Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti Jakarta

Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti Jakarta berada di sayap kanan kompleks Monumen Pancasila Sakti, di ujung sebelah kanan area dimana terdapat Museum Pengkhianatan PKI (Komunis). Museum ini bisa diakses dari lorong penghubung setelah keluar dari Museum Pengkhianatan PKI, atau langsung masuk dari arah depan museum dengan melewati sejumlah undakan pendek.

Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti berisi diorama serta foto dokumentasi yang terutama terkait secara langsung atau berhubungan dengan peristiwa pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Museum ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Oktober 1981, bertepatan dengan peringatan dwi windu Hari Kesaktian Pancasila.

Renovasi terhadap museum kemudian dilakukan atas gagasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada tahun 2007, namun renovasi baru dilaksanakan pada tahun 2013. Peresmian renovasi Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti dilakukan oleh Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono pada tanggal 25 Agustus 2013.

museum paseban monumen pancasila sakti

Pandangan pada akses masuk yang langsung menuju ke dalam gedung Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti Jakarta. Akses lainnya adalah dari arah belakang, yang lebih dekat ke area parkir kendaraan, selain akses dari lorong penghubung setelah keluar Museum Pengkhianatan PKI.

Memasuki ruangan museum akan terlihat meja resepsionis yang sepertinya lebih banyak ditinggalkan kosong ketimbang dijaga. Bisa dimaklumi karena pengunjung telah membayar karcis masuk jauh di bagian depan area, dan lagi pula kebanyakan pengunjung sepertinya datang dari lorong penghubung.

Di Museum Paseban juga ada ruang teater cukup besar yang menayangkan cuplikan film tentang penculikan dan pembunuhan oleh gerombolan G30S/PKI pada tahun 1965m, berdurasi 30 menit. Biaya pemutaran film akan ekonomis jika pengunjung datang dalam rombongan cukup besar, sedangkan pengunjung individu atau dalam jumlah kecil bisa melihat film-nya di ruang teater yang ada di seberang Ruang Relik, di belakang Museum Paseban.

museum paseban monumen pancasila sakti

Akses masuk ke Museum Paseban dari lorong penghubung setelah keluar dari Museum Pengkhianatan PKI. Kebanyakan pengunjung museum mungkin masuk dari arah ini, karena memang lebih mudah dari sisi urutan kunjungan, ketimbang sebaliknya.

Diorama pertama adalah mengenai rapat-rapat persiapan pemberontakan G30S/PKI, diantaranya menghasilkan pembentukan Biro Khusus PKI yang diketuai Syam Kamaruzaman, beranggotakan Pono dan Waluyo, langsung dibawah Ketua PKI DN Aidit. Sekembalinya dari RRC pada Agustus 1965, DN Aidit memerintahkan Kamaruzaman menyusun konsep gerakan militer untuk melakukan pukulan pada apa yang mereka sebut sebagai "Dewan Jenderal". Syam juga diberi tugas menyusun konsep "Dewan Revolusi" sebagai lembaga tertinggi negara setelah PKI meraih kekuasaan.

Diorama berikutnya memperlihatkan kegiatan ketika berlangsung latihan sukarelawan PKI di Lubang Buaya yang berlangsung dari 5 Juli hingga 30 September 1965, dengan dalih dalam rangka konfrontasi terhadap Malaysia. Dalam latihan itu mereka diajarkan baris berbaris, bongkar pasang senjata, dan teknik bertempur. PKI juga menuntut dibentuknya Angkatan ke-5 dengan mempersenjatai buruh dan petani, meniru konsep RRC.

Selanjutnya ada diorama yang memperlihatkan peristiwa ketika jenazah para perwira Angkatan Darat sedang dimasukkan ke dalam sumur maut di Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965. Di sumur yang berdiameter 75 cm dengan kedalaman 12 meter itu jenazah dimasukkan dengan posisi kepala berada di bawah. Setelah semua jenazah dimasukkan ke dalam sumur, dilakukan penembakan ke dalam sumur secara beruntun. Sumur kemudian ditimbun dengan tanah dan sampah untuk menghilangkan jejak.

Lalu ada diorama yang menggambarkan keadaan ketika dilakukan operasi pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma pada tanggal 2 Oktober 1965, sebagai bagian dari operasi penumpasan pemberontakan G30S/PKI. Operasi ini bertujuan untuk membebaskan pangkalan udara dari tangan pemberontak, serta mencari lokasi disembunyikannya para perwira TNI AD yang diculik.

Melangkah ke diorama berikutnya adalah penggambaran ketika terjadi proses pengangkatan jenazah dari sumur maut yang dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1965. Penemuan lokasi penculikan diperoleh atas informasi dari Agen Polisi Tingkat II Sukiman yang ikut diculik dalam peristiwa G30S/PKI namun ia berhasil meloloskan diri. Lokasi sumur tua ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 sekitar pukul 16.00 oleh Pasukan RPKAD dibawah pimpinan Danyon I Mayor CI Santoso.

Kemudian diorama upacara pemberangkatan jenazah dari Markas Besar Angakatn Darat (MBAD) ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta yang berlangsung pada 5 Oktober 1965. Upacara pemberangkatan jenazah dipimpin oleh Menko Hankam / Kasab Jenderal AH Nasution yang bertindak sebagai inspektur upacara. Tepat pada pukul 10.00, dengan diiringi tembakan salvo dan bunyi genderang, ketujuh jenazah Pahlawan Revolusi diberangkatkan menuju TMP Kalibata. Selain diorama, di Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti Jakarta juga dipajang foto-foto dokumentasi yang terkait dengan peristiwa G30S/PKI.

Diorama lainnya menggambarkan penculikan-penculikan terhadap Jenderal AH Nasution, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R Soeprapto, Mayor Jenderal MT Haryono, Mayor Jenderal S Parman, Brigadir Jenderal DI Pandjaitan, Brigadir Jenderal Soetojo S, dan Letnan Satu CZI PA Tendean. Juga ada diorama tertembaknya Ajun Inspektur Polisi Tingkat I KS Tubun yang saat itu bertugas di rumah kediaman Waperdam II DR Leimena. Foto-foto kesepuluh Pahlawan Revolusi dipajang pada sebuah dinding Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti Jakarta.

Untuk menuju ke Museum Paseban, jika menggunakan kendaraan umum, pengunjung bisa naik Mikrolet M28 jurusan Kampung Melayu - Pondok Gede. Bisa pula naik Angkutan Kota jurusan Cililitan - Pondok Gede KWK Chandra 05; jurusan UKI - Pondok Gede - Pasar Rebo KWK 461; dan jurusan Kampung Rambutan - Pondok Gede - Ujung Aspal Kranggan K06. Untuk Metro Mini bisa naik T45 jurusan Pulo Gadung - Pondok Gede - Taman Mini Indonesia Indah. Pengunjung bisa naik Bus TransJakarta dan turun di Halte Pinang Ranti, dilanjutkan dengan angkot ke arah Pondok Gede.

Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti

Alamat : Jl Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Telp 021 8400423. Lokasi GPS : -6.2907101, 106.9075325, Waze. Jam Buka : 08.00 - 15.30, kecuali Senin. Libur nasional buka. Tiket Masuk : Rp4.000, pelajar Rp2.500. Mobil Rp15.000, sepeda motor Rp5.000, bus Rp25.000. Pemutaran film Rp75.000, lebih dari 50 orang Rp1.500 per orang. Setiap 5 Oktober dan 10 November gratis, kecuali parkir dan film. Pemandu Rp75.000 per bus, pemandu bahasa Inggris Rp100.000.

Galeri Foto Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti

Diorama pertama Museum Paseban adalah mengenai rapat-rapat persiapan pemberontakan G30S/PKI, diantaranya menghasilkan pembentukan Biro Khusus PKI yang diketuai Syam Kamaruzaman, beranggotakan Pono dan Waluyo, langsung dibawah Ketua PKI DN Aidit. Sekembalinya dari RRC pada Agustus 1965, Aidit memerintahkan Kamaruzaman menyusun konsep gerakan militer untuk melakukan pukulan pada apa yang mereka sebut sebagai "Dewan Jenderal". Syam juga diberi tugas menyusun konsep "Dewan Revolusi" sebagai lembaga tertinggi negara setelah PKI merebut kekuasaan.

Konsep gerakan militer itu diselesaikan Syam pada bulan Agustus 1965 dan dilaporkan ke DN Aidit. Isinya adalah : pertama, gerakan militer terbatas; kedua, sasaran utamanya Dewan Jenderal; ketiga, menguasai instalasi vital seperti RRI, PTT (Telkom), PJKS; keempat, calon pemimpin gerakan adalah Letkol Untung S, Kolonel Inf Latief, dan Mayor (U) Suyono; kelima, organisasi gerakan terbagi tiga yaitu militer, politik, dan observasi; keenam, memanggil kepala Biro Khusus Daerah untuk menerima instruksi Syam tentang persiapan dan kesiapan akhir kekuatan yang akan digunakan.

Pada September 1965, Aidit memerintahkan Syam menyusun rencana pemberontakan. Gerakan perebutan kekuasaan akan dipimpin langsung Aidit, Syam sebagai pimpinan pelaksana, Pono wakil pimpinan, dan Bono pimpinan pelaksana observasi. Syam melakukan rapat 16 kali dengan Pono, Waluyo, anggota Pimpinan Biro Khusus Pusat, Kepala Biro Khusus Daerah, dan para oknum ABRI binaan PKI. Kesimpulan rapat : gerakan harus dibantu dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam rapat dengan oknum ABRI dibahas pelaksanaan yang meliputi personel, logistik, pembagian tugas, pembagian sektor, sasaran gerakan, dan konsep "Dewan Revolusi". Rapat terakhir pada 29 September 1965 memutuskan nama "Gerakan 30 September", hari H dan jam J tanggal 1 Oktober 1965 dini hari. Sasaran pertama adalah menculik tujuh Perwira Tinggi TNI-AD.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama ini memperlihatkan kegiatan ketika berlangsung latihan para sukarelawan PKI (Sukta, Sukarelawan Kita) di daerah Lubang Buaya yang berlangsung dari 5 Juli hingga 30 September 1965. Latihan dilakukan dengan dalih dalam rangka konfrontasi terhadap Malaysia dan mengganyang Nekolim (Neo Kolonialisme), dengan mengajarkan baris berbaris, bongkar pasang senjata, dan teknik bertempur. PKI juga menuntut dibentuknya Angkatan ke-5 dengan mempersenjatai buruh dan petani, yang dicetuskan Aidit, meniru konsep RRC.

museum paseban monumen pancasila sakti

Sudut pandang berbeda pada diorama latihan di Lubang Buaya. Para sukarelawan terdiri dari pemuda pemudi PKI, buruh, tani, dan kelompok lain di dalam partai. Jumlah seluruhnya ada 3.700 orang yang dibagi dalam tujuh gelombang. Ada pula latihan di Rawa Binong, sekitar 2 km dari Lubang Buaya, khusus untuk melatih 26 orang kader-kader khusus PKI. Latihan mendapat dukungan Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan Udara Mayor Udara Sudjono berupa peralatan, makanan, dan pakaian.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama selanjutnya memperlihatkan peristiwa ketika jenazah para perwira Angkatan Darat sedang dimasukkan ke dalam sumur maut di Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965. Di sumur yang berdiameter 75 cm dengan kedalaman 12 meter itu jenazah dimasukkan dengan posisi kepala berada di bawah. Setelah semua jenazah dimasukkan ke dalam sumur, dilakukan penembakan ke dalam sumur secara beruntun. Sumur kemudian ditimbun dengan tanah dan sampah untuk menghilangkan jejak.

museum paseban monumen pancasila sakti

Sudut pandang berbeda pada diorama dimasukkannya jenazah perwira Angkatan Dara ke sumur maut. Tiga dari tujuh jenderal yang diculik, tiga diantaranya dibunuh di rumah kediaman mereka, yaitu Letjen Ahmad Yani, Mayjen MT Harjono, dan Brigjen DI Pandjaitan. Keempat jenderal lainnya, yaitu Mayjen R Soeprapto, Mayjen S Parman, Brigjen Soetoyo, dan Lettu PA Tendean disiksa dan dibunuh secara kejam di dalam sebuah rumah di Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi yang memperlihatkan kondisi sumur maut setelah pengangkatan jenazah. Ketika dimasukkan ke dalam sumur maut tua itu, jenazah Mayjen R Soeprapto dan Mayjen S Parman diikat menjadi satu.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama yang menggambarkan keadaan ketika dilakukan operasi pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma pada tanggal 2 Oktober 1965, sebagai bagian dari operasi penumpasan pemberontakan G30S/PKI. Operasi ini bertujuan untuk membebaskan pangkalan udara dari tangan pemberontak, serta mencari lokasi disembunyikannya para perwira TNI AD yang diculik.

museum paseban monumen pancasila sakti

Sudut pandang lainnya pada diorama Pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta. Pada pukul 01.00 tanggal 2 Oktober 1965, Pangkostrad mengeluarkan perintah untuk segera mengamankan Lanuma Halimperdanakusuma, karena diduga kekuatan G30S/PKI dari Batalyon 454/Diponegoro, 1kompi Batalyon 530/Brawijaya, dan kesatuan Brigif 1 Kodam V/Jaya berpusat di sana. Pasukan yang diberi tugas adalah dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dibawah pimpinan Kolonel Inf Sarwo Edhi Wibowo yang bermarkas di Cijantung. Pasukan itu diperkuat dengan 1 Batalyon 328/Siliwangi, 1 kompi tank dan 1 kompi panser Batalyon Kavaleri I. Pasukan diperintahkan untuk menghindari pertumpahan darah, pengrusakan pesawat dan aset negara lainnya yang berada di sekitar pangkalan.

museum paseban monumen pancasila sakti

Pandangan lainnya pada diorama Pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma. Pada pukul 03.00 tanggal 2 Oktober 1965, pasukan mulai bergerak dari Markas Kostrad di Jl Merdeka Timur melalui Patung Pak Tani ke arah Senen, lalu Jatinegara, Klender, dan selanjutnya menuju Halim PK.

Pasukan tiba di lokasi pada pukul 06.00 dan terjadilah tembak menembak yang membawa korban tewas 2 orang anggota TNI AU, yaitu Sertu Supardi dan Pratu Toegimin di Depo Perminyakan. Pertempuran lebih besar bisa dihindari setelah terjadi komunikasi antara pimpinan RPKAD, Lanuma Halim PK dan Batalyon 454/Diponegoro. Tembak menembak bisa dihentikan atas jasa Komodor Dewanto dan Kapten Udara Kundimang.

Pasukan RPKAD akhirnya menguasai hanggar Skuadron 31/Angkut Berat, hanggar Skuadron 3/Angkut Sedang, hanggar Skuadron 17/VIP, Menara, dan fasilitas pangkalan lainnya. Pasukan pemberontak akhirnya dibubarkan oleh komandan masing-masing dan melarikan diri keluar dari Halim PK. Pada pukul 06.10 Pasukan RPKAD dan pasukan pendukung berhasil mengamankan Lanuma Halim PK dari tangan pasukan G30S/PKI.

museum paseban monumen pancasila sakti

Tulisan pada akrilik yang dipasang pada salah satu dinding Museum Paseban, merupakan cuplikan pidato Jenderal AH Nasution pada upacara pemberangkatan Jenazah Tujuh Pahlawan Revolusi di MBAD, pada tanggal 5 Oktober 1965.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama di Museum Paseban yang memperlihatkan suasana ketika berlangsung proses pengangkatan jenazah dari sumur maut yang dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1965. Penemuan lokasi penculikan diperoleh atas informasi dari Agen Polisi Tingkat II Sukiman yang ikut diculik dalam peristiwa G30S/PKI namun ia berhasil meloloskan diri. Lokasi sumur tua ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 sekitar pukul 16.00 oleh Pasukan RPKAD dibawah pimpinan Danyon I Mayor CI Santoso.

museum paseban monumen pancasila sakti

Sudut pandang berbeda pada diorama pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi. Proses penggalian dibantu oleh warga sekitar, dan setelah dipastikan bahwa di dalam sumur terdapat jenazah maka penggalian dihentikan karena hari sudah larut malam.

Proses pengangkatan jenazah dipimpin langsung oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto, dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1965 oleh Pasukan RPKAD dan KIPAM (Kesatuan Intel Para Amphibi) KKO AL dibawah pimpinan Kapten KKO Winanto karena sumurnya dalam dan berbau busuk. Peralatan utama yang digunakan adalah peralatan selam berupa masker, tabung gas, dan tali tambang.

Jenazah pertama yang bisa diangkat adalah Lettu PA Tendean pada pukul 12:05, dan pada pukul 12:30 berhasil diangkat dua jenazah yang terikat menjadi satu yaitu Mayjen S Parman dan Mayjen R Soeprapto. Selanjutnya berturut-turut diangkat jenazah Mayjen MT Haryono, dan Brigjen Soetojo S. Pada pukul 13:20 berhasil diangkat jenazah Letjen A Yani, dan pada pukul 13:40 diangkat jenazah Brigjen DI Pandjaitan. Jenazah selanjutnya dibawa ke RSPAD Gator Subroto untuk dilakukan visum.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi yang memperlihatkan suasana ketika dilakukan pengangkatan jenazah Brigjen Soetojo S di sumur maut Lubang Buaya, Jakarta.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi yang sama yang diambil pada hari kunjungan yang berbeda ke Museum Paseban. Jenazah Brigjen Soetojo merupakan jenazah yang kelima yang diangkat dari lubang sumur maut.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi lainnya yang memperlihatkan suasana ketika jenazah ditarik dari sumur maut dengan tali tambang setelah sebelumnya diikat oleh personel dari Kesatuan Intai Para Amphibi KKO AL.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto yang sama namun diambil pada hari yang berbeda, memperlihatkan proses pengangkatan jenazah dari sumur maut Lubang Buaya. Terlihat ada banyak orang yang menutup hidungnya karena tidak tahan dengan bau yang berasal dari jenazah yang telah berada di dalam sumur selama sekitar 3 hari.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi di Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti yang memperlihatkan iring-iringan kendaraan panser yang membawa jenazah Pahlawan Revolusi ketika melintas di Jl Thamrin dalam perjalanan menuju ke TMP Kalibata.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi ketika tengah berlangsung persiapan pemberangkatan jenazah dari MBAD ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama yang menggambarkan rakyat berdiri di tepian jalan melihat iringan panser yang membawa peti jenazah tujuh Pahlawan Revolusi. Upacara pemberangkatan jenazah berlangsung di Markas Besar Angakatn Darat (MBAD) berlangsung pada 5 Oktober 1965, dipimpin oleh Menko Hankam / Kasab Jenderal AH Nasution yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Tepata pada pukul 10.00, dengan diiringi tembakan salvo dan bunyi genderang, panser Saracen yang membawa jenazah diberangkatkan dari MBAD menuju ke TMP Kalibata. Konvoi didahului barisan kendaraan pengawal kehormatan, diikuti panser yang membawa jenazah Letjen A Yani yang dijaga Letjen Djatikusumo dan panser yang membawa jenazah lainnya.

Perjalanan konvoi dimulau dari Jl Medan Merdeka Timur, melewati Jl Cikini Raya, Salemba Raya, Matraman Raya, Jatinegara, Cawang, Pancoran, dan berakhir di TMP Kalibata, yang memakan waktu sekitar 2 jam. Saat memasuki gerbang TMP Kalibata, jenazah Pahlawan Revolusi mendapat pengawalan kehormatan dari Kavaleri TNI-AD dan Taruna AKABRI. Bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman adalah Mayjen Soeharto.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama usaha penculikan yang gagal terhadap Jenderal AH Nasution, menggambarkan saat ia tengah melompati tembok dan kemudian terjatuh di Kedutaan Irak yang membuat kakinya terkilir, namun selamat dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh G30S/PKI.

Pasukan yang bertugas menculik Jenderal AH Nasution berangkat dari Lubang Buaya menggunakan 3 buah truk sekitar jam 03.00 dini hari tanggal 1 Oktober 1965, dipimpin Pelda Djahurub dari Resimen Cakrabirawa terdiri dari 1 peleton Brigif 1 Kodam V/Jaya, 1 peleton dari Yon 454/Diponegoro, 1 peleton PGT, dan 1 peleton sukarelawan. Pasukan yang berkekuatan sekitar 100 orang ini merupakan pasukan terbesar oleh sebab Jenderal AH Nasution dianggap merupakan sasaran yang paling penting.

Sebelum masuk ke rumah Jenderal AH Nasution, gerombolan penculik melumpuhkan regu pengawal rumah Wakil Perdana Menteri II Dr Leimena yang berdekatan lokasinya dengan rumah Jenderal AH Nasution. Saat itulah Aipda Karel Satsuit Tubun tewas ditembak oleh salah satu anggota pasukan penculik. Di rumah di Jalan Teuku Umar No 40 Jakarta itu, sekitar 30 pasukan penculik bergerak masuk ke dalam pekarangan, melumpuhkan para penjaga, 15 penculik masuk ke dalam, lainnya mengepung rumah dan memblokir jalan. Kisah selanjutnya bisa dibaca di Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama yang menggambarkan ketika Letjen A Yani ditembak oleh penculik di rumahnya. Pasukan yang bertugas untuk menculik A Yani dipimpin oleh Peltu Mukidjan berkekuatan 1 peleton Brigif 1 Kodam V/Jaya, 1 peleton Batalyon 454/Diponegoro, 1 regu Cakrabirawa, 1 peleton Batalyon 540/Brawijaya, 1 regu Pasukan Gerak Cepat, dan 2 regu sukarelawan. Mereka berangkat dengan menggunakan dua buah truk dan dua buah bus.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama yang sama dengan sudut pandang sedikit berbeda. Di rumah Letjen A Yani di Jl Lembang D58 Jakarta, pasukan penculik melucuti regu penjaga, dan mengetuk pintu rumah yang dibukakan oleh putra Letjen A Yani bernama Edi yang saat itu berumur 7 tahun. Pimpinan pasukan kemudian menyuruh Edi untuk membangunkan ayahnya dan memberitahunya bahwa ada utusan presiden yang memerintahkan untuk datang ke istana.

Masih dengan mengenakan piyama, A Yani menemui para penculik. Sersan Raswad mengatakan bahwa Letjen A Yani diperintahkan segera menghadap presiden. Letjen A Yani menyanggupi dan akan mandi lebih dulu. Namun ketika Letjen A Yani membalikkan badan, Praka Dokrin mengatakan tidak perlu yang menimbulkan kemarahan A Yani dan langsung menamparnya.

Selanjutnya Letjen A Yani kembali ke dalam rumah dan menutup pintu. Saat itulah Sersan Raswad memerintahkan Kopda Gijadi yang berdiri di samping Praka Dokrin untuk menembak Letjen A Yani dengan senapan Thomson hingga tewas. Jenazah diseret oleh Praka Wagimin dan dilemparkan ke dalam salah satu truk untuk selanjutnya dibawa ke Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi yang memperlihatkan Letjen A Yani dalam sebuah kunjungan di luar negeri. Ahmad Yani dikenal dekat dengan Presiden Soekarno, dan bahkan pernah disebut-sebut sebagai pengganti yang dipilih olehnya. Sikapnya yang tegas dalam menentang usulan PKI untuk membentuk Angkatan V menjadikannya salah target utama gerakan G30S/PKI.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dari jaman penjajahan Jepang yang memperlihatkan Shodantyo Ahmad Yani berdiri di tengah, dan di sebelah kirinya adalah Shodantyo Sarwo Edhi Wibowo.

museum paseban monumen pancasila sakti

Dokumentasi foto di Museum Paseban yang memperlihatkan suasana akrab saat Mayjen R Soeprapto menerima seorang tamu dari luar negeri.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama penculikan Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat Mayjen R Soeprapto yang dilakukan di rumahnya di Jl Besuki No 19, Jakarta Pusat. Pasukan penculik berkekuatan 2 regu, yang masing-masing dipimpin oleh Serka Sulaiman dan Serda Sukiman. Pasukan ini merupakan bagian dari Pasukan Pasopati yang bertugas menculik para jenderal Angkatan Darat dibawah pimpinan Lettu Dul Arief yang juga ikut berada di dalam pasukan penculik Mayjen R Soeprapto.

Ketika penculik membuka pintu pagar, Mayjen Soeprapto belum tidur karena sedang sakit gigi dan ia menanyakan siapa di luar, dijawab bahwa mereka anggota pasukan Cakrabirawa. Tanpa curiga Mayjen R Soeprapto membuka pintu rumah, dan Serka Sulaiman pun mengatakan bahwa Mayjen R Soeprapto diperintahkan untuk segera menghadap presiden, yang disanggupi dan akan mengganti pakaian dahulu. Namun para penculik tidak mengijinkan dan Mayjen R Soeprapto dipaksa untuk berjalan keluar, lalu memaksanya naik ke salah satu truk yang sudah menunggu untuk selanjutnya dibawa ke Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi Mayjen MT Haryono beserta keluarganya. Saat peristiwa G30S/PKI, MT Haryono menjabat sebagai Deputi III Men/Pangad dan ia sangat menentang rencana PKI untuk menasakomkan ABRI dan menentang rencana PKI untuk membentuk Angkatan ke-V. Karenanya ia menjadi target yang harus dlenyapkan.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi yang memperlihatkan ketika dilakukan rekonstruksi penculikan Mayjen MT Haryono. Operasi penculika dilakukan pada 1 Oktober 1965 dinihari, dipimpin Serka Bungkus dari Resimen Cakrabirawa berkekuatan 3 regu dari Batalyon 530/Brawijaya. Pada pukul 03.30 para penculik berangkat dari Lubang Buaya menuju rumah MT Haryono di Jl Prambanan No 8, Jakarta.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama yang menggambarkan penculikan Mayjen MT Haryono. Setiba di rumah sasaran, pemimpin penculikan mengetuk pintu rumah yang dibuka oleh isteri Mayjen MT Haryono. Serka Bungkus mengatakan bahwa Mayjen MT Haryono diperintahkan untuk segera menghadap presiden, namun melaui isterinya ia menolak dan meminta mereka kembali lagi pada pukul 08.00, namun pimpinan penculik tetap memaksa. Setelah mendengar jawaban dari para penculik melalui isterinya, Mayjen MT Haryono mulai merasa curiga, dan menyuruh isteri serta anak-anaknya pindah ke kamar sebelah.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama penculikan Mayjen MT Haryono dengan sudut pandang sedikit berbeda. Para penculik yang marah berteriak agar Mayjen MT Haryono keluar dari rumah, dan akhirnya mereka mendobrak dan menembaki pintu kamar hingga terbuka, dan dalam keadaan kamar yang gelap para penculik masuk ke dalam kamar dalam dengan senjata siap tembak.

Salah seorang penculik kemudian membakar surat kabar untuk menerangi kamar, saat itulah Mayjen MT Haryono berusaha merebut senjata salah satu penculik namun gagal, bahkan ia ditikam dengan sangkur oleh penculik lainnya. Tembakan Serka Bungkus akhirnya menewaskan Mayjen MT Haryono. Jenazah kemudian dilemparkan ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama penculikan Mayjen S Parman yang terjadi pada dinihari 1 Oktober 1965 di rumah kediaman Jl Serdang No 32, Jakarta Pusat. Pasukan penculik dibawah pimpinan Serma Satar terdiri dari 1 regu pasukan Cakrabirawa dan 1 regu Batalyon 530/Brawijaya. Mendengar suara gaduh di luar, Mayjen S Parman terbangun dan membangunkan pula isterinya karena mengira ada pencurian di rumah tetangga. Mayjen S Parman yang kemudian membuka pintu rumah merasa heran karena ada banyak pasukan Cakrabirawa di halaman rumahnya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Sebagaimana di tempat penculikan lainnya, pemimpin penculik mengatakan bahwa Mayjen S Parman diperintahkan untuk segera menghadap presiden karena keadaan negara sedang genting. Mayjen S Parman menyanggupi dan masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh para penculik dengan sangkur terhunus. Karena curiga, isteri Mayjen S Parman menanyakan surat perintah mereka, dan Mayjen S Parman meminta isterinya untuk melaporkan kepada Me/Pangad Letjen Ahmad Yani. Namun ketika hendak menelpon, salah seorang penculik mengambil pesawat telpon secara paksa hingga kabelnya putus. Mayjen S Parman kemudian dipaksa masuk ke dalam kendaraan dan dibawa ke Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama penculikan Brigjen DI Pandjaitan yang terjadi di rumahnya di Jl Sultan Hasanuddin No 52, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasukan penculik berkekuatan 1 regu dari Brigif I Kodam V/Jaya, dan 1 regu dari Yon 454/Diponegoro dibawah pimpinan Serma Sukardjo. Pasukan penculik mengepung rumah, melompati pagar halaman sebelah kiri, berjalan cepat menuju ke paviliun dan membuka pintunya secara paksa dengan tembakan.

museum paseban monumen pancasila sakti

Pasukan penculik mengancam keluarga dan menembak ke segala arah yang mengakibatkan salah satu anggota keluarga tewas dan perabotan rumah hancur. Para penculik memerintahkan Brigjen DI Pandjaitan turun untuk segera menghadap presiden. Dibawah todongan senjata, Brigjen DI Pandjaitan berjalan keluar rumah dengan mengenakan pakaian seragam lengkap dihiasi tanda jasanya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Dalam kondisi mencekam Brigjen DI Pandjaitan sempat berdoa. Karena mendapat perlakuan kasar dan penghinaan, Brigjen DI Pandjaitan mencabut pestol hendak menembak, namun ia lebih dulu ditembak kepalanya hingga tewas. Merasa belum puas, para penculik masih menembaki tubuhnya, lalu menyeret tubuhnya dan dilemparkan ke dalam truk untuk dibawa ke Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama penculikan dan pembunuhan Brigjen DI Pandjaitan dengan sudut pandang sedikit berbeda dari foto sebelumnya. Sebagai salah satu pahlawan revolusi Indonesia, Brigjen Donald Isaac Pandjaitan mendapatkan kenaikan pangkat secara anumerta menjadi Mayor Jenderal TNI. DI Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, pada tanggal 19 Juni 1925.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi Brigjen DI Pandjaitan bersama keluarga, dan sewaktu ia bertugas sebagai Atase Pertahanan di Jerman Barat pada tahun 1956.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi ketika Brigjen Soetojo S bertugas sebagai Atase Pertahanan RI di Inggris pada tahun 1956.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi Brigjen Soetojo S bersama isterinya. Sutoyo Siswomiharjo lahir di Karanganyar, Kebumen, pada 28 Agustus 1922 dan wafat dibunuh oleh G30S/PKI pada 1 Oktober 1965.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama penculikan Brigjen Soetojo S yang terjadi pada 1 Oktober 1965 dinihari di rumahnya di Jalan Sumenep No 17 Jakarta. Saat itu jabatan Brigjen Soetojo S adalah sebagai Oditur Jenderal Militer / Inspektur Kehakiman Angkatan Darat. Pasukan penculik berangkat dari Lubang Buaya dengan kekuatan 1 peleton Resimen Cakrabirawa yang dipimpin Serma Surono, dibagi dalam 3 regu yang masing-masing dipimpin oleh Serda Soedibjo, Serda Ngatidjo, dan Kopda Dasuki.

museum paseban monumen pancasila sakti

Segera setelah tiba di rumah target, pasukan penculik segera menyebar sesuai rencana. Regu 1 yang bertugas menculik Brigjen Soetojo S masuk dari arah depan dan belakang rumah. Karena mendengar suara gaduh, Brigjen Soetojo S terbanguan dan menanyakan identitas mereka dari dalam rumah dan dijawab bahwa mereka tamu dari Malang, lalu mengatakan lagi bahwa mereka hansip dari Hotel Indonesia. Sebagian penculi lewat pintu samping masuk ke dalam garasi dan memaksa pembantu rumah untuk menyerahkan kunci ruang tengah.

Selanjutnya mereka menggedor kamar tidur dan mendesak dengan keras agar pintu kamar dibuka. Ketika Brigjen Soetojo S membukakan pintu, 2 orang penculik yaitu Serda Sudibyo dan Pratu Sumardi masuk dan menyampaikan perintah kepada Brigjen Soetojo S untuk segera menghadap presiden. Kedua penculik segera mengapit Brigjen Soetojo S dan membawanya keluar rumah untuk dinaikkan ke dalam kendaraan dan selanjutnya dibawa ke Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi yang memperlihatkan Mayor Taruna PA Tendean (duduk paling kanan) yang pernah mengikuti operasi penumpasan PRRI di Sumatera Barat sebagai anggota zeni tempur.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama penculikan Letnan Satu CZI PA Tendean yang terjadi pada 1 Oktober 1965 dinihari di rumah Jenderal AH Nasution. Ketika mendengar suara letusan senjata, PA Tendean, ajudan Jenderal AH Nasution yang pada saat itu tidur di paviliun, terbangun dan langsung keluar dengan mengenakan celana hijau, jaket coklat dan membawa senjata garand. Namun begitu sampai di halaman rumah ia langsung disergap dan dilucuti senjatanya oleh pasukan penculik karena dikira sebagai Jenderal AH Nasution.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi Lettu CZI PA Tendean. Pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965 itu, pasukan penculik bertanya kepada para penjaga yang sudah dilucuti tentang kebenaran bahwa mereka telah menangkap Jenderal AH Nasution, namun tidak ada yang menjawab. Setelah melihat Lettu CZI PA Tendean, pemimpin penculik, Pelda Djahurup, merasa yakin bahwa yang ditangkap adalah jenderal AH Nasution dan meniup peluit tanda berkumpul. Lettu CZI PA Tendean digiring dengan tangan terikat ke belakang dan didorong dengan todongan senapan laras panjang untuk masuk ke dalam kendaraan dan dibawa ke Lubang Buaya.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi ini adalah Ajun Inspektur Polisi Tingkat I KS Tubun yang tewas pada 1 Oktober 1965 dinihari oleh tembakan pasukan penculik yang sedianya menculik Jenderal AH Nasution.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto dokumentasi yang memperlihatkan suasana ketika jenazah Aip Tk II Anumerta KS Tubun disemayamkan di Markas Besar Kepolisian RI sebelum dimakamkan.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama yang menggambarkan suasana saat tertembaknya Ajun Inspektur Polisi Tingkat I KS Tubun. Pasukan yang ditugaskan menculik Jenderal AH Nasution menyebar di sekitar rumah untuk mengamankan jalanannya operasi penculikan, dan sebagian dari mereka masuk ke halaman rumah Wakil Perdana Menteri II Dr Leimena di Jl Teuku Umar No 34 Jakarta yang letaknya berdekatan dengan rumah Jenderal AH Nasution.

museum paseban monumen pancasila sakti

Pasukan penculik yang masuk halaman kediaman Waperdam II Dr Leimena bertemi dengan salah seorang regu pengawal rumah, yaitu Ajun Inspektur Polisi Tingkat I Karel Sasuit Tubun yang sedang bertugas jaga dan bersenjata. Pasukan penculik berusaha merebut senjatanya namun KS Tubun melawan dan ia pun ditembak dari jarak dekat sehingga tewas seketika.

museum paseban monumen pancasila sakti

Diorama yang menggambarkan setelah Ade Irma Suryani Nasution tertembak oleh pasukan yang hendak menculik Jenderal AH Nasution. Ketika pada 1 Oktober 1965 dinihari mendengar suara tembakan di dalam rumah, ibunda Jenderal AH Nasution dan adik perempuannya yang bernama Mardiyah segera masuk ke dalam kamar Jenderal AH Nasution melalui pintu samping. Mardiyah dengan cepat menggendong Ade Irma untuk diselamatkan ke kamar sebelah. Namun karena panik, Mardiyah justru membuka pintu utama kamar dan ketika melihat pintu terbuka salah satu anggota pasukan Cakrabirawa langsung menembak beberapa kali yang tiga diantara pelurunya mengenai Ade Irma Suryani Nasution.

Isteri Jenderal Nasution kemudian mengambil anaknya yang berlumur darah dari gendongan Mardiyah. Sementara luka di perut dan paha Ade Irma masih terus mengeluarkan darah, istri Jenderal AH Nasution berusaha menelpon Pangdam V/Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah, namun kabel telepon telah diputus oleh penculik. Ad Irma kemudian dirawat di RSPAD selama enam hari, dan pada 6 Oktober 1965 pukul 21.00 ia meninggal dunia dan dimakamkan di TPU Blok P Kebayoran Baru Jakarta Selatan dengan upacara militer yang dipimpin oleh Pangdam V/Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah.

museum paseban monumen pancasila sakti

Foto empat dari sepuluh Pahlawan Revolusi yang dipajang di dinding Museum Paseban, yaitu Men/Pangad Letjen Ahmad Yani, Deputi II Men/Pangad Mayjen R Soeprapto, Deputi III Men/Pangad Mayjen Haryono MT, dan Asisten I Men/Pangad Mayjen S Parman.

museum paseban monumen pancasila sakti

Tiga dari sepuluh Pahlawan Revolusi lainnya, yaitu Asisten IV Men/Pangad Brigjen DI Pandjaitan, Oditur Jenderal Inspektur Kehakiman TNI AD Brigjen Soetojo S, dan Ajudan Menko Hankma / Kasab Lettu PA Tendean.

museum paseban monumen pancasila sakti

Tiga Pahlawan Revolusi berikutnya, yaitu Danrem 072/Pamungkas Yogyakarta Kol Katamso D, Kasrem 072/Pamungkas Yogyakarta Letkol Sugiyono M, dan Anggota Brimob Kodak VII Metro Jaya Brigadir Pol KS Tubun.

museum paseban monumen pancasila sakti

Deretan foto kesepuluh Pahlawan Revolusi di Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti.

museum paseban monumen pancasila sakti

Tulisan tentang pemberontakan G30S/PKI yang dipasang di sebelah pintu masuk Ruang Teater Museum Paseban.

museum paseban monumen pancasila sakti

Seperangkat meja kursi di ruang VIP Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti.

museum paseban monumen pancasila sakti

Layar lebar dan proyektor yang digunakan untuk menghadirkan film dokumenter tentang peristiwa G30S/PKI yang berdurasi 30 menit. Untuk sekali pemutaran, pengunjung harus membayar Rp75.000, dan jika lebih dari 50 orang maka membayar Rp1500 per orang.

museum paseban monumen pancasila sakti

Jadwal menonton film untuk perorangan dengan dua jadwal tayang, yaitu pukul 11.00 dan pukul 13.00, per orang membayar Rp5.000. Namun saya tak ingat benar apakah ini jadwal tayang di Museum Paseban atau di teater yang ada di Ruang Relik di belakang Museum Paseban.

museum paseban monumen pancasila sakti

Pada 11 Maret 1966 Kabinet Dwikora bersidang di Istana Negara, ditengah memuncaknya demonstrasi mahasiswa yang menuntut pembubaran PKI, pembersihan kabinet dari oknum-oknum G.30.S/PKI dan penurunan harga. Presiden Soekarno yang mendapat laporan bahwa istana dikepung oleh pasukan tidak dikenal, segera meninggalkan sidang dan berangkat ke Istana Bogor. Tiga orang perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yaitu Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen M. Yusuf dan Brigjen Amir Machmud menyusul ke Bogor setelah melapor kepada Men/Pangad Letjen Soeharto.

Mereka meyakinkan Presiden bahwa tidak benar ada pasukan tanpa identitas mengepung Istana dan menyampaikan pesan Letjen Soeharto yang sanggup mengatasi keadaan apabila Presiden memberinya kepercayaan untuk tugas itu. Dari laporan itu lahir ide untuk memberikan Surat Perintah kepada Letjen Soeharto. Presiden Soekarno memerintahkan ketiga perwira tinggi itu menyusun konsep surat perintah. Konsep itu kemudian dibaca oleh tiga orang Wakil Perdana Menteri yang juga berada di Istana Bogor.

Surat perintah yang kemudian dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau “Supersemar” berisi pemberian wewenang kepada Letjen Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu guna terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Malam itu juga SP 11 Maret disampaikan kepada Letjen Soeharto di Jakarta.

museum paseban monumen pancasila sakti

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting,Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑