Museum Kretek Kudus

November 16, 2019. Label:
Menjelang tengah hari kami tiba di Museum Kretek Kudus, sebuah museum yang bangunan utamanya berada di area sangat luas, dipadu sejumlah fasilitas untuk memikat pengunjung dari segala jenjang usia. Jika sudah di kota ini memang wajib berkunjung ke museum kretek, seperti jika ke Jakarta maka wajib ke Museum Nasional atau Monumen Nasional, karena Kudus tak bisa dipisahkan dengan sejarah rokok kretek.

Generasi yang lahir tahun 50-an, 60-an, dan bahkan 70-an sedikit banyak pernah mengenal dan menghisap rokok. Jaman tahun 60-an hingga awal 70-an masih gampang ditemui penjual tembakau, kertas papir, klobot, klembak dan menyan, untuk meramu rokok dan melinting sendiri. Kini toko seperti itu sudah sulit ditemui. Rokok klembak menyan sepertinya juga hilang ditelan jaman, tinggal rokok kretek dan rokok putih yang masih bertahan.

Tanah dimana bangunan Museum Kretek Kudus ini setidaknya berukuran 130 lebar x 200 meter ke dalam, atau seluas 2,5 ha. Selain bangunan utama museum, di sebelahnya juga ada bangunan untuk tempat pemutaran film dokumenter dan di sisi utara ada bangunan elok rumah tradisional Kudus. Di bagian belakang museum terdapat waterboom dengan lintasan kanal air, serta ember tumpah.

museum kretek kudus

Tampak depan bangunan utama Museum Kretek Kudus yang nyaris berbentuk limasan tumpang namun lebih tepat disebut trapesium tumpang. Pada halamannya yang luas terdapat tengara nama dan patung yang menggambarkan suasana saat seorang ibu mengangsurkan segelas minuman pada seorang pria disaksikan anak laki-lakinya. Mungkin keluarga petani tembakau.

Di sebelah kanan halaman rumput luas ini terdapat area bermain anak-anak. Ada rumah panggung, ayunan, prosotan, kereta, dan sejumlah permainan lainnya. Suasana cukup ramai. Ada pula kios minuman dan jajanan. Sebuah Dokar Wisata Museum Kretek tampak tengah menunggu penumpang. Setelah puas melihat area sekitar kami pun masuk ke dalam ruang museum dengan logo daun tembakau dan cengkeh di atas pintunya.

Ada prasasti menempel dinding yang menandai peresmian oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam pada tanggal 3 Oktober 1986. Museum ini didirikan atas prakarsanya, terinspirasi saat berkunjung ke Kudus dan melihat kontribusi usaha rokok kretek pada perekonomian. Museum Kretek Kudus didirikan dengan dukungan biaya dari Persatuan Pengusaha Rokok Kudus.

Di tengah ruangan ada patung beberapa orang wanita dengan rambut disanggul yang tengah bekerja dalam rantai proses pembuatan rokok. Ada pula pajangan patung seorang bapak tua yang tengah menunggui rombong rokok miliknya. Rombong sederhana seperti itu menjadi salah satu ujung tombak pemasaran yang efektif dalam menjangkau konsumen.

museum kretek kudus

Kotak pamer berisi bungkus semua merk rokok klobot yang pernah dibuat di Kudus dan kota lainnya. Klobot adalah kulit jagung yang sudah dikeringkan dan digunakan untuk melinting atau membungkus rokok. Diantaranya ada rokok Diponegoro dan Tjap Kaki Tiga buatan NV Moeria dan rokok klobot Tjap Bulatan Tiga (Bal Tiga) buatan M. Nitisemito.

Di dekatnya dipajang bungkus-bungkus rokok sigaret kretek mesin, mungkin termasuk isi rokoknya, diantaranya buatan Djarum, Sukun, Jambu Bol, HM Ali Asikin, Minak Djinggo, dan Delima. Dipajang pula sigaret kretek (lintingan) tangan, baik buatan pabrik rokok terkenal dan masih bertahan hingga sekarang, maupun yang sudah tutup dan tinggal namanya saja.

Perokok pertama di dunia konon adalah orang Indian di Amerika yang mereka pakai untuk ritual memuja roh. Pada abad 16, orang Eropa yang ke Amerika dan bertemu orang Indian mulai menghisap rokok. Mereka kemudian membawa tembakau ke Eropa dan menjadi populer di kalangan orang kaya dan bangsawan. Pada abad 17 para pedagang Spanyol mulai masuk ke Turki seraya memperkenalkan rokok, dan sejak itu rokok menyebar ke berbagai wilayah di dunia lewat perdagangan, termasuk Nusantara.

Museum Kretek Kudus merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia sebelum dibukanya House of Sampoerna Surabaya pada tahun 2003. Museum ini menyimpan 1.195 koleksi mengenai sejarah kretek, termasuk peralatan tradisional, rokok berbagai merk, foto dokumentasi dan benda bersejarah, benda promosi, patung serta contoh cengkeh dan berbagai grade tembakau asal sejumlah daerah. Ada pula gerai souvenir, mushola, kantin dan kios kuliner.

Meskipun umumnya orang tahu bahaya merokok bagi kesehatan, namun jumlah perokok aktif di Indonesia diperkirakan masih sekitar 60 juta orang, termasuk tertinggi di dunia. Harus diakui ada kenikmatan dalam menghisap merokok, apalagi dalam kondisi psikologis dan lingkungan udara tertentu. Jika pun tak bisa menghilangkan kebiasaan merokok, menguranginya bisa jadi pilihan, karena apa pun jika dikonsumsi secara berlebihan pasti ada dampak buruknya.

Salah satu diorama memperlihatkan kesibukan rakyat dalam proses pengolahan cengkeh sebagai salah satu bahan penyusun utama rokok kretek. Ada pula diorama pengolahan daun tembakau, dan diorama proses pengolahan bahan pembungkus rokok klobot. Dahulu daun tembakau cukup diiris dengan pisau atau alat pemotong sederhana dan lalu dijemur hingga kering. Untuk mendapat kualitas tembakau yang baik biasanya tembakau disimpan selama sekitar 3 tahun sebelum digunakan. Sedangkan cengkeh disimpan selama setahun sebelum dirajang dan dikeringkan.

Di Museum Kretek Kudus ada pula patung Nitisemito, perintis industri rokok kretek Kudus, yang lahir dengan nama Rusdi di Desa Janggalan, Kudus, pada tahun 1874. Ia anak bungsu H Soelaeman dan Markanah. Meski anak lurah ia tak pernah sekolah yang membuatnya tak bisa baca tulis, namun ia punya semangat kuat untuk maju. Pada usia 17 tahun ia merantau ke Malang dan bekerja sebagai buruh jahit yang perlahan berkembang menjadi pengusaha pakaian jadi.

Setelah usahanya bangkrut ia kembali ke Kudus menjadi pedagang kerbau dan membuat minyak kelapa. Bangkrut lagi ia pun menjadi kusir dokar sambil berjualan tembakau, dan saat itulah ia berkenalan dengan Mbok Nasilah. Di warungnya, Nasilah menyuguhkan rokok kretek klobot yang diraciknya (kini toko kain Fahrida di Jl Sunan Kudus) untuk menggantikan kebiasaan nginang para kusir dokar yang sering mampir ke warungnya agar tempatnya tidak kotor.

Rokoknya ternyata disukai pedagang keliling dan para kusir dokar, termasuk Nitisemito. Riwayat rokok kretek sendiri berawal dari Haji Djamari, penduduk asli Kudus. Suatu hari ia mengoleskan minyak cengkeh yang membuat sakit di dadanya mereda. Djamari pun mencoba merajang cengkeh, mencampurnya dengan tembakau dan dilintingnya menjadi rokok.

Setelah teratur menghisap rokok cengkeh buatannya dan merasa sakit dadanya hilang, Djamari pun memberitahu kerabatnya. Beritanya menyebar cepat dan Djamari pun sibuk melayani permintaan "rokok obat" ini. Karena cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi "keretek" saat dihisap, rokok Djamari kemudian dikenal sebagai "rokok kretek". Djamari yang asal-usulnya samar itu kabarnya meninggal pada tahun 1890.

Ketika berusia 31 tahun Nitisemito menikahi Nasilah dan mereka sepakat untuk berjualan rokok kretek. Dimulai tahun 1906 Nasilah meracik rokok dari campuran tembakau, cengkeh, dan saus yang dibungkus klobot, sementara Nitisemito memasarkannya dengan merk Kodok Nguntal Ulo (katak telan ular). Karena menjadi bahan tertawaan dan dianggap tak membawa keberuntungan maka merk diubahnya pada 1908 menjadi Tjap Bulatan Tiga, yang populer sebagai Tjap Bal Tiga. Tahun 1914 merupakan puncak keberhasilan usaha rokok Nitisemito.

Ia membangun pabrik seluas 6 ha di Desa Jati, Kudus, dengan karyawan lebih dari 15.000 orang, belum termasuk tenaga kerja bon. Daerah pemasarannya menjangkau kota-kota di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga ke negeri Belanda. Berbagai macam promosi kreatif digunakannya untuk memasarkan rokoknya, termasuk menyewa pesawat Fokker, memberi souvenir, menjadi sponsor tunggal pasar malam, pertunjukan tradisional, dll.

Pada 1938 usaha rokok Nitisemito mulai surut akibat perseteruan keluarga, diperburuk dengan masuknya tentara Jepang pada saat meletusnya Perang Pasifik. Meski pada 1953 Bal Tiga dinyatakan jatuh pailit, namun nama Nitisemito akan tetap dikenang sebagai perintis industri Rokok Kudus yang tangguh.

Museum Kretek Kudus

Alamat : Jl. Getas Pejaten No. 155, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Telepon: 0291 440545. Lokasi GPS : -6.8264344, 110.8378887, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : setiap hari 07.30 – 16.00. Harga tiket masuk : Minggu dan libur nasional Rp. 2.000, Senin s/d Sabtu Rp 1.500.

Galeri Foto Museum Kretek

Patung Nitisemito, perintis industri rokok kretek Kudus, yang lahir dengan nama Rusdi di Desa Janggalan, Kudus, pada tahun 1874. Ia anak bungsu H Soelaeman dan Markanah. Meski anak lurah ia tak pernah sekolah yang membuatnya tak bisa baca tulis, namun ia punya semangat kuat untuk maju. Pada usia 17 tahun ia merantau ke Malang dan bekerja sebagai buruh jahit yang perlahan berkembang menjadi pengusaha pakaian jadi.

museum kretek kudus

Salah satu diorama yang memperlihatkan kesibukan rakyat dalam proses pengolahan cengkeh sebagai salah satu bahan penyusun utama rokok kretek. Ada pula diorama pengolahan daun tembakau, dan diorama proses pengolahan bahan pembungkus rokok klobot. Dahulu daun tembakau cukup diiris dengan pisau atau alat pemotong sederhana dan lalu dijemur hingga kering. Untuk mendapat kualitas tembakau yang baik biasanya tembakau disimpan selama sekitar 3 tahun sebelum digunakan. Sedangkan cengkeh disimpan selama setahun sebelum dirajang dan dikeringkan.

museum kretek kudus

Pada sisi sebelah kanan halaman rumput Museum Kretek yang luas ini terdapat area bermain anak-anak. Ada rumah panggung dengan tangga dan jala, ayunan, prosotan, kereta mini, dan sejumlah permainan anak lainnya. Ada pula kios-kios minuman dan jajanan ringan di dalam area ini.

museum kretek kudus

Gapura paduraksa di sebelah kiri dan Rumah Adat Kudus yang elok terlihat di sebelah kanan. Sayang rumah tradisional itu ditutup sehingga orang hanya bisa melihat ukiran pada pintu dan dinding bagian luar.

museum kretek kudus

Sebuah Dokar Wisata Museum Kretek tampak tengah menunggu penumpang. Dokar memiliki arti sendiri bagi industri rokok Kudus, karena sang perintis, Nitisemito, pernah menjadi kusir dokar, dan pekerjaannya itu yang mempertemukannya dengan mbok Nasilah. Berdua mereka kemudian memulai usaha membuat dan menjual rokok kretek hingga menjadi industri yang mempekerjakan lebih dari 15.000 karyawan.

museum kretek kudus

Nama dan lambang museum kretek yang dipasang pada bagian atas pintu masuk. Di dalam rantai yang sepertinya menggambarkan persatuan itu ada sepasang daun tembakau dan tangkai berisi tiga bunga cengkeh.

museum kretek kudus

Prasasti yang menempel dinding, menandai acara peresmian dibukanya museum oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam yang berlangsung pada tanggal 3 Oktober 1986. Museum ini didirikan atas prakarsa Soepardjo Rustam terinspirasi saat ia berkunjung ke Kudus dan melihat kontribusi usaha rokok kretek pada perekonomian daerah setempat.

museum kretek kudus

Miniatur gerobag andong yang merupakan alat angkut tradisional pada jaman dahulu. Gerobag andong digunakan untuk mengangkut hasil produksi rokok dari rumah atau pabrik untuk dikirim pe pasar-pasar dan para pedagang rokok.

museum kretek kudus

Patung seorang bapak tua berkopiah dan sarungan yang menunggui rombong rokok miliknya. Rombong seperti ini menjadi ujung tombak pemasaran para produsen rokok kretek dalam menjangkau konsumen.

museum kretek kudus

Banyak merk rokok yang namanya sudah terlihat asing, namun ada juga merk-merk terkenal yang masih beredar hingga sekarang. Diantara yang terlihat di sana adalah rokok Empat Lima, Bomber, Pahala, Djarum Super, Djinggo, Pahala, Sukun, Bintang, A Mild, WiscocoK, Klampok, Makmur Jaya, dan banyak lagi lainnya.

museum kretek kudus

Dus-dus rokok yang dijual kepada para pedagang untuk kemudian dibuka dan dijual per bungkus, atau bahkan batangan. Namun orang yang punya uang juga banyak yang membeli sekaligus dalam dus besar seperti ini.

museum kretek kudus

Pajangan pada bungkus-bungkus rokok sigaret kretek mesin. Masuknya mesin ke industri rokok tidak dengan serta merta mematikan rokok yang dibuat secara manual oleh karyawan yang sebagian besarnya adalah wanita.

museum kretek kudus

Contoh-contoh rokok sigaret kretek tangan. Rokok-rokok itu tak sepenuhnya dikerjakan oleh tangan, namun ada alat sederhana yang dipakai untuk membantu meringankan pekerjaan dan untuk mempercepat pembuatan rokok.

museum kretek kudus

Di tengah ruangan ada patung sejumlah wanita dengan rambut disanggul yang tengah bekerja dalam rantai proses pembuatan rokok. Di ujung sana adalah salah satu diorama yang cukup indah dan menarik.

museum kretek kudus

Sebuah poster yang menceritakan sejarah kretek yang dibuat dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Adalah Jamhari, penduduk asli Kudus yang dianggap sebegai penemu rokok kretek. Sebelum mencampur cengkeh ke dalam rokok, Jamhari pernha mencoba mengunyah cengkeh dan hasilnya lebih baik daripada jika hanya mengolesi dadanya yang sakit.

museum kretek kudus

Dokumentasi foto pabrik Rokok Bal Tiga di Jl Agil Kusumadya, di seberang Kantor PLN, seluas 6 ha. Pada puncak karirnya, Nitisemito mempekerjakan lebih dari 15.000 karyawan.

museum kretek kudus

Foto dokumentasi yang memperlihatkan salah satu usaha Nitisemito dalam mendukung kampanye promosi rokoknya. Ia membeli bus yang dirancang khusus untuk melanglang dari kota ke kota di seluruh Pulau Jawa untuk mempromosikan rokok kretek yang dibuatnya. Bus ini memiliki kaca sangat besar sehingga hadiah-hadiah promosinya bisa terlihat dengan jelas. Pelanggan tinggal antri dan menukar bungkus rokok dengan hadiah menarik yang dipajang di sana.

museum kretek kudus

Salah satu dari rumah kembar milik Nitisemito yang dibangun untuk kedua puterinya, yaitu Nafiah dan Nahari, ketika mereka menikah. Rumah itu ada di pinggiran Kali Gelis, Kudus. Rumah-rumah itu dikenal sebagai Istana Kembar.

museum kretek kudus

Foto seorang anak muda tanggung memegang sepeda bertulis "Banyak terima kasih dapet saoe sepeda!!! Belilah rokok Tjap Bal Tiga". Nitisemito memang sangat agresif dalam mempromosikan dan memasarkan rokok kreteknya. Tak heran jika usahanya berkembang pesat. Mungkin ia belajar dari dua kegagalan sebelumnya.

museum kretek kudus

Sebuah mesin ketik tua yang dipajang di Museum Kretek Kudus. Tak ada penjelasan. Jika bukan mesin tik yang pernah digunakan di pabrik, boleh jadi itu merupakan salah satu hadiah yang diberikan kepada konsumen sebagai benda promosi.

museum kretek kudus

Foto dokumentasi yang memperlihatkan stand rokok kretek Tjap Bal Tiga milik Nitisemito di salah satu pasar malam di Semarang. Untuk menghadapi pemalsuan rokok yang dihadapinya, Nitisemito membuat spanduk di atas stand-nya yang berisi pesan bahwa siapa saja yang memberi keterangan yang meniru merk-nya mendapat persen 200 (mungkin mata uang waktu itu). Terjemahan bahasa Inggris menyebutnya "... mendapat hadiah 200 persen".

museum kretek kudus

Dokumentasi kiprah Nitisemito lainnya yang melibatkan para penjual es krim untuk mendukung kampanye promosinya. Foto memperlihatkan sepasukan kecil penjual es krim yang semua wadah es krimnya ditempeli logo perusahaannya yang terkenal, yaitu Nitisemito Bal Tiga.

museum kretek kudus

Foto dokumentasi tahun 1925 yang memperlihatkan sebagian dari para karyawan Bal Tiga di luar gedung pabriknya yang ada di Desa Jati, Kudus.

museum kretek kudus

Koleksi Museum Kretek Kudus yang diantaranya memperlihatkan sebuah surat untuk salah seorang agen Bal Tiga di Palembang, yang ditandatangani oleh M Karmain, Kepala Pemasaran.

museum kretek kudus

Pandangan dekat pada surat yang dikirim ke agen di Palembang yang bertanggal 3 Oktober 1934 itu. Isinya adalah pemberitahuan keluarnya rokok yang berisi 8 buah per pak dengan harga f satu sen setengah. Harga jualnya juga disebutkan, demikian pula berapa keuntungan yang diperoleh agen, dan keharusan setor uang muka. Tulisan tangan di kiri bawah memberitahukan keluarnya rokok yang berisi 25 buah per pak. Surat ini ditulis benar-benar sebagai surat dagang yang hebat.

museum kretek kudus

Surat permohonan ijin yang ditujukan kepada Kepala Cukai Kudus, bertanggal 17 November 1947, yang diawali dengan kata MERDEKA! Yang diminta adalah surat ijin dari Kantor Cukai agar Nitisemito bisa membawa tembakau 8 ton dari Temanggung yang telah mereka beli namun tak bisa dibawa karena belum ada ijin.

museum kretek kudus

Tiga buah koleksi benda peninggalan dari jaman Nitisemito. Benda di sebelah kiri dan kanan selain tulisan M. Nitisemito juga ada tulisan "Koewasa, M Karmain", sedangkan yang di tengah hanya ada tulisan M. Nitisemito.

museum kretek kudus

Di sebelah kiri sepertinya adalah sebuah jam saku, dan di sebelahnya sebuah pin berlambang Bal Tiga terbuat dari emas. Blangkon di sebelah kanan mungkin adalah benda peninggalan Nitisemito.

museum kretek kudus

Sebuah koleksi asli berupa alat perajang cengkeh glondong yang merupakan sumbangan dari keluarga besar Perusahaan Rokok Sogo Kudus yang diberikan pada tahun 1986.

museum kretek kudus

Poster yang memperlihatkan alat perajang tembakau yang disebut cacak atau bilah. Alat ini terbuat dari papan yang disangga dua bilah kayu, dan diantara kedua kayu ada kayu melengkung sebagai tempat untuk meletakkan tembakau yang hendak dirajang. Rajangan tembakau jatuh ke tadahan niru atau tampah. Setelah penuh, rajangan tembakau dipindahkan ke anyaman bambu berukuran 1x2 meter untuk dijemur selama 3 hari, dan setiap pagi tembakaunya diembunkan.

museum kretek kudus

Koleksi Alat Perajang Tembakau yang menggunakan pisau dalam proses penggunaannya. Poster sebelumnya adalah keterangan mengenai alat ini.

museum kretek kudus

Diorama yang menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang tengah bekerja sebagai bagian dari rantai pembuatan rokok kretek. Pada masa jayanya, industri rokok benar-benar mampu menjadi penggerak ekonomi di banyak desa dan kota.

museum kretek kudus

Diorama yang menggambarkan seorang pria tengah mengupas kulit jagung. Kulit jagung lalu dibersihkan dan dikeringkan. Di samping dan belakangnya adalah tumpukan kulit jagung kering yang siap dibawa ke pabrik. Di pabrik kulit jagung kering digunting sesuai pola dan dibesut menggunakan alat tradisional.

museum kretek kudus

Diorama yang memperlihatkan kegiatan memanen, merajang, dan menjemur daun tembakau secara tradisional. Tembakau biasanya tumbuh subur di daerah perbukitan dan pegunungan dengan hawa yang sejuk.

museum kretek kudus

Diorama suasana di sebuah kaki pegunungan yang hijau subur. Di sebelah kanan mungkin adalah tanaman jagung, sedangkan di sebelah kiri dan belakang adalah tanaman tembakau. Kampanya anti rokok yang masif membuat kehidupan pedesaan seperti ini menjadi tak jelas masa depannya.

museum kretek kudus

Beberapa orang tampak tengah membalik cengkeh yang sedang dijemur. Cengkeh kering dimasukkan ke dalam karung dan siap dikirimkan. Sewaktu saya kecil di depan rumah masih ada beberapa pohon cengkeh dan saat berbunga masih ada pembelinya.

museum kretek kudus

Koleksi benda asli berupa gilingan tembakau tradisional. Akan menarik jika ditelusuri siapa yang pertama kali membuatnya. Di belakang sebelah kanan adalah koleksi berbagai grade tembakau serta cengkeh asal berbagai daerah di tanah air.

museum kretek kudus

Juga koleksi benda asli berupa alat pembersih atau penyaring tembakau tradisional yang dikenal sebagai krondo. Benda ini merupakan sumbangan dari Pabrik Rokok Delima pada tahun 1986.

museum kretek kudus

Salah satu koleksi daun tembakau yang telah mengering di Museum Kretek Kudus yang diikat di bagian ujungnya dan diberi tanda berisi informasi mengenai asal daerah penanaman dan grade-nya. Setiap perusahaan rokok memiliki kriteria dan sistem grading yang berbeda. Salah satu perusahaan menetapkan Grade tertinggi adalah 2, tak ada grade 1, dengan keterangan sebagai berikut: Grade 2 = sangat bagus, Grade 3 = bagus, Grade 4 = sedang, Grade 5 = kurang, dan Grade 6 = kurang sekali. Namun di museum ini ada daun tembakau yang diberi Grade 1.

museum kretek kudus

Koleksi daun tembakau jenis Virginia asal Lombok dengan mutu Grade 2. Ada pula koleksi tembakau Virginia Grade 3 asal Lombok. Koleksi lainnya adalah daun tembakau asal Bojonegoro Grade 2 dan 3, daun tembakau Kasturi Grade 1, 2 dan 3.

museum kretek kudus

Koleksi daun tembakau asal Madura Grade 2 dan 3 sumbangan dari Djarum.

museum kretek kudus

Setoples contoh cengkeh Manado sumbangan Djarum.

museum kretek kudus

Setoples contoh cengkeh Purwokerto sumbangan Djarum.

museum kretek kudus

Setoples contoh cengkeh Trenggalek sumbangan Djarum.

museum kretek kudus

Setoples contoh cengkeh Bogor sumbangan Djarum.

museum kretek kudus

Koleksi museum berupa saus tembakau atau saus rokok yang ditambahkan untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Disebutkan bawah saus rokok pada dasarnya sama dengan essen pada industri makanan. Sebelum digunakan saus rokok harus dilarutkan dulu dengan ethyl alkohol.

museum kretek kudus

Dokumentasi foto, contoh bahan pembungkus tembakau yang masih berupa ikatan kulit jagung kering dan yang sudah dipotong siap linting, serta peralatan untuk membuat rokok klobot secara tradisional.

museum kretek kudus

Koleksi benda asli berupa peralatan penggulung rokok kretek yang dilakukan oleh pekerja, umumnya wanita.

museum kretek kudus

Dokumentasi foto dan koleksi benda asli berupa peralatan kemas rokok tradisional.

museum kretek kudus

Koleksi benda asli berupa gilingan tembakau tradisional dilihat dari arah samping.

museum kretek kudus

Dokumentasi foto yang memperlihatkan deretan para tokoh pengusaha rokok kretek di Kudus. Foto paling besar adalah Nitisemito, pendiri Pabrik Rokok Bal Tiga, berdiri pada tahun 1906, dan didapuk sebagai maestro rokok kretek Kudus.

museum kretek kudus

M. Atmowidjojo, pendiri Pabrik Rokok Goenoeng Kedoe, berdiri pada tahun 1910.

museum kretek kudus

Tjoa Khang Hay, pendiri Pabrik Rokok NV Trio, berdiri pada trahun 1912

museum kretek kudus

Koo Djee Siang, pendiri Pabrik Rokok Nojorono, berdiri pada tahun 1932

museum kretek kudus

HA Ma'ruf, pendiri Pabrik Rokok Djambu Bol, berdiri pada tahun 1937

museum kretek kudus

H Ali Asikin, pendiri Pabrik Rokok Djangkar, berdiri pada tahun 1918

museum kretek kudus

MC Wartono, pendiri Pabrik Rokok Sukun, berdiri pada tahun 1948

museum kretek kudus

Oei Wie Gwan, pendiri Pabrik Rokok Djarum, berdiri pada tahun 1951

museum kretek kudus

HM Ashadi, pendiri Pabrik Rokok Delima, berdiri pada tahun 1918

museum kretek kudus

HM Moeslich, pendiri Pabrik Rokok Teboe & Tjengkeh, , berdiri pada tahun 1919

museum kretek kudus

M Sirin Atmo, pendiri Pabrik Rokok Garbis & Manggis, berdiri pada tahun 1922

museum kretek kudus

Patung pekerja wanita yang tengah melinting rokok dengan peralatan tradisional.

museum kretek kudus

Pajangan berbagai benda promosi yang pernah digunakan pada jaman dahulu, kebanyakan berupa keramik berupa cangkir, piring, bowl, teko, dan hiasan dinding.

museum kretek kudus

Koleksi benda promosi rokok kretek lainnya yang dipajang di Museum Kretek yang disumbangkan oleh Pabrik Rokok Delima, Kudus. Jenisnya hampir sama dengan koleksi sebelumnya.

museum kretek kudus

Dokumentasi foto sejumlah peralatan pembuat rokok kretek, seperti separator machine, filter rod maker, hing lid picke, mesin pembuat rokok filter, serta beberapa foto dokumentasi lainnya. Juga ada pajangan kertas pembungkus rokok dan filter rokok.

museum kretek kudus

Seorang pengunjung tampak tengah melangkah di tepian kanal air, dengan latar belakang luncuran kolam. Fasilitas ini ada di belakang gedung Museum Kretek Kudus.

museum kretek kudus

Pandangan lebih dekat pada kolam waterboom dengan luncurannya. Di tempat itu juga ada atraksi ember tumpah.

museum kretek kudus

Area bermain anak yang berada di dekat waterboom, dengan ibu-ibu yang tengah menunggui anaknya bermain. Ini adalah area bermain anak kedua, selain yang ada di bagian depan museum.

museum kretek kudus

Salah satu potongan adegan pemutaran film dokumentasi tentang sejarah industri rokok kretek Kudus, dengan narasi oleh Artika Sari Devi. Pengunjung dilarang merekam film yang diputar di sana.

museum kretek kudus

Dua gadis remaja tampak tengah duduk di undakan Rumah Adat Kudus yang terlihat sudah menua. Jika saja katu-kayunya diplitur lagi, kalau perlu gentingnya dicat dengan warna natural, maka rumah ini akan kembali tampak elok dan anggun.

museum kretek kudus

Pandangan dekat yang memperlihatkan ukiran pada kayu Rumah Adat Kudus, yang disebut juga Joglo Pencu atau Joglo Kudus. Rumah tradisional ini mencerminkan perpaduan akulturasi kebudayaan masyarakat Kudus.

museum kretek kudus

Gedung yang digunakan untuk pemutaran film dokumenter yang bercerita mengenai sejarah industri rokok kretek di Kudus.

museum kretek kudus

Sebuah poster yang memaparkan kisah hidup Nitisemito. Cukup panjang dan lengkap.

museum kretek kudus

Poster ini memberi informasi kepada pengunjung tentang proses pengolahan bahan baku rokok klobot, yang umumnya populer di kalangan rakyat pinggiran dan petani.

museum kretek kudus

Foto M. Nitisemito yang dianggap sebagai sang maestro rokok kretek Kudus, dari perusahaan rokok Bal Tiga yang terkenal sejak tahun 1906.

museum kretek kudus

Info Kudus

Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑