Foto Museum Bahari

Pintu masuk ke Museum Bahari Jakarta sepertinya sengaja dibuat rendah dengan tembok tebal, mungkin dulunya untuk alasan keamanan, dengan jangkar kapal besi berukuran besar ditanam di depan pintu masuk. Kondisi museum waktu pertama kali datang belum begitu terurus dengan cat tembok terkelupas, cat pudar, lantai kusam, dan ruangan yang muram, menandai orientasi kemaritiman yang masih lemah.



Miniatur perahu cadik Majapahit di Museum Bahari Jakarta, satu jenis perahu layar yang ditemukan pada relief candi-candi di Jawa Timur yang melambangkan kejayaan bahari pada masa Kerajaan Majapahit. Dengan kekuatan armada laut pada masa jayanya, Majapahit mampu mempertahankan keutuhan wilayahnya dari gangguan bangsa asing.



Miniatur Perahu Phinisi Nusantara Museum Bahari, yang menggunakan model jenis perahu Phinisi tradisional yang telah masyhur selama berabad-abad dan dibuat oleh ahli-ahli pembuat kapal Bugis dari Desa Tanaberu, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Perahu Phinisi Nusantara dibuat untuk sebuah misi menyeberangi Lautan Pasifik, berlayar dari Jakarta ke Vancouver, menjelajahi wilayah yang membentang sepanjang 11.000 mil dan berhasil membuktikan kemampuan dan kekuatan kapal Phinisi dalam mengarungi samudra berabad lalu.

Diperlukan waktu 68 hari untuk menyelesaikan misi ini. Kapal Phinisi Nusantara kemudian meneruskan pelayaran selama dua minggu lagi untuk sampai di San Diego, Amerika Serikat. Para ahli arkeologi kabarnya menemukan fosil perahu Phinisi di Acapulco, Mexico.



Sebuah roda kemudi di Museum Bahari yang merupakan perangkat penting yang digunakan nakhoda untuk menentukan arah kapal berlayar. Roda kemudi ini memutar gigi kemudi untuk mengarahkan kapal Phinisi Nusantara. Roda kemudi pada mulanya dibuat dari kayu berdiameter 50 – 100 cm, namun sekarang ukurannya semakin kecil setelah dihubungkan dengan kemudi secara hidrolik ataupun elektronik. Dengan perangkat komputer dan GPS, sekarang kapal juga bisa memakai pilot otomatis yang lebih cepat dan praktis, pada kondisi gelombang laut normal.



Perahu niaga jarak jauh Golekan Lete yang bisa ditemukan di pelabuhan Kali Mas Surabaya dan di hampir semua pelabuhan besar di Pantai Utara Jawa Madura. Muatannya terutama balok dan papan kayu dari Kalimantan, dan dari sebaliknya membawa bahan makanan.



Perahu asli bernama Jukung Hawai atau Jukung Hawayan dengan penampih tunggal yang dipergunakan masyarakat Barito untuk alat angkut keluarga, karenanya jua disebut Jukung Barito. Perahu asli ini merupakan bentuk yang telah selesai dan siap dipakai. Proses pertama pembuatan jukung menghasilkan Bakal Jukung yang terbuat dari batang kayu yang telah dikerok. Proses kedua menghasilkan Bangon Jukung, yaitu Bakal Jukung yang telah dimekarkan.



Miniatur Lancang Kuning di Museum Bahari, sebuah perahu legendaris yang asalnya dari Kerajaan Melayu. Lancang Kuning (lancang artinya perahu) merupakan perahu resmi Kerajaan Siak Sri Indra Pura kuno dan merupakan lambang kekuasaannya. Lancang Kuning sekarang digunakan sebagai lambang Propinsi Riau. Menurut legenda, Lancang Kuning adalah perahu milik seorang putri pada masa kerajaan Melayu. Ia berlayar didampingi pengawal dan pengasuh dengan berpakaian kuning sesuai dengan warna kapal menelusuri Pantai Jambo Air sampai ke Riau.



Koleksi perahu Cadik Borobudur Museum Bahari, sebuah perahu layar niaga yang terlihat pada salah satu relief di Candi Borobudur, dibuat pada abad ke 8 dan merupakan simbol kejayaan kekuatan laut pada jaman kerajaan Sriwijaya. Replika perahu Cadik Borobudur berhasil napak tilas menyusuri jalur Kayu Manis dari Jakarta ke Ghana sejauh 11.000 mil laut dalam waktu sekitar 6 bulan. Perahu ini memiliki dua tiang layar berkonstruksi tiga kaki dengan layar berbentuk segiempat.



Miniatur perahu Gelati di Museum Bahari, atau disebut Jung Raje di Madura, dengan ornamen yang indah. Gelati adalah perahu nelayan yang banyak dijumpai di Selat Bali serta di pelabuhan perikanan di sepanjang pantai Utara Jawa. Rangka perahu ini umumnya terbuat dari kayu jati dengan panjang 12 meter dan lebar 2,6 meter. Layar perahu umumnya berbentuk segitiga.



Sebuah miniatur perahu koleksi Museum Bahari yang dikenal dengan nama Biduk Bebadung, sebuah perahu cadik yang berasal dari Kalimantan.



Lampu Suar Kristal koleksi Museum Bahari yang merupakan bagian penting dari mercusuar yang biasa diletakan di bagian puncak rambu-rambu laut. Koleksi alat navigasi lainnya diantaranya adalah radar, teropong dan kompas yang digunakan oleh Kapal Phinisi Nusantara.



Lampu navigasi kapal (Tang Woo) yang merupakan kelengkapan kapal yang bahan bakarnya dari minyak tanah. Alat ini dipakai untuk menerangi perahu pada saat cuaca gelap dan menjadi petunjuk arah bagi kapal di sekitarnya.



Sebuah koleksi perahu asli di Museum Bahari Jakarta berupa perahu cadik dengan hiasan bunga dan ayam jago pada buritannya. Di sepanhang bagian atas badan perahu juga ada hiasannya.



Sebuah fosil hewan laut yang cukup besar yang sepertinya adalah sejenis singa laut, meski tak tampak ada taringnya. Sementara koleksi biota laut di Museum Bahar diletakkan di dalam toples direndam dalam cairan pengawet, diantaranya ikan kuwe, kakap bangkok, kembung banjar, gilis, kada, dan banyak lagi lainnya.



Koleksi sejumlah kura-kura yang telah diawetkan di Museum Bahari. Ada banyak jenis kura-kura yang kini telah dilindungi karena terancam perburuan manusia, terutama diambil telurnya dan keperluan komersial lainnya.



Miniatur Kapal Layar Amsterdam di Museum Bahari. Pada 29 Oktober 1815, satu armada yang terdiri atas Kapal Amsterdam, Evertsen, De Ruyter, Braband, pergat Maria Reigersbergen, korvet Iris dan kapal layar Spion berangkat dari Texel. Armada tersebut tiba pada 1815 di Hindia-Belanda. Dalam perjalanan kembali ke Belanda, Amsterdam tenggelam di Teluk Algoa, Afrika Selatan.



Miniatur KRI Dewi Ruci di Museum Bahari, yang merupakan kapal latih tertua dalam jajaran armada Angkatan Laut Indonesia. Kapal ini dibuat oleh HC Stulchen & Sohn Shipyard di Hamburg, Jerman pada tahun 1952 dan diluncurkan pada tahun 1953. Kapal ini digunakan sebagai kapal latih layar bagi para kadet angkatan laut dan juga sebagai duta persahabatan ke negara-negara lain.



Sebuah koleksi perahu asli di selasar Museum Bahari dengan latar belakang ruang terbuka diantara ruangan gedung museum ketika kondisinya masih belum lagi terawat.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.