Taman Fatahillah Jakarta

January 02, 2020. Label:
aroengbinang.com -
Sudah cukup sering ke Taman Fatahillah Jakarta, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun naik KRL dan Bus TransJakarta. Juara pertamanya adalah naik KRL di jam yang tak begitu sibuk karena nyaman, cepat, dan ongkosnya murah. Kali ini kami menumpang Metromini dan turun di Halte Tugas di mulut Kawasan Industri Pulogadung (sekarang ada bus TJ dari Pulo Gebang ke Pulo Gadung). Setelah naik Bus TransJakarta Pulogadung - Dukuh Atas kami turun di Halte Dukuh Atas untuk transit ke Bus TransJakarta jurusan Blok M - Kota.

Turun di Halte Kota TransJakarta, kami berjalan kaki menyeberang jalan lewat lorong bawah tanah, keluar di Jalan Pintu Besar Selatan di dekat Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia, yang letaknya bersebelahan. Kami pun iseng mencoba naik ojek sepeda dengan membayar Rp. 5.000 untuk ke Taman Fatahillah, meskipun jaraknya dekat saja jika berjalan kaki.

Ada sensasi tersendiri ketika membonceng sepeda, satu hal yang sudah sangat lama tak saya lakukan, dibawa berputar lewat Jl Kalibesar Timur di tepi Kali Krukut dan berhenti di lorong menuju ke Taman Fatahillah Jakarta dimana banyak berjejer para pedagang kaki lima yang berjualan makanan minuman aneka rupa. Jika naik KRL maka biasanya kami naik angkot ke Stasiun Buaran, dan lalu menumpang KRL jurusan Bekasi - Kota. Turun di Kota, tinggal jalan kaki menyeberang jalan di depan Stasiun Kota menuju ke Taman Fatahillah.

taman fatahillah jakarta
Salah satu ikon Taman Fatahillah Jakarta. Sepeda sewa dengan cat warna-warni mencorong yang dulu hanya beberapa buah, kini terlihat berjejer dalam jumlah banyak. Bersepeda di area taman menjadi sensasi tersendiri oleh sebab banyak warga Jakarta dan pelancong yang sudah jarang menyentuh sepeda di tempat tinggal mereka. Berfoto di samping atau di atas sadel sepeda tua dengan mengenakan topi kuno berlatar belakang bangunan dari jaman kolonial juga menjadi kenangan tersendiri.

Di Taman Fatahillah biasanya bisa dijumpai Ondel-ondel asli yang dibuat dari anyaman bambu. Topeng Ondel pria umumnya dicat merah dan berkumis, sedangkan topeng wanitanya berwarna putih. Diduga boneka Ondel-ondel ini telah ada sebelum Islam menyebar di Jawa. Pertunjukan Ondel-ondel sering diiringi musik tanjidor, namun ada pula yang diiringi Pencak Betawi, dan bunyian peralatan musik lain seperti Bende, Kemes, Ningnong dan Rebana ketimpring.

Penampilan kelompok yang menamakan diri mereka Manusia Levitasi Indonesia juga bisa disaksikan di Di Taman Fatahillah Jakarta. Salah satunya berpakaian dan bersikap menyerupai patung hidup Panglima Besar Jenderal Sudirman, lengkap dengan keris di pinggang dan senapan mainan menggeletak di depannya. Namanya juga patung hidup, makanya mata si patung terlihat kepo pada tiga anak muda yang sedang asik ngobrol di sebelahnya. Pejalan bisa berfoto dengan mereka dan meletakkan uang serelanya di kotak apa saja yang dijadikan penampung derma.

Ada cuplikan pagelaran kolosal di Taman Fatahillah Jakarta yang diselenggarakan oleh Museum Fatahillah berjudul "Rekonstruksi Sejarah Penyerangan Sultan Agung ke Batavia 1628 - 1629". Para pemeran pasukan Sultan Agung tampak bergerak beriringan menuju satu tempat. Perhatikan Bendera Kesultanan Mataram yang dibawa seorang prajurit. Bendera berdasar warna merah itu bergambar bulan sabit berwarna putih dan sepasang keris telanjang menyilang bergagang putih dan warna bilah biru.

Bulan sabit jelas menunjukkan pengaruh Islam, kemungkinan Kesultanan Ottoman, sedangkan keris adalah senjata tradisional utama orang Jawa. Sultan Agung mengirim pasukan dua kali untuk menyerang Belanda di Batavia. Serangan pertama berlangsung Agustus - Oktober 1628, dan serangan kedua Mei - Juni 1629. Kedua serangan gagal karena kekalahan intelijen, logistik, strategi perang, serta persenjataan. Pada serangan kedua, pasukan Sultan Agung membendung dan mengotori Sungai Ciliwung yang mengakibatkan timbulnya wabah kolera di Batavia, dan Gubernur Jenderal VOC J.P. Coen meninggal karena wabah itu.

Ada cukup banyak patung hidup di taman ini, yang kadang berdiri tersebar di beberapa tempat dan kadang berderet di satu bagian taman. Umumnya mereka mengambil peran kehidupan orang di jaman kolonial, baik orang Belanda maupun Betawi, dan sejumlah tokoh terkenal yang hidup di jaman perjuangan kemerdekaan. Hiburan lainnya di Taman Fatahillah adalah seorang kakek yang memainkan sekelompok boneka joged dengan musik menghentak genit.

Saya sempat mengambil foto Taman Fatahillah dengan latar Gedung Pos Indonesia yang cantik, memunggungi Museum Fatahillah. Di sisi kanan pada foto adalah kubah air mancur yang berada di tengah taman, direkonstruksi berdasar lukisan pegawai VOC asal Denmark bernama Johannes Rach. Airnya dulu berasal dari Pancoran Glodok yang dialirkan dengan pipa ke stadhuiplein, nama Taman Fatahillah di jaman kolonial. Pada 1972 dilakukan penggalian di tempat ini dan berhasil ditemukan pondasi air mancurnya, lengkap dengan pipa-pipanya.

Di sebelah kiri taman ada gedung Cafe Batavia dan Museum Wayang dan di sebelah kanan ada Museum Seni Rupa dan Keramik. Sekali datang ke Taman Fatahillah ada banyak tempat yang bisa dilihat dan dikunjungi. Meskipun namanya taman, namun tempat ini bisa dibilang miskin pepohonan rimbun. Tak ada pula tanah berumput terbuka. Semua area sudah dipasang batu potong atau keramik. Bersih namun gersang. Tinggal bekas pokok mati sebagai kenangan, dan beberapa batang pohon muda.

Sebelum pulang, saat hujan masih rintik, kami sempatkan mampir di Kedai Seni Djakarta di sisi Barat Taman Fatahillah, sejajar dengan Museum Wayang, untuk menyeruput teh hangat, dan mengudap pisang bakar keju serta kentang goreng. Ada pula cafe lain di sebelahnya, selain Cafe Batavia yang interior dan makanannya lebih berselera. Taman Fatahillah adalah tempat yang orang bakal tak pernah bosan untuk berkunjung ke sana, lantaran ada banyak hal yang bisa dilakukan serta tontonan yang tak perlu mengeluarkan uang banyak. Warung kaki lima tersedia, pedagang kaki lima juga banyak, hingga restoran kelas atas pun tersedia.

Informasi Taman Fatahillah Jakarta

Alamat : Jl Taman Fatahillah, Kota, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.134664, 106.813242, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto Taman Fatahillah

Harap bersabar, karena kadang butuh waktu untuk foto muncul di layar.

Di Taman Fatahillah Jakarta pengunjung akan melihat Manusia Levitasi Indonesia. Salah satunya berpakaian Panglima Besar Jenderal Sudirman, lengkap dengan keris dan senapan. Pengunjung bisa berfoto dengan mereka dan menyumbang serelanya.

taman fatahillah jakarta

Cuplikan pagelaran kolosal di Taman Fatahillah Jakarta oleh Museum Fatahillah berjudul "Rekonstruksi Sejarah Penyerangan Sultan Agung ke Batavia 1628 - 1629". Bendera Kesultanan Mataram yang dibawa seorang prajurit memiliki warna merah, bergambar bulan sabit putih dan keris telanjang gagang putih dan bilah biru dalam posisi menyilang.

taman fatahillah jakarta

Taman Fatahillah dengan latar Gedung Pos Indonesia. Di sebelah kanan merupakan kubah air mancur yang direkonstruksi dari lukisan Johannes Rach. Pondasi air mancur dengan pipa-pipanya ditemukan pada tahun 1972.

taman fatahillah jakarta

Pemandangan pada Taman Fatahillah dengan latar belakang Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta). Di sebelah kanan adalah gedung Museum Wayang. Di sisi kanan ada Cafe Batavia dan Gedung Kantor Pos, dan di belakang saya ada Museum Seni Rupa dan Keramik. Sekali datang ada banyak tempat yang bisa dikunjungi.

taman fatahillah jakarta

Gang ini memang tampaknya menjadi zona PKL Makanan - Minuman. Belum terlihat adanya penerapan standar bentuk warung PKL maupun standar pelayanan yang bisa memberi kesan baik kepada pengunjung lokal maupun luar negeri.

taman fatahillah jakarta

Sekelompok pemain yang memerankan prajurit Mataram tampak bergerak memasuki arena pertunjukan. Kru dengan peralatan perekam video tampak tertebar di beberapa titik. Pagelaran ini rupanya lebih dimaksudkan untuk direkam ketimbang dipertontonkan, lantaran tak terpasang sistem suara yang membuat penonton bisa mengikuti dialog. Akibatnya penonton seperti melihat sebuah pertunjukan bisu.

taman fatahillah jakarta

Instalasi gubuk yang terlihat ujungnya di sebelah kanan dan potongan rumah kumpeni di samping gedung Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. Pelataran yang kering itu tak lama kemudian menjadi basah lantaran hujan turun, dan memaksa kami untuk berteduh. Meskipun air mengguyur tak begitu deras namun cukup untuk membuat pelataran menjadi licin dan merepotkan pemain ketika melakukan aksi laga.

taman fatahillah jakarta

Seorang pria berpakain Si Pitung berlagak seperti patung diam. Namun ketika seorang gadis cantik lewat menggodanya, aksinya buyar seketika ... Di sebelah kanan tempat berdiri Si Pitung itu tergeletak beberapa buah golok, serta tulisan tangan dengan huruf kapital berantakan berbunyi "Boleh foto Marunda Si Pitung Jago(a)n Betawi". Selalu ada cara untuk mencari makan.

taman fatahillah jakarta

Sebuah potongan adegan yang cukup menarik, meski tak jelas apa yang tengah terjadi antara prajurit Mataram dan si wanita. Perempuan itu cukup menjiwai peran yang dimainkan. Pada adegan lain ia berteriak dan menangis saat diseret oleh kumpeni. Sisa tangisnya masih ada dan terlihat terus sesenggukan meski sudah selesai menjalankan perannya dan telah menepi di luar area.

taman fatahillah jakarta

Para pemeran pemimpin VOC. Pemain yang mengenakan aksesori kain putih pada pakaiannya dengan celana sedikit kedodoran itu saya kenali sebagai pemeran Pak Taka, bos HRD di sinetron komedi OB. Belakangan saya ketahui ia bernama Marlon Renaldy. Jelas tak mudah untuk menggelar tontonan seperti ini, dan karenanya inisiatif untuk menyelenggarakannya patut diacungi jempol. Diperlukan pagelaran yang rutin dan persiapan yang lebih matang untuk meningkatkan kualitas pertunjukan.

taman fatahillah jakarta

Prasasti yang dipasang di lantai Taman Fatahillah yang berbunyi "Lapangan Fatahillah - Fatahillah Square. Lapangan ini dahulu disebut stadhuisplein, merupakan alun-alun kota yang tak terpisahkan dengan Stadhuis (Balai Kota Batavia). Sebagai ruang publik, berbagai aktivitas dilakukan, seperti sosialisasi warga, jual beli, dan pengambilan air bersih. Lapangan ini berfungsi kembali pada tahun 1974 dan menjadi ikon kota tua Jakarta." Di bawahnya ada versi bahasa Inggrisnya.

taman fatahillah jakarta

Air Mancur di tengah Taman Fatahillah ini direkonstruksi berdasar lukisan pegawai VOC asal Denmark bernama Johannes Rach. Airnya dari Pancoran Glodok yang dialirkan dengan pipa ke stadhuiplein, nama Taman Fatahillah di jaman kolonial. Pada 1972 dilakukan penggalian di tempat ini dan berhasil ditemukan pondasi air mancurnya, lengkap dengan pipa-pipanya

taman fatahillah jakarta

Sepenggal kisah tentang Taman Fatahillah yang ditulis dalam bahasa Inggris, dipasang di bawah Air Mancur di tengah taman. Paragraf pertama prasasti ini menyebut bahwa Air Mancur di pusat taman dibangun pada 1743 dan hancur pada abad ke-19.

taman fatahillah jakarta

Versi bahasa Indonesia tentang sejarah Taman Fatahillah yang kini menjadi tempat favorit bagi banyak warga Jakarta dan sekitarnya untuk menghidupkan waktu bersama orang terdekat, terutama di akhir pekan.

taman fatahillah jakarta

Sepasang ondel-ondel di Taman Fatahillah, depan Museum Fatahillah, dan di sebelahnya adalah para meme yang hendak mengerek bendera Merah Putih ke atas tiang.

taman fatahillah jakarta

Deretan sepeda lawas lainnya yang telah menjadi ikon kota tua, khususnya area sekitara Taman Fatahillah Jakarta. Topi dengan gaya dari jaman kolonial, baik untuk pria dan wanita sudah disediakan di atas sepeda. Sebelah kanan adalah tenda yang disediakan sebagai pos petugas yang memberi informasi wisata kota tua.

taman fatahillah jakarta

Di Taman Fatahillah ada cukup banyak pilihan warna sepeda dan warna topi, sedangkan bentuk atau jenis sepedanya relatif sama semua. Warna ban depan rata-rata putih, dan ban belakang warna hitam dibalut warna putih.

taman fatahillah jakarta

Pandangan pada sebuah adegan ketika seorang wanita pribumi ditarik oleh serdadu kompeni. Ini lebih seperti sebuah teater luar ruang ketimbang pengambilan film. Hanya saja penonton tak bisa mendengar dialognya.

taman fatahillah jakarta

Adegan sebuah keluarga rakyat biasa yang masih bersedih setelah para serdadu kompeni pergi dari kampung mereka.

taman fatahillah jakarta

Para prajurit Sultan Agung yang berpakaian beskap tampak tengah minum dan makan sementara kuda-kuda mereka berdiri menunggu di belakangnya.

taman fatahillah jakarta

Meski hanya bisa menebak apa yang tengah terjadi di area Taman Fatahillah yang lumayan luas ini, para pengunjung masih berdiri di sekitar area untuk melihat akhir dari pertunjukan ini.

taman fatahillah jakarta

Si Pitung masih mengangkat tangannya seolah sedang takbir hendak melakukan shalat. Di latar belakang adalah gedung Kantor Pos, yang penampakannya telah berubah lagi ketika kami berkunjung ke sana beberapa waktu kemudian setelah renovasi selesai.

taman fatahillah jakarta

Para prajurit Sultan Agung telah mulai bersiap untuk bergerak menuju ke palagan.

taman fatahillah jakarta

Pasukan kuda pun sudah mulai bergerak.

taman fatahillah jakarta

Pasukan infanteri juga mulai bergerak maju dengan bendera Mataram diusung di barisan paling depan.

taman fatahillah jakarta

Para petinggi kompeni ketika baru saja datang ke lokasi.

taman fatahillah jakarta

Empat buah sepeda terlihat berjejer menunggu disewa oleh pengunjung yang datang ke Taman Fatahillah. Boncengan asli dari besi telah dilapis jok agar terasa empuk ketika membonceng.

taman fatahillah jakarta

Dereta sepeda antik lainnya yang terlihat masih cukup terawat dan bersih. Bersepeda di kawasan Taman Fatahillah menjadi kegiatan yang cukup menghibur bagi para pengunjung.

taman fatahillah jakarta

Hujan yang turun belum mampu mengusir orang-orang yang masih asik bermain sepeda, mungkin tak mau rugi karena telah membayar harga sewa. Kebetulan hujan juga tak terlalu deras.

taman fatahillah jakarta

Video Taman Fatahillah Jakarta



Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Barat, Tempat Wisata di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.