Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta

Nama Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta masih terdengar asing, dan tak tahu pula artinya hingga kemudian membaca penjelasannya saat berkunjung. Bangunannya yang berbentuk bundar di seberang danau terlihat menarik saat kami berjalan kaki berkeliling di kawasan Taman Budaya Tionghoa Indonesia. Ketika kembali ke mobil, saya pun membawanya masuk lebih dalam di area ini hingga sampai di halaman museum yang cukup lega.

Hakka rupanya merupakan salah satu kelompok orang Han terbesar di Tiongkok dan menjadi kaum terakhir yang berpindah dari Tiongkok Utara secara bertahap ke wilayah selatan sejak abad ke-4 M karena bencana alam dan perang. Sebagai pendatang mereka harus bertahan hidup di daerah tandus, dipandang rendah dan tidak disukai penduduk asli, yang membantu membentuk mereka menjadi orang ulet, berani, dan tabah.

Bangunan Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta yang terlihat unik itu memiliki tiga lantai, dengan aula bundar di lantai satu yang bisa disewa untuk acara pernikahan. Lantai dua digunakan sebagai Museum Tionghoa Indonesia, yang akan saya tulis secara terpisah, dan lantai tiga digunakan sebagai Museum Hakka Indonesia serta Museum Hakka Yongding Indonesia. Hakka Yongding adalah keturunan Hakka yang berasal dari Kabupaten Yongding di Provinsi Fujian, Tiongkok.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Tampak muka bangunan bundar Museum Hakka Indonesia dengan sejumlah undakan dan ornamen yang sederhana. Bentuk bangunannya meniru Tulou (rumah tanah) terkenal, yaitu Zencheng Lou di Yongding, Fujian, China Selatan. Pelat yang menempel pada dinding menyebutkan jam buka museum setiap harinya, yaitu 09.00 – 16.00, kecuali Senin dan hari libur tutup.

Tulou asli umumnya berukuran besar, tertutup, bertingkat 3-5, dibuat dari tanah yang ditumbuk padat dan tebal dan bisa dihuni hingga seratusan keluarga. Sebagai tempat tinggal dan sekaligus benteng perlindungan, lantai satu Tulou dibuat tanpa jendela, dan berpintu masuk satu dari kayu setebal 10-12 cm yang dilapis plat besi. Di dinding lantai paling atas sering dibuat lubang-lubang untuk dipakai menembak musuh.

Diantara tokoh keturunan Hakka yang namanya banyak dikenal orang diantaranya adalah Dr. Sun Yatsen, Deng Xiaping, Hu Yaobang, Li Guangyao (Lee Kuan Yew), Li Xianlong (Lee Hsien Loong), Thaksin Chinawat. Sedang orang lokal disebut Letjen (Pur) Sugiono, Dirut TMII, yang beristerikan Sri Hartati bermarga Phang dari Pontianak, Brigjen TNI (Pur) Tedy Jusuf yang ayahnya Hakka asal Moiyan Kwangdong, dan sejumlah lagi lainnya yang beberapa diantaranya ikut berperan dalam perjuangan melawan penjajah.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Pada dinding lantai satu Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta, di kiri dan kanan meja penjaga tempat kami mengisi buku tamu, dihias dengan kaca pateri kotak sejumlah masing-masing 16 buah, diukir nama-nama marga dalam huruf Tionghoa. Pada dinding sebelah kanan berisi penjelasan dalam dua bahasa. Di depan masing-masing dinding disediakan tempat duduk tanpa sandaran. Nama marga orang Tionghoa itu berjumlah total 438 kata, terdiri dari 408 kata berhuruf tunggal dan 30 kata berhuruf ganda.

Bagian awal Museum Hakka Yongding Indonesia, diisi dengan pajangan keramik toko obat. Di belakangnya adalah contoh tumbuhan dan hewan sebagai bahan jamu tradisional, dan poster tokoh Hakka Yongding. Ada pula poster tentang Tulou, tempat tinggal orang Hakka di pegunungan Fujian, juga foto Zhencheng Lou yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 2008 dan terlihat jauh lebih keren ketimbang bangunan Museum Hakka Indonesia.

Seorang sastrawan di jaman Dinasti Song (960 - 1279, sebelum Tiongkok diserbu bangsa Mongol) menyusun nama-nama itu menjadi syair yang enak dibaca dan mudah diingat. Syair itulah yang dipajang di kedua dinding ruang jaga Museum Hakka Indonesia. Pada dinding yang menghadap pintu masuk ada piktograf ciptaan nenek moyang Hakka yang dibaca "ngai" atau "aku". Huruf itu memerlihatkan semangat Hakka dalam menghadapi bahaya besar yang digambarkan sebagai orang yang berdiri di tepi jurang terjal.

Bencana dan ancaman musuh membuat mereka membuat hunian yang mempertimbangkan keamanan sebagai faktor utama, dengan membatasi pintu masuk dan membuat jarak bangunan yang dibuat secara rapat. Orang Hakka pertama yang tiba di Nusantara adalah Zhou Mou asal Songkou, Mezhou, yang bersama 10 pemuda tiba di Borneo setelah runtuhnya Dinasti Song Selatan pada 1279. Lalu sejak tahun 1407 terjadi migrasi ke Sambas, Surabaya, dan Palembang yang dibawa kasim Dinasti Ming bernama Zheng He. Pada tahun 1562 seorang pemimpin pemberontak Hakka bernama Zhang Lian membawa anak buahnya mengungsi ke Palembang.

Di awal Dinasti Qing banyak lagi yang lari ke Borneo dan bekerja di tambang emas. Lalu pada 1772, Luo Fangbo asal Shisanbao Jiaying (Meizhou) mengajak kawan sekampungnya pindah ke Pontianak. Lima tahun kemudian mereka mendirikan Lanfang Company dan mendatangkan puluhan ribu orang Hakka. Lalu sekitar tahun 1770, Sultan Sambas mendatangkan 30.000 lebih orang Hakka untuk bekerja di tambang emas. Saat revolusi Dr. Sun Yat Sen juga banyak orang Hakka yang lari ke Nusantara. Di pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda mendatangkan banyak orang Hakka untuk bekerja di tambang timah Bangka Belitung, atau dipekerjakan sebagai kuli perkebunan di Deli.

Sebuah ruang pamer di Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta yang memperlihatkan ruang keluarga Hakka. Pada dinding menempel tiga poster besar bertulis huruf Tionghoa dengan tiga patung indah pada bufet. Ketiga patung itu adalah Fu Lu Shou, tiga dewa yang masing-masing melambangkan Keberuntungan (Fu), Kekayaan (Lu), dan Umur Panjang (Shou), konsep Tao yang diperkirakan berasal dari Dinasti Ming dan dianggap sebagai ciri kehidupan sempurna.

Museum Hakka Indonesia berada di lantai 3 dengan 7 ruang pamer yang memperlihatkan sejarah migrasi orang Hakka ke Nusantara, foto kuliner, miniatur rumah, foto tokoh Hakka, peralatan pertanian, contoh kamar pengantin, tandu, peralatan rumah tangga dan artefak. Ada poster semangat Hakka, yaitu rajin-tekun-kuat dan tabah, pembangun-berusaha-bersatu, hemat-jujur-menjunjung tinggi kesetiakawanan, rukun dengan tetangga dan mencintai Tanah Air. Lalu poster karakteristik pendidikan Hakka, yaitu tradisi bercocok tanam sambil sekolah, pendidikan berazas kesukuan, pemujaan pelajaran dan pengetahuan, mementingkan seni bela diri, mendirikan sekolah - melatih manusia berbakat, membangun sekolah gaya baru - memperbarui pendidikan, dan menghimpun dana untuk membantu pendidikan.

Kunjungan ke Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta yang terjadi secara tak sengaja itu memberi cukup banyak informasi, potongan sejarah, dan budaya. Tentang mengapa dan bagaimana kaum Hakka sampai bermigrasi hingga ke wilayah Nusantara, apa yang mereka telah perbuat, dan sumbangannya pada negeri ini. Museum Hakka Wedding Hall, pada saat tulisan ini dibuat, disewakan dengan paket seharga Rp 105 juta untuk 500 pax yang detailnya bisa dilihat di galeri foto.

Akses kendaraan pribadi keluar Pintu TMII Tol Jagorawi. KRL Commuter Line turun di Stasiun Duren Kalibata, lanjut Kopaja T57 arah Kp Rambutan, turun di PGC, lanjut KWK T02 arah Cilangkap atau KWK T01 arah Bambu Apus, turun Pintu 1 TMII. Kalau naik TransJakarta transit ke Koridor 9 arah Pinang Ranti, turun di halte Garuda Taman Mini, menyeberang ke depan Taman Mini Square, naik Koasi K40 / KWK T01 / KWK T02 / KWK T15A arah ke TMII, turun di Pintu 1. Dari Stasiun Jatinegara naik TJ Koridor 11 arah Pulo Gebang, turun Halte Flyover Jatinegara, transit ke Koridor 10 arah PGC, turun di PGC, dari depan mal PGC naik KWK T01 arah Bambu Apus atau KWK T 02 arah Cilangkap, turun Pintu 1 TMII. Sedangkan Angkot yang lewat TMII adalah KWK S15A Ragunan–Pinang Ranti; KWK T01 Cililitan–Setu; KWK T02 Cililitan–Cilangkap; Koasi 40 Kampung Rambutan–Pekayon.

Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta

Alamat : Taman Budaya Tionghoa Indonesia, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Telepon 021-92363682, 0816 728846, 0813 80331338. Lokasi GPS : -6.3051466, 106.9039786, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 16.00. Hari Senin dan hari libur TUTUP. Harga tiket masuk : Gratis. Pintu Masuk TMII (3 tahun ke atas) Rp 10.000, mobil Rp 10.000, Bus Rp 30.000, sepeda motor Rp. 6.000, sepeda Rp 1.000.

Galeri Foto Museum Hakka Indonesia TMII

Ruang pamer Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta berupa ruang keluarga Hakka. Menempel di dinding tiga poster besar, dan di atas bufet ada patung Fu Lu Shou, tiga dewa yang melambangkan Keberuntungan (Fu), Kekayaan (Lu), dan Umur Panjang (Shou).

museum hakka indonesia tmii jakarta

Penampakan pada bagian awal Museum Hakka Yongding Indonesia, dengan pajangan keramik yang biasa dipakai di toko obat, di belakangnya adalah contoh-contoh bagian tumbuhan yang dijadikan sebagai bahan jamu tradisional Tionghoa, dan di belakang sana ada poster tokoh Hakka Yongding seperti Hendra Joewono pendiri pabrik farmasi Henson Farma dan Hendra B. Sjarifudin pendiri PT Kenari Djaja.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Plakat yang menempel pada dinding keramik di seberang meja penjaga / penerima tamu lantai satu Museum Hakka Indonesia TMII, memberi penjelasan tentang tiga karakter besar yang menempel pada dinding itu.

museum hakka indonesia tmii jakartaPiktograf yang terdiri dari tiga karakter itu, dibaca "Ngai" yang berarti "Aku". Di bawahnya adalah prasasti peresmian yang ditandatangani oleh SBY. Di belakang dinding ini adalah aula bundar di lantai satu.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sebagian dari nama-nama marga Tionghoa pada dinding sebelah kiri yang disusun sedemikan rupa dalam bentuk syair sehingga enak dibaca dan mudah diingat. Sebelah kiri adalah meja penerima tamu dimana pengunjung mengisi buku tamu dan menuliskan kesan pesannya.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Poster besar berisi tulisan, dengan latar suasana jaman dahulu, tentang alasan mengapa dibangun Museum Hakka Indonesia, yang ditulis dalam tiga bahasa. Adalah karena bencana alam dan perang yang ratusan tahun lalu menyebabkan nenek moyang orang Hakka bermigrasi ke Nusantara. Mereka bekerja sebagai kuli tambang, buruh perkebunan, petani dan pedagang kecil. Diantara mereka banyak yang kemudian berhasil, dan melalui museum ini diharapkan generasi muda mendapat inspirasi dan mempelajari pengalaman sukses mereka. Museum ini juga menampilkan kontribusi etnik Tionghoa dalam pergerakan kemerdekaan dan di berbagai bidang sesudahnya yang diharapkan menjadi perekat untuk memperkuat proses pembangunan bangsa.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Di sebelah kiri ada pajangan yang menampilkan produk-produk Sinde Budi Sentosa, yang dimiliki oleh keturunan Hakka. Mulai dari produk balsem, Liang Tea cap Pistol hingga Larutan Penyegar Kaki Tiga cap Badak yang terkenal itu.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Poster berisi foto bangunan Tulou di pegunungan Fujian, penjelasan mengenai Tulou, foto Zhenceng Lou yang terlihat antik dan elok, serta foto bangunan Museum Hakka dengan foto bangunan asli di atas dan bawahnya.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Pajangan yang memperlihatkan sejumlah bahan yang digunakan dalam peracikan obat jamu tradisional Tionghoa. Sayang sekali keterangan bahan-bahannya semua ditulis dalam bahasa Tionghoa. Rupanya bukan hanya bagian tumbuhan dari mulai akar hingga buah yang dipakai, namun ada juga binatang dan sejumlah batuan.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Miniatur rumah tradisional orang Hakka yang terlihat antik dan unik. Bencana dan ancaman musuh membuat mereka membuat hunian yang mempertimbangkan keamanan sebagai faktor utama, dengan membatasi pintu masuk dan membuat jarak bangunan yang dibuat secara rapat.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Foto dan poster yang berisikan sejarah panjang migrasi kaum Hakka ke wilayah Nusantara. Ada foto kuli Tionghoa yang tengah berdiri bergerombol di sebuah pelabuhan, lalu foto kuli Tionghoa di perkebunan tembakau Deli Sumatera, dan sejumlah foto lawas lainnya.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Gambar denah dan keterangan tentang rumah orang Hakka, yang rupanya tidak hanya berbentuk bulat (Tulou), namun ada juga yang berbentuk segi empat, lima sudut, dan rumah berlingkar. Arsitekturnya umumnya simetris, rapi, anggun, megah, kokoh, kuat dan tahan lama, mampu mencegah pencurian dan perampokan serta serangan binatang buas. Ukurannya biasanya besar, luas, dan mudah dihuni keluarga besar hingga beberapa generasi.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Di sebelah kiri adalah poster yang memperlihatkan ciri semangat Hakka, sedangkan di sebelah kanan disajikan foto-foto Kuliner Hakka yang menggugah selera. Tentu akan sangat menarik jika sesekali diselenggarakan festival kuliner Hakka di lantai satu museum ini.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Pajangan yang menampilkan sejumlah alat-alat pertanian yang dibuat oleh orang Hakka. Ada luku atau bajak, garu untuk membuat garis penanaman padi, tungku pengering, penggilingan, dan beberapa alat lagi yang tak jelas benar fungsinya lantaran tak tersedia keterangannya. Pada dinding di belakangnya adalah foto-foto dan penjelasan singkat sejumlah tokoh Hakka.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sudut pandang lain yang memperlihatkan pajangan alat-alat pertanian dengan deretan foto para tokoh Hakka terkemuka di berbagai bidang, di sejumlah negara, termasuk yang ada di Tiongkok.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Pada poster ini terlihat ada Thaksin Chinnawat yang leluhurnya berasal dari Fengshun, Guangdong, dan menjadi Perdana Menteri ke-23 Kerajaan Thailand, satu-satunya yang menjabat tuntas selama 4 tahun, dan orang pertama yang terpilih melalui pemilihan umum. Ia digulingkan pada 19 September 2006 oleh kudeta militer dan tinggal di luar negeri hingga kini. Di sebelahnya adalah Yingluk Chinnawat, adik kandung Thaksin yang menjadi Perdana Menteri Thailand ke-28.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Poster yang memperlihatkan foto keluarga Letjen (Pur) Sugiono yang beristerikan Sri Hartati dari keluarga Hakka bermarga Phang asal Pontianak. Jabatan terakhirnya adalah Sekjen Dephan tahun 1999-2000.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Foto keluarga Brigjen TNI (Pur) Tedy Jusuf. Ayahnya adalah Him Ie Nyan, seorang Hakka asal Moiyan Kwangdong, China, sedangkan ibunya bernama Maritje Brugman dari suku Hokian asal Tangerang.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sebelah kanan adalah pajangan berupa koper-koper dari jaman dahulu, baik yang dibuat dari kulit binatang maupun dari kayu kamper. Di ujung sana adalah alat-alat rumah tangga tradisional kaum Hakka. Pada dinding adalah ucapan terima kasih kepada para sponsor pembangunan museum ini.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Pajangan yang menampilkan kamar pengantin kaum Hakka dengan perabotan yang semuanya dibuat dari kayu yang diberi ornamen warna keemasan.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sudut pandang lainnya pada pajangan kamar pengantin kaum Hakka. Pada poster sponsor di belakangnya ada nama-nama Usin Sumbadji, Jeanne Laksana, Nio Yantony, Lay Jin You, Stanley Soeseno, dan Tjipta Fujiarta.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sebelah kiri bawah adalah contoh Barongsai Hakka, lengkap dengan tambur, kenong dan kecreknya. Di sebelahnya adalah tandu orang Hakka yang lazimnya digunakan oleh kaum berada. Ornamen ukirnya semuanya diberi warna keemasan.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sejumlah peralatan musik Tionghoa dipajang di sudut ruangan ini. Ada yang berupa sitar namun dengan bentuk yang lebih mewah dan anggun, ada pula alat musik tiup dan alat musik petik semacam gitar atau sejenis banjo.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sudut pandang lain pada area dimana terdapat tandu orang Hakka, memperlihatkkan beberapa topeng di sisi sebelah kanan, peralatan musik di ujung sana, dan foto-foto para sponsor.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Pandangan pada serambi lantai tiga dengan kubah penutup di atasnya, serta di ujung sana adalah pintu masuk ke Museum Hakka Indonesia. Tepat di bawahnya adalah Museum Tionghoa Indonesia. Deretan lampion merah terlihat ditata rapi di sana.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Sebuah leaflet yang menawarkan paket Museum Hakka Wedding Hall seharga Rp 105.300.000, lengkap dengan detail fasilitas pemakaian selama 4 jam, full AC, listrik 10.000 watt, 2 ruang rias, 2 set meja penerima tamu, 100 kursi futura, jasa security & cleaning service, ijin kepolisian, 250 free tiket masuk TMII (kendaraan saja Rp 10.000). Catering buffet 500 pax dengan menu tetap Nasi putih, nasi goreng, pilihan sayur, pilihan ayam, pilihan daging, pilihan ikan, pilihan salad, pilihan sup, kerupuk, buah segar, aneka snack, aneka puding, soft drink & air mineral, dekorasi buffet, dekorasi meja VIP, 1 set ice carving inisial nama pengantin. Food stall 100 porsi soto/siomay, 1 box es puter, 25 porsi buffet keluarga.

Dekorasi 1 set pelaminan adat/modifikasi + bunga segar, 3 standing bunga segar di pelaminan, mini garden bunga segar depan pelaminan, backdrop kain belakang pelaminan, 3 pasang standing bunga segar sepanjang karpet, janur 1 pasang, karpet merah, 4 kotak angpau, dekorasi backdrop meja penerima tamu, dekorasi backdrop panggung entertainment dan mini garden, gazebo pintu masuk, pagar pembatas VIP.

Untuk foto dan video disediakan 2 buah album foto eksklusif edited, all master foto dan video, mini studio, 1 set DVD (Video liputan), 1 buah foto kanvas 40x50 cm. MC & entertainment: MC resepsi, solo keyboard, 1 wedding singer. Ada compliment 4 buku tamu dan alat tulis, penulisan nama di janur, 5 orang wedding organizer di hari resepsi, serta bonus tambahan 1 malam menginap di hotel berbintang.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Di sekeliling ruangan lantai satu ini terdapat foto-foto pasangan pengantin seukuran manusia dengan wajah berlubang untuk pengunjung memasukkan wajahnya dan berfoto di sana. Cukup menyenangkan.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Toko cindera mata ini ada di lantai satu Museum Hakka Indonesia, yang juga menyediakan makanan kecil serta minuman dingin yang akan terasa sangat membantu setelah lelah berjalan berkeliling.

museum hakka indonesia tmii jakarta

Poster yang memberi penjelasan mengenai Bangunan Tulou yang rancangannya digunakan oleh Museum Hakka Indonesia. UNESCO menyebut bangunan Zencheng Lou di Yongding, Fujian, China Selatan, sebagai "contoh yang luar biasa dari sebuah tradisi dan fungsi bangunan yang menunjukkan tipe khusus untuk hidup komunal dan defensif dalam hubungan harmonis dengan lingkungan mereka".

museum hakka indonesia tmii jakarta

Info Jakarta

Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur, Nomor Telepon Penting.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑