Museum Batik Pekalongan

December 25, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Museum Batik Pekalongan menempati gedung tua berbentuk segi empat simetris dengan taman di tengahnya yang ada sejak 1906. Halaman depan yang sekaligus sebagai tempat parkir kendaraan tidaklah terlalu luas. Lebar halamannya hanya 6 meter dengan panjang sekitar 50 meter memanjang sepanjang bangunan bergaya kolonial itu.

Yang membuat Museum Batik Pekalongan terlihat cantik adalah karena berdampingan masjid bermenara kembar dan kubah keemasan. Di depan museum adalah Taman Jetayu yang panjang mirip bubu. Saat ke museum, kami lewat Jembatan Loji yang melintang di atas Sungai Kupang. Ini adalah museum batik kedua yang saya kunjungi setelah Museum Batik Danarhadi Solo. Bedanya adalah di Museum Batik Pekalongan ini pengunjung diperbolehkan memotret seluruh koleksi batik yang dipamerkan, sehingga tulisan ini memecahkan rekor dengan jumlah foto terbanyak. Seluruhnya ada 116, sebagian besar motif batik asli Indonesia.

Perbedaan lainnya adalah karcis masuk di Museum Batik Pekalongan jauh lebih murah dari museum yang di Solo, hampir gratis bagi anak serta pelajar. Pemandu museum juga disediakan di tempat ini. Namun hanya di Solo pengunjung bisa melihat proses membatik secara massal, meski Museum Batik Pekalongan juga menyediakan workshop batik gratis.

museum batik pekalongan

Bagian bangunan yang tepat di atas pintu masuk Museum Batik Pekalongan, dengan Bendera Merah Putih bertiang pendek berkibar di puncaknya. Sekuntum bunga menghiasi tulisan "Museum Batik". Gedung ini awalnya kantor keuangan pabrik gula jaman Belanda, lalu menjadi Balai Kota, Kantor Walikota, dan kompleks kantor Pemerintah Kota Pekalongan.

Kota Pekalongan di pesisir utara Jawa telah dikenal sebagai penghasil batik sejak abad ke-14, sehingga wajar memiliki Museum Batik, meskipun baru resmi berdiri 23 Mei 2006. Berdirinya museum berkat kerja sama Kadin, Yayasan Batik, Paguyuban Berkah, Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan, dan Asmoro Damais yang menjadi kurator pertama museum.

Pemandangan mengesankan terlihat pada ruang pamer pertama Museum Batik Pekalongan dengan penataan koleksi yang lumayan apik. Patung Loro Blonyo, lambang Dewi Sri dan Raden Sadono, menyambut setiap tamu. Koleksi batik di museum dipajang di ruang pamer terbuka, dan ada pula yang berada di dalam lemari kaca, terutama batik lawas yang bernilai sejarah tinggi.

Peresmian berdirinya museum dilakukan oleh SBY pada 12 Juli 2006 bertepatan Hari Koperasi Nasional ke-59 yang perayaannya diselenggarakan di Kota Pekalongan. Museum ini diharapkan menjadi pusat informasi batik, pusat riset dan pengembangan batik, perpustakaan, dan ruang pamer batik klasik, batik lawasan, serta batik kontemporer.

Di ruangan pertama Museum Batik Pekalongan dipamerkan sejumlah canting tulis. Canting tulis memiliki 9 ukuran, semuanya memiliki cucuk untuk menorehkan malam, mangkok tembaga atau nyamplung, serta gagang kayu glonggong. Cucuk canting biasanya selalu ditiup oleh pembatik untuk memperlancar aliran malam sebelum ditorehkan pada kain. Canting juga digunakan untuk menorehkan warna.

Selain itu ada pula koleksi canting cap. Canting cap, atau sebenarnya lebih tepat disebut blok cap, terbuat dari tembaga dengan ragam hias seperti motif Jlamprang, Parang Curigo, Kawung,dan motif Dayak. Pembuatan batik cepat sangat menghemat waktu sehingga harganya pun lebih murah dibanding dengan batik tulis biasa.

Di ruang ini ada motif batik Megamendung Cirebon, batik motif Kujang Kijang Bogor, batik motif Parang Cucuk Garut yang terpengaruh motif parang, batik motif Lereng Bunga Rampai karya Iwan Tirta, batik motif Burung Hong gaya Laseman, batik motif Dongeng Cinderela, dan batik Komunitas Rifaiyyah motif Buketan Ayam Alas (Gaya Bangbirujo).

Saat saya berada di sana, serombongan kecil pelajar memasuki ruang pamer pertama Museum Batik Pekalongan, ditemani dengan seorang pemandu wisata. Bangunan museum seluas sekitar 2.500 m2 yang bersebelahan dengan Batik TV Pekalongan ini dibangun di atas tanah seluas 3.675 m2. Berbagai jenis pewarna batik juga dipamerkan di ruangan ini.

Keluar dari ruangan pertama menuju ruangan kedua kami melewati wadah tembaga besar. Wadah yang disebut Jedi itu dipakai tahun 1849 - 1947 oleh pengusaha batik sebagai tempat Nglorod, yaitu proses melepaskan lilin / malam dari kain batik. Masuk ke ruang pamer dua dan tiga Museum Batik Pekalongan, terlihat banyak sekali motif indah di sana.

Diantara koleksi Museum Batik Pekalongan adalah Batik Lasem motif badan Ceplok gaya Bangbiru dan motif kepala Tumpal / Pucuk Rebung, Batik Lasem motif Pohon Hayat Kepala Tumpal, Batik Pekalongan motif Jlamprang dengan warna berani, Batik Pekalongan motif Sam Pek Eng Tay (Djawa Hokokai), dan Batik Pekalongan motif Terang Bulan (Djawa Baroe) dengan warna oriental.

Koleksi museum lainnya adalah Batik Pekalongan motif Lereng Putri Bali yang sangat anggun, Batik Semarang motif Asem yang sumringah, Batik Banten motif Pamarangan, Batik Kudus motif Buketan, dan motif Jlmaprang Kawungan yang sangat indah, dan batik motif Buketan Kepala Dhlorong Kembang Gaya Kelengan yang kalem.

Museum Batik Pekalongan juga menyimpan koleksi batik asal luar Pulau Jawa, diantaranya Batik Bengkulu motif Besurek, Batik Riau motif Dhlorong Kembang, Batik Madura motif Ayam Alas Latar Banji, dan Batik Kalimantan Timur motif Aso Kepala Tumpal Pasung. Ada pula Batik Malaysia, Batik India motif Tiruan Patola, dan Batik Sri Lanka.

Keluar dari ruang pamer terlihat ruang terbuka di tengah gedung yang asri. Lalu kami masuk ke ruangan workshop dimana sejumlah pelajar tengah belajar membatik. Di lorong museum dipajang perlengkapan batik untuk proses lanjutan. Ada pula prasasti peresmian, serta salinan inskripsi UNESCO tentang Batik Indonesia sebagai warisan budaya.

Museum Batik Pekalongan

Alamat : Jalan Jetayu No.3, Pekalongan, Jawa Tengah, Telp. (0285) 431698. Lokasi GPS : -6.878547, 109.675481, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Senin s/d Minggu jam 08:00 – 15:00. Hari Libur Nasional tutup. Harga tiket masuk : Rp 5.000, anak dan pelajar Rp 1.000.

Galeri Foto Museum Batik Pekalongan

Pemandangan pada ruang pamer pertama Museum Batik Pekalongan dengan penataan koleksi yang lumayan apik dan pencahayaan ruangan memadai. Patung kayu loro blonyo, jelmaan Dewi Sri dan Raden Sadono, yang sarat makna menyambut setiap tamu yang masuk museum. Koleksi batik di museum ada yang diletakkan di ruang pamer terbuka, dan ada pula yang berada di dalam lemari kaca, terutama batik lawas yang bernilai sejarah tinggi.

museum batik pekalongan

Serombongan kecil pelajar tampak tengah memasuki ruang pamer pertama Museum Batik Pekalongan, ditemani dengan seorang pemandu wisata. Bangunan museum seluas sekitar 2.500 m2 yang bersebelahan dengan Batik TV Pekalongan ini dibangun di atas tanah seluas 3.675 m2. Berbagai jenis pewarna batik juga dipamerkan di ruangan ini.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Canting cap terbuat dari tembaga dengan ragam hias seperti motif Jlamprang, Parang Curigo, Kawung, Nitik dan motif Dayak. Peralatan lainnya untuk membuat batik cap adalah meja cap dari kayu yang bagian atasnya dilapisi busa lembab, kompor dan wajan ender dari tembaga.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Canting tulis memiliki 9 ukuran berbeda, semuanya memiliki cucuk untuk menorehkan malam cair ke kain mori, mangkok tembaga yang disebut nyamplung, serta gagang yang terbuat dari kayu glonggong. Canting tulis nomor 0,5 dipakai untuk membuat titik, nomor 1-2 untuk ngiseni (memberi isi pada pola), nomor 3-4 untuk nglowongi (pelekatan malam), dan nomor 5-9 untuk mopok (menutup).

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Koleksi bahan-bahan yang digunakan untuk membuat malam/lilin, yaitu microwan, gondorukem, lilin tawon, damar, dan parafin. Campuran dari bahan-bahan itu dipakai untuk membuat malam tulis, malam cat, dan malam mopok. Malam dipakai menutup permukaan kain sesuai motif batik yang telah dibuat, sehingga tak terwarnai ketika kain dicelup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Contoh pewarna kimia dan pewarna alami yang dipakai untuk membatik. Warna kimia terlihat terang dan mencolok, diantaranya naftol, reaktif, indogosol, dan indantren. Biasanya ada penambahan zat lain untuk fiksasi atau penguat warna yang besarnya disesuaikan dengan kain yang dicelup. Sedangkan pewarna alami terlihat agak kusam namun bernilai jual tinggi, diantaranya kayu secang, mahoni, daun teh tua, rimpang dan umbi akar kunyit, kulit bawang merah, sabut kelapa dan daun indigofera.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Koleksi kain mori Museum Batik Pekalongan, diantaranya berupa Kain Katun Oxford, Kain Viscos, Kain Doby, Kain Kaos Katun, Kain Sutra, Kain Santung, Kain Paris, dan Kain Prima.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Sesuai namanya, Batik Bogor motif Kujang Kijang ini ada Kujang dan Kijangnya, keduanya merupakan ikon Kota Bogor. Kujang adalah senjata tradisional Sunda, dan Kijang banyak dijumpai di halaman Istana Bogor yang sangat luas. Batik ini berupa kain panjang berbahan katun, memakai pewarna kimia, merupakan batik tulis colet celup, sumbangan Listha Lthfiana Fajri. Motif Batik Bogor terinspirasi dari peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Garut motif Parang Cucuk yang terpengaruh motif parang dari Solo dan Yogyakarta. Batik asal Garut sering disebut Garutan, dengan warna khas buah-buahan mulai matang yang warnanya menguning atau gumading. Sebagian batik Garut juga terpengaruh motif pesisiran. Batik ini merupakan sumbangan dari Yayasan Batik Indonesia, berupa kain panjang, bahan katun, batik cap dengan pewarna alam.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Cirebon motif Mega Mendung sebagai bahan baju dari katun, dengan pewarna kimia, batik tulis celup. Sebagai lambang hujan yang berarti kemakmuran, batik Mega Mendung juga mengandung filosofi sifat dingin dan tenteram, sebagai perlindungan dan pengayoman dari sultan kepada bawahan dan rakyatnya.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Jakarta motif Lereng Bunga Rampai karya Iwan Tirta dengan lukisan bunga dan kupu-kupu ini dipakai sebagah bahan baju, terbuat dari katun dengan pewarna kimia, jenis batik tulis, colet dan celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Tuban motif Burung Hong gaya Laseman berupa selendang dengan pewarna alam, batik tulis, celup, sumbangan Perusahaan Tenun Gedog Tradisional. Tuban memang menjadi tempat pertemuan budaya Jawa, Islam, dan Tiongkok. Burung Hong melambangkan kelembutan dan keanggunan, dan sebagai penolak bala.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan sumbangan Aisah Zaky Yasmin dengan motif Dongeng Cinderela berupa kain panjang bahan katun, batik tulis, pewarna kimia, colet dan celup. Colet disebut juga teknik lukis, yaitu pembatik memberi warna tertentu langsung ke kainnya. Motif ini terpengaruh cerita yang dibawa oleh orang Belanda ke Pekalongan. Bagian bawah Cinderela tengah sibuk bekerja, sedang bagian atas ketika ia dikejar pangeran yang membawa sebelah sepatu kacanya saat lari pergi menjelang tengah malam.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Buketan Ayam Alas gaya Bangbirujo dari komunitas Rifaiyyah sumbangan Indonesian Heritage Society, berupa kain panjang, bahan katun, batik tulis dengan pewarna kimia. Batik buatan komunitas Rifaiyyah tidak ada penggambaran mahluk hidup seperti bentuk utuh seperti aslinya, karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Wayang Yogyakarta dengan motif Baladewa yang dipakai sebagai hiasan dinding, bahan katun, batik tulis, pewarna kimia, dengan tknik celup. Baladewa ada kaka Kresna, dan guru dari Bima serta Duryudana. Sifatnya keras, mudah marah, namun pemaaf dan bijaksana.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Buketan gaya Kelengan untuk sarung, bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, teknik colet dan celup, sumbangan Stephanie Belfruage. Warnanya khas oriental. Gaya Kelengan adalah batik yang dibuat dengan hanya dua warna, yaitu biru dan putih. Kata "Buketan" berasal dari kata "buket" atau rangkaian bunga.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Cirebon motif Kapal Kandas berupa kain panjang, bahan katun, pewarna kimia, batik tulis dengan teknik colet dan celup, sumbangan Yultin Ginandjar Kartasasmita. Batik ini konon hanya boleh dipakai oleh orang sudah dewasa dan matang dalam segala-galanya serta tangguh dalam menghadapi persoalan kehidupan agar tidak mengelami kegagalan, yang dilambangkan dengan kapal yang kandas.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Kembang Kitiran Latar Ireng sumbangan Yayasan Batik Indonesia, berupa kain panjang, bahan katun, pewarna alam, batik tulis dengan teknik celup. Untuk membedakan batik yang memakai pewarna alam dan pewarna kimia adalah dengan membakar sehelai benang dari kain batiknya, Jika hanya menyisakan abu memakai pewarna alam, dan jika menyisakan bekas warna maka kainnya memakai pewarna alam.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Ayam Alas Latar Jlamprang karya Abdul Wahab berupa kain panjang, bahan katun, pewarna kimia, batik tulis dengan teknik colet. Pewarna kimia yang digunakan pada kain ini adalah procion dan naftol.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik India motif Tiruan Patola sumbangan R.A. Soejatoen Damais, berupa selendang, bahan katun, pewarna kimia, batik cap, dengan teknik colet dan celup. Namun masih ada perdebatan diantara pakar batik apakah batik ini asli Indonesia atau berasal dari India.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Madura motif Ayam Alas Latar Banji, berupa kain panjang dan selendang, bahan katun, pewarna kimia, batik tulis dengan teknik celup. Motif ini mendapat pengaruh dari kebudayaan Tiongkok. Kata Banji berasal dari kata ban (sepeuluh) dan dzi (ribuan), melambangkan murah rejeki atau kebahagiaan berlipat.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Riau motif Dhlorong Kembang sebagai bahan baju, memakai kain sutera dengan pewarna kimia. Motif flora banyak digunakan batik Riau, dan ada pula motif yang diambil dari motif tenun Riau. Batik Riau mulai bangkit kembali sejak 1985 dengan proses pembuatan sama dengan di Jawa, meskipun selinya berbeda dan sudah ada sejak jaman Kerajaan Daik Lingga.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Bengkulu motif Besurek sumbangan Kadin Bengkulu, berupa selendang katun, memakai pewarna kimia, batik kombinasi, dengan teknik celup dan terapan cat. Besurek artinya bersurat. Batik Besurek di Bengkulu diperkenalkan oleh pedagang dan pengrajin batik asal Demak. Di masa Kesultanan Demak, banyak dibuat kain batik bermotif kaligrafi Arab untuk penutup Al Quran, dan motif ini kemudian menyebar ke Cirebon, Jambi dan Bengkulu. Motif Besurek kuno berisi tulisan Arab gundul yang bisa dibaca, sedangkan yang modern kadang tak bermakna.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Kalimantan Timur motif Aso dengan Kepala Tumpal Pasung sumbangan Kadin Kalimantan Timur, berupa sarung dan selendang katun, memakai pewarna kimia, batik tulis, dan teknik celup. Batik di Kalimantan Timur berkembang sejak tahun 1980-an, dan motif Aso adalah motif asli Suku Dayak.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan kontemporer dengan motif Pemberdayaan Perempuan berupa kain panjang bahan rayon, pewarna kimia, batik cap, colet, yang dibuat dengan cara seperti melukis.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan kontemporer motif Membatik karya Aan Yulianto berupa kain panjang bahan katun, memakai pewarna kimia, batik cap, teknik colet, menggambarkan seorang perempuan yang tengah membuat batik.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik asal Bogor dengan motif Hujan Gerimis. Titik-titik air digambarkan turun dari awan, dengan tambahan hiasan berupa bunga dan dedaunan yang melayang seperti tidak saling berhubungan satu sama lain.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Badik asal Tasikmalaya dengan motif Mega Mendung yang saling bersambung dan dibuat tanpa ruang kosong. Batik ini sepertinya menggunakan pewarna alam dan tanpa memakai teknik colet.

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Terang Bulan atau Djawa Baroe yang muncul setelah berakhirnya pendudukan Jepang, yang ditandai dengan tidak adanya lagi ornamen kupu-kupu model Jepang dan Bunga Sakura.

museum batik pekalongan

Batik Sri Lanka yang menggunakan pewarna kimia, batik tulis, teknik celup, perpaduan motif tradisional dan kontemporer. Seni batik masuk ke Sri Lanka karena dibawa oleh orang Belanda dari Jawa, dan berkembang pesat di sana.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Malaysia motif kontemporer berupa bahan baju dari sutera, pewarna kimia, batik tulis dengan teknil colet. Kebanyakan batik Malaysia bermotif dedaunan dan bebungaan.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Keluar dari ruangan pertama menuju ruangan kedua kami melewati sebuah wadah terbuat dari tembaga berukuran besar yang dipajang di pinggir lorong penghubung. Wadah yang disebut Jedi itu dipakai antara tahun 1849 - 1947 oleh pengusaha batik sebagai tempat untuk Nglorod, yaitu proses untuk melepaskan lilin atau malam dari kain batik.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Sido sumbangan Soeratun yang merupakan modifikasi motif Sido Luhur, berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, dengan teknik celup. Batik motif sido sama dengan belah ketupat, dengan varian Sido Mukti, Sido Luhur, dan sido lainnya. Hiasan utamanya sama dengan jenis batik pedalaman berupa garuda, candi, burung, dll.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Lasem motif Ceplol gaya Bangbiru sumbangan isteri Bambang Oetojo, berupa kain panjang atau selendang bahan katun, memakai pewarna alam, batik tulis, teknik colet dan celup. Motif ceplok terinspirasi dari motif kain asal Patan, Gujarata, India. Motif ini disenangi warga Islam keturunan Arab.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Buketan Ayam Alas berupa kain panjang bahan katun, memakai pewarna kimia, batik tulis, teknik colet dan celup. Merupakan batik pesisiran yang dicirikan dengan adanyanya ragam hias tanaman lili, serta ayam alas dalam bentuk yang asli.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Banselen (Buketan van Zuylen) sumbangan Romi Oktabirawa, berupa sarung bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, teknik colet dan celup. Batik pesisiran ini bermotif rangkaian bunga, dirancang oleh Eliza can Zuylen, warga Belanda yang memproduksi batik di Pekalongan.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Cirebon motif Buketan Latar Banji berupa rok dan selendang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, colet dan celup. Motif banji mengandung harapan pada kebahagiaan, umur panjang, dan kemakmuran.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Naga Latar Lunglungan, berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, teknik celup. Naga dalam batik dianggap sebagai pelindung, penolak bala, dan pemberi keberuntungan, yang dipengaruhi budaya Tiongkok.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Lasem motif Pohon Hayat kepala Tumpal sumbangan Yayasan Batik Indonesia, berupa sarung bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, colet celup. Adanya pohon hayat dalam batik menunjukkan pengaruh budaya Hindu dari India. Motif ini biasanya dibarengi motif pucuk rebung pada kepala kain yang juga terlihat pada kain ini.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Buketan Kepala Tanahan berupa sarung bahan katun, pewarna kimia, batik cap, colet celup. Motif rangkaian bunga mulai disukai setelah warga keturunan Belanda membuat motif ini di bengkel batik miliknya, dan mempengaruhi bengkel batik lainnya, termasuk bengkel yang dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa. Orang Tionghoa yang memakainya sebagian besar adalah encim, atau wanita yang sudah menikah, sehingga lalu dikenal sebutan batik encim.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Jlamprang yang merupakan adaptasi motif geometris kain Patola dari Gujarat India, berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik cap, teknik celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Jlamprang lainnya dengan warna dominan merah coklat dengan kepala cantik yang umumnya digemarai warga Islam keturunan Arab. Motif Jlamparan semakin variatif seiring perkembangan jaman, namun tetap dalam bentuk geometris.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Sam Pek Eng Tay atau Djawa Hokokai berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, teknik colet celup, bergaya pagi sore (ada dua bagian dengan warna dan motif berbeda). Batik Djawa Hokokai dibuat semasa pendudukan Jepang dengan warna dan ragam hias Jepang, seperti pada kupu-kupu dan Bunga Sakura.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Cuwiri atau Batik Indonesia yang memadukan motif batik pedalaman dan batik pesisiran, dibuat atas perintah Presiden Soekarno kepada Hardjonagoro, berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, colet celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Lereng Putri Bali yang merupakan perkembangan batik pesisiran dengan motif naturalis dan warna bervariasi, berupa kain panjang bergambar putri Bali, bahan katun, pewarna kimia, batik cap dengan teknik pewarnaan celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pekalongan motif Alam Bawah Laut menampilkan ornamen ragam hewan bawah laut yang naturalis dengan warna bervariasi, berupa kain panjang, bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, dan kombinasi teknik colet celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Yogyakarta motif Kapal Api yang berciri khas warna batik pedalaman namun dengan motif pesisiran berupa Kapal Api yang berlayar di lautan dengan ornamen hewan laut, berupa kain panjang bahan katun, batik tulis, teknik celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Satwa Samudra latar Gringsing dengan warna khas batik pedalaman namun motif pesisiran yang naturalis, berupa kain panjang bahan katun, batik tulis, teknik celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Yogyakarta motif Semen Romo isen Ukel Tutul dengan ciri khas batik pedalaman, dengan ornamen meru, garuda, burung, candi, dan lidah api. Batik ini berupa kain panjang bahan katun, batik tulis dan teknik celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Tanjung Bumi (Madura) motif Tambal Ubin bergaya pesisiran, berupa kain panjang bahan katun, pewarna alam, batik tulis, gabungan teknik colet dan celup. Kekhasan batik Madura adalah latar atau tanahannya yang disebut guri atau oret-oretan.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Jombangan motif Jombangan yang merupakan modifikasi motif yang ada di Candi Arimbi, berupa bahan baju katun, pewarna kimia, batik tulis, colet dan celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Semarangan motif Asem yang merupakan ciri khas Kota Semrang, berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Banten motif Pamarangan yang dikembangkan setelah menjadi provinsi yang terpisah dari Jawa Barat, berupa kain panjang bahan sutera, pewarna kimia, batik cap, colet celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Kudus motif Buketan dengan ciri khas motif rumit latar dan warna coklat latarnya, berupa sarung bahan katun.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Batang motif Kembang latar Gringsing sumbangan KADIN berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis celup. Gringsing merupakan motif tua yang ditemukan di beberapa arca candi dan digunakan pada kain batik Solo serta Yogyakarta.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Sidoarjo motif Udang latar Tanahan sumbangan Perusahaan Batik Kenongo, yang warna dan motifnya dipengaruhi batik Madura pada latarnya yang berwarna kekuningan. Batik ini berupa bahan baju sutera, pewarna kimia, batik tulis celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Banyumas motif Peksi latar Gedekan sumbangan Hadi Prijanto berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Juwana Pati motif Lok Chang atau Pangsi berupa selendang sutera, pewarna alam, batik tulis celup. Lok bararti biru dan chang sutera. Kain suteranya asal Tiongkok, dan motifnya dipengaruhi binatang mitos seperti kilin, dan burung Hong.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Pati motif Blebak Peksi Manyaran yang melambangkan anak laki yang sedang menuju kedewasaan, berupa sarung bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, celup, batik bakaran.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Udan Liris atau hujan gerimis yang melambangkan kesuburan dan keberkahan, berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis, colet celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Sido Wirasat yang bermakna nasihat orang tua kepada anaknya sebelum menikah, dengan ornamen garuda dalam bentuk sayap yang disebut lar, candi, kupu, dan tetumbuhan. Berupa kain panjang bahan katun, pewarna kombinasi, batik tulis celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Parang Kusuma (bunga) yang biasa dipakai permaisuri raja, berupa kain panjang bahan katun, batik tulis celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Parang Baris sumbangan Mien Soedarpo, yang diciptakan Hardjonagoro (Go Tik Swan) untuk Hartini Soekarno, berupa kain panjang bahan katun, pewarna kimia, batik tulis celup.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Surakarta motif Parang Barong berupa kain panjang bahan katun, pewarna alam, batik tulis celup. Motif larangan diciptakan oleh Sultan Agung, terinspirasi keindahan karang runcing laut selatan yang berbentuk runcing menyerupai parang karena kikisan ombak. Parang Barong hanya boleh digunakan raja dan istri sahnya.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Yogyakarta motif Parang Rusak Ceplok Mangkoro berupa kain panjang bahan katun, batik tulis celup. Motif ini sejenis dengan Parang Barong dengan ukuran lebih kecil, dan di dalamnya ada pula motif mangkoro (mahkota), biasa dipakai prajurit kerajaan saat berperang.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Yogyakarta motif Parang Curigo berupa kain panjang katun, pewarna kimia, batik tulis celup. Senjata dalam motif ini yang bisa berupa keris atau pisau bermakna jendak menaklukkan atau melawan hal yang tidak dikehendaki, atau sebagai perlindungan diri.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik Yogyakarta motif Tambal berupa kain panjang katun, batik tulis celup, terinspirasi dari kain suci yang terbuat dari beberapa kain yang digabung menjadi satu dan dipercaya bisa mengusir kejahatan. Motif tambal biasa diselimutkan pada orang yang sedang sakit.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Pemandangan pada ruang pamer Museum Batik Pekalongan dengan deretan kain batik panjang aneka motif yang dilekatkan pada silinder tinggi. Di depan setiap kain diletakkan penjelasan yang sangat membantu pengunjung, meski tidak didampingi oleh pemandu.

museum batik pekalongan

Beberapa buah salinan foto lawas juga dipajang di Museum Batik Pekalongan, diantaranya rumah bergaya kolonial milik pedagang batik keturunan Arab di Pekalongan, dan sentra Pasar Batik Pekalongan pada sekitar tahun 1950-1970-an.

museum batik pekalongan

Koleksi Museum Batik Pekalongan motif Jlamprang Kawungan yang elok sumbangan pecinta Batik, berupa batik cap, colet celup, dengan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang Tirta Teja sumbangan Hj Supariyah M dengan teknik pembuatan batik cap, colet, celup, dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Motif Jlamprang Cakar buatan tahun 1950, merupakan batik cap, celup, dengan pewarna kimia, yang merupakan sumbangan dari pecinta Batik.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang lainnya dengan teknik pembuatan batik tulis, colet, celup, dan menggunakan pewarna kimia. Bentuk bulatannya mengingatkan pada mata uang benggol.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Koleksi motif Jlamprang lainnya di Museum Batik Pekalongan koleksi Balgies Diab dengan teknik pembuatan batik cap, celup, dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang Cakar koleksi Tanti Lusiani dengan teknik pembuatan batik cap, colet, celup, dan pewarna kimia. Jlamprang adalah ragam hias batik yang ada di Pekalongan, dengan pusat pembuatannya ada di Desa Krapyak, Pekalongan Utara. Jlamprang adalah nama yang kini masih bisa ditemukan di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang yang telah berusia ratusan tahun. Ragam hias batik ini memiliki banyak varian, diantaranya adalah Jlamprang Rengganis, Cinde Wilis, Semangkan, dan Wijaya Kusuma.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang Kembang Cengkeh dengan teknik pembuatan batik cap, celup, dan pewarna kimia. Ada yang mengatakan kata Jlamprang memiliki arti gagah, yang terkesan dari tarikan garis pada ragam hiasnya.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Motif Jlamprang tahun 1950 dengan teknik pembuatan batik tulis, colet, celup, dengan pewarna kimia, sumbangan Syamsidar Isa.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang Kasar buatan tahun 1974 sumbangan R.A. Legitariningsih dengan teknik pembuatan batik tulis, celup, dan memakai pewarna kimia. Ragam hias Jlamprang juga ada di Surakarta dan Yogyakarta yang dikenal dengan nama nitik, namun dengan warna yang berbeda, yaitu umumnya Soga (coklat).

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Masih koleksi Batik motif Jlamprang lainnya sumbangan Syamsidar Isa, yang dibuat tahun 1950, berupa batik tulis, colet, celup, dengan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang lainnya koleksi Museum Batik Pekalongan dengan teknik pembuatan batik cap, colet, celup, dan pewarna kimia. Ragam hias Jlamprang dipengaruhi motif kain patola asal Gujarat, India, dengan ragam hias Hindu-Syiwa aliran Tantra.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang Belah Ketupa dengan teknik pembuatan batik tulis, colet, celup, dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik koleksi Balgies Diab di Musem Batik Pekalongan dengan motif Ragam Jlamprang berupa batik cap, celup, dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlampran Buketan koleksi Tanti Lusiani di Museum Batik Pekalongan dengan teknik batik cap, colet, celup dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang lainnya koleksi Balgies Diab di Museum Batik Pekalongan yang dibuat dengan teknik batik cap, colet, celup dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Foto antik keluarga pembatikan H. Ridwan Simbang Kulon, dengan ekspresi wajah datar, yang biasa ditemukan pada foto dokumentasi jaman dahulu.

museum batik pekalongan

Sepasang pengunjung melintas di lorong seberang melewati sejumlah koleksi batik yang ditata dengan cara yang cukup baik dan memudahkan pengunjung untuk menikmatinya.

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang Kotak Andang yang dibuat tahun 1960 sumbangan Fatchiyah A Kadir yang dibuat dengan teknik batik tulis, colet, celup dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Jlamprang Lereng buatan tahun 1970 yang dibuat dengan teknik batik kombinasi tulis dan cap, colet, celup, dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Bledhak dengan Kepala Dhlorong Kembang ukuran 199x107 cm sumbangan Marie Louise van Deden yang dibuat dengan teknik batik tulis, colet, celup, dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Kupu-Kupu dan Burung buatan tahun 1930 ukuran 168x107,5 cm sumbangan Afif Syakur yang dibuat dengan teknik batik tulis, colet, celup dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Mawar buatan tahun 1975 ukuran 200x103,5 cm sumbangan Brigitta Rahajoe yang dibuat dengan teknik batik cap, tembokan tangan, colet, celup dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Kupu-Kupu dan Burung ukuran 197x106,5 cm sumbangan Ida Hasyim Ning yang dibuat dengan teknik batik tulis, colet, celup, dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan dengan Kepala Dhlorong Kembang gaya Kelengan buatan tahun 1960 ukuran 203,5x105,5 cm sumbangan Afif Syukur yang dibuat dengan teknik batik tulis, celup dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan lainnya dengan Kepala Pasung Mainan ukuran 196x105 cm sumbangan Ainun Besari Habibie yang dibuat dengan teknik batik tulis, colet, celup, dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Anggrek dan Lili ukuran 196x108 cm yang dibuat dengan teknik batik tulis, colet, celup dan pewarna kimia, yang merupakan sumbangan Sa'adjah Munir Djody.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Janahan gaya Pagi Sore sumbangan keluarga Suharmoko ukuran 258x106 cm yang dibuat dengan teknik pembuatan batik tulis, colet, celup, dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Foto lawas keluarga pengusaha batik keturunan Belanda di Pekalongan yang bernama Eliza van Zuylen.

museum batik pekalongan

Foto kuno yang memperlihatkan suasana di workshop batik milik keluarga Oey Soe Tjoen di Kedungwuni.

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Bledhak gaya Kelengan buatan tahun 1930 ukuran 203x107,5 cm yang dibuat dengan teknik batik tulis, celup, dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan



Batik motif Buketan ukuran 190x105 cm yang dibuat dengan teknik batik tulis, colet, celup, dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Mawar Lili, Tulip, Anggrek ukuran 245x105 cm sumbangan keluarga Suharmoko yang dibuat dengan teknik batik cap, tembokan tangan, colet, celup, dan pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Batik motif Buketan Botan Latar Kawung buatan tahun 1930 ukuran 246x104 sumbangan Afif Siregar yang dibuat dengan teknik pembuatan batik kombinasi tulis dan cap, colet, celup, dan memakai pewarna kimia.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Pemandangan di ruang pamer ketiga dengan sebgian koleksi disimpan di dalam lemari kaca. Untuk menjaga agar batik tetap awet di ruang penyimpanan seperti ini biasanya menggunakan pengawat alami.

museum batik pekalongan

Lorong selasar Museum Batik Pekalongan dengan gaya kolonial yang kental. Ubin pada lantai tampakanya masih asli.

museum batik pekalongan

Suasana santai dan gembira terlihat di ruangan workshop batik saat sejumlah pelajar tengah belajar membatik secara gratis, dengan bimbingan seorang pengrajin wanita yang ramah. Semua pengunjung bisa belajar membatik secara gratis di tempat ini.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Ruangan workshop ini cukup luas, dengan beberapa blok papan kayu yang cukup untuk menampung beberapa puluh orang secara sekaligus untuk belajar membatik. Suasana di sini cukup nyaman, dan semua perlengkapan membatik, termasuk kainnya, telah disediakan di sini.

museum batik pekalongan

Sejumlah perlengkapan membatik tampak menggeletak setelah selesai digunakan untuk belajar, seperti canting, serta wajan berisi malam, dengan kompor yang masih menyala agar malam tetap cair dan siap digunakan.

museum batik pekalongan

Ruang terbuka di tengah Museum Batik Pekalongan ini cukup asri, dan memberi kesegaran setelah orang berada selama beberapa saat di dalam ruangan untuk memperhatikan koleksi bermacam batik yang dipamerkan.

museum batik pekalongan

Di lorong Museum Batik Pekalongan juga dipajang perlengkapan pemrosesan batik dalam ukuran asli yang dipergunakan dalam proses lanjutan setelah kain selesai dibatik dengan malam. Bahan yang digunakan dalam proses juga dipajang di tempat ini.

museum batik pekalongan

Bagian pencelupan kain. Setiap kain yang akan dicelup diberi warna master 1 gelas seperti naftol yang menjadi pewarna dasar ini.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Prasasti peresmian Museum Batik Pekalongan yang ditandatangani pada 12 Juli 2006 oleh SBY.

museum batik pekalongan

Salinan sertifikat atau inskripsi yang diterbitkan UNESCO dan ditandatangani pada 30 September 2009 oleh Direktur Jenderal UNESCO terkait Batik Indonesia sebagai warisan budaya.

museum batik pekalongan

Sertifikat yang ditandatangani Direktur Jenderal UNESCO yang memilih Museum Batik Indonesia untuk bekerja sama dalam melakukan pelatihan Batik Indonesia bagi anak sekolah dasar hingga politeknik sebagai bagian dalam menjaga warisan budaya.

museum batik pekalongan

Pandangan samping Museum Batik Pekalongan berlatar menara kembar masjid yang elok, serta kubah berwarna keemasan yang terlihat agung.

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

museum batik pekalongan

Info Pekalongan

Hotel di Pekalongan, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.