Foto Museum Peranakan 1

aroengbinang.com - Pandangan samping pada sepasang barongsai, sumbangan dari Perkumpulan Barongsai Kong Ha Hong dari marga Huang - Kong Hu yang diberikan dalam perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2014. Di bagian tengah uang kepeng yang lebih menyerupai loyang itu terdapat gambar Garuda Pancasila. Foto lama yang memperlihatkan bangunan bergaya Cina terlihat di latar belakang.

museum pernakanan tionghoa tmii

Sebuah poster berisi foto lama dari sebuah keluarga peranakan Tionghoa di Indonesia. Kata Tionghoa selama beberapa tahun terakhir digunakan secara resmi untuk menggantikan kata Cina oleh sebab konotasi Cina yang cenderung negatif, apalagi ketika Cina sebagai negara masih terbelakang dan dikenal dengan sebutan Negeri Tirai Bambu. Namun kini Cina sebagai negara telah menjadi kekuatan ekonomi raksasa kedua di dunia setelah Amerika, dan produk buatan Cina juga tak kalah mutunya dengan barang-barang yang diproduksi Jepang, Korea, dan negara-negara Barat. Karenanya konotasi negatif kata Cina semakin lama semakin pudar.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster sederhana berisi foto kubur dan informasi tentang Souw Beng Kong yang hidup tahun 1580 - 1644. Peranan dan jasanya dalam pembangunan Kota Batavia diceritakan dalam poster ini. Selain sebagai penterjemah, ia juga menjadi penasehat ada istiadat Tionghoa, sebagai saksi di pengadilan, ikut berperan dalam membangun sistem irigasi, kanal, serta merubah daerah rawa-rawa menjadi pasar, permukiman dan kantor.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster bersisian yang menceritakan kisah yang dialami Nie Hu Kong dalam Peristiwa Angke tahun 1740, dan persitiwa perlawanan Laskar Tionghoa - Jawa dalam melawan serdadu VOC pada tahun 1740-1743. Sebagai protes terhadap kenaikan pajak yang tinggi dan sanksi berat pada penduduk Tionghoa yang dibuat oleh Gubernur VOC Adriaan Valckenier, terjadi aksi pembangkangan dan penyerangan oleh laskar Tionghoa terhadap pos-pos VOC di Jatinegara, Tanah Abang, Bekasi, dan Tangerang. Pada tanggal 8 Oktober 1740 mereka menyerang Benteng VOC di Batavia.

Sebagai aksi balasan, pada 9 Oktober 1740 Letnan Gustaaf Willem van Imhoff dan Angkatan Laut Belanda melakukan serangan besar-besaran dengan menggunakan artileri untuk membunuh semua orang Tionghoa di Batavia, termasuk yang sedang dirawat di rumah sakit dan yang sedang dipenjara. Rumah-rumah dihancurkan dengan meriam dan dibakar, termasuk rumah Nie Hu Kong. Ia disiksa dengan cara digantung, tulang kakinya dibor, kemudian dibuang dan meninggal di Ambon. Diperkirakan sekitar 10.000 orang Tionghoa tewas dalam peristiwa pembantaian ini, dan ribuan lainnya melarikan diri ke berbagai daerah di Jawa.

museum pernakanan tionghoa tmii

Poster yang menceritakan kisah tentang Boven Digoel, tempat pengasingan tokoh pergerakan nasional yang terletak 500 km di sebelah utara Merauke. Selain Hatta, Syahrir, dan tokoh lainnya, rupanya ada beberapa orang keturunan Cina yang juga pernah dibuang ke Digul, yaitu Lie Tiong Sik, Tjan Tok Giap, dan Tjan Tok Gwan.

museum pernakanan tionghoa tmii