Museum Peranakan Tionghoa TMII Jakarta

January 16, 2019. Label:
Museum Peranakan Tionghoa TMII Jakarta merupakan salah satu dari sekian banyak museum yang berada di dalam kawasan Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta Timur. Museum ini menempati gedung yang sama dengan Museum Cheng Ho, tanpa ada pembatas yang jelas diantara keduanya.

Yang membedakan keduanya hanyalah dari jenis koleksi yang dipamerkan dimana Museum Peranakan Tionghoa memamerkan jenis benda dan informasi yang cakupannya lebih luas dan lebih umum tentang keturunan Cina yang datang dan ada di Indonesia ketimbang hanya yang terkait dengan sosok Laksamana Cheng Ho.

Museum Peranakan Tionghoa berada di dalam bangunan seluas 680 m2 dengan gaya arsitektur campuran Cina, Belanda dan Melayu. Atap bangunannya yang berbentuk pelana merupakan ciri khas atap rumah Cina, dan taman terbuka di dalam rumah merupakan ciri khas bangunan peranakan Tionghoa di Indonesia.

museum pernakanan tionghoa tmii

Lampion, uang kepeng berukuran besar serta sepasang barongsay yang terlihat sudah mulai kusam diletakkan di dekat pintu masuk Museum Peranakan Tionghoa TMII Jakarta. Barongsai itu merupakan sumbangan dari Perkumpulan Barongsai Kong Ha Hong dari marga Huang - Kong Hu yang diberikan dalam rangka perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2014. Di bagian tengah uang kepeng yang lebih menyerupai loyang itu terdapat gambar Garuda Pancasila.

Foto-foto bangunan lawas bergaya Cina terlihat di sejumlah titik di dalam ruangan museum, cukup menarik diantara koleksi lainnya. Museum Peranakan Tionghoa dikelola oleh Yayasan Lestari Budaya Tionghoa Indonesia (YLBTI), sebuah perkumpulan nirlaba yang didirikan oleh keturunan Cina yang memiliki kepedulian pada pelestarian seni budaya Cina di Indonesia.

Istilah peranakan pertama kali muncul pada abad ke-18, ketika pemerintah kolonial Belanda menggunakan istilah itu untuk menyebut para imigran dari China yang sudah membaur dan berakulturasi dengan kebudayaan setempat. Mereka kebanyakan berasal dari bagian selatan Provinsi Hokkian (Fujian). Istilah peranakan saat itu juga dipakai untuk membedakan orang Cina yang beragama Islam dengan yang bukan.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster dengan foto di bawahnya yang memberi keterangan ringkas mengenai Museum Peranakan Tionghoa. Museum ini menyimpan dan memamerkan foto dan artefak yang menjadi jejak sejarah serta peran yang disumbangkan oleh masyarakat keturunan Cina yang beremigrasi dan menetap di Indonesia, serta akulturasi budaya Cina dengan budaya suku lainnya di Indonesia. Selain pameran tetap, museum ini juga menyelenggarakan pameran berkala, peragaan adat istiadat serta perayaan hari besar bagi masyarakat Cina.

Belakangan kata peranakan digunakan secara lebih luas untuk menyebut semua keturunan Cina di Indonesia tanpa melihat agamanya. Kaum Cina peranakan lambat laun mengembangkan kebudayaan yang khas, hasil campuran dengan kebudayaan Jawa, Sunda, dan kebudayaan suku serta bangsa lain yang ada di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari peranakan Cina umumnya menggunakan bahasa daerah dan logat setempat dengan fasih, layaknya penduduk lokal.

Ada banyak poster sederhana di Museum Peranakan Tionghoa TMII Jakarta. Salah satunya berisi foto kubur dan informasi tentang Souw Beng Kong yang hidup tahun 1580 - 1644. Selain sebagai penterjemah, ia menjadi penasehat ada istiadat Tionghoa, sebagai saksi di pengadilan, ikut berperan dalam membangun sistem irigasi, kanal, serta merubah daerah rawa-rawa menjadi pasar, permukiman dan kantor. Kuburnya bisa dijumpai di Gg Truna, Jl Pangeran Jayakarta.

Poster lainnya menceritakan kisah yang dialami Nie Hu Kong dalam Peristiwa Angke tahun 1740. Sebagai protes terhadap kenaikan pajak yang tinggi dan sanksi berat pada penduduk keturunan Cina yang dikeluarkan oleh Gubernur VOC Adriaan Valckenier, maka terjadi aksi pembangkangan dan penyerangan oleh laskar Cina terhadap pos-pos VOC di Jatinegara, Tanah Abang, Bekasi, dan Tangerang. Puncaknya, pada tanggal 8 Oktober 1740 mereka menyerang Benteng VOC di Batavia.

Sebagai aksi balasan, pada 9 Oktober 1740 Letnan Gustaaf Willem van Imhoff dan Angkatan Laut Belanda melakukan serangan besar-besaran dengan menggunakan artileri untuk membunuh semua orang Cina di Batavia, termasuk yang sedang dirawat di rumah sakit dan yang sedang dipenjara. Rumah-rumah dihancurkan dengan meriam dan dibakar, termasuk rumah Nie Hu Kong. Ia disiksa dengan cara digantung, tulang kakinya dibor, kemudian dibuang dan meninggal di Ambon. Diperkirakan sekitar 10.000 orang peranakan Cina tewas dalam peristiwa pembantaian ini, dan ribuan lainnya melarikan diri ke berbagai daerah di Jawa.

Poster yang dipamerkan di Museum Peranakan Tionghoa TMII Jakarta ini pada umumnya mencoba mengangkat fakta sejarah tentang peran sejumlah tokoh keturunan Cina yang terjadi sebelum masa pergerakan nasional, juga peran mereka dalam masa pergerakan nasional dan perang kemerdekaan, hingga masa Orde Baru sampai sekarang.

Selain dokumentasi foto, ada pula koleksi yang memperlihatkan peran peranakan Tionghoa dalam kebudayaan dan seni, seperti misalnya contoh-contoh motif Batik Peranakan yang turut memperkaya ragam motif batik Nusantara, Kebaya Nyonya yang digemari berbagai kalangan termasuk orang Belanda, serta patung Fu Lu Shou yang melambangkan "Kebahagiaan", "Kesejahteraan" dan "Umur Panjang". Ada pula sejumlah patung dan keramik kuno dari jaman Dinasti Tang dan dinasti lainnya di Tiongkok.

Museum Peranakan Tionghoa

Alamat : Taman Budaya Tionghoa Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Lokasi GPS : -6.3051519, 106.9037211, Waze. Jam buka : pukul 09.00 - 16.00. Hari Senin dan hari libur TUTUP. Harga tiket masuk : Gratis. Pintu Masuk TMII (3 tahun ke atas) Rp 10.000, mobil Rp 10.000, Bus Rp 30.000, sepeda motor Rp. 6.000, sepeda Rp 1.000.

Galeri Foto Museum Peranakan Tionghoa TMII

Pandangan samping pada sepasang barongsai, sumbangan dari Perkumpulan Barongsai Kong Ha Hong dari marga Huang - Kong Hu yang diberikan dalam perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2014. Di bagian tengah uang kepeng yang lebih menyerupai loyang itu terdapat gambar Garuda Pancasila. Foto lama yang memperlihatkan bangunan bergaya Cina terlihat di latar belakang.

museum pernakanan tionghoa tmii

Sebuah poster berisi foto lama dari sebuah keluarga peranakan Tionghoa di Indonesia. Kata Tionghoa selama beberapa tahun terakhir digunakan secara resmi untuk menggantikan kata Cina oleh sebab konotasi Cina yang cenderung negatif, apalagi ketika Cina sebagai negara masih terbelakang dan dikenal dengan sebutan Negeri Tirai Bambu. Namun kini Cina sebagai negara telah menjadi kekuatan ekonomi raksasa kedua di dunia setelah Amerika, dan produk buatan Cina juga tak kalah mutunya dengan barang-barang yang diproduksi Jepang, Korea, dan negara-negara Barat. Karenanya konotasi negatif kata Cina semakin lama semakin pudar.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster sederhana berisi foto kubur dan informasi tentang Souw Beng Kong yang hidup tahun 1580 - 1644. Peranan dan jasanya dalam pembangunan Kota Batavia diceritakan dalam poster ini. Selain sebagai penterjemah, ia juga menjadi penasehat ada istiadat Tionghoa, sebagai saksi di pengadilan, ikut berperan dalam membangun sistem irigasi, kanal, serta merubah daerah rawa-rawa menjadi pasar, permukiman dan kantor.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster bersisian yang menceritakan kisah yang dialami Nie Hu Kong dalam Peristiwa Angke tahun 1740, dan persitiwa perlawanan Laskar Tionghoa - Jawa dalam melawan serdadu VOC pada tahun 1740-1743. Sebagai protes terhadap kenaikan pajak yang tinggi dan sanksi berat pada penduduk Tionghoa yang dibuat oleh Gubernur VOC Adriaan Valckenier, terjadi aksi pembangkangan dan penyerangan oleh laskar Tionghoa terhadap pos-pos VOC di Jatinegara, Tanah Abang, Bekasi, dan Tangerang. Pada tanggal 8 Oktober 1740 mereka menyerang Benteng VOC di Batavia.

Sebagai aksi balasan, pada 9 Oktober 1740 Letnan Gustaaf Willem van Imhoff dan Angkatan Laut Belanda melakukan serangan besar-besaran dengan menggunakan artileri untuk membunuh semua orang Tionghoa di Batavia, termasuk yang sedang dirawat di rumah sakit dan yang sedang dipenjara. Rumah-rumah dihancurkan dengan meriam dan dibakar, termasuk rumah Nie Hu Kong. Ia disiksa dengan cara digantung, tulang kakinya dibor, kemudian dibuang dan meninggal di Ambon. Diperkirakan sekitar 10.000 orang Tionghoa tewas dalam peristiwa pembantaian ini, dan ribuan lainnya melarikan diri ke berbagai daerah di Jawa.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster yang menceritakan kisah tentang Boven Digoel, tempat pengasingan tokoh pergerakan nasional yang terletak 500 km di sebelah utara Merauke. Selain Hatta, Syahrir, dan tokoh lainnya, rupanya ada beberapa orang keturunan Cina yang juga pernah dibuang ke Digul, yaitu Lie Tiong Sik, Tjan Tok Giap, dan Tjan Tok Gwan.

museum pernakanan tionghoa tmii

Foto yang memperlihatkan rumah yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, dan suasana jalanan di depannya. Gedung tempat dirumuskannya Sumpah Pemuda itu dimiliki oleh seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liong, dan merupakan tempat pemondokan mahasiswa Indonesia yang saat itu bernama Gedung Indonesische Clubgebow.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster yang memperlihatkan foto dokumentasi Koran Sin Po, koran pertama yang memuat syair lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Koran ini didirikan oleh Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie pada Oktober 1910, yang pada awalnya merupakan koran berbahasa Melayu- Tionghoa.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster yang berisi foto dan rumah Djiaw Kie Song, yang pernah digunakan sebagai tempat istirahat sementara bagi Bung Karno, Hatta, dan beberapa keluarga BK lainnya saat 'diculik' oleh para pemuda ke Rengasdengklok menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI. Rumah Babah Djiaw Kie Song kini masih ada, meski lokasinya sudah pindah dari tempat aslinya.

museum pernakanan tionghoa tmii

Foto lawas lainnya yang memperlihatkan rumah milik Sie Kong Liong yang digunakan sebagai tempat diselenggarakannya Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda yang bersejarah itu. Beritanya dimuat di Koran Sin Po, dengan menyebut bahwa lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman yang dikumdangkan untuk pertama kalinya di sana adalah lagu kebangsaan Indonesia.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster lainnya yang berisi foto rumah Babah Djiauw Kie Song, serta kisah penculikan Bung Karno dkk ke Rengasdengklok oleh sebab ketidaksabaran para pemuda dalam menuntuk untuk segera diprkolamasikannya kemerdekaan Indonesia. Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok menjadi penanda peristiwa bersejarah yang terjadi sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI itu.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster tentang BPUPKI dan PPKI serta foto saat Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI dengan disaksikan oleh Mohammad Hatta. Diantara 62 anggota BPUPKI ternyata ada 4 warga keturunan Tionghoa, yaitu Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Ong Tjong Hauw, dan Tan Eng Hoa.

museum pernakanan tionghoa tmii

Pojok ruangan dengan lukisan besar menggambarkan sosok Laksamana Cheng Ho dan patung Fu Lu Shou, tiga dewa yang melambangkan "Kebahagiaan", "Kesejahteraan" dan "Umur Panjang". Pada tembok sebelah kanan ditempel dokumentasi foto saat Presiden RI ke-2 Soeharto berkunjung dan meresmikan Taman Budaya Tionghoa Indonesia pada 3 November 2006.

museum pernakanan tionghoa tmii

Pojok ruangan Museum Peranakan Tionghoa yang memamerkan sejumlah motif Batik Peranakan yang dipengaruhi oleh kepercayaan dan tradisi leluhur orang Cina, yang sesuai ajaran Confucius. Motif Batik Peranakan ada yang berisi lukisan Burung Hong (Feng Huang), raja segala burung yang mampu membebaskan diri dari penderitaan; kupu-kupu yang melambangkan panjang umur, meski kenyataannya umur kupu-kupu umumnya sangat pendek; naga, mahluk yang paling dihormati dalam tradisi Cina; dan Bunga Peony yang disebut sebagai rajanya bunga.

museum pernakanan tionghoa tmii

Contoh Batik Cirebonan dan Batik Pekalongan yang dipengaruhi oleh motif peranakan. Ada pula Kebaya Nyonya, yang pada awalnya berasal dari Kebaya Renda. Adalah orang Indo Belanda yang memperkenalkan Kebaya Renda pada abad ke-19 untuk menyesuaikan pakaian dengan iklim tropis, dengan pola yang merupakan modifikasi dari pakaian Portugis.

museum pernakanan tionghoa tmii

Bahan Kebaya Renda yang putih transparan diimpor dari Eropa dan pinggirannya dihiasi oleh renda Swiss. Pada awal abad ke-20, Kebaya Renda diadopsi oleh para nyonya di Surabaya dengan selera peranakan, yang model itu kemudian menyebar hingga ke Batavia. Ujung bawah kebaya yang rata pada Kebaya Renda diubah menjadi meruncing pada Kebaya Nyonya.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster dan foto tentang Baju Kurung di Museum Peranakan Tionghoa TMII. Wanita peranakan Tionghoa di daerah Jawa, yang sering dipanggil nyonya atau nyonyah oleh orang lokal, mulai menggunakan Baju Kurung dengan sarung batik sejak akhir abad ke-19. Ketika hendak memakainya, baju kurung dimasukkan lewat kepala, seperti ketika orang memakai kaos.

museum pernakanan tionghoa tmii

Sejumlah contoh Batik Peranakan, yang bisa ditemui di daerah Lasem, Cirebon, dan Pekalongan. Umumnya batik jenis ini bernuansa cerah dengan warna dominan merah, kuning, dan motif binatang, tumbuhan, bunga, dan bentuk-bentuk lainnya. Tiga hal yang selalu diharapkan orang peranakan adalah kebahagiaan, kesejahteraan (banyak anak), dan umur panjang (Fu Lu Shou), sehingga dalam membuat motif batik juga merujuk pada ketiga harapan itu agar tak ketiban sial.

museum pernakanan tionghoa tmii

Pandangan lebih dekat pada poster yang berisi narasi tentang Batik Peranakan. Burung Hong (Feng Huang, Phoenix), kupu-kupu, bunga Peony dan naga adalah motif yang sering muncul dalam kain batik peranakan, yang masing-masing memiliki arti filosofis tersendiri.

museum pernakanan tionghoa tmii

Info Jakarta

Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑