Foto Museum Pengkhianatan PKI 1

aroengbinang.com - Diorama Aksi Kekerasan Pasukan Ubel-Ubel di Sepatan Tangerang, 12 Desember 1945. Dimulai pada 18 Oktober 1945, Badan Direktorium Dewan Pusat pimpinan Ahmad Khairun dengan dukungan gembong komunis bawah tanah mengambil alih kekuasaan pemerintah RI Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.

Mereka membubarkan aparatur pemerintah desa sampai kabupaten, menolak mengakui pemerintah pusat, membentuk Laskar Hitam atau Laskar Ubel-Ubel karena berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala. Mereka melakukan aksi teror dengan merampok harta dan membunuh penduduk Tangerang dan sekitarnya, seperti Mauk, Kronjo, Kresek, Sepatan. Pada 12 Desember 1945, dibawah pimpinan Usman, Laskar Ubel-Ubel merampok penduduk Desa Sepatan, melakukan pembunuhan, termasuk membunuh tokoh nasional Oto Iskandar Dinata di Mauk.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya tentang revolusi sosial yang terjadi di Langkat pada 9 Maret 1946. Persoalannya adalah karena berdirinya Republik Indonesia masih belum diterima sepenuhnya oleh kerajaan-kerajaan Sumatera Timur. Ketidakpuasan rakyat yang timbul dan menuntut penghapusan kerajaan dimanfaatkan PKI serta Pesindo untuk mengambil alih kekuasaan secara kekerasan. Revolusi sosial dimulai pada 3 Maret 1946.

Pembunuhan terjadi di Rantau Prapat, Sunggal, Tanjung Balai dan Pematang Siantar di hari itu. Pada 5 Maret 1946 Kerajaan Langkat resmi dibubarkan dan berada dibawah pemerintahan RI Sumatera Timur, namun pada malam 9 Maret 1946 massa PKI pimpinan Usman Parinduri dan Marwan menyerang Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura. Istana diduduki massa PKI, beberapa keluarga Sultan dibunuh, Sultan beserta keluarganya dibawa ke Batang Sarangan.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pemogokan Buruh Sarbupri di Delanggu, 23 Juni 1948. Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri), organisasi buruh PKI yang beranggotakan 15.000 buruh pabrik goni di 7 perusahaan pemerintah di Delanggu, Klaten, melancarkan pemogokan total pada 23 Juni 1948 untuk menuntut kenaikan upah. Aksi pemogokan berakhir pada 18 Juli 1948 setelah partai-partai politik mengeluarkan pernyataan menyetujui Program Nasional.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Pengacauan Surakarta, 19 Agustus 1948. Ketika berlangsung pasar malam Sriwedari pada 19 Agustus 1948 dalam rangkaian peringatan Kemerdekaan RI, PKI membakar ruang pameran Jawatan Pertambangan guna mengalihkan perhatian TNI agar gerakan pemberontakan PKI di Madiun bisa berjalan lancar. Rembetan api dapat dicegah, namun timbul kepanikan pengunjung sehingga 22 orang menderita luka-luka.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Pemberontakan PKI d Madiun, 18 September 1948. Pada saat RI sibuk menghadapi Belanda, PKI melancarkan kampanye politik menyerang pemerintah, melakukan aksi teror, mengadu domba angkatan bersenjata dan melakukan sabotase ekonomi. Gagal menjatuhkan kabinet Hatta dengan cara parlementer, komunis membentuk Front Demokrasi Rakyat, melakukan aksi-aksi politik serta tindak kekerasan. Musso (Muso Manowar), atau Paul Mussotte, yang baru kembali dari Moskow dan mengambil alih pimpinan PKI, menuduh Soekarno-Hatta menyelewengkan perjuangan bangsa Indonesia. Ia menawarkan "Jalan baru Untuk Republik Indonesia".

Pada saat perhatian pemerintah dan Angkatan Perang terpusat untuk menghadapi Belanda, PKI melakukan kampanye menyerang politik pemerintah, melakukan aksi-aksi teror, mengadu domba kekuatan bersenjata, juga sabotase ekonomi. Dini hari 18 September 1948, ditandai 3 letusan pistol, PKI memulai pemberontakan Madiun. Pasukan Seragam Hitam menyerbu, menguasai tempat-tempat penting dalam kota, termasuk gedung Karesidenan Madiun. Di gedung ini PKI mengumumkan berdirinya "Soviet Republik Indonesia" serta membentuk Pemerintahan Front Nasional. Sejumlah petinggi militer, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat pun dibunuh.

museum pengkhianatan pki lubang buaya