat Wisata di Jakarta
Tempat Wisata di Jakarta Pusat
Trayek Bus Damri Bandara Soekarno - Hatta
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑