Museum Kebangkitan Nasional Jakarta Pusat

Museum Kebangkitan Nasional Jakarta adalah museum sejarah yang besar dan indah di Jakarta, namun museum ini mungkin merupakan salah satu tempat wisata pendidikan yang paling sedikit dikunjungi. Bisa jadi karena kurangnya liputan sehingga saya pun baru mengetahui keberadaannya, atau karena letaknya yang tersembunyi meski masih berada di jantung Kota Jakarta.

Papan penanda museum tampaknya juga tidak membantu, karena ada satu masa dimana cukup sering saya lewat di depan gedung museum tanpa pernah mengenalinya. Museum Kebangkitan Nasional berada di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, tidak jauh dari Pasar Senen, Jakarta Pusat. Bangunannya mulai dibuat pada tahun 1899, selesai pada 1901, dan diresmikan sebagai gedung STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten) pada Maret 1902.

STOVIA adalah sebuah sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi pelajar pribumi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Namun STOVIA kemudian dipindahkan ke Jl. Salemba No. 6 pada tahun 1920, dan lima tahun kemudian gedung bekas STOVIA ini digunakan untuk MULO (setara dengan SMP), AMS (setara dengan SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker. Selama masa pendudukan Jepang, gedung bekas ini dipergunakan oleh bala tentara Jepang sebagai tempat tahanan bagi tentara Belanda yang tertangkap selama operasi militer.

museum kebangkitan nasional jakarta
Patung R. Soetomo di dekat pintu masuk Museum Kebangkitan Nasional Jakarta Pusat arah ke sebelah kiri. Soetomo lahir di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur pada 30 Juli 1888, dan lulus STOVIA pada 11 April 1911. Ia adalah salah satu pendiri dan ketua pertama Boedi Oetomo, organisasi pemuda modern pertama di Indonesia yang berdiri pada 20 Mei 1908. Tanggal itu kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Di ruang pertama museum ada miniatur kapal Portugis, yang mengingatkan bahwa mereka pernah mengendalikan pasar rempah-rempah pada 1511 dan menancapkan kaki di Ternate pada 1512, meski mendapatkan perlawanan sengit dari pusat kekuasaan di Aceh, Melayu, Jawa, Makassar, dan Maluku. Beberapa langkah dari tempat itu ada patung Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889 - 28 April 1959) atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Nama Ki Hajar Dewantara digunakannya saat berusia 40 tahun sesuai penanggalan Jawa, yang membuatnya merasa bebas untuk dekat dengan semua orang. Tanggal lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional mengingat sumbangannya yang besar terhadap kemajuan pendidikan bangsa.

Instalasi seukuran manusia sebenarnya yang diletakkan di dalam salah satu ruang belajar memperlihatkan para pelajar STOVIA dengan pakaian tradisional mereka saat sedang mengikuti sebuah pelajaran. Jika saja sekolah dan perguruan tinggi sekarang ini memperbolehkan siswanya untuk menggunakan pakaian tradisional ketika mengikuti pelajaran di kelas, terutama di perguruan tinggi, tentu akan menarik.

Di ruang sebelumnya terdapat koleksi berupa sejumlah contoh rempah-rempah asli Nusantara, yang pada masanya merupakan sumber kekayaan sangat berharga yang lalu menjadi kutukan bagi penduduk negeri ini. Sama seperti yang menimpa pada hampir semua sumber kekayaan di banyak tempat lain di dunia. Namun orang asing yang kemudian menjajah negeri ini tentu bukan mencari rempah. Mereka mengincar sumber kekayaan alam dan tambang yang berlimpah.

Instalasi menarik lainnya di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta menggambarkan Raden Ajeng Kartini yang tengah mengawasi murid-muridnya yang belajar di pendopo rumah ayahnya di Jepara. Kartini (1879-1904) telah menjadi simbol bagi wanita Indonesia untuk berjuang mendapatkan pendidikan lebih baik, dan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Tanggal lahirnya, 21 April, telah diresmikan menjadi Hari Kartini. Museum Kartini Jepara menyimpan sejumlah peninggalan sosok wanita inspiratif yang wafat di usia masih sangat muda ini.

Koleksi lain adalah salinan lukisan tua tentara Pangeran Diponegoro yang tengah melakukan latihan keprajuritan. Perang Diponegoro adalah perang terbesar di Jawa yang berlangsung di hampir seluruh wilayah, sehingga disebut juga Perang Jawa. Perang tahun 1825-1830 itu menelan korban 200.000 jiwa rakyat Jawa, 7.000 pribumi lain, dan 8.000 serdadu Belanda. Penangkapan Pangeran Diponegoro pada 1830 mengakhiri Perang Jawa. Sang pangeran dibuang ke Manado, lalu dipindahkan ke Fort Rotterdam. Makam Pangeran Diponegoro karenanya ada di Makassar. Yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bahwa keturunan Diponegoro dilarang masuk ke Keraton Yogyakarta karena dianggap keturunan pemberontak, sampai Sri Sultan Hamengkubuwono IX mencabut larangan itu.

Ada sebuah lukisan di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta yang menggambarkan propaganda Studiefonds oleh Dr Wahidin Sudirohusodo. Dalam usaha menyebarluaskan atau mencari dana bagi para pelajar, ia mendatangi para bangsawan dan kaum cerdik pandai di Pulau Jawa pada tahun 1906-1907. Tujuan yang mulia ini kemudian diperluas jangkauannya yang menjadi cikal bakal lahirnya organisasi Budi Utomo.

Sebuah kelas di jaman STOVIA bisa dilihat di sayap kanan museum. Ada pula foto Raden Mas Tjipto Adi Suryo yang dikenal sebagai jurnalis pelopor bagi pers Indonesia. Pramudya Ananta Toer, terinspirasi oleh RM Tjipto Adi Suryo, membangun cerita dalam karya terkenalnya Buru Kuartet di sekitar tokoh ini. Selain itu ada patung Maria Josephine Catherine Maramis (1872 - 1924) atau Maria Walanda Maramis, seorang pahlawan nasional yang sangat besar jasa-jasanya dalam mendidik wanita Indonesia. Ia lahir di Kema, sebuah kota kecil di Minahasa, Sulawesi Utara. Maria Walanda Maramis selalu menanamkan jiwa kebangsaan dan menganjurkan murid-muridnya untuk memakai pakaian nasional.

Pada April 1973, pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan renovasi terhadap gedung tua ini. Setahun kemudian, tepatnya pada 20 Mei 1974, Presiden Soeharto meresmikan pemugaran gedung dengan memberi nama baru yaitu gedung Kebangkitan Nasional. Gedung ini luasnya 5.294 m2, di atas tanah 14.625 m2. Nama asli bangunan bisa ditemukan di gerbang masuk. Museum ini merupakan tempat yang baik yang perlu kunjungi bersama keluarga agar mendapatkan pemahaman dan pembelajaran yang lebih baik tentang para tokoh dan peristiwa yang terjadi dalam masa pergerakan nasional.

Museum Kebangkitan Nasional Jakarta

48 (empat puluh delapan) foto lainnya ada di sini. Alamat : Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, Jakarta Pusat. Nomor Telp 021-3847975 Fax. 021-3847975. Lokasi GPS : -6.17844, 106.83819, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa - Jumat: 08.30 - 15.00. Sabtu - Minggu: 08.00 - 14.00. Tutup setiap Senin dan Hari Libur Nasional. Harga tiket masuk : Rp.1.000 per orang. Rujukan : Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.