Museum Tionghoa Indonesia TMII Jakarta

February 11, 2019. Label:
Letak Museum Tionghoa Indonesia TMII Jakarta agak tersembunyi di dalam kawasan Taman Mini Indonesia Indah, namun bukan museum terakhir yang saya kunjungi di kompleks wisata seni dan budaya yang sangat luas itu. Masih banyak museum lain di sana yang hingga kini pun belum juga saya datangi, meski cukup sering lewat di depannya.

Museum ini berada di lantai dua di gedung bergaya Tulou (rumah tanah) yang juga ditempati oleh Museum Hakka Indonesia, di ujung belakang Taman Budaya Tionghoa Indonesia yang cantik. Gedung museum menghadap danau yang cukup luas, dikelilingi taman dengan instalasi patung-patung elok dan gazebo kecil namun anggun di banyak tempat. Ada akses di sisi kanan taman budaya dimana pengunjung yang naik kendaraan bisa mengendarainya ke belakang dan parkir tepat di depan museum.

Jika pun berjalan kaki meski agak jauh ke lokasi Museum Tionghoa Indonesia TMII Jakarta melewati taman budaya, tetap tak akan begitu terasa lantaran di dalam taman ada banyak sekali yang bisa dilihat dan dinikmati. Anak-anak pun akan senang berjalan-jalan di sana dengan adanya sejumlah tempat bermain, serta patung shio dalam ukuran besar yang tentu akan mereka sukai.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta
Pemandangan pada lantai pertama bangunan dimana Museum Tionghoa Indonesia TMII Jakarta berada, saat seorang pengurus tengah menjelaskan sesuatu di depan deretan foto-foto resepsi kepada dua orang tamunya yang mungkin adalah calon pengantin. Lantai satu museum memang disewakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan.

Tampak di ujung kiri atas pada foto adalah tengara museum yang berada di lantai dua, yang bisa dicapai dengan naik tangga maupun dengan menumpang lift. Bagi pengunjung yang sudah sepuh, disediakan kursi roda di sana, namun dalam jumlah yang terbatas sehingga ada baiknya membawa sendiri dari rumah. Jika bersama orang tua sebaiknya membawa mobil masuk hingga ke area parkir yang berada tepat di depan museum.

Koleksi museum bisa dibilang lengkap, mulai dari peta demografi suku-suku di Tiongkok Selatan, lukisan kapal layar Tiongkok jaman dulu, keramik dari jaman Ching - Yuan - Ming - Tang - Sung Utara, lukisan sosok - kapal - dan kisah perjalanan Laksamana Zheng He (Cheng Ho), timbangan antik dan peralatan tradisional lainnya, serta masih banyak lagi.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Seorang tukang cukur dan korek kuping keturunan Tionghoa yang tengah beraksi melayani pelanggan, adalah satu dari banyak sekali repro-foto menarik yang dipajang di Museum Tionghoa Indonesia TMII. Selama hidup baru tahu ada jasa korek kuping yang bahkan tak terpikir untuk meminta orang melakukannya. Dokumentasi itu banyak yang memperlihatkan perjuangan keras para keturunan Tionghoa untuk bisa bertahan hidup.

Kebanyakan foto bersumber dari KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde), Leiden, Belanda. KITLV adalah Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda yang berdiri tahun 1851 untuk penelitian ilmu-ilmu antropologi, bahasa, sosial, dan sejarah di wilayah jajahan dan bekas jajahan Belanda, utamanya Indonesia, Suriname, Antillen Belanda, dan Aruba. Perpustakaan KITLV punya koleksi lengkap buku, naskah manuskrip, foto, dan dokumentasi lainnya.

Satu bagian Museum Tionghoa Indonesia dikhususkan untuk memajang foto-foto hitam putih wajah-wajah keturunan Tionghoa yang dianggap sedikit banyak telah memberi sumbangsih di berbagai bidang kehidupan bagi rakyat dan tanah air dimana mereka tinggal. Pada latar merah putih itu tertulis "Indonesia Kepadamu Kami Berbakti", dengan lambang Garuda Pancasila berwarna keemasan, dan Gunungan wayang Jawa cantik di tengahnya.

Ada banyak nama yang sudah dikenal luas terpampang di dinding itu, dan lebih banyak lagi yang tak begitu terkenal namun bisa membuat mulut pengunjung tetiba monyong dan mengeluarkan bunyi "Oooooo....", lantaran baru mengetahuinya di sana. Mengetahui bahwa orang itu ternyata keturunan Tionghoa, dan tahu peran serta sumbangan yang pernah mereka berikan bagi negeri ini. Saya pastikan Anda akan terkesan.

Panggung bagi pertunjukan Wayang Potehi dengan empat boneka dipajang di bagian ujung Museum Tionghoa Indonesia TMII. Bagian ini berisi koleksi benda budaya, adat, seni, hingga kuliner warga keturunan Tionghoa. Jenis wayang tradisional yang hampir punah ini biasanya menampilkan kisah Tiongkok klasik seperti Sie Jin Kwi Ceng Tang dan Sie Jin Kwe Ceng See, serta See Yu dan Sam Pek Eng Tay, dan kadang disisipi pantun dalam bahasa Jawa.

Pada sebuah dinding dipasang nama sekitar 60-an tokoh Tionghoa yang mendapat gelar penghargaan dari negara, dan setidaknya ada sembilan orang yang jasadnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan. Pada dinding lain dipajang nama-nama tokoh Tionghoa yang terlibat dalam perlawanan melawan Pemerintah Hindia Belanda, lalu mereka yang ikut dalam peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sebagai perintis kemerdekaan, anggota BPU-PKI, PPKI, para veteran Perang Kemerdekaan, dan nama-nama yang duduk dalam kabinet sejak Kabinet Sjahrir ke-III hingga Kabinet Indonesia Bersatu II. Nama Thomas Lembong dan Ignasius Jonan yang ada di Kabinet Kerja belum ditambahkan di sana, meski fotonya telah dipajang pada dinding merah putih.

Salah satu yang menarik di bagian budaya adalah pajangan elok enam Wayang Kulit Tionghoa-Jawa dan sebuah gunungan di tengahnya, diciptakan oleh Gan Thwan Sing pada tahun 1925 di Yogyakarta. Produk silang budaya Tionghoa-Jawa ini membawa lakon Sie Jin Kwi Ceng Tang dan Sie Teng San Ceng See. Rupanya seniman itu lahir di Jatinom pada 1895, kota kawedanan dimana kami sekeluarga pernah tinggal selama sekitar enam tahun pada awal tahun 60-an. Museum yang mengesankan.

Museum Tionghoa Indonesia TMII Jakarta

Alamat : Taman Budaya Tionghoa Indonesia, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Telepon 021-92363682, 0816 728846, 0813 80331338. Lokasi GPS : -6.3051466, 106.9039786, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 16.00. Hari Senin dan hari libur TUTUP. Harga tiket masuk : Gratis. Pintu Masuk TMII (3 tahun ke atas) Rp 10.000, mobil Rp 10.000, Bus Rp 30.000, sepeda motor Rp. 6.000, sepeda Rp 1.000.

Galeri Foto Museum Tionghoa Indonesia TMII

Bagian Museum Tionghoa Indonesia TMII Jakarta yang memajang foto hitam putih keturunan Tionghoa yang berkontribusi di banyak bidang kehidupan dimana mereka tinggal. Pada latar merah putih itu tertulis "Indonesia Kepadamu Kami Berbakti", dengan lambang Garuda Pancasila berwarna keemasan, dan Gunungan wayang Jawa cantik di tengahnya.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Panggung pertunjukan Wayang Potehi di Museum Tionghoa Indonesia TMII, di area yang berisi koleksi benda budaya, adat, seni, hingga kuliner Tionghoa. Jenis wayang tradisional ini menampilkan kisah Tiongkok klasik yang sesekali disisipi pantun dalam bahasa Jawa.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Peta demografi Suku-Suku di Tiongkok Selatan, yang terdiri dari Hokkien, Kanton, Hakka, Teochiu, Kwongsai, Hokchiu, Hokchia, dan Henghua.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pajangan sejumlah keramik dari jaman Dinasti Tang, Dinasti Lima, dan Dinasti Sung Utara. Ada pula keramik dari jaman Dinasti Ching, Dinasti Yuan, dan Dinasti Ming.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sebuah peta yang memperlihatkan daerah permukiman orang-orang Tionghoa di Nusantara pada masa awal kedatangan mereka, yaitu Medan, Bagan Siapi-api, Padang, Palembang, Bangka, Belitung, Batavia, Surabaya, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Makassar, dan Manado.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sebuah lukisan yang menggambarkan salah satu kapal dari Armada Cheng Ho. Ada pula pajangan lukisan kapal layar Tiongkok pada jaman dahulu yang dikenal sebagai jung.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Lukisan yang menggambarkan sosok Laksamana Cheng Ho (Zeng He) dengan latar kapal-kapal yang dipimpinnya. Di dekatnya ada deret 8 lukisan dalam kotak dua baris yang menggambarkan kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1405-1433.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Berdiri di sebelah pajangan contoh rempah-rempah, yaitu jinten (cumin), bunga lawang (pekak, star anise), kapulaga (Java cardamom), Cengkeh, lada hitam, kayu manis (cinnamon), kemiri, dan pala. Pencarian dan perdagangan rempah menjadi dalih bagi bangsa Eropa untuk menancapkan kuku kolonialnya di bumi Nusantara.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sejumlah peralatan tradisional jaman dulu yang tampak di pajang adalah batu giling abad 12, 17 dan 20; penumbuk dari abad 12; lumbang dan cobek dari abad 21. Ada pula bongkahan timah dan bongkahan tembaga.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto jadul seorang penjual sup dengan tulang rusuk menonjol. Ada pula foto seorang pria botak dengan mata menyorot tajam duduk menunggui toko kain batiknya; foto pedagang kelontong keliling di depan rumah seorang hartawan Belanda; empat pedagang kain keliling.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto jadul pedagang kain keliling yang menenteng buntalan dagangan di kedua lengannya. Sebagian besar pedagang kain itu berasal dari Shandong, Tiongkok.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Kuli-kuli Tionghoa tengah memanggul pikulan berat secara berpasangan. Ada foto lain yang memperlihatkan para kuli Tionghoa di area pertambangan. Belanda memang sengaja mendatangkan orang Tionghoa ke Nusantara untuk dijadikan kuli tambang dan perkebunan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto yang memperlihatkan Surat Ijin Tinggal kepada orang Tionghoa yang dikeluarkan gubernur jenderal yang berkedudukan di Buitenzorg (Bogor). Ini adalah Adalah kerusuhan tahun 1740 di Batavia yang berdampak pada diberlakukannya wijkstelsel dan passtelsel dimana setiap ras dikelompokkan pemukimannya dan harus memiliki surat ijin atau pas.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Kuli Tionghoa Perkebunan tengah mendorong lori.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Tukang Tambal Sepatu, merangkap tukang jait dan lain-lain. Ada pula foto tukang becak dengan becak yang mirip dengan yang ada di Hong Kong.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Tukang kunci tengah bekerja melayani pesanan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto dokumentasi pedagang daging di Museum Tionghoa Indonesia TMII.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pedagang keliling yang memanggul dagangannya pada pundak dengan sebilah kayu.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Tukang kunci dengan dandanan yang khas. Kerja keras dan hemat membuat orang keturunan Tionghoa akhirnya status sosialnya lama kelamaan bisa merangkak naik.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pedagang daging keliling dengan seorang anak kecil, mungkin yang membantunya berjualan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sebelah kanan adalah poster tentang John Lie (Jahja Daniel Dharma) yang lahir di Manado 9 Maret 1911, sekitar setahun lebih muda dari ayah saya. Pangkat terakhirnya adalah Laksamana Muda TNI AL dengan 17 Bintang dan Tanda Jasa tersemat di dadanya.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sekitar 60-an keturunan Tionghoa yang mendapat gelar dan penghargaan dari pemerintah Indonesia karena jasa-jasanya kepada bangsa dan negara RI.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi perlengkapan kantor berupa mesin ketik, sempoa, pesawat telepon dan entah benda apa yang satu lagi di tengah. Ada pula koleksi alat rumah tangga seperti setrika ayam. kipas angin kuno, mesin jahit, lampu teplok dan petromax.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pemandangan ke arah tembok merah putih dimana dipasang foto-foto para pesohor dan tokoh di berbagai bidang kehidupan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Poster yang berisi catatan tentang peran keturunan Tionghoa dalam peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Rumah di Jl Kramat Raya No 106, Senen, Jakarta Pusat , yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda adalah tempat berlangsungnya Sumpah Pemuda saat masih dimiliki oleh Sie Kong Liong. Ada 4 orang mewakili Golongan Timur Asing Tionghoa yang juga hadir sebagai peninjau.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sebuah pojok yang menceritakan riwayat orang Tionghoa di Kalimantan Barat dan orang Tionghoa di Tangerang. Dipamerkan juga tempatan Singkawang serta topi caping dan pikulan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Cangkir dan teko yang merupakan perangkat minum teh tradisional juga dipamerkan di Museum Tionghoa Indonesia.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Serangkaian foto lama yang memperlihatkan adat budaya orang Tionghoa di Indonesia seperti perayaan Fap Go Meh di Bogor, di Malang, di Surabaya, dan di Manado.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Perayaan Cap Go Meh di Manado pada jaman kolonial

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto perayaan Cap Go Meh lainnya.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto dokumentasi penampakan sebuah kelenteng di Kupang,Timor, pada tahun 1910.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sebuah pojok dengan koleksi foto dan kursi set peranakan. Foto menunjukkan kelompok pertunjukan Wayang Orang Peranakan Tionghoa yang memakai bahasa Hokkian dicampur Melayu sebagai bahasa pengantar. Salah satu yang terkenal adalah kelompok Sien Ban Lian, yang salah satu artisnya adalah Woli Sutinah (Mak Wok)

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pajangan elok enam Wayang Kulit Tionghoa-Jawa dan sebuah gunungan di tengahnya, diciptakan oleh Gan Thwan Sing pada tahun 1925 di Yogyakarta. Produk silang budaya Tionghoa-Jawa ini membawa lakon Sie Jin Kwi Ceng Tang dan Sie Teng San Ceng See.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta< Seperangkat peralatan musik gambang kromong yang merupakan perkawinan seni budaya musik Tionghoa, Jawa, Sunda. museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pojok yang memamerkan foto busana Tionghoa peranakan seperti busana pengantin wanita dan pria, baju kurung dengan kain batik, baju tuikhim dengan celana pangsi, dan baju panjang wanita dengan kain batik.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Perangkat dan bahan untuk membatik, lengkap beserta kainnya. Batik memang tak lepas dari pengaruh budaya kaum Tionghoa perantauan di Nusantara.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pojok yang memamerkan foto orang Tionghoa di perfilman Indonesia dan peralatan terkait, serta foto kuliner peranakan yang sebagian diantaranya belum pernah saya cicipi bagaimana kelezatannya.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Deretan lukisan Cina klasik yang sepertinya menggambarkan suasana ketika Laksamana Cheng Ho berkunjung ke berbagai tempat dalam menjalankan misi kebudayaannya. Lukisan di bagian atas sepertinya ketika berkunjung ke wilayah di Afrika, Timur Tengah dan Asia Selatan, sedangkan dua yang terakhir di bagian bawah sepertinya di Sumatera dan Jawa.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi Museum Tionghoa berupa berbagai jenis timbangan lama yang sebagian masih digunakan hingga sampai saat ini.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto dokumentasi toko kain batik yang dimiliki oleh pedagang Cina di jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pedagang Kelontong Keliling di jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Orang Cina yang menjadi pedagang kain keliling di jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto dokumentasi yang memperlihatkan para Kuli Cina di daerah pertambangan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Tukang becak orang Cina di jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pedagang keliling orang Cina yang barang-barangnya tengah dilihat oleh orang pribumi.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Toko kelontong milik orang Cina di Deli.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Toko obat milik orang Cina di jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sebuah tulisan yang mengutip perkataan Laksamana Madya (Purn) TNI AL Sumitro tentang sebutan Cina, China, dan Tionghoa. Namun istilah Cina sebenarnya netral, hanya ada masanya ketika kata itu digunakan dengan konotasi rasis. Kini tak ada beda menyebut ketiga kata itu, apalagi dengan pesatnya kemajuan di Cina daratan sana, tak ada alasan untuk rendah diri lagi dengan sebutan Cina.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sebelah kanan adalah sejumlah nama keturunan Cina yang dimakamkan di Taman Pahlawan di sejumlah kota, yaitu Lei Eng Hok (, Perintis Kemerdekaan, TMP Serang), John Lie (17 Tanda Jasa, TMP Kalibata), Oen Pei Hin (Perang Kemerdekaan, TMP Cikacut Bandung), Ferry Sie King Lien (Tentara Pelajar, TMP Jurug Solo), Tiong Pek (Perintis Kemerdekaan, TMP Blora), dan Sho Bun Seng (Pahlawan Kemerdekaan, TMP Kalibata).

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi Museum Tionghoa berupa alat-alat rumah tangga kuno, mulai dari setrikaan ayam jago, kipas angin, mesin jahit, lampu petromaks, dan lampu teplok.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Catatan tentang orang-orang keturunan Cina yang pernah menjabat dalam pemerintahan RI. Diantaranya ada yang dibuang ke Boven Digul, ada yang menjadi anggota BPU-PKI, PPKI dan menjadi veteran Perang Kemerdekaan. Ada pula yang pernah menjabat sebagai menteri dalam berbagai kabinet di jaman Orde Lama, Order Baru, hingga di jaman Reformasi.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Diantara tokoh Cina yang saya kenal namanya pada foto-foto ini adalah Kho Ping Hoo (penulis cerita silat Cina), Yap Thiam Hien, Fanny Gunawan (bulu tangkis), Ateng Suripto (pelawak).

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pada foto ini ada Ferry Salim (aktor), Johan Wahyudi (bulu tangkis), Lita Sugiarto (bulu tangkis), Kadir Jusuf (sepak bola), Tan Tjeng Bok, Chandra Wijaya, dll.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pada foto ini ada Teguh Karya (sutradara film), Mas Agung, Ong Hok Ham, Bubi Chen, Rudy Hartono, Chandra Wijaya, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ivana Lie, Hastomo Arbi, dll.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pada foto ini ada Christian Hadinata, Ade Chandra, Rio Haryanto, Tjun Tjun, Liem Swie King, Sinyo Supit, Verawati Wiharjo (Fajrin), Rudy Gunawan, dll.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pada foto ini ada Thomas Lembong, Harry Tjan Silalahi, Jusuf Wanandi, Marie Elka Pangestu, Sofjan Wanandi, Basuki Tjahaja Purnama, Kwik Kian Gie, dll.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pada foto ini ada Soe Hok Gie, Brigjen Teddy Jusuy, Eddie Lembong, Alvin Line, Murdaya Poo, Djiauw Kie Song, dll.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pada foto ini ada Junus Jahja, Handrawan Nadesul, Kwa Tjoan Sioe, Oei Ban Liang, dll.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi alat-alat tulis Cina berupa kuas, cap pualam, dan sejumlah koleksi menarik lainnya.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Beberapa buah tempayan atau Martavan asal Singkawang, Kalimantan Barat. Di Singkawang dan Sibu, warga keturunan Cina membuat tungku pembakaran yang dikenal sebagai Tungku Naga yang masing-masing bisa memuat sekitar 2000 mangkok, 2000 piring, dan ratusan tempayan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Di sebelah kiri adalah ucapan terima kasih kepada tokoh-tokoh yang telah membantu terwujudnya pembangunan museum ini. Desain bangunan ini dibuat oleh Biro Arsitek Kota Meizhou. Di tengah adalah tulisan yang berisi riwayat perkumpulan Hakka Indonesia.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto dan benda yang memperlihatkan jejak sejarah orang Cina di Tangerang, seperti Kelenteng Boen Tek Bio, pikulan dan topi caping, aneka anyaman bambu, dan berbagai dokumentasi acara budaya. Orang Cina datang pertama kali ke Tangerang pada tahun 1407.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto-foto dan benda yang memperlihatkan jejak keturunan Cina di Pulau Bangka dan Belitung. Mereka terutama bekerja di tambang-tambang timah di pulau itu.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Di latar depan adalah beberapa set perangkat minum teh. Di sebelah kiri adalah catatan jejak sejarah orang Cina di Aceh.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Dokumentasi yang mencatat jejak sejarah orang Cina di Bali. Disebutkan bahwa ada seorang perempuan Cina bernama Kang Cing Wie (Balingkang) yang datang bersama ayahnya untuk berdagang ke Bali pada abad ke-12. Raja di Bangli kemudian menyuntingnya setelah ia setuju untuk memenuhi persyaratan yang diajukan Kang, diantaranya perdagangan harus menggunakan uang kepeng Cina dan rakyat setempat harus memeluk agama Buddha Mahayana. Setelah sang puteri meninggal, dibuatlah sebuah pura untuk mengenang jasanya, yang diberi nama Pura Dalem Balingkong.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Dokumentasi foto yang memperlihatkan jejak sejarah orang Cina di Indonesia, diantaranya Kampung Cina di Kupang di jaman kolonial, Kelenteng di Sambas tahun 1900, kelenteng di Ambon tahun 1895, Kampung Cina di Samarinda, kelenteng di Banda Naira tahun 1930, dan kelenteng di Kupang tahun 1910.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Dokumentasi yang memperlihatkan beberapa orang yang menghela kereta pada perayaan tahun baru Imlek di Ternate pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Foto dokumentasi lomba panjat pinang pada perayaan tahun baru Imlek di Makassar pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Lomba perahu naga pada perayaan Hari Raya Pe-Cun di jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sembahyang Cio-Ko (bulan tujuh) di Malang pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sembahyang Cio Ko (bulan tujuh) di Batavia pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Boneka kertas (Khai Lo Sin) untuk prosesi pemakaman pejabat Tionghoa, mengingatkan pada ogoh-ogoh di Bali.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sembahyang Cio Ko (bulan tujuh) di Surabaya pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sembahyang Cio Ko (bulan tujuh), masih di Surabaya pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Kereta jenazah pejabat Cina pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Dokumentasi jejak sejarah kaum Cina di Medan, diantaranya adalah Tjong Yong Hian dan Tkong A Fie.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Lukisan burung merpati di sebelah atas berjudul "PEACE" karya Lee Man Fong (1913-1988), dan yang di bawahnya berjudul "DUCK SELLER" karya Lim Wasim (1929-2004).

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi yang dikenal sebagai kebaya encim di Museum Tionghoa. Kainnya merupakan bagian apa yang dikenal luas sebagai batik peranakan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Beberapa koleksi Batik Peranakan tampak dipajang di Museum Tionghoa. Ini adalah batik yang dibuat oleh para pengusaha keturunan Cina yang memakai desain motif serta warna yang dipengaruhi budaya Cina. Batik peranakan umumnya bisa ditemui di daerah pesisir, seperti Pekalongan, Lasem, Juwana, Kudus, Demak, Cirebon, dan Semarang.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Sumbangan kaum keturunan Cina pada kuliner Nusantara, diantaranya adalah Tahu Pong Semarang, Ie Fu Mie, Bihun Bakso dan Tahu Isi, Bakmi Goreng, Bacang dan Lumpia.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Ruang tengah gedung yang digunakan untuk Museum Tionghoa, yang namanya terlihat di lantai dua sebelah kiri atas. Lampion merah tampak menghias sekeliling lingkaran dalam gedung.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pandangan dari lantai dua dimana terlihat pintu masuk ke Museum Tionghoa Indonesia berada di seberang sana.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Pintu masuk ke ruangan yang menjadi tempat Museum Tionghoa Indonesia.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Lukisan Kapal layar Tiongkok jaman dulu yang dikenal dengan nama Junk.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi keramik yang berasal dari Dinasti Ching.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi keramik yang berasal dari Dinasti Yuan.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Koleksi keramik yang berasal dari jaman Dinasti Ming.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Perayaan Cap Go Meh di Bogor pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Perayaan Cap Go Meh di Surabaya pada masa kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Perayaan Cap Go Meh di Kota Malang pada jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Perayaan Cap Gomeh di Kota Bogor di jaman kolonial.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Kuliner peranakan lainnya adalah onde-onde wijen, kue putu mayang, kue khu ketan, aneka kue basah, kue moho, tiong ciu pia, dan kue onde.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Selanjutnya ada kue lapis, kue wajik, sate manis, bakmi kangkung, dan laksa.

museum tionghoa indonesia tmii jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑