Ereveld Ancol Jakarta

January 11, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Di sebuah Sabtu jelang Imlek beberapa bulan yang lalu, bersama dengan Olive Bendon, pagi-pagi saya berkunjung ke Ereveld Ancol Jakarta, kompleks kubur tertata rapi di dalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, tepat di bibir Laut Jawa. Sebagai 'ahli kubur', Olive yang mengatur perijinan untuk kunjungan ini.

Berkunjung ke Ereveld Ancol Jakarta perlu ijin Oorlogsgravenstichting Indonesie. Kami datang melalui Pintu Masuk Ancol Timur. Ini ongkos termahal untuk berkunjung ke kompleks sebuah kubur, oleh sebab lokasinya berada di dalam kawasan wisata Ancol. Kami menyusur tepian pantai sejauh 1 km sebelum tiba ke lokasi kubur. Namun entah hanya di hari itu atau di setiap akhir pekan, jalan dua arah di depan pintu gerbang makam ternyata hanya dibuka satu jalur, yaitu yang ada di sebelah kanan. Sehingga kami melewatinya terlebih dahulu, memutar kendaraan, dan membuka pembatas jalan sebelum bisa parkir di dekat gerbang ereveld.

Dulu ada 22 tempat seperti Ereveld Ancol Jakarta ini yang tersebar di beberapa tempat di Indonesia. Pada 1945 Presiden Soekarno meminta agar semua kubur Belanda dipusatkan di Pulau Jawa sehingga kini tersisa 7 buah. Jasad di Ereveld Ancol ada yang berasal dari Mandor, Brastagi, Banjarmasin, Manado, Mantoangin, dan beberapa tempat lagi. Ereveld Ancol Jakarta menjadi kubur lebih dari 2000 korban perang yang tewas antara kurun waktu 1942 - 1945, termasuk 128 tentara Inggris dan Austrialia, namun hanya 58 yang bisa dikenali. Peresmian pertama Ereveld Ancol terjadi pada 14 September 1946. Di ujung Ereveld terdapat monumen dan pohon Mindi yang dahulu menjadi tempat eksekusi.

gerbang ereveld ancol jakarta
Gerbang Ereveld Ancol Jakara dengan nama yang diembos mencolok di pilar gerbang sebelah kiri dan kanan. Pagar berjeruji besi memiliki roda yang bisa digeser ke dalam untuk membukanya, dan di tengah jeruji terdapat lambang kerajaan berupa singa. Sebelumnya Olive memencet bel di sisi kanan tembok, dan muncul penjaga yang membukakan gembok pintu. Memasuki kompleks Ereveld Ancol Jakarta terlihat hamparan kubur luas yang terpelihara dengan sangat baik, sebaik Ereveld Menteng Pulo yang kami kunjungi sebelumnya.

Pemandangan sesaat setelah melewati gerbang Ereveld Ancol cukup mengesankan. Di sebelah kiri ada papan informasi berisi sejarah Ereveld Ancol Jakarta. Tanggul baru pencegah banjir selesai dibuat pada Oktober 2009, dilanjutkan renovasi menyeluruh pada area makam. Ada prasasti peresmian pembukaan kembali Ereveld Menteng Pulo pada 25 Februari 2010 yang ditandatangani RS Croll, Presiden Oorlogsgravenstichting. Letak Ereveld Ancol Jakarta ini lebih rendah dari permukaan air laut. Sebelum renovasi, kubur selalu kebanjiran di musim penghujan. Pada 2007 dibangun tanggul baru yang membuat Ereveld Ancol bebas banjir sedikitnya selama 30 tahun. Rancangan tanggul dikerjakan oleh Witteveen + Bos, dan pembangunan fisiknya dilaksanakan PT Grasindo.

Di Ereveld Ancol Jakarta ada prasasti bertulis "Oorlogs Graven Stichting, opdat zij met eere Mogen Rusten" atau "Yayasan Makam Perang, Supaya mereka beristirahat dengan kehormatan". Di tengahnya ada perisai dengan singa bermahkota menggenggam pedang dan tujuh anak panah (melambangkan tujuh provinsi persekutuan Utrecht). Di atasnya ada mahkota kerajaan dan perisai dipegang dua ekor singa yang berdiri di atas pita bertuliskan "Je Maintiendrai", dari Bahasa Perancis abad pertengahan yang berarti "Aku akan bertahan". Di sudut perempatan blok terdapat prasasti Dit Ereveld wordt onderhouden door de Oorlogsgravenstichting", atau "Ereveld ini dikelola oleh Yayasan Makam Perang".

Jalan paving blok membelah Ereveld Ancol di bagian tengah. Ada tiga jalan paving blok dalam posisi melintang yang membagi deretan kubur menjadi enam bagian hampir sama besar. Tulisan pada nisan kubur pada sisi ini kebanyakan berisi nama-nama orang Belanda. Namun ada cukup banyak nisan bertuliskan "Onbekenden", orang tak dikenal, dan ada tulisan "Geexecuteerd Mandor" atau dieksekusi di Mandor. Ada lagi tulisan yang memberi informasi tempat eksekusi seperti di Kendari, Brastagi, Banjarmasin, Antjol, dan beberapa kota lainnya. Ada pula tengara nisan yang berisi nama lebih dari satu orang.

Di atas tanggul ada gazebo bambu dimana pengunjung bisa melihat air laut dan pantai Ancol di sisi kiri. Pada taman di sisi kanan ada pendopo tempat menerima tamu. Di sini kami mengisi buku tamu, dan berbincang dengan Dicky Purwadi, pria ramah bertubuh besar, berkacamata, berkumis dan sedikit brewok yang menjadi pengawas Ereveld Ancol Jakarta. Kami disuguhi air mineral yang disediakan secara cuma-cuma. Di sebelah kiri pendopo ada bangunan kantor, rumah dinas, garasi, dan ruang kerja. Dicky yang tampak jauh lebih matang dari usianya yang baru 33 tahun itu tinggal di tempat ini selama 24 jam. Menurutnya, sekali-sekali ada juga pengunjung yang meminta berkunjung pada malam hari.

Dicky berkisah bahwa pada jaman Jepang ada tukang sapu tuli bisu di Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol yang melihat truk Jepang membawa tawanan ke tempat yang tidak jauh dari kelenteng, dekat sebuah pohon di tepi laut. Karena penasaran ia mengintip, dan terlihatlah olehnya pembantaian tawanan pribumi dan orang Eropa oleh tentara Jepang. Area dimana Ereveld Ancol Jakarta dahulu memang hutan rawa. Sejak 1946 ada tim Belanda mencari korban Perang Dunia II yang hilang. Tukang sapu kelenteng itulah yang kemudian memberi petunjuk tempat eksekusi orang-orang Eropa yang hilang itu. Letak Kelenteng Bahtera Bhakti memang sangat dekat ke Ereveld Ancol Jakarta, kurang dari 150 m. Hanya saja akses langsung telah tertutup tembok sehingga sekarang harus memutar 3 km.

Yang menarik adalah adanya sejenis Pohon Mindi di Ereveld Ancol Jakarta, yang dulu merupakan satu-satunya pohon besar yang tumbuh di tempat itu, kini menjadi pohon yang diawetkan. Di sinilah tempat eksekusi ratusan tawanan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Pada batang Pohon Surga (Hemelboom) ini terdapat penggalan puisi karya Laurence Benyon (Binyon) berjudul "For the Fallen", yang berbunyi Hemelboom. They shall not grow old, as we that are left grow old. Age shall not weary them, nor the years condemn at the going down of the sun and the morning. We shall remember them. We shall remember them. Antjol 1942 - 1945.

Robert Laurence Binyon, CH (10 Agustus 1869 - 10 Maret 1943) adalah penyair, dramawan dan sarjana seni Inggris. For the Fallen, digunakan dalam Kebaktian Remembrance Sunday, yang di Inggris dilakukan pada Minggu kedua November, hari terdekat dengan Armistice Day, peringatan berakhirnya Perang Dunia I pada jam 11.00 pagi, 11 November 1918.

Diantara pohon dan monumen terdapat pusara Luuth Ubels, yang salah dieksekusi karena nama depannya sama dengan nama saudara laki-lakinya. Di bawah tiang bendera ada tengara "Ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden" atau "Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak beristirahat di taman-taman kehormatan." Pada dinding depan Monumen Ereveld Ancol terdapat tulisan "Hun geest heeft overwonnen" atau "Semangat mereka telah menang". Di tempat ini korban pembantaian dikubur secara masal dan disemen. Tentara Jepang hanya memberi tanda salib bertuliskan 'orang Eropa yang telah meninggal'. Setelah ditemukan, berkat petunjuk penjaga kelenteng itu, lubang kubur digali, dikumpulkan kerangkanya, dan lalu dikubur kembali di tempat ini.

Ereveld Ancol bukan hanya menjadi kubur orang Eropa, namun juga orang pribumi. Salah satunya adalah Prof. Dr. Achmad Mochtar, Direktur Pertama Lembaga Eijkman yang difitnah dan dieksekusi pada 3 Juli 1945 dan kuburnya baru ditemukan pada 2010. Konon ia adalah satu dari sekian orang yang tewas dengan cara digilas dengan tank tentara Jepang. Bermula dari tewasnya ratusan romusha pada 1945 setelah disuntik vaksin tetanus yang kadaluwarsa. Jepang menuduh Prof. Mochtar melakukani sabotase. Meskipun menolak tegas karena tidak bersalah, namun ia memilih menyelamatkan ilmuwan lainnya yang akan dieksekusi tentara Jepang jika ia tidak bersedia meneken surat pernyataan bersalah. Ada pula seorang pemuka Tionghoa di Depok yang ditangkap ketika tengah mendengarkan siaran radio di rumahnya dan dieksekusi di tempat ini.

Setelah berkeliling kami menuju gazebo dan sempat melihat air buangan perumahan yang dipompa secara berkala masuk ke laut. Kadang air buangan ini berwarna pekat, menandakan tingkat pencemaran yang tinggi. Ketika saya bertanya apakah pernah menemukan kejadian aneh selama bekerja di sini, Dicky menjawab belum. Mungkin karena niatnya hanya bekerja, atau karena mereka yang dikubur merasa cukup dimuliakan. Sejenak kemudian kami berpamitan ke Dicky seraya menyampaikan ucapan terima kasih untuk penerimaannya yang sangat baik, ramah, dan informatif.

Ereveld Ancol Jakarta

Alamat : Kompleks Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Lokasi GPS : -6.11827,106.854419, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : setiap hari jam 08.00 - 17.00. Kunjungan malam dimungkinkan. Harga tiket masuk : Tidak dipungut biaya. Ijin kunjung : Oorlogsgravenstichting Indonesie, Jl. Panglima Polim Raya 23, Kebayoran Baru, Jakarta. Telp +62 21 7207983. Fax +62 21 7252986. Email: ogsind@cbn.net.id.

Video



Galeri Foto

Deret kubur Ereveld Ancol Jakarta yang berada di paruh area kiri depan. Jalan paving blok membelah Ereveld Ancol di bagian tengah. Ada tiga jalan paving blok dalam posisi melintang yang membagi deretan kubur menjadi enam bagian hampir sama besar. Tulisan pada nisan kubur pada sisi ini kebanyakan berisi nama-nama orang Belanda. Namun ada cukup banyak nisan bertuliskan "Onbekenden", orang tak dikenal, dan ada tulisan "Geexecuteerd Mandor" atau dieksekusi di Mandor. Ada lagi tulisan yang memberi informasi tempat eksekusi seperti di Kendari, Brastagi, Banjarmasin, dan beberapa kota lainnya. Ada pula tengara nisan yang berisi nama lebih dari satu orang.

onbekenden ereveld ancol jakarta

Prasasti bertulis "Oorlogs Graven Stichting, opdat zij met eere Mogen Rusten" atau "Yayasan Makam Perang, Supaya mereka beristirahat dengan kehormatan". Di tengahnya ada perisai dengan singa bermahkota menggenggam pedang dan tujuh anak panah (melambangkan tujuh provinsi persekutuan Utrecht).

Di atasnya ada mahkota kerajaan dan perisai dipegang dua ekor singa yang berdiri di atas pita bertuliskan "Je Maintiendrai", dari Bahasa Perancis abad pertengahan yang berarti "Aku akan bertahan". Di sudut perempatan blok terdapat tengara "Dit Ereveld wordt onderhouden door de Oorlogsgravenstichting", atau "Ereveld ini dikelola oleh Yayasan Makam Perang".

oorlogs graven stichting ereveld ancol jakarta

Sejenis Pohon Mindi, yang dulu merupakan satu-satunya pohon besar yang tumbuh di tempat itu, kini menjadi pohon yang diawetkan.Di sinilah tempat eksekusi ratusan tawanan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Pada batang Pohon Surga (Hemelboom) ini terdapat penggalan puisi karya Laurence Benyon (Binyon) berjudul "For the Fallen", yang berbunyi Hemelboom. They shall not grow old, as we that are left grow old. Age shall not weary them, nor the years condemn at the going down of the sun and the morning. We shall remember them. We shall remember them. Antjol 1942 - 1945.

Robert Laurence Binyon, CH (10 Agustus 1869 - 10 Maret 1943) adalah penyair, dramawan dan sarjana seni Inggris. For the Fallen, digunakan dalam Kebaktian Remembrance Sunday, yang di Inggris dilakukan pada Minggu kedua November, hari terdekat dengan Armistice Day, peringatan berakhirnya Perang Dunia I pada jam 11.00 pagi, 11 November 1918.

laurence benyon for the fallen ereveld ancol jakarta

Pemandangan yang saya lihat sesaat setelah melewati gerbang Ereveld Ancol. Cukup mengesankan. Di sebelah kiri ada jalan beraspal cukup lebar, yang sepertinya diperuntukkan bagi tamu VIP yang berkunjung ke makam.

ereveld ancol jakarta

Sebuah poster pada papan informasi di tepi jalan sebelah kiri yang berisi riwayat Ereveld Ancol, ditulis dalam bahasa Indonesia. Agak jauh di sebelah kanan pada papan yang sama ada pula versi dalam Bahasa Belanda.

sejarah ereveld ancol jakarta

Tengara peresmian pembukaan kembali Ereveld Menteng Pulo pada 25 Februari 2010, ditulis dalam bahasa Belanda dan ditandatangani oleh RS Croll, Presiden Oorlogs Graven Stichting.

prasasti peresmian ereveld ancol jakarta

Poster riwayat Ereveld Ancol dalam bahasa Belanda. Pengunjung yang tak bisa membaca tulisan bahasa Indonesia dan bahasa Belanda harus puas dengan penjelasan oleh tour guide... .

sejarah ereveld ancol jakarta

Di belakang papan informasi dan prasasti peresmian, di batas atas tanggul ada sebuah gazebo bambu yang dari tempat ini pengunjung bisa melihat genang air laut persis dibalik tanggul dan garis pantai Ancol memanjang di sisi kiri.

gazebo ereveld ancol jakarta

Olive dan Dicky di dalam cungkup pendopo tanpa dinding dimana tamu biasa diterima saat pertama kali datang. Air mineral dalam gelas plastik disediakan bagi para tamu di tempat ini secara cuma-cuma.

dicky ereveld ancol jakarta

Paruh kiri Ereveld Ancol dilihat dari luar pendopo. Tak ada pohon sama sekali di tengah area kubur ini, hanya hijau rumput yang sedikit membantu pemandangan pejalan. Meski di sisi sebelah kanan lumayan banyak pohon berdaun rimbun, namun tidak demikian dengan sisi kubur di sebelah kiri.

ereveld ancol jakarta

Paruh kiri kubur dilihat dari dekat jalan pedestrain yang membelah area menjadi dua. Tengara nama tersusun rapi dan sangat sempurna. Tak ada yang miring satu pun. Jauh di belakang sana adalah monumen utama di dalam kompleks kubur ini.

pedestrian ereveld ancol jakarta

Foto yang memperlihatkan posisi cungkup pendopo terhadap posisi bangunan dimana terdapat poster dan prasasti, serta posisi Gazebo di atas tanggul. Di sebelah kiri pendopo (tak terlihat pada foto) ada bangunan kantor, rumah dinas, garasi, dan ruang kerja.

pendopo ereveld ancol jakarta

Foto Ereveld Ancol yang diambil dari pojok kanan area, memperlihatkan hampir keseluruhan area kubur, yang berbatas tembok di sebelah kanannya. Pepohonan ditanam di luar tembok pembatas itu. Monumen Ereveld terlihat jauh di sebelah kanan belakang.

monumen ereveld ancol jakarta

Foto yang memperlihatkan batas kiri Ereveld Ancol dengan paving blok dan tembok rendah, serta Gazebo bambu di ujung sana. Kubur di paruh kanan ini diperuntukkan bagi jasad orang-orang pribumi korban perang dengan penanda kubur sesuai dengan agamanya.

kubur orang pribumi ereveld ancol jakarta

Ada banyak penanda kubur dengan pemilik tak dikenal bertuliskan "Geexecuted Bandjermasin" pada blok ini, yang menandai kubur pindahan dari Banjarmasin. Masih di blok ini ada pula korban perang yang dieksekusi di Ancol.

geexecuted bandjermasin ereveld ancol jakarta

Selain penanda kubur "Geexecuteerd Antjol", ada pula penanda kubur lebar dengan judul "Verzmelgraf" atau Kuburan Massal dengan banyak nama di bawahnya. Pada baris paling bawah terdapat nama Prof. Dr. A. Mochtar yang dieksekusi Jepang pada 3 Juli 1945. Prof. Dr. Achmad Mochtar adalah Direktur Pertama Lembaga Eijkman.

achmad mochtar ereveld ancol jakarta

Paving blok jalan yang membelah Ereveld Ancol menjadi dua dan berujung di Monumen Ereveld Ancol. Di sisi sebelah kiri terlihat penanda kubur dari mereka yang dieksekusi di Ancol. Sedangkan di sebelah kanan ada banyak korban perang yang dieksekusi oleh tentara Jepang di Bojonegoro.

monumen ereveld ancol jakarta

Di sebuah sudut perempatan blok terdapat lagi tengara yang berbunyi “Dit Ereveld wordt onderhouden door de Oorlogsgravenstichting”, atau “Ereveld ini dikelola oleh Yayasan Makam Perang”. Pot-pot tanaman berdaun merah yang diletakkan di setiap sudut perempatan memberi warna berbeda pada kompleks Ereveld Ancol yang didominasi warna hijau rumput dan nisan putih ini. Membayangkan jika saja yang ditanam adalah bunga tulip beraneka warna tentu akan memberi kesan lebih hidup.

oorlogsgravenstichting ereveld ancol jakarta

Di blok paling ujung kanan ini tampaknya hampir semuanya berisi korban yang dieksekusi oleh tentara Jepang di Ancol. Blok ini letaknya paling dekat ke lokasi pohon dimana pembantaian itu dulu dilakukan oleh bala tentara Jepang.

ereveld ancol jakarta

Olive di dekat pohon yang menjadi tempat eksekusi ratusan tawanan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Sejenis Pohon Mindi yang dulu merupakan satu-satunya pohon besar yang tumbuh di tempat itu kini menjadi pohon mati yang diawetkan. Di sebelah kiri ada nisan terpisah, yang menurut Dicky adalah kubur seorang wanita korban salah tangkap. Pada nisan tertera nama L. Ubels. Luuth Ubels dieksekusi karena kebetulan memiliki nama depan yang sama dengan nama saudara laki-lakinya.

pohon mindi ereveld ancol jakarta

Pada batang pohon yang disebut sebagai Pohon Surga (Hemelboom) ini terdapat tengara berisi penggalan puisi karya Laurence Benyon (Binyon) berjudul “For the Fallen” yang tengah dipotret oleh Olive.

hemelboom ereveld ancol jakarta

Diapit oleh dua tiang bendera di sebelah kanan terdapat tengara berbunyi “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden”. dengan terjemahannya ada pada bawah tiang di blok paruh kiri: “Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak beristirahat di taman-taman kehormatan.”

monumen ereveld ancol jakarta

Pandangan samping Monumen Ereveld Ancol dengan pot-pot bunga yang cukup membantu memberi suasana lebih asri dan ramah. Di tempat itu dulu para korban dikubur secara massal oleh tentara Jepang setelah dieksekusi.

monumen ereveld ancol jakarta

Pada bawah tiang di sisi kiri ini terdapat tengara bertuliskan "Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak beristirahat di taman-taman kehormatan."

prasasti ereveld ancol jakarta

Di dinding depan Monumen Ereveld Ancol terdapat tulisan “Hun geest heeft overwonnen” atau semangat mereka telah menang. Di tempat inilah para korban pembantaian dikubur oleh Jepang secara masal dan disemen bagian atasnya. Tentara Jepang hanya memberi tanda salib bertuliskan ‘orang Eropa yang telah meninggal’. Setelah ditemukan, berkat petunjuk penjaga kelenteng itu, lubang kubur digali, dikumpulkan kerangkanya, dan lalu dikubur kembali di tempat ini.

prasasti ereveld ancol jakarta

Sisi kiri luar kubur Ereveld Ancol dengan pepohonan yang mulai tumbuh. Pada saatnya nanti pohon-pohon itu bisa memberi sedikit keteduhan atau setidaknya menambah keramahan tempat ini. Tanggul laut terlihat ada di sebelah kiri.

tanggul ereveld ancol jakarta

Dicky di Gazebo dengan latar belakang air laut di kawasan Ancol. Dari tempat ini saya bisa melihat sebuah pipa besar yang secara periodik memuntahkan air kotor buangan perumahan ke laut. Entah sampai kapan pemprov DKI bisa memaksa para pengembang untuk lebih dahulu mengolah air sebelum dibuang ke laut.

ereveld ancol jakarta

Panorama Ereveld Ancol dilihat dari dalam Gazebo di atas tanggul penahan air laut. Kerapihan dan kebersihan area yang cukup luas ini patut dipuji, meski tidak mengutip uang satu peser pun dari para pengunjung.

tanggul ereveld ancol jakarta

Foto yang memperlihatkan perbandingan ketinggian air laut di luar tanggul di sebelah kiri dengan area kubur yang terletak di bawah. Tak heran sebelum tanggul diperbaiki, setiap musim penghujan Ereveld Ancol selalu kebanjiran.

tanggul ereveld ancol jakarta

Suasana kubur memang mestinya tenang dan rapi asri seperti ini, mungkin bukan bagi si mati, namun lebih bagi keluarga agar mereka bisa khusuk berdoa bagi sanak saudara yang telah mendahului mereka pergi ke alam langgeng.

ereveld ancol jakarta

Olive di pojok Gazebo bambu dengan latar belakang pintu gerbang masuk ke Ereveld Ancol. Sebuah kebaikan hati dari pengelola, yang selain menyediakan pendopo dengan minuman cuma-cumanya, juga menyediakan tempat seperti ini untuk para pejalan sejenak beristirahat sebelum meneruskan perjalanan.

gazebo bambu ereveld ancol jakarta

Pandangan utuh pada pohon Surga di Ereveld Ancol Jakarta Utara.

pohon surga ereveld ancol jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Utara, Hotel Melati di Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Utara.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.