Makam Pangeran Jayakarta Jakarta Timur

aroengbinang.com -
Lokasi Makam Pangeran Jayakarta Jakarta ternyata berada di Jl. Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Sebelum berkunjung ke makam ini, saya telah melewati jalan di depannya selama lebih dari lima belas tahun untuk mengantar anak sekolah ke LabSchool Rawamangun, dan masih melewatinya lagi jika ke Kelapa Gading, tanpa tahu nama jalannya, sampai saat kunjungan itu.

Tidak pernah terpikir di benak saya bahwa di sana ada Makam Pangeran Jayakarta yang memiliki kedekatan dengan sejarah Jakarta, meski masih ada perdebatan soal itu. Di dekatnya ada pula makam tua lainnya yang juga menyimpan sejarah, yaitu Makam Pangeran Sanghyang. Perlu lebih dari 23 tahun untuk mendapat pencerahan tentang keberadaan tempat ini, sejak tinggal di Jakarta. Anda mungkin pernah atau akan pernah punya pengalaman seperti itu.

Boleh jadi salah satu sebabnya adalah karena letak makam yang tersembunyi di dalam kompleks Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum sehingga mudah tak terlihat dari jalan. Lagipula selama kurun waktu itu tengara makam juga tak mencolok mata pejalan. Sebab berikutnya adalah karena selama itu saya lebih sering duduk di belakang setir kemudi, yang membuat mata harus lebih banyak fokus ke jalan.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum
Pemandangan pada cungkup dimana terdapat Makam Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Lokasi cungkup Makam Pangeran Jayakarta terletak beberapa meter dari jalan, di bawah sebuah pohon beringin raksasa yang sangat rindang berumur ratusan tahun. Di sana tersedia tempat parkir untuk kendaraan roda dua, di halaman masjid, namun mobil harus parkir di pinggiran jalan.

Adalah Fatahillah yang merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1572, setelah mengambil alih kota pelabuhan ini dari Kerajaan Pajajaran dan lalu mengalahkan dan mengusir tentara kolonial bangsa Portugis. Fatahillah lalu menyerahkan kepada menantunya, yaitu Tubagus Angke yang berasal dari keluarga bangsawan Banten, untuk memerintah wilayah Jayakarta.

Saat itu, seorang peziarah pria yang datang seorang diri terlihat tengah khusuk berdoa di depan Makam Pangeran Jayakarta. Kubur bagi sebagian orang adalah juga menjadi tempat mengadu tentang segala permasalahan kehidupan yang sedang menghimpit, yang tak bisa begitu saja dibagi dengan orang lain, bahkan kepada teman paling dekat sekalipun.

Area dimana cungkup Makam Pangeran Jayakarta berada dinaungi sebuah pohon beringin yang ukurannya sungguh luar biasa besar. Buat saya, pemandangan seperti ini amat menakjubkan, ialah bahwa pohon sebesar dan setua itu masih bisa bertahan hidup dalam lingkungan perkotaan yang keras dan tak ramah seperti Jakarta bagi pohon berukuran seukuran rakasasa.

Di samping pohon terdapat lambang Kodam Jaya bertulis "Jayakarta" dengan kepak 24 sayap dan sebatang pohon kelapa serta prasasti yang ditandatangani Pengdam Jaya untuk mengenang perjuangan Pangeran Jayakarta. Pangeran Jayakarta mengusir Jan Pieterszoon Coen dan tentara VOC-nya dari Jayakarta dalam suatu perselisihan dagang yang bermula pada 1610, namun Coen kembali dengan membawa tentara dari Ambon dan mengalahkan Pangeran Jayakarta pada 1619. Coen merubah nama Jayakarta menjadi Batavia. Jepang kemudian merubah namanya menjadi Jakarta.

Terdapat beberapa makam di dalam bangunan cungkup, dan sebuah guci porselen diletakkan di masing-masing makam itu. Tak jelas benar apakah fungsi guci-guci itu, apakah sebagai tempat air suci untuk dituangkan oleh para peziarah ke atas makam, atau sebagai kotak amal. Bila orang berziarah karena ada keinginan, maka biasanya mereka ringan tangan untuk mengeluarkan uang.

Nisan pada Makam Pangeran Jayakarta diapit oleh dua buah guci berbeda bentuk dan warna yang cukup indah. Pada bagian tengah makamnya dipenuhi dengan bunga yang ditabur oleh para peziarah yang datang sebelumnya. Yang unik adalah adanya beberapa batang rokok yang diletakkan di badan makam, satu diantaranya telah dibakar.

Jika nisan pada bagian kepala makam masih tampak utuh, maka nisan pada bagian kaki sayangnya telah rompal atau pecah di sayap kirinya. Pada nisan terdapat tulisan "Pangeran Achmad Djaketra". Konon makam ini telah disembunyikan selama lebih dari tiga ratus tahun, karena khawatir akan dihancurkan oleh Belanda agar tidak menjadi inspirasi bagi gerakan perlawana.

Setelah berkunjung ke Makam Pangeran Jayakarta saya sempat mampir ke Masjid As-Salafiyah yang saat itu telah berumur 389 tahun. Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Pangeran Jayakarta itu letaknya persis di samping area makam. Masjid itu didirikan pada 1620. Di sana masih bisa dutemukan sebuah bedug tua, yang biasa dipukul lima kali sehari untuk menandai dimulainya waktu shalat.

Makam Pangeran Jayakarta

Alamat : Jl. Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Lokasi GPS : -6.202088, 106.900814, Waze. Jam buka : sepanjang hari dan malam. Harga tiket masuk : gratis, sumbangan diharapkan.

Galeri Foto Makam Pangeran Jayakarta

Area cungkup Makam Pangeran Jayakarta berada dinaungi sebuah pohon beringin yang ukurannya sungguh luar biasa besar. Buat saya ini adalah hal yang amat menakjubkan, mengapa pohon sebesar dan setua itu masih bisa bertahan hidup di perkotaan yang keras dan tak ramah seperti Jakarta, terutama buat pohon berbatang rakasasa seperti ini.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Saat itu ada seorang peziarah pria yang tengah khusuk berdoa seorang diri tepat di depan Makam Pangeran Jayakarta yang sedang sepi pengunjung. Kubur adalah tempat mengadu segala permasalahan hidup yang menghimpit, yang tak leluasa bisa dibagi dengan orang lain, dengan teman dekat sekalipun.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Makam Pangeran Jayakarta dengan nisan yang diapit oleh dua buah guci berbeda dengan bentuk dan warna yang indah. Bagian tengah makam penuhi bunga yang ditabur para peziarah. Ada pula batang rokok yang diletakkan di makam, satu diantaranya telah disulut.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Sebuah tengara yang dipasang di gerbang masuk berbunyi "Komplek Makam Pangeran Jayakarta (Achmad Jaketra), dibangin tahun 1640 M di Jatinegara Kaum. Makam Para Pahlawan yang melawan penjajah Belanda".

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Nisan pada kepala Makam Pangeran Jayakarta dengan torehan garis dan sebuah tulisan "Pangeran Achmad Djakerta" menggunakan ejaan lama. Relief pada kedua guci, terutama yang ada di sebelah kanan terlihat cantik.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Tafakur sambil bersila di depan Makam Pangeran Jayakarta. Orang berziarah lazimnya untuk mendoakan yang mati, namun banyak juga orang datang karena memiliki keinginan yang hendak digapai. Bagi sebagian orang ziarah dianggap sebagai sarana atau jalan spiritual untuk membantu dalam mencapai tujuan.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Semoga pohon besar yang sangat rindang dan langka ditemukan di Jakarta ini bisa bertahan lebih lama agar tetap memberi keteduhan bagi peziarah yang datang.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Masjid As-Salafiyah yang telah berumur 389 tahun, yang juga dikenal sebagai Masjid Pangeran Jayakarta, yang terletak di samping makam.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Bedug masjid yang khas di kompleks Makam Pangeran Jayakarta, yang dipukul lima kali sehari untuk menandai dimulainya waktu shalat. Jenis bedug yang sama, biasanya dalam ukuran yang lebih kecil juga bisa ditemukan di beberapa kelenteng yang pernah saya kunjungi.

makam pangeran jayakarta jatinegara kaum

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.