Museum Kartini Jepara

September 11, 2019. Label:
Ketika tiba di Museum Kartini Jepara lewat jam setengah dua, museum telah dibuka. Sungguh tak mengenakkan museum tutup lantaran petugas istirahat. Hal yang mestinya mudah dengan mengatur giliran jaga, agar museum tidak tutup namun petugas bisa makan siang dan salat.

Bagaimana pun tetap senang karena nama yang sangat dikenal sejak di bangku sekolah dasar, bahkan di taman kanak-kanak. Itu lantaran setiap anak TK pasti pernah mengikuti acara atau ikut pawai terkait peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, tanggal lahir Kartini. Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879, meninggal di Rembang pada 17 September 1904 dalam usia yang masih sangat muda, 25 tahun. Namun namanya terus hidup dan dikenang oleh banyak orang, sementara banyak wanita lain yang dikaruniai usia lebih panjang namun namanya lenyap begitu saja ditelan jaman. Sekali berarti, matipun menutup mata dengan tenang.

Di museum ada sebuah foto dokumentasi yang memperlihatkan RA Kartini bersama para muridnya. Di baris belakang adalah Roekmini, Kartinah, Soemarti, dan Kartini. Foto itu adalah repro dari koleksi KITLV Leiden. Kartini bersama saudaranya, atas seijin sang ayah, mendirikan sekolah bagi wanita di pendopo kabupaten, yang dilanjutkannya di tempat baru saat menikah dan tinggal di Rembang.

museum kartini jepara

Setelah melewati gerbang Museum Kartini Jepara tampak sebuah patung sebatas dada sosok RA Kartini yang terbuat dari perunggu berukuran besar diletakkan di atas dudukan berbentuk bunga teratai. Di dekatnya terlihat koleksi andong antik yang sekarang sudah jarang terlihat lalu lalang di kota Jepara, tergusur oleh angkutan modern.

Masuk ke ruangan pertama Museum Kartini Jepara terlihat sejumlah poster berisi gambar dan teks peristwa sejarah di seputar wilayah Jepara, diantaranya adalah kisah kematian Kapten Tack. Lalu ada foto dokumentasi tempat ditanamnya ari-ari RA Kartini di Mayong, serta silsilah Tjondronegoro yang merupakan leluhur RA Kartini dan masih keturunan Prabu Brawijaya, Raja Majapahit.

Museum Kartini Jepara dibangun di atas tanah seluas 5.210 m2, dengan luas bangunan 890 m2 terdiri dari tiga gedung berinisial K, T, dan N. Museum berdiri pada 30 Maret 1975, dan diresmikan pada 21 April 1977. Selain menyimpan koleksi peninggalan R.A. Kartini, ada pula peninggalan RMP Sosrokartono, benda arkeologi, kerajinan Jepara, dan kerangka ikan "Joko Tuwo" sepanjang 16 meter, yang ditemukan pada April 1989.

Diantara yang pernah berkirim surat dengan Kartini adalah Nyonya Ovink-Soer, Stella Zeehandelar, dan suami-isteri Abendanon. Pengetahuan dan pandangan Kartini pun menjadi luas, termasuk soal hak asasi manusia, keadilan, dan pergerakan kaum perempuan yang masih mengalami diskriminasi dalam banyak hal. Baru pada 1896 Kartini bisa lepas dari pingitan.

Sebuah miniatur kapal layar dan poster di Museum Kartini Jepara tentang Fort Jepara (Fort Japara) atau Benteng VOC, yang sempat kami kunjungi sebelumnya, serta poster tentang sejarah wilayah ini di masa lalu. Benteng VOC merupakan peninggalan kolonial yang berdiri di atas Bukit Donorejo atau Bukit Jepara, dan memiliki tiga bastion atau tempat pengintaian.

Disebutkan dalam riwayat bahwa nama Jepara mulai dikenal sejak masa kejayaan Kasultanan Demak Bintoro. Jepara di masa itu merupakan tempat tinggal buruh dan para pelaut. Pada abad XVI, Kota Kalinyamat telah menjadi pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Ratu Kalinyamat, dengan istana di sebelah selatan Sungai Jepara. Pada saat itulah armada pelayaran Belanda berlabuh di Pelabuhan Jepara.

Kartini kecil harus berjuang sebelum mendapat ijin ayahnya untuk bersekolah. Sekolah adalah hal tak lazim bagi anak perempuan pribumi. Kartini lalu belajar bahasa Belanda, juga bahasa Jawa. Ia belajar menjahit, menyulam dan merajut dari seorang nyonya Belanda, serta belajar membaca al-Qur’an dari seorang santri setempat.

Di sekolah, Kartini selalu naik kelas dengan prestasi sangat menonjol. Ketika berumur 12 tahun Kartini harus dipingit mengikuti adat yang berlaku saat itu, ia terus belajar sendiri meski tanpa bimbingan guru. Ia baca buku-buku berbahasa Belanda, Perancis dan Jerman, serta melakukan surat-menyurat dengan temannya yang tinggal di Eropa.

Di sebuah sudut di ruangan Museum Kartini Jepara ada foto RA Kartini dengan dandanan dan rambut bersanggul yang khas, juga repro foto kamar kerja RA Kartini yang mirip dengan apa yang terlihat di museum ini. Ada pula mesin jahit engkol tangan, meja, kursi dan lemari kecil, serta sebuah cermin tegak berukuran besar. Pada bayangan cermin terlihat foto pasangan RA Soelastri beserta suami, RM Tjokrohadisosro, yang menurunkan Prof Soekardono SH, Guru Besar UI, Jakarta.

RA Soelastri adalah puteri sulung RMAA Sosroningrat (Bupati Jepara) dari garwa padmi, semuanya tiga puteri. Sedangkan RA Kartini adalah anak keempat dari garwa ampil, semuanya ada 5 putera dan 3 puteri. Pada bayangan cermin juga terlihat papan hitam berisi tulisan riwayat singkat Kartini. Disebutkan bahwa ia menikah dengan RMAA Djojodiningrat pada 8 November 1903, dan wafat pada 17 September 1904, sekitar empat hari setelah melahirkan putera pertamanya, yaitu RM Soesalit. Walaupun demikian Kartini disebut telah berhasil menamkan semangat "gender".

Pada tahun 1902 Kartini berkenalan dengan van Kol dan Nellie, istrinya. Mereka mendukung cita-cita Kartini untuk belajar ke negeri Belanda. Pada 26 November 1902, Van Kol memperoleh persetujuan minister jajahan untuk beasiswa Kartini dan Rukmini belajar ke Belanda. Tanggal 25 Januari 1903, Abendanon ke Jepara untuk berbicara dengan para bupati, termasuk ayah Kartini, soal sekolah perempuan Bumiputra. Sayangnya ayahnya keburu sakit parah, dan para bupati yang berpikiran pendek menolak adanya sekolah untuk perempuan.

Meskipun telah mendapat ijin tertulis dari ayahnya untuk sekolah kedokteran, dan mendapat beasiswa, namun akhirnya Kartini dengan kesadaran sendiri memilih untuk menikah, dan menulis surat kepada pemerintah Belanda agar beasiswa itu diberikan ke Salim (Haji Agus Salim). Namun Salim menolak beasiswa itu jika diberikan karena permintaan Kartini, bukan karena kehendak pemerintah Belanda sendiri.

Museum Kartini Jepara

Alamat : Jl Alun-alun No.1, Desa Panggang, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -6.5888005, 110.667378, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Senin s/d Sabtu 08.00 - 17.00, Minggu 09.00-17.00. Harga tiket masuk : Rp 2.000.

Galeri Foto Museum Kartini Jepara

Sebuah miniatur kapal layar dan poster di Museum Kartini Jepara tentang Fort Jepara (Fort Japara) atau Benteng VOC, yang sempat kami kunjungi sebelumnya, serta poster tentang sejarah wilayah ini di masa lalu. Benteng VOC merupakan peninggalan kolonial yang berdiri di atas Bukit Donorejo atau Bukit Jepara, dan memiliki tiga bastion atau tempat pengintaian.

museum kartini jepara

Pandangan pada sebuah sudut di ruangan Museum Kartini Jepara. Ada foto RA Kartini dengan dandanan dan rambut bersanggul yang khas, juga repro foto kamar kerja RA Kartini yang mirip dengan apa yang terlihat di museum ini. Ada pula mesin jahit engkol tangan, meja, kursi dan lemari kecil, serta sebuah cermin tegak berukuran besar. Pada bayangan cermin terlihat foto pasangan RA Soelastri beserta suami, RM Tjokrohadisosro, yang menurunkan Prof Soekardono SH, Guru Besar UI, Jakarta.

museum kartini jepara

Foto dokumentasi yang memperlihatkan RA Kartini bersama para muridnya. Di baris belakang adalah Roekmini, Kartinah, Soemarti, dan Kartini. Foto ini adalah repro dari koleksi KITLV Leiden. Kartini bersama saudaranya, atas seijin sang ayah, mendirikan sekolah bagi wanita di pendopo kabupaten, yang dilanjutkannya di tempat baru saat menikah dan tinggal di Rembang.

museum kartini jepara

Dalam pertempuran di Kartasura itu konon Kapten Tac tewas di tangan Pangeran Puger dengan tombak pusaka Kyai Plered. Kubur Kapten Tack kemudian dipindahkan ke Kruiskerk atau Gereja Salib di Batavia. Awal abad ke-18 gereja itu menjadi Hollandsche Kerk, dan sekarang ditempati oleh Museum Wayang yang berada di sisi barat Taman Fatahillah.

museum kartini jepara

Sebuah foto dokumentasi di Museum Kartini Jepara yang memperlihatkan struktur bangunan kecil bertingkat yang menjadi tempat ditanamnya ari-ari RA Kartini di daerah Mayong. Air-ari anak laki-laki biasanya digantung di pinggiran atap rumah.

museum kartini jepara

Poster yang memperlihatkan silsilah leluhur Kartini, yang dimulai dari Brawijaya, Raja Majapahit, hingga ke ayahnya yang menjadi bupati Jepara. Ketika masih sebagai wedana Mayong, ayahnya menikah dengan Ngasirah, seorang rakyat biasa yang jadi ibu kandung Kartini. Setelah menjadi bupati Jepara ia menikah lagi dengan wanita priyayi yang dijadikannya sebagai garwa padmi. Dalam urutan lahir, RA Kartini adalah anak keempat dari 11 bersaudara.

museum kartini jepara

Lukisan foto RA Kartini berukuran sangat besar yang dipajang pada dinding museum, dengan warna dominan kemerahan. Dandanan dengan rambut bersanggul adalah ciri budaya masyarakat Jawa yang mesti dipertahankan sebagai warisan leluhur.

museum kartini jepara

Dokumentasi di Museum Kartini Jepara berupa tugu di tempat lahir Kartini di Mayong, sekarang sebuah kecamatan di Jepara. Konon nama Mayong berasal dari kata moyang-moyong, atau berjalan sempoyongan, yaitu keadaan Ratu Kalinyamat ketika saking lelahnya berjalan di wilayah ini setelah sebelumnya rombongannya dicegat anak buah Arya Penangsang, dan suaminya dibunuh.

museum kartini jepara

Silsilah RA Kartini yang bisa dijumpai di bagian lain museum, yang kurang lebih sama dengan silsilah yang saya lihat sebelumnya, hanya saja di silsilah ini tidak ada anak yang ke-11. Sumber datanya berasal dari Museum Kartini yang ada di Rembang, dan bersumber pada Bijdragen tot de taal, land en vol kenkunde deee 188.

museum kartini jepara

Foto Kartini bersama ayah dan tiga dari 10 saudaranya yang lain. Dari 11 bersudara, 6 diantaranya adalah perempuan. Tiga sudara perempuan dari ibu tirinya, dan ada dua adik perempuannya yang sekandung. Karena kecerdasannya dan pikirannya yang sangat maju, Kartini disayang oleh ayahnya sejak kecil, dan karenanya diijinkan untuk bersekolah, suatu hal yang sangat tidak lazim terjadi pada wanita pribumi ketika itu.

museum kartini jepara

Koleksi foto Museum Kartini Jepara yang memperlihatkan RM Soesalit, putera Kartini yang dilahirkannya pada 13 Septmeber 1904. Kartini sendiri wafat empat hari setelah melahirkan. Di sebelah kiri ada Siti Loewiyah yang lahir paa 29 Desember 1913 dan wafat pada 1990. Di tengah adalah putera mereka yang bernama RM Boedhy Setia Soesalit yang lahir 24 Februari 1933 dan wafat pada 9 Juli 1990. RM Soesalit sendiri wafat pada 17 Maret 1962.

museum kartini jepara

Keluarga RM Boedhy Setia Soesalit, cucu Kartini, bersama isteri dan tiga dari lima anaknya. Di tengah adalah ibundanya, atau menantu RA Kartini. Anak Soesalit yang pertama dan kedua diberi nama Kartini dan Kartono. Pasangan ini menurunkan 5 orang anak, yang menjadi cicit Kartini, yaitu RA Kartini Setiawati Soesalit, RM Kartono Boediman Soesalit, RA Roekmini Soesalit, RM Samingoen Bawadiman Soesalit, dan RM Rahmat Harjanto Soesalit.

museum kartini jepara

Suasana di Pendopo Kabupaten Jepara ketika Bupati RMAA Sosroningrat dan keluarganya tengah menjamu para tamu bangsa asing. Jepara jatuh ke tangan VOC bermula dari Perjanjian Jepara, yang menjadi awal dicengkeramnya pesisir utara Jawa oleh VOC, dan kemudian meluas ke seluruh Jawa dan daerah lainnya.

museum kartini jepara

Dokumentasi foto yang memperlihatkan lukisan karya RA Kartini yang dibuat di atas kanvas menggunakan cat minyak. Lukisan ini menggambarkan suasana semacam danau atau rawa dengan beberapa kuntum bunga sejenis teratai berwarna putih yang sangat gemuk.

museum kartini jepara

Foto dokumentasi yang memperlihatkan lukisan karya RA Roekmini yang dibuat di atas kanvas. Apakah memakai cat minyak atau pensil tidak terbaca dengan jelas.

museum kartini jepara

Koleksi Museum Kartini Jepara yang memperlihatkan lukisan karya RA Kardinah dengan goresan pensil. Bersama dengan RA Kartini, kakaknya, dan juga Roekmini, mereka kompak dalam memajukan kaum perempuan lewat pendidikan. Pada 1902, Kardinah menikah dengan RM Reksoharjono dan ikut suaminya ke Pemalang yang menjadi patih. Di sana Kardinah mengajari anak-anak menulis dan menjahit.

museum kartini jepara

Patung kayu yang diletakkan di tengah ruangan museum. Di latar belakang, pada dinding, tampak menggantung beberapa dokumentasi. Patung ini merupakan hasil kerajinan rakyat Jepara yang terkenal hebat dengan seni ukirnya.

museum kartini jepara

Sisi pandang berbeda dari patung kayu, menggambarkan seorang pekerja seni kerajinan ukir yang tengah menyelesaian hasil karyanya, berupa sebuah kandang berjeruji kayu, dengan seekor burung elang di bagian atasnya.

museum kartini jepara

Sebuah foto dokumentasi yang memperlihatkan contoh tulisan tangan Kartini. Sayangnya sebagian besar surat menyurat Kartini kabarnya tak bisa ditemukan, sehingga orang yang skeptis sampai meragukan kebenaran surat-surat itu. Tak perlu orang pintar untuk menjadi skeptis, sementara untuk membuktikan kebenaran surat-surat itu bukanlah perkara yang mudah.

museum kartini jepara

Foto Kartini yang dipajang di museum dengan dandanannya yang khas. Meskipun masih berusia muda, namun wajahnya tampak sangat dewasa dan matang. Pergaulan, pendidikan dan perjuangan yang dilakukannya membuatnya terlihat lebih matang dari usianya.

museum kartini jepara

Foto surat yang ditulis Kartini pada 19 April 1903 yang ditujukan kepada Nyonya Abendanon. Surat itu ditulis dalam bahasa Belanda, sebagian terjemahannya: "Saya punya suatu permohonan yang penting sekali untuk nyonya, tapi sesungguhnya permohonan itu ditunjukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya kepadanya? Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikaruniai bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia orang Sumatera asal Riau, yang dalam tahun ini mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!".

museum kartini jepara

Koleksi Museum Kartini Jepara berupa meja kursi kayu model kuno peninggalan RA Kartini dengan alas dan punggung terbuat dari rotan. Pada dinding juga ada foto tentang meja kursi ini.

museum kartini jepara

Salah satu pajangan yang terbuat dari kayu berisikan petikan tulisan Kartini, yang berbunyi "Kami akan menggoyah-goyahkan gedung feodalisme itu dengan segala tenaga yang ada pada kami, dan andaikan hanya ada satu potong batu yang jatuh kami akan menganggap hidup kami tidak sia-sia"

museum kartini jepara

Koleksi Museum Kartini Jepara yang berisi kutipan tulisannya, diambil dari salah satu surat-suratnya, berbunyi "... dan siapakah yang lebih banyak berusaha memajukan kecerdasan budi itu, siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia, ialah wanita, ibu, karena haribaan ibu itulah manusia mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali."

museum kartini jepara

Kutipan tulisan Kartini lainnya, yang berbunyi "Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri".

museum kartini jepara

Petikan tulisan Kartini lainnya yang berbunyi "Akan datang jua kiranya keadaan baru dalam dunia Bumi Putera, kalau bukan oleh karena kami tentu oleh karena orang lain".

museum kartini jepara

Foto dokumentasi yang memperlihatkan reruntuhan salah satu makam Belanda yang berada tidak jauh dari area Taman Makam Pahlawan. Bentuk kuburnya menyerupai piramid terpancung pada sekitar sepertiga dari ketinggiannya.

museum kartini jepara

Foto dari RA Roekmini Santosa yang menjadi janda saat masih muda. Ia meninggalkan satu putera, yaitu Ir Srigati Santosa. Roekmini dengan tekun belajar sendiri sampai akhirnya lulus ujian Lager Akte Nederlands di Surabaya, dan bisa mengajar bahasa Belanda di semua kelas HIS di Kudus.

museum kartini jepara

Foto dari RA Roekmini Santosa yang menjadi janda saat masih muda. Ia meninggalkan satu putera, yaitu Ir Srigati Santosa. Roekmini dengan tekun belajar sendiri sampai akhirnya lulus ujian Lager Akte Nederlands di Surabaya, dan bisa mengajar bahasa Belanda di semua kelas HIS di Kudus.

museum kartini jepara

Gusti Raden Ayu Adipati Ario Sosroningrat, garwa padmi Bupati Sosroningrat, atau ibu tiri RA Kartini. Dari isteri utama ini Kartini memiliki tiga saudara perempuan, yaitu RA Soelastri yang lebih tua dari Kartini, RA Roekmini, dan RA Kartinah. Dua yang terakhir lebih muda dari Kartini.

museum kartini jepara

Foto dokumentasi RA Soelastri, kakak tiri RA Kartini, dengan suaminya yaitu RM Tjokrohadisosro. Mereka menurunkan Prof. Soekardono SH, Gurubesar UI Jakarta.

museum kartini jepara

Koleksi Mesin Jahit Museum Kartini Jepara yang dahulu digunakan oleh RA Kartini untuk belajar menjahit. Sebelum menikah dan pindah ke Rembang, Kartini memakai mesin jahit ini untuk mengajar murid-muridnya di pendopo Kabupaten Jepara, dengan harapan mereka dapat membantu ekonomi keluarganya dengan ketrampilan itu. Murid-muridnya berasal dari lingkungan di sekitar pendopo kabupaten.

museum kartini jepara

Koleksi Museum Kartini Jepara yang tampak sudah menua, yaitu berupa alat untuk membatik, atau canting, yang terbuat dari kayu dan tembaga. Alat ini digunakan semasa RA Kartini tinggal di Jepara. Meskipun sudah tergerus oleh batik cap dan batik printing, namun batik tradisional yang dibuat oleh tangan terampil dengan canting masih tetap bertahan.

museum kartini jepara

Sejumlah koleksi milik RA Kartini, diantaranya dua buah ukiran kayu yang disebut macan kurung, mengapit benda yang disebut bothekan. Bothekan adalah peti kayu yang digunakan sebagai tempat penyimpnanan obat atau jamu, dan bisa juga untuk menyimpan perhiasan. Bothekan ini dipakai RA Kartini untuk menyimpan jamu sebagai persiapan saat melahirkan.

museum kartini jepara

Dokumentasi foto KRM Adipati Ario Sosroningrat, ayah Kartini saat menjadi Bupati Jepara. Adalah setelah menjabat sebagai bupati, Ario Sosroningrat mengambil isteri keturunan bangsawan yang dijadikannya garwa padmi, karena ibu Kartini berasal dari keluarga rakyat biasa.

museum kartini jepara

Sebuah koleksi Museum Kartini Jepara berupa foto ibunda RA Kartini yang bernama Ngasirah. Wajah ibu ini memang menggambarkan seorang wanita sederhana yang berasal dari keluarga biasa. Bagaimana pun manusia pada dasarnya sama, hanya pikiran dan perbuatan yang membedakan satu dengan yang lainnya.

museum kartini jepara

Foto yang sangat menarik di bawah ini merekam satu masa di sekitar tahun 1885 saat Kartini sedang duduk bersama-sama dengan sudara-saudaranya. Mereka adalah RA Kartinah, RA Kartini, RM Rawito, RA Soelastri, RA Roekmini, dan RA Kardinah. Wajah mereka semua terlihat serius.

museum kartini jepara

Foto ketika Kartini telah menginjak usia menjelang dewasa pada tahun 1900, dengan wajah yang terlihat lebih santai dan percaya diri. Dari kiri ke kanan adalah RA Kardinah, RA Kartini yang terlihat cantik dan anggun, serta RA Roekmini.

museum kartini jepara

Foto yang diambil pada 20 Agustus 1901, atau sekitar setahun setelah foto sebelumnya. Dari kiri ke kanan adalah RA Kartini, RA Kardinah, dan RA Roekmini. Ekspresi wajah mereka juga terlihat lebih santai, meski dengan sikap punggung yang tegak.

museum kartini jepara

Foto dokumentasi DR N Adriani dan isterinya di Museum Kartini Jepara. Foto ini diambil pada tahun 1901. Surat Kartini kepada Dr Adriani ditulis pada 19 Maret 1901 tentang simpatinya pada kerja para misionaris di Hindia Belanda, serta kesannya yang mendalam saat melihat kebaktian gereja di Kedung Penjalin. Surat Kartini kepada N. Adriani bertanggal 24 September 1902, diantaranya berbunyi: "Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tapi kesemuanya itu menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan dan kami sendiri menyebutnya Allah."

museum kartini jepara

Dokumentasi foto dari Botekan atau Bothekan, tempat menyimpan jamu milik RA Kartini saat hendak melahirkan, yang disimpan di dalam lemari di kamar Pengabadian di Kabupaten Jepara. Jika di Museum Kartini Jepara juga ada benda ini, maka tentunya benda itu merupakan replika dari benda aslinya.

museum kartini jepara

Papan hitam dengan tulisan warna putih berisi riwayat singkat RA Kartini dan peranan yang dimainkannya meski hidupnya boleh dibilang sangat singkat. Kartini melahirkan puteranya yang diberi nama Soesalit pada 13 September 1904.

museum kartini jepara

Meja dan mungkin tempat buku yang diletakkan di atasnya yang dulu berada di ruang belajar RA Kartini. Di sebelah kanannya ada kotak atau peti kayu berukir yang mungkin menjadi tempat penyimpanan barang berharga atau perhiasan. Sementara pada dinding menempel sejumlah foto dokumentasi.

museum kartini jepara

Foto dokumentasi RA Kartini di Museum Kartini Jepara yang memperlihatkan saat ia sudah menjadi Raden Ayu Adipati Ario Djojoadiningrat, bersama sang suami dan tiga dari enam anak-anak tiri yang diasuh olehnya. Foto diambil di pendopo Kabupaten Rembang.

museum kartini jepara

Dokumentasi foto Makam RA Kartini yang ada di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, sekitar 17,5 Km dari Kota Rembang arah ke selatan, reproduksi dari foto yang dimuat di Door Duisternis Tot Licht. Ada lima baris tulisan di bagian bawah depan, diapit oleh rangkaian dedaunan, hanya saja tak terbaca karena terlalu kecil.

museum kartini jepara

Sebelah kiri atas adalah foto Tuan JH Abendanon, yang bersebelahan dengan foto Nyonya MCE Ovink - Soer. Sedangkan bawah kiri adalah foto Nyonya Abendanon Mandri, bersebelahan dengan foto EC Abendanon. Foto ini merupakan repro dari foto aslinya yang diambil pada tahun 1902.

museum kartini jepara

Foto dokumentasi Museum Kartini Jepara yang memperlihatkan sosok Nyonya Marie Ovink-Soer, isteri Asisten Residen Jepara, yang menganggap RA Kartini sebagai anaknya sendiri.

museum kartini jepara

Foto dokumentasi saat di Buitenzorg (sekarang Kota Bogor) ketika Kartini dan dua orang saudaranya berfoto bersama Nyonya de Booy-Boissevain. Anak kecil yang dipangku adalah putera dari Ny de Booy-Boissevain, dan yang memangku adalah RA Kartini.

museum kartini jepara

Hendrikus Hubertus van Kol dan puterinya yang diambil pada tahun 1904. van Kol adalah tokoh Partai Buruh Sosial Demokrat (Social Democratische Arbeiders Partij) di Belanda, yang juga arsitek kebijakan Politik Etis di Hindia Belanda. Kartini beberapa kali berkirim surat baik kepada van Kol maupun isterinya.

museum kartini jepara

Ny Nellie va Kol, yang disebut mempunyai pengaruh rohaniah pada Kartini. Salah satu kutipan surat Kartini kepada Nyonya van Kol yang bertanggal 21 Juli 1902 adalah "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam patut disukai." Konon van Kol pernah berusaha untuk mengkristenkan Kartini.

museum kartini jepara

Foto J.H. Abendanon di Museum Kartini Jepara, yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Departemen Pendidikan dan Agama. Ia disebut sebagai salah satu sahabat RA Kartini, dan ia pula yang menerbitkan surat-surat Kartini dalam bahasa Belanda, yang diberinya judul "Door Duisternis Tot Licht", yang diterjemahkan Habis Gelap Terbitlah Terang.

museum kartini jepara

Papan nama bertulis "Dar Oes-Salam" yang membatasi ruangan yang di dalamnya terdapat seperangkat kursi dengan lukisan foto berukuran besar. Dar Oes-Salam yang berarti tempat yang damai, adalah nama rumah pengobatan yang didirikan pada tahun 1930 oleh Sosrokartono, abang kandung RA Kartini, di rumah tinggalnya di Jl Pungkur, Bandung. Selain sebagai rumah pengobatan, tempat itu juga digunakan sebagai perpustakaan.

museum kartini jepara

Drs. R.M.P. Sosrokartono, atau Kartono, kakak kandung RA Kartini. Foto ini diambil saat ia masih mahasiswa di negeri Belanda. Ia dianggap sangat berjasa karena ikut membina pribadi Kartini. Dari kegiatan pengobatan spiritual yang dilakukannya di Bandung, Kartono mendapat julukan Dokter Cai atau Juragan Dokter Cai Pengeran, dan Dokter Alif.

museum kartini jepara

Satu bagian di ruangan Sosrokartono di Museum Kartini Jepara, menyimpan perabotan dan perlengkapan yang dahulu ada di ruangan meditasi Sosrokartono. Ada guci air, cawan, tempat menancapkan hio, dan tempat lampu minyak. Kakak kandung Kartini ini memang menyukai laku spiritual, dan dikenal bisa mengobati penyakit hanya dengan air putih.

museum kartini jepara

Satu bagian ruangan lainnya yang menyimpan perabotan Sosrokartono. Yang di tengah adalah meja marmar bundar dan kursi panjang yang dulu berada di ruang tengah rumahnya. Sedangkan di pojok kiri belakang adalah perabotan yang ada di ruang pengobatan.

museum kartini jepara

Lukisan foto Raden Mas Panji Sosrokartono, yang tampaknya menggunakan foto yang telah ditampilkan sebelumnya sebagai model, yaitu foto saat ia masih menjadi mahasiswa di Belanda. Sosrokartono lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 Masehi.

museum kartini jepara

Lukisan foto Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Demak, atau kakek RA Kartini. Kakek buyut Kartini, Adipati Ario Tjondronegoro III, adalah Bupati Kudus. Sedangkan Adipati Ario Tjondronegoro II adalah Bupati Pati, dan Adipati Ario Tjondronegoro I adalah Bupati Surabaya.

museum kartini jepara

RMAA Sosroningrat, Bupati Jepara, yang juga ayah kandung RA Kartini. Pakaian yang dikenakannya merupakan pakaian yang juga sering dikenakan oleh raja-raja Jawa, dengan tutup kepala bulat tinggi.

museum kartini jepara

Koleksi radio transistor antik di Museum Kartini Jepara, dengan tombol pencari gelombang dan pengatur volume suara, dan tiga buah koleksi piringan hitam. Pada radio ada gambar burung garuda Pancasila.

museum kartini jepara

Lukisan foto MA Ngasirah, ibu kandung RA Kartini, yang menikah dengan sang ayah saat masih wedana Mayong, namun kemudian dimadu saat ayahnya menjadi bupati Jepara karena aturan pemerintah yang mengharuskan seorang bupati beristerikan keturunan bangsawan. Kartini memiliki 7 saudara kandung, namun tampaknya yang paling dekat dengan dirinya adalah RM Panji Sosrokartono, abang yang urutannya tepat di atasnya, dan RAAA Kardinah, adik yang tepat berada di bawahnya.

museum kartini jepara

Lukisan foto di Museum Kartini Jepara yang menggambarkan sosok PA Djojodiningrat, atau K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang (1889-1912), yang juga suami RA Kartini. Pernikahan mereka berlangsung pada 8 Nopember 1903, dan Kartini kemudian mengikuti suaminya tinggal di Rembang.

museum kartini jepara

Drs RMP Sosrokartono, kakak kandung Kartini, sewaktu sudah terkenal sebagai nDoro Sosro di Bandung. Setelah tamat Eropesche Lagere School di Jepara, ia masuk ke HBS di Semarang, dan pada 1898 melanjutkan sekolah ke Belanda, yaitu di Sekolah Teknik Tinggi di Leiden. Namun karena tidak cocok, ia pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Sosrokartono adalah mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke Belanda.

museum kartini jepara

Sejumlah benda antik di Museum Kartini Jepara. Ada pedang panjang, pestol genggam besar, sejumlah sarana upacara keagamaan, arca, tempat kinang, dan benda lainnya yang terbuat dari perunggu, yaitu campuran antara tembaga (Cu) dan timah putih (Sn). Ada pula Batu Mutiara asal Pulau Parang di Karimunjawa.

museum kartini jepara

Koleksi guci, piring keramik abad XII-XIV, vas bunga abad XVIII, serta mata uang republik. Ada guratan bergambar naga pada badan guci di sisi sebelah kanan itu. Sedangkan mata uangnya diantaranya adalah seri 100 Tahun Bung Karno, uang 100 rupiah bergambar Jenderal Sudirman, uang 100 rupiah bergambar Bung Karno, dan ada pula yang bergambar RA Kartini.

museum kartini jepara

Dua buah jambangan asal Bangsri, terbuat dari tanah liat yang dibakar, dengan motif pada badannya. Yang di sebelah kiri motifnya masih terlihat jelas, dan kondisinya masih bagus, yaitu burung yang sedang terbang. Sementara yang di sebelah kanan sudah banyak goresan. Di latar belakang adalah kerangka ikan paus.

museum kartini jepara

Guci berukuran besar asal Keling, demikian juga guci kecil di sebelahnya. Sedangkan yang ada di kanan belakang adalah guci dengan motif burung asal Bangsri, sekarang kecamatan di Kabupaten Jepara, sekitar 18 km dari Kota Jepara.

museum kartini jepara

Peninggalam dari jaman kebudayaan Hindu - Buddha di Pulau Jawa, asal abad VI - X Masehi, serta abad IX - X Masehi. Di bagian depan adalah Jalad Wara, yang biasa diletakkan di petirtaan. Ada pula arca Trimurti, fragmen Siva Mahaguru asal Mlonggo, fragmen Lingga, Yoni, dan beberapa peninggalan lainnya.

museum kartini jepara

Diantara peninggalan dari jaman kuno yang disimpan di Museum Kartini Jepara adalah Bata Merah asal Mantingan, fragmen Lingga asal Bangsri, sirap tanah liat asal Mantingan, fragmen Teracotta asal Mlonggo, dan sebuah arca kecil bertangan empat yang terlihat cantik.

museum kartini jepara

Fragmen Siva Mahaguru asal Mlonggo dan arca Tri Murti asal Bandengan yang menjadi koleksi Museum Kartini Jepara. Pantai Bandengan adalah salah satu tempat yang menjadi kegemaran Kartini dahulu. Siva Mahaguru digambarkan sebagai arca yang gemuk dengan jenggot panjang, memiliki perut besar, dan mengenakan pakaian sederhana. Di tangannya memegang aksamala dan kamandalu (kendi air suci).

museum kartini jepara

Batu prasasti yang ditulis dengan menggunakan huruf China atau Jepang. Tak ada keterangan pada koleksi batu prasasti ini. Bisa jadi adalah batu prasasti yang ditemukan pada kubur orang keturunan China atau Jepang.

museum kartini jepara

Pandangan samping dari kerangka ikan paus raksasa yang disebut oleh masyarakat Karimun Jawa sebagai Joko Tuwo, atau perjaka tua. Sebuah bukit di Pulau Karimun Jawa yang pernah menjadi lokasi ikan paus itu diletakkan sekarang dikenal sebagai Bukit Joko Tuwo.

museum kartini jepara

Sisi pandang yang memperlihatkan bagian sebelah kiri kepala dan rusuk serta tulang belakang kerangka ikan paus Joko Tuwo itu.

museum kartini jepara

Kerangka ikan paus raksasa, yang memperlihatkan tulang belulang di bagian kepalanya, serta tulang-tulang rusuknya yang menyerupai tulang rusuk sapi atau kerbau. Kerangka ikan ini merupakan salah satu daya tarik Museum Kartini Jepara.

museum kartini jepara

Sejumlah hasil kerajinan rakyat yang dibuat dari anyaman bambu dan rotan atau penjalin. Ada bubu ikan dengan beberapa bentuk berbeda, serta ada pula alat penangkap ikan berupa jaring yang melengkung di bagian tengah.

museum kartini jepara

Sebuah relief Kartini berukuran besar yang dibuat dari susunan batu kecil. Tidak begitu mirip wajahnya, dan tak begitu halus pengerjaannya, namun cukup menarik untuk dilihat. Di sebelah kiri belakang tampak hasil kerajinan rakyat Jepara.

museum kartini jepara

Sejumlah pajangan di dalam museum berupa perabotan rumah yang terbuat dari kayu jati, serta ukiran kayu yang terlihat dikerjakan oleh tangan terampil. Ada pula kura-kura berukuran cukup besar yang diawetkan.

museum kartini jepara

Beberapa buah ukiran kayu yang disimpan di dalam lemari pajang tertutup kaca menggambarkan rupa Kartini dan saudara-saudara perempuannya. Ukiran kayu itu dibuat dengan halus, memperlihatkan keahlian dari pengrajin kayunya. Ada pula sejumlah patung kepala kuda dan beberapa patung kayu lainnya.

museum kartini jepara

Sebuah poster yang mempromosikan Pameran Arkeologi Indonesia di Museum Kartini Jepara. Di bawahnya ada sebuah foto yang memperlihatkan sebuah masjid yang dilukis oleh pelaut Belanda sewaktu mengunjungi kota-kota di pantai utara Pulau Jawa pada sekitar abad ke-17.

museum kartini jepara

Koleksi Museum Kartini Jepara yang terlihat sudah berumur tua dengan beberapa bagian yang telah rusak. Tempat kinang ini terbuat dari kuningan dan berasal dari daerah Jepara.

museum kartini jepara

Koleksi museum berupa batu mutiara yang berasal dari Pulau Parang Karimunjawa.

museum kartini jepara

Koleksi yang terlihat antik ini merupakan sebuah alat yang digunakan sebagai sarana upacara keagamaan

museum kartini jepara

Koleksi piring keramik asal Jambu Mlonged dari abad XII - XIV M.

museum kartini jepara

Koleksi museum berupa vas bunga yang terbuat dari keramik dari abad XVIIIM yang berasal dari Bondo. Selain itu ada pula koleksi pot bunga keramik juga dari Bondo dari abad XII - XIV M, serta piring bundar keramik dari abad XVII - XVIII M.

museum kartini jepara

Info Jepara

Hotel di Jepara, Tempat Wisata di Jepara, Peta Wisata Jepara.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑