Kincir Air Talawi Sawahlunto

Kincir Air Talawi Sawahlunto kami jumpai dalam perjalanan dari Batusangkar menuju Sawahlunto, setelah sebelumnya berkunjung ke Istana Pagaruyung dan Masjid Nurul Amin. Kincir Air yang ukurannya cukup besar ini berada di kanan jalan, di tepian sungai cukup lebar, yang tampaknya merupakan bagian dari Batang (Sungai) Ombilin.

Pantai Jetis Purworejo

Pantai Jetis Purworejo ketika kami datangi di pertengahan bulan Febuari 2018 lalu sepi dari pengunjung hanya debur ombak memecah sebelum tiba ke tepian pantai. Lokasi Pantai Jetis berderetan dengan Pantai Ketawang terletak di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo.

Peta Wisata Sawahlunto

Tulisan tentang Peta Wisata Sawahlunto ini dibuat dari data GPS yang diperoleh dengan memakai aplikasi di Blackberry ketika berkunjung ke Kota Sawahlunto, dan dari sumber-sumber lainnya. Anda bisa berkontribusi dengan melengkapi Peta Wisata Sawahlunto ini untuk lebih menghidupkan Tempat Wisata di Sawahlunto.

Hotel di Sawahlunto

Di bawah ini adalah daftar lengkap nama Hotel di Sawahlunto. Harga kamar hotel di Sawahlunto yang disebutkan dalam tulisan ini hendaknya hanya digunakan sebagai panduan karena bisa berubah setiap saat. Informasi hotel di Sawahlunto ini akan diperbarui ketika informasi baru tersedia.

Tempat Wisata di Sawahlunto

Tulisan ini merupakan catatan Tempat Wisata di Sawahlunto. Silahkan lihat juga Peta Wisata Sawahlunto. Sawahlunto yang berjarak 95 km dari kota Padang merupakan kota tambang, yang dimulai dengan ditemukannya cadangan batu bara pada pertengahan abad ke-19 oleh geolog Belanda bernama William Hendrik De Greve.

Masjid Wali Jepang Kudus

Bangunan bersejarah terakhir yang saya kunjungi di kota sunan ini adalah Masjid Wali Jepang Kudus atau Masjid Wali Al-Makmur Jepang. Nama Jepang tak ada hubungannya dengan negeri matahari terbit, namun berasal dari kata Jipang, nama kadipaten dimana Arya Penangsang pernah memerintah dan memupuk mimpinya untuk menuntut tahta Demak sebagai anak kandung Raden Kikin (Pangeran Sekar Seda Ing Lepen).

Masjid Wali Loram Kulon Kudus

Matahari masih terasa hangat menerpa kulit saat kami turun di halaman depan Masjid Wali Loram Kulon Kudus, dengan taman asri dan bundaran air mancur di depannya. Sedikitnya ada dua hal menarik dengan masjid ini, yaitu bangunan aslinya didirikan pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim asal Campa bernama Tjie Wie Gwan, dan yang kedua adalah adanya kori agung gapura paduraksa bergaya Majapahitan di bagian depannya.

Pindang Ayam H Sulichan Taman Bojana Kudus

Sebelum kembali ke hotel, kami mampir mengisi perut di warung Pindang Ayam H Sulichan Taman Bojana Kudus, mengikuti saran Kasmudi. Soal makanan khas mana yang enak dan relatif murah ia punya banyak pengalaman dan langganan karena lama malang melintang di wilayah sekitaran pantai utara Jawa bagian tengah ini. Selain parkir yang luas, ada banyak pilihan warung makan di pusat kuliner Kudus ini.

Makam Sunan Kedu Gribig Kudus

Senja mulai jatuh ketika kami tiba di area yang sunyi dimana terdapat cungkup Makam Sunan Kedu Gribig Kudus. Meski di sisi depan dan kanan ada beberapa rumah penduduk, namun seperti tak ada kehidupan di sana. Semua orang tampaknya sudah masuk ke dalam rumah, atau pergi ke masjid untuk maghriban yang entah dimana tempatnya. Belakangan baru saya ketahui ada masjid yang jaraknya hanya 75 meter dari cungkup makam, arah ke selatan.

Bumi Perkemahan Wana Wisata Kajar Kudus

Kami menghabiskan waktu di sore hari itu dengan berkunjung ke Bumi Perkemahan Wana Wisata Kajar Kudus yang berada di lereng selatan Gunung Muria, sekitar 2 km sebelum masuk ke wilayah Colo. Tempat wisata alam ini berada pada ketinggian 600 mdpl dengan luas sekitar 5 ha, dinaungi pohon pinus yang menghutan di sana. Pintu masuk ke kawasan berada di sisi sebelah kiri Jalan Raya Kudus - Colo.