Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta Pusat

February 13, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta barulah saya tahu dan punya kesempatan berkunjung ke Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta, sebuah nama yang sebelumnya belum pernah saya dengar meski Museum Antara sebenarnya telah ada sejak 13 Desember 1992. Peresmiannya bertepatan dengan ulang tahun ke-55 LKBN Antara.

Lokasi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara juga bukannya sulit untuk diakses, sangat strategis malah. Gedung tua warisan kolonial bernama Graha Bhakti di Jalan Antara 59 yang ditempati museum itu hanya beberapa meter dari pintu masuk Pasar Baru. Tempat yang sering pula saya kunjungi, dulu.

Ketika tiba di lokasi, hari masih cukup pagi sehingga tak sulit mendapat tempat parkir di halaman museum yang terbatas. Sesaat setelah masuk ke dalam gedung kaki pun melangkah menuju ke ruang di sayap sebelah kanan, yang difungsikan sebagai cafe dan ruang serbaguna.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta
Saat itu tengah berlangsung peluncuran buku dan pameran foto "Makkah Photographic Diary" karya Saptono Soemardjo dan Prasetyo Utomo yang diterbitkan Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta Pusat dan Divisi Pemberitaan Kantor Berita Antara, berisikan foto-foto tentang kisah perjalanan dan pelaksanaan ibadah Haji, ragam potret manusia ketika berada di sana, dan dokumentasi foto seputar Kota Makkah. Tangga menuju ke lantai dua terlihat berada di ujung ruangan bagian depan ini.

Pada dinding di atas tangga menuju lantai dua Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara terdapat Mural Proklamasi Kemerdekaan, serta sebuah tengara pada dinding tentang peresmian Gedung Graha Bhakti oleh Ir. Handjojo Nitimihardjo, Pemimpin Umum LKBN Antara, pada 27 Desember 1992. Lantai dua tampaknya difungsikan sebagai museum, sedangkan lantai satu yang digunakan sebagai galeri.

Saya sempat ke ruangan serbaguna yang memanjang di sebelah ruang depan lantai satu. Di sana sudah ada Dee Larasati, Olyvia Bendon, dan Lita Jonathans. Do Nitasari yang menyarankan tempat ini baru menyusul menjelang akhir acara. Dinding ruang digunakan sebagai tempat pameran foto, dan ruangannya difungsikan sebagai cafe. Ada pula panggung kecil yang bisa digunakan pada acara talk show, atau untuk bermain musik.

Mungkin di ruangan sebelah kanan itulah dilakukan pelatihan reguler untuk kelas Fotografi Dasar dan Fotografi Jurnalistik, serta pelatihan non-reguler untuk kelas Studio Lighting Dasar, Darkroom Processing Lanjutan dan Traveling Photography.

Teh, kopi dan makanan kecil yang telah dipesan sebelumnya atas jasa baik seorang teman, ikut menemani obrolan pagi itu, yang sebagian baru saling bertemu. Ruangan ber-AC, serta suasana yang cukup tenang membuat kami betah berada di tempat ini. Baru setelah beberapa lama kemudian kami beranjak untuk melihat-lihat ke ruangan yang berada di lantai dua.

Suasana ruang utama di lantai dua Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta terlihat cukup mengesankan, dimana terdapat panel komik sejarah perjalanan bangsa, poster Soekarno, Hatta, dan Syahrir, dan koleksi lainnya. Panel pertama berisi kisah Pergerakan Nasional dimulai dari berdirinya Boedi Oetomo, Kongres Pemuda di Jakarta 1928, dan lahirnya Kantor Berita Antara. Panel kedua berisi kisah semasa pendudukan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan, dan kisah Adam Malik yang pada pagi 17 Agustus 1945 menelpon rekannya di Antara untuk menyiarkan berita besar ini. Asa Bafagih kemudian meminta Pangulu Lubis untuk melaksanakan penyiaran.

Panel keempat berisikan kisah bergambar mulai dari jaman Demokrasi Liberal di awal kemerdekaan, kemudian Demokrasi Terpimpin ala Soekarno, sampai peristiwa G30S-PKI dan era pemerintahan Orde Baru dibawah Soeharto. Di langit-langit ruang utama Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara menggantung rangka bola dunia, dan dibalik kaca yang ditutup poster aneka rupa adalah lantai tiga yang sempat saya intip, terbuat dari papan, berisi buku-buku bertebaran dan tampaknya menjadi ruang baca, ruang kerja, dan ruang tidur. Lalu ada patung Gatotkaca di sebelah kiri bawah.

Penataan koleksi serta pencahayaan di Museum Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta ini sangat baik. Ruangan yang berpendingin juga membuat atmosfer menjadi lebih menyenangkan ketika berkunjung. Rupanya dari gedung inilah, yang waktu itu masih dikuasai Jepang dan bernama Domei, dua orang petugas yang bernama Sugirin dan Markonis berhasil menyisipkan berita Proklamasi Kemerdekaan RI diantara berita lainnya. Berita itu kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, dan lalu menyebar dengan cepat ke Amerika, India dan Australia.

Ada meja kayu panjang cantik penuh foto dan poster bersejarah yang berada di tengah ruangan lantai dua museum. Pada sebuah dinding dipajang dokumentasi foto yang menangkap momen saat seorang ibu melintas di sisi dua buah kendaraan lapis baja Pasukan Anti-Huruhara Kodam Jaya yang memblokir sebuah jalan besar saat Jakarta bergolak pada 20 Mei 1998.

Di ruangan ini juga disimpan peralatan pengirim Morse yang dipakai memancarkan berita proklamasi ke seluruh dunia, tustel dan mesin ketik kepunyaan Adam Malik, peralatan produksi dan komunikasi yang pernah dipakai Antara, meja tulis dan lemari kuno, serta sepeda motor kuno yang digantung di ujung ruangan.

Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta

Alamat : Jl. Antara No.59, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Telp 021-3458771. Lokasi GPS : -6.165734, 106.834212, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 21.00, Senin dan hari libur nasional tutup. Harga tiket masuk : gratis.

Video Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara



Galeri Foto Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara

Ruang serba guna di sayap kanan gedung Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Dinding ruang digunakan sebagai tempat pameran foto, dan ruangannya difungsikan sebagai cafe. Ada pula panggung kecil yang bisa digunakan pada acara talk show, atau untuk bermain musik. Mungkin di ruangan inilah dilakukan pelatihan reguler untuk kelas Fotografi Dasar dan Fotografi Jurnalistik, serta pelatihan non-reguler untuk kelas Studio Lighting Dasar, Darkroom Processing Lanjutan dan Traveling Photography.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Suasana ruang utama Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta di lantai dua dengan panel komik sejarah bangsa, poster Soekarno, Hatta, dan Syahrir. Panel pertama tentang Pergerakan Nasional, panel kedua tentang masa pendudukan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan, dan tentang Adam Malik yang pada 17 Agustus 1945 menelpon temannnya di Antara untuk menyiarkan berita proklamasi. Asa Bafagih meminta Pangulu Lubis untuk melaksanakan penyiaran itu.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Pada dinding di atas tangga menuju lantai dua terdapat Mural Proklamasi Kemerdekaan, serta sebuah tengara pada dinding tentang peresmian Gedung Graha Bhakti oleh Ir. Handjojo Nitimihardjo, Pemimpin Umum LKBN Antara, pada 27 Desember 1992. Lantai dua ini tampaknya difungsikan sebagai museum, sedangkan lantai satu yang digunakan sebagai galeri. Tangga menuju ke lantai dua ini berada di ujung ruang bagian depan Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Ruang serba guna di sayap kanan gedung Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Dinding ruangan digunakan sebagai tempat untuk pameran foto, dan ruangannya difungsikan sebagai cafe.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Saat itu tengah berlangsung peluncuran buku dan pameran foto “Makkah Photographic Diary” karya Saptono Soemardjo dan Prasetyo Utomo yang diterbitkan Galeri Foto Jurnalistik Antara dan Divisi Pemberitaan Kantor Berita Antara, berisikan foto-foto tentang kisah perjalanan dan pelaksanaan ibadah Haji, ragam potret manusia ketika berada di sana, dan dokumentasi foto seputar Kota Makkah.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Olyv dan Rika tengah mengamati empat buah panel yang berisi kisah bergambar tiga jaman di lantai dua Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Di langi-langit menggantung rangka bola dunia, dan dibalik kaca yang ditutup poster aneka rupa adalah lantai tiga yang sempat saya intip, terbuat dari papan, berisi buku-buku bertebaran dan tampaknya menjadi ruang baca, ruang kerja, dan ruang tidur. Lalu ada patung Gatotkaca di sebelah kiri bawah.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Masih di lantai dua Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, terlihat koleksi benda-benda berharga yang pernah digunakan oleh kantor Berita Antara. Lantai dua ini tampaknya difungsikan sebagai museum, sedangkan lantai satu yang digunakan sebagai galeri.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Meja kayu panjang cantik penuh foto dan poster bersejarah berada di tengah ruangan lantai dua Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Ruangan yang berpendingin membuat atmosfer menjadi lebih menyenangkan ketika berkunjung.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Beberapa koleksi museum diletakkan di lorong berbentuk huruf L, seperti sepeda motor kuno yang terlihat digantung di ujung ruangan, mesin morse dan mesin tik. Penataan koleksi serta pengaturan pencahayaan di Museum Galeri Foto Jurnalistik Antara ini boleh dikatakan sangat baik.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Dokumentasi berisikan foto kuno yang isinya kebanyakan adalah pemuda dengan wajah berseri dan sebagian memegang bedil dan beberapa jenis senjata lainnya. Beberapa pemudi dan sejumlah anak kecil juga terlihat pada foto. Jika melihat usianya, tampaknya mereka adalah bagian dari Tentara Pelajar.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Pemandangan dari Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara ke arah bagian tengah ruangan, dengan sosok Olyv yang tengah memotret bola dunia di langit ruangan.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Meja kayu panjang elok penuh foto dan poster bersejarah yang berada di tengah ruangan lantai dua Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara menjadi tempat ‘mejeng’ buat Fina.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Salah satu dokumentasi foto di Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, yang menangkap momen saat seorang ibu melintas di sisi dua buah kendaraan lapis baja Pasukan Anti-Huruhara Kodam Jaya yang memblokir sebuah jalan besar saat Jakarta bergolak pada 20 Mei 1998.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Panel komik pertama berisi kisah pada jaman Pergerakan Nasional dimulai dari saat berdirinya Boedi Oetomo, lalu Kongres Pemuda ke-II di Jakarta pada 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda, dan riwayat lahirnya Kantor Berita Antara.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Penel komik kedua berisi kisah semasa pendudukan Jepang pada periode 1942-1945, Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno – Hatta, dan kisah Adam Malik yang pada pagi 17 Agustus 1945 itu langsung menelpon rekannya di Antara untuk menyiarkan berita besar ini. Asa Bafagih kemudian meminta Pangulu Lubis untuk melaksanakan penyiaran.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Panel komik ketiga menceritakan semasa revolusi pada 1945 - 1949, yang dimulai dengan pendaratan pasukan sekutu yang diboncengi tentara Belanda, peristiwa pertempuran heroik di Surabaya yang meletus pada 10 November 1945 menyusul tewasnya Mallaby, hijrahnya pemerintahan republik ke Yogya, hingga pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949 yang naskahnya ditandatangani di Den Haag.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Panel keempat berisikan kisah bergambar mulai dari jaman Demokrasi Liberal di awal kemerdekaan, kemudian Demokrasi Terpimpin ala Soekarno, sampai peristiwa G30S-PKI dan era pemerintahan Orde Baru dibawah Soeharto.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta
Prasasti pada dinding tentang peresmian Gedung Graha Bhakti oleh Ir. Handjojo Nitimihardjo, Pemimpin Umum LKBN Antara, pada 27 Desember 1992.

museum dan galeri foto jurnalistik antara jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.