Museum Kebangkitan Nasional Jakarta Pusat

January 03, 2020. Label:
aroengbinang.com -
Museum Kebangkitan Nasional Jakarta adalah museum sejarah yang besar dan indah di Jakarta, namun museum ini mungkin merupakan salah satu tempat wisata pendidikan yang paling sedikit dikunjungi. Bisa jadi karena kurangnya liputan sehingga saya pun baru mengetahui keberadaannya, atau karena letaknya yang tersembunyi meski masih berada di jantung Kota Jakarta.

Papan penanda museum tampaknya juga tidak membantu, karena ada satu masa dimana cukup sering saya lewat di depan gedung museum tanpa pernah mengenalinya. Museum Kebangkitan Nasional berada di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, tidak jauh dari Pasar Senen, Jakarta Pusat. Bangunannya mulai dibuat pada tahun 1899, selesai pada 1901, dan diresmikan sebagai gedung STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten) pada Maret 1902.

STOVIA adalah sebuah sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi pelajar pribumi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Namun STOVIA kemudian dipindahkan ke Jl. Salemba No. 6 pada tahun 1920, dan lima tahun kemudian gedung bekas STOVIA ini digunakan untuk MULO (setara dengan SMP), AMS (setara dengan SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker. Selama masa pendudukan Jepang, gedung bekas ini dipergunakan oleh bala tentara Jepang sebagai tempat tahanan bagi tentara Belanda yang tertangkap selama operasi militer.

museum kebangkitan nasional jakarta
Patung R. Soetomo di dekat pintu masuk Museum Kebangkitan Nasional Jakarta Pusat arah ke sebelah kiri. Soetomo lahir di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur pada 30 Juli 1888, dan lulus STOVIA pada 11 April 1911. Ia adalah salah satu pendiri dan ketua pertama Boedi Oetomo, organisasi pemuda modern pertama di Indonesia yang berdiri pada 20 Mei 1908. Tanggal itu kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Di ruang pertama museum ada miniatur kapal Portugis, yang mengingatkan bahwa mereka pernah mengendalikan pasar rempah-rempah pada 1511 dan menancapkan kaki di Ternate pada 1512, meski mendapatkan perlawanan sengit dari pusat kekuasaan di Aceh, Melayu, Jawa, Makassar, dan Maluku. Beberapa langkah dari tempat itu ada patung Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889 - 28 April 1959) atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Nama Ki Hajar Dewantara digunakannya saat berusia 40 tahun sesuai penanggalan Jawa, yang membuatnya merasa bebas untuk dekat dengan semua orang. Tanggal lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional mengingat sumbangannya yang besar terhadap kemajuan pendidikan bangsa.

Instalasi seukuran manusia sebenarnya diletakkan di dalam salah satu ruang belajar memperlihatkan para pelajar STOVIA dengan pakaian tradisional mereka saat sedang mengikuti sebuah pelajaran. Jika saja sekolah dan perguruan tinggi sekarang ini memperbolehkan siswanya untuk menggunakan pakaian tradisional ketika mengikuti pelajaran di kelas, terutama di perguruan tinggi, tentu akan menarik.

Di ruang sebelumnya terdapat koleksi berupa sejumlah contoh rempah-rempah asli Nusantara, yang pada masanya merupakan sumber kekayaan sangat berharga yang lalu menjadi kutukan bagi penduduk negeri ini. Sama seperti yang menimpa pada hampir semua sumber kekayaan di banyak tempat lain di dunia. Namun orang asing yang kemudian menjajah negeri ini tentu bukan mencari rempah. Mereka mengincar sumber kekayaan alam dan tambang yang berlimpah.

Instalasi menarik lainnya di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta menggambarkan Raden Ajeng Kartini yang tengah mengawasi murid-muridnya yang belajar di pendopo rumah ayahnya di Jepara. Kartini (1879-1904) telah menjadi simbol bagi wanita Indonesia untuk berjuang mendapatkan pendidikan lebih baik, dan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Tanggal lahirnya, 21 April, telah diresmikan menjadi Hari Kartini. Museum Kartini Jepara menyimpan sejumlah peninggalan sosok wanita inspiratif yang wafat di usia masih sangat muda ini.

Koleksi lain adalah salinan lukisan tua tentara Pangeran Diponegoro yang tengah melakukan latihan keprajuritan. Perang Diponegoro adalah perang terbesar di Jawa yang berlangsung di hampir seluruh wilayah, sehingga disebut juga Perang Jawa. Perang tahun 1825-1830 itu menelan korban 200.000 jiwa rakyat Jawa, 7.000 pribumi lain, dan 8.000 serdadu Belanda. Penangkapan Pangeran Diponegoro pada 1830 mengakhiri Perang Jawa. Sang pangeran dibuang ke Manado, lalu dipindahkan ke Fort Rotterdam. Makam Pangeran Diponegoro karenanya ada di Makassar. Yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bahwa keturunan Diponegoro dilarang masuk ke Keraton Yogyakarta karena dianggap keturunan pemberontak, sampai Sri Sultan Hamengkubuwono IX mencabut larangan itu.

Ada sebuah lukisan di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta yang menggambarkan propaganda Studiefonds oleh Dr Wahidin Sudirohusodo. Dalam usaha menyebarluaskan atau mencari dana bagi para pelajar, ia mendatangi para bangsawan dan kaum cerdik pandai di Pulau Jawa pada tahun 1906-1907. Tujuan yang mulia ini kemudian diperluas jangkauannya yang menjadi cikal bakal lahirnya organisasi Budi Utomo.

Sebuah kelas di jaman STOVIA bisa dilihat di sayap kanan museum. Ada pula foto Raden Mas Tjipto Adi Suryo yang dikenal sebagai jurnalis pelopor bagi pers Indonesia. Pramudya Ananta Toer, terinspirasi oleh RM Tjipto Adi Suryo, membangun cerita dalam karya terkenalnya Buru Kuartet di sekitar tokoh ini. Selain itu ada patung Maria Josephine Catherine Maramis (1872 - 1924) atau Maria Walanda Maramis, seorang pahlawan nasional yang sangat besar jasa-jasanya dalam mendidik wanita Indonesia. Ia lahir di Kema, sebuah kota kecil di Minahasa, Sulawesi Utara. Maria Walanda Maramis selalu menanamkan jiwa kebangsaan dan menganjurkan murid-muridnya untuk memakai pakaian nasional.

Pada April 1973, pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan renovasi terhadap gedung tua ini. Setahun kemudian, tepatnya pada 20 Mei 1974, Presiden Soeharto meresmikan pemugaran gedung dengan memberi nama baru yaitu gedung Kebangkitan Nasional. Gedung ini luasnya 5.294 m2, di atas tanah 14.625 m2. Nama asli bangunan bisa ditemukan di gerbang masuk. Museum ini merupakan tempat yang baik yang perlu kunjungi bersama keluarga agar mendapatkan pemahaman dan pembelajaran yang lebih baik tentang para tokoh dan peristiwa yang terjadi dalam masa pergerakan nasional.

Informasi Museum Kebangkitan Nasional Jakarta

Alamat : Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, Jakarta Pusat. Nomor Telp 021-3847975 Fax. 021-3847975. Lokasi GPS : -6.17844, 106.83819, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa - Jumat: 08.30 - 15.00. Sabtu - Minggu: 08.00 - 14.00. Tutup setiap Senin dan Hari Libur Nasional. Harga tiket masuk : Rp.1.000 per orang.

Galeri Foto Museum Kebangkitan Nasional Jakarta

Instalasi seukuran utuh di dalam salah satu ruang belajar STOVIA. Para pelajar itu berpakaian tradisional saat mengikuti pelajaran. Semoga saja sekolah dan perguruan tinggi pada suatu saat nanti membolehkan siswa memakai pakaian tradisional di kelas, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

museum kebangkitan nasional jakarta

Instalasi Museum Kebangkitan Nasional Jakarta tentang sosok Raden Ajeng Kartini yang sedang mengajar di pendopo rumah ayahnya di Jepara. Kartini adalah simbol wanita Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan lebih baik dan untuk kesetaraan hak. Tanggal lahirnya telah dikukuhkan sebagai Hari Kartini.

museum kebangkitan nasional jakarta

Propaganda Studiefonds oleh Dr Wahidin Sudirohusodo di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta. Untuk menyebarluaskan ide dan untuk mencari dana, Wahidin datang ke bangsawan dan kaum intelektual di Pulau Jawa pada kurun waktu 1906-1907. Kegiatannya itu menjadi cikal bakal organisasi Budi Utomo, setelah ia bertemu Soetomo pada akhir tahun 1907.

museum kebangkitan nasional jakarta

Sebuah poster yang menceritakan tentang peristiwa bersejarah yang kemudian dijadikan sebagai tonggak bagi kebangkitan nasional. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada 20 Mei 1908, perjuangan dalam meraih kemerdekaan tidak lagi bersifat lokal, namun mulai mengarah ke gerakan berbasis persatuan dan kesatuan nasional.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster yang memberi keterangan tentang sebuah area museum dimana di sana disimpan benda-benda pamer yang menggambarkan peristiwa bersejarah sebelum lahirnya pergerakan yang bersifat nasional.

museum kebangkitan nasional jakarta

Koleksi sejumlah mata uang yang pernah berlaku di Hindia Belanda (Indonesia waktu itu) yang diterbitkan oleh VOC dan pemerintahan kolonial Belanda.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster yang menceritakan tentang sejarah imperialisme Eropa, yang dimulai dengan kedatangan pelaut bangsa Portugis yang kemudian menguasai selat Malaka, hingga kedatangan bangsa Spanyol, Inggris, dan Belanda.

museum kebangkitan nasional jakarta

Koleksi berupa rempah, sumber kekayaan yang sangat berharga yang lalu menjadi kutukan bagi penduduk di sekitarnya. Sama seperti yang menimpa pada hampir semua sumber kekayaan di banyak tempat lain di dunia. Namun orang asing yang kemudian menjajah negeri ini tentu bukan mencari rempah. Mereka mengincar sumber kekayaan alam yang berlimpah.

museum kebangkitan nasional jakarta

Miniatur kapal Portugis. Melalui jalur laut, bangsa Portugis datang dan akhirnya menguasai Malaka pada 1511 dan lalu menanamkan kekuasaannya di Ternate pada 1512. Penguasaan jalur ekonomi oleh orang Portugis itu mendapat perlawanan keras dari para pedagang pribumi asal Aceh, Melayu, Jawa, Makassar, dan juga rakyat Maluku sendiri.

museum kebangkitan nasional jakarta

Koleksi rempah lainnya di Museum Kebangkitan Nasional, diantaranya adalah kayu manis (Glycyrrhiza glabra), adas (Foeniculum vulgare), pala (Myristica fragrans), lada (Piper nigrum), dan cengkeh (Eugenia caryophyllata).

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster yang menceritakan sejarah kolonialisme Belanda, khususnya di wilayah Nusantara. Dimulai dengan pelayaran VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), yaitu Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda yang didirikan pada 20 Maret 1602 yang kemudian memonopoli aktivitas perdagangan di Asia.

museum kebangkitan nasional jakarta

Sudut pandang lainnya yang memperlihatkan kapal Portugis dan poster mengenai sejarah imperialisme bangsa Eropa di Asia.

museum kebangkitan nasional jakarta

Salinan foto yang memperlihatkan pertempuran hebat antara rakyat Gowa melawan VOC di Sombaopu, Sulawesi Selatan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Dokumentasi foto yang memperlihatkan ketika pasukan Pangeran Diponegoro tengah berlatih perang. Jika saja ia tidak ditangkap secara licik oleh Belanda dengan dalih perundingan, sejarah kolonial mungkin berbeda.

museum kebangkitan nasional jakarta

Dokumentasi foto yang memperlihatkan peristiwa saat para pejuang Aceh dihukum gantung oleh penjajah. Hukum gantung di muka umum seperti ini dimaksudkan untuk menimbulkan rasa takut dan agar semangat perlawanan rakyat menjadi kendor.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster yang menceritakan dilanggarnya perjanjian antara Inggris dan Belanda, oleh Belanda, agar tidak mengganggu Aceh. Namun belakangan Inggris malah memberi kebebasan bagi Belanda untuk menguasai seluruh wilayah Pulau Sumatera, termasuk Aceh.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster yang menceritakan pemicu meletusnya Perang Diponegoro, hingga akal licik Belanda berhasil menangkap sang pangeran dan membuangnya ke tempat pengasingan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster mengenai sejarah pergolakan yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Kepulauan Maluku karena nafsu kolonialisme Belanda, selain karena pertentangan diantara penguasa lokal sendiri yang dimanfaatkan dengan baik oleh penjajah untuk memecah belah kekuatan perlawanan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Jubah Sultan Thaha Syaifudin (1816 - 1904). Nama kecilnya adalah Thahaningktar. Setelah naik tahta dan menggunakan gelar Sultan Thaha Syaifudin, ia tak mau melanjutkan perjanjian dengan kompeni, sehingga mendapat ancaman dan serangan armada Belanda. Dengan dukungan rakyat Jambi dan strategi perang yang baik, beliau sanggup melakukan perlawanan dan tak bisa ditangkap sampai wafat pada 26 April 1904 dan dimakamkan di Muaro Tebo, Jambi.

museum kebangkitan nasional jakarta

Manekin yang menggambarkan tokoh Cut Nyak Dien (1850-1908). Ia terjun langsung di medan pertempuran melawan Belanda. Suaminya tewas pada 1899, dan ia ditangkap pada 1906 lalu dibuang ke Kutaraja, selanjutnya dipindah ke Sumedang hingga wafatnya pada 6 November 1908. Di sebelahnya adalah Martha Christina Tiahahu (1801-1818) yang mendapat predikat Mutiara dari Nusa Laut. Di sebelahnya lagi adalah Nyi Ageng Serang (1752-1828), yang pada saat Perang Diponegoro dan diangkat sebagai penasehat perang beliau sudah berusia 73 tahun. Atas anjuran beliau, pasukan Diponegoro memakai Daun Lumbu sebagai penyamaran dalam pertempuran.

museum kebangkitan nasional jakarta

Di latar depan adalah miniatur kapal layar VOC Belanda, dan sebuah miniatur meriam kecil di sebelah kanannya. Di latar belakang adalah lukisan yang menggambarkan perjuangan para pahlawan dalam usaha mengusir penjajah dari tanah air.

museum kebangkitan nasional jakarta

Koleksi beberapa senjata tajam tradisional dari sejumlah daerah yang pernah digunakan dalam perjuangan melawan penjajah. Ketinggalan dalam teknologi persenjataan, dan pertentangan sesama anak bangsa, membuat kerajaan-kerajaan di nusantara akhirnya bisa takluk pada penjajah.

museum kebangkitan nasional jakarta

Pemandangan pada lorong selasar dan taman yang ada di tengah gedung Museum Kebangkitan Nasional Jakarta. Sebuah monumen tampak didirikan di tenga taman, dengan potongan dua tangan saling berpegangan erat melambangkan persatuan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Di latar depan adalah miniatur perahu Pinisi, perahu layar legendaris dari suku Bugis dan suku Makassar di Sulawesi Selatan, yaitu dari Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Kapal ini umumnya memiliki dua layar utama yang melambangkan 2 kalimat syahadat, dan tujuh buah layar yang melambangkan tujuh samudera besar.

museum kebangkitan nasional jakarta

Sudut pandang dari bagian belakang pada sebuah kelas STOVIA yang dibuat mirip dengan keadaan aslinya dulu. Bangku-bangku seperti ini masih bisa dijumpai pada tahun 70-an.

museum kebangkitan nasional jakarta

Peragaan Kelas Kartini di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta. Usaha Kartini yang pertama adalah mendirikan kelas di serambi pendopo Kabupaten Jepara yang pelajarannya dilakukan sebanyak 4 kali dalam seminggu.

museum kebangkitan nasional jakarta

Sebelah kiri adalah patung dada Ki Hajar Dewantara, lengkap dengan peci dan kacamatanya. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dikenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, penulis kolom, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pengajaran pada era kabinet Revolusi Nasional Indonesia.

museum kebangkitan nasional jakarta

Maria Walanda Maramis dan lukisan perjuangannya. Ia adalah pendiri Percintaan Ibu Kepada Anak Keturunannya (PIKAT), sebua organisasi wanita pertama di Sulawesi Utara. Gagasannya ia tulis di surat kebar "Tjahaja Siang". Di Sekolah Rumah Tangga yang didirikannya, ia menanamkan rasa kebangsaan pada muridnya, dan menganjurkan mereka untuk memakai kebaya. Beliau wafat pada 22 April 1924.

museum kebangkitan nasional jakarta

Pada dindung menempel foto para tokoh pendidik dan pejuang serta foto dokumentasi lainnya. Penjelasan singkat ditulis di bawah setiap foto. Di sebelah kanan sepertinya adalah patung dada RA Kartini.

museum kebangkitan nasional jakarta

Sebuah poster tentang Medan Prijaji yang disebut sebagai koran pertama penyuluh semangat kebangsaan dan tokohnya yaitu Raden Mas Tirto Adhi Suryo (RM Djoko Mono).

museum kebangkitan nasional jakarta

Tulisan yang memuat riwayat tentang koran Medan Prijaji (Priyayi), pelopor pers nasional yang terbit pertama kali pada Januari 1907 sebagai sarana untuk menyuarakan keinginan bangsa yang bebas merdeka.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster dan diorama lainnya yang bercerita tentang Studiefonds atau dana pendidikan yang digagas dan diwujudkan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Lambang Budi Utomo, yaitu huruf B.O (Boedi Oetomo) terlihat pada poster di sebelah kiri atas.

museum kebangkitan nasional jakarta

Suasana sebuah pertemuan pergerakan Boedi Oetomo di Museum Kebangkitan Nasional.

museum kebangkitan nasional jakarta

Lorong ini berada di bangunan yang ada di sayap sebelah kiri gedung Kebangkitan Nasional, yang menyimpan patung dada dan sejumlah dokumentasi foto.

museum kebangkitan nasional jakarta

Dokumentasi patung dan foto sejumlah tokoh pergerakan, diantaranya adalah RM Suryo Suparto (Mangku Negoro) yang berkumus melengkung ke atas.

museum kebangkitan nasional jakarta

Lukisan tokoh Tiga Serangkai, yaitu RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), DR E.F.E Douwes Dekker (DR Setia Budhi Danudirdja), dan DR Tjipto Mangun Kusumo. Mereka bertiga adalah para pendiri Indische Partij pada tahun 1912 di Bandung.

museum kebangkitan nasional jakarta

Patung di sebelah kanan menggambarkan sosok Satiman Wiryosanjoyo, ketua dan salah satu pendiri Tri Koro Dharmo yang merupakan organisasi bersifat kedaerahan pertama di Indonesia. Tri Koro Dharmo berdiri di STOVIA pada 17 Maret 1915, dan kemudian berubah menjadi Jong Java pada tahun 1917.

museum kebangkitan nasional jakarta

Wajah cerah dari Dr. Sutomo, seorang lulusan STOVIA yang terkenal sebagai pemimpin berdirinya perkumpulan Budi Utomo. Di Surabaya ia memimpib harian penyebar semangat. Pada 1935 Budi Utomo bergabung dengan PBI (Persatuan Bangsa Indonesia) dan berganti nama menjadi Parindra (Partai Indonesia Raya).

museum kebangkitan nasional jakarta

Patung dada Bung Karno, teks Pidato Proklamasi Bung Karno pada dinding, dan foto Bung Karno - Bung Hatta pada dinding sebelah kanan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Teks pidato proklamasi yang diucapkan Bung Karno pada 17 Agustus 1945.

museum kebangkitan nasional jakarta

Ruangan belajar yang ada sejak jaman STOVIA yang hingga kini dipertahankan dan dijaga agar menyerupai kondisi sewaktu jaman kolonial dulu.

museum kebangkitan nasional jakarta

Pandangan dari bangu belakang di ruang belajar STOVIA di Museum Kebangkitan Nasional. Tokoh-tokohnya dibuat patung dada dan diletakkan berjejer di ujung depan ruang kelas.

museum kebangkitan nasional jakarta

Pandangan yang mengarah ke pintu masuk ke ruang belajar. Di tengah ruangan terdapat tengkorak manusia yang digunakan sebagai salah satu bahan pengajaran. Lukisan Ki Wahidin tampak dipasang di ujung depan ruangan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster tentang koran Medan Prijaji lainnya, yang tampaknya dibuat dalam rangka peringatan Seabad Pers Kebangsaan, dari 1907 - 2007.

museum kebangkitan nasional jakarta

Pandangan lain pada halaman tengah Museum Kebangkitan Nasional yang memberi suasana sejuk dan segar di mata.

museum kebangkitan nasional jakarta

Tulisan pada monumen yang berada di halaman tengah museum, yang berbunyi: 1851 - 1976, Peringatan 125 tahun Pendidikan Dokter di Indonesia. Diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto pada 10 November 1976.

museum kebangkitan nasional jakarta

Pandangan lebih dekat pada monumen Peringatan 125 tahun Pendidikan Dokter di Indonesia.

museum kebangkitan nasional jakarta

Tampak depan gedung peninggalan dari jaman kolonial yang kini digunakan sebagai tempat bagi Museum Kebangkitan Nasional Jakarta. Selama masa pendudukan Jepang, gedung bekas STOVIA ini dipergunakan oleh bala tentara Jepang sebagai tempat tahanan bagi tentara Belanda yang tertangkap selama operasi militer.

museum kebangkitan nasional jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.