Museum Sumpah Pemuda Jakarta Pusat

aroengbinang.com -
Gedung Museum Sumpah Pemuda Jakarta ternyata berada di Jl. Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Sebuah jalan yang puluhan dan bahkan ratusan kali telah saya lewati selama tinggal lebih dari 20 tahun di Jakarta, namun baru beberapa bulan yang lalu saya mengetahui letak Museum Sumpah Pemuda ini. Bagaimana dengan anda?

Seperti halnya banyak gedung lain warisan Belanda, Gedung Museum Sumpah Pemuda juga pernah berganti fungsi dan pemilik beberapa kali. Gedung Museum Sumpah Pemuda pada awalnya adalah rumah tinggal Sie Kong Liang yang dibangun pada permulaan abad ke-20. Sejak 1908 gedung ini disewa pelajar Stovia dan RS (Rechts School) sebagai tempat tinggal dan belajar, dan dikenal dengan nama Commensalen Huis.

Di gedung Museum Sumpah Pemuda ini, pada 28 Oktober 1928, lahir keputusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Setelah Sumpah Pemuda, banyak pelajar meninggalkan gedung Museum Sumpah Pemuda ini karena sudah lulus belajar, sehingga pada tahun 1934 gedung ini disewakan kepada Pang Tjem Jam sebagai rumah tinggal, sampai tahun 1937.

museum sumpah pemuda jakarta
Teras depan Museum Sumpah Pemuda, Jakarta. Sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106, dimana Museum Sumpah Pemuda sekarang berada, digunakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda, sehingga namanya berubah dari Langen Siswo menjadi Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan). Ada banyak sekali poster dan foto dokumentasi, salah satunya berisi informasi Panitia Kongres Pemuda Indonesia II. Tugas panitia adalah mengadakan rapat umum dengan pidato yang memperkuat persatuan, serta merumuskan resolusi yang menganjurkan persatuan dan pemakaian Bahasa Indonesia di kalangan pemuda.

Keputusan menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia II pada Oktober 1928 diambil di gedung ini pada 15 Agustus 1928. Panitia Kongres Pemuda Indonesia II diketuai Soegondo Djojopoespito (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia), Djoko Marsaid (Jong Sumatra Bond) sebagai Wakil Ketua, Amir Sjarifuddin (Jong Batak) sebagai Bendahara, dan sebagai Pembantu adalah Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), Katjasoengkana (Pemuda Indonesia), RCL Senduk (Jong Celebes), Johannes Leimena (Jong Ambon), dan Mohammad Rochjani Su'ud (Pemuda Kaum Betawi).

Setelah berganti fungsi beberapa kali, Gedung Kramat 106 dipugar Pemda DKI Jakarta pada 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda, diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974, dan dijadikan Benda Cagar Budaya Nasional.

Di Museum Sumpah Pemuda Jakarta Pusat ada foto dokumentasi para peserta Kongres Pemuda Indonesia II yang merupakan rapat umum terbuka yang dihadiri sekitar 750 orang. Di ruangan ini ada patung dada Soegondo Djojopoespito dan patung Mochammad Jamin. Soegondo adalah ketua Kongres Pemuda Indonesia II yang melahirkan Sumpah Pemuda serta orang yang mempersilahkan WR Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya. Sedangkan Mochammad Jamin adalah Sekretaris Kongres Pemuda II 1928, dan merupakan salah satu pemuda yang tinggal di gedung ini ketika itu.

Di sebuah pojok ruangan ada tulisan tentang Pemoeda Kaoem Betawi, Perhimpunan Indonesia, dan organisasi kepemudaan sebelum Sumpah Pemuda. Ada pula dokumentasi foto saat Hatta, sebagai wakil Perhimpoenan Indonesia, mengetuai sidang Presidium Kongres Liga Menentang Imperialisme. Kongres ini dihadiri tokoh pergerakan berbagai negara, seperti Nehru, Chen Kuen dan Liau Han Sin dari Cina, Willi Munzenberg dan George Ledebour dari Jerman, serta anggota Presidium dari Amerika Latin, Perancis, dan Inggris. Di pojok lain ada tulisan tentang Pemoeda Indonesia, Jong Java dan Jong Sumatranen Bond. Ada foto ketika Mohamad Saleh memegang poster bertuliskan "Lang Leve Indonesia" (Hidup Indonesia!) saat berlangsungnya Kongres XII Jong Java pada 23-27 Desember 1929 di Semarang. Dalam kongres ini diputuskan pembubaran Jong Java dan peleburannya ke dalam Indonesia Muda.

Poster lainnya di Museum Sumpah Pemuda berisi tulisan Ir. Soekarno di "Suluh Indonesia Moeda" tahun 192 yang berbunyi "Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terbentuknya impian kita: Indonesia Merdeka !" Di ruangan di sebelah kirinya adalah patung seukuran manusia yang memperlihatkan Wage Rudolf Soepratman tengah memainkan biola membawakan lagu Indonesia Raya pada Kongres Pemuda II. Partitur serta kata-katanya dicetak dalam ukuran besar dan ditempelkan pada dinding di sebelah kirinya. WR Soepratman lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903, dan wafat di Surabaya pada 19 Agustus 1938.

Di ruang itu ada sebuah poster besar pada dinding museum yang merupakan salinan "Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia". Selengkapnya berbunyi: "Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia diadakan oleh perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan dengan namanja Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar2 Indonesia. Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahoen 1928 di negeri Djakarta. Sesoedahnya mendengar pidato-pidato pembitjaraan jang diadakan didalam kerapatan tadi. Sesoedahnya menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini. Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan: Pertama: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA. Kedua: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. Ketiga: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA. Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelan kebangsaan Indonesia. Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja: KEMAOEAN, SEDJARAH, BAHASA, HOEKOEM ADAT, PENDIDIKAN DAN KEPANDOEAN, dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita"

Ada pula Monumen Persatuan Pemuda 1928, berupa tangan mengepal yang melambangkan kekuatan tekad bersatu, dengan teks Sumpah Pemuda di bagian bawah depan, dan daftar organisasi pemuda pendukung Sumpah Pemuda pada bagian samping kanan. Monumen ini berada di halaman tengah Museum Sumpah Pemuda.

Di halaman tengah museum juga terdapat sebuah relief yang menunjukkan sejarah pergerakan dan perjuangan pemuda sebelum proklamasi, saat Proklamasi Kemerdekaan dan perjuangan selama periode revolusi kemerdekaan serta pada peristiwa sesudahnya. Patung para tokoh yang berperan dalam Kongres Pemuda II saya lihat ada di teras belakang museum, diantaranya adalah J Leimena, Mr. Sartono dan Prof. Mr. Soenarjo. Bung Karno dan para tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering datang ke Gedung Kramat 106 untuk membicarakan bentuk perjuangan dengan para penghuninya. Di gedung ini pernah diselenggarakan kongres Sekar Roekoen, kongres Pemuda Indonesia, dan PPPI.

Museum Sumpah Pemuda Jakarta

Alamat : Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Nomor Telp 021-3103217, 3154546. Fax. 021-3154546. Lokasi GPS : -6.18363, 106.84315, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka Selasa - Jum’at 08.00 - 15.00 WIB. Sabtu - Minggu 08.00 - 14.00 WIB. Senin/hari besar tutup. Harga tiket masuk : dewasa Rp. 2.000, anak-anak Rp. 1.000, Wisatawan asing Rp 10.000. Rombongan Dewasa Rp. 1.000, Anak-anak Rp. 500.

Galeri Foto Museum Sumpah Pemuda

Para peserta Kongres Pemuda Indonesia II yang diikuti oleh 750 orang. Jumlah yang banyak, bahkan untuk ukuran sekarang sekalipun. Di ruangan museum ada patung sebatas dada dari Soegondo Djojopoespito dan Mochammad Jamin. Soegondo merupakan ketua Kongres Pemuda Indonesia II dan orang yang memberi waktu bagi WR Supratman untuk memainkan lagu Indonesia Raya memakai biolanya. Mochammad Jamin dipilih sebagai Sekretaris Kongres Pemuda II 1928, dan pada saat itu merupakan salah satu pemuda yang tinggal di gedung ini.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster di Museum Sumpah Pemuda berisi tulisan Soekarno di "Suluh Indonesia Moeda" yang diantaranya berisi kalimat "Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terbentuknya impian kita: Indonesia Merdeka !"

Ada patung Wage Rudolf Soepratman memainkan biola, partitur serta syair lagu Indonesia Raya yang dibuat dalam ukuran besar dan ditempelkan pada dinding. WR Soepratman lahir di Purworejo, Jawa Tengah, tanggal 19 Maret 1903, dan meninggal di Surabaya pada tanggal 19 Agustus 1938.

museum sumpah pemuda jakarta

Monumen Persatuan Pemuda 1928, berupa tangan mengepal yang melambangkan kekuatan tekad bersatu, dengan teks Sumpah Pemuda di bagian bawah depan, dan daftar organisasi pemuda pendukung Sumpah Pemuda pada bagian samping kanan. Monumen ini berada di halaman tengah Museum Sumpah Pemuda.

museum sumpah pemuda jakarta

Seperangkat meja marmar dan kursi di ruang depan Museum Sumpah Pemuda, serta patung dada Muhammad Jamin di pojok ruangan. Muhammad Jamin menjadi Sekretaris Kongres Pemuda II 1928.

museum sumpah pemuda jakarta

Patung dada Muhammad Jamin yang menjadi Sekretaris Kongres Pemudua II 1928. Ia adalah tokoh Jong Sumatranen Bond 1926-1928, dan Anggota Vloksraad 1938 - 1942. Yamin lahir di Sawah Lunto pada 23 Agustus 1903 dan wafat di Jakarta pada 17 Oktober 1962 di Jakarta. Makam Mohammad Yamin di Sawah Lunto pernah saya kunjungi beberapa waktu lalu.

museum sumpah pemuda jakarta

Peta yang memperlihatkan lokasi Sidang Kongres Pemuda Indonesia II, foto panitia, nama-nama panitia Kongres Pemuda Indonesia II, serta poster yang berisi riwayat Sumpah Pemuda, semuanya masih berada di ruang depan Museum Sumpah Pemuda.

museum sumpah pemuda jakarta

Panitia Kongres Pemuda Indonesia II diketuai oleh Soegondo Djojopoespito yang mewakili Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Djoko Marsaid sebagai Wakil Ketua (wakil Jong Sumatra Bond), Amir Sjarifuddin sebagai Bendahara (wakil Jong Batak), dan sebagai Pembantu adalah Djohan Mohammad Tjai (wakil Jong Islamieten Bond), Katjasoengkana (wakil Pemuda Indonesia), RCL Senduk (wakil Jong Celebes), Johannes Leimena (wakil Jong Ambon), dan Mohammad Rochjani Su’ud (wakil Pemuda Kaum Betawi).

museum sumpah pemuda jakarta

Patung dada Soegondo Djojopoespito dan patung Muhammad Jamin. Soegondo adalah ketua Kongres Pemuda Indonesia II yang melahirkan Sumpah Pemuda serta orang yang mempersilahkan WR Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya. Ia adalah anggota Jong Java, PPPI, mengajar di Perguruan Rakyat dan Taman Siswa. Soegondo lahir di Tuban 22 Februari 1905 dan wafat di Jogja pada 23 April 1978.

museum sumpah pemuda jakarta

Peninggalan benda bersejarah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) berupa dasi warna hijau, dasi merah putih dengan tulisan tangan 8 April 1939 Sabtu Pon di Semarang dan tanda tangan anggota, pisau belati, celana pandu, dan kotak PPPK. Ada pula tanda tingkatan KBI, tanda pengenal kepanduan Muhammadiyah, pisau lipat, peluit, dan sabuk Hizbul Wathan.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster riwayat Pemoeda Kaoem Betawi yang berdiri pada awal 1927 dengan harapan dapat memajukan para pemuda Betawi. Ketua Pemoeda Kaoem Betawi yang pertama adalah Mohamad Tabrani, namun yang diutus sebagai wakil Pemoeda Kaoem Betawi dalam Kongres Pemuda Kedua adalah Mohammad Rochjani Soe'oed, ketua organisasi pada 1928.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster yang menceritakan sejarah Perhimpunan Indonesia di Belanda yang semula bernama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Perubahan nama menjad Perhimpunan Indonesia terjadi pada 8 Februari 1925, pada masa kepengurusan Sukiman Wiriosandjojo. Nama majalah yang semula Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka.

museum sumpah pemuda jakarta

Foto dokumentasi terkait kegiatan Perhimpunan Indonesia yang seluruhnya ada 14 buah. Foto 1 di kiri atas Abdul Madjid Djojodiningrat, Ali Sastroamidjojo, dan Nasir Pamuncak bersama dua pengacara dan Ny. Ali Sastroamidjojo, berfoto di depan penjara setelah lima bulan ketiganya mendekam di penjara Den Haag dan dibebaskan. Foto 4 adalah para pendiri Perhimpunan Indonesia berfoto bersama di Belanda, yaitu Darmawan Mangoenkoesoema, Mohammad Hatta, Iwa Koesoemasoemantri, R. Sastromoeljono, dan R.M. Sartono. Foto 10, Hatta sebagai wakil Perhimpoenan Indonesia mengetuai sidang presidium kongres Liga Menentang Imperialisme yang dihadiri tokoh pergerakan dari berbagai negara, diantaranya Jawaharlal Nehru (India), Chen Kuen dan Liau Han Sin (Cina), Willi Munzenverg dan George Ledebour (Jerman), dan anggota presidium dari Amerika Latin, Prancis, dan Inggris.

museum sumpah pemuda jakarta

Di pojok lain ada sekelompok dokumentasi foto tentang kegiatan para tokoh pergerakan lainnya, serta tulisan yang menceritakan tentang Pemoeda Indonesia yang dibentuk di Bandung pada 20 Februari 1927, Jong Java yang awalnya dibentuk dengan nama Tri Koro Dharmo pada 7 Maret 1915, dan Jong Sumatranen Bond yang dibentuk pada 9 Desember 1917. Ada foto ketika Mohamad Saleh memegang poster bertuliskan “Lang Leve Indonesia” (Hidup Indonesia!) saat berlangsungnya Kongres XII Jong Java pada 23-27 Desember 1929 di Semarang. Dalam kongres ini diputuskan pembubaran Jong Java dan peleburannya ke dalam Indonesia Muda.

museum sumpah pemuda jakarta

Sebuah poster di Museum Sumpah Pemuda yang berisi susunan Panitia Kongres Pemuda Pertama serta agenda rapat mulai dari Rapat Pertama yang berlangsung pada 30 April 1926, Rapat Kedua pada 1 Mei 1926, sampai Rapat Ketiga pada 2 Mei 1926.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster berisi riwayat Jong Sumatranen Bond (JSB) di Museum Sumpah Pemuda. JSB melahirkan sejumlah tokoh pergerakan seperti Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Bahder Djohan, Aboe Hanifah, dan Mohamad Amir. Pada Kongres Pemuda Kedua, Jong Sumatraben Bond mengutus Muhammad Yamin.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster yang berisi riwayat Jong Java, sebuah organisasi yang bermula dari Tri Koro Dharmo yang didirikan oleh Satiman Wiriosandjojo pada 7 Maret 1915. Sejak 27 Desember 1929 Jong Java membubarkan diri dan bergabung dengan Indoesia Moeda.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster berisi riwayat Pemoeda Indonesia yang berdiri dengan nama Jong Indonesia pada 20 Februari 1927 di Bandung dan kemudian berubah menjadi Pemoeda Indonesia pada 28 Desember 1927. Diantara pendirinya adalah R.M. Joesoepadi Danoehadiningrat, Soegiono, Mr. Soenario dan Mr. Sartono.

museum sumpah pemuda jakarta

Sejumlah foto dokumentasi dan poster riwayat Kepanduan dan Jong Islamieten Bond (JIB). JIB didirikan di Jakarta pada 1 Januari 1925 oleh sejumlah pelajar untuk mengadakan kursus agama Islam bagi para pelajar dan untuk mengikat rasa persaudaraan antara para pemuda pelajar Islam yang berasal dari berbagai daerah. JIB juga membentuk Organisasi Pandu Indonesia (National Indonesische Padvinderij, disingkat Natipij), organisasi pandu pertama yang memakai nama Indonesia.

museum sumpah pemuda jakarta

Sejumlah foto dokumentasi serta poster di Museum Sumpah Pemuda yang berisi riwayat tentang Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Partai Nasional Indonesia, serta Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politiek Kebangsaan Indonesia.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster yang berisi riwayat Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang didirikan di Jakarta pada 1926 oleh para mahasiswa Rechts Hoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) dan Technische Hoogeschool (Sekolah Tinggi Teknik). Diantara tokoh PPPI yang menonjol adalah Soegondo Djojopoespito, Sigit Abdul Syukur, Goelarso, Soemitro, Samijono, Hendromartono, Soebari, Rochjani, Soenarko, S. Djoened Poesponegoro, Koentjoro, Wilopo, Soerjadi, AK Gani, Amir Sjarifoedin, dan Aboe Hanifah.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster riwayat Partai Nasional Indonesia yang awalnya adalah Algemeene Studie Club (Kelompok Studi Umum) yang didirikan Sukarno di Bandung pada 29 November 1925. Pada 4 Juli 1927 ASC mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia, dan pada kongres pertama di Surabaya pada 27-30 Mei 1928 namanya resmi berubah menjadi Partai Nasional Indonesia.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster tentang riwayat Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang berdiri pada 17 Desember 1927 atas inisiatif Sukarno dari PNI dan disambut baik oleh Partai Sarekat Islam. PPPKI beranggotakan PNI, PSI, Boedi Oetomo, Pasoendan, Serikat Sumatera, Kaoem Betawi, dan Indonesische Studieclub.

museum sumpah pemuda jakarta

Patung beberapa peserta Kongres Pemuda Indonesia di ruangan tengah Museum Sumpah Pemuda, dengan sebuah poster berisi rincian Putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia menempel pada dinding di sebelah kanan.

museum sumpah pemuda jakarta

Patung seukuran manusia yang memperlihatkan Wage Rudolf Soepratman tengah memainkan biola membawakan lagu Indonesia Raya pada Kongres Pemuda II. Partitur serta kata-katanya dicetak dalam ukuran besar dan ditempelkan pada dinding di sebelah kirinya. WR Soepratman lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903, dan wafat di Surabaya pada 19 Agustus 1938.

museum sumpah pemuda jakarta

Syair lagu Indonesia Raya II yang tak populer lantaran tak pernah dinyanyikan di sekolah atau pun pada upacara kenegaraan dan acara-acara resmi. Makam WR Supratman ada di Surabaya dan sudah pernah saya kunjungi.

museum sumpah pemuda jakarta

Syair lagu Indonesia Raya III yang juga tak dikenal karena tak pernah dinyanyikan selama belajar di sekolah atau pun pada upacara kenegaraan dan acara-acara resmi lainnya.

museum sumpah pemuda jakarta

Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia yang berbunyi: “Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia diadakan oleh perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan dengan namanja Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar2 Indonesia....", dst.

museum sumpah pemuda jakarta

Di halaman tengah museum juga terdapat sebuah relief yang menunjukkan sejarah pergerakan dan perjuangan pemuda sebelum proklamasi, saat Proklamasi Kemerdekaan dan perjuangan selama periode revolusi kemerdekaan serta pada peristiwa sesudahnya.

museum sumpah pemuda jakarta

Sebuah poster berisi riwayat kepeloporan Pemuda 1945 yang mulai tumbuh semasa pendudukan Jepang dengan bergabungnya para pemuda dalam Barisan Pemuda Asia Timur Raya, Angkatan Moeda Indonesia, Seinendan, Keibodan, Heiho, dan relawan Pembela Tanah Air (PETA).

museum sumpah pemuda jakarta

Seorang pemuda anggota laskar rakyat gugur ketika berusaha menahan laju pasukan sekutu dalam pertempuran bulan November 1945 di Sirabaya.

museum sumpah pemuda jakarta

Foto dokumentasi yang memperlihatkan para pemuda dalam satuan TNI yang harus masuk keluar hutan untuk berjuang. Mereka tampak tengah mempersiapkan logistik dalam rangkaian aksi gerilya di front Jawa Barat.

museum sumpah pemuda jakarta

Dokumentasi foto rapat raksasa di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta, atau Lapangan Gambir), saat Soekarno memberikan pidato pada 19 September, 1945. Rapat dihadiri lebih dari 100.000 orang itu berakhir dengan damai setelah mendengarkan pidato singkat Bung Karno. Teks pidato Bung Karno ada di Museum Joang 45.

museum sumpah pemuda jakarta

Koleksi Vespa milik Hata Saleh yang digunakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) untuk menghubungi posko-posko Mahasiswa di Jakarta pada tahun 1966. Di ruangan terpisah ini terdapat dokumentasi foto saat pergolakan tahun 66, serta foto rangkaian peristiwa kerusuhan Mei 1998 hingga saat Presiden Suharto menyatakan berhenti sebagai Presiden RI.

museum sumpah pemuda jakarta

Sebagian dari lambang organisasi kepemudaan yang ikut dalam Kongres Pemuda Indonesia II, yaitu Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Bataks Bond, Sekar Roekoen, Pemoeda Kaoem Betawi, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, dan Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia.

museum sumpah pemuda jakarta

Biola asli yang dimainkan oleh WR Supratman untuk membawakan lagu Indonesia Raya pada malam penutupan Kongres Pemuda Indonesia II. Ketika WR Supratman wafat pada 17 Agustus 1938, biola itu dirawat oleh Ny. Roekijem Supratijah. Pada 1974 ketika Museum Sumpah Pemuda diresmikan, Ny. Roekijem sebagai wakil keluarga WR Supratman, melalui Kusbini menyerahkan biola ini untuk menjadi koleksi museum.

museum sumpah pemuda jakarta

Poster berisi teks kisah WR Soepratman dengan biolanya. Riwayat singkatnya ditulis dalam poster ini, juga perannya dalam kongres Pemuda Kedua, dimana pada malam penutupan ia menggesek biolanya membawakan lagu Indonesia Raya.

museum sumpah pemuda jakarta

Meja bundar dengan meja marmer dan kursi beralas penjalin tampak di salah satu pojok ruang Museum Sumpah Pemuda. Penjelasan tentang foto yang dipasang di sana sangat membantu pengunjung dalam mempelajari sejarah seputar peristiwa bersejarah ini.

museum sumpah pemuda jakarta

Pandangan dekat pada Monumen Persatuan Pemuda 1928. Teks sumpah pemuda ada di bagian depan, dan bagian samping adalah daftar perkumpulan pemuda yang ikut membuat sejarah dalam mengumandangkan sumpah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini.

museum sumpah pemuda jakarta

Patung para tokoh yang berperan dalam Kongres Pemuda II saya lihat ada di teras belakang museum, diantaranya adalah J Leimena, Mr. Sartono dan Prof. Mr. Soenarjo.

museum sumpah pemuda jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.