Museum Fatahillah Jakarta

March 31, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Museum Fatahillah Jakarta, atau Museum Sejarah Jakarta terletak beberapa langkah dari Museum Wayang, melintasi separuh Taman Fatahillah yang luas. Museum Fatahillah beralamat Jl. Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat, menempati bangunan tua pada tanah seluas 13.000 meter persegi, berada dalam kawasan wisata Kota Tua Jakarta.

Gedung Museum Fatahillah pada jaman Belanda bernama Stadhuis (Stadhuisplein) atau Balai Kota, dibangun pada 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Sejarah Museum Fatahillah bermula tahun 1937, ketika Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan museum mengenai sejarah Kota Batavia. Yayasan membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, membangunnya menjadi Museum Oud Batavia, yang dibuka untuk umum tahun 1939. Gedung itu kini digunakan sebagai Museum Wayang. Setelah Indonesia merdeka, namanya berubah menjadi Museum Djakarta Lama dan dikelola oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Pada 1968 pengelolaan museum diserahkan ke Pemerintah DKI Jakarta, dan pada 30 Maret 1974 diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta oleh Ali Sadikin, menyimpan 23.500 koleksi perjalanan sejarah Jakarta, 500 diantaranya dipamerkan. Kota Jakarta mulai dibangun oleh Fatahillah sejak 22 Juni 1527, tanggal yang diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.

museum fatahillah jakarta
Sepasang meriam tua di kiri kanan gerbang masuk Museum Fatahillah, dengan pohon rindang yang keteduhan kepada pengunjung namun seingat saya pohon itu sekarang sudah ditebang dan hanya tinggal pokoknya. Struktur bangunan Museum Fatahillah menyerupai Istana Dam Amsterdam, dengan bangunan utama, sepasang sayap timur barat, bangunan samping sebagai kantor, ruang pengadilan, serta ruang-ruang bawah tanah untuk penjara.

Memasuki Museum Fatahillah saya melihat ada replika Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea di Museum Fatahillah, ditemukan pertama kali pada sebuah lahan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar diapit oleh tiga buah sungai, yaitu sungai Cisadane, Cianten dan Ciaruteun, Bogor. Prasasti ini merupakan peninggalan kerajaan Tarumanagara.

Koleksi lainnya adalah Prasasti Pasir Awi yang ditemukan N.W. Hoepermans pada 1864 di bukit Pasir Awi, Desa Sukamakmur, Bogor. Dapur Betawi juga ada di Museum Fatahillah, yang juga saya jumpai di Rumah Si Pitung. Di museum ini ada Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Dari lantai dua Museum Fatahillah Jakarta bisa melihat Kantor Pos dan Cafe Batavia di seberang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik.

Ada sebuah ruangan luas berlantai kayu bergaya kolonial di Museum Fatahillah Jakarta. Di tempat itu terdapat lemari kaca besar dengan ornamen indah terbuat dari perunggu, serta satu meja kayu tua besar. Ada pula mebel antik abad 17 - 19, dengan ornamen gaya Eropa, Tiongkok, dan Indonesia. Diantara lukisan tua adalah lukisan penyerangan VOC yang terlihat padat dan gaduh, dengan berbagai adegan perkelahian dan pertempuran antara tentara VOC dan orang-orang pribumi.

Taman Fatahillah pernah menjadi saksi saat ribuan orang Tionghoa dibantai Belanda pada 9 Oktober 1740, di jaman Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier. Valckenier dipersalahkan Kerajaan Belanda sebagai pencetus pembantaian. Posisinya kemudian digantikan oleh Gustaf Willem Baron van Imhoff, sepupunya. Adriaan Valckenier ditangkap saat berada di Afrika Selatan dan dibawa dengan kapala ke Batavia, tempat ia meninggal setelah hampir 10 tahun meringkuk di dalam sel penjara.

Di Museum Fatahillah pengunjung juga bisa melihat sebuah lukisan tua yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, duplikat lukisan aslinya yang disimpan di Istana Negara RI. Lukisan yang memperlihatkan tipu daya Belanda dengan mengajak Pangeran Diponegoro ke meja perundingan, namun menangkapnya. Sebuah cara yang sama sekali tidak terhormat. Koleksi dan penataan benda di museum ini semakin hari boleh dibilang terlihat semakin baik. Ini tak lepas dari perhatian pemrov terhdapa revitalisasi kota tua Jakarta.

Setelah berkeliling kami keluar ke halaman belakang Museum Fatahillah dimana terdapat penjara bawah tanah yang pernah dipergunakan oleh Belanda untuk memenjarakan pejuang-pejuang kemerdekaan, seperti misalnya Pangeran Diponegoro (1830) dan Untung Suropati (1670). Di bagian belakang itu juga terdapat Patung Hermes yang sebelumnya berada di perempatan Harmoni dan Meriam Si Jagur.

Meriam Si Jagur diletakkan di bagian tengah belakang Museum Fatahillah Jakarta. Meriam ini merupakan peninggalan Portugis, buatan Makau, dibawa pada abad ke-16 oleh N.T. Bocarro ke Benteng Malaka. Meriam ini digunakan Portugis memperkuat benteng Malaka. Ketika Malaka jatuh ke tangan VOC pada 1641, Meriam si Jagur dibawa VOC ke Batavia. Moncong meriam si Jagur di Museum Fatahillah terlihat mengarah ke patung Hermes yang sebelumnya berada di sisi selatan Jembatan Harmoni, yang dirusak orang pada 1999 sehingga dipindahkan ke Museum Fatahillah.

Di Jembatan Harmoni kini dipasang duplikatnya. Hermes adalah dewa pelindung dan dewa keberuntungan bagi para pedagang. Arsitektur Museum Fatahillah bergaya bangunan abad ke-17, memiliki tiga lantai, dengan kusen pintu dan jendela tinggi yang terbuat dari kayu jati dicat warna hijau tua. Penunjuk arah mata angin bisa dilihat di puncak atap utama museum. Selain sepeda warna-warni dan kuliner, kini ada patung manusia hidup di Taman Fatahillah.

Museum Fatahillah Jakarta juga memiliki perpustakaan dengan koleksi 1200 judul buku, yang tertua adalah Alkitab terbitan 1702. Sebagian besar buku peninggalan jaman kolonial, baik berbahasa Belanda, Melayu, Inggris, juga Arab. Ada pula kantin museum, dengan makanan dan minuman khas Betawi, toko suvenir, musholla, serta ruang pertemuan. Akses: Bus TransJakarta Koridor 1 Blok M - Kota turun di Halte Kota lanjut jalan kaki, masuk ke terowongan, mampir dulu ke Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan Museum Wayang. Kereta Komuter Jurusan Bogor-Kota, Depok-Kota, Bekasi-Kota, Tanjung Priok - Kota, Tanah Abang-Kota turun di Stasiun Jakarta Kota, lanjut jalan kaki menyeberang jalan.

Museum Fatahillah Jakarta

Alamat : Jl. Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. Telp. 021-6929101. Fax. 021-6902387. Lokasi GPS : -6.135104, 106.813256, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam Buka : Selasa s/d Minggu jam 09.00 - 17.00, Senin tutup. Harga tiket masuk 2019 : Rp5.000, Mahasiswa Rp3.000, Pelajar Rp2.000. Rombongan minimal 30 orang mendapat diskon 25%.

Galeri Foto Museum Fatahillah

Ruangan luas bergaya kolonial berlantai kayu di Museum Fatahillah Jakarta, lemari besar dengan ornamen perunggu, meja kayu tua antikmebel abad 17 - 19 dengan ornamen elok. Lukisan tua yang menarik menggambarkan penyerangan VOC dengan beragam perkelahian dan pertempuran antara tentara VOC dan melawan orang pribumi.

museum fatahillah jakarta

Lukisan tua di Museum Fatahillah Jakarta tentang "Penangkapan Pangeran Diponegoro" yang dibuat oleh Raden Saleh. Belanda mengajak Pangeran Diponegoro ke meja perundingan, hanya untuk menangkapnya. Penataan museum Fatahillah terlihat semakin baik dibandingkan dengan saat kunjungan saya ke sana sebelumnya.

museum fatahillah jakarta

Meriam Si Jagur di halaman belakang Museum Fatahillah Jakarta. Meriam peninggalan Portugis buatan Makau ini dibawa ke Benteng Malaka pada abad ke-16 oleh N.T. Bocarro, untuk memperkuat benteng Malaka. Ketika VOC menduduki Malaka pada tahun 1641, Meriam si Jagur dibawa ke Batavia. Moncong meriam si Jagur mengarah ke patung Hermes yang aslinya ada di sisi selatan Jembatan Harmoni.

museum fatahillah jakarta

Seorang pelukis tua tengah beraksi di halaman Museum Fatahillah. Uniknya, tidak ada seorang pun berinisiatif untuk bertanya tentang harga lukisan itu. Barangkali semua orang berpikir bahwa mereka toh bisa mengambil gambar museum dengan kamera atau hp. Kini ada cukup banyak patung hidup di halaman Museum Fatahillah, yang juga disebut Taman Fatahillah.

museum fatahillah jakarta

Kesenian khas masyarakat Betawi berupa boneka setinggi 2,5 meter dengan garis tengah badan sekitar 80 cm. Ondel-ondel dibuat dari anyaman bambu yang mudah dipikul dari dalam. Wajah berupa topeng dicat merah dengan rambut kepala dari ijuk. Wajah ondel-ondel perempuan biasanya dicat putih.

museum fatahillah jakarta

Contoh dapur tradisional kampung-kampung Betawi ada juga di Museum Fatahillah. Dapur tradisional Betawi juga saya dijumpai pada saat berkunjung ke Rumah Si Pitung di kawasan Marunda.

museum fatahillah jakarta

Meriam antik dengan ornamen indah di hampir sekujur badan meriam, dengan dudukan kayu berukir sepasang Burug Garuda yang tak kalah eloknya. Meriam kecil ini konon pernah digunakan untuk melawan tentara VOC.

museum fatahillah jakarta

Sejumlah koleksi tombak pendek di Museum Fatahillah dengan mata tombak yang bervariasi. Ada yang mata tombaknya berbentu trisula dengan bagian tengahnya memiliki lekuk seperti keris, ada yang tajam seperti anak panah, dan ada pula yang memiliki pengait.

museum fatahillah jakarta

Sebuah mebel menyerupai mimbar antik yang berasal dari abad ke-17 sampai 19, dengan ornamen yang merupakan perpaduan gaya Eropa, Cina, Indonesia.

museum fatahillah jakarta

Mebel hias kuno dengan bagian atas berbentuk kubah susun dengan lubang-lubang hawa, serta lubang-lubang jendela dan pintu di bagian bawahnya, disangga oleh enam buah kaki ulir.

museum fatahillah jakarta

Prasasti ini merupakan replika dari Prasasti Tapak Gajah yang pernah saya kunjungi di Desa Ciaruteun Ilir. Prasasti ini juga dinamakan Prasasti Kebun Kopi karena ini ditemukan di sebuah kebun kopi milik Jonathan Rig. Tulisan yang diapit sepasang tapak gajah itu berbunyi “Jayavisalasya tarumendrsaya hastinah airavata basya vibhatidam padadavyam”.

museum fatahillah jakarta

Memasuki Museum Fatahillah saya melihat ada replika Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea di Museum Fatahillah, ditemukan pertama kali pada sebuah lahan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar diapit oleh tiga buah sungai, yaitu sungai Cisadane, Cianten dan Ciaruteun, Bogor.

museum fatahillah jakarta

Ada pula replika Prasasti Pasir Awi di Museum Fatahillah yang ditemukan pertama kali oleh N.W. Hoepermans pada 1864 di lereng Selatan bukit Pasir Awi di hutan perbukitan Cipamingkis, Desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

museum fatahillah jakarta

Replika Prasasti Batutulis yang aslinya ada di Bogor dan sudah saya kunjungi. Seperti namanya, Prasasti Batutulis ditulis pada sebuah batu Terasit, jenis batu yang terdapat di sepanjang aliran Sungai Cisadane, Bogor. Prasasti Batutulis Bogor ditulis dengan menggunakan huruf Sunda Kawi (Pallawa) dan memakai bahasa Sanskerta.

museum fatahillah jakarta

Miniatur kapal Portugis yang merupakan kapal bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Nusantara. Di sebelahnya serta patung orang dengan model pakaian pada jaman itu.

museum fatahillah jakarta

Papan Kayu Pemisah ruangan yang dipajang di Museum Fatahillah Jakarta dengan ukiran suluran dan bunga menyerupai ukiran Jawa, namun ada pula ukiran meriam dan ukiran berwujud orang berkebangsaan Eropa.

museum fatahillah jakarta

Lukisan penyerangan VOC yang terlihat padat dan gaduh, dengan berbagai adegan perkelahian dan pertempuran antara tentara VOC dan orang-orang pribumi.

museum fatahillah jakarta

Koleksi sejumlah keramik kuno di Museum Fatahillah Jakarta. Beberapa buah guci itu memiliki garis ornamen serta warna yang hampir mirip, yang mungkin dibuat oleh orang yang sama atau berasal dari jaman yang sama. Ada guci dengan ornamen relief naga yang terlihat indah.

museum fatahillah jakarta

Piring Besar asal Jepang dari abad 18 ini terbuat dari porselen dengan hiasan burung Hong, sisik badan naga yang tak jelas dimana kepalanya, burung bangau, burung Rajawali yang tengah mengintai burung kecil, lukisan bunga dan daun di atas glasir. Warna lukisan di piring ini adalah biru, hijau, merah, keemasan, pastel dan coklat.

museum fatahillah jakarta

Penjara bawah tanah yang pernah dipergunakan oleh Belanda untuk memenjarakan pejuang-pejuang kemerdekaan musuh Belanda, seperti misalnya Pangeran Diponegoro (1830) dan Untung Suropati (1670).

museum fatahillah jakarta

Moncong meriam si Jagur di Museum Fatahillah terlihat mengarah ke patung Hermes yang menghadap berlawanan. Patung Hermes ini sebelumnya berada di sisi selatan Jembatan Harmoni, namun karena dirusak orang pada 1999 maka patung asli dipindahkan ke Museum Fatahillah, dan di Jembatan Harmoni dipasang duplikatnya. Menurut mitologi Yunani, Hermes adalah dewa pelindung dan dewa keberuntungan bagi para pedagang.

museum fatahillah jakarta

Inskripsi di bawah Patung Hermes yang berbunyi "Hermes. Dalam mitologi Yunani, Hermes adalah anak Dewa Zeus. Dia merupakan dewa kerumunan orang, perdagangan, penemuan baru dan atlet serta pelindung para pejalan kaki. Hermes ditampilkan dalam posisi sedang berlari bertumpuan pada satu kaki bersayapnya yang melambangkan kecepatan, sambil memegang tongkat bersayap berlilitkan dua ekor ular."

Lalu, "Patung perunggu ini adalah patung Hermes asli yang semula terpasang di sisi selatan Jembatan Harmoni sejak awal abad 20 pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Batavia. Pada tahun 1999 terjadi perusakan yang mengakibatkan bagian kaki dan alas patung harus diperbaiki. Demi kelestarian benda cagar budaya maka dibuat duplikatnya dan dipasang di tempat semula (Jembatan Harmoni). Sedangkan patung asli dipasang di Museum Sejarah Jakarta." Jadi demikianlah kisah tentang Patung Hermes yang sesungguhnya.

museum fatahillah jakarta

Pandangan menyudut pada bagian depan atas gedung Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, yang masih saja terlihat menarik. Perawatan dan konservasi bangunan tua mesti terus mendapat perhatian serius dari pemprov.

museum fatahillah jakarta

Bagian depan tengah gedung Museum Fatahillah dengan menara kubah di puncaknya, dan tulisan Gouverneurskantoor di area segitiga di bawahnya. Di bawah bendera Merah Putih sebenarnya ada tulisan lagi, namun tak terbaca pada foto yang saya buat.

museum fatahillah jakarta

Pandangan pada bagian muka gedung Museum Fatahillah yang menjadi tempat berbagai pertunjukan dan hiburan yang tersedia gratis. Namun sumbangan sukarela tentu diharapkan oleh para artis lepas yang mangkal di sana. Di depan sana adalah tempat pembelian tiket masuk ke museum.

museum fatahillah jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Barat, Tempat Wisata di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.