Museum Satriamandala Jakarta

Museum Satriamandala Jakarta adalah satu dari sedikit museum yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia, letaknya berada di Jl. Gatot Subroto 14-16, Jakarta Selatan. Museum ini menyimpan dan memamerkan berbagai persenjataan darat, laut, dan udara, diorama, dan perlengkapan yang digunakan dalam berbagai peristiwa dan operasi militer di tanah air.

Di luar gedung museum dipajang sejumlah kendaraan militer, seperti jeep militer, truk pengangkut pasukan, tank, kendaraan lapis baja, meriam anti pesawat, roket, sampai pesawat tempur. Di gedung terdapat berbagai diorama tentang sejarah perkembangan TNI, perannya dalam menegakkan kemerdekaan RI dan era sesudahnya.

Diorama di Museum Satriamandala Jakarta merupakan karya Edhi Sunarso, pematung kelahiran Salatiga lulusan ASRI 1955. Ia pula yang membuat diorama di Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya dan di Museum Sejarah Nasional Indonesia. Perupa ini juga yang membuat Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan Patung Dirgantara di Tebet.

museum satriamandala jakarta
Pesawat A-4 Skyhawk TT-0438 yang terlihat garang dengan persenjataan lengkap di bawah badannya. Tentu saja roket dan rudalnya sudah tidak aktif lagi. Pesawat tempur ini baru setahun lebih menjadi koleksi Museum Satria Mandala saat terakhir saya berkunjung ke sana pada September 2018.

Pada halaman depan Museum Satriamandala Jakarta terdapat sebuah Bendera Merah Putih yang dikerek di puncak tiang tinggi diapit oleh dua buah meriam artileri pertahanan udara. Di bagian lain terdapat pesawat helikopter, roket, replika kapal perang Macan Tutul, ranjau, dan beberapa koleksi lainnya. Halaman depan museum ini sangat luas dan dinaungi pepohonan yang rindang. Di halaman sebelah itu kendaraan pengunjung diparkir, selain di halaman samping yang juga teduh.

Ketika memasuki ruang museum, terlihat foto perjuangan kemerdekaan, benda bersejarah, dan diorama. Salah satu diorama menggambarkan peristiwa 23 Agustus 1945, yaitu dibentuknya Badan Keamanan Rakyat dari Laskar Rakyat (Seinendan, Gokutotai, dll), PETA (Pembela Tanah Air), dan KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indie Leger). BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat pada 5 Oktober 1945, yang diperingati sebagai hari lahir TNI.

Ada sebuah diorama di Museum Satriamandala yang menggambarkan pertempuran heroik di Surabaya yang menggegerkan dunia dan kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Invasi besar-besaran Sekutu ke Surabaya bermula dari serangkaian ketegangan antara pasukan sekutu yang diboncengi Belanda dengan para pejuang, yang memuncak pada tewasnya BrigJen AWS Mallaby di sekitar Jembatan Merah. Jasad Mallaby dikubur di Makam Perang jakarta.

Di salah satu ruangan museum tersimpan kursi tandu yang dahulu digunakan untuk mengangkut Jenderal Soedirman ketika bergerilya melawan tentara Belanda, setelah Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 dan mengingkari Perjanjian Renville. Jenderal Soedirman memimpin gerilya selama delapan bulan antara tahun 1948-1949, dengan menempuh jarak sekitar 1000 km di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kami sempat melihat salah satu mitraliur koleksi Museum Satriamandala Jakarta, yang meskipun tanpa peluru dan tak lagi digunakan namun masih tampak garang. Di dekatnya terdapat sejumlah koleksi senjata tempur lainnya berupa senapan mesin, pelontar granat, meriam lapangan, dan persenjataan militer lainnya. Beberapa persenjataan berat milik TNI juga disimpan di museum ini.

Dua buah torpedo kapal selam berbaling-baling berukuran besar dan panjang ikut pula dipajang. Meriam anti pesawat terbang juga ada, diletakkan tidak jauh dari ranjau laut berbentuk bola besar yang bergerigi di permukaannya. Senapan mesin yang dipasang di kapal perang juga ada. Senapan dan pestol bisa pula ditemui di sana.

Sebuah tank ringan yang masih tampak garang dan dalam kondisi cukup baik bisa dijumpai di area pamer luar Museum Satriamandala Jakarta. Ada pula Tank Amfibi dan kendaraan pengangkut pasukan yang pernah digunakan korps marinir dalam Operasi Trikora dan penumpasan G30S-PKI. Juga tubuh yang panjang dan garang dari kendaraan tempur PANSROD BTR 152.

Beberapa tank besar dipajang di tempat terbuka di luar gedung, juga mobil Jeep tua yang pernah dipakai Jenderal Soedirman dan diberikan ke dokter pribadinya bernama Koesen Hirohoesodo sebagai penghargaan atas kesetiaan mendampinginya selama memimpin perang gerilya. Koleksi menarik lainnya adalah kendaraan tempur dengan persenjataan berat beroda ganda, dengan ban karet di roda depan dan belakang, serta roda besi ditengahnya.

Di belakang gedung museum ada gedung lain yang menyimpan patung-patung pahlawan dan mantan petinggi TNI, termasuk patung Jenderal Sudirman yang terbuat dari perunggu. Di halaman belakang ada koleksi persenjataan berat berupa artileri pertahanan udara serta peluru kendali yang sudah dinonaktifkan. Koleksi pesawat terbang disimpan di bagian samping belakang museum. Pesawat dengan mulut bergambar moncong ikan hiu itu adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan Marsekal Udara Agustinus Adi Sucipto.

Adalah Kepala Pusat Sejarah TNI pertama Brigjen TNI Nugroho Notosusanto yang ditugaskan mempersiapkan rencana dan pelaksanaan pembangunan Museum Satriamandala. Pembangunan museum dimulai pada tanggal 15 November 1971 di bekas rumah Nyonya Dewi Sukarno yang berada di atas tanah seluas 56.670 m2, dengan melakukan perbaikan dan pemugaran pada bangunan. Peresmian pelaksanaan pembangunan tahap pertama dilakukan Presiden Soeharto pada tanggal 5 Oktober 1972 dengan memberinya nama Museum Satriamandala, yang berarti lingkungan keramat para ksatria.

Museum Satriamandala Jakarta merupakan tempat wisata museum militer yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh seluruh anggota keluarga. Di sini pengunjung bisa melihat dari jarak yang sangat dekat berbagai perlengkapan tempur yang mungkin sulit untuk bisa dijumpai di tempat-tempat lain. Mudah-mudahan kondisi dan koleksinya sekarang sudah semakin baik lagi.

Museum Satriamandala Jakarta

132 foto di sini. Alamat : Jl. Gatot Subroto 14-16, Jakarta. Telp 021-5227946, 5227545, 52251795. Fax: 021-5221859. Lokasi GPS : -6.230785, 106.819195, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa s/d Minggu 09.00 - 15.00. Libur pada hari Senin, Hari Raya pertama Idul Fitri, Hari Natal, Hari Raya Waisak, Hari Raya Nyepi, dan Hari Raya Idul Adha. Harga tiket masuk : Rp4.000 per orang, pelajar.mahasiswa Rp2.500. Mobil Rp5.000. Setiap tanggal 5 Oktober dan 10 November gratis. Rujukan : Hotel di Jakarta Selatan, Hotel Melati di Jakarta Selatan, Peta Wisata Jakarta Selatan, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Selatan.
Label : . Updated : October 13, 2018.
Author : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok. Follow : Twitter, Facebook, Subscribe, Youtube.
Share   Tweet   WhatsApp   Telegram   Email   Print!