Museum Purbakala Patiayam Kudus

November 16, 2019. Label:
Sungguh tak terpikirkan bahwa ada Museum Purbakala Patiayam Kudus di daerah Wali dan rokok kretek ini. Dalam perjalanan sempat ada perasaan kurang yakin tentang apa yang akan kami lihat, karena tak pernah terekam dalam ingatan adanya situs purbakala besar di wilayah Kudus. Bicara purbakala, tak bisa tidak ingatan orang pasti akan meluruk ke Museum Purbakala Sangiran Sragen, bukan ke Kudus. Namun Kudus ternyata punya museum purbakala yang sangat mengesankan.

Lokasi Museum Purbakala Patiayam Kudus berada agak jauh di luar pinggir kota, berjarak sekitar 13 Km dari Masjid Menara atau 15 Km dari Museum Kretek. Google Maps menandai jalan antar provinsi ke arah luar kota Kudus itu sebagai Jl Raya Pati-Kudus, namun ada ruas yang ditulis sebagai Jalan Tuban - Semarang. Sedangkan Wikimapia menandainya sebagai Jl Raya Jekulo.

Entah mana yang benar. Kami menyimpang ke kiri dari jalan besar dan masuk ke jalan kecil di GPS -6.8024065, 110.9378064, yaitu sekitar 1,3 km setelah melewati Kantor Kecamatan Jekulo yang bersebelahan dengan SMA 1 Jekulo. Dari belokan kami masih berkendara 950 meter lagi sebelum sampai di area museum yang sekelilingnya waktu itu masih banyak tanah kosong, dengan pepohonan yang belum begitu rimbun.

museum purbakala patiayam kudus

Tengara nama Museum Purbakala Patiayam Kudus yang dibuat dari logam anti karat berkualitas baik. Hanya saja taman di sekitarnya belum dirawat sehingga terkesan kurang rapi dan sedikit gersang. Memang sudah lama tak turun hujan, oleh sebab saat itu masih berada di akhir musim kemarau. Gedung museum masih masuk 100 meter dari tepi jalan desa.

Penelitian terhadap Situs Patiayam rupanya sudah berlangsung sejak tahun 1857 saat Frans Wilhem Junghuhn mengumpulkan fosil-fosil di Pegunungan Patiayam, Kendeng. Lalu pada 1893 de Winter melakukan ekspedisi mengumpulkan fosil di Pegunungan Patiayam, dan pada 1931 peneliti asal Belanda Van Es menemukan sembilan jenis fosil hewan vertebrata di sana.

Penelitian terhadap situs ini berlanjut pada tahun 1978, 1983, dan 2005 hingga sampai sekarang. Daerah Patiayam memiliki enam lapisan batuan hasil kegiatan vulkanik Gunung Patiayam dan Gunung Muria. Urutan dari yang tertua adalah Formasi Jambe (5 juta tahun lalu), Formasi Kancilan (1,5 juta tahun lalu), Formasi Slumprit (700 ribu tahun lalu), Formasi Kedungmojo (500 ribu tahun lalu), Formasi Sukobubuk (200 ribu tahun lalu) dan Endapan (Alluvial) Sungai Kancilan dan Sungai Ampo.

Lokasi Situs Patiayam berada di daerah pegunungan di lereng selatan Gunung Muria, yang sebagian wilayahnya berada di Kabupaten Kudus dan sebagian lagi ada di Kabupaten Pati. Situs ini secara morfologis merupakan kubah dengan puncak tertinggi Bukit Patiayam pada ketinggian 350 mdpl (meter di atas permukaan laut).

museum purbakala patiayam kudus

Begitu masuk ke dalam ruangan Museum Purbakala Patiayam, pandang mata langsung tertumbuk pada sepasang fosil gading gajah purba (Stegodon trigonocephalus) yang berukuran sangat besar. Ini rupanya yang menjadi primadona museum. Di bawahnya ada temuan tulang bagian-bagian tubuh lainnya. Fosil ini merupakan temuan pada Formasi Slumprit (pleistonsen bawah) dengan kisaran umur 750.000 - 1,5 juta tahun.

Fosil gajah purba yang masih dalam kondisi cukup baik dan elok ini ditemukan oleh seorang penduduk bernama Karmijan pada 4 Maret 2008 ketika ia sedang menggarap ladang Perhutani di Gunung Slumprit, Patiayam. Panjang fosil mencapai 3,7 m, dengan diameter 17 cm dan garis lingkar 55 cm. Fosil ini berhasil dikonservasi oleh Museum Ranggawarsita Semarang.

Kapak batu, beliung batu persegi dan sejumlah alat terbuat dari batu lainnya juga bisa dijumpai di Museum Purbakala Patiayam Kudus, yang menjadi bukti adanya kehidupan manusia purba di sana. Keberadaan manusia purba di Patiayam juga dibuktikan dengan penemuan gigi prageraham dan fragmen atap tengkorak pada 1978 oleh Sartono. Fragmen itu seumuran dengan Homo erectus dari Sangiran yang hidup pada masa Plestosen Tengah.

Meskipun luas area tanahnya tak kalah dengan Museum Sangiran, namun luas bangunan museum di Kudus ini masih kalah jauh. Model bangunannya juga lebih sederhana bergaya minimalis dengan kaca besar di bagian depan. Sekitar 1,5 Km dari museum ke arah utara sebenarnya ada gardu pandang Situs Patiayam, namun saat pulang kami lupa mampir ke sana.

Ada baiknya kalau dibuat semacam poster promosi yang cukup mencolok di Museum Purbakala Patiayam Kudus yang memuat foto dan informasi singkat serta petunjuk jalan ke gardu pandang Situs Patiayam, yang akan memperbesar peluang bagi para pelancong untuk berkunjung ke sana. Hal yang baik adalah sejak 22 September 2005 situs Patiayam telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Kerangka lengkap gajah purba di museum ini mengingatkan saya pada kerangka di Museum Geologi Bandung. Di latar belakang kanan adalah ibu petugas Museum Purbakala Patiayam Kudus yang tengah berjaga saat itu. Di lemari pamer dipajang fosil rahang bawah (mandibula) gajah purba, diletakkan berdekatan dengan fosil tulang paha (femur), dan tulang lengan.

Agak jauh di sebelah kirinya ada fosil tulang panggul (pelvis) dari gajah yang sama. Bergeser sedikit ada tiruan Situs Patiayam dalam skala kecil, dengan dengan serak fosilnya. Sebuah poster yang dipajang berisi kisah menarik tentang kejadian 400.000 tahun silam saat Gunung Muria bangun dari tidur dan meletus sangat hebat.

Ketika itu Pulau Muria masih terpisah dari Pulau Jawa. Letusan dahsyat itu mengubur seekor gajah jenis Elephas namadicus, yang fosilnya baru ditemukan pada tahun 2007 oleh para peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Ada pula fosil kepala banteng (Bibos palaeosondaicus), yang terlihat sangat tua namun kondisinya masih bagus, fosil tulang tulang kaki kirinya, tulang belakang, tulang persendian dan tulang kering bagian kanan.

Di Museum Purbakala Patiayam juga dipajang fosil tempurung atas penyu, gigi Hiu sapi, gigi buaya, sisik ikan bertulang keras, sejumlah fosil kerang laut, yang digunakan oleh manusia purba, tempurung kepala dan tulang kaki harimau, tulang kering dan tengkorak rusa, tulang kaki dan gigi kuda, fosil kepala kerbau, dan banyak lagi.

Museum Purbakala Patiayam Kudus

Alamat : Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Lokasi GPS : -6.7937559, 110.9385681, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 08.00 - 16.00.

Galeri Foto Museum Purbakala Patiayam

Seorang ibu bersama anak perempunnya berjalan meninggalkan area dimana dipajang kerangka lengkap seekor gajah purba yang tak kalah mengesankan, mengingatkan saya pada kerangka di Museum Geologi Bandung. Di latar belakang kanan adalah ibu petugas Museum Purbakala Patiayam Kudus yang tengah berjaga saat itu. Di lemari pamer dipajang fosil rahang bawah (mandibula) gajah purba, diletakkan berdekatan dengan fosil tulang paha (femur), dan tulang lengan.

museum purbakala patiayam kudus

Kapak batu, beliung batu persegi dan sejumlah alat terbuat dari batu lainnya di Museum Purbakala Patiayam Kudus, yang menjadi bukti adanya kehidupan manusia purba di sana. Keberadaan manusia purba di Patiayam juga dibuktikan dengan penemuan gigi prageraham dan fragmen atap tengkorak pada 1978 oleh Sartono. Fragmen itu seumuran dengan Homo erectus dari Sangiran yang hidup pada masa Plestosen Tengah.

museum purbakala patiayam kudus

Sudut pandang lainnya pada tengara nama Museum Purbakal Patiayam Kudus, dengan area pada bagian depan museum yang sangat luas terlihat di latar belakang.

museum purbakala patiayam kudus

Papang tengara di tepi jalan desa yang menunjukkan arah ke museum dan arah ke gardu pandang Situs Patiayam.

museum purbakala patiayam kudus

Jadwal Piket delapan penjaga atau petugas Museum Purbakala Patiayam, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi, ditempel pada dinding kaca depan. Sebuah langkah sederhana namun sangat penting karena sangat memudahkan bagi pengunjung.

museum purbakala patiayam kudus

Catatan mengenai sejarah penemuan fosil gading gajah purba yang menjadi masterpiece dari Museum Purbakala Patiayam.

museum purbakala patiayam kudus

Sudut pandang berbeda pada fosil gading serta tulang belulang bagian tubuh lainnya dari gajah purba (Stegodon trigonocephalus)

museum purbakala patiayam kudus

Pandangan dekat pada fosil tulang paha (femur) dari gajah purba (Stegodon trigonocephalus) di Museum Patiayam.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil tulang lengan (humerus) gajah purba (Stegodon trigonocephalus) yang berusia sekitar sejuta tahunan.

museum purbakala patiayam kudus

Penampakan pada fosil tulang pinggul (pelvis) gajag purba koleksi Museum Purbakala Patiayam.

museum purbakala patiayam kudus

Sudut pandang yang memperlihatkan besarnya lingkaran pada pangkal gading gajah purba di Museum Purbakala Patiayam. Koleksi ini sungguh sangat mengesankan, dan bisa dibayangkan bagaimana kehidupan purba di tempat ini dengan adanya satwa gajah dengan gading sebesar ukuran itu.

museum purbakala patiayam kudus

Pajangan berupa tiruan salah satu area ekskavasi di Situs Patiayam dalam skala kecil, lengkap dengan dengan serak fosilnya.

museum purbakala patiayam kudus

Sudut pandang berbeda pada miniatur area ekskavasi di Situs Patiayam. Sayang saya tak sempat melihat area ekskavasi di lokasi aslinya.

museum purbakala patiayam kudus

Poster berisi kisah menarik tentang kejadian 400.000 tahun silam saat Gunung Muria bangun dari tidur dan meletus sangat hebat. Ketika itu Pulau Muria masih terpisah dari Pulau Jawa. Letusan dahsyat itu mengubur seekor gajah jenis Elephas namadicus, yang fosilnya baru ditemukan pada tahun 2007 oleh para peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

museum purbakala patiayam kudus

Poster mengenai situs Patiayam, yang disebut merupakan daerah pegunungan di lereng selatan Gunung Muria, yang sebagian berada di Kabupaten Kudus dan sebagiannya lagi berada di Kabupaten Pati. Situs Patiayam secara morfologis merupakan sebuah kubah dengan puncak tertinggi Bukit Patiayam yang berada pada ketinggian 350 mdpl. Poster ini menyebut bahwa bergabungnya Gunung Muria secara permanen dengan pulau Jawa baru terjadi pada abad ke-17.

museum purbakala patiayam kudus

Daerah Patiayam memiliki enam lapisan batuan hasil kegiatan vulkanik Gunung Patiayam dan Gunung Muria. Urutan dari yang tertua adalah Formasi Jambe (5 juta tahun lalu), Formasi Kancilan (1,5 juta tahun lalu), Formasi Slumprit (700 ribu tahun lalu), Formasi Kedungmojo (500 ribu tahun lalu), Formasi Sukobubuk (200 ribu tahun lalu) dan Endapan (Alluvial) Sungai Kancilan dan Sungai Ampo.

museum purbakala patiayam kudus

Poster yang memperlihatkan potensi Situs Patiayam dilihat dari sisi arkeologi, paleoanthropologi, dan fosil fauna. Rekaman kehidupan fauna di situs ini disebut mencerminka adanya perubahan lingkungan yang pernah terjadi di sana. Ada fosil laut moluska, ikan hius, buaya, penyu, babi, kuda sungai, gajah, kerbau - banteng, dan rusa.

museum purbakala patiayam kudus

Sejumlah fosil yang dipajang di Museum Purbakala Patiayam, yaitu tempurun atas penyu air tawar (Trionyc sp), tempurun atas kura-kura (Testudinidae), gigi Hiu Makarel (Isurus sp), gigi Hiu sapi (Notorhynchus sp), gigi buaya (Crocodillus), dan sisik ikan bertulang keras (Osteichtyes). Ini menunjukkan bahwa pada masa lalu wilayah Patiayam pernah berada di bawah permukaan air laut.

museum purbakala patiayam kudus

Sejumlah fosil kerang laut yang kondisinya terlihat sangat baik. Ini juga menjadi bukti bahwa Patiayam dahulu terendam air laut.

museum purbakala patiayam kudus

Poster yang menunjukkan adanya kehidupan manusia purba dengan budaya dari jaman dahulu dengan ditemukannya sejumlah alat-alat batu, meskipun fosil manusia purbanya (Hominid) belum ada yang ditemukan di sana.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil rahang bawah (mandibula) dari gajah purba yang diletakkan di bawah gading. Di sebelahnya dipajang fosil tulang paha (femur), dan tulang lengan. Agak jauh di sebelah kirinya ada fosil tulang panggul (pelvis) dari gajah yang sama. Penemuan fosil gajah purba yang cukup lengkap.

museum purbakala patiayam kudus

Temuan kapak genggam dari batu di Situs Patiayam.

museum purbakala patiayam kudus

Temuan yang disebut Batu Inti, bentuknya mengingatkan pada otak manusia. Batu ini adalah bahan baku yang dipangkas untuk pembuatan alat atau untuk menghasilkan serpih atau bilah yang kemudian dijadikan alat.

museum purbakala patiayam kudus

Koleksi museum berupa beliung persegi yang terbuat dari batu.

museum purbakala patiayam kudus

Pandangan dekat pada fosil gigi buaya dan fosil sisik ikan bertulang belakang.

museum purbakala patiayam kudus

Pandangan dekat pada fosil tengkorak harimau (Felidae) dan kaki kiri bagian depan (ulna sinistra) harimau.

museum purbakala patiayam kudus

Koleksi museum berupa tengkorak dan tanduk rusa (cranium dan antler Cervus), serta tulang kering rusa (tibia cervus).

museum purbakala patiayam kudus

Koleksi fosil tulang kaki Kuda Air (metacarpal Hexaprotodon Sivalensis), dan gigi (molar) kuda air.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil rahang bawah sebelah kanan Badak (mandibula dextra Rhinoceros sp).

museum purbakala patiayam kudus

Sebuah poster yang menggambarkan geo-paleontologi Situs Patiayam, dimana para peneliti berusaha menemukan fauna Jawa yang kini telah punah.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil kepala kerbau (cranium Babus palaeokerabau)

museum purbakala patiayam kudus

Fosil tulang kaki bagian depan sebelah kiri (humerus sinistra) kerbau.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil bagian kaki kiri (metatarsal sinistra) banteng.

museum purbakala patiayam kudus

Rentetan fosil tulang bagian kaki kiri, tulang persendian (atragalus dextra), dan tulang kering bagian kanan (tibia dextra) dari banteng.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil tulang belakang (vertebrae thoracalis) banteng.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil kepala banteng (Bibos palaeosondaicus) yang terlihat sangat tua namun kondisinya masih cukup bagus. Dipajang pula fosil tulang tulang kaki kirinya, tulang belakang, tulang persendian dan tulang kering bagian kanan.

museum purbakala patiayam kudus

Pandangan lebih dekat pada sebagian kerangka gajah purba. Di belakangnya adalah poster yang berisi riwayat penelitian Situs Patiayam.

museum purbakala patiayam kudus

Tampak depan kerangka gajah purba yang terlihat sangat mengesankan.

museum purbakala patiayam kudus

Koleksi ini masih disimpan di dalam gudang, berupa fosil rahang atas dari Stegodon.

museum purbakala patiayam kudus

Sudut pandang lain pada fosil rahang atas Stegodon (gajah purba).

museum purbakala patiayam kudus

Fosil gading gajah yang masih tergeletak di dalam ruang penyimpanan sementara, menunggu dikonservasi.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil gading gajah dalam jumlah cukup banyak, serta ada pula fosil tengkorak kepala banteng dan banyak lagi fosil lainnya.

museum purbakala patiayam kudus

Ibu petugas, yang kalau tak salah ingat bernama Siti Asmah, tengah memperlihatkan fosil tanduk rusa yang masih disimpan di dalam gudang penyimpanan.

museum purbakala patiayam kudus

Fosil gading gajah yang lancip, serta fosil gading lainnya yang masih belum sepenuhnya dibersihkan dari endapan batu vulkanik yang menempel.

museum purbakala patiayam kudus

Ada lebih dari 1500 fosil yang menjadi koleksi Museum Purbakala Patiayam, dan hanya sebagian yang dipamerkan karena terbatasnya ruang, serta belum semua temuan dibersihkan.

museum purbakala patiayam kudus

Pemandangan pada halaman depan Museum Purbakala Patiayam Kudus, dengan sejumlah pohon randu yang telah berbunga.

museum purbakala patiayam kudus

Tampak samping bangunan Museum Purbakala Patiayam Kudus yang boleh dibilang masih sederhana.

museum purbakala patiayam kudus

Foto satu lagi gading gajah purba di Museum Purbakala Patiayam. Jika satwa super besar ini masih hidup hari ini, tak bisa dibayangkan habitat seperti apa yang mereka butuhkan untuk hidup, sementara kawasan hutan semakin menipis dimakan oleh permukiman manusia. Jika pun dipiara di kebun binatang, entah bangunan seperti apa yang bisa tahan terhadap terjangannya.

museum purbakala patiayam kudus

Info Kudus

Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑