Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta

March 31, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta adalah salah satu dari sedikit museum di kota Jakarta yang masih belum sempat saya kunjungi sampai saat itu. Lokasinya sebenarnya berada sangat dekat dengan Museum Fatahillah yang telah saya kunjungi beberapa bulan sebelumnya.

Adalah karena kurangnya pengetahuan tentang daerah itu, dan juga sebuah harga yang harus dibayar karena ketidakmauan bertanya dan mencari informasi, sehingga Museum Seni Rupa dan Keramik tidak dikunjungi waktu itu juga. Pengetahuan adalah rumah yang sangat berharga, dan pertanyaan yang baik akan membuka pintu gerbang untuk memasukinya.

Tidak sulit untuk menemukan gedung bergaya kolonial yang digunakan sebagai tempat untuk Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta. Kita hanya perlu melangkah ke ujung timur Taman Fatahillah di depan Museum Sejarah Jakarta, maka gedung Museum Seni Rupa dan Keramik sudah akan terlihat.

museum seni rupa dan keramik jakarta
Tengara Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta dengan sebuah pohon beringin rindang teduh di halaman depan Museum Seni Rupa dan Keramik, memberi pemandangan hijau sejuk di jalan masuk ke museum. Sepasang meriam tua dengan moncong garang dipasang di kiri kanan pohon beringin.

Di lantai dua, dengan menaiki tangga besi melingkar, terdapat ruangan berisi koleksi keramik asal dari luar negri, seperti Cina, Belanda, Jerman, Jepang, Timur Tengah, Thailand dan Vietnam. Di tengah bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik terdapat ruang terbuka yang ditanami pohon dan rumput, serta bangku-bangku yang bisa dipakai para pengunjung untuk beristirahat sejenak. Ada pula mushola, toilet, dan ruang perpustakaan yang menyediakan koleksi buku-buku seni rupa dan keramik bagi para pengunjung.

Jika berminat, Museum Seni Rupa dan Keramik menyediakan tempat pelatihan bagi pelajar dan masyarakat umum untuk belajar teknik membuat gerabah. Oven untuk pembakaran gerabah juga tersedia di dalam museum. Cindera mata dan minuman ringan bisa dibeli Souvenir Shop yang menjual berbagai t-shirt, mug, gantungan kunci, aksesori, sebagai kenang-kenangan telah berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik.

Koleksi keramik Cina dari abad X s/d XIV di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta berasal dari kargo kapal karam di perairan Indonesia yang isinya berhasil diangkat. Keramik tertua yang disimpan di museum berasal dari jaman Dinasti Tang (618 - 969 M) berbentuk guci. Ada pula keramik dari jaman Dinasti Ming (1369 - 1644 M), Qing (1645 - 1912 M), Song (960 - 1279 M), dan Dinasti Yuan (1280 - 1368 M).

Ada pula koleksi keramik lokal yang dipamerkan dikumpulkan secara bertahap oleh Museum Seni Rupa dan Keramik dari daerah seperti Aceh, Bali, Bandung, Jakarta, Lampung, Lombok, Malang, Medan, Palembang, Purwakarta, Yogyakarta, dll. Diantara koleksi keramik lokal yang berharga adalah keramik jaman Majapahit dari abad ke-14, berupa pasu, kendi, periuk, celengan, terakota, relief, serta bagian tempat suci. Di lemari kaca di ruangan sayap kiri Museum Seni Rupa dan Keramik ada koleksi tanah liat tanpa hiasan, dengan tepian membalik keluar, dasar datar, dan memiliki empat buah pegangan. Ada pula guci dengan kupingan, guci tanpa hiasan, dan guci hiasan lundang-lundang.

Selanjutnya adaalah lukisan karya Antonio Blanco berjudul "Dancing in the Cloud" dibuat pada 1991, berukuran 52x36 cm menggunakan cat air di atas kertas. Ini adalah salah satu dari sekian koleksi lukisan berharga yang dipajang di sayap kiri dan kanan Museum Seni Rupa dan Keramik

Ada sekitar 500 karya seni berupa patung, totem kayu, lukisan, sketsa, dan batik lukis yang disimpan di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, diantaranya adalah lukisan karya Hendra Gunawan berjudul "Pengantin Revolusi", karya Raden Saleh "Bupati Cianjur", lukisan S.Sudjojono "Seiko", dan lukisan Affandi "Potret Diri".

Lukisan indah lainnya di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta merupakan karya Dullah berjudul "Ibu Menyusui". Dullah lahir di Solo pada 17 September 1919, dan dikenal sebagai pelukis realis dengan objek kebanyakan berupa wajah dan kelompok orang. Dullah belajar melukis dari S. Sudjojono dan Affandi, nomun corak lukisan mereka tak pernah sama. Koleksi benda kuno dari jaman kerajaan seperti cakra, kepeng Cina, tepian lonceng, pedupaan dan beberapa benda yang belum diketahui jenisnya disimpan di dalam lemari kaca dalam ruangan di sayap kanan bangunan museum.

Ada pula lukisan karya Basuki Abdullah dan beberapa pelukis lainnya. Sebuah lukisan klasik yang mengambil tema dari dunia pewayangan mengingatkan saya pada cerita pertarungan antara Arjuna dan Buta Cakil. Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta juga menyimpan totem kayu dan patung karya para seniman terkenal seperti I Wayan Tjokot, G.Sidharta, Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi, Nashar, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton, dan banyak lagi.

Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan tempat yang baik untuk dikunjungi di wilayah kota, apalagi jaraknya sangat dekat dengan Museum Fatahillah. Meskipun keramik bukanlah merupakan benda favorit saya, namun ada banyak karya seni yang sangat bernilai selain keramik yang juga disimpan di dalam museum itu.

Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta

Alamat : Jl. Taman Fatahillah atau Jl. Pos Kota No. 2, Kota, Jakarta. Telp. 021-6929101. Fax. 021-6902387. Lokasi GPS : -6.134368, 106.814082, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa - Minggu 09.00 – 15.00. Harga tiket masuk : Rp 2.000, Mahasiswa Rp 1.000, Anak/pelajar Rp 600. Rombongan 20 orang Rp 1.500, Mahasiswa Rp 750, Anak Rp 500.

Galeri Foto Museum Seni Rupa dan Keramik

Keramik Cina dari abad X s/d XIV di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta yang berasal dari kargo kapal karam di perairan Indonesia. Keramik tertua berasal dari jaman Dinasti Tang (618 - 969 M) berbentuk guci. Ada keramik dari Dinasti Ming (1369 - 1644 M), Qing (1645 - 1912 M), Song (960 - 1279 M), dan Dinasti Yuan (1280 - 1368 M).

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Antonio Blanco berjudul "Dancing in the Cloud" dibuat pada 1991, berukuran 52x36 cm menggunakan cat air di atas kertas. Ini adalah salah satu dari sekian koleksi lukisan berharga yang dipajang di sayap kiri dan kanan Museum Seni Rupa dan Keramik.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Dullah yang diberi judul "Ibu Menyusui". Dullah dikenal sebagai pelukis realis yang kebanyakan berupa wajah dan kelompok orang. Meski Dullah belajar dari S. Sudjojono dan Affandi, namun corak lukisan mereka selalu berbeda.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta yang disimpan dalam lemari kaca, diantaranya adalah Kamiri (candle nuts), pecahan gading gajah, dan potongan kayu harum cendana.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Sebuah dokumentasi tulisan yang menceritakan tentang sejarah keramik di Indonesia. Ada pula dokumentasi tentang sejarah keramik di Indonesia yang letaknya berdekatan.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Di lemari kaca di ruangan sayap kiri Museum Seni Rupa dan Keramik ada koleksi tanah liat tanpa hiasan, dengan tepian membalik keluar, dasar datar, dan memiliki empat buah pegangan. Ada pula guci dengan kupingan, guci tanpa hiasan, dan guci hiasan lundang-lundang.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Gung Wayan Cidera berjudul "Wayang Bali" dibuat pada 1999 berukuran 80x70 cm menggunakan cat air di atas kanvas, koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta yang memperlihatkan guci dan beberapa benda lainnya yang diperoleh dari kapal karam di perairan Indonesia yang menjadi bukti adanya jaringan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan para pedagang dari negara asing.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Tangga besi melingkar elok dengan landasan kaki berlubang-lubang sarang lebah yang membawa saya ke lantai dua Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta berupa sebuah piring hias besar bermotif bungan dengan warna biru putih yang berasal dari Cina, dibuat di jaman Dinasti Ming.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lantai dua Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta berlantai kayu tebal yang menyimpan koleksi piring-piring keramik kuno dalam lemari-lemari kaca.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Sebuah pajangan keramik yang berasal dari kapal karam, serta narasi yang memberi informasi besarnya nilai peninggalan yang tersimpan di lebih dari tiga juta kapal tenggelam di seluruh dunia.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Di tengah bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik terdapat ruang terbuka yang ditanami pohon dan rumput, serta bangku-bangku yang bisa dipakai para pengunjung untuk beristirahat sejenak.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Sebuah patung kayu semi abstrak yang berjudul "Perahu Roh" koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya I Made Sukadana berjudul Barong yang dibuat pada 2001. Pelukis ini lahir di Karangasem Bali pada 1966.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta berupa beberapa buah guci kuno berbagai warna yang berukuran cukup besar.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta berupa tempayan dengan ornamen sederhana, dan tembikar dengan motif bunga serta dedaunan.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta yang diletakkan di sebuah pojok ruangan berupa vas bunga bermotif burung dan ornamen warna-warni serta sebuah patung dalam posisi duduk dan tangan melipat di atas kaki.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Sebuah patung yang menyerupai kuda namun dengan bentuk unik berwarna kehijauan, koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Tampak muka Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta memperlihatkan bangunan bergaya kolonial dengan pilar-pilar besar di bagian depan gedung.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Tampak samping Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta memperlihatkan jendela-jendela tinggi yang dahulu dimaksudkan sebagai akses cahaya dan sirkulasi udara dan sekarang fungsinya telah digantikan oleh lampu listrik dan AC.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Pandangan sisi kanan Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta yang merupakan cermin sempurna dari sisi lainnya. Meskipun area parkir yang disediakan museum ini boleh dikatakan cukup luas, namun akan lebih baik jika berkunjung ke kawasan Kota Tua ini dengan menumpang Bus TransJakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Salah satu dari meriam kuno yang di pajang di halaman depan Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Sebuah poster yang dipasang tak jauh dari gerbang masuk ke Museum Seni Rupa dan Keramik memberi perspektif sejarah. Gedung ini dibangun pada 1870 berdasarkan rancangn WHFH van Raders, dan awalnya menjadi kantor lembaga peradilan tertinggi di jaman Hindia Belanda, Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia. Pada 20 Agustus 1976 Presiden Soeharto meresmikannya menjadi Gedung Balai Seni Rupa, dan pada 10 Juni 1977 Gubernur Ali Sadikin meresmikan Museum Keramik di tempat itu. Pada 1990 resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Dua buah kereta antik di halaman depan gedung Museum Seni Rupa dan Keramik itu merupakan kereta yang digunakan oleh Jokowi pada saat kirab budaya dari Bunderan HI ke Istana Merdeka setelah ia disumpah sebagai Presiden RI pada 20 Oktober lalu.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Ruang bagian depan yang berisi informasi perjalanan waktu Gedung Raad van Justitie, dari mulai 1865 saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Mjer mengeluarkan keputusan untuk membangun gedung Raad van Justitie atas rekomendasi Raja Willem III, hingga tahun 1990 saat gedung diresmikan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Ruangan kedua dengan layar LCD yang memutar film tentang sejarah seni lukis di sisi kiri, dan sejarah keramik di sisi kanan. Poster berukuran besar dalam dua bahasa juga dibuat di kedua dinding yang berdekatan. Hanya saja sejarah seni lukis yang dibuat di museum ini sama sekali tidak menyinggung seni lukis pribumi sebelum masuknya seni lukis modern seiring dengan kedatangan Belanda yang kemudian menjajah negeri ini. Sedangkan keramik sudah dikenal di Indonesia sejak jaman Neolithikum (2500 SM - 1000 SM). Teknologi keramik mulai berkembang dengan berdirinya Laboratorium Keramik di Bandung pada 1922.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Di ruangan ini dipamerkan alat lukis seperti kuas dengan ukuran dan bulu kuas berbeda, yang digunakan sesuai keperluan dan gaya pelukis yang memakainya. Dipamerkan pula cat yang biasa digunakan untuk melukis, terutama cat minyak dan cat akrilik. Selain itu ada pula pengencer cat, palet, pisau palet, standing (easel) dan alat bantu peralatan melukis lainnya.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Kendi tanah liat dengan bentuk bagian atas unik yang merupakan peninggalan seni keramik dari jaman Majapahit.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Patung Perujudan Dewi dengan tinggi 38 cm dan diameter 20 cm, terakota terbuat dari tanah liat dari jaman Majapahit.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Dua buah kendi tanah liat dari jaman Majapahit dengan bentuk yang hampir sama, hanya saja kendi yang di sebelah kanan moncongnya sudah patah.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Tiga buah figurine terakota tanah liat dari jaman Majaphit. Di sebelah kiri adalah figurine kepala wanita dengan tinggi 10 cm diameter 7,5 cm, tengah figurine kepala pria dengan tinggi dan diameter 8 cm, dan sebelah kanan figurine kepala wanita dengan tinggi 11 cm dan diameter 7,5 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Koleksi jaman Majapahit berupa guci, piring, tepat sirih / cepuk bertutup, lonceng genta, dan gelang, yang semuanya terbuat dari bahan perunggu.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Relief wanita terakota tanah liat dari jaman Majapahit berukuran tinggi 20 cm dan diameter 12 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Patung wanita dari jaman Majaphit terbuat dari tanah liat terakota dengan bagian bawah sudah rusak. Pada telinganya menggantung hiasan giwang dalam ukuran besar, dan ada hiasan pada tutup kepalanya.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan wayang Bali bergaya kamasan yang dibuat pada 2009, pelukisnya anonim, dilukis dengan cat minyak pada kanvas berukuran 150 x 120 cm. Seni lukis wayang kamasan merupakan seni lukis klasik yang lahir di abad ke-17 pada jaman Kerajaan Gelgel dibawah Raja Waturenggong di Kamasan, Klungkung, Bali. Beberapa lukisan dikerjakan oleh beberapa seniman ahli dalam melakukan pendasaran, penebalan, dan pewarnaan, sehingga lukisannya tanpa nama, atau anonim.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Halaman dalam gedung Museum Seni Rupa dan Keramik yang merupakan ruang terbuka dan diberi panel-panel untuk rambatan tanaman vertikal.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Repro lukisan Raden Saleh yang berjudul Johannes van Den Bosch, dibuat pada 1836.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Repro lukisan Raden Saleh yang berjudul "Berburu Rusa", dibuat pada 1846.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Repro lukisan Raden Saleh berjudul "Singa dan Ular", dibuat pada 1839. Raden Saleh Syarif Bustaman lahir tahun 1807 di Desa Terbaya dekat Semarang. Raden Saleh adalah perintis seni lukis modern Indonesia. Pada 1822 ia menjadi pelukis pribumi pertama yang mendapat pendidikan melukis dari AAJ Payen, pelukis keturunan Belgia berkebangsaan Belanda. Setelah berkelana ke Belanda, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya untuk memperdalam ilmunya, Raden Saleh kembali ke Batavia pada 1852 dan terus melukis sampai ia wafat pada 1880. Makam Raden Saleh ada di Bogor.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan cat minyak pada kaca berjudul "Gunungan Kaligrafi" karya Hardyono berukuran 74 x 60 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan cat minyak pada kaca karya Sumbar P. Sunu berjudul "Babat alas Martani", berukuran 66 x 97 cm. Lukisan kaca tradisional berkembang sejak abad ke-17 pada masa pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon. Selain tema pewayangan, banyak tema Islam dipakai dalam lukisan kaca.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan cat minyak pada kaca berjudul "Begawan Ciptaning" karya Rastika yang dibuat pada 2008, berukuran 70 x 120 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Ruang pamer lukisan di Museum Seni Rupa dan Keramik, memajang lukisan tua karya para pelukis senior Indonesia.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya S. Sudjojono berjudul "Istriku", dilukis pada 1956 menggunakan cat minyak pada kanvas berukuran 100 x 80 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya S. Sudjojono berjudul "Pak Karso", dilukis pada 1959 menggunakan cat minyak pada kanvas berukuran 120 x 81 cm. S. Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara pada 14 Desember 1917. Ia belajar melukis secara otodidak.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan berjudul "Maka lahirlah Angkatan 66" karya S. Sudjojono, dilukis pada 1966 dengan menggunakan cat minyak pada kanvas berukuran 100 x 85 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan berjudul "Perahu" karya R.G.A. Sukirno yang dibuat pada 1975 menggunakan cat minyak pada kanvas berukuran 64 x 84 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan S. Sudjojono berjudul "Ketoprak" yang dibuat pada 1970 memakai cat minyak pada kanvas 78 x 118 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan S. Sudjojono berjudul "Ada Orkes" yang dibuat pada 1970 memakai cat minyak pada kanvas 80 x 120 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan berjudul "Rapat Ikada" karya Otto Djaya, dibuat pada 1946 - 1947 memakai cat minyak pada kanvas 120 x 137 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Lee Man Fong berjudul "Wanita", dibuat tahun 1950 memakai cat minyak pada kanvas 54 x 52 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Sapto Hudoyo berjudul "Menghadang Konvoi" yang tak diketahui tahun pembuatannya, dilukis memakai cat minyak pada kanvas 135 x 337 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Keramik dari jaman Majaphit berujud nandi dan patung, semuanya dibuat dari tanah liat yang dibakar.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Tiga buah keramik dari Jaman Majapahit berupa celengan berbentuk babi terbuat dari tanah liat yang dibakar. Disebut celengan tampaknya karena bentuk babi / celeng sudah banyak dipakai sejak jaman dahulu.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Basoeki Abdullah berjudul "Kapal" yang dibuatnya pada 1976 memakai cat minyak paa kanvas 98 x 148 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Hendra Gunawan berjudul "Kenangan 45" dibuat pada 1956 memakai cat minyak pada kanvas 135 x 295 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Itji Tarmizi berjudul "Kerja Paksa" tanpa tahun pembuatan, memakai cat minyak pada kanvas 135 x 192 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Affandi berjudul "Potret Diri", dibuat 1975 memakai cat minyak pada kanvas 113 x 88 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Affandi berjudul "Potret Diri & Topeng Bali" yang dibuat tahun 1960 memakai cat minyak pada kanvas 102 x 88 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Dullah, dibuat tahun 1972, berjudul "Menyusui" memakai cat minyak pada kanvas 125 x 80 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Amrus Natalsya berjudul "Rumah-rumah China di Jatinegara" dibuat tahun 2000 memakai cat minyak pada kayu berukuran 63,5 x 70 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Hendra Gunawan berjudul "Permainan Ular" dibuat tahun 1974 memakai cat minyak pada kanvas 193 x 70 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Djoko Pekik berjudul "Lelaki Duduk" yang dibuat tahun 1999 memakai cat minya pada kanvas 75 x 65 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Abas Alibasyah berjudul "Klenteng" dibuat tahun 1961 memakai cat minyak pada kanvas 116 x 89 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Ahmad Sadali berjudul "Perahu di Pulau Bali" dibuat tahun 1975 memakai cat minyak pada kanvas 65 x 85 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan karya Abdul Djalil Pirous berjudul "Ayat di Atas Putih" dibuat tahun 1971 memakai cat minya pada kanvas 100 x 140 cm. AD Pirous lahir di Meulaboh, Aceh, pada 11 Maret 1933. Ia lulus dari Jurusan Senirupa ITB pada 1964, dan pada 1972 mendirikan kelompok "Decenta" di bidang desain dan seni di Bandung.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan kain batik berukuran 120 x 80 cm karya Amri Yahya berjudul "Lebak Merah" dibuat tahun 1976. Amri Yahya lahir di Palembang pada 29 September 1939. Ia lulus dari Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta pada 1963 dan pernah belajar membuat seni keramik di Belanda. Pada 1968 ia mulai mengajar di IKIP dan beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Popo Iskandar berjudul "Kucing" dibuat pada 1975 memakai cat minyak pada kanvas 120 x 145 cm. Popo Iskandar lahir di Garut pada 17 Desember 1927. Ia masuk Jurusan Senirupa ITB tahun 1954 hingga lulus. Pada 1979 ia membuka Museum Popo Iskandar di Bandung.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Nyoman Gunarsa berjudul "Tumpengan" dibuat pada 1974 memakai cat minyak pada kanvas 138 x 140 cm. Nyoman Gunarsa lahir di Klungkung, Bali, pada 15 April 1944. Ia lulus tahun 1976 dari Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Meru empat tingkat terbuat dari tanah liat bakar dari jaman Majapahit, dengan relief seorang wanita pada tingkat kedua.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Dede Eri Supria berjudul "Urbanisasi" dibuat tahun 1977 memakai cat minyak pada kanvas 197 x 307 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Lukisan Jeihan Sukmantoro berjudul "Wanita", dibuat tahun 1985 memakai cat minyak pada anvas 140 x 140 cm.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Keramik dari Jakarta yang memperlihatkan sebuah bus yang penuh penumpang bahkan sampai ke atapnya dan bergantungan di samping bus. Tulisan pada badan bus berbunyi "Transportasi negara berkembang".

museum seni rupa dan keramik jakarta

Berbagai keramik buatan lokal dipamerkan di sayap bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik, diantaranya dari Lombok, Bali, Singkawang, Manado, Jakarta, Klampok, dll. Dari Lombok ada peralatan masak di upam hitam yang hanya dipakai saat bulan puasa, piring segi empat berhias gores motif kupu-kupu dan pinggirnya dililit rotan, periuk dililit rotan, vas dililit kulit lamtoro, mangkuk oval dililit rotan, mangkuk bulat hiasan geomtris ukir, dan wadah berkaki bertutup dililit kepeng.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Klampok terkenal dengan industri tanah liat bakar yang berdiri pada 1957-an dan mengalami masa kejayaan pada tahun 1980-an. Produk keramik Klampok dikenal sampai luar negeri, seperti Prancis, Jerman, Belanda, Swiss, dan di beberapa negara Asia.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Patung Kuda buatan Anjun Pejaten, Jakarta, dan di sebelahnya adalah patung ular.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Terakota Majapahit yang berasal dari abad ke-12 s/d 14 berupa ukiran dua wanita yang digunakan sebagai penghias selubung tiang.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Terakota Majapahit dari abad ke-12 s/d 14 berupa patung tanah liat yang menggambarkan gunungan, lambang keadaan dunia beserta isinya.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Patung di latar depan tengara namanya sudah terkelupas , sedangkan di latar belakang merupakan prasasti berisi sejarah singkat gedung hingga diresmikan menjadi Balai Seni Rupa pada 20 Agustus 1976.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Patung Dada S. Sudjojono irawan honda yang dibuat tahun 1992 menggunakan bahan fiberglass, karya Irawan dan Honda.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Karya Timbul Raharjo berjudul "Mencari Kenikmatan" berukuran 50 x 60 x 50 cm, dibuat pada 2014 yang dipamerkan pada ruang pamer depan.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Karya Putut Praba berjudul "Digreetion Inception" berukuran 37 x 25 x 51 cm, dibuat pada 2013.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Pameran keramik berjudul "geliat tanah liat, antara ekspresi dan api" yang berlangsung pada Agustus s/d September 2014 lalu di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Prasasti peresmian Museum Keramik yang dilakukan dalam rangka HUT 450 Jakarta ole Gubernur DKI Ali Sadikin pada 10 Juni 1977.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Guci buatan Zhang-Zhou (Swatow), Provinsi Fujian, dari jaman Dinasti Ming abad ke-16 a/d 17 M.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Piring dan Mangkuk warna Sancai 3 warna hijau, kuning, coklat buatan Eropa dengan cap Madjapahit dari abad ke-19, yang meniru keramik dari Dinasti Qing abad ke-17.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Patung-patung warna putih dan kekuningan yang dikenal dengan sebutan Blanc De Chine dari Provinsi Fujian, jaman Dinasti Ming awal, abad ke-17 s/d 18 M.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Sejumlah keramik dan benda lainnya yang diperoleh dari kapal karam, yang mengungkap adanya jejaring diantara bangsa-bangsa di Asia pada abad ke 9-10 M.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Kelestarian Budaya Maritim keramik kapal karam telah diatur dalam UNESCO 2001 Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Museum Kontemporer Jakarta yang berada di ruang terbuka di tengah Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Selasar Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta berisi sejumlah patung kayu berukuran besar dengan detail ukiran yang indah. Bentuk patungnya mengingatkan saya pada patung asmat, atau patung lainnya dari wilayah timur Indonesia.

museum seni rupa dan keramik jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Barat, Tempat Wisata di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.