Museum Batik Danar Hadi Solo

Kunjungan kami berikutnya siang hari itu adalah melihat koleksi langka di Museum Batik Danar Hadi Solo, yang letaknya bersebelahan dengan toko Batik Danar Hadi dan Soga Resto, masih di kompleks House of Danar Hadi. Tiket masuk sebesar Rp25.000 per orang kami beli di kasir toko Batik Danar Hadi.

Pintu Museum Batik Danar Hadi Solo ada di dekat pintu masuk toko, terhubung dengan jalan masuk dan keluarnya. Seorang pemuda menunggu untuk memandu kami. Tas berikut kamera dititipkan, lantaran pengunjung dilarang memotret. Tak ada biaya tambahan untuk pemandu. Museum ini dibagi dalam beberapa ruang, memamerkan koleksi batik berbeda yang jumlahnya mencapai 10.000 lembar kain batik langka dari seluruh Indonesia, termasuk 1.500 kain batik dari awal abad ke-19. Museum Rekor Indonesia memasukkan Museum Batik Danar Hadi Solo sebagai museum dengan koleksi batik terbanyak di Indonesia.

Salah satu koleksi langka Museum Batik Danar Hadi Solo adalah Batik Belanda yang berkembang antara 1840 - 1910. Nama pada koleksi adalah nama noni pemilik perusahaan batik dan sekaligus desainernya, sedangkan pembatiknya orang lokal. Warnanya cerah karena berkembang di daerah pesisiran seperti Pekalongan. Batik Belanda di Museum Batik Danar Hadi semuanya asli dari tahun 1840. Pewarna dan malamnya asli alam, sehingga dipakai pengawet alami yaitu merica putih. Pengharumnya bunga ramping, yaitu mawar, melati, kenanga, irisan daun pandan, jeruk purut, dan diberi minyak serimpi, yang diganti setiap 3 minggu. Motif Batik Belanda ada yang mengadopsi dongeng Eropa, seperti Snow White dan Hansel & Gretel, serta ada juga koleksi bermotif Perang Diponegoro. Koleksi Batik Belanda didapatkan Santosa Doellah, pendiri dan Direktur Utama Batik Danar Hadi, lewat lelang di Christie pada tahun 1985-1986. Di belakang Museum Batik Danar Hadi terdapat bengkel kerja Batik Danar Hadi yang cukup luas. Hanya di tempat ini pengunjung diperbolehkan untuk memotret.

museum batik danar hadi solomuseum batik danar hadi solo
Dua wanita tengah membatik di bengkel kerja Museum Batik Danar Hadi Solo. Wanita pada foto kedua adalah satu diantara sedikit pembatik yang saya lihat tengah mengerjakan kain yang warna batiknya ditoreh langsung di atas pola batiknya. Sedangkan kebanyakan pekerja lainnya menorehkan malam untuk kemudian diproses lebih lanjut. Warna batik tulis langsung lazimnya cerah gaya pesisiran, berbeda dengan batik keraton yang dominan warga soga. Di Museum Batik Danar Hadi Solo ada yang disebut Batik Indonesia, yaitu gabungan warna pesisiran dengan motif keraton.

Pada bagian paling awal bengkel kerja ada beberapa pekerja tengah menyalin pola. Proses ini disebut nyorek atau proses menjiplak pola ke atas kain mori meniru pola motif yang sudah dibuat sebelumnya. Sebelum nyorek, dilakukan ngemplong. Kain mori dicuci untuk membuang kanji, dilanjutkan pengeloyoran atau memasukkan mori ke minyak jarak / kacang dalam abu merang agar lemas dan daya serap warna lebih tinggi. Kain lalu dikanji, dijemur, dan diemplong dimana kain mori dipalu untuk menghaluskan lapisan kain agar mudah dibatik.

museum batik danar hadi solo
Suasana bengkel kerja Museum Batik Danar Hadi Solo yang didominasi oleh pekerja wanita. Tangan telaten mereka melahirkan ragam batik yang diantaranya menjadi koleksi museum, seperti batik keraton dengan ciri warna Soga atau coklat. Ada filosofi dalam setiap motif batik keraton. Motif larangan (miring) seperti Parang Curiga (keris) dan Parang Sarpa (ular) dulu hanya boleh dipakai keluarga raja. Sekarang boleh asalkan tidak ke keraton. Abdi dalem memakai motifnya ceplok.

Koleksi batik untuk kemben juga ada di Museum Batik Danar Hadi Solo. Kemben tengahan warna biru atau coklat dipakai hanya oleh permaisuri. Sedangkan selir memakai kemben tanpa tengahan. Ada batik lamaran motif Satrio Manah untuk pria dan Semen Rante untuk wanita yang dilamar. Semen (persemaian) bermotif meru, dan rante simbol pengikat.

museum batik danar hadi solo
Foto bengkel kerja Museum Batik Danar Hadi Solo yang memperlihatkan kelengkapan peralatan dan bahan yang digunakan dalam proses membatik. Posisi para pembatik yang duduk di dingklik saya kira merupakan warisan dari jaman feodal, sebagai bentuk merendahkan diri kepada penguasa. Jaman sudah berubah, cara duduk mereka pun saya perlu diperbaiki agar lebih nyaman dalam bekerja, dan lebih bermartabat.

Di Museum Batik Danar Hadi Solo ada koleksi yang disebut motif Slobok, dari kata lobok atau longgar. Kain dengan motif Slobok dipakai untuk menutup mayit, maknanya agar si mayit diberi kelonggaran jalan dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kelonggaran hati. Kalau di Jogja, motif yang sama bermakna kelonggaran rejeki. Solo memang bermusuhan, setidaknya bersaing, dengan Jogja. Ada pula Dodot Ageng Parang Barong. Ageng artinya besar karena dibuat dari dua kain yang dijahit di tengah. Parang Barong artinya motif parang yang terbesar, karena parangnya memang sangat besar-besar. Tengahannya yang kosong disebut blumbangan yang bertujuan untuk menolak bala. Masih banyak lagi koleksi batik di Museum Batik Danar Hadi Solo. Koleksi batik lainnya adalah motif lereng, yaitu mirip parang hanya tidak ada mlinjon atau belah ketupat.

museum batik danar hadi solo
Bersebelahan dengan bengkel kerja batik tulis wanita adalah bengkel kerja batik cap yang semua pekerjanya laki-laki. Hawa panas membuat sebagian besar pekerja membuka pakaian atau melintingnya ke atas dada. Menarik melihat bagaimana mereka bekerja dengan sangat terampil sambil sesekali melantunkan tembang tradisional Jawa.

Di pojok ruangan dilakukan proses medel, yaitu mencelupkan kain yang dibatik ke cairan pewarna. Lalu Ngerok dan Mbirah, yaitu malam pada kain dikerok dan dibilas serta dianginkan. Selanjutnya Mbironi, yaitu menutupi warna biru dan isen-isen dengan malam, dan ngrining, yaitu mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif khusus. Berikutnya adalah Nyoga, yaitu mencelupkan kain ke campuran warna cokelat. Soga adalah sejenis kayu untuk mendapatkan warna cokelat, warna batik keraton. Proses terakhir disebut Nglorod, yaitu memasukkan kain ke dalam air mendidih untuk menghilangkan malam. Setelah itu kain dibilas dengan air bersih dan dianginkan sampai kering.

Museum Batik Danar Hadi Solo diresmikan pada 2002 oleh Megawati Soekarnoputri. Koleksi kainnya adalah koleksi pribadi H. Santosa Doellah. Ada yang dibuat di bengkel kerja Batik Danar Hadi, ada yang berasal dari koleksi keluarga yang ia beli lewat lelang atau cara lainnya. Ada pula batik yang ia peroleh dari pemberian tokoh-tokoh terkenal.

Museum Batik Danar Hadi Solo

Taut video Youtube di sini. Alamat : Jl Slamet Riyadi No 261, Solo, Jawa Tengah. Telp 0271-714326, fax 0271-714253. Lokasi GPS : -7.568874, 110.815852, Waze. Harga tiket masuk : Rp.25.000. Rujukan : Hotel di Solo, Tempat Wisata di Solo, Peta Wisata Solo.

Disarankan untuk Anda