Museum Cheng Ho TMII Jakarta

January 02, 2020. Label:
aroengbinang.com -
Bangunan satu lantai Museum Cheng Ho TMII Jakarta berada di ujung belakang area Taman Budaya Tionghoa Indonesia, di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Museum ini berbagi tempat dengan Museum Peranakan Indonesia tanpa adanya sekat pemisah jelas diantara keduanya. Begitu pun bangunannya cukup megah dan anggun dengan ruang terbuka di bagian tengahnya.

Lokasi Museum Cheng Ho TMII Jakarta tepat berada di sebelah kanan bangunan bergaya Tulou (rumah tanah) yang di dalamnya terdapat Museum Tionghoa Indonesia dan Museum Hakka Indonesia. Ketiga museum itu, serta Museum Peranakan Indonesia, beririsan isinya satu dengan yang lainnya, dan saya kira keempatnya masih dalam proses mencari bentuk akhir yang lebih pas.

Pada buku "Zheng He and the Treasure Fleet 1405-1433" karya Paul Rozaria disebut bahwa pada ekspedisi pertama Cheng Ho membawa 317 kapal dengan awak 27.870 orang. Ekspedisi ketiga membawa 48 kapal dengan 30.000 awak, ekspedisi keempat 63 kapal 28.560 awak, dan pada ekspedisi terakhir ada 300 kapal dengan 27.550 awak. Kalau angka ini benar, maka pada ekspedisi ketiga dan keempat tentulah ada kapal-kapal yang berukuran besar. Ada yang menyebut Cheng Ho wafat pada 1433, selama atau segera setelah ekspedisi ke-7, namun ada pula yang meyakini ia meninggal pada 1435.

museum cheng ho tmii jakarta
Patung Laksamana Cheng Ho dengan jubah berkibar yang terbuat dari beton atau semen putih bertekstur halus tampak berdiri di seberang Museum Cheng Ho menghadap ke arah danau, tanpa ada ruang cukup di depan atau samping kiri-kanannya untuk bisa memotret wajah patung. Pengunjung hanya bisa memotretnya dari seberang danau menggunakan lensa tele atau dengan drone.

Di belakang bawah patung terdapat toreh dua aksara Tionghoa, aksara Latin berbunyi Cheng Ho dan tahun 1371 - 1435, yang adalah masa hidupnya selama 64 tahun. Ia juga dikenal sebagai Zheng He, dengan nama Islam Haji Mahmud Shams, sedangkan nama aslinya adalah Ma He atau Ma Sanbao, berasal dari suku Hui, salah satu suku bangsa terbesar di Tiongkok yang secara fisik mirip dengan suku Han namun dengan cara hidup berbeda dan beragama Islam.

Suku Hui merupakan keturunan kawin campur suku Han dengan bangsa Persia dan Arab yang berlangsung sejak jaman Dinasti Tang pertama (618–690). Suku Hui umumnya menganut agama Islam yang bernafaskan ajaran Konfusianis, dan membedakannya dengan suku Uygur, suku minoritas resmi di Tiongkok yang beragama Islam namun bernafas Asia Tengah.

Jika menjumpai orang Tionghoa bermarga Ma, maka tentulah ia keturunan suku Hui dan kemungkinan besar beragama Islam. Sebuah poster di Museum Cheng Ho TMII Jakarta menyebutkan bahwa dalam buku yang terbit pada 1421 berjudul "The Year China Discovered The World" karya Gavin Menzes disebutkan kapal-kapal ekspedisi Cheng Ho telah lebih dahulu dipakai menjelajah benua Eropa dan Amerika (sebelum Columbus "menemukannya") hingga ke kutub utara dan selatan.

Selain museum ini, ada sejumlah masjid dan kelenteng yang menggunakan nama Cheng Ho atau memiliki keterkaitan erat dengannya. Diantaranya adalah Masjid Cheng Hoo Surabaya yang kecil namun cantik, Masjid Cheng Ho Purbalingga dengan warna bangunan lebih berani, Kelenteng Sam Poo Kong Semarang yang artistik, Kelenteng Sam Po Tay Jin Tangerang, dan Kelenteng Bahtera Bhakti Jakarta yang unik.

Di bagian depan Museum Cheng Ho TMII Jakarta terdapat tengara papan nama dipasang tepat di atas pintu masuk, dalam dua bahasa. Pada tembok sebelah kanan adalah tengara Museum Peranakan Indonesia, sedangkan plakat di sebelah kiri berisi keterangan nama penyumbang gedung ini yaitu HM Yos Soetomo, keturunan Tionghoa yang masuk Islam pada tahun 1972 dan disebut sebagai orang terkaya di Kalimantan Timur yang tetap rendah hati.

Sepasang tempat duduk dari batu mengapit pintu masuk, dan sepasang singa (Ciok say, kilin) tampak berjaga di bagian depan. Singa betina yang sebelah kiri bermain dengan anaknya, dan singa jantan di sebelah kanan memegang bola di kakinya. Konon patung singa semacam ini pertama kali dibuat pada permulaan pemerintahan Dinasti Han Timur (23 – 220 M). Pintu terbuka lebar dan tak ada tiket yang harus dibayar untuk masuk ke dalam ruangan museum ini.

Sebuah poster di Museum Cheng Ho TMII menyebut peninggalan (pengaruh) Cheng Ho di Nusantara, diantaranya pada arsitektur Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (abad ke-17), Masjid Lawang Kidul Palembang (abad ke-4), Masjid Sendang Tuban (abad ke-7), Masjid Kebon Jeruk Jakarta (abad ke-8), dan Masjid Agung Demak (abad ke-9). Di Samudera Pasai Aceh, Cheng Ho menghadiahkan Lonceng Raksasa "Cakra Donya" pada Sultan Aceh, juga cindera mata kepada Raja Majapahit serta Sultan Cirebon.

Dalam salah satu ekspedisinya Cheng Ho disebut berhasil menangkap bajak laut Chen Zhuyi di Palembang dan mengangkat Si Jinqin sebagai pejabat perdamaian di Palembang pada tahun 1407. Eskpedisi Laksamana Cheng Ho berlangsung dalam kurun waktu 27 tahun (1405 - 1433) dengan 7 pelayaran ke selatan.

Ma Huan mencatat setidaknya Cheng Ho singgah lima kali di Sumatera (Palembang, Deli, Aceh) dan Jawa (Jakarta, Semarang, Surabaya, Tuban, dan Cirebon). Sekitar 11.000 anak buah Cheng Ho tidak kembali ke Tiongkok, baik karena meninggal atau tertinggal dan kemudian bermukim di sejumlah tempat seperti di Malaka, Sumatera, dan Jawa.

Di dalam ruangan museum terdapat lukisan wajah Laksamana Cheng Ho dengan jubah dan topi bersusun serta sepenggal kisah kehidupannya. Tulisan pada lukisan menyebut bahwa ia lahir di Distrik Kunyang, Provinsi Yunan, Tiongkok, yang kebanyakan penduduknya dari Suku Hui dan beragama Islam.

Cheng Ho adalah putera kedua dari lima bersaudara anak Haji Ma (Ma Hazhi). Ketika Kaisar Ming pertama mengerahkan pasukannya untuk mempersatukan Tiongkok setelah runtuhnya Dinasti Yuan (Mongol, 1297-1368), Provinsi Yunnan diserbu dan ditaklukkan oleh pasukan Ming. Ayahnya tewas dalam serangan itu.

Cheng Ho yang masih berusia 11 tahun ditawan dan kemudian dijadikan kasim istana di Beijing dimana ia lalu mengabdi pada Raja Muda Zu, putera keempat Kaisar Ming. Karena kesetian dan pengabdiannya hingga mempertaruhkan nyawa untuk melindungi sang pangeran membuatnya dianugerahi nama keluarga Zheng.

Saat sang raja muda naik tahta menjadi kaisar dan bergelar Ming Cheng Zu (1368-1644), Cheng Ho dipilihnya untuk memimpin ekspedisi laut terbesar dalam sejarah Tiongkok. Tujuannya adalah untuk menata hubungan dan menanamkan pengaruh Dinasti Ming ke negara-negara di wilayah selatan seraya menyebarkan kebudayaan Tiongkok.

Bagian tengah Museum Cheng Ho merupakan area terbuka dengan atap tembus pandang sehingga cahaya matahari dan rembulan bebas masuk ke dalam ruangan. Batu-batu putih dan kelabu ditebar di lekukan segi empat untuk memberi kesan bersih dan lapang. Sejumlah pot dengan tanaman perdu tampak belum begitu dipelihara dan ditata dengan baik. Kembali ke kisah ekspedisi Laksamana Cheng Ho. Lantaran banyak anak buah kapalnya asal suku Hui yang beragama Islam maka tak heran ekspedisi itu juga turut berperan dalam penyebaran agama Islam melalui perkawinan dengan penduduk dimana mereka singgah, termasuk di kawasan Nusantara.

Meski jenazahnya tak jelas dimana (ada yang menyebut disemayamkan di laut selatan India), namun sebuah makam dibangun untuk Cheng Ho di lereng selatan Bukit Sapi, Nanjing. Makam aslinya berbentuk tapal kuda, akan tetapi pada tahun 1985 dibangun kembali mengikuti gaya makam Muslim. Cheng Ho mengadopsi anak tertua kakak laki-lakinya, yang dianugerahi pangkat turun temurun di lingkungan Pasukan Penjaga Kekaisaran.

Informasi Museum Cheng Ho TMII Jakarta

Alamat : Taman Budaya Tionghoa Indonesia, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Telepon 021-92363682, 0816 728846, 0813 80331338. Lokasi GPS : -6.3051519, 106.9037211, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 16.00. Hari Senin dan hari libur TUTUP. Harga tiket masuk : Gratis. Pintu Masuk TMII (3 tahun ke atas) Rp 10.000, mobil Rp 10.000, Bus Rp 30.000, sepeda motor Rp. 6.000, sepeda Rp 1.000.

Galeri Foto Museum Cheng Ho TMII

Tengara papan nama dipasang tepat di atas pintu masuk Museum Cheng Ho TMII Jakarta, dibuat dalam dua bahasa. Di sebelah kanan ada tengara Museum Peranakan Indonesia, dan di sebelah kiri berisi keterangan nama penyumbang gedung ini yaitu HM Yos Soetomo, keturunan Tionghoa yang masuk Islam pada tahun 1972 dan disebut sebagai orang terkaya di Kalimantan Timur yang rendah hati.

Tempat duduk dari batu mengapit pintu masuk, dan sepasang Ciok say berjaga di bagian depan. Singa betina bermain dengan anaknya, dan singa jantan memegang bola. Patung Ciok say pertama kali dibuat pada permulaan pemerintahan Dinasti Han Timur (23 – 220 M).

museum cheng ho tmii jakarta

Lukisan wajah Laksamana Cheng Ho dengan jubah dan topi bersusun serta kisah kehidupannya. Ia lahir di Distrik Kunyang, Provinsi Yunan, Tiongkok, yang kebanyakan Suku Hui beragama Islam.

Cheng Ho adalah anak kedua dari lima anak Haji Ma (Ma Hazhi). Ketika Kaisar Ming mempersatukan Tiongkok setelah runtuhnya Dinasti Yuan (Mongol, 1297-1368), Provinsi Yunnan ditaklukkan oleh pasukan Ming dan ayahnya tewas.

museum cheng ho tmii jakarta

Bagian tengah Museum Cheng Ho dengan atap tembus pandang sehingga cahaya bebas masuk ke dalam ruangan. Batu-batu putih dan kelabu ditebar untuk memberi kesan bersih dan lapang. Sejumlah pot dengan tanaman perdu tampak belum begitu dipelihara dan ditata dengan baik.

museum cheng ho tmii jakarta

Cioksay jantan di teras depan Museum Cheng Ho, ditengarai dengan adanya bola di kakinya. Singa penjaga betina biasanya bermain dengan anaknya, dan diletakkan pada sisi yang berseberangan.

museum cheng ho tmii jakarta

Meja kursi antik meski sudah kelihatan tua namun tidak ada larangan untuk diduduki. Di sebelah kiri ada foto dan riwayat singkat Haji Muhammad Yos Soetomo, penyumbang Gedung Museum Cheng Ho pada tahun 2008. Di sebelah kanan adalah poster berisi lukisan foto Cheng Ho dan riwayatnya.

museum cheng ho tmii jakarta

Foto dan riwayat Cheng Ho yang cukup rinci. Disebutkan bahwa tujuan utama ekspedisi Cheng Ho adalah bukan untuk menyebarkan agama Islam, namun untuk menyebarkan keluhuran kebudayaan Tiongkok dan kebesaran kekaisaran Ming. Namun karena memang banyak pengikut Cheng Ho yang beragama Islam, maka ekspedisinya secara langsung maupun tidak ikut membantu penyebaran agama Islam di tempat-tempat dimana ia berhenti.

museum cheng ho tmii jakarta

Peta pelayaran Laksamana Cheng Ho yang selama 27 tahun (1405 - 1433) memimpin 7 ekspedisi, 5 diantaranya singgah di beberapa tempat di Pulau Sumatera dan Jawa.

museum cheng ho tmii jakarta

Foto jenis kapal yang digunakan oleh armada Cheng Ho, yang di buku The Year China Discovered the World karya Gavin Menzies disebut telah lebih dulu digunakan untuk menjelajahi Eropa dan Amerika, hingga ke kutub utara dan selatan. Paulo Rozario menyebut bahwa pada pelayaran perdana Cheng Ho membawa 317 kapal dengan jumlah awak 27.870.

museum cheng ho tmii jakarta

Sejumlah foto yang dikaitkan dengan benda-benda peninggalan Cheng Ho di Nusantara, setidaknya pada gaya bangunan yang dipengaruhi oleh arsitektur dari Tiongkok, seperti Masjid Raya Baiturrahman di Aceh, Masjid Lawang Kidul di Palembang, Masjid Kebon Jeruk di Jakarta, Masjid Agung Demak, dan Masjid Sendang di Tuban.

museum cheng ho tmii jakarta

Sepasang Liong yang digunakan dalam pertunjukan barongsai diletakkan di bagian depan museum, dekat dengan pintu masuk.

museum cheng ho tmii jakarta

Bagian tengah Museum Cheng Ho dengan ruang terbuka yang diberi kerikil putih dan kelabu, sebagai sumber cahaya ruangan dan udara. Di ujung sana terlihat lukisan Laksamana Cheng Ho dalam ukuran besar.

museum cheng ho tmii jakarta

Ringkasan riwayat Cheng Ho lainnya, yang disebut memiliki nama muslim Haji Muhammada Syam.

museum cheng ho tmii jakarta

Pemandangan pada danau cukup luas yang berada tepat di bagian depan gedung Museum Cheng Ho. Jika akhir pekan sepertinya pengunjung bisa naik perahu naga untuk berpesiar di sekeliling danau.

museum cheng ho tmii jakarta

Pandangan tanpa penghalang pada danau yang airnya terlihat tenang dan jernih, dengan sebuah gazebo di ujung sana, dan sebuah perahu yang tengah sandar di tepian sebelah kanan.

museum cheng ho tmii jakarta

Sosok patung Cheng Ho dilihat dari jarak yang lebih dekat, dengan tengara nama dan tahun kehidupannya ditoreh di bawah patung.

museum cheng ho tmii jakarta

Info Jakarta

Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur, Nomor Telepon Penting.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.