Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol

February 25, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Sudah cukup lama saya mendengar tentang keberadaan Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol, yang oleh masyarakat sering disebut dengan nama pendek Kelenteng Ancol. Letak bangunan kelenteng ini memang berada di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Sedangkan nama resmi yang tertera pada gapura depan kelenteng adalah Vihara Bahtera Bhakti.

Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol diperkirakan dibangun pada 1650, pada tahun yang sama dibangunnya Kelenteng Jin De Yuan. Kedua kelenteng ini merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Ada dua kelenteng lagi yang dibangun pada abad ke-17 di Jakarta, sekitar 10 dan 19 tahun setelah kedua kelenteng yang pertama itu dibangun, namun keduanya sudah tidak ada lagi.

Dahulu Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol bernama Da Bo Gong, Dewa Air yang dipuja pelaut sejak zaman Dinasti Song untuk keamanan pelayaran. Namun karena bentuknya sama, maka orang menganggapnya Dewa Bumi. Kelenteng ini berada di luar Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), dan mestinya hanya berjarak 200 meter dari tepi laut. Jika saja ada pintu tembus maka saya bisa berjalan kaki dari Ereveld Ancol ke kelenteng, karena jarak keduanya kurang dari 150 meter. Namun karena tak ada pintu tembus maka kami keluar dari kawasan TIJA melalui Pintu Ancol Timur, belok kiri ke Jalan Pasir Putih Raya, belok kiri lagi ke Jalan Pasir Putih 3, belok kanan ke Pantai Sanur 5, lalu ke kiri di jalan menyimpang, dan sampailah kami ke halaman Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol yang cukup luas.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Pintu gerbang Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol dengan sepasang naga berebut mustika di atas wuwungannya. Tepat dibawah patung naga terdapat lima lukisan dalam kotak segi empat yang menggambarkan lima elemen klasik Tionghoa, yaitu kayu, api, tanah, logam dan air. Papan nama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol ada di bawah atap wuwungan, diapit sepasang Ciok say (singa). Singa adalah hewan suci yang melambangkan energi, keberanian, dan melindungi kelenteng dari roh jahat.

Di sayap kiri kanannya ada ikan, lambang kebahagiaan dan kekayaan. Di kiri kanan gerbang ada lagi sepasang Ciok say terbuat dari batu putih. Jarak gerbang dengan bangunan utama sekitar 30 meter, dinaungi atap memanjang. Di kanan kiri lorong ada penjual makanan, namun agak kumuh. Lalu ada kandang berjeruji besi berisi puluhan burung kecil untuk dijual.

Di lorong itu duduk seorang wanita bertubuh pendek abnormal namun dandanannya rapi dan wajahnya berhias. Seorang pria muda memberi lembaran 10.000 rupiah kepadanya. Siapa pula yang tega memberi uang 2000 rupiah dengan penampilan peminta derma seperti itu ...

Di sisi kiri depan terdapat sebuah bangunan yang tampak masih baru berisi patung Buddha Empat Muka, seperti Buddha Empat Wajah atau Dewa Empat Wajah yang berada di Kenjeran Surabaya, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Di sayap kiri kelenteng Bahtera Bhakti Ancol terdapat Altar Buddha, dengan tiga patung serta relief Candi Borobudur.

Di bawah terdapat tulisan Se Cia Mo Ni Fo, dan tulisan Tie Cang Wang Po Sat dengan persembahan buah serta kue bulan susun lima. Di bawahnya terdapat tulisan "Omitofok, semoga semua mahluk berbahagia", dan "Aku berlindung kepada Sang Ha sampai menuju ke pantai bahagia"

Saat itu ada seorang pria dengan memegang hio membungkuk di altar Dewi Kwan Im. Ruangan ini relatif besar, masih baru, dan lebih lega dibanding ruang utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol. Kata bajik di depan altar berbunyi "Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah. Bila tidak ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan menuai hasil yang baik", dan "Memohon maaf bukan menjadi hina, memberi maaf bukan menjadi bangga, saling memaafkan menjadi mulia."

Keluar dari altar ini saya meneruskan langkah melewati lorong samping bangunan utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol menuju ke belakang. Di sana ada relief lukisan pada dinding yang menceritakan kisah perjalanan ke Barat Biksu Tong Sam Cong yang dikawal Sun Go Kong, Wu Jing, dan Cu Pat Kay. Beberapa binatang mengamati iring-iringan itu, seperti anjing, tikus, ayam, ular, kerbau, kambing, kelinci, macan, yang semuanya mewakili kedua belas shio. Shio kuda diwakili oleh kuda Biksu Tong, monyet diwakili Sun Go Kong, babi diwakili Cu Pat Kay, dan naga tampak terbang di bawah bunga teratai Dewi Kwan Im.

Kolam kecil bundar ada di halaman belakang Kelenteng, ditumbuhi keladi serta ada patung pria berjanggut putih tersenyum bahagia dengan seekor ikan emas di pangkuannya. Dari sini saya melangkah ke kanan dimana ada altar yang letaknya agak di bawah. Tiba di depan pintunya tiba-tiba mata terasa pedih, entah karena peluh masuk ke mata, atau karena asap hio.

Ruang altar khusus di sisi belakang Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol itu digunakan untuk bersembahyang bagi Embah Said Areli Dato Kembang bersama isterinya yang bernama Ibu Enneng (Pha-Poo). Mereka adalah orang tua dari Ibu Sitiwati yang dimakamkan di ruang utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol.

Saya sempat melihat patung Ibu Sitiwati dan Sam Po Soei Soe di Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol. Alkisah dalam perjalannya ke Timur, kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho berlabuh di pelabuhan Ancol yang dulu bernama Bintang Mas. Juru mudi kapal bernama Sam Po Soei Soe turun untuk melihat pertunjukan ronggeng. Saking asiknya menonton, serta karena kesengsem penari bernama Sitiwati, tak disadarinya kapal telah berlayar dan ia tertinggal.

Sam Po Soei Soe kemudian menemui Said Areli dan Ibu Enneng, orang tua Sitiwati, untuk melamar perempuan yang telah memikat hatinya itu. Lamarannya diterima. Karena beragama Islam, Sitiwati meminta sang suami tidak makan daging babi, yang disetujuinya dengan syarat Sitiwati tidak makan petai karena bau.

Sampai sekarang orang tidak boleh membawa daging babi dan petai ke Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol. Karena Sam Po Soei Soe ingin kembali berlayar, ia meminta Kong Toe Tjoe Seng membangun kelenteng Da Bo Gong, tempat memuja Dewa Air agar pelayarannya aman. Namun Sam Po Soei Soe dan Sitiwati keburu meninggal sebelum kelenteng selesai, sehingga mereka dikubur di dalam kelenteng.

Di Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol ini juga dikubur Mone, adik Sitiwati. Unik, karena belum pernah selama saya keluar masuk kelenteng yang ada kubur di dalam ruang utama. Mungkin karena itu kelenteng ini sangat ramai dikunjungi umatnya, terlihat dari banyaknya orang berseragam yang bertugas melayani pengunjung. Ramainya pengunjung bisa juga menjadi indikasi kelenteng ini 'bertuah'.

Di depan bangunan utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol terdapat altar pemujaan bagi Coi Sua Ti Cu, Dewa Pembuka Langit, dengan patung harimau putih di bawahnya. Di sebelah altar ini adalah altar Delapan Dewa dengan patung-patung kecil di dalamnya. Ada pula dua buah Kim Lo, pagoda tempat membakar kertas sembahyang.

Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol

Alamat : Jl. Pantai Sanur No.5, Ancol, Jakarta Utara. Lokasi GPS : -6.119988,106.853651, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto

Seorang pria tengah bersembahyang di altar Dewi Kwan Im di ruangan yang lebih luas dari ruang utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Di bagian belakang gedung utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol ada mural kisah perjalanan Biksu Tong Sam Cong ke Barat yang murid-muridnya. Sejumlah binatang yang mewakili kedua belas shio terlihat pada relief lukisan ini.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Patung Ibu Sitiwati dan Sam Po Soei Soe di Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol. Sam Po Soei Soe adalah juru mudi Laksamana Cheng Ho yang turun untuk melihat pertunjukan ronggeng dan terpesona dengan penari bernama Sitiwati hingga tertinggal kapal yang telah berlayar.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Punya sayap tetapi tidak bisa terbang. Begitulah nasib burung-burung yang malang di lorong masuk Kelenteng Bahtera Bhakti ini. Mereka berdesak-desakan di kandang yang bau dan sempit menunggu nasib, yang entah lebih baik entah lebih buruk.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Berkandang-kandang burung itu dijejer dan bertumpuk-tumpuk, sementara penunggu lapaknya tiduran di atas bangku buluk. Saya kira pengurus kelenteng perlu memikirkan bagaimana agar pedagang memperlakukan binatang yang mestinya hidup bebas ini dengan lebih baik.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Kim Lo, tempat pembakaran uang kertas sembahyang, yang biasanya berbentuk pagoda dengan lubang pembakaran di dalamnya. Membakar uang kertas merupakan sebuah amalan dengan harapan agar arwah para leluhur tidak kekurangan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Pandangan dekat pada lubang pada pembakaran kertas sembahyang dengan bara api yang masih menyala merah terang, serta asap putih mengepul dari sisa bakaran kertas.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Seorang pria tengah membakar hio dengan api lilin. Setelah hio menyala, apa pada hio tidak boleh ditiup dengan mulut, namun mematikannya harus dengan dikibas-kibaskan sampai apinya mati. Altar ini adalah Altar Delapan Dewa dengan patung-patung kecil para dewa terlihat berada di dalamnya.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Lorong yang menghubungan dua altar di bagian depan dengan bangunan utama Kelenteng Bahtera Bhakti. Dua orang petugas tampak tengah duduk beristirahat di sebelah lilin-lilin berukuran raksasa yang harganya mencapai puluh jutaan. Kelenteng ini tampak kotor karena tengah dilakukan perbaikan.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Altar pemujaan Coi Sua Ti Cu, Dewa Pembuka Langit, yang berada di depan bangunan utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol dengan patung harimau putih di bagian bawah.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Sebuah bangunan yang tampak masih baru berisi patung Buddha Empat Muka atau Dewa Empat Wajah, seperti yang ada di Kenjeran Surabaya, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Keempat muka melambangkan empat sifat Buddha, yaitu kasih sayang, murah hati, adil dan meditasi. Patung yang ada di Kuil Erawan Bangkok melambangkan Muka Kedamaian dan Kesehatan, Muka Hubungan Baik, Muka Keberuntungan, dan Muka Perlindungan terhadap Kejahatan.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Selain beraksara Tionghoa ada pula akasara Latin nama pemiliknya ditulis pada badan lilin-lilin berukuran besar ini. Juga doa-doa atau syair kebajikan. Sebagian lilin itu sudah menyala, sebagian lagi terlihat masih baru dan belum dibakar.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Lilin dengan berat 1000 kati (1 kati = 6¼ ons) dengan sumbu besar ini harganya lebih dari 10 juta rupiah dan bisa bertahan menyala sampai 6 bulan. Lilin terbesar yang dibuat adalah seberat 2000 kati.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Altar Buddha di Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol, dengan tiga patung berukuran besar di ujung ruangan serta relief Candi Borobudur pada dinding. Di bawah patung tengah terdapat tulisan Se Cia Mo Ni Fo atau Sang Buddha Sakyamuni. Lalu ada tulisan “Omitofok, semoga semua mahluk berbahagia”, dan tulisan “Aku berlindung kepada Sang Ha sampai menuju ke pantai bahagia”.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Pada patung ini terdapat tulisan Tie Cang Wang Po Sat atau Ksitigarbha Bodhisattva dengan persembahan buah-buahan serta kue bulan susun lima yang membentuk kerucut. Ada tulisan bijak "Orang yang berbuat jahat walaupun bencana belum tiba tetapi rejeki telah menjauhinya".

kelenteng bahtera bhakti ancol

Altar Dewi Kwan Im dengan relief berukuran besar pada dinding yang duduk di atas lotus. DI bawahnya ada rupang yang berukuran lebih kecil yang diapit beberapa rupang lainnya. Di bawah terdapat tulisan "Na Mo Ta Pei Kwan She Im Po Sat, Semoga Semua Mahluk Berbahagia".

kelenteng bahtera bhakti ancol

Seorang wanita tengah berdoa dengan wajah tengadah menatap Dewi Welas Asih di atas sana. Di bawah ada tulisan "Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah. Bila tidak ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan menuai hasil yang baik". Lalu di bawahnya ada tulisan "Memohon maaf bukan menjadi hina, memberi maaf bukan menjadi bangga, saling memaafkan menjadi mulia".

kelenteng bahtera bhakti ancol

Relief Kwan She Im Po Sat itu memegang botol berwarna keemasan berisi air suci (amrta) di tangan kiri dan tangan kanan memegang Dahan Yang Liu yang digunakan untuk memercikkan air suci yang dapat mensucikan dan menyembuhkan.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Seorang pria berkaos merah tengah bersembahyang sambil berlutut, sementara yang berkaos biru baru bersiap untuk berdoa. Di bawah kanan ada tulisan lagi yang berbunyi "Seorang yang kaya menghias rumahnya dengan indah, seorang yang berkebajikan memperindah dirinya dengan cinta kasih", serta "Harumnya kebajikan dapat mengalahkan harumnya kayu cendana, bunga melati, bunga teratai, bunga tagara".

kelenteng bahtera bhakti ancol

Sebuah kolam kecil berbentuk bundar terlihat ada di halaman belakang Kelenteng, ditumbuhi keladi serta ada patung pria berjanggut putih panjang tengah tersenyum bahagia dengan seekor ikan besar berwarna keemasan di pangkuannya.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Sikap tangan Buddha ini disebut Dhyana mudra yang melambangkan semadi atau meditasi. Di Candi Borobudur semula terdapat 504 arca Buddha dalam posisi duduk bersila dalam posisi lotus dengan mudra tertentu. Ada lima golongan mudra: Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Tengah, berdasarkan lima arah utama menurut ajaran Mahayana yang masing-masing diwakili oleh Dhyani Buddha.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Ruang altar khusus di bagian belakang Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol itu yang digunakan untuk bersembahyang bagi Embah Said Areli Dato Kembang bersama isterinya yang bernama Ibu Enneng (Pha-Poo). Mereka adalah orang tua dari Ibu Sitiwati yang dimakamkan di ruang utama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Deretan lilin 100 kati dan berbagai ukuran lain yang lebih kecil tersusun rapi pada altar Embah Said Areli Dato Kembang dan Ibu Enneng. Penghormatan orang Tionghoa kepada leluhur atau orang yang dianggap berjasa di masa lalu patut diapresiasi.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Sebuah altar di dalam bangunan bertiang empat dan atap berbentuk segi delapan ini berada di belakang kiri Kelenteng Bahtera Bhakti. Hiasan naga emas pada setiap sudut atap sangat memikat. Demikian pula ornamen yang dibuat pada risplang.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Bunga sedap malam yang telah mulai layu di dalam vas keramik yang cantik. Fungsi bunga di kelenteng selain untuk keindahan adalah juga agar ruangan menjadi harum sehingga membuat orang lebih khusyuk dalam melakukan sembahyang. Dua butir jeruk besar nyaris seperti kelapa diletakkan di atas altar. Berbagai buah-buahan juga bisa dijumpai di altar ini.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Sebuah altar yang diletakkan agak masuk ke dalam diterangi dengan lampu listrik merah dadu bertutup kelambu merah. Sejumlah hio yang masih menyala tampak tertancap pada hiolo di depan altar pertanda baru ada orang sembahyang di sini.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Seorang wanita tengah berdoa di depan altar Sam Po Soei Soe dengan memegang setumpuk uang kertas sembahyang yang akan dibakar di dalam Kim Lo setelah selesai sembahyang. Semakin banyak uang kertas yang dibakar semakin banyak amalan yang dikirim ke leluhur.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Selain rupang Iboe Sitiwati dan Sam Po Soei Soe ada rupang lebih kecil berkalung bunga berpakaian kebesaran khas Tionghoa yang diletakkan diantara kedua rupang dalam posisi duduk terbuat dari tembaga. Agak ke kiri bawah ada lagi rupang yang lain dengan pakaian warna-warni.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Sebuah jam dinding dengan ornamen bebungaan bertulis "Pour l'amour de moi" atau "Untuk kepentingan saya". Jarum jamnya sendiri dan angka-angkanya sudah lenyap entah kemana.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Makam Sam Po Soei Soe dan Iboe Sitiwati yang berada tepat di bawah altarnya. Tampaknya hanya ada satu makam di sana, entah mereka dikubur dalam satu makam atau berdampingan di sebelahnya. Bunga mawar merah dan putih serta bunga kantil tampak tertebar di atas makamnya.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Altar Kong Toe Tjoe Seng dengan rupang memakai jubah warna kuning bersulam naga merah. Kong Toe Tjoe Seng adalah yang diminta Sam Po Soei Soe untuk membangun kelenteng Da Bo Gong, tempat memuja Dewa Air, yang kemudian menjadi Kelenteng Bahtera Bhakti.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Pemandangan tiga altar yang berderet di ruang utama Kelenteng Bahtera Bhakti, dipisahkan oleh jam dinding yang bertulis kata dalam bahasa Perancis itu. Papan berhuruf Tionghoa di atas altar terlihat sudah tua dan kusam.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Nyala lilin di dalam remang ruang kelenteng memberi kesan indah. Selain sebagai penerang, lilin juga diberi aroma sehingga menyebarkan bau wangi ketika terbakar. Meskipun sudah ada lampu listrik namun fungsi lilin dan lampu minyak masih tetap dipertahankan di kelenteng.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Pandangan samping pada altar dan makam Ibu Sitiwati dan Sam Po Soei Soe. Jika tah tahu ceritanya maka mungkin orang akan tak menduga bahwa di dalam Kelenteng Bahtera Bhakti ini ada kuburan yang bersejarah.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Tulisan pada nisan makam itu berbunyi "Kramat Sam Po Soei Soe, Iboe Sitiwati". Di Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol ini juga dikubur Ibu Mone, adik Ibu Sitiwati.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Tiga buah cawan kecil diletakkan di depan altar Giok Ong Siang Te. Pada bagian depan meja altar tampak ukiran rupang dan benda lainnya. Debu bekas bakaran dupa tampak menggunung pada hiolo dan meluber ke bawahnya.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Kesibukan di bagian depan Kelenteng Bahtera Bhakti. Hio berbentuk kukusan nampak menggantung di sepanjang blandar kelenteng yang memberi wewangian pada pengunjung.

kelenteng bahtera bhakti ancol
Sebuah patung singa di dekat dua buah lilin 1000 kati yang tinggal sedikit lagi akan habis. Singa dan hiolo kaki tiga di dekatnya terlihat sudah berumur tua. Ornamen naha hitam tampak melilit pada tiang. Warna naga hitam jarang saya jumpai di kelenteng lainnya.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Lonceng dan tambur (lou kou) Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol. Tambur biasanya ditabuh ketika orang akan bersembahyang, yang bisa kapan saja. Sedangkan genta biasanya ditabuh pada waktu maghrib, sebaga tanda pergantian hari.

kelenteng bahtera bhakti ancol

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Utara, Hotel Melati di Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Utara.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.