Foto Museum Fatahillah

Sepasang meriam tua di kiri kanan gerbang masuk Museum Fatahillah, dengan pohon rindang yang keteduhan kepada pengunjung namun seingat saya pohon itu sekarang sudah ditebang dan hanya tinggal pokoknya. Struktur bangunan Museum Fatahillah menyerupai Istana Dam Amsterdam, dengan bangunan utama, sepasang sayap timur barat, bangunan samping sebagai kantor, ruang pengadilan, serta ruang-ruang bawah tanah untuk penjara.



Ruangan luas berlantai kayu bergaya kolonial di Museum Fatahillah Jakarta. Di tempat itu terdapat lemari kaca besar dengan ornamen indah terbuat dari perunggu, serta satu meja kayu tua besar. Ada pula mebel antik abad 17 - 19, dengan ornamen gaya Eropa, Tiongkok, dan Indonesia. Diantara lukisan tua adalah lukisan penyerangan VOC yang terlihat padat dan gaduh, dengan berbagai adegan perkelahian dan pertempuran antara tentara VOC dan orang-orang pribumi.



Lukisan tua di Museum Fatahillah Jakarta tentang "Penangkapan Pangeran Diponegoro" yang dibuat oleh Raden Saleh. Belanda mengajak Pangeran Diponegoro ke meja perundingan, hanya untuk menangkapnya. Penataan museum Fatahillah terlihat semakin baik dibandingkan dengan saat kunjungan saya ke sana sebelumnya.



Meriam Si Jagur di halaman belakang Museum Fatahillah Jakarta. Meriam peninggalan Portugis buatan Makau ini dibawa ke Benteng Malaka pada abad ke-16 oleh N.T. Bocarro, untuk memperkuat benteng Malaka. Ketika VOC menduduki Malaka pada tahun 1641, Meriam si Jagur dibawa ke Batavia. Moncong meriam si Jagur mengarah ke patung Hermes yang aslinya ada di sisi selatan Jembatan Harmoni.



Seorang pelukis tua tengah beraksi di halaman Museum Fatahillah. Uniknya, tidak ada seorang pun berinisiatif untuk bertanya tentang harga lukisan itu. Barangkali semua orang berpikir bahwa mereka toh bisa mengambil gambar museum dengan kamera atau hp. Kini ada cukup banyak patung hidup di halaman Museum Fatahillah, yang juga disebut Taman Fatahillah.



Kesenian khas masyarakat Betawi berupa boneka setinggi 2,5 meter dengan garis tengah badan sekitar 80 cm. Ondel-ondel dibuat dari anyaman bambu yang mudah dipikul dari dalam. Wajah berupa topeng dicat merah dengan rambut kepala dari ijuk. Wajah ondel-ondel perempuan biasanya dicat putih.



Contoh dapur tradisional kampung-kampung Betawi ada juga di Museum Fatahillah. Dapur tradisional Betawi juga saya dijumpai pada saat berkunjung ke Rumah Si Pitung di kawasan Marunda.



Meriam antik dengan ornamen indah di hampir sekujur badan meriam, dengan dudukan kayu berukir sepasang Burug Garuda yang tak kalah eloknya. Meriam kecil ini konon pernah digunakan untuk melawan tentara VOC.



Sejumlah koleksi tombak pendek di Museum Fatahillah dengan mata tombak yang bervariasi. Ada yang mata tombaknya berbentu trisula dengan bagian tengahnya memiliki lekuk seperti keris, ada yang tajam seperti anak panah, dan ada pula yang memiliki pengait.



Sebuah mebel menyerupai mimbar antik yang berasal dari abad ke-17 sampai 19, dengan ornamen yang merupakan perpaduan gaya Eropa, Cina, Indonesia.



Mebel hias kuno dengan bagian atas berbentuk kubah susun dengan lubang-lubang hawa, serta lubang-lubang jendela dan pintu di bagian bawahnya, disangga oleh enam buah kaki ulir.



Prasasti ini merupakan replika dari Prasasti Tapak Gajah yang pernah saya kunjungi di Desa Ciaruteun Ilir. Prasasti ini juga dinamakan Prasasti Kebun Kopi karena ini ditemukan di sebuah kebun kopi milik Jonathan Rig. Tulisan yang diapit sepasang tapak gajah itu berbunyi “Jayavisalasya tarumendrsaya hastinah airavata basya vibhatidam padadavyam”.



Memasuki Museum Fatahillah saya melihat ada replika Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea di Museum Fatahillah, ditemukan pertama kali pada sebuah lahan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar diapit oleh tiga buah sungai, yaitu sungai Cisadane, Cianten dan Ciaruteun, Bogor.



Ada pula replika Prasasti Pasir Awi di Museum Fatahillah yang ditemukan pertama kali oleh N.W. Hoepermans pada 1864 di lereng Selatan bukit Pasir Awi di hutan perbukitan Cipamingkis, Desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.



Replika Prasasti Batutulis yang aslinya ada di Bogor dan sudah saya kunjungi. Seperti namanya, Prasasti Batutulis ditulis pada sebuah batu Terasit, jenis batu yang terdapat di sepanjang aliran Sungai Cisadane, Bogor. Prasasti Batutulis Bogor ditulis dengan menggunakan huruf Sunda Kawi (Pallawa) dan memakai bahasa Sanskerta.



Miniatur kapal Portugis yang merupakan kapal bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Nusantara. Di sebelahnya serta patung orang dengan model pakaian pada jaman itu.



Papan Kayu Pemisah ruangan yang dipajang di Museum Fatahillah Jakarta dengan ukiran suluran dan bunga menyerupai ukiran Jawa, namun ada pula ukiran meriam dan ukiran berwujud orang berkebangsaan Eropa.



Lukisan penyerangan VOC yang terlihat padat dan gaduh, dengan berbagai adegan perkelahian dan pertempuran antara tentara VOC dan orang-orang pribumi.



Koleksi sejumlah keramik kuno di Museum Fatahillah Jakarta. Beberapa buah guci itu memiliki garis ornamen serta warna yang hampir mirip, yang mungkin dibuat oleh orang yang sama atau berasal dari jaman yang sama. Ada guci dengan ornamen relief naga yang terlihat indah.



Piring Besar asal Jepang dari abad 18 ini terbuat dari porselen dengan hiasan burung Hong, sisik badan naga yang tak jelas dimana kepalanya, burung bangau, burung Rajawali yang tengah mengintai burung kecil, lukisan bunga dan daun di atas glasir. Warna lukisan di piring ini adalah biru, hijau, merah, keemasan, pastel dan coklat.



Penjara bawah tanah yang pernah dipergunakan oleh Belanda untuk memenjarakan pejuang-pejuang kemerdekaan musuh Belanda, seperti misalnya Pangeran Diponegoro (1830) dan Untung Suropati (1670).



Moncong meriam si Jagur di Museum Fatahillah terlihat mengarah ke patung Hermes yang menghadap berlawanan. Patung Hermes ini sebelumnya berada di sisi selatan Jembatan Harmoni, namun karena dirusak orang pada 1999 maka patung asli dipindahkan ke Museum Fatahillah, dan di Jembatan Harmoni dipasang duplikatnya. Menurut mitologi Yunani, Hermes adalah dewa pelindung dan dewa keberuntungan bagi para pedagang.



Inskripsi di bawah Patung Hermes yang berbunyi "Hermes. Dalam mitologi Yunani, Hermes adalah anak Dewa Zeus. Dia merupakan dewa kerumunan orang, perdagangan, penemuan baru dan atlet serta pelindung para pejalan kaki. Hermes ditampilkan dalam posisi sedang berlari bertumpuan pada satu kaki bersayapnya yang melambangkan kecepatan, sambil memegang tongkat bersayap berlilitkan dua ekor ular."

Lalu, "Patung perunggu ini adalah patung Hermes asli yang semula terpasang di sisi selatan Jembatan Harmoni sejak awal abad 20 pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Batavia. Pada tahun 1999 terjadi perusakan yang mengakibatkan bagian kaki dan alas patung harus diperbaiki. Demi kelestarian benda cagar budaya maka dibuat duplikatnya dan dipasang di tempat semula (Jembatan Harmoni). Sedangkan patung asli dipasang di Museum Sejarah Jakarta." Jadi demikianlah kisah tentang Patung Hermes yang sesungguhnya.



Pandangan menyudut pada bagian depan atas gedung Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, yang masih saja terlihat menarik. Perawatan dan konservasi bangunan tua mesti terus mendapat perhatian serius dari pemprov.



Bagian depan tengah gedung Museum Fatahillah dengan menara kubah di puncaknya, dan tulisan Gouverneurskantoor di area segitiga di bawahnya. Di bawah bendera Merah Putih sebenarnya ada tulisan lagi, namun tak terbaca pada foto yang saya buat.



Pandangan pada bagian muka gedung Museum Fatahillah yang menjadi tempat berbagai pertunjukan dan hiburan yang tersedia gratis. Namun sumbangan sukarela tentu diharapkan oleh para artis lepas yang mangkal di sana. Di depan sana adalah tempat pembelian tiket masuk ke museum.



Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.

©2021 Ikuti Saya