Makam Pangeran Sanghyang Jakarta Timur

May 03, 2019. Label:
Kompleks Makam Pangeran Sanghyang menempati pekarangan cukup luas, tepat sebelum area Makam Pangeran Jayakarta di Jl Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Meskipun sangat dekat, namun kunjungan ke makam ini baru terjadi beberapa tahun kemudian setelah lebih dulu berkunjung ke Makam Pangeran Jayakarta.

Itu pun karena berkali-kali saya melewati jalan di depan makam, dan melihat papan makam yang menggantung di gerbangnya. Rasa ingin tahu yang terus tumbuh menguat akhirnya mampu menghentikan kendaraan yang saya tumpangi dan kemudian memarkirnya di tepi jalan. Langkah kaki pun membawa saya masuk ke dalam kompleks itu, melewati sebuah pintu beratap genting, diapit tembok tinggi memanjang yang terlihat masih cukup baru. Syukur bahwa pagar besi pintu masuk itu tidak terkunci.

Situs jakarta.go.id menyebutkan bahwa Pangeran Sanghyang (Raden Syarif bin Pangeran Senopati Ngalaga) adalah seorang tokoh Islam keturunan Bangsawan Banten. Ia berjuang melawan Belanda bersama Pangeran Tubagus Badaruddin dan tokoh-tokoh Banten lainnya. Menurut riwayat, Pangeran Sanghyang dibuang oleh VOC ke Sri Lanka pada 1746 - 1750, sekira seabad setelah kedatangan Pangeran Sageri ke Jatinegara Kaum.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur
Seorang pengendara sepeda motor terlihat sedang melintas di depan kompleks Makam Pangeran Sanghyang Jatinegara Kaum Jakarta Timur. Kendaraan roda empat terpaksa diparkir di tepi jalan dengan separuh roda naik ke atas trotoar, agar tidak mengganggu lalu lintas, meskipun merampas hak pejalan kaki. Serba salah memang oleh sebab terbatasnya pilihan.

Area parkir yang sudah direncanakan sejak 2010, yang juga dimaksudkan untuk menampung kendaraan para peziarah Makam Pangeran Jayakarta tampaknya sudah selesai, namun hingga beberapa waktu lalu belum juga digunakan, entah apa penyebabnya. Kedua kompleks makam yang direncanakan akan terhubung itu juga masih belum dibuka jalan tembusnya. Hal yang melegakan adalah dalaman kompleks makam Pangeran Sanghyang terlihat cukup terawat.

Pada kaca cungkup Makam Pangeran Sanghyang menempel foto kuncen berkumis baplang bernama R. H. Upi Supriyadi. Tulisan di bawah fotonya menyebutkan bahwa ia adalah seorang pemerhati Cagar Budaya, serta ada tulisan yang menyatakan bahwa walaupun beberapa kali dilakukan renovasi, tetapi bentuk makam terus dipertahankan. Di sebelah kiri cungkup makam terdapat Makam Tubagus Unung bin Tubagus Aslan. Tidak diketahui siapa orang ini, selain bahwa ia seorang bangsawan Banten. Di sebelah kanan cungkup terdapat sebuah kubur lagi dengan tulisan Raden Kojong pada nisannya.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Bangunan berukuran 8x7 meter di sebelah kiri area adalah cungkup Makam Pangeran Sanghyang. Di sebelah kanan ada bangunan bercat hijau yang berfungsi sebagai musholla dan kantor kuncen yang saat itu tengah tertidur pulas. Saat itu bulan puasa dan matahari baru naik sepenggalah. Jam enak-enaknya tidur. Pohon-pohon kamboja dengan batang sangat tua menghiasi pekarangan di sisi kanan kompleks. Beberapa kubur tua tanpa nama bisa dijumpai di sisi ini. Tidak ada kubur baru di kompleks makam, sebagaimana dituturkan Amin, petugas kebersihan yang muncul sesaat sebelum saya meninggalkan lokasi.

Jirat kubur Pangeran Sanghyang dibalut kelambu berwara putih, diapit payung susun tiga yang mengembang. Karpet terlihat bersih dan bunga sedap malam diletakkan di atas kubur. Pada dinding kanan terdapat tengara pemugaran makam bertanggal 17 Agustus 2002 yang dibiayai keluarga KH Rd Moh Alibasyah dan putera-puterinya. Di sebelah kanannya terdapat makam "Ibu Sri Ratu Pembayu", dan di kiri bawahnya ada dua makam lagi. Paling kiri, dimana terdapat batang pohon mati, adalah makam Pangeran Tanzul Arifin. Di sebelahnya adalah Makam Pangeran Nasib. Setiap makam terlihat sangat rapi, dilapis keramik bermutu dengan panjang kijing sekitar 2,25 meter.

Pangeran Tanzul Arifin adalah putera Pangeran Sageri (Pangeran Sugiri, Pangeran Sogiri, atau Ash-Shogiri). Ia adalah cucu Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672), keturunan Syarif Hidayatullah. Pangeran Sageri datang ke Jatinegara Kaum pada 1640 bersama saudaranya yang bernama Pangeran Sake untuk membantu perjuangan Pangeran Jayakarta yang membangun kekuatan di daerah ini, setelah menyingkir dari daerah Pasar Ikan lantaran diserbu tentara kolonial Belanda.

Di dalam cungkup Makam Pangeran Sanghyang ada sebuah kijing kubur di sebelah kanan, dua di sebelah kiri, dan satu kijing lagi di pojok ruangan dengan empat tiang kayu sebagai pengikat kelambu putih. Setiap makam terlihat sangat rapi, dilapis dengan keramik bermutu sangat baik, dengan panjang setiap makam sekitar 2,25 meter.

Keluar dari makam saya sempat berjalan menyusur pekarangan ke arah kompleks Makam Pangeran Jayakarta yang masih belum dibuka aksesnya itu, menikmati pemandangan gerumbul pohon bambu lebat yang sudah lama tidak pernah saya lihat semenjak tinggal di Jakarta. Di sekitar area itu terlihat beberapa makam kuno di bawah pohon-pohon kamboja yang batangnya berliuk-liuk saking tuanya.

Ketika saya sudah keluar dari gerbang Makam Pangeran Sanghyang itulah baru muncul Pak Amin, si petugas kebersihan, yang mengaku telah bekerja di tempat ini sejak tahun 1997. Sepintas ia juga menyebutkan bahwa Pangeran Sanghyang adalah keturunan ke-13 dari Siliwangi, Raja Pajajaran. Wallahua'lam.

Makam Pangeran Sanghyang Jatinegara Kaum

Alamat : Jl. Jatinegara Kaum Raya No.20B, Jatinegara Kaum. Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Lokasi GPS : -6.2025, 106.89931, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : gratis, sumbangan diharapkan.

Galeri Foto Makam Pangeran Sanghyang

Kubur Pangeran Sanghyang dibalut kelambu putih dinaungi payung kerajaan bersusun tiga. Pada dinding ada prasasti pemugaran 17 Agustus 2002 dengan biaya dari keluarga KH Rd Moh Alibasyah. Di sisi kanan adalah kubur "Ibu Sri Ratu Pembayu". Kubur paling kiri dengan batang pohon mati adalah makam Pangeran Tanzul Arifin, lalu kubur Pangeran Nasib.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Di cungkup Makam Pangeran Sanghyang ada empat jirat kubur. Setiap kubur terlihat rapih, dilapis keramik bermutu tinggi, dengan panjang makam sekitar 2,25 meter.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Makam paling kiri, dimana terdapat batang pohon mati, adalah makam Pangeran Tanzul Arifin. Di sebelahnya adalah Makam Pangeran Nasib. Beberapa gepok bunga bertangkai beraneka warna di dalam vas keramik, simbol kecintaan pengirimnya, tampak menghiasi bagian atas setiap makam.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Pada dinding sebelah kanan terdapat tengara pemugaran makam bertanggal 17 Agustus 2002 yang dibiayai oleh keluarga KH Rd Moh Alibasyah dan putera-puterinya.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Pak Hidayat yang menemani saya tampak duduk di sebelah Makam Pangeran Sanghyang, bersimpuh di atas karpet merah bersih yang kondisinya terlihat masih sangat baik. Pada nisan makam di sebelah kanan, tertera tulisan “Ibu Sri Ratu Pembayu”, tanpa huruf “n” di ujungnya, sebagaimana nama bangsawan puteri yang lazim di jumpai di Jawa.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Di sebelah kanan cungkup Makam Pangeran Sanghyang terdapat sebuah kubur lagi dengan tulisan Raden Kojong pada nisannya. Sebuah pendopo kecil tampak terlihat berada di belakang sana.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Foto kuncen bernama R. H. Upi Supriyadi, terpampang pada jendela kaca di samping pintu masuk ke dalam cungkup Makam Pangeran Sanghyang. Tulisan di bawah fotonya menyebutkan bahwa ia adalah seorang pemerhati Cagar Budaya, serta ada tulisan yang menyatakan bahwa walaupun beberapa kali dilakukan renovasi, tetapi bentuk makam terus dipertahankan.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Makam Tubagus Unung bin Tubagus Aslan yang berada di sebelah kiri bangunan cungkup Makam Pangeran Sanghyang. Tidak diketahui siapa beliau ini, selain bahwa tentunya ia seorang bangsawan Banten yang mungkin masih kerabat Pangeran Sanghyang.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Tulisan peringatan Cagar Budaya di dekat menara kecil bercat hijau ini sudah terlihat kusam dan berkarat pertanda sudah cukup lama terpapar panas dan hujan. Di sebelah kiri belakang adalah gerbang pintu masuk dilihat dari dalam area makam.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Area di ujung foto inilah yang rencananya diperuntukkan bagi area parkir Makam Pangeran Sanghyang dan Makam Pangeran Jayakarta. Entah mengapa lahan parkir seluas 2.150 meter persegi itu belum juga terwujud.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Keluar dari makam saya sempat berjalan menyusur pekarangan ke arah kompleks Makam Pangeran Jayakarta yang masih belum dibuka aksesnya itu, menikmati pemandangan gerumbul pohon bambu lebat yang sudah lama tidak pernah saya lihat semenjak tinggal di Jakarta.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Pohon-pohon kamboja yang batangnya terlihat sangat tua menghiasi pekarangan di sisi kanan kompleks Makam Pangeran Sanghyang ini. Beberapa kubur tua tanpa nama bisa dijumpai di sisi ini. Tidak ada kubur baru di kompleks makam, sebagaimana dituturkan Pak Amin, petugas kebersihan yang muncul sesaat sebelum saya meninggalkan lokasi.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Di sebelah kiri adalah cungkup dimana Makam Pangeran Sanghyang berada, yang di dalamnya juga terdapat beberapa makam lainnya. Sedangkan bangunan bercat hijau di sebelah kanan diperuntukkan sebagai musholla, dan tampaknya juga sebagai tempat tinggal kuncen.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Makam Pangeran Tanzul Arifin ini unik karena tepat di depan nisan kuburnya terdapat pokok pohon kayu mati. Pangeran Tanzul Arifin adalah putera Pangeran Sageri, atau cucu Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672), sehingga masih keturunan Syarif Hidayatullah.

makam pangeran sanghyang jatinegara kaum jakarta timur

Situs jakarta.go.id menyebutkan bahwa Pangeran Sanghyang (Raden Syarif bin Pangeran Senopati Ngalaga) adalah tokoh Islam keturunan Bangsawan Banten. Ia berjuang melawan Belanda bersama Pangeran Tubagus Badaruddin dan tokoh lain.



Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Timur, Hotel Melati di Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta Timur, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Timur.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑