Museum Bahari Jakarta

February 06, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Museum Bahari Jakarta menempati gedung tua sangat luas di Jakarta Barat, menyimpan koleksi berbagai benda laut dan kemaritiman. Museum Bahari letaknya di Jl. Pasar Ikan No.1, beberapa puluh langkah sebelum TPI Pasar Ikan. Pengunjung bisa memarkir kendaraannya di pinggir jalan, atau di area parkir Menara Syahbandar beberapa meter sebelum museum.

Gedung tua bergaya kolonial yang ditempati Museum Bahari Jakarta itu dibangun Belanda secara bertahap sejak tahun 1652 sampai tahun 1759 dan digunakan sebagai gudang penyimpanan rempah oleh VOC. Gedung ini baru secara resmi ditetapkan sebagai museum pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Dengan adanya perhatian pemda DKI Jakarta yang lebih besar untuk revitalisasi Kota Tua, serta perhatian pada kemaritiman yang lebih kuat, kondisi Museum Bahari Jakarta saat ini mestinya sudah jauh lebih tertata dan berkelas. Penataan yang baik tentunya juga diperlukan bagi kios-kios yang ada di depan musuem yang terkesan agak kumuh.

museum bahari jakarta
Pintu masuk ke Museum Bahari Jakarta sepertinya sengaja dibuat rendah dengan tembok tebal, mungkin dulunya untuk alasan keamanan, dengan jangkar kapal besi berukuran besar ditanam di depan pintu masuk. Kondisi museum waktu pertama kali datang belum begitu terurus dengan cat tembok terkelupas, cat pudar, lantai kusam, dan ruangan yang muram, menandai orientasi kemaritiman yang masih lemah.

Salah satu koleksi yang dipajang waktu itu di Museum Bahari adalah perahu Cadik Borobudur, sebuah perahu layar niaga yang terlihat pada salah satu relief di Candi Borobudur, dibuat pada abad ke 8 dan merupakan simbol kejayaan kekuatan laut pada jaman kerajaan Sriwijaya. Replika perahu Cadik Borobudur berhasil napak tilas menyusuri jalur Kayu Manis dari Jakarta ke Ghana sejauh 11.000 mil laut dalam waktu sekitar 6 bulan. Perahu ini memiliki dua tiang layar berkonstruksi tiga kaki dengan layar berbentuk segiempat.

Yang juga menarik di Museum Bahari Jakarta adalah Phinisi Nusantara, yang dibuat ahli-ahli pembuat kapal Bugis Desa Tanaberu, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Phinisi Nusantara berlayar dari Jakarta ke Vancouver sepanjang 10.600 mil selama 68 hari, dimulai 9 Juli 1986. Kapal kemudian meneruskan pelayaran selama dua minggu ke San Diego.

Ada pula miniatur perahu cadik Majapahit di Museum Bahari Jakarta, satu jenis perahu layar yang ditemukan pada relief candi-candi di Jawa Timur yang melambangkan kejayaan bahari pada masa Kerajaan Majapahit. Dengan kekuatan armada laut pada masa jayanya, Majapahit mampu mempertahankan keutuhan wilayahnya dari gangguan bangsa asing.

Selanjutnya adalah miniatur Lancang Kuninga, sebuah perahu legendaris yang asalnya dari Kerajaan Melayu di Pulau Sumatera. Lancang Kuning (lancang artinya perahu) merupakan perahu resmi Kerajaan Siak Sri Indra Pura kuno dan merupakan lambang kekuasaannya. Lancang Kuning sekarang digunakan sebagai lambang Provinsi Riau.

Miniatur KRI Dewi Ruci juga ada di Museum Bahari, yang merupakan kapal latih tertua dalam jajaran armada Angkatan Laut Indonesia. Kapal ini dibuat oleh HC Stulchen & Sohn Shipyard di Hamburg, Jerman pada tahun 1952 dan diluncurkan pada tahun 1953. Kapal ini digunakan sebagai kapal latih layar bagi para kadet angkatan laut dan juga sebagai duta persahabatan ke negara-negara lain.

Ada koleksi Lampu navigasi kapal (Tang Woo) di Museum Bahari yang merupakan kelengkapan kapal yang bahan bakarnya dari minyak tanah. Alat ini dipakai untuk menerangi perahu pada saat cuaca gelap dan menjadi petunjuk arah bagi kapal di sekitarnya. Juga ada roda kemudi kayu antik yang dibuat dari kayu berdiameter 50 - 100 cm. Ukuran kemudi semakin kecil setelah dihubungkan dengan kemudi secara hidrolik ataupun elektronik. Dengan perangkat komputer dan GPS, sekarang kapal bisa memakai pilot otomatis yang lebih cepat dan praktis, pada kondisi gelombang laut normal.

Koleksi lainnya adalah Perahu Gelati dengan ornamen indah yang disebut Jung Raje di Madura, serta fosil ikan lumba-lumba besar juga ada di Museum Bahari. Gelati banyak dijumpai di Selat Bali dan di pantai Utara Jawa. Rangka perahu ini umumnya terbuat dari kayu jati dengan panjang 12 meter dan lebar 2,6 meter. Layar perahu umumnya berbentuk segitiga. Kondisi Museum Bahari saat ini bisa menjadi tengara kekuatan maritim Nusantara apakah sudah sesuai dengan semboyan Jalesveva Jayamahe.

Kondisi Museum Bahari Jakarta sudah jauh lebih baik setelah renovasi totalnya selesai pada 30 November 2017, seperti halnya Museum Wayang yang sudah lebih dulu cantik, hanya saja saya belum sempat ke sana lagi. Sayangnya bagian depan museum yang sempat bersih dari bangunan liar ternyata sudah ada bangunan lagi. Lebih disayangkan lagi, pada 16 Januari 2018 justru terjadi kebakaran hebat di Museum Bahari Jakarta yang menghancurkan total sedikitnya dua bangunan museum berikut isinya yang sangat berharga.

Museum Bahari Jakarta

Alamat : Jl. Pasar Ikan No 1, Jakarta Barat. Tel. 021 669-3406, 669-2476. Fax. 021 669-0618. Lokasi GPS : -6.126943, 106.808578, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa - Minggu 9.00 - 15.00. Senin dan hari libur nasional tutup. Harga tiket masuk : Rp 2.000, Pelajar/Mahasiswa & Anak-anak Rp 1.000.

Galeri Foto Museum Bahari

Miniatur perahu cadik Majapahit di Museum Bahari, satu jenis perahu layar yang ditemukan pada relief candi-candi di Jawa Timur yang melambangkan kejayaan bahari pada masa Kerajaan Majapahit. Dengan kekuatan armada laut pada masa jayanya, Majapahit mampu mempertahankan keutuhan wilayahnya dari gangguan bangsa asing.

museum bahari jakarta

Miniatur Perahu Phinisi Nusantara Museum Bahari, yang menggunakan model jenis perahu Phinisi tradisional yang telah masyhur selama berabad-abad dan dibuat oleh ahli-ahli pembuat kapal Bugis dari Desa Tanaberu, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Perahu Phinisi Nusantara dibuat untuk sebuah misi menyeberangi Lautan Pasifik, berlayar dari Jakarta ke Vancouver, menjelajahi wilayah yang membentang sepanjang 11.000 mil dan berhasil membuktikan kemampuan dan kekuatan kapal Phinisi dalam mengarungi samudra berabad lalu. Diperlukan waktu 68 hari untuk menyelesaikan misi ini. Kapal Phinisi Nusantara kemudian meneruskan pelayaran selama dua minggu lagi untuk sampai di San Diego, Amerika Serikat. Para ahli arkeologi kabarnya menemukan fosil perahu Phinisi di Acapulco, Mexico.

museum bahari jakarta

Sebuah roda kemudi di Museum Bahari yang merupakan perangkat penting yang digunakan nakhoda untuk menentukan arah kapal berlayar. Roda kemudi ini memutar gigi kemudi untuk mengarahkan kapal Phinisi Nusantara. Roda kemudi pada mulanya dibuat dari kayu berdiameter 50 – 100 cm, namun sekarang ukurannya semakin kecil setelah dihubungkan dengan kemudi secara hidrolik ataupun elektronik. Dengan perangkat komputer dan GPS, sekarang kapal juga bisa memakai pilot otomatis yang lebih cepat dan praktis, pada kondisi gelombang laut normal.

museum bahari jakarta

Perahu niaga jarak jauh Golekan Lete yang bisa ditemukan di pelabuhan Kali Mas Surabaya dan di hampir semua pelabuhan besar di Pantai Utara Jawa Madura. Muatannya terutama balok dan papan kayu dari Kalimantan, dan dari sebaliknya membawa bahan makanan.

museum bahari jakarta

Perahu asli bernama Jukung Hawai atau Jukung Hawayan dengan penampih tunggal yang dipergunakan masyarakat Barito untuk alat angkut keluarga, karenanya jua disebut Jukung Barito. Perahu asli ini merupakan bentuk yang telah selesai dan siap dipakai. Proses pertama pembuatan jukung menghasilkan Bakal Jukung yang terbuat dari batang kayu yang telah dikerok. Proses kedua menghasilkan Bangon Jukung, yaitu Bakal Jukung yang telah dimekarkan.

museum bahari jakarta

Miniatur Lancang Kuning di Museum Bahari, sebuah perahu legendaris yang asalnya dari Kerajaan Melayu. Lancang Kuning (lancang artinya perahu) merupakan perahu resmi Kerajaan Siak Sri Indra Pura kuno dan merupakan lambang kekuasaannya. Lancang Kuning sekarang digunakan sebagai lambang Propinsi Riau. Menurut legenda, Lancang Kuning adalah perahu milik seorang putri pada masa kerajaan Melayu. Ia berlayar didampingi pengawal dan pengasuh dengan berpakaian kuning sesuai dengan warna kapal menelusuri Pantai Jambo Air sampai ke Riau.

museum bahari jakarta

Koleksi perahu Cadik Borobudur Museum Bahari, sebuah perahu layar niaga yang terlihat pada salah satu relief di Candi Borobudur, dibuat pada abad ke 8 dan merupakan simbol kejayaan kekuatan laut pada jaman kerajaan Sriwijaya. Replika perahu Cadik Borobudur berhasil napak tilas menyusuri jalur Kayu Manis dari Jakarta ke Ghana sejauh 11.000 mil laut dalam waktu sekitar 6 bulan. Perahu ini memiliki dua tiang layar berkonstruksi tiga kaki dengan layar berbentuk segiempat.

museum bahari jakarta

Miniatur perahu Gelati di Museum Bahari, atau disebut Jung Raje di Madura, dengan ornamen yang indah. Gelati adalah perahu nelayan yang banyak dijumpai di Selat Bali serta di pelabuhan perikanan di sepanjang pantai Utara Jawa. Rangka perahu ini umumnya terbuat dari kayu jati dengan panjang 12 meter dan lebar 2,6 meter. Layar perahu umumnya berbentuk segitiga.

museum bahari jakarta

Sebuah miniatur perahu koleksi Museum Bahari yang dikenal dengan nama Biduk Bebadung, sebuah perahu cadik yang berasal dari Kalimantan.

museum bahari jakarta

Lampu Suar Kristal koleksi Museum Bahari yang merupakan bagian penting dari mercusuar yang biasa diletakan di bagian puncak rambu-rambu laut. Koleksi alat navigasi lainnya diantaranya adalah radar, teropong dan kompas yang digunakan oleh Kapal Phinisi Nusantara.

museum bahari jakarta

Lampu navigasi kapal (Tang Woo) yang merupakan kelengkapan kapal yang bahan bakarnya dari minyak tanah. Alat ini dipakai untuk menerangi perahu pada saat cuaca gelap dan menjadi petunjuk arah bagi kapal di sekitarnya.

museum bahari jakarta

Sebuah koleksi perahu asli di Museum Bahari Jakarta berupa perahu cadik dengan hiasan bunga dan ayam jago pada buritannya. Di sepanhang bagian atas badan perahu juga ada hiasannya.

museum bahari jakarta

Sebuah fosil hewan laut yang cukup besar yang sepertinya adalah sejenis singa laut, meski tak tampak ada taringnya. Sementara koleksi biota laut di Museum Bahar diletakkan di dalam toples direndam dalam cairan pengawet, diantaranya ikan kuwe, kakap bangkok, kembung banjar, gilis, kada, dan banyak lagi lainnya.

museum bahari jakarta

Koleksi sejumlah kura-kura yang telah diawetkan di Museum Bahari. Ada banyak jenis kura-kura yang kini telah dilindungi karena terancam perburuan manusia, terutama diambil telurnya dan keperluan komersial lainnya.

museum bahari jakarta

Miniatur Kapal Layar Amsterdam di Museum Bahari. Pada 29 Oktober 1815, satu armada yang terdiri atas Kapal Amsterdam, Evertsen, De Ruyter, Braband, pergat Maria Reigersbergen, korvet Iris dan kapal layar Spion berangkat dari Texel. Armada tersebut tiba pada 1815 di Hindia-Belanda. Dalam perjalanan kembali ke Belanda, Amsterdam tenggelam di Teluk Algoa, Afrika Selatan.

museum bahari jakarta

Miniatur KRI Dewi Ruci di Museum Bahari, yang merupakan kapal latih tertua dalam jajaran armada Angkatan Laut Indonesia. Kapal ini dibuat oleh HC Stulchen & Sohn Shipyard di Hamburg, Jerman pada tahun 1952 dan diluncurkan pada tahun 1953. Kapal ini digunakan sebagai kapal latih layar bagi para kadet angkatan laut dan juga sebagai duta persahabatan ke negara-negara lain.

museum bahari jakarta

Sebuah koleksi perahu asli di selasar Museum Bahari dengan latar belakang ruang terbuka diantara ruangan gedung museum ketika kondisinya masih belum lagi terawat.

museum bahari jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Utara, Hotel Melati di Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Utara.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.