Masjid Al Alam Marunda Jakarta

February 07, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Masjid Al Alam Marunda, yang sebelumnya dikenal dengan nama Masjid Aulia Marunda, merupakan salah satu masjid tertua di wilayah Jakarta. Masjid bersejarah ini konon dibangun pertama kali oleh Fatahillah dan pasukannya pada 1527 setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa.

Saat menyerbu VOC di Batavia pada 1628-1629, pasukan Mataram juga menjadikan Masjid Al-Alam Marunda dan daerah sekitarnya sebagai pangkalannya. Masjid yang berukuran relatif kecil ini memiliki arsitektur yang merupakan perpaduan gaya Islam-Jawa Pesisir dan Moor.

Meskipun lokasi masjid sangat dekat dengan Rumah Si Pitung, hanya 50-an meter, namun waktu itu saya mengambil jalan memutar dari sisi kanan, yang mestinya jauh lebih pendek jika berjalan dari sisi kiri. Lokasi masjid juga sangat dekat dengan muara Sungai Tiram, kurang dari 100 meter.

masjid al-alam marunda jakarta
Pandangan pada sebuah bangunan pendopo baru bergaya joglo yang berada di sebelah Masjid Al Alam Marunda. Saat itu pendopo tengah digunakan sebagai tempat pengajian sekelompok ibu-ibu yang datang dari berbagai kelurahan di sekitar Marunda.

Di latar depan tampak sebuah tengara yang menunjukkan status masjid sebagai Benda Cagar Budaya berdasarkan Perda DKI tahun 1999, yang artinya dilindungi oleh undang-undang untuk menjaga kelestarian dan keasliannya. Perubahan bangunan dan lingkungan pekarangannya harus seizin gubernur dengan rekomendasi dinas kebudayaan dan permuseuman DKI Jakarta.

Saya juga sempat mengambil foto gedung Masjid Al Alam Marunda Jakarta dilihat dari depan, dengan bangunan pendopo di sebelahnya. Di bagian sebelah kiri dan belakang masjid terdapat kompleks pemakaman tua, yang sebagian dikeramatkan dan sering dikunjungi oleh peziarah. Saya sempat ke bagian belakang dan melihat sebuah makam tak bernama di sana.

Bagian dalam Masjid Al Alam Marunda terkesan sederhana, dengan empat pilar besar pendek penyangga atap masjid, dan pilar yang lebih kecil pada bagian mihrab. Konstruksi tiang sokoguru ini dibangun pada abad ke-18. Beberapa tulisan kaligrafi terlihat menempel pada dinding Masjid Al-Alam Marunda ini.

Ketinggian plafon di dalam ruangan masjid mungkin kurang dari 3 meter dari lantai ruangan, sehingga terkesan sangat rendah. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang dibuat dengan lelangit tinggi agar memberi ruang yang cukup bagi sirkulasi udara untuk mendinginkan ruangan. Ukuran dasar bangunan asli masjid ini adalah 10 x 10 meter. Masjid Al-Alam Marunda rupanya juga sering dikunjungi para pengalap berkah dari luar kota yang menginap selama beberapa minggu di masjid tua ini. Ini saya ketahui dari percakapan dengan seorang pria yang mengaku sudah beberapa hari menginap di masjid, dan belum tahu kapan akan meninggalkannya.

Bagian mihrab Masjid Al Alam Marunda berhias kaligrafi Arab berbentuk setengah lingkaran di sebelah kanan mengikuti bentuk lengkung mihrab yang ada di bawahnya. Sedangkan kaligrafi di sebelah kiri lurus saja. Saya selalu menemukan kesulitan ketika mencoba membaca tulisan Arab yang dibuat kaligrafi semacam ini.

Tersembunyi di balik tembok ruang imam adalah sebuah tongkat khatib yang hanya dipakai ketika sembahyang Jumat atau pada Hari Raya. Tak jelas mengapa ada kebiasaan seorang khatib mesti membawa tongkat ke mimbar. Mungkin mengikuti tabiat sang kyai, yang sebenarnya memakainya sebagai penopan, namun lalu dianggap sebagai simbol otoritas.

Konon yang di belakang itu adalah makam kyai Jami'in (ada yang menyebut kyai Jami'in bin Abdullah), namun tak ada penjelasan mengenai siapa beliau ini. Begitupun banyak yang datang ke makam ini untuk ngalap berkah. Sedangkan aalah satu makam yang ada di luar, dipagari tembok rendah, ada tulisan Al Habib Abdul Halim Hay pada dindingnya.

Menetap sementara di sebuah masjid tua yang dianggap memiliki karomah bisa jadi dianggap semacam laku, atau tirakat, yang harus dijalani ketika orang sedang memerlukan petunjuk atau pencerahan untuk mendapatkan apa yang sedang ia inginkan atau perjuangkan. Bagaimana pun masjid bisa menjadi tempat pertemuan yang tak terduga, dan bisa memberi ilham.

Masjid Al-Alam Marunda Jakarta

Alamat : Jl. Kampung Marunda Besar, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Lokasi GPS : -6.09412, 106.95996, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Masjid Al Alam Marunda

Bagian dalam Masjid Al Alam Marunda yang terkesan sederhana, dengan empat pilar besar pendek penyangga atap masjid, dan pilar yang lebih kecil pada bagian mihrab. Konstruksi tiang sokoguru ini dibangun pada abad ke-18. Beberapa tulisan kaligrafi terlihat menempel pada dinding Masjid Al-Alam Marunda ini.

masjid al-alam marunda jakarta

Bagian mihrab Masjid Al Alam Marunda berhias kaligrafi Arab berbentuk setengah lingkaran di sebelah kanan mengikuti bentuk lengkung mihrab yang ada di bawahnya. Sedangkan kaligrafi di sebelah kiri lurus saja. Saya selalu menemukan kesulitan ketika mencoba membaca tulisan Arab yang dibuat kaligrafi semacam ini.

masjid al-alam marunda jakarta

Gedung Masjid Al Alam Marunda Jakarta dilihat dari depan, dengan bangunan pendopo di sebelahnya. Di bagian sebelah kiri dan belakang masjid terdapat kompleks pemakaman tua, yang sebagian dikeramatkan dan sering dikunjungi oleh peziarah. Saya sempat ke bagian belakang dan melihat sebuah makam tak bernama di sana.

masjid al-alam marunda jakarta

Pilar masjid ini terlihat kokoh karena tebal dan relatif pendek. Bentuk bagian atasnya yang menyerupai botol disangga oleh umpak segi empat yang tinggi. Mungkin ini adalah umpak terbesar dan tertinggi yang pernah saya lihat di sebuah masjid.

masjid al-alam marunda jakarta

Pandangan pada pojok masjid yang lainnya. Bentuknya persis sama dengan pojok lain, karena memang dibuat dalam bentuk simetri sempurna. Diletakkan pada pilar adalah kotak amal, yang biasanya merupakan sumber pemasukan utama sebuah masjid untuk membiayai pengeluaran rutin bulanan.

masjid al-alam marunda jakarta

Pandangan lurus pada bagian mihrab masjid dimana terdapat ruang imam di sisi sebelah kiri dan ruang khatib di sebelah kanan. Tanpa adanya mimbar, dan adanya undakan yang membuat posisi khatib lebih tinggi dari posisi jamaah, memberi pandangan yang tak biasa.

masjid al-alam marunda jakarta

Seorang jamaah tampak tengah tiduran di samping bedug masjid yang ada di sisi kiri teras, sambil menunggui telepon genggam yang tengah diisi baterenya, Bedug merupakan bagian budaya masjid di tanah air yang tampaknya diadopsi dari kebudayaan Tionghoa.

masjid al-alam marunda jakarta

Pemandangan pada pendopo yang atapnya dibuat dalam bentuk limasan tumpang saat para ibu tengah menghadiri sebuah acara pengajian. Di ujung kiri sana adalah Masjid Al-Alam Marunda.

masjid al-alam marunda jakarta

Makam tanpa nisan ini berada di sebuah ruangan di bagian belakang masjid, dengan pintu tersendiri. Tak ada tengara nama di sana. Hanya ada tumpuk hitam legam bekas bakaran dupa serta buku-buku tahlil dan kitab suci. Konon ini adalah Makam Kyai Jami'in.

masjid al-alam marunda jakarta

Kompleks makam kecil di sisi sebelah kiri masjid. Adanya pohon di ujung sana sangat membantu memberi keteduhan bagi makam yang kurang terawat ini. Makam yang dikelilingi tembok rendah ada tulisan Al Habib Abdul Halim Hay pada dindingnya.

masjid al-alam marunda jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Utara, Hotel Melati di Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta Utara, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Utara.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.