Taman Fatahillah Jakarta

Sudah cukup sering ke Taman Fatahillah Jakarta, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun naik KRL dan Bus TransJakarta. Juara pertamanya adalah naik KRL di jam yang tak begitu sibuk karena nyaman, cepat, dan ongkosnya murah. Kali ini kami menumpang Metromini dan turun di Halte Tugas di mulut Kawasan Industri Pulogadung (sekarang ada bus TJ dari Pulo Gebang ke Pulo Gadung). Setelah naik Bus TransJakarta Pulogadung - Dukuh Atas kami turun di Halte Dukuh Atas untuk transit ke Bus TransJakarta jurusan Blok M - Kota.

Turun di Halte Kota TransJakarta, kami berjalan kaki menyeberang jalan lewat lorong bawah tanah, keluar di Jalan Pintu Besar Selatan di dekat Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia, yang letaknya bersebelahan. Kami pun iseng mencoba naik ojek sepeda dengan membayar Rp. 5.000 untuk ke Taman Fatahillah, meskipun jaraknya dekat saja jika berjalan kaki.

Ada sensasi tersendiri ketika membonceng sepeda, satu hal yang sudah sangat lama tak saya lakukan, dibawa berputar lewat Jl Kalibesar Timur di tepi Kali Krukut dan berhenti di lorong menuju ke Taman Fatahillah Jakarta dimana banyak berjejer para pedagang kaki lima yang berjualan makanan minuman aneka rupa. Jika naik KRL maka biasanya kami naik angkot ke Stasiun Buaran, dan lalu menumpang KRL jurusan Bekasi - Kota. Turun di Kota, tinggal jalan kaki menyeberang jalan di depan Stasiun Kota menuju ke Taman Fatahillah.

taman fatahillah jakarta
Salah satu ikon Taman Fatahillah Jakarta. Sepeda sewa dengan cat warna-warni mencorong yang dulu hanya beberapa buah, kini terlihat berjejer dalam jumlah banyak. Bersepeda di area taman menjadi sensasi tersendiri oleh sebab banyak warga Jakarta dan pelancong yang sudah jarang menyentuh sepeda di tempat tinggal mereka. Berfoto di samping atau di atas sadel sepeda tua dengan mengenakan topi kuno berlatar belakang bangunan dari jaman kolonial juga menjadi kenangan tersendiri.

Di Taman Fatahillah biasanya bisa dijumpai Ondel-ondel asli yang dibuat dari anyaman bambu. Topeng Ondel pria umumnya dicat merah dan berkumis, sedangkan topeng wanitanya berwarna putih. Diduga boneka Ondel-ondel ini telah ada sebelum Islam menyebar di Jawa. Pertunjukan Ondel-ondel sering diiringi musik tanjidor, namun ada pula yang diiringi Pencak Betawi, dan bunyian peralatan musik lain seperti Bende, Kemes, Ningnong dan Rebana ketimpring.

Penampilan kelompok yang menamakan diri mereka Manusia Levitasi Indonesia juga bisa disaksikan di Di Taman Fatahillah Jakarta. Salah satunya berpakaian dan bersikap menyerupai patung hidup Panglima Besar Jenderal Sudirman, lengkap dengan keris di pinggang dan senapan mainan menggeletak di depannya. Namanya juga patung hidup, makanya mata si patung terlihat kepo pada tiga anak muda yang sedang asik ngobrol di sebelahnya. Pejalan bisa berfoto dengan mereka dan meletakkan uang serelanya di kotak apa saja yang dijadikan penampung derma.

Ada cukup banyak patung hidup di taman ini, yang kadang berdiri tersebar di beberapa tempat dan kadang berderet di satu bagian taman. Umumnya mereka mengambil peran kehidupan orang di jaman kolonial, baik orang Belanda maupun Betawi, dan sejumlah tokoh terkenal yang hidup di jaman perjuangan kemerdekaan. Hiburan lainnya di Taman Fatahillah adalah seorang kakek yang memainkan sekelompok boneka joged dengan musik menghentak genit.

Cuplikan pagelaran kolosal di Taman Fatahillah Jakarta yang diselenggarakan oleh Museum Fatahillah berjudul "Rekonstruksi Sejarah Penyerangan Sultan Agung ke Batavia 1628 - 1629". Para pemeran pasukan Sultan Agung tampak bergerak beriringan menuju satu tempat. Perhatikan Bendera Kesultanan Mataram yang dibawa seorang prajurit. Bendera berdasar warna merah itu bergambar bulan sabit berwarna putih dan sepasang keris telanjang menyilang bergagang putih dan warna bilah biru.

Bulan sabit jelas menunjukkan pengaruh Islam, kemungkinan Kesultanan Ottoman, sedangkan keris adalah senjata tradisional utama orang Jawa. Sultan Agung mengirim pasukan dua kali untuk menyerang Belanda di Batavia. Serangan pertama berlangsung Agustus - Oktober 1628, dan serangan kedua Mei - Juni 1629. Kedua serangan gagal karena kekalahan intelijen, logistik, strategi perang, serta persenjataan. Pada serangan kedua, pasukan Sultan Agung membendung dan mengotori Sungai Ciliwung yang mengakibatkan timbulnya wabah kolera di Batavia, dan Gubernur Jenderal VOC J.P. Coen meninggal karena wabah itu.

Saya sempat mengambil foto Taman Fatahillah dengan latar Gedung Pos Indonesia yang cantik, memunggungi Museum Fatahillah. Di sisi kanan pada foto adalah kubah air mancur yang berada di tengah taman, direkonstruksi berdasar lukisan pegawai VOC asal Denmark bernama Johannes Rach. Airnya dulu berasal dari Pancoran Glodok yang dialirkan dengan pipa ke stadhuiplein, nama Taman Fatahillah di jaman kolonial. Pada 1972 dilakukan penggalian di tempat ini dan berhasil ditemukan pondasi air mancurnya, lengkap dengan pipa-pipanya.

Di sebelah kiri taman ada gedung Cafe Batavia dan Museum Wayang dan di sebelah kanan ada Museum Seni Rupa dan Keramik. Sekali datang ke Taman Fatahillah ada banyak tempat yang bisa dilihat dan dikunjungi. Meskipun namanya taman, namun tempat ini bisa dibilang miskin pepohonan rimbun. Tak ada pula tanah berumput terbuka. Semua area sudah dipasang batu potong atau keramik. Bersih namun gersang. Tinggal bekas pokok mati sebagai kenangan, dan beberapa batang pohon muda.

Sebelum pulang, saat hujan masih rintik, kami sempatkan mampir di Kedai Seni Djakarta di sisi Barat Taman Fatahillah, sejajar dengan Museum Wayang, untuk menyeruput teh hangat, dan mengudap pisang bakar keju serta kentang goreng. Ada pula cafe lain di sebelahnya, selain Cafe Batavia yang interior dan makanannya lebih berselera. Taman Fatahillah adalah tempat yang orang bakal tak pernah bosan untuk berkunjung ke sana, lantaran ada banyak hal yang bisa dilakukan serta tontonan yang tak perlu mengeluarkan uang banyak. Warung kaki lima tersedia, pedagang kaki lima juga banyak, hingga restoran kelas atas pun tersedia.

Taman Fatahillah Jakarta

16 foto di sini. Taut video Youtube di sini. Alamat : Jl Taman Fatahillah, Kota, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.134664, 106.813242, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : gratis. Rujukan : Hotel di Jakarta Barat, Tempat Wisata di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta.

Disarankan untuk Anda