Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya

February 08, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Gedung Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya lokasinya berada di Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, tidak jauh dari Asrama Haji Pondok Gede. Museum ini dikelola oleh Pusat Sejarah TNI, dan instansi terkait, dengan koleksi ratusan benda bersejarah yang terkait peristiwa pemberontakan G30S-PKI (Gerakan 30 September - Partai Komunis Indonesia).

Pintu gerbang tinggi menyambut pengunjung yang datang ke tempat ini, dengan jalan masuk lebar dan panjang yang dinaungi pepohonan rindang di kanan kirinya. Pengunjung membayar karcis masuk sebesar Rp.2.500 per orang, baik dewasa maupun anak-anak, dengan karcis parkir bus Rp. 3.000, mobil sedan Rp. 2.000, sepeda motor Rp. 1.000.

Sampai di ujung jalan masuk terdapat halaman luas, dengan gedung museum ada di sebelah kanan. Saat memasuki gedung Museum Pengkhianatan PKI kita bisa melihat diorama rangkaian peristiwa terkait PKI yang terjadi sejak awal revolusi kemerdekaan sampai setelah meletusnya peristiwa G30S-PKI pada tahun 1965. Setidaknya ada 34 diorama di museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1992 ini.

museum pengkhianatan pki lubang buaya
Diorama di Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya Jakarta yang menggambarkan apa yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Tiga Daerah yang terjadi pada tanggal 4 November 1945. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno - Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, kelompok komunis bawah tanah mulai menyusupi ormas dan gerakan pemuda, seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI).

Pada 8 Oktober 1945, AMRI Slawi yang dipimpin Sakirman dan AMRI Talang yang dipimpin oleh Kutil menangkapi dan membunuh sejumlah pejabat pemerintah. Lalu pada 4 November 1945, pasukan AMRI menyerbu Kantor Kabupaten dan Markas TKR di Tegal, namun serangan itu gagal. Para tokoh komunis lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah dengan tujuan merebut kekuasaan di wilayah Tegal, Brebes dan Pekalongan.

Diorama di Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya dibuat dalam bentuk tiga dimensi, sehingga orang bisa melihat dari sudat pandang yang berbeda-beda. Demikian pula jika memotret setiap diorama maka akan dihasilkan foto dengan nuansa berbeda, tergantung dari arah mana orang mengambilnya fotonya.

Diorama berikutnya bercerita tentang Ce’ Mamat, gembong gerakan komunis pada tahun 1926 yang juga Ketua Komite Nasional Indonesia Serang. Orang itu menuduh pemerintah RI Banten sebagai kelanjutan kolonial, dan menghasut rakyat agar tidak percaya kepada pejabat pemerintah. Pada 17 Oktober 1945 Ce’ Mamat membentuk Dewan Pemerintahan Rakyat Serang, merebut pemerintahan Karesidenan Banten, dan menyusun pemerintahan model Soviet.

Ce’ Mamat dan Laskar Gulkut kemudian melakukan aksi teror, merampok, dan membunuh pejabat. Dengan alasan dipanggil presiden ketika Sukarno - Hatta ke Banten, Ce’ Mamat menjemput Bupati Lebak R. Hardiwinangun dari rumahnya di Rangkasbitung dan membawanya ke Panggarangan. Paginya, 9 Desember 1945, mereka menembak R. Hardiwinangun dan dari atas jembatan melempar mayatnya ke Sungai Cimancak.

Diorama Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya berikutnya adalah tentang tindak kekerasan Pasukan Ubel-Ubel di Sepatan, Tangerang, yang terjadi pada 12 Desember 1945. Dimulai pada 18 Oktober 1945, Badan Direktorium Dewan Pusat pimpinan Ahmad Khairun dengan dukungan gembong komunis bawah tanah mengambil alih kekuasaan pemerintah RI Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.

Mereka membubarkan aparatur pemerintah desa sampai kabupaten, menolak mengakui pemerintah pusat, membentuk Laskar Hitam atau Laskar Ubel-Ubel karena berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala. Mereka melakukan aksi teror dengan merampok harta dan membunuh penduduk Tangerang dan sekitarnya, seperti Mauk, Kronjo, Kresek, Sepatan. Pada 12 Desember 1945, dibawah pimpinan Usman, Laskar Ubel-Ubel merampok penduduk Desa Sepatan, melakukan pembunuhan, termasuk membunuh tokoh nasional Oto Iskandar Dinata di Mauk.

Lalu ada Diorama Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya tentang revolusi sosial yang terjadi di Langkat pada 9 Maret 1946. Persoalannya adalah karena berdirinya Republik Indonesia masih belum diterima sepenuhnya oleh kerajaan-kerajaan Sumatera Timur. Ketidakpuasan rakyat yang timbul dan menuntut penghapusan kerajaan dimanfaatkan PKI serta Pesindo untuk mengambil alih kekuasaan secara kekerasan. Revolusi sosial dimulai pada 3 Maret 1946. Pembunuhan terjadi di Rantau Prapat, Sunggal, Tanjung Balai dan Pematang Siantar di hari itu.

Pada 5 Maret 1946 Kerajaan Langkat resmi dibubarkan dan berada dibawah pemerintahan RI Sumatera Timur, namun pada malam 9 Maret 1946 massa PKI pimpinan Usman Parinduri dan Marwan menyerang Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura. Istana diduduki massa PKI, beberapa keluarga Sultan dibunuh, Sultan beserta keluarganya dibawa ke Batang Sarangan.

Setelah keluar dari gedung museum terdapat lorong yang menghubungan dengan pintu masuk ke Museum Paseban, kemudian ke Ruang Relik, dan selanjutnya ke Monumen Pancasila Sakti.

Di Museum Paseban terdapat diorama rapat persiapan pemberontakan PKI, latihan sukarelawan PKI di Lubang Buaya (5 Juli - 30 September 1965), penculikan Men/pangad Letjen TNI A Yani, penganiayaan di Lubang Buaya (1 Oktober), pengamanan lanuma Halim Perdana Kusuma (2 Oktober), Pengangkatan Jenazah (4 Oktober), Proses Lahirnya Supersemar (11 Maret 1966), dan beberapa diorama lainnya. Untuk berkunjung naik Mikrolet M28 Kampung Melayu - Pondok Gede, atau Angkot Cililitan - Pondok Gede, UKI - Pondok Gede, dan Kampung Rambutan - Pondok Gede. Jika naik TransJakarta, transit ke Koridor 9 Pluit - Pinang Ranti, turun di Pinang Ranti lanjut angkot di atas.

Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya Jakarta

Alamat : Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Nomor Telp 021-8400423, Fax 021-8411381. Lokasi GPS : -6.291086, 106.907331, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Setiap hari 08.00-16.00. Setiap 5 Oktober dan 10 November, gratis. Hari libur nasional buka. Harga tiket masuk : Rp.4.000, bus Rp.25.000, sedan Rp.15.000, motor Rp.2.000. Rombongan 50 lebih: pelajar Rp. 2.000, umum Rp. 3.000. Pemandu wisata: Rp. 75.000. Pemandu berbahasa Inggris Rp.100.000.

Galeri Foto Museum Pengkhianatan PKI

Diorama Aksi Teror Gerombolan Ce' Mamat, 9 Desember 1945. Ce’ Mamat adalah gembong gerakan komunis pada tahun 1926, ia juga Ketua Komite Nasional Indonesia Serang. Orang itu menuduh pemerintah RI Banten sebagai kelanjutan kolonial, dan menghasut rakyat agar tidak percaya kepada pejabat pemerintah. Pada 17 Oktober 1945 Ce’ Mamat membentuk Dewan Pemerintahan Rakyat Serang, merebut pemerintahan Karesidenan Banten, dan menyusun pemerintahan model Soviet. Ce’ Mamat dan Laskar Gulkut kemudian melakukan aksi teror, merampok, dan membunuh pejabat.

Dengan alasan dipanggil presiden ketika Sukarno - Hatta ke Banten, Ce’ Mamat menjemput Bupati Lebak R. Hardiwinangun dari rumahnya di Rangkasbitung dan membawanya ke Panggarangan. Paginya, 9 Desember 1945, mereka menembak R. Hardiwinangun dan dari atas jembatan melempar mayatnya ke Sungai Cimancak.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Aksi Kekerasan Pasukan Ubel-Ubel di Sepatan Tangerang, 12 Desember 1945. Dimulai pada 18 Oktober 1945, Badan Direktorium Dewan Pusat pimpinan Ahmad Khairun dengan dukungan gembong komunis bawah tanah mengambil alih kekuasaan pemerintah RI Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.

Mereka membubarkan aparatur pemerintah desa sampai kabupaten, menolak mengakui pemerintah pusat, membentuk Laskar Hitam atau Laskar Ubel-Ubel karena berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala. Mereka melakukan aksi teror dengan merampok harta dan membunuh penduduk Tangerang dan sekitarnya, seperti Mauk, Kronjo, Kresek, Sepatan. Pada 12 Desember 1945, dibawah pimpinan Usman, Laskar Ubel-Ubel merampok penduduk Desa Sepatan, melakukan pembunuhan, termasuk membunuh tokoh nasional Oto Iskandar Dinata di Mauk.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya tentang revolusi sosial yang terjadi di Langkat pada 9 Maret 1946. Persoalannya adalah karena berdirinya Republik Indonesia masih belum diterima sepenuhnya oleh kerajaan-kerajaan Sumatera Timur. Ketidakpuasan rakyat yang timbul dan menuntut penghapusan kerajaan dimanfaatkan PKI serta Pesindo untuk mengambil alih kekuasaan secara kekerasan. Revolusi sosial dimulai pada 3 Maret 1946.

Pembunuhan terjadi di Rantau Prapat, Sunggal, Tanjung Balai dan Pematang Siantar di hari itu. Pada 5 Maret 1946 Kerajaan Langkat resmi dibubarkan dan berada dibawah pemerintahan RI Sumatera Timur, namun pada malam 9 Maret 1946 massa PKI pimpinan Usman Parinduri dan Marwan menyerang Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura. Istana diduduki massa PKI, beberapa keluarga Sultan dibunuh, Sultan beserta keluarganya dibawa ke Batang Sarangan.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pemogokan Buruh Sarbupri di Delanggu, 23 Juni 1948. Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri), organisasi buruh PKI yang beranggotakan 15.000 buruh pabrik goni di 7 perusahaan pemerintah di Delanggu, Klaten, melancarkan pemogokan total pada 23 Juni 1948 untuk menuntut kenaikan upah. Aksi pemogokan berakhir pada 18 Juli 1948 setelah partai-partai politik mengeluarkan pernyataan menyetujui Program Nasional.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Pengacauan Surakarta, 19 Agustus 1948. Ketika berlangsung pasar malam Sriwedari pada 19 Agustus 1948 dalam rangkaian peringatan Kemerdekaan RI, PKI membakar ruang pameran Jawatan Pertambangan guna mengalihkan perhatian TNI agar gerakan pemberontakan PKI di Madiun bisa berjalan lancar. Rembetan api dapat dicegah, namun timbul kepanikan pengunjung sehingga 22 orang menderita luka-luka.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Pemberontakan PKI d Madiun, 18 September 1948. Pada saat RI sibuk menghadapi Belanda, PKI melancarkan kampanye politik menyerang pemerintah, melakukan aksi teror, mengadu domba angkatan bersenjata dan melakukan sabotase ekonomi. Gagal menjatuhkan kabinet Hatta dengan cara parlementer, komunis membentuk Front Demokrasi Rakyat, melakukan aksi-aksi politik serta tindak kekerasan. Musso (Muso Manowar), atau Paul Mussotte, yang baru kembali dari Moskow dan mengambil alih pimpinan PKI, menuduh Soekarno-Hatta menyelewengkan perjuangan bangsa Indonesia. Ia menawarkan "Jalan baru Untuk Republik Indonesia".

Pada saat perhatian pemerintah dan Angkatan Perang terpusat untuk menghadapi Belanda, PKI melakukan kampanye menyerang politik pemerintah, melakukan aksi-aksi teror, mengadu domba kekuatan bersenjata, juga sabotase ekonomi. Dini hari 18 September 1948, ditandai 3 letusan pistol, PKI memulai pemberontakan Madiun. Pasukan Seragam Hitam menyerbu, menguasai tempat-tempat penting dalam kota, termasuk gedung Karesidenan Madiun. Di gedung ini PKI mengumumkan berdirinya "Soviet Republik Indonesia" serta membentuk Pemerintahan Front Nasional. Sejumlah petinggi militer, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat pun dibunuh.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Pembunuhan di Kawedanan Ngawen, Blora, 20 September 1948. Markas Kepolisian Distrik Ngawen diserang pasukan PKI pada 18 September 1948, dan menahan 31 anggota polisi. Pada 20 September 1948, atas perintah Komandan Pasukan PKI Blora, tujuh diantaranya dibunuh secara bergantian dengan menjepit leher mereka dengan dua batang bambu yang dipegang dua orang. Mayat ketujuh orang itu lalu dibuang ke kakus di belakang kawedanan dan ditembak.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Muso Tertembak Mati, 31 Oktober 1948. Pada 1 Oktober 1948, TNI menguasai Dungus yang dijadikan PKI sebagai basis setelah kekalahan mereka di Madiun. Pemimpin dan pasukan PKI lari ke arah selatan, berusaha menguasai Ponorogo, namun gagal. Musso dan Amir Sjarifuddin lari menuju gunung Gambes, dikawal oleh dua batalyon yang cukup kuat. Mereka berpisah di tengah perjalanan. Musso bersama dua orang pengawalnya menyamar sebagai penduduk desa, tiba di Balong pada pagi 31 Oktober 1948, ia menembak mati seorang anggota Polisi yang memeriksanya.

Dengan naik dokar rampasan diiringi pengawal bersepeda, hari itu juga ia tiba di desa Semanding, Kecamatan Somoroto. Ia menembak seorang perwira TNI yang mencegatnya, namun tidak mengenai sasaran. Karena tidak bisa menjalankan kendaraan TNI rampasan, Musso lari masuk desa, bersembunyi di sebuah blandong (tempat mandi) milik seorang penduduk. Pasukan TNI yang mengepungnya memerintahkan supaya ia menyerah, namun Musso melawan. Ia mati tertembak dalam peristiwa itu.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pembunuhan Massal di Tirtomoyo, 4 Oktober 1948. Meski Madiun telah direbut oleh pasukan TNI, namun gerombolan PKI masih terus melakukan tindak kekejaman terhadap lawan-lawan politiknya. Di daerah Wonogiri mereka melakukan teror terhadap rakyat dan menculik sejumlah pejabat pamong praja seperti bupati, wedana, polisi, ulama dan rakyat lainnya. Para tawanan yang seluruhnya berjumlah 212 orang disekap di ruangan bekas laboratorium dan gudang dinamit di Bukit Tirtomoyo.

Sejak tanggal 4 Oktober 1948 sebagian tawanan mulai dibunuh setelah terlebih dahulu mengalami siksaan. Ada yang langsung disembelih, ditusuk dengan bambu runcing dan bayonet, atau lehernya dijerat dengan kawat, bahkan ada yang dilempari batu sampai mati dalam keadaan tangan terikat. Pembunuhan yang menelan 56 korban jiwa itu akhirnya bisa dihentikan setelah diserbu oleh Batalyon Nasuhi dan Kompi S Militaire Academic (MA) pada sore hari tanggal 14 Oktober 1948. Sergapan didahului dengan serangan yang dilakukan tiga orang kadet MA yang berhasil melumpuhkan penjaga tahanan, dan membuat gerombolan PKI terkejut, panik, dan melarikan diri.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Satu rombongan pengunjung, tampaknya sebuah keluarga, tengah mengamati salah satu diorama di Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya. Tersedianya informasi yang cukup lengkap di bawah masing-masing diorama sangat membantu bagi pengunjung. Pembuatan diorama juga dilakukan dengan baik dan bisa menggambarkan peritsiwa yang terjadi.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Penangkapan Amir Syarifudin, 29 November 1948. Setelah berpisah dari Musso, melalui perjalanan panjang dan sulit, Amir Sjarifuddin tiba di daerah Purwodadi dan bersembunyi di gua Macan di Gunung Pegat, Kecamatan Klambu. Semula polisi keamanan yang menjaga garis demarkasi Demak-Dempet-Gendong, tidak jauh dari tempat persembunyiannya, adalah orang-orang komunis, sehingga ia merasa aman.

Setelah TNI melucuti Polisi Keamanan itu dan melancarkan operasi-operasi pembersihan di sekitar daerah Klambu, posisi Amir Sjarifuddin pun terjepit. Pada 22 Nopember 1948 pasukan pengawalnya menyerah, dan Senin sore 29 Nopember 1948 tempat persembunyiannya dikepung TNI. Amir Sjarifuddin dan beberapa tokoh PKI lainnya pun menyerah dan diserahkan kepada komandan Brigade-12 di Kudus.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Serangan Gerombolan PKI di Markas Polisi Tanjung Priok, 6 Agustus 1951. Sesudah Pengakuan Kedaulatan RI, sisa-sisa PKI membentuk gerombolan bersenjata Sunari di Jawa Timur, Merapi-Merbabu Compleks di Jawa Tengah, dan gerombolan Eteh di Jakarta. Pada 6 Agustus 1951 pukul 19.00 WIB, gerombolan bersenjata Eteh berkekuatan puluhan orang dengan memakai ikat kepala bersimbol burung merpati dan palu arit menyerang asrama Mobile Brigade Polisi di Tanjung Priok untuk merebut senjata. Dua anggota polisi mengalami luka-luka parah dan seorang wanita penghuni asrama juga menderita luka-luka. Gerombolan Eteh berhasil merampas 1 bren, 7 karaben mauser dan 2 pistol.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Peristiwa Tanjung Morawa, 16 Maret 1953. Pada 1953, Pemerintah RI Karesidenan Sumatera Timur berencana membuat sawah percontohan di area bekas perkebunan tembakau di Desa Perdamaian, Tanjung Morawa, namun rencana ini ditentang oleh para penggarap yang telah menempati area itu. Pada 16 Maret 1953 ketika petugas pemerintah, dengan dikawal polisi, mentraktor area tersebut, massa tani yang didalangi Barisan Tani Indonesia (ormas PKI) melakukan tindakan brutal.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Penangkapan DN Aidit, 22 November 1965. Pada 1 Oktober 1965 tengah malam, Ketua CC PKI D.N.Aidit melarikan diri ke Jawa Tengah yang merupakan basis utama PKI. Tanggal 2 Oktober 1965 ia berada di Yogyakarta, dan berpindah-pindah tempat ke Semarang dan Solo untuk menghindari operasi pengejaran oleh RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Kopassus). Ia bersembunyi di sebuah rumah di kampung Sambeng Gede yang merupakan basis Serikat Buruh Kereta Api (SBKA), organisasi massa di bawah pengaruh PKI.

Tempat persembunyian D.N. Aidit ini akhirnya diketahui oleh ABRI melalui operasi intelijen. Pada 22 Nopember 1965 pukul 01.30 pagi rumah persembunyian D.N. Aidit digrebek oleh anggota Komando Pelaksanaan Kuasa Perang (Pekuper) Surakarta. Penangkapan hampir gagal ketika pemilik menyatakan D.N. Aidit telah meninggalkan rumahnya. Kecurigaan timbul setelah anggota Pekuper menemukan sandal yang masih baru, koper dan radio. Setelah penggeledahan dilanjutkan, dua orang Pekuper menemukan D.N. Aidit yang bersembunyi di balik lemari, dan ia pun dibawa ke Markas Pekuper di Loji Gandrung, Surakarta.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Rakyat Jakarta Menyambut Pembubaran PKI, 12 Maret 1966. Pada malam tanggal 11 Maret 1966 Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) Soeharto menerima Surat Perintah yang kemudian dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno, yang berisi wewenang untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu guna menjamin pemulihan keamanan dan ketertiban.

Pada 12 Maret 1966 Letjen Soeharto atas nama Presiden Panglima Tertinggi ABRI / Mandataris MPRS / Pimpinan Besar Revolusi mengeluarkan keputusan tentang Pembubaran PKI dan organisasi-organisasi massanya yang seazas, bernaung dan berlindung di bawah PKI, dan PKI dinyatakan sebagai organisasi yang terlarang di seluruh wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Keputusan itu diumumkan melalui RRI pada pukul 06.00 tanggal 12 Maret 1965. Massa rakyat Jakarta mengadakan pawai kemenangan di jalan-jalan dan membawa poster-poster sebagai ungkapan rasa gembira dan terima kasih.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Halaman Museum Pengkhianatan PKI dilihat dari lorong penghubung dengan Ruang Relik Museum Monumen Pancasila Sakti. Jalan ke Monumen Pancasila Sakti ada di ujung foto di atas. Foto yang kedua diambil pada 2018, memperlihatkan ada perbedaan pada bagian sebelah kiri yang sebelumnya taman kini telah ada jalan beratap joglo bagi tamu untuk turun dari kendaraan.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Gedung Museum Pengkhianatan PKI yang terdiri dari dua lantai. Semuanya ada 34 dioarama di gedung ini.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pandangan pada halaman depan Museum Pengkhianatan PKI setelah mengalami renovasi dengan penambahan sejumlah peraga dengan penataan yang terlihat lebih modern dibandingkan sebelumnya. Foto terakhir adalah pendopo tempat disimpannya koleksi kendaraan bersejarah yang pernah digunakan pada peristiwa terkait dengan G30S/PKI.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Prasasti yang menandai peresmian Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto, pada 1 Oktober 1992.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pemandangan pada bagian depan ruangan Museum Pengkhianatan PKI yang seingat saya dulu tak ada, jadi saya kira merupakan salah satu dari bagian yang mengalami renovasi dan membuat museum sempat ditutup untuk kunjungan umum selama beberapa waktu. Di sebelah kiri adalah pesawat televisi layar datar ukuran besar untuk menonton film dokumenter yang diputar atas permintaan pengunjung, dengan cukup memencet tombol.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto dokumentasi Museum Pengkhianatan PKI berukuran besar yang memperlihatkan para korban tewas oleh keganasan pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto kolase yang memperlihatkan suasana saat penggalian dan pengangkatan jenazah korban keganasan pemberontakan G30S/PKI di Lubang Buaya, Jakarta Timur, tahun 1965. Orang yang mengangkat jenazah dari dalam sumur adalah Sersan Saparimin (Anggota Kipam KKO TNI-AL. Sedangkan yang diangkat dari dalam sumur adalah jenazah Mayjen TNI S. Parman (Asisten I Men / Pangad), jenazah Brigjen TNI D.I. Pandjaitan, disaksikan oleh Mayjen TNI Soeharto, Pangkostrad waktu itu.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto kolase yang menggambarkan suasana ketika berlangsung Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) terhadap tokoh-tokoh pemimpin pemberontakan G30S/PKI yang berlangsung tahun 1966-1967. Pada foto ada Letkol Ali Said SH (Hakim Ketua Mahmilub saat peradilan Dr. Subandrio), Nyono bin Sastrorejo (Sekretaris Komite PKI Jakarta Raya), Syam Kamaruzaman (Ketua Biro Khusus PKI), Dr. Subandrio (Wakil Perdana Menteri / Menteri Luar Negeri), Marsekal Madya Oemar Dhani (Menteri / Panglima Angkatan Udara), Mayor Udara Suyono (Komandan Pasukan Pengaman Pangkalan Angkatan Udara yang memimpin latihan militer di Lubang Buaya), Sudisman (Anggota Polit Biro Comitte Central PKI), Brigjen Soepardjo (Panglima Komando Tempur IV Kostrad), Serda Giyadi (yang menembak Letjen TNI A. Yani), Wirjomartono (Anggota Comtte Central PKI), Letkol Untung (Danyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang memimpin gerakan militer G30S/PKI, Suryati (Anggota Gerwani yang dilatih di Desa Lubang Buaya).

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto dokumentasi yang memperlihatkan tokoh-tokoh Gerakan Tiga Daerah yang ditahan di Penjara Wirogunan, Yogyakarta, pada tahun 1946.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pembebasan Gorang-Gareng, 28 September 1948. Ketika PKI melakukan pemberontakan di Madiun, mereka menculik lawan-lawan politik, ulama, tokoh masyarakat, pamong praja, dan polisi. Penculikan itu juga dilakukan di daerah lain, termasuk di Gorang-Gareng yang ada di sebelah Barat Daya Madiun dimana terdapat Pabrik Gula Rejosari yang menjadi markas pasukan komunis. Di pabrik gula itu PKI mengumpulkan sejumlah tawanannya. Saat itu pemerintah dan rakyat setempat tak berdaya melawan tindakan sewenang-wenang pihak komunis.

Pada tanggal 28 September 1948, Batalyon Sambas yang sedang bergerak untuk membebaskan Kota Madiun tiba di Gorang-Gareng. Mereka berhasil mematahkan perlawanan pasukan PKI yang mencoba menghadang gerak maju pasukan TNI. TNI berhasil membebaskan para tawanan yang belum sempat dibunuh oleh PKI. Pasukan TNI juga menemukan puluhan orang yang telah tewas dibunuh oleh PKI, termasuk yang dibunuh di Pabrik Gula Rejosari.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Penghancuran PKI di Sooko, 28 September 1948. Setelah gagal merebut Kota Trenggalek, Batalyon Maladi Yusuf membuat kubu pertahanan di Desa Sooko di kaki Gung Wilis, Ponorogo. Di sana juga ada pasukan PKI di bawah pimpinan Soebardi, dan pasukan Panjang Djokopriyono yang membuat pertahanan PKI semakin kuat. Lawan-lawan politik PKI, termasuk Asisten Wdono (Camat) Sooko, telah lebih dulu mereka bersihkan.

Akhirnya kubu pertahanan PKI di Desa Sooko itu diserbu pasukan TNI dari dua arah oleh Kompi Sumadi dari Batalyon Sunandar dan Kompi Sabirin Mochtar dari Batalyon Mujayin pada 28 September 1948. Kompi Sumadi melakukan penyerbuan dari arah selatan dan berhasil merebut Thuk Puyangan, sebuah bukit yang tidak jauh dari markas komando PKI. Sementara itu kompi Sabirin Muchtar menyerbu dari arah utara. Kubu pertahanan pemberontak PKI akhirnya berhasil dihancurkan setelah melalui pertempuran sengit yang berlangsung sejak jam 10.00 pagi hingga senja.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pembantaian di Dungus, 1 Oktober 1948. Pada 30 Oktober 1948, tokoh-tokoh dan pasukan PKI yang telah terdesak akhirnya meninggalkan Madiun dan membuat basis pertahanan di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kawedanan Dungus, sebelah tenggara Kota Madiun, dengan membawa tawanan yang terdiri dari para perwira TNI dan Polisi, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat. Ketika Dungus diserbu TNI dari kompi Sampurno pada 1 Oktober 1948 yang datang dari arah Sawahan di lereng timur Gunung Wilis, hampir semua tawanan itu dibantai PKI dengan cara ditembak atau dipenggal kepalanya. Pembantaian dilakukan di sebuah rumah milik penduduk dan di area sekitarnya. Mayat korban dikubur dalam lubang besar dangkal atau dibuang ke sungai.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Suasana di salah satu lorong Museum Pengkhianatan PKI dengan panel-panel berisi diorama 3 dimensi yang membuat orang bisa melihat dari segala arah dengan sudut pandang yang berbeda. Sayang sekali pantulan kaca membuat pengambilan foto menjadi relatif sulit.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sebelah kiri atas adalah perangko bergambar Presiden Soekarno dengan tulisan "Republik Rakyat Indonesia". Perangko itu telah disiapkan dan akan diedarkan jika saja pemberontakan PKI pada 30 September 1965 berhasil mengambil alih pemerintahan. Perangko itu berharga mulai dari Rp6 hingga Rp500. Setelah kudeta digagalkan, perangko-perangko itu muncul di pedagang-pedagang perangko di Hong Kong. Sebelah kanan adalah seragam tentara pemberontak PARAKU.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Koleksi Museum Pengkhianatan PKI berupa bendera yang dirampas dari PGRS (Pasukan Gerilya Rakyat Serawak).

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Lahirnya MKTBP PKI, 14 Maret 1954. Meski kekuatan bersenjata PKI telah dihancurkan ketika memberontak di Madiun pada tahun 1948, namun PKI tidak dibubarkan oleh pemerintah. Dibawah pimpinan tokoh muda seperti DN Aidit, sejak tahun 1950 PKI bangkit kembali dan mulai menanamkan pengaruh di berbagai kalangan. Untuk meraih kekuasaan politik, PKI menyusun metode perjuangan bernama Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan (MKTBP). Metode yang dirumuskan dalam Kongres Nasional V PKI pada tanggal 14 Maret 1954 itu antara lain berisi perjuangan gerilya di desa yang terdiri dari kaum buruh dan tani miskin, perjuangan revolusioner kaum buruh di kota terutama buruh angkutan, dan ketiga bekerja intensif di kalangan musuh utama terutama di kalangan Angkatan Bersenjata (ABRI).

MKTB merupakan metode perjuangan yang tertutup. Untuk mencapai sasaran tersebut PKI menyusupkan kader-kadernya ke dalam tubuh ABRI. Pelaksanaan metode ketiga MKTBP hanya dilakukan oleh kader-kader PKI yang benar-benar terpilih dan sangat terbatas. Biro khusus PKI adalah badan pelaksana dari metode ketiga untuk menggalang unsur pimpinan dan anggota ABRI supaya bersikap netral, simpati, dan memihak PKI.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

DN Aidit Diadili, 25 Februari 1955. Sejak tahun 1952, PKI dibawah pimpinan DN Aidit meningkatkan agitasi dan propaganda di segala bidang, diantaranya dengan mengeluarkan Statemen Politbiro CC PKI pada tanggal 13 September 1953 yang berjudul "Peringati Peristiwa Madiun secara intern !". Statemen yang dimuat di koran PKI Harian Rakyat tanggal 14 September 1953 itu PKI secara terang-terangan dan sengaja menghina pemerintah RI dengan menyatakan bahwa pemberontakan Madiun tahun 1948 bukan dilakukan oleh PKI tetapi akibat provokasi pemerintah Hatta.

Statemen itu hakekatnya adalah agitasi dan propraganda PKI untuk membersihkan diri guna mencari dukungan massa. Untuk mempertanggungjawabkan statemen itu, Sekretaris Jenderal Politbiro CC PKI DN Aidit dihadapkan ke Pengadilan Negeri Jakarta. Sidang peradilan dimulai pada tangga; 25 November 1954 dan berakhir 31 Maret 1955 DN Aidit dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Kampanye Budaya PKI, 25 Maret 1963. Selain ingin menguasai politik, PKI juga menggarap bidang lainnya termasuk sastra dan budaya yang dilakukan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bersama lembaga yang ada di bawahnya seperti Lembaga Sastra, Lembaga Film dan Lembaga Drama.

Secara sistematis mereka memasukkan faham komunisme ke dalam seni dan sastra, mempolitikkan budayawan dengan semboyan "Politik adalah Panglima" serta mendiskreditkan para sastrawan dan budayawan non-komunis. Usaha itu dilakukan melalui media massa PKI dan di berbagai pertemuan, salah satunya Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Indonesia di Medan pada tanggal 22-25 Maret 1963.

Konferensi tidak hanya membahas masalah budaya yang harus bernafaskan komunisme tetapi juga membahas politik yang menuntut segera dibentuk kabinet gotong royong agar tokoh-tokoh PKI duduk di dalamnya. Di bidang sastra dikeluarkan tuntutan agar buku-buku terbitan Balai Pustaka benar-benar seirama dengan Manifesto Politik (Manipol). Konferensi juga sangat mendukung setiap kegiatan olah raga dan pertemuan-pertemuan bernafas internasional yang berkiblat pada negara-negara komunis. Konferensi tersebut merupakan bagian dari kampanye budaya PKI. Untuk menunjukkan kekuatannya, sehabis konferensi mereka mengadakan pawai alegoris berkeliling Kota Madiun.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Rongrongan PKI terhadap ABRI (1964 - 1965). Kampanye meperburuk citra ABRI sudah dilakukan PKI sejak masa Perang Kemerdekaan tahun 1945 - 1949 untuk memecahbelah kekompakan ABRI, memandulkan peran sosial - politik ABRI, menghapuskan jati diri ABRI sebagai pejuang - prajurit dan prajurit - pejuang, yang pada akhirnya bertujuan untuk menguasai ABRI.

Secara terbuka kampanye anti-ABRI, khususnya TNI AD, berlatar belakang pada kecemburuan PKI di kalangan rakyat. Berbagai macam cara kampanye anti-ABRI telah dilakukan PKI, seperti tuduhan, isu, provokasi, fitnah politik, yang dilemparkan ke tengah-tengah masyarakat oleh bagian propaganda dan media massa PKI.

Sejak tahun 1964, aksi kampanye PKI semakin meningkat sebagai bagian dari "ofensif revolusionernya". Tindak kekerasan aksi sepihak, tuntutan pembubaran aparat teritorial, isu nasakomisasi ABRI, isu Angkatan V, dokumen palsu Gilchrist adalah wujud aslinya. Sebagai puncak kampanye fitnahnya adalah isu Dewan Jenderal pada tahun 1965 yang bermuara pada pemberontakan G30S/PKI.

Salah satu aksi kampanye dari bawah, antara lain disampaikan pada Kongres Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI) suatu organisasi massa PKI, pada tanggal 3 Agustus 1964 di Gedung Serikat Buruh Kereta Api Manggarai, Jakarta.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Peristiwa Kanigoro, 13 Januari 1965. Walaupun PKI berhasil menakut-nakuti partai-partai politik dan organisasi massa Islam, tetapi mereka gagal melumpuhkan pengikut-pengikut partai dan organisasi massa tersebut. Partai politik dan organisasi massa Islam juga melakukan usaha untuk membendung intimidasi dan penyusupan pengaruh komunis ke dalam tubuh organisasi mereka dengan cara memperkuat keislaman dan ketakwaan para anggotanya.

Usaha seperti itu dilakukan antara lain oleh Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur di Desa Kanigoro, Kecamatan Kediri. Mereka menyelenggarakan pelatihan mental pada bulan Januari 1965. Namun ketika pelatihan sedang berlangsung, pada subuh tanggal 13 Januari 1965 kompleks pesantren tempat pelatihan diadakan diserang massa Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI).

Massa komunis tidak hanya menyiksa para peserta latihan, mereka juga menginjak-injak kitab suci Al-Quran sambil mengeluarkan ucapan-ucapan yang menghina agama Islam. Beberapa peserta latihan, pria dan wantia, serta tokoh-tokoh agama setempat mereka tangkap. Berkat campur tangan camat Keras, para korban penangkapan dibebaskan hari itu juga, tetapi pelaksanaan mental training terpaksa dibatalkan.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Peristiwa Bandar Betsi, 14 Mei 1965. Untuk menggagalkan rencana pemerintah di bidang land reform, PKI dan organisasi massanya melancarkan aksi sepihak dengan menguasai secara tidak sah tanah negara di beberapa tempat. Salah satunya di Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet-IX Bandar Betsi, Pematang Siantar.

Pada tanggal 14 Mei 1965, 200 anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menanami secara liar tanah milik perkebunan penanaman karet. Pembantu Letnan Dua (Pelda) Sujono, seorang prajurit TNI-AD yang dikaryakan di PPN Karet IV bersama tiga temannya sedang bertugas mengeluarkan traktor yang terperosok sehari sebelumnya di dekat tanah tersebut. Ia memperingatkan massa supaya menghentikan penanaman liar itu. Namun peringatan diabaikan, bahkan Pelda Sujono dikeroyok dan dipukuli dengan berbagai benda, termasuk benda tajam, sehingga ia jatuh terlentang di atas tanah. Saat itu juga kepalanya dicangkul oleh seorang anggota BTI yang membuatnya tewas di tempat.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Pawai Ofensif Revolusioner PKI di Jakarta, 23 Mei 1965. Setelah merasa kuat, PKI mulai melancarkan ofensif revolusioner yang bertujuan untuk menggalang dan mempengaruhi massa agar berpihak kepadanya. Unjuk kekuatan ofensif revolusioner itu diwujudkan dalam aksi-aksi kekerasan seperti sabotase, aksi sepihak, aksi teror, tuntutan pembentukan Kabinet Nasakom dan Angkatan Kelima, agitasi dan propaganda mengenai hal-hal yang dianggap menghalangi program mereka.

Dengan dalih melaksanakan Manipol-Usdek, PKI berusaha membubarkan organisasi-organisasi lainnya seperti Manifes Kebudayaan. Patung tokoh-tokoh komunis internasional dan tokoh-tokoh PKI dipamerkan di jalan-jalan raya secara terbuka. Unjuk kekuatan kepada masyarakat ini dimuat secara besar-besaran di media massa dan di berbagai macam pertemuan. Kepada masyarakat didengungkan bahwa kekuatan PKI adalah nomor satu di dunia di luar kubu Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina.

Unjuk kekuatan besar-besaran dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia pada peringatan hari ulang tahun PKI ke-45 tanggal 23 Mei 1965. Puncak peringatan diselenggarakan di Jakarta dalam bentuk "Rapat Raksasa" di Stadion Utama dimana hadir sejumlah utusan komunis internasional. Pada saat itu Ketua CC PKI DN Aidit mengomandokan kepada massa PKI untuk meningkatkan "Ofensif revolusioner sampai ke puncaknya".

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Penyerbuan Gubernuran Jawa Timur, 27 September 1965. Dengan alasan akan menyampaikan resolusi penurunan harga 9 bahan pokok, Gerwani yang mengatasnamakan "Gabungan Organisasi Wanita Surabaya" pimpinan isteri Walikota meminta Gubernur Jawa Timur Wiyono untuk bertemu, dan disetujui akan diterima pada pukul 10.00, tanggal 27 Desember 1965. Namun yang datang pada hari itu adalah massa PKI dari PR, BTI, CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) dan Gerwani, yang membuat kerusuhan, merusak berbagai peralatan kantor, dan bahkan berusaha menangkap gubernur. Kerusuhan baru berhasil diatasi setelah didatangkan bantuan dari ABRI.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Penguasaan Kembali Gedung RRI Pusat, 1 Oktober 1965. Selain menculik dan membunuh para petinggi TNI Angkatan Darat, pasukan PKI juga menguasai Gedung Pusat Telekomunikasi dan Gedung Radio Republik Indonesia Pusat pada dinihari 1 Oktober 1965. Melalui seorang penyiar RRI yang membacakan teks dibawah todongan pistol, PKI mengumumkan telah menyelamatkan negara dari kudeta "Dewan Jenderal". Tengah hari mereka mengumumkan pembentukan Dewan Revolusioner sebagai pemegang kekuasaan tertinggi negara, dan pendemisioneran kabinet. Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto yang telah mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Darat kemudian memerintahkan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) untuk merebut kembali kedua gedung tersebut. Operasi militer yang dimulai pada pukul 18.30 dengan mengerahkan kekuatan satu kompi RPKAD dalam waktu 20 menit berhasil menguasai kembali kedua obyek vital tersebut. Pada pukul 20.00 tanggal 1 Oktober 1965 RRI Pusat sudah dapat menyiarkan pidato radio Mayjen Soeharto yang menjelaskan adanya usaha kudeta yang dilakukan oleh PKI melalui G30S.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Peristiwa Kentungan Yogyakarta, 21 Oktober 1965. Sebagai bagian dari aksi makar G30S, Pasukan PKI menyerbu dan menguasai Markas Korem 072 dan RRI Yogyakarta pada 1 Oktober 1965, dan mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Komandan Korem 072 Kolonel Katamso dan Kepala Staf Letkol Sugiyono diculik pada sore harinya dan dibawa ke Kentungan. Mereka dipukul dengan kunci mortir, dan tubuhnya dimasukkan ke dalam sebuah lubang. Jenazah mereka baru ditemukan pada 21 Oktober 1965.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Rapat Umum Front Pancasila, 9 November 1965. Tidak adanya tindakan tegas dari Presiden Sukarno terhadap PKI yang mendalangi G30S menimbulkan reaksi di kalangan masyarakat. Berbagai golongan masyarakat menuntut supaya PKI dan semua organisasi massanya dibubarkan. Mereka tergabung dalam Komando Aksi Pengganyangan Kontra Revolusi (G.30.S/PKI) yang pada tanggal 23 Oktober 1965 berganti nama menjadi Front Pancasila. Bersama dengan Front Pancasila, kesatuan-kesatuan aksi itu melakukan demonstrasi untuk menuntuk pembubaran PKI dan semua organisasi massa di bawahnya. Rapat Raksasa diselenggarakan di Lapangan Banteng pada 23 Oktober 1965, dimana Front Pancasila membuat resolusi yang menuntut pembubaran PKI dan semua organisasi massa di bawahnya, serta mengadili tokoh-tokoh PKI. Resolusi disampaikan kepada wakil pemerintah yang hadir di tempat itu.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa, 14 Februari 1966. Untuk menumpas G30S/PKI, pemerintah melancarkan operasi militer dan operasi yustisi. Sebagai wujud yustisi, pemerintah mengaktifkan kembali lembaga Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) sebagai lembaga peradilan yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara khususnya tokoh-tokoh utama penggerak G30S/PKI. Sidang pertama Mahmilub diselenggarakan pada 14 Februrari 1966 untuk mengadili Nyono bin Sastro Rejo, anggota Politbiro CC PKI. Nyono dijatuhi hukuman mati karena terbukti bersalah sebagai perencana dan penggerak G.30.S/PKI.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Operasi Trisula di Blitar Selatan, 20 Juli 1968. Setelah dibubarkan, sisa-sisa PKI membangun kembali partai dengan cara membentuk basis-basis gerilya yang disebut Comite Proyek (Compro). Melalui Compo Blitar Selatan, PKI membentuk Central Comite dan Comite Daerah Besar Jawa Timur. Mereka menyusun kekuatan bersenjata, mengintensifkan latihan militer, membuat kubu pertahanan berupa ruangan bawah tanah (ruba) memanfaatkan gua-gua alam, serta melakukan agitasi dan propaganda.

Setelah mengetahui kegiatan mereka, Kodam VIII/Brawijaya segera membentuk Komando Satuan Tugas Trisula yang diperkuat oleh kesatuan TNI-AU, Polri, Hansip/Wanra serta aparatur terkait dengan tugas melaksanakan operasi militer untuk menumpas gerakan tersebut. Pada 20 Juli 1968 salah satu bagian dari Satuan Tugas Trisula dengan dibantu Hansip/Wanra melancarkan operasi pembersihan di Desa Sumberjati, Kecamatan Lodoyo, Blitar Selatan. Sasaran oeprasi adalah gua alam yang ada di desa itu, dan mereka berhasil metangkap 11 orang PKI, salah satu diantaranya adalah Rewang anggota CC PKI gaya baru.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Penumpasan Gerakan PKI Ilegal Iramani di Purwodadi, 27 Januari 1973. Seorang kader PKI yang bernama Samsudin, alias Iramani, membina sejumlah mantan tahanan G.30.S/PKI sejak 1968, membentuk Comite Pangkalan Mobil dan Prajurit Gerilya (Praga) di daerah Purwodadi, dan berhasil membina 7.000 orang. Untuk menjaga kerahasiaan, mereka dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan perampokan, pembunuhan serta intimidasi terhadap penduduk dan mantan tahanan G30S/PKI.

Namun operasi intel dan operasi teritorial yang dilakukan ABRI bersama rakyat di Kabupaten Grobogan, Sragen dan Boyolali berhasil mempersempit ruang gerak mereka. Oleh karena di daerah Purwodadi tidak mungkin bertahan, mereka bergerak pindah ke daerah Boyolali. Pada 27 Januari, mereka keluar dari hutan Perahu menuju ke hutan Bubak, melintasi jalan raya Solo - Purwodadi. Di Dusun Ngasem, Desa Monggot, sejumlah penduduk dibawah pimpinan Muspika Geyer dan Lurah Monggot menghadang mereka setelah rahasia mereka bocor. Dalam penghadangan itu berhasil ditangkap 29 orang anggota gerombolan Iramani.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Tertembak Matinya SA Sofyan, 12 Januari 1974. Sisa-sisa PKI Kalimantan Barat dibawah pimpinan SA Sofyan, mendirikan PKI gayu baru, dan mendapat dukungan dari Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) serta Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) yang berhaluan komunis. Untuk mengantisipasi serangan dari PKI gaya baru, mulai Februrai 1969 ABRI melancarkan Operasi Bersih III yang berhasil menghancurkan kekuatan para pendukung PKI gaya baru.

Operasi militer selanjutnya dengan dukungan rakyat berhasil menghancurkan pengikut SA Sofyan pada bulan Juni 1973. Setelah anggota keluarga dan beberapa pengikutnya tertangkap, SA Sofyan melarikan diri dan bersembunyi di daerah rawa-rawa Tarentang, sebelah tenggara Pontianak. Pada tanggal 12 Januari 1974, Pasukan RPKAD berhasil menemukan persembunyian SA Sofyan, dan ia tewas dalam baku tembak. Selanjutnya operasi pembersihan dan operasi gabungan dengan pasukan Malaysia berhasil menumpas Gerakan Pengacau Keamanan PGRS-Paraku. Sejak tanggal 20 November 1982 daerah Kalimantan Barat dinyatakan aman dan bersih dari sisa-sia gerombolan pengacau keamanan.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pemberontakan PKI di Cirebon, 14 Februari 1946. Dengan alasan untuk memeriahkan konferensi Laskar Merah pada Januari 1946, pimpin PKI Mr. Joesoeph dan Mr. Soeprapto mendatangkan kesatuan Laskar Merah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke Cirebon sebanyak 3000 orang. Jumlah itu ditambah lagi dengan kekuatan Laskar Merah Cirebon. Mereka unjuk kekuatan dengan berbaris keliling kota dan memancing insiden dengan TRI (Tentara Republik Indonesia) dan Polisi. Pada tanggal 12 Februari 1946 Laskar Merah melucuti TRI, menguasai kota dan gedung vital seperti stasiun radio dan pelabuhan. Hotel Ribbrinck dijadikan sebagai markas untuk merebut kekuasaan pemerintah daerah.

Untuk mencegah pertumpahan darah, pimpinan Divisi II / Sunan Gunung Jati mencoba menyelesaikan peristiwa itu secara musyawarah dengan pimpinan PKI dan meminta agar senjata TRI dikembalikan. Oleh sebab PKI menolak, maka pada tanggal 14 Februari 1946 TRI melancarkan serangan untuk merebut dan menguasai kembali Kota Cirebon. Pos penjagaan PKI berhasil dilumpuhkan dan markas besar mereka di Hotel Ribbrinck dapat dikuasai. Sebagian pasukan Laskar Merah menyerahkan diri dan sebagian lagi lari. Pimpinan PKI Mr. Joesoeph dan Mr. Soeprapto ditangkap dan kemudian diajukan ke Pengadilan Militer.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Bagian akhir pada ruangan diorama Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya, dengan tulisan ucapan terima kasih pada dinding, serta pengingat untuk tidak membiarkan peristiwa pengkhianatan semacam itu tidak terulang kembali. Peringatan itu tentu tidak hanya ditujukan bagi faham komunis, namun juga faham apa pun yang mengancam demokrasi, Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika. Karenanya persatuan dan kesatuan bangsa harus selalu ditingkatkan.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Kolase foto suasan Pemakaman 7 Jenazah Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada tahun 1965. Pada foto terlihat Ibu Pandjaitan, Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto, Ibu Suprapto, Ibu S Parman, dan Ibu MT Haryono.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Kolase foto yang memperlihatkan suasana ketika berlangsung acara pemberangkatan 7 jenazah Pahlawan Revolusi dari Markas Besar Angkatan Darat pada tahun 1965. Pada foto terlihat Jenderal TNI AH Nasution (Menko Hankam/KASAB), dan Mayjen TNI GPH Djati Kusumo.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Lorong jembatan beratap yang menghubungkan gedung utama Museum Pengkhianatan PKI dengan Museum Paseban serta Ruang Relik Monumen Pancasila Sakti. Pemutaran film G30S/PKI bisa dilihat di depan ruang relik, dan jika ada rombongan dalam jumlah banyak bisa juga dilakukan di aula di gedung Paseban.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Tampak muka gedung Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) di Lubang Buaya setelah direnovasi dan dibukan kembali untuk umum.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Cungkup di ujung sana adalah pendopo dengan foto Monumen Pancasila Sakti pada dindingnya, dan di sebelah kirinya ada dua pendopo berukuran lebih kecil tempat untuk menyimpan kendaraan roda empat yang pernah digunakan oleh Jenderal Ahmad Yani dan Mayjen Soeharto.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto dokumentasi yang memperlihatkan sejumlah tokoh lainnya yang terlibat dalam Gerakan Tiga Daerah ketika ditahan di Penjara Wirogunan, Yogyakarta

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang diorama lainnya yang menggambarkan peristiwa Tiga Daerah.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto dokumentasi Jembatan di daerah Talang yang menjadi lokasi pembunuhan dan pembuangan jasad pejabat pemerintah yang dilakukan oleh PKI dalam peristiwa Tiga Daerah.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto dokumentasi di Museum Pengkhianatan PKI yang memperlihatkan bekas Hotel Merdeka di Pekalongan yang dulu pernah digunakan sebagai Markas Gerakan Tiga Daerah.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang lainnya pada aksi pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan Ce' Mamat.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berikutnya pada diorama pembunuhan terhadap Bupati Lebak R. Hardiwinangun yang dilakukan oleh Germobolan Ce' Mamat.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berikutnya pada teror pembunuhan yang dilakukan Gerombolan Ce' Mamat ketika hendak membuang jasad Bupati Lebak ke Sungai Cimancak setelah mereka bunuh.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Foto dokumentasi Jembatan Sungai Cimancak yang menjadi tempat pembunuhan dan pembuangan jenazah Bupati Lebak oleh Gerombolan Ce' Mamat.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berikutnya pada diorama pembunuhan dan pembuangan jenazah Bupati Lebak oleh Gerombolan Ce' Mamat.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang pada Diorama Aksi Kekerasan Pasukan Ubel-Ubel di Sepatan Tangerang.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Masih pada diorama aksi kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Ubel-Ubel pada 12 Desember 1945, dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang yang lebih luas pada diorama kekerasan yang dilakukan Pasukan Ubel-Ubel di Tangerang.

museum pengkhianatan pki lubang buaya
Sudut pandang lainnya pada diorama yang menggambarkan peristiwa Tiga Daerah ketika massa menyerbu Kantor Kabupaten dan Markas TKR Tegal namun gagal.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang pada diorama di Museum Pengkhianatan PKI yang menggambarkan revolusi sosial di Langkat pada 9 Maret 1946.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berbeda pada diorama yang menggambarkan pemogokan Buruh Sarbupri di Delanggu pada 23 Juni 1948.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang dan nuansa berbeda pada diorama yang menggambarkan peristiwa Pengacauan Surakarta pada 19 Agustus 1948.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang lain pada diorama Pemberontakan PKI di Madiun yang terjadi pada 18 September 1948.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang pada diorama pembunuhan di Kawedanan Ngawen, Blora, pada 20 September 1948.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang lainnya pada diorama yang menggambarkan peristiwa ketika Batalyon Sambas sedang bergerak untuk membebaskan Kota Madiun pada tanggal 28 September 1948.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berbeda pada diorama yang menggambarkan peristiwa pembantaian di Dungus pada 1 Oktober 1948 yang dilakukan oleh PKI.

museum pengkhianatan pki lubang buaya
Sudut pandang berbeda pada diorama saat Muso tertembak mati pada 31 Oktober 1948 di sebuah blandong (tempat mandi) milik seorang penduduk di Desa Semanding, Kecamatan Somoroto.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang lain pada diorama peristiwa pembunuhan massal di Tirtomoyo pada 4 Oktober 1948.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Masih pada diorama pembunuhan massal di Bukit Tirtomoyo pada sudut pandang yang berbeda.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang lainnya pada pembunuhan massal di Bukit Tirtomoyo. Para tawanan yang berjumlah 212 orang itu disekap di ruangan bekas laboratorium dan gudang dinamit di Bukit Tirtomoyo.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Masih pada diorama pembantaian para tawanan di Bukit Tirtomoyo yang dilakukan oleh gerombolan PKI.

museum pengkhianatan pki lubang buaya< Sudut pandang berbeda pada diorama penangkapan Amir Syarifudin pada 29 November 1948. museum pengkhianatan pki lubang buaya

Masih pada diorama penangkapan Amir Syarifudin dengan sudut pandang yang berbeda. Ia dan beberapa tokoh PKI lainnya diserahkan kepada komandan Brigade-12 di Kudus.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang lain pada diorama serangan PKI ke Markas Polisi Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 6 Agustus 1951 pukul 19.00.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama dengan sudut pandang berbeda pada lahirnya Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan (MKTBP) PKI pada 14 Maret 1954.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama dengan sudut berbeda yang menggambarkan peristiwa pada subuh tanggal 13 Januari 1965 ketika kompleks pesantren tempat pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia diserang massa Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI)

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berbeda pada diorama yang menggambarkan peristiwa Bandar Betsi pada tanggal 14 Mei 1965, dimana 200 anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menanami secara liar tanah milik perkebunan penanaman karet.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berbeda pada diorama yang menggambarkan unjuk kekuatan besar-besaran yang dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia pada peringatan hari ulang tahun PKI ke-45 tanggal 23 Mei 1965.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang berbeda pada Diorama Penyerbuan Gubernuran Jawa Timur, 27 September 1965 yang dilakukan oleh massa PKI dari PR, BTI, CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) dan Gerwani.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Sudut pandang lainnya pada diorama ketika massa rakyat Jakarta mengadakan pawai kemenangan di jalan-jalan dan membawa poster-poster sebagai ungkapan rasa gembira dan terima kasih atas pembubaran PKI yang diumumkan melalui RRI pada pukul 06.00 tanggal 12 Maret 1965.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pandangan pada bagian depan Museum Pengkhianatan PKI setelah renovasi dan dibuka kembali untuk umum. Sebelah kiri adalah bagian depan Museum Paseban yang juga mengalami perubahan.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pandangan pada gedung Museum Pengkhianatan PKI setelah renovasi dari lorong penghubung yang menuju ke Museum Paseban.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pengendara motor yang tidak mengenakan helm pelindung kepala tampak baru saja lewat di depan gerbang masuk ke kawasan Monumen Pancasila Sakti dimana di dalamnya juga terdapat Museum Pengkhianatan PKI.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.