Museum Bank Indonesia Jakarta

April 08, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Lokasi Museum Bank Indonesia berada tepat di sebelah Museum Bank Mandiri, menghadap ke arah Stasiun Kereta Api Besar Kota. Alamat Museum Bank Indonesia adalah di Jl. Pintu Besar Utara 3, Jakarta Barat, berseberangan dengan Halte Kota Busway TransJakarta. Akses untuk menuju ke museum ini karenanya sangat mudah.

Museum Bank Indonesia menempati gedung bergaya neo-klasik dengan area parkir cukup luas. Gedung yang dibangun pada 1828 ini sebelumnya digunakan Bank Indonesia Kota dan De Javasche Bank. Rancangan gedung dikerjakan oleh biro arsitek terkenal Ed Cuypers dan Hulswit.

Memasuki lobi bisa dilihat bangunan tua megah ini dirawat dengan baik. Langit-langit gedung yang berdinding beton tebal ini sangat tinggi, yang sengaja dibuat agar hawa di dalam ruangan menjadi lebih sejuk oleh sebab perputaran udara yang lebih baik. Sependek ingatan, sudah tiga kali saya berkunjung ke museum yang elok ini.

museum bank indonesia jakarta
Memandang arah ke kanan dari lobi akan terlihat deretan kaca patri indah yang dipasang tahun 1935 pada dinding depan museum. Di baris atas kolom tengah kaca patri itu ada lukisan wanita dengan lambang Kota Batavia dan Surabaya. Baris tengahnya merupakan lukisan kegiatan bersenian, berurut-turut dari kiri ke kanan: menari, fotografi, film, drama, pembuatan gerabah, dan pembuatan patung perunggu.

Sedangkan pada baris paling bawah berupa lukisan kaca yang menggambarkan kegiatan masyarakat di Hindia Belanda, yaitu membajak sawah, mengumpulkan rotan, kapal mesin uap, kapal layar Belanda, petani panen, dan dua orang wanita tengah membatik.

Menurut catatan, di gedung Museum Bank Indonesia Jakarta terdapat sedikitnya 324 kaca patri, yang kesemuanya dibuat di Atelier Jan Schouten, Delft, Belanda, pada periode 1922 - 1935. Seni dan lukisan kaca patri mulai berkembang sejak jaman Gotik pada abad ke-12, dan kolonial Belanda membawanya ke Indonesia.

Ruangan pelayanan pengunjung lantai dua Museum Bank Indonesia terlihat bernuansa klasik. Dari ruang itu kami masuk ke ruangan peralihan dengan suguhan permainan interaktif dari proyektor bersensor canggih, menyajikan tayangan hologram tiga dimensi, dimana keping-keping uang melayang akan berhenti saat 'dijebak' tangan pengunjung.

Di sebelahnya ada ruangan teater Museum Bank Indonesia dengan tempat duduk 40-an, dan setelah menunggu beberapa menit film mulai diputar yang berisi seputar sejarah perbankan serta peran Bank Indonesia. Selesai menonton kami masuk lorong dengan langit tinggi dengan instalasi pria bercelana komprang memanggul sekantung rempah-rempah.

Sejak lama Asia Tenggara ramai perdagangan rempah, porselen, sutera, dan budak asal Afrika, dengan alat tukar rempah, kerang, manik, moko, dan belencong. Pada abad 9-13 sejumlah kerajaan di Nusantara menerbitkan alat tukar uang emas, timah, perak, dan tembaga. Lukisan dan miniatur kapal dan perlengkapannya juga ada di Museum Bank Indonesia ini.

Di ujung lorong terdapat potret penjelajah asing yang singgah di Nusantara dan sebagian berpengaruh pada kolonisasi, yaitu Marcopolo (Italia, 1254 - 1324), Laksamana Cheng Ho (1371 - 1436), Afonso d'Alburquerque (Portugis, 1453 - 1515), Cornelis de Houtman (Belanda, 1565 - 1599), dan Sir Henry Middleton (Inggris, 1604).

Marcopolo pada 1290-an diutus Kublai Khan mengantar putri Kokachin ke Persia lewat Nusantara. Kisah perjalanannya memicu ekspedisi ke Timur, dan Eropa untuk pertama kali mendengar sistem uang kertas Tiongkok. Laksamana Cheng Ho melakukan tujuh kali ekspedisi yang membuka jalur perdagangan dengan 35 negara, termasuk sejumlah kerajaan di Nusantara.

Afonso d'Alburquerque menduduki Malaka pada 1511, lalu menguasai Maluku dan jalur perdagangan India - Nusantara - Tiongkok. Ekspedisi Cornelis de Hotman memicu datangnya pedagang Belanda ke Nusantara, yang pada 1602 mereka membentuk Vereenigde Oos-Indische Campagnie (VOC, Persekutuan Dagang Hindia Timur) dipimpin oleh Heren XVII.

Pada 1610 VOC membangun basis di Batavia dan memulai sejarah panjang penjajahan dan penjarahan kekayaan Nusantara. Selanjutnya di Museum Bank Indonesia ada poster, instalasi, foto, dan benda yang menggambarkan jalan panjang yang harus dilalui bangsa Indonesia hingga mencapai puncaknya pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sebuah ruangan yang elegan di Museum Bank Indonesia berisi informasi terkait emas dan peranannya dalam keuangan negara. Ada tumpukan batangan emas tiruan dalam ukuran asli di dalam ruangan kaca tembus pandang. Sejak lama emas telah digunakan sebagai standar satuan nilai karena stabil dari waktu ke waktu dan diterima di semua negara di dunia.

Ketika uang kertas pertama kali dikeluarkan oleh bank, untuk mendapat kepercayaan masyarakat agar mau menggunakannya maka bank harus memiliki cadangan emas sebagai jaminan (emas moneter). Dengan demikian masyarakat bisa sewaktu-waktu menukarkan uang kertasnya dengan cadangan emas bank, sesuai nilai tukar yang berlaku saat itu.

Meski emas tak lagi dipakai sebagai jaminan bank, namun masih sangat penting sebagai salah satu cadangan devisa negara yang bisa dicairkan saat krisis nilai tukar, krisis politik atau krisis ekonomi. Emas juga bisa dipakai sebagai alat bayar untuk kewajiban internasional, dan sebagai sarana hedging atau untuk meningkatkan penerimaan.

Tempat penyimpanan emas moneter di Bank Indonesia berketebalan dinding 65 cm dengan pengamanan ketat dan berlapis. Ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda, cadangan emas De Javasche Bank diselamatkan ke Australia dan Afrika Selatan. Setelah Bank Indonesia berdiri menggantikan De Javasche Bank maka emas moneter menjadi milik Bank Indonesia.

Ada suatu masa dimana setiap daerah menerbitkan mata uang ketika bank sentral belum berfungsi dengan baik. Diantara daerah yang menerbitkan mata uang sendiri adalah Sumatera Utara, Jambi, Magetan, Aceh, Sumatera Selatan, Kedu, dan banyak lagi lainnya. Koleksi mata uang itu, sebagian disebut Bon, ada di Museum Bank Indonesia.

Ada instalasi di Museum Bank Indonesia yang memperlihatkan suasana bank jaman kolonial secara hidup dan sangat memikat. Ada pula kisah seputar krisis moneter 1998 serta peran Bank Indonesia untuk memulihkan stabilitas moneter. Setelah itu kami keluar ruangan dan berada di balkon lantai dua yang menghadap ke halaman tengah museum.

Bagian terakhir yang kami kunjungi di Museum Bank Indonesia adalah koleksi mata uang kertas dan logam dari jaman sebelum perang kemerdekaan hingga sekarang, dalam ruangan tersendiri. Kaca pembesar yang bisa digeser diletakkan di atas lemari kaca tempat penyimpanan koleksi mata uang, sehingga pengunjung bisa melihat dengan lebih jelas.

Museum Bank Indonesia diresmikan pada 15 Desember 2006 oleh Burhanuddin Abdullah Gubernur BI waktu itu. Meskipun renovasi besar-besaran Museum Bank Indonesia telah diresmikan pada 21 Juli 2009, namun lebih dari setahun kemudian baru benar-benar pengerjaannya selesai dan berwujud memikat seperti yang bisa dilihat pada saat ini.

Akses: Bus TransJakarta Koridor 1 Blok M - Kota turun di Halte Kota lanjut jalan kaki, masuk ke terowongan, mampir dulu ke Museum Bank Mandiri. Selesai dari Museum BI bisa lanjut ke Museum Wayang di Taman Fatahillah. Kereta Komuter Jurusan Bogor-Kota, Depok-Kota, Bekasi-Kota, Tanjung Priok - Kota, Tanah Abang-Kota turun di Stasiun Jakarta Kota, lanjut jalan kaki menyeberang jalan.

Museum Bank Indonesia Jakarta

Alamat : Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat, telp. 021-2600158, ext. 8111 (Senin libur), 8102, 8100. Lokasi GPS : -6.137109, 106.81318, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam Buka : 07.30 - 15.30 Selasa s/d Jumat; 08.00 - 16.00 Sabtu s/d Minggu. Senin dan hari libur nasional tutup. Harga tiket masuk : gratis. Rombongan 30 orang lebih baiknya registrasi dahulu.

Galeri Foto Museum Bank Indonesia

Ruangan pelayanan pengunjung lantai dua Museum Bank Indonesia, menjadi akses masuk ke ruangan peralihan dengan suguhan permainan interaktif canggih berupa hologram tiga dimensi, dengan keping-keping uang melayang yang berhenti saat 'dijebak' oleh tangan para pengunjung.

museum bank indonesia jakarta

Potret penjelajah asing yang datang ke Nusantara dan sebagian memberi pengaruh besar pada terjadinya kolonisasi di wilayah ini, yaitu Marcopolo (Italia, 1254 - 1324), Laksamana Cheng Ho (1371 - 1436), Afonso d'Alburquerque (Portugis, 1453 - 1515), Cornelis de Houtman (Belanda, 1565 - 1599), dan Sir Henry Middleton (Inggris, 1604).

Pada 1290-an Marcopolo diutus oleh Kublai Khan mengantar putri Kokachin ke Persia lewat kepulauan Nusantara. Cerita perjalanan Marcopolo mendorong lebih banyak ekspedisi ke Timur, dan saat itulah bangsa Eropa mendengar sistem uang kertas Tiongkok. Cheng Ho melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali yang membuka jalur perdagangan dengan 35 negara, termasuk kerajaan Nusantara.

museum bank indonesia jakarta

Ruangan elegan Museum Bank Indonesia ini berisi informasi terkait emas dan peranannya dalam keuangan Negara Republik Indonesia. Ada tumpukan batangan emas imitasi ukuran asli di ruangan kaca. Emas digunakan sejak lama sebagai standar satuan nilai karena stabil dari waktu ke waktu dan diterima di semua negara di dunia.

museum bank indonesia jakarta

Ruangan peralihan dengan suguhan permainan interaktif menarik dari sebuah proyektor khusus dengan sensor canggih menyajikan tayangan hologram tiga dimensi, dimana keping-keping uang melayang berjatuhan.

museum bank indonesia jakarta

Keping-keping uang logam itu akan berhenti dan memberikan informasi di layar saat berhasil ‘dijebak’ oleh tangan pengunjung. Sebuah permainan interaktif yang menghibur dan informatif. Ruang peralihan ini mempersiapkan pengunjung sebelum masuk ke Ruangan Teater.

museum bank indonesia jakarta

Sebuah diorama di Museum Bank Indonesia di ruang sejarah Pra-BI dengan detil indah yang memperlihatkan kegiatan para kuli angkut yang tengah menaikkan barang ke atas kapal. Diorama ini tak lagi saya lihat setelah museum direnovasi.

museum bank indonesia jakarta

Undakan menuju lantai dua Museum Bank Indonesia dengan pilar-pilar tinggi setelah melewati pos pemeriksaan dan detektor metal. Di sebelah kanan di lantai dua ini adalah tempat penitipan tas dan pintu masuk ke museum. Sebelah kiri adalah pintu keluar dari museum.

museum bank indonesia jakarta

Tampak muka Gedung Museum Bank Indonesia dilihat dari arah sisi sebelah kanan. Bangunan dari jaman kolonial ini masih terlihat megah.

museum bank indonesia jakarta

Gedung Museum Bank Indonesia dilihat dari depan, yang menunjukkan keanggunan dan gaya arsitektur bangunannya. Rancangan gedung yang sekarang digunakan oleh Museum Bank Indonesia ini dikerjakan oleh biro arsitek terkenal bernama Ed Cuypers dan Hulswit.

museum bank indonesia jakarta

Museum Bank Indonesia diresmikan pada 15 Desember 2006 oleh Burhanuddin Abdullah Gubernur BI waktu itu. Meskipun renovasi besar-besaran Museum Bank Indonesia telah diresmikan pada 21 Juli 2009 oleh SBY, namun lebih dari setahun kemudian baru benar-benar pengerjaannya selesai dan berwujud memikat seperti yang bisa dilihat pada saat ini.

museum bank indonesia jakarta

Ruangan teater Museum Bank Indonesia memiliki tempat duduk memanjang bertingkat yang bisa memuat 40-an orang, dan setelah menunggu beberapa menit film pun mulai diputar yang berisi seputar sejarah perbankan serta peran Bank Indonesia. Rupanya karena pemutaran film inilah pengunjung harus menunggu di luar pintu masuk museum jika kursi di sini sudah penuh.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi seorang pria bercelana komprang memakai baju lengan panjang tak dikancing tengah memanggul sekantung rempah-rempah yang disorongkan sebelumnya oleh pria lainnya yang berjongkok dengan satu lutut menyentuh tumpukan karung tinggi.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi tonggak kayu dan lukisan kapal. Sejak lama Asia Tenggara merupakan wilayah sangat ramai yang memperdagangkan rempah, porselen, sutera, dan bahkan budak asal Afrika. Sebagai alat tukar digunakan rempah, kerang, manik-manik, moko, dan belencong. Pada abad ke-9 sampai ke-13 sejumlah kerajaan di Nusantara telah menerbitkan alat tukar berupa uang logam dari emas, timah, perak, dan tembaga. Uang dari China juga banyak beredar saat itu.

museum bank indonesia jakarta

Miniatur Jung Jawa, kapal dagang layar yang melayari Laut Jawa pada sekitar abad ke-16, hingga sampai ke Madagaskar. Masa kejayaan maritim kerajaan Nusantara surut setelah semua Jung di yang ada di Jepara dibakar oleh VOC pada 1618, 1628, dan 1628.

museum bank indonesia jakarta

Kompas, peta, teleskop dan sejumlah peralatan pelayaran lainnya yang digunakan orang pada jaman dahulu untuk mengarungi samudera.

museum bank indonesia jakarta

Teks dalam dua bahasa yang membantu pengunjung untuk lebih memahami apa yang hendak diceritakan oleh koleksi dan instalasi yang ada di Museum Bank Indonesia.

museum bank indonesia jakarta

Jung Java atau Perahu Jung Jawa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Faktor VOC dan orientasi Kesultanan Mataram yang tak lagi ke laut membuat kekuatan maritim semakin menyusut dan pudar.

museum bank indonesia jakarta

Foto para penjelajah yang pernah singgah di Nusantara, lengkap dengan kisah singkatnya di bagian bawah foto. Dari kiri ke kanan adalah Marcopolo, Laksamana Cheng Ho, Afonso d’Alburquerque, Cornelis de Houtman, dan Sir Henry Middleton.

museum bank indonesia jakarta

Tulisan yang berisi sejarah singkat Marcopolo dan Laksamana Cheng Ho yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

museum bank indonesia jakarta

Sebuah instalasi dalam ukuran sebenarnya yang dibuat dengan detail sangat baik menggambarkan suasana di Bank Courant en Bank van Leening. Lokasi bank itu pada 1746 - 1809 berada di Tijgersgracht Timur, tepat disamping timur Taman Fatahillah.

Sebelumnya, berdasar resolusi 20 Agustus 1746 Gubernur Jenderal van Imhoff memutuskan pendirian Bataviasche Bank van Leening, namun tak berkembang. Mossel, Gubernur Jenderal sesudahnya, mendirikan Bank Courant pada 1 September 1752, dan lalu menggabungkannya dengan Bank van Leening menjadi Bank Courant en Bank van Leening yang menjadi cikal bakal perbankan nasional.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi elok yang menggambarkan situasi di depan loket kasir bank pada jaman kolonial. Tulisan pada kanan tengah berbunyi "Kashouder".

museum bank indonesia jakarta

Seorang pria Belanda, yang sepertinya pemimpin bank, tampak sibuk menulis atau membubuhkan tanda tangan pada setumpuk kertas di atas meja di depannya. Pada dinding menempel sebuah almanak bertahun 1780.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi yang menggambarkan situasi yang terjadi pada loket bank yang sama, diambil dari bagian dalam loket, dari sisi petugas bank.

museum bank indonesia jakarta

Ekspedisi Cornelis de Hotman yang memicu datangnya pedagang-pedagang Belanda untuk datang ke Nusantara dan akhirnya pada 1602 mereka bersekutu membentuk Vereenigde Oos-Indische Campagnie (VOC, Persekutuan Dagang Hindia Timur) yang dipimpin Heren XVII. Pada 1610 VOC membangun basis di Batavia dan memulai sejarah penjajahan dan penjarahan kekayaan Nusantara yang sangat panjang.

museum bank indonesia jakarta

Sebuah instalasi elok yang menggambarkan bagaimana negara-negara dan bangsa Eropa yang semakin maju mereka semakin serakah untuk menjajah, berturut-turut dari bangsa Belanda, Inggris, dan Perancis, membuat jalan yang sangat panjang menuju kemerdekaan.

museum bank indonesia jakarta

Di sebelah kanan adalah dokumentasi foto orang-orang Belanda di Batavia pada jaman kolonial, keluarga dan kegiatan mereka, serta situasi kota dan bangunannya. Di sebelah kiri menceritakan novel Max Havelaar karya Multatuli yang menggambarkan kesengsaraan rakyat jajahan di Hindia Belanda dan membuat marah politikus serta rakyat Belanda, melahirkan Politik Etis.

museum bank indonesia jakarta

Seragam tentara Belanda dalam ukuran sebenarnya, lengkap dengan lambang bendera, topi dan senjata, yang diletakkan dalam boks kaca di bawah lantai museum.

museum bank indonesia jakarta

Pada masa pendudukan, militer Jepang juga menerbitkan uang, sementara uang De Javasche Bank dan uang Pemerintah Belanda masih berlaku. Bank-bank Belanda dan Inggris ditutup oleh pemerintahan pendudukan, diganti dengan bank-bank Jepang. Pada 1944 Djawa Hokokai membentuk Fonds Kemerdekaan Indonesia untuk menghimpun dana rakyat bagi Perang Asia Timur Raya. Setelah Jepang menyerah, dana itu menjadi bagian modal kerja Yayasan Pusat Bank Indonesia.

museum bank indonesia jakarta

Seragam tentara Kekaisaran Jepang, lengkap dengan lambang bendera, topi, tanda pangkat dan samurai, juga diletakkan di dalam boks berpenutup kaca di bawah lantai museum.

museum bank indonesia jakarta

Rangkaian poster dan tulisan yang menggambarkan sejarah dan tantangan perbankan nasional pada saat proklamasi 17 Agustus 1945 hingga masa Republik Indonesia Serikat. Sesuai amanat UUD 45 untuk membentuk bank sentral bernama Bank Indonesia maka dibentuk terlebih dahulu Yayasan Pusat Bank Indonesia, dimodali dari Fonds Kemerdekaan Indonesia, yang kemudian bergabung dengan BNI pada Agustus 1946.

museum bank indonesia jakarta

Seragam pejuang berwarna putih berlatar bendera merah putih, lengkap dengan bambu runcing yang menjadi salah satu senjata utama pada waktu revolusi fisik.

museum bank indonesia jakarta

Seragam tentara Indonesia lengkap dengan tanda-tanda kepangkatan namun tanpa senjata. Kain merah putih diikatkan pada leher menyerupai pandu, serta ada pula topi.

museum bank indonesia jakarta

Diantara daerah yang menerbitkan mata uang sendiri pada awal kemerdekaan adalah Sumatera Utara, Jambi, Magetan, Aceh, Sumatera Selatan, Kedu, dan banyak lagi lainnya. Koleksi mata uang itu, sebagian disebut Bon, terlihat pada foto di atas.

museum bank indonesia jakarta

Mata uang Republik Indonesia Serikat (RIS) bernilai lima dan sepuluh rupiah yang keduanya bergambar Presiden Soekarno di salah satu sisinya. Sisi lain gambarnya juga sama, hanya warna uangnya saja yang berbeda.

museum bank indonesia jakarta

Mata uang daerah, seperti mata uang dari Tapanuli, Sumatera, Daerah Militer Istimewa Sumatera Selatan, dan dari beberapa daerah lainnya.

museum bank indonesia jakarta

Riwayat perubahan logo Bank Indonesia yang semula mengadopsi logo De Javasche Bank dengan mengganti huruf J dengan huruf I, dengan tujuh peubahan dari tahun 1953 sampai 2005. Tiga logo terakhir (sejak 1990-an), selain muncul pada uang terbitan Bank Indonesia, juga digunakan sebagai logo korporat.

museum bank indonesia jakarta

Pada 1824, pemerintah kolonial Belanda membentuk Nederlansche Handelsmaatschappij (NHM) untuk menangani ekspor hasil tambang dan hasil bumi dari Hindia Belanda yang terus berkembang pesat. Pada 1828 Raja Willem I mengeluarkan oktroi yang mendasari pendirian De Javasche Bank sebagai bank sirkulasi dan fasilitator perdagangan di Hindia Belanda. NHM ikut menyetor modal awalnya. De Javasche Bank berkembang pesat dan membuka cabang di berbakai kota di Hindia Belanda, juga membuka cabang di Amsterdam pada 1891.

museum bank indonesia jakarta

Pada 19 Juni 1951 pemerintah republik membentuk Panitia Nasionalisasi De Javasche Bank dan Khouw Bian Tie dikirim ke Belanda untuk mengatur pembelian saham DJB yang diperdagangkan di Bursa Efek Amsterdam. Dalam waktu dua bulan hampir seluruh saham DJB bisa dibeli.

museum bank indonesia jakarta

Pada 1958 hampir separuh pengeluaran uang pemerintah digunakan untuk memulihkan keamanan di dalam negeri akibat terjadinya pemberontakan. Karena penerimaan negara sangat terbatas terutama dari komoditas ekspor maka tak ada jalan selain mencetak uang. Akibatnya pasokan uang berlebih namun barang langka, sehingga inflasi melonjak tinggi.

museum bank indonesia jakarta

Tongkat Komando dan Palu Bank Tunggal yang digunakan oleh Jusuf Muda Dalam. Ia adalah Menteri Urusan Bank Sentral, sekaligus Gubernur Bank Sentral, yang pada periode 1965 - 1966 melebur Bank Indonesia dengan bank-bank pemerintah lainnya menjadi Bank Tunggal. Pada 9 September 1966, Komando Peradilan Subversi menjatuhkan hukuman mati bagi Jusuf Muda Dalam dengan tuduhan tindak pidana subversi, kepemilikan senjata api, korupsi, dan perkawinan yang dilarang undang-undang (ia memiliki enam orang istri).

museum bank indonesia jakarta

Pada tahun 1960-an pemerintahan Presiden Soekarno banyak mendirikan bangunan megah untuk membuktikan kekuatan Indonesia, terutama kepada negara-negara Barat yang dianggap sebagai penjajah baru. Indonesia kala itu bersahabat dengan Blok Timur, Rusia dan Cina. Arsitek-arsitek dari Uni Soviet datang ke Indonesia untuk membantu mendirikan berbagai bangunan menyambut Olimpiade ciptaan Soekarno, yaitu Ganefo atau Games of the New Emerging Forces.

museum bank indonesia jakarta

Semangat Soekarno untuk tampil hebat dalam penyelenggaraan Ganefo membuat Indonesia memiliki Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi, Gedung Conefo yang sekarang menjadi Gedung MPR/DPR, Tugu Monas, Masjid Istiqlal dan Stadion Gelora Bung Karno, meskipun harus dibayar dengan situasi ekonomi yang makin memburuk.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi yang menggambarkan seorang wanita tengah membatik. Usaha batik rakyat merupakan salah satu sektor usaha kecil yang dibantu dan didorong untuk berkembang dengan dana dari bank.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi patung yang menggambarkan bengkel pande besi, salah satu usaha rakyat yang mendapat dorongan dari perbankan dengan dana bersuku bunga rendah dan persyaratannya ringan.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi yang menggambarkan kerjasama BI dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Gerakan Pramuka di awal Orde Baru setelah Bank Tunggal dibubarkan, untuk meningkatkan minat menabung pelajar guna menggalang dana masyarakat. Ini melahirkan program deposito berjangka dengan suku bunga tinggi (1968) dan tabungan berhadiah (1969).

museum bank indonesia jakarta

Instalasi yang menggambarkan cara menabung secara tradisional dengan menggunakan celengan, yang dipecah jika membutuhkan dana. Tabanas dan Taska lambat laun berhasil menggantikan cara menabung masyarakat, dan dana yang terkumpul bisa dipakai untuk membiayai pembangunan dan mendanai sektor produktif.

museum bank indonesia jakarta

Poster yang menceritakan mimpi buruk bagi ekonomi dan rakyat Indonesia saat terjadi krisis di segala lini pada periode 1997 - 1998. Salah satunya adalah rupiah sempat terjun bebas.

museum bank indonesia jakarta

Peristiwa terkait perbankan di era krisis ekonomi. Pada 3 September 1997 pemerintah memutuskan melikuidasi bank-bank yang tidak sehat. Pada 8 Oktober 1997 pemerintah memutuskan meminta bantuan IMF untuk menanggulangi krisis. Pada 21 Oktober pemerintah menyampaikan usulan penutupan tujuh bank, namun IMF menghendaki lebih, dan akhirnya disepakati 16 bank yang harus segera dilikuidasi.

museum bank indonesia jakarta

Menggambarkan dering telepon di Bank Indonesia yang tak pernah berhenti saat krisis moneter pada 1998, karena banyak bank yang tak punya uang, dan uang rakyat di bank juga terancam hilang.

museum bank indonesia jakarta

Momen bersejarah saat Presiden Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden setelah gagal membentuk kabinet efektif di tengah krisis multidimensi yang berat. Soeharto digantikan BJ Habibie yang berhasil menstabilkan pemerintahan dalam waktu yang singkat. Manuver para politisi di MPR membuat Habibie tersingkir, dan Megawati yang mestinya menjadi presiden juga tersingkir digantikan oleh Gus Dur, yang kemudian dijatuhkan oleh orang-orang yang sama, menjadikan Megawati akhirnya sebagai presiden.

museum bank indonesia jakarta

Instalasi pohon yang menggambarkan pentingnya pertumbuhan ekonomi berkualitas dan berkesinambungan, yang menjadi prasyarat utama bagi tercapainya kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.

museum bank indonesia jakarta

Halaman tengah Museum Bank Indonesia berbentuk segi empat dengan lantai yang dikeramik penuh. Pohon-pohon rendah hanya ditanam di dalam pot beton untuk penyegar mata. Di sebelah kanan ada akses ke lantai bawah menuju ke toilet, dan bisa juga langsung keluar.

museum bank indonesia jakarta

Kaca patri yang indah ini ada di dinding undakan ke bawah dari lantai dua yang menuju ke halaman tengah. Di bagian atas selain lukisan manusia juga ada tulisan "De Javasche Bank Opgericht Anno 1828". Tulisan di baris tengah adalah "Soerabaja", "Batavia", dan "Samarang".

museum bank indonesia jakarta

Berfoto menggantikan wajah Kartini pada uang pecahan sepuluh ribu rupiah yang sudah langka di peredaran.

museum bank indonesia jakarta

Penampakan tumpukan emas batangan yang disimpan di Bank Indonesia sebagai emas moneter, menjadi salah satu cadangan strategis bagi negara yang bisa digunakan sewaktu-waktu terutama disaat krisis.

museum bank indonesia jakarta

Koleksi uang yang diterbitkan Bank Indonesia untuk menggantikan semua uang yang diterbitkan sebelumnya untuk menjadikan Indonesia sebagai wilayah kesatuan moneter. Uang yang dibuat dimulai dari pecahan satu rupiah, dua setengah, lima, sepuluh, dua puluh lima, lima puluh, seratus, lima ratus, dan seribu rupiah. Semuanya bergambar Presiden Soekarno di salah satu sisinya.

museum bank indonesia jakarta

Koleksi uang BI seri Dwikora bertahun 1964 bernilai lima sen, dengan foto depan sukarelawan wanita, dan bagian belakang ragam hias roset.

museum bank indonesia jakarta

Poster yang menceritakan riwayat diberikannya wewenang kepada Bank Indonesia untuk mengeluarkan semua jenis uang dalam berbagai pecahan. Penerbitan uang pemerintah yang terakhir adalah seri Seokarno pada tahun 1964.



Uang kertas nominal seratus rupiah bertanda tahun 1960 merupakan uang Bank Indonesia Seri Soekarno (Irian Barat) dengan bagian depan Presiden Soekarno dan bagian belakang pria dan wanita penari Batak.

museum bank indonesia jakarta

Uang kertas Bank Indonesia Seri Pekerja Tangan, yaitu pengrajin perak (1958), pembatik (1958), dan pemahat patung Bali (1963). Pada kotak yang sama juga dipajang Seri Bunga dan Burung.

museum bank indonesia jakarta

Uang nominal satu rupiah yang merupakan Uang Pemerintah Seri Sandang Pangan bertahun 1960, dengan Petani di Sawah Padi di bagian depan dan bagian belakang Palawija.

museum bank indonesia jakarta

Uang Bank Indonesia Seri Dwikora nominal satu sen bertahun 1964 dengan gambar petani mengenakan caping di bagian depan, dan ragam hias roset di bagian belakang.

museum bank indonesia jakarta

Uang alumunium nominal 10 sen bertahun 1962 dengan gambar Presiden Soekarno di bagian depan, padi kapas di bagian belakang, dan tulisan Kepulauan Riau di bagian samping.

museum bank indonesia jakarta

Uang Bank Indonesia pertama bertahun 1952 dengan lukisan Pangeran Diponegoro di bagian depan dan corak dua burung Garuda di bagian belakang.

museum bank indonesia jakarta

Uang Bank Indonesia pertama nominal seribu rupiah bertahun 1952 dengan ukiran patung Padmapani Candi Prambanan di bagian muka, dan corak pohon dalam lingkaran di bagian belakang.

museum bank indonesia jakarta

Uang Seri Bunga dan Burung bertahun 1959, sebelah kiri nominal sepuluh rupiah dengan lukisan burung Hoya di bagian depan, dan empat ekor burung Kakatua di bagian belakang. Sebelah kanan nominal lima rupiah bergambar Bunga Sedap Malam di bagian depan dan empat ekor Burung Murai di bagian belakang.

museum bank indonesia jakarta

Uang pemerintah Seri Sandang Pangan nominal dua setengah rupiah bertahun 1960, dengan lukisan petani di Kebun Jagung di bagian depan, dan padi jagung di bagian belakang.

museum bank indonesia jakarta

Uang pemerintah nominal dua setengah rupiah bertahun 1951 dengan gambar pemandangan pantai bertebing dan pohon kelapa di bagian depan.

museum bank indonesia jakarta

Uang pemerintah RIS nominal sepuluh rupiah bergambar Presiden Soekarno bertanggal "Djakarta 1 Djanuari 1950" dengan tanda tangan Menteri Keuangan. Nomor serinya adalah 060779.

museum bank indonesia jakarta

Koleksi uang sepuluh ribu rupiah dengan gambar Jenderal Sudirman yang kini sudah langka dijumpai. Pada awal munculnya uang 100.000 rupiah, kedua uang ini sering tertukar karena warna merahnya cukup mirip.

museum bank indonesia jakarta

Uang darurat nominal dua pulih lima rupiah yang diterbitkan di Serang pada 15 Desember 1947 oleh Residen Banten dengan gambar Masji Agung Banten bernomor seri 038099.

museum bank indonesia jakarta

Memasuki lobi lantai dua Museum Bank Indonesia bisa dilihat bangunan tua megah ini dirawat dengan baik. Ruangan lobi yang tinggi dengan atap melengkung terlihat kokoh dan indah.

museum bank indonesia jakarta

Uang DJB Seri Coen II bertahun 1927 nominal 100 gulden dengan foto Jan Peterszoon Coen di bagian depan dan gedung DJB di bagian belakang.

museum bank indonesia jakarta

Teks penjelasan tentang kaca patri ini diletakkan di ujung serambi atas museum, menghadap ke arah pintu masuk dan kaca patrinya. Tulisan itu menyebutkan bahwa seni kaca patri muncul di jaman Gotik pada abad ke-12, dan dibawa ke Indonesia oleh Belanda untuk menghias bangunan kolinial. Di Museum Bank Indonesia ada 314 kaca patri yang semunya dibuat di Delft, Belanda.

museum bank indonesia jakarta

Uang kuningan bernilai 2 Gantang Bras, diameter 2,3 cm dengan ketebalan 1,2 mm. Pada bagian depan bertulis "Gantang Bras" dan bagian belakang bertulis "De Guigne Freres", "Sumatra", dan "Deli" di lingkaran tengahnya.

museum bank indonesia jakarta

Pandangan samping pada dinding dimana kaca patri dipasang. Lukisan pada kaca patri akan terlihat sangat indah ketika cahaya matahari menyinarinya. Komposisi warna serta tarikan garis geometris pada kaca tampak dibuat dengan halus dan mengagumkan.

museum bank indonesia jakarta

Uang logam kuningan bernilai 4 Gantang Bras, diameter 3,2 cm, tebal 1,2 mm. Pada bgian depan bertuliskan "Gantang Bras", dan di bagian belakang "De Guigne Freres", "Sumatra", dan "Deli" di lingkaran tengah.

museum bank indonesia jakarta

Prasasti yang menandai peresmian pendahuluan Museum Bank Indonesia oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, yang dilakukan pada 15 Desember 2006. Saat itu ruangan dalam masih sangat sederhana, hanya panel-panel papan yang ditempeli poster.

museum bank indonesia jakarta

Uang logam tembaga nominal 25 cents, diameter 3 cm, tebal 0,9 mm, dengan tulisan "Soengy Diskie Estate Twenty Five Cents" di bagian depan, dan di bagian belakang ada tulisan dengan huruf China.

museum bank indonesia jakarta

Pandangan dekat pada salah satu bagian lukisan kaca patri dengan garis-garis lengkung yang membentuk komposisi indah. Permukaan kaca sengaja dibuat tak rata untuk menciptakan dimensi bias warna elok.

museum bank indonesia jakarta

Baris kaca patri lainnya yang memperlihatkan figur orang yang tengah melakukan berbagai kegiatan berdasar profesinya. Dalam proses pembuatannya, kaca cair berwarna dari pemanasan pasir silika pada suhu 1375 derajad Celcius dituang ke nampan besi dan dututup dengan cetakan dengan permukaan tak rata setelah agak keras.

museum bank indonesia jakarta

Baris kaca patri lainnya yang memperlihatkan kegiatan produktif manusia, termasuk bertani dan memelihara ternak. Pada baris yang lain ada pula lukisan wanita sedang membatik.

museum bank indonesia jakarta

Sebuah poster yang menceritakan kondisi perbankan pada jaman Hindia Belanda. Perang Jawa (disebut juga Perang Diponegero) yang membuat Belanda nyaris bangkrut menyebabkan Johannes van den Bosch menerapkan Tanam Paksa (1830 - 1870) yang sangat menyengsarakan rakyat. Kisah penderitaan rakyat yang diangkat dalam novel Max Havelaar karya Multatuli melahirkan Politik Etis menyusul kemarahan politikus dan rakyat Belanda pada pemerintah Hindia Belanda. Banak-bank perkreditan didirikan untuk mendorong perekonomian rakyat.

museum bank indonesia jakarta

Pada 1958 masalah keamanan telah menyedot uang pemerintah dalam jumlah besar, menelan hampir separuh pengeluaran pemerintah. Pemerintah tak punya pilihan selain mengambil uang muka dari Bank Indonesia yang kemudian mencetak uang lebih banyak dan berakibat pada melonjaknya angka inflasi.

museum bank indonesia jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.