Benteng VOC Jepara

September 17, 2019. Label:
aroengbinang.com - Matahari mulai ke Barat ketika kami ke Benteng VOC Jepara. Benteng peninggalan VOC itu saya ketahui saat hendak berkunjung ke Museum Kartini Jepara, namun penjaganya sedang istirahat. Istirahat yang cukup panjang karena sudah lewat jam setengah dua siang saat itu.

Atas petunjuk ibu penjual jajanan di depan museum, ketimbang menunggu kami pergi ke puncak bukit dimana Benteng VOC Jepara berada. Dataran perbukitan setinggi 85 mdpl itu cukup luas. Ada Makam Umum Loji Gunung, Makam Pahlawan, taman buah, dan reruntuhan di sisi kiri.

Kawasan benteng berada di ujung area dengan gerbang masuk berpilar besar yang tinggi. Sejumlah pepohonan yang cukup banyak tampak menaungi sebagian area ini, cukup membantu memberi perlindungan dari terik matahari yang mendera pejalan. Hampir sekitar setengah jam kami berjalan berkeliling di dataran puncak bukit yang ada hotspot areanya ini.

Jarak dari Museum Kartini ke benteng ini boleh dibilang sangat dekat, tak lebih dari 500 meter melewati Jalan Pahlawan, sehingga berjalan kaki pun bisa. Hanya saja jalannya lumayan menanjak sehingga akan lebih nyaman jika naik kendaraan. Pandangan ke arah Gelora Bumi Kartini dari sini cukup baik, karena jaraknya hanya 300 meter di bawah benteng.

benteng voc jepara

Sebuah reruntuhan tersusun dari batu bata yang sudah terkelupas kulit semennya terlihat di puncak perbukitan di halaman luar Benteng VOC Jepara. Reruntuhan yang dikelilingi oleh pagar besi berpilar pendek itu konon adalah kubur Kapten Tack, setidaknya begitu menurut penuturan orang yang saya jumpai di sana. Namun tak ada papan petunjuk nama di reruntuhan ini.

Kapten Francois Tack adalah perwira VOC yang ikut berperan dalam operasi penumpasan Trunajaya (Panembahan Maduretno), orang yang menyerbu dan menduduki Keraton Mataram Plered yang praktis menghancurkan Amangkurat I. Kapten Tack dan Saint-Martin juga memimpin pasukan VOC yang membantu Sultan Haji dalam menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.

Pada Februari 1686 terjadi pertempuran hebat di sekitar Keraton Kartasura antara pasukan VOC yang dipimpin Kapten Tac dengan pasukan Untung Suropati yang diam-diam dibantu Amangkurat II. Sejumlah 75 orang tentara VOC terbunuh dalam pertempuran itu, dan Kapten Tac tewas di tangan Pangeran Puger dengan tombak pusaka Kyai Plered.

benteng voc jepara

Sejumlah pengunjung tampak duduk di atas sadel sepeda motornya di depan gerbang masuk Benteng VOC Jepara yang terlihat cukup megah. Pada bagian atas lubang masuk terdapat tulisan besar berbunyi "Fort Japara XVI". Angka Rumawi itu merupakan perkiraan tahun dibuatnya benteng ini. Meskipun lumayan megah, namun bentuknya lebih menyerupai bagian depan gedung, ketimbang benteng.

Sebuah monumen yang cukup megah dengan lambang negara Garuda Pancasila berwarna keemasan terlihat di dekat kawasan Benteng VOC Jepara. Tempat itu adalah Taman Makam Pahlawan Giri Dharma. Setiap tahun, terutama pada bulan November terkait peringatan Hari Pahlawan, di Taman Makam Pahlawan ini selalu diadakan upacara Ziarah Nasional.

Kondisi Fort Japara atau Benteng VOC Jepara ini masih cukup baik dan lumayan terawat. Hanya saja perlu ditambah lebih banyak tempat duduk dan pepohonan rindang. Batu prasasti berisi kisah singkat benteng ini juga perlu dibuat dan dipasang di dekat gerbang. Restorasi beberapa makam kuno juga perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata sejarah.

Dinding benteng bagian dalam yang terbilang rendah, jauh dari kesan benteng pertahanan yang kuat. Boleh jadi batu-batuan yang digunakan oleh benteng aslinya sudah tidak ditemukan lagi, sehingga sulit untuk direkonstruksi ulang. Bisa jadi pula karena letaknya di atas bukit dan hanya ada satu pintu masuk dari depan, sehingga mestinya benteng depan yang dibuat tinggi dengan pertahanan yang kuat.

Jika makam pahlawan itu terlihat lebih rapi, tidak demikian dengan Pemakaman Umum Loji Gunung yang letaknya berdekatan, dimana selain makam penduduk juga ada sejumlah makam tua di sana, baik kubur orang Tionghoa maupun orang Belanda. Sejumlah kubur yang mestinya dahulu merupakan makam sangat megah, kini terlihat merana dan hancur. Nama penghuni kuburnya juga tak terbaca lagi.

Saat itu ada sepasang manusia muda sedang memadu kasih di salah satu tempat berteduh berbentuk kubah berpilar empat yang ada di dalam kawasana Benteng VOC Jepara. Dinding benteng yang rendah tampak di depannya, dengan pojok benteng berbentuk bulat terlihat di sebelah kiri. Tak ada terlihat sisa meriam kuno yang mungkin pernah ditempatkan di sana.

Sudah saatnya pemda Jepara menata kawasan pekuburan ini agar rapi dan cantik. Pemda bisa mengutus orang ke Makam Perang Jakarta dan Ereveld Ancol untuk melihat bagaimana mestinya sebuah kubur itu ditata dan dirawat, sebagai penghormatan bagi si mati.

Benteng VOC Jepara

Alamat : Bukit Donorejo (Bukit Jepara), Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -6.5860161, 110.6666659, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto Benteng VOC Jepara

Dinding benteng bagian dalam yang terbilang rendah, jauh dari kesan benteng pertahanan yang kuat. Boleh jadi batu-batuan yang digunakan oleh benteng aslinya sudah tidak ditemukan lagi, sehingga sulit untuk direkonstruksi ulang. Bisa jadi pula karena letaknya di atas bukit dan hanya ada satu pintu masuk dari depan, sehingga mestinya benteng depan yang dibuat tinggi dengan pertahanan yang kuat.

benteng voc jepara

Sepasang manusia muda tampak sedang memadu kasih di salah satu tempat berteduh berbentuk kubah berpilar empat yang ada di dalam kawasana Benteng VOC Jepara. Dinding benteng yang rendah tampak di depannya, dengan pojok benteng berbentuk bulat terlihat di sebelah kiri. Tak ada terlihat sisa meriam kuno yang mungkin pernah ditempatkan di sana.

benteng voc jepara

Papan nama Taman Buah Fort Japara, berisi nama-nama tanaman buah yang ditanam di tempat itu. Nama Latin dan jumlah masing-masing pohon juga tercantum di sana. Ini inisiatif yang baik, setidaknya lahan mati bisa lebih bermanfaat, dan bisa menjadi tempat penelitian dan pengembangan buah lokal yang unggul.

benteng voc jepara

Sebuah monumen yang cukup megah dengan lambang negara Garuda Pancasila berwarna keemasan terlihat di dekat kawasan Benteng VOC Jepara. Tempat itu adalah Taman Makam Pahlawan Giri Dharma. Setiap tahun, terutama pada bulan November terkait peringatan Hari Pahlawan, di Taman Makam Pahlawan ini selalu diadakan upacara Ziarah Nasional.

benteng voc jepara

Pandangan lebih dekat pada dinding benteng lainnya, memperlihatkan permukaan yang tidak rata, seperti sebuah undak-undakan tak teratur yang menuju ke arah puncak dinding. Permukaan atas dinding benteng ini tak terlalu lebar, dan permukaannya tak rata, sehingga tak begitu mudah bagi orang untuk berjalan di atasnya.

benteng voc jepara

Pandangan tegak yang memperlihatkan jalan paving block yang menuju ke kubah shelter di ujung sana. Jalan di dalam kompleks benteng cukup rapi, hanya saya tanah yang merah dan terlihat tandus membuat mata sedikit kurang nyaman. Idealnya memang ada hamparan rumput hijau di sana. Jika saja air sungai di lembah bisa dialirkan ke atas, maka puncak bukit ini tak akan kekurangan air, bahkan di musim kemarau sekalipun.

benteng voc jepara

Foto pertama di bawah ini memperlihatkan salah satu sudut Benteng VOC Jepara dengan temboknya yang relatif rendah itu. Ini berbeda dengan Benteng Speelwijk Serang yang meskipun sudah utuh namun masih tampak kokoh, dan tetap terlihat menyerupai sebuah benteng pertahanan yang kuat. Namun betapa pun kuatnya sebuah benteng, tetap saja suatu ketika bisa dihancurkan oleh kekuatan musuh.

benteng voc jepara

Reruntuhan tembok benteng yang sekarang menjadi pembatas dengan area pemakaman umum di sebelah kanannya, sementara di sebelah kiri dua orang remaja sedang duduk-duduk di bawah kubah peneduh. Bisa dikatakan bahwa pemerintah daerah yang gagal membuat area pemakaman menjadi kubur yang tertata rapi dan asri, masih gagal juga dalam mengurus penduduknya yang masih hidup.

benteng voc jepara

Gerbang Benteng VOC Jepara dilihat dari arah dalam, dengan lampu sorot segi empat di bagian atasnya. Entah mengapa ada kesan bahwa gerbang ini bukan desain dari era jaman kolonial. Ada yang berbeda. Di latar depan tampak kambing berkeliaran. Ternak mestinya tidak diperbolehkan berkeliaran di area cagar budaya ini, karena hampir pemiliknya sering tak bertanggung jawab pada kotoran yang mereka tebar.

benteng voc jepara

Sepotong reruntuhan dengan latar area Taman Makam Pahlawan Giri Dharma. Reruntuhan tentu saja tak bisa berbicara, namun sepertinya reruntuhan itu adalah sebuah monumen, pilar, atau bisa juga tembok kubur. Tidak perlu biaya mahal bagi dinas setempat untuk membuat papan tanda layak di depan reruntuhan ini, sebagai informasi bagi pengunjung. Hanya perlu perhatian, dan kepedulian.

benteng voc jepara

Pandangan dari sisi berbeda pada reruntuhan yang konon merupakan kubur Kapten Tack. Situs ini melakukan penelusuran jejak kubur si kapten. Kesimpulannya, berdasar sejumlah analisa, si kapten dikubur terlebih dahulu di Jepara, namun kemudian dipindahkan ke Kruiskerk atau Gereja Salib di Batavia. Awal abad ke-18 gereja itu menjadi Hollandsche Kerk, dan sekarang ditempati oleh Museum Wayang.

benteng voc jepara

Sudut pandang lain dari reruntuhan kubur Kapten Tack, dengan latar tembok Benteng VOC Jepara. Pemindahan kubur si kapten dilakukan pada jaman Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704-1709), yang tak lain adalah saudara ipar laki-lakinya. Sejak 1844 sebagian besar nisan kubur di Hollandsche Kerk dipindahkan ke Permakaman Kristen Kebonjahe yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti.

benteng voc jepara

Pemandangan miris pada salah satu kubur tua di pemakaman Loji Gunung. Kubur yang mestinya sangat megah pada waktu pertama kali berdiri itu kini sudah hampir tidak berbentuk lagi. Kemegahan kubur bukan saja memperlihatkan kekayaan keluarganya, namun juga kecintaan mereka pada si mati. Namun kecintaan dan perhatian itu kebanyakan terputus setelah generasi ketiga.

benteng voc jepara

Tengara nama pemilik kubur yang bagian atasnya sudag rusak, menyisakan potongan nama "Wang Nio", hari lahir November 1863, dan hari kematian pada Januari 1930. Terlantarnya sebuah kubur mungkin juga menjadi simbol terhentinya perhatian dari keturunan si mati, meski bisa saja doa sapu jagat dipanjatkan pada semua leluhur.

benteng voc jepara

Prasasti pada kubur lainnya yang sudah tak terbaca lagi. Bukan hanya warga keturunan Tionghoa yang dikubur di kawasan Loji Gunung ini, namun ada warga Belanda juga yang dimakamkan di tempat ini, selain warga pribumi yang mungkin kebanyakan dikubur di sana setelah jaman kemerdekaan.

benteng voc jepara

Sebuah pohon randu besar dan rimbun tampak menaungi area makam umum di kawasan Loji Gunung dekat Benteng VOC Jepara itu. Sudah saatnya pemda Jepara menata kawasan pekuburan ini agar rapi dan cantik. Pemda bisa mengutus orang ke Makam Perang Jakarta dan Ereveld Ancol untuk melihat bagaimana mestinya sebuah kubur itu ditata dan dirawat, sebagai penghormatan bagi si mati.

benteng voc jepara

Pohon randu lainnya yang juga sudah cukup tua di area pemakaman yang tanahnya terlihat merana dan gersang, meski belum setua pohon randu raksasa yang saya lihat ketika berkunjung ke Danau Maninjau di Sumatera Barat.

benteng voc jepara

Gapura Pemakaman Umum Loji Gunung yang dulunya merupakan kompleks pemakaman yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda dan awalnya diperuntukan khusus bagi orang-orang Belanda yang meninggal di daerah sekitar Pulau Jawa.

benteng voc jepara

Info Jepara

Hotel di Jepara, Tempat Wisata di Jepara, Peta Wisata Jepara.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang !
Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.