Tanjung Karangbata Kebumen

December 30, 2019. Label:
Ketika hendak ke Tanjung Karangbata Kebumen saya ragu apakah mobil kuat menanjak ke perbukitan, lewat jalan tak beraspal di ujung Pantai Menganti. Jalan yang hanya muat satu mobil itu menanjak terjal, berkelok tajam ke kiri dan menanjak lagi, sehingga mustahil untuk melihat apakah ada kendaraan yang sedang turun.

Yang saya bayangkan adalah bila berpapasan di kelokan. Mobil dari atas tak bisa mundur, dan yang dari bawah pun sulit, dengan jurang di belakangnya. Bayangan buruk itu ada di pikiran, sehingga saya mampir ke Warung Barokah untuk minum sambil mengumpulkan semangat. Jika akhirnya saya memutuskan untuk meminta Bambang memutar balik kendaraan dan akhirnya bisa berkunjung ke Tanjung Karangbata, sebagian adalah karena jasa Warti, pemilik Warung Barokah. Ia berhasil meracuni saya dengan iming-iming bahwa pemandangan dari atas sangat indah, apalagi pada saat matahari mulai tenggelam ke cakrawala.

Tebing Bidadari di Pantai Menganti Kebumen bisa dilihat dari atas perbukitan Tanjung Karangbata. Lekuk segitiga di tengah tebing itu tampaknya adalah yang menjadi air terjun di musim hujan. Jika saja perbukitan itu ditanami ratusan pohon tentu akan lebih bermanfaat dan bisa menahan air lebih lama dan membuat tanahnya bisa lebih hijau subur.

pantai karangbata kebumen

Pemandangan setelah kami selamat melewati tanjakan yang lumayan mendebarkan itu. Dua bangunan penginapan di ujung sana itu sebelumnya telah saya lihat dari jauh saat berada di Pantai Pecaron. Kedua bangunan penginapan itu berada tepat di atas Pantai Karangbata yang berbentuk lengkung, sempit, dan tampaknya hanya bisa dilihat dari atas saja.

Jalan tanah di atas bukit Tanjung Karangbata ini bergelombang ketika mobil mengarah ke mercusuar hingga tak bisa lagi maju. Saya pun turun dan berjalan kaki mengikuti jalan setapak hingga sampai di mercusuar buatan Belanda tahun 1910-an yang tampak terbengkalai. Besi pijakan pada tangganya telah raib dan ada oret-oretan orang yang tak beradab di dasarnya.


Kawat penutup lubangnya hampir copot. Meskipun dikatakan bahwa orang bisa naik sampai ke puncaknya, namun melihat kondisinya seperti itu saya tak berminat untuk naik. Ada baiknya mercusuar ini direvitalisasi sehingga bisa menjadi salah satu daya tarik wisata yang besar bagi pejalan yang datang ke tempat ini, baik di siang maupun malam hari.

Buih putih yang pecah saat ombak laut menabrak karang di beberapa pulau karang kecil tidak jauh dari pinggir pantai, serta suara yang ditimbulkannya, memberi hiburan yang tak pernah membosankan ketika saya berada di Tanjung Karangbata Kebumen. Akan sangat menyenangkan jika suata saat nanti bisa kembali lagi ke tempat ini bersama orang terdekat, berbincang bebas sambil mengudap makanan kecil dan menikmati panorama.

pantai karangbata kebumen

Berjalan menurun dari area mercusuar ke arah laut, kami sampai di perbukitan pinggir Tanjung Karangbata dengan gubug beratap rumbia terserak di beberapa tempat yang yang berbukit-bukit. Gubug itu disewakan ke pejalan secara jam-jaman. Saya tidak menyewanya, karena perlu berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan sudut pandang berbeda.

Warti tak salah. Tanjung Karangbata benar memiliki panorama yang sangat indah. Terindah dari semua panorama pantai yang saya sudah kunjungi di Kebumen. Mengingatkan saya dengan Pura Luhur Uluwatu. Pandangan di sini sangat luas ke laut dan Pantai Menganti, hanya saja ke arah Pantai Pecaron agak terhalang bukit di atas Pantai Karangbata.

Pemandangan yang menghibur di sana adalah ketika perahu nelayan melintas cepat dari kedua arah. Ada yang menuju ke Pantai Pasir, dan ada pula yang ke dan dari Pantai Menganti. Hanya saja saya tidak sempat berkunjung ke penginapan di pinggir tebing itu untuk mendapatkan foto Pantai Karangbata, serta foto Pantai Pecaron dilihat dari sana.

Pikiran dan langkah kaki kadang berjalan sesuka hati, dan keinginan sering datang terlambat untuk menggerakkan keduanya. Ketidakkompakan pikir, langkah kaki, dan keinginan itu bisa berakibat terlewatinya kunjung ke suatu tempat yang bagus, namun tak jarang justru membawa ke tempat menarik yang tidak ada di dalam rencana, seperti kunjungan ke Tanjung Karangbata Kebumen ini.

Pemandangan elok terlihat saat sejumlah perahu melintas agak jauh dari karang-karang di laut dekat Tanjung Karangbata. Adanya mercusuar di puncak Tanjung Karangbata tentu karena karang-karang itu, sehingga Belanda merasa perlu membangunnya untuk memberi peringatan agar dijauhi atau diwaspadai oleh kapal-kapal yang lewat.

Sayang kondisi mercusuar sudah tak terurus dan sepertinya tak berfungsi lagi. Namun selalu ada perputaran jaman ke arah ekstrem yang berbeda. Karena itu, saya kira akan datang masanya nanti ketika mercusuar di Tanjung Karangbata Kebumen ini akan mendapat perhatian besar oleh pemerintah setempat dan mengalami revitalisasi.

Cukup lama saya menghabiskan waktu di perbukitan Tanjung Karangbata, dengan beberapa kali bergeser mencari lokasi dengan sudut pandang berbeda. Selain panoramanya sangat indah, saya juga mencoba peruntungan untuk melihat panorama matahari tenggelam dari atas perbukitan ini, untuk membuktikan apa yang dikatakan Warti Barokah itu.

Hanya sayangnya mendekati jam enam petang saya harus menyerah, dan lalu melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkan Tanjung Karangbata, karena di atas cakrawala menggantung awan tebal yang menutup matahari. Ini adalah soal keberuntungan dan kerugian, yang tak bisa direncanakan dan diduga. Jika siap beruntung bisa melihat penuh saat matahari tenggelam, harus siap pula rugi untuk pulang dengan mata kosong.


Tanjung Karangbata Kebumen

Alamat : Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kebumen. Lokasi GPS : -7.7745067, 109.4126916, Waze. Hotel, Tempat Wisata, Peta.

: Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.