Kelenteng Po An Thian Pekalongan

December 22, 2019. Label:
aroengbinang.com - Sudah lewat jam empat sore ketika kami tiba di halaman Kelenteng Po An Thian Pekalongan. Lokasinya tepat di sudut Jalan Belimbing. Sepeda ontel dan sepeda motor terlihat diparkir di halaman kelenteng yang meski tak luas, namun teduh di sore hari berkat gedung lumayan tinggi yang berada di sisi sebelah kirinya.

Jika orang berjalan kaki dari Museum Batik Pekalongan maka jaraknya 350 meter, melewati Jembatan Loji dan Gereja Katolik St Petrus langsung belok kanan. Namun jika naik kendaraan maka harus memutar, karena di depan Kelenteng Po An Thian Pekalongan merupakan jalan searah.

Bangunan Kelenteng Po An Thian dibuat menghadap ke arah Barat Daya, memunggungi Sungai Kupang dan Laut Jawa. Po An Thian adalah nama dalam dialek Hokkian yang berarti 'Istana Mustika Keselamatan' atau tempat ibadah yang memberi keselamatan tak ternilai bagi umatnya.

kelenteng po an thian pekalongan

Penampakan bagian atas Kelenteng Po An Thian Pekalongan yang menggunakan atap pelana di belakang yang lebih tinggi dengan dua pasang arca naga dan matahari di tengahnya. Pada atap depan yang datar ada lagi arca sepasang Naga besar berebut mustika yang diletakkan di kepala arca. Tepat di bawahnya ada lagi sepasang Naga kecil, Burung Hong, dan seekor Kilin.

Sepasang singa (Ciok Say) dengan kulit bersisik berjaga di depan pintu masuk. Yang satu memegang bola dan mengasuh anaknya, sedangkan yang satu lagi memegang dua keping uang logam. Empat lubang hawa besar-kecil berbentuk sarang laba-laba terlihat pada dinding depan bangunan, lalu ada empat aksara Tionghoa, dan tengara "Tempat Ibadah Tri Dharma".

Menurut catatan sejarah, Kelenteng Kelenteng Po An Thian Pekalongan berdiri pada tahun 1882 dengan See Jit atau ulang tahun jatuh pada tanggal 15 bulan 5 Imlek. Sejak jaman reformasi, pada saat ulang tahun biasanya ada upacara kirab yang meriah di banyak kelenteng besar.

kelenteng po an thian pekalongan

Salah satu altar yang juga merupakan Dewa Tuan Rumah Kelenteng Po An Thian Pekalongan dipersembahkan bagi Sin Long Tay Tee. Ia adalah kaisar kedua pada masa San Huang (2852 SM – 2737 SM). Nama kecilnya Yan Di. Beliaulah orang pertama yang menemukan cangkul, garu dan bajak, juga senang mengajarkan cara mengolah tanah dan membajak sawah, serta cara mendapatkan garam dengan menguapkan air laut.

Oleh karena itu ia terkenal sebagai Sin Long (Petani Dewa) dan Bapak Pertanian. Ia penemu tanaman obat dan menjadi Dewa Pengobatan meskipun tewas dalam usahanya memajukan ilmu pengobatan. Sin Long Tay Te juga dianggap pencetus konsep jual-beli serta penemu tanaman teh. See Jit (ulang tahun) Sin Long Tay Te jatuh tanggal 28 bulan 4 Imlek.

Ini mengingatkan saya pada Sunan Kalijaga yang oleh orang Jawa dianggap sebagai penemu luku dan cangkul. Jika melihat tahun kehidupannya, lebih tepat jika Sunan Kalijaga adalah yang memperkenalkan kegunaan pacul dan luku dalam mengolah tanah di Jawa. Lebih dalam lagi, sang Sunan juga memberi wejangan melalui metafora cangkul dan bagian-bagian luku.

Selanjutnya adalah altar Kwan Seng Tee Koen (Kwan Kong), Khay Lam Tay Ong, dan Kong Tik Tjoen Ong. Kwan Kong dipuja penganut Tao karena kesetiaan, kegagahan dan kejujurannya. Umat Konghucu memujanya sebagai dewa kesusasteraan, dan umat Buddha Mahayana memujanya sebagai Ka Lam Po Sat. Kwan Kong digambarkan berpakaian perang lengkap, berwajah merah dan berjenggot.

Sedangkan arca Khay Lam Tay Ong didampingi seorang Bugis dan seorang Madura sebagai pengawal setianya. Nama aslinya adalah Tan Kwie Djan. Karena ia berjasa menaklukkan 'Bahu Rekso' yang mangkir maka Sultan Agung dari Mataram mengangkat Tan Kwie Djan sebagai Bupati daerah Pekalongan dan memberinya gelar Raden Tumenggung Kwie Djan Ningrat.

Namun karena difitnah, ia lalu bergabung dengan Kwee Lak Kwa dan merampok kapal-kapal VOC. Hasilnya dibagi ke warga miskin. Pernah pula ia bergabung dengan Pangeran Puger melawan Belanda. Setelah armadanya dikalahkan VOC, ia bersembunyi di Wonopringgo sampai wafatnya. Orang lalu membuatkan patungnya dan memujanya sebagai Khay Lam Tay Ong.

Dewa lainnya yang dipuja di Kelenteng Po An Thian adalah Tek Hay Cin Jin (Kwee Lak Kwa) sahabat karib Tan Kwie Djan, Hok Tek Ceng Sin, Jay Sin Ya, Koan Shia Te Kun, Thay Siang Lo Kun, Thian Siang Sing Bo (Dewi Laut), Hian Thian Siang Te, Sam Tay Cu Lo Cia, Jie Lay Hud, Bi Lek Hud, Koan Im Po Sat, Te Cong Ong Po Sat dan Cap Pwee Lo Han.

Cap Pwee Lo Han adalah 16 bhikkhu India murid-murid langsung Buddha, ditambah dua orang tambahan versi Tiongkok yang salah satunya adalah adalah pencipta ilmu bela diri Shao Lin, Tat Mo Couw Su. Mereka semua telah mencapai tingkatan Arahat (pemusnah nafsu). Buddha Mahayana sering menyebut Arahat dengan sebutan Lo Han atau 'yang patut dihormati'.

Kelenteng Po An Thian Pekalongan

Alamat : Jl. Blimbing No. 5, Pekalongan. Lokasi GPS : -6.8799, 109.674297, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Po An Thian

Altar Kwan Seng Tee Koen (Kwan Kong), Khay Lam Tay Ong, dan Kong Tik Tjoen Ong. Kwan Kong dipuja penganut Tao karena kesetiaan, kegagahan dan kejujurannya. Umat Konghucu memujanya sebagai dewa kesusasteraan, dan umat Buddha Mahayana memujanya sebagai Ka Lam Po Sat. Kwan Kong digambarkan berpakaian perang lengkap, berwajah merah dan berjenggot.

kelenteng po an thian pekalongan

Pandangan lebih dekat pada atap pelana di belakang dan atap datar di bagian depan. Mustika matahari di atap pelana digendong oleh arca pria dengan kedua kaki menekuk dan tangan pada paha. Di bawahnya ada relief bunga, daun dan cabang pohon, dan di kedua ujung kiri kanan terdapat patung burung dan kilin.

kelenteng po an thian pekalongan

Pandangan dekat pada arca yang menyunggi mustika di atas kepala dengan kedua tangan memegang alasnya. Arca itu berdiri di atas tiga kubah kecil yang mengambang pada permukaan air. Sementara dua ekor naga berjalan mendekat. Kesemua naga bersisik hijau dengan bagian punggung dan perut berwarna kekuningan.

kelenteng po an thian pekalongan

Selain sebagai Sin Long (Petani Dewa) dan Bapak Pertanian, ia juga menjadi Dewa Pengobatan meskipun tewas karena memakan daun beracun penghancur usus dalam usahanya memajukan ilmu pengobatan. Sin Long Tay Te juga dianggap pencetus konsep jual-beli atau perdagangan serta penemu tanaman teh. See Jit (ulang tahun) Sin Long Tay Te jatuh pada tanggal 28 bulan 4 Imlek.

kelenteng po an thian pekalongan

Kwan Seng Tee Koen (Kwan Kong) dan Khay Lam Tay Ong. Kwan Kong hidup di jaman perang Sam Kok (tiga negara, antara 221 – 269 Masehi) dan merupakan penduduk asli Hedong di Provinsi Shanxi. Berbadan tinggi besar dan berjenggot panjang, ia adalah teladan bagi kejujuran dan keadilan. Kwan Kong biasanya ditampilkan dalam posisi duduk tengah membaca buku, kadang didampingi Koan Ping (putra angkatnya) yang memegang cap kebesaran dan Tjioe Djong pengawal setianya yang memegangi Koan To (Golok) Naga Hijau Mengejar Rembulan.

kelenteng po an thian pekalongan

Kong Tik Tjoen Ong atau Kong Tek Cun Ong adalah dewa pelindung masyarakat Nan An dan kaum perantauan. Rupang (Arca) Kong Tek Cun Ong digambarkan sebagai seorang pemuda yang duduk diatas kursi, dengan satu kaki bersila dan satu kaki terjulur ke bawah, serta mengenakan baju pejabat. Sayang arca kuno Kong Tik Tjoen Ong di Klenteng Po An Thian telah dicuri orang pada sekitar tahun 2002.

kelenteng po an thian pekalongan

Hok Tek Ceng Sin juga dikenal sebagai Thouw Te Kong atau dewa bumi dan dewa keberuntungan. Tugas dewa bumi adalah untuk menjaga agar kehidupan rakyat aman, bahagia dan banyak rejeki. Selain itu ia juga mencatat perbuatan jahat dan melaporkannya kepada Seng Hong (Dewa Penjaga Kota) untuk bahan pemeriksaan pada waktu orang meninggal. Dulu pemujaan kepada Dewa Bumi biasanya dilakukan setelah panen raya.

kelenteng po an thian pekalongan

Wangi-wangian di dalam kelenteng lazimnya sengaja diciptakan oleh pengelola untuk membantu memberi suasana yang kondusif bagi umat ketika bersembahyang. Selain wewangian dari pembakaran hio dan lilin, bunga sedap malam dan sejumlah bunga lainnya juga sering diletakkan di atas meja altar untuk memberi keharuman.

kelenteng po an thian pekalongan

Dahulu tambur dan genta digunakan sebagai petunjuk waktu. Pada pagi hari, genta dipukul dahulu baru kemudian tambur dipukul, dan pada sore hari tambur dulu yang dipukul baru kemudian genta dibunyikan. Tambur dan genta biasanya selalu ada di setiap kelenteng sebagai tanda dimulainya ritual ibadah.

kelenteng po an thian pekalongan

Salah satu dari tiga arca Tek Hay Cin Jin (Kwee Lak Kwa) di Kelenteng Po An Thian yang dipuja sebagai dewa perdagangan. Sebuah versi menyebutkan bahwa ia adalah salah seorang tokoh pemberontak yang melawan VOC sekitar tahun 1741-1742, dan perahunya ditenggelamkan oleh Belanda disekitar perairan Tegal. Ada pula yang percaya bahwa ia pernah tinggal di Tegal dan mengajarkan cara-cara bertani dan bernelayan. Karena jasanya yang besar, ia mendapatkan Tao serta mencapai tingkat Cin Jin (Dewa).

kelenteng po an thian pekalongan

Cai Sin Ya juga disebut Hian Than Goan Swee (Jendral Panggung Utara), dan terkenal sebagai Dewa Kekayaan. Cay Sin Ya digambarkan sebagai panglima perang berwajah seram, duduk di atas punggung harimau, dengan satu tangan memegang ruyung dan satu lagi memegang sebongkah emas. Kadang ditampilkan dengan wajah putih, berjenggot panjang, memakai baju merah bersulam dan topi bertelinga panjang, serta tangannya1 memegang ru-yi (jamur ajaib). See jid Cay Sin Ya di kelenteng ini diperingati pada tanggal 26 bulan 1 Imlek.

kelenteng po an thian pekalongan

Di sebelah kanan Cai Sin Ya adalah Lak Kwa Ya atau Tey Hai Cin Jin, Dewa Pelindung Perdagangan Laut, sahabat dari Tek Hay Cin Jin. Ia diduga merupakan salah satu pejuang dalam peristiwa Geger Pecinan, seorang pedagang, dan memiliki kekuasaan atas alam. Lak Kwa Ya dipuja di berbagai Klenteng di Jakarta, Tegal, Pekalongan, dan Semarang.

kelenteng po an thian pekalongan

Relief indah di bagian depan sebuah meja altar, dengan lambang Tao di bagian atasnya. Di tengah adalah relief naga bersisik hijau berebut mustika dengan naga lainnya yang bersisik biru, sementara bagian-bagian lainnya dihiasi dengan relief bunga mekar dan dedaunan.

kelenteng po an thian pekalongan

Sejumlah aksara yang ditulis dalam huruf Tionghoa. Tidak semua orang Tionghoa bisa membaca dan menulis huruf seperti itu, sama halnya tidak semua orang Jawa bisa membaca dan menulis huruf ho no co ro ko. Bukan hal yang mudah untuk menguasai tulisan ini. Namun jika seseorang telah menguasainya, umumnya orang itu bisa juga membaca huruf Korea dan Jepang.

kelenteng po an thian pekalongan

Sejumlah senjata panjang tampak dipajang di sisi sebelah kiri ruangan. Lima tombak di sebelah kanan memiliki mata tombak dengan bentuk yang berbeda-beda, namun semuanya berujung tajam. Sedangkan lima yang disebelah kiri semuanya berujung tumpul dan berupa hiasan.

kelenteng po an thian pekalongan

Lukisan seekor singa betina dengan anaknya di tepi sebuah kolam, seperti hendak meminum air. Tombak di sebelah kiri ada yang memiliki lekuk seperti keris, sedangkan yang di sebelah kanan ada yang berbentuk kepalan tangan, dan bentuk labu berwarna tembaga, serta kepala naga.

kelenteng po an thian pekalongan

Hiolo Thian berkaki tiga yang biasa diletakkan di bagian teras kelenteng, digunakan untuk menancapkan hio setelah digunakan untuk bersembahyang bagi Thian Kong (Thi Kong) atau Tuhan Yang Maha Esa. Istilah Thian secara harafiah berarti 'langit', yang menunjukkan tempat kediaman dari Siang Te (yang termulia yang berada paling atas).

kelenteng po an thian pekalongan

Salah satu pilar di Kelenteng Po An Thian berhias relief naga yang dibuat dengan detail halus dan sangat indah. Naga dalam tradisi Tiongkok melambangkan kekuatan dan tuah, terutama dalam mengawal air, hujan, dan banjir. Naga bersifat Yang (jantan), sedangkan Fenghuang (burung Hong, Phoenix) bersifat Yin (betina).

kelenteng po an thian pekalongan

Sebuah ornamen ukiran kayu yang elok. Bagian tengah yang berwarna keemasan menyerupai bentuk bokor, dengan hiasan suluran dan bidang lengkung yang semuanya dibuat secara simetris sempurna. Ornamen yang mengelilingi berwarna hijau tua nyaris hitam memberi kontras warna yang tajam, juga dibuat simetris.

kelenteng po an thian pekalongan

Maha Dewa Thay Sang Law Cin atau Thay Siang Lo Kun yang diwujudkan dalam diri Lao Tse, pendiri Taoisme. Ia lahir pada 604 SM dengan nama Lie Djie, konon dengan rambut dan alis sudah putih semua, sehingga disebut Lao Tse (si anak tua). Setelah dewasa ia bekerja sebagai pegawai perpustakaan kerajaan dan mengarang kitab Tao Te Cing yang berisi 5.000 huruf. Saat hendak pergi bertapa, ia memberikan kitab Tao Te Cing kepada kawan-kawannya sebagai kenang-kenangan. Loa Tse pergi dari kota dengan naik kerbau hijau, dan berkat kegigihan berlatih akhirnya ia mencapai kedewaan, dan terkenal sebagai Thay Siang Lo Kun.

kelenteng po an thian pekalongan

Arca Thay Sang Law Cin agak tertutup oleh arca di depannya. Biasanya ia ditampilkan sebagai seorang tua dengan wajah berseri-seri, rambut putih digelung ke atas, jenggot putih panjang, berjubah putih atau kuning cerah dan satu tangan memegang kipas. Kadang didampingi Er Lang Shen dan Kiu Thian Hian Li sebagai pengawalnya. Hari perayaan Thay Siang Lo Kun di Klenteng Po An Thian diperingati pada tanggal 15 bulan 5 Imlek.

kelenteng po an thian pekalongan

Hian Thian Siang Te memiliki kedudukan sangat tinggi dalam pemerintahan kahyangan, hanya setingkat di bawah Giok Hong Siang Te. Ia merupakan salah satu dari Su Thian Siang Te (empat raja langit). Arca Hian Thian Siang Te biasanya ditampilkan sebagai dewa berpakaian perang keemasan dengan tangan kanan memegang Pedang Penakluk Iblis. Kedua kakinya yang tanpa sepatu masing- masing menginjak kura-kura dan ular. Tanggal 3 bulan 3 Imlek dirayakan sebagai hari See Jid (hari lahir) Hian Thian Siang Tee di klenteng Po An Thian.

kelenteng po an thian pekalongan

Thian Siang Sing Bo juga disebut Ma Couw, Ma Couw Po dan Tian Hou (permaisuri langit). Ia adalah dewi pelindung pelaut, dan selalu ditampilkan tengah duduk di singgasana dan biasanya dikawal oleh dua iblis yang ditaklukkannya. Di klenteng Po An Thian, peringatan see jid Thian Siang Sing Bo jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imlek.

kelenteng po an thian pekalongan

Altar pemujaan bagi Djie Lay Hud Tjo (Buddha Dharma), Kwan Im Hud Tjo, dan Bie Lek Hud Tjo. Ji Lay Hud mengandung arti Buddha yang telah datang, mengacu pada pengertian Tathagata / Guru Agung. Umumnya ditampilkan dalam keadaan duduk bermeditasi, dengan ciri utamanya benjolan di atas kepalanya seperti memakai konde, rambutnya keriting pendek dan berputar kearah kanan.

kelenteng po an thian pekalongan

Pandangan tegak pada altar sebelumnya. Bi Lek Hud berasal dari bahasa Sansekerta Buddha Maitreya, yang artinya "Buddha yang memiliki Cinta Kasih Luhur". Bi Lek Hud biasanya ditampilkan sebagai bhikshu gendut dengan perut terbuka sampai ke pusarnya, bermuka bundar jenaka dan sedang tertawa lebar, duduk setengah bersandar dengan satu kaki terlipat sila dan satu kaki terlipat ke atas, serta sebuah kantong kain terletak disampingnya. Kadang ditampilkan bersama-sama dengan 5 orang anak kecil dan seolah-olah sedang bermain bersama mereka.

kelenteng po an thian pekalongan

Salah satu alat ritual yang saya lihat diletakkan di atas meja utama di Kelenteng Po An Thian. Alat ritual semacam ini sering saya lihat di sejumlah kelenteng lainnya, dan salah satu yang terindah saya pernah lihat ada di Vihara Avalokitesvara Serang, yang menyerupai bentuk kura-kura dengan ukiran yang indah.

kelenteng po an thian pekalongan

Alat ritual lainnya yang berukuran lebih besar dari foto sebelumnya, dengan ukiran yang lebih baik. Meskipun sudah sering keluar masuk kelenteng, namun belum sekalipun saya melihat benda ini digunakan dalam sebuah acara ritual. Itu karena saya hampir tak pernah datang ke kelenteng pada suatu perayaan.

kelenteng po an thian pekalongan

Tri Nabi Agung adalah, dari kiri ke kanan, Confucius - Buddha - Lao Tse. Di kebanyakan kelenteng, dimulai sejak jaman orde baru, biasanya disediakan altar pemujaan bagi umat penganut tiga kepercayaan itu, yaitu Konghucu, Buddha, dan Tao. Oleh karenanya itu di depan nama kelenteng biasanya ada huruf TITD yang merupakan kependekan dari "Tempat Ibadah Tri Dharma".

kelenteng po an thian pekalongan

Cap Pwee Lo Han adalah 16 bhikkhu India murid-murid langsung Buddha, ditambah dua orang versi Tiongkok yang salah satunya adalah adalah pencipta ilmu bela diri Shao Lin, Tat Mo Couw Su. Mereka semua telah mencapai tingkatan Arahat (pemusnah nafsu). Buddha Mahayana sering menyebut Arahat dengan sebutan Lo Han atau 'yang patut dihormati'.

kelenteng po an thian pekalongan

Sebuah benda tegak mirip prasasti dengan dua kolom aksara Tionghoa berukir elok, dan di bawahnya tertulis Tee Coe Jay Sin atau Malaikat Penunggu Fondasi Rumah. Altarnya memang umumnya tidak memakai arca, namun dengan tulisan saja atau bahkan tanpa tulisan. Di klenteng Po An Thian, pemujaan kepada Te Cu Jay Sin diletakkan di bawah meja altar Kwan Im Po Sat.

kelenteng po an thian pekalongan

Te Cong Ong Po Sat berasal dari India yaitu Ksitigarbha Bodhisatva yang mengalami perubahan karena tradisi Tiongkok, namun tetap diwujudkan sebagai seorang pria. Kata Te Cong merupakan terjemahan langsung dari Ksitigarbha, yang berarti "kekayaan yang dimiliki bumi". Ia sering ditampilkan dalam posisi menunggang singa bernama The Teng, juga didampingi To Bing Hwee Shio dan Bin Kong. Di klenteng Po An Thian, perayaan see jid Te Cong Ong Po Sat jatuh pada tanggal 29 bulan 7 Imlek.

kelenteng po an thian pekalongan

Pada foto ini terlihat rupang paling bawah yang tertutup oleh hiolo pada foto sebelumnya. Rupang paling bawah itu adalah rupang (arca) Tri Nabi Agung, dengan Buddha berada di tengah, Konfusius di sebelah kiri, dan Lao Tse berada di sisi sebelah kanannya.

kelenteng po an thian pekalongan

Tempat pembakaran kertas sembahyang atau Kim Lo di Kelenteng Po An Thian yang berbentuk seperti sebuah labu bertingkat dengan cerobong asap yang cukup tinggi. Bentuk ini cukup unik, karena Kim Lo pada kelenteng yang saya kunjungi sebelumnya biasanya berbentuk pagoda.

kelenteng po an thian pekalongan

Pandangan lebih dekat pada arca yang menyunggi mustika di atas kepalanya, serta arca di belakang sana yang berdiri dengan kedua kaki menekuk seolah sedang memanggul mustika di pundaknya. Kedua bentuk arca ini juga tak lazim dijumpai pada kelenteng lain.

kelenteng po an thian pekalongan

Pada kedua ujung bawah atap terdapat sejumlah patung, dua diantaranya berdiri dibalik benteng, satu berdiri di depan gerbang, dan ada dua penunggang kuda. Hiasan itu meskipun tidak dikerjakan dengan halus namun cukup mempercantik bagian atas kelenteng Po An Thian.

kelenteng po an thian pekalongan

Hiasan yang berada pada ujung bawah atap sebelah kiri. Di sana juga ada dua penunggang kuda, satu diantaranya mengacungkan pedang ke atas, dua orang berdiri di atas tembok benteng, dan satu lagi berdiri di sebelah kuda. Mestinya ada cerita dibalik penggambaran patung-patung kecil di atas atap itu, yang seolah sedang mempertahankan benteng dari serbuan musuh.

kelenteng po an thian pekalongan

Hiolo besar di ruangan depan Kelenteng Po An Thian dengan tulisan yang digrafir pada badan tengahnya. Tulisan itu berbunyi "Orang yang membikin susah orang, pasti membikin susah dirinya". Di dalam kelenteng memang sering dijumpai kata-kata bijak yang berasal dari ajaran Konfisius, Buddha dan Tao.

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

kelenteng po an thian pekalongan

Info Pekalongan

Hotel di Pekalongan, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.