Kelenteng Hok Tik Bio Kudus

November 16, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Posisi Kelenteng Hok Tik Bio Kudus, salah satu yang tertua di kota ini, cukup strategis karena diapit tiga jalan, yaitu di sisi barat daya, timur laut, dan tenggara. Lokasinya berada agak ke pinggiran kota, sekitar 850 meter dari jalan lingkar luar Kudus, arah ke selatan. Tuan rumah kelenteng ini, sesuai namanya, adalah Hok Tek Ceng Sin atau Dewa Bumi yang berkahnya dinanti oleh para petani dan pedagang.

Selepas makan siang kami singgah ke kelenteng ini, tentunya bukan untuk bersembahyang namun untuk melihat apa saja benda menarik yang ada di sana. Benda itu biasanya berupa hiolo beraneka bentuk dari bahan pembuat yang bermacam-macam, patung para dewa, ukiran kayu, dan lukisan kuno. Jika beruntung kadang bisa menemukan kata-kata bijak yang nilai keluhurannya bersifat universal. Sayangnya banyak kelenteng yang hanya memajang tulisan dalam aksara Tionghoa yang bahkan mungkin tidak bisa dibaca oleh orang keturunan Tionghoa sendiri. Jarak dari lokasi Kelenteng Hok Tik Bio Kudus ke Museum Kretek adalah sekitar 2,5 km arah ke selatan, atau 4,6 km dari Masjid Menara Kudus, juga arah ke selatan. Jarak yang sedang saja, tak terlalu dekat, tak pula jauh.

Sekitar 850 meter dari kelenteng ke arah utara terdapat brak PT Djarum Kudus yang berukuran cukup besar. Brak adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut tempat dimana karyawan mengerjakan pelintingan rokok kretek. Pada tahun 2014 pabrik rokok ini mempekerjakan lebih dari 65.000 buruh rokok yang tersebar di sejumlah lokasi di kota ini.

kelenteng hok tik bio kudus

Tampak muka bangunan Kelenteng Hok Tik Bio Kudus memperlihatkan pilar-pilar khas bangunan Tiongkok di bagian depan, dengan dua baris huruf Tionghoa menempel di sana. Sepasang singa penjaga (ciok say) yang dicat warna-warna tampak diletakkan di depan pintu. Singa jantan di sebelah kiri memegang bola, dan singa betina di sebelah kanan menimang anak. Lampion dan hiolo Thian tampak di dekat pintu masuk.

Tidak sebagaimana kelenteng umumnya, atap Hok Tik Bio Kudus ini terlihat sangat biasa. Tidak berupa atap pelana, dan tidak ada hiasan arca sepasang naga berebut mustika, atau pun arca burung Hong / Phoenix. Jika tak ada pilar dan lampion di bagian depan, bangunan kelenteng akan terlihat seperti rumah penduduk biasa.

Naga berebut mustika, yang belakangan saya lihat pada kawat lubang hawa, melambangkan manusia yang sedang mengejar ilmu sejati yang digambarkan sebagai mustika. Dalam ajaran Buddha disebutkan bahwa orang yang menemukan pengetahuan sejati atau inti sari kehidupan diri maka ia akan menemukan kehidupan. Karena kehidupan di dunia tidak ada yang sejati, maka ilmu sejati baru diperoleh setelah orang meninggal.

Seperti umumnya kelenteng, altar Dewi Kwan Im dengan sejumlah rupang berbagai ukuran bisa dijumpai juga di Kelenteng Hok Tik Bio Kudus. Satu yang terbesar diletakkan di bagian luar. Meski altar sembahyangnya sederhana, namun patung-patungnya cukup baik dan indah. Jika saja keramik pada tembok di belakang altar diganti, serta setiap altar utama dibuat rumah-rumahan, maka Kelenteng Hok Tik Bio ini akan terlihat jauh lebih elok.

Di altar utama diletakkan rupang tuan rumah kelenteng, yaitu Hok Tek Cing Sin atau Hok Tek Ceng Sin. Minuman mineral yang diletakkan di sana mungkin dimaksudkan untuk menyerap berkah Dewa Bumi sebelum dibawa pulang dan diminum atau dicipratkan ke benda atau dagangan agar membawa keberuntungan. Hiolo dan batang bambu berisi ramalan ciamsi diletakkan di sebelah bawahnya.

Altar sembahyang untuk Dewa Bumi ini terlihat cukup sederhana yang mungkin bisa menjadi indikasi kekuatan finansial kelenteng yang berasal dari sumbangan umatnya. Entah karena lokasi kelenteng yang mungkin agak jauh dari pusat bisnis pecinan atau pasar, atau karena jumlah umat yang datang ke kelenteng untuk bersembahyang tidak begitu banyak.

Pengurus kelenteng yang panjang akal tentu tak hanya bergantung pada sumber dana lokal untuk memperbaiki tampilan dan isi kelenteng, namun juga mencari sumber dana dari kota lain, terutama para tokoh Tionghoa kaya di Surabaya dan Jakarta. Mungkin juga ada agen atau semacam makelar yang menjual jasa untuk pengumpulan dana bagi renovasi kelenteng.

Sejarah Hok Tik Bio ini disusun oleh sesepuh kelenteng yang bernama Tee Song Liang dan dipajang di sana. Altar lainnya yang ada di dalam kelenteng adalah altar sembahyang bagi Kwan Tee Koen (Kwan Kong), Kwik Sing Ong, dan Chiauw Koen Kong. Ini adalah kelenteng Tri Dharma sehingga tentunya ada altar sembahyang bagi penganut agama Konghucu, Tao, dan Buddha Mahayana.

Pandangan dari pojok pada deret altar memperlihatkan ada rupang (patung) para dewa di atasnya. Di sebelah kiri tengah adalah altar Hok Tek Ceng Sin, dan pada kolong di bawahnya adalah altar Panglima Harimau, pengawalnya yang setia. Sedangkan di ujung sana adalah altar sembahyang bagi Kwan Im Po Sat, sang Dewi Welas Asih.

Kelenteng Hok Tik Bio didirikan pada 1741 oleh pelarian dari Batavia yang lolos dari pembantaian massal yang dilakukan oleh VOC terhadap kaum keturunan Tionghoa, di lapangan yang kini berada di depan Museum Fatahillah Jakarta. Karena kekejamannya itu, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier (memerintah 1737-1741) kemudian digantikan oleh Johannes Thedens (1741-1743).

Para Tionghoa pelarian itu meloloskan diri melalui laut dan mendarat di Cirebon, Tegal, Semarang, Kudus, Juwana, Rembang, Lasem, hingga ke daerah Jawa Timur. Di Kudus, serombongan orang Tionghoa menyusur kanal Semarang (kali di tepi jalan Semarang - Tanggulangin) dari cabang Tanggulangin ke Utara hingga tiba di Dusun Bogo dan lalu menetap di sana. Selain harta benda, mereka juga membawa arca Hok Tek Ceng Sin, dan dengan modal itu mereka membangun Kelenteng Hok Tik Bio di Dusun Bogo.

Setelah pemerintah kolonial Belanda membangun jalan darat dari Kudus ke Purwodadi, pada tahun 1782 orang-orang Tionghoa yang tinggal di Dusun Bogo pindah ke tepi jalan. Mereka juga memindahkan kelenteng yang dulu dibuat dari kayu jati dengan cara dipanggul berama-ramai secara utuh dan diletakkan di tempatnya yang sekarang ini. Secara Hong Sui konon letaknya bagus karena menghadap ke jalan lurus dan terbuka.

Diantara Hari Raya Para Sin Bing (dewa atau arwah orang suci) yang diperingati di Kelenteng Hok Tik Bio Kudus ini adalah Ulang Tahun Bie Lek Hud pada tanggal 1 bulan 1 (Cia Gwee) penanggalan lunar Tionghoa. Pada bulan 2 (Ji Gwee) ada perayaan ulang tahun Hok Tek Ceng Sin tanggal 2, dan hari lahir Kwan She Im Poo Sat tanggal 19. Daftar hari raya selama setahun terpampang pada dinding kelenteng.

Kelenteng Hok Tik Bio Kudus

Alamat : Jl. Tanjung Karang No. 104, Kudus. Telp 0291 435568. Lokasi GPS : -6.8477901, 110.8338252, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Hok Tik Bio Kudus

Altar utama dimana diletakkan rupang tuan rumah kelenteng, yaitu Hok Tek Cing Sin atau Hok Tek Ceng Sin. Minuman mineral yang diletakkan di sana mungkin dimaksudkan untuk menyerap berkah Dewa Bumi sebelum dibawa pulang dan diminum atau dicipratkan ke benda atau dagangan agar membawa keberuntungan. Hiolo dan batang bambu berisi ramalan ciamsi diletakkan di sebelah bawahnya.

kelenteng hok tik bio kudus

Pandangan dari pojok pada deret altar dengan rupang (patung) para dewa di atasnya. Di sebelah kiri tengah adalah altar Hok Tek Ceng Sin, dan pada kolong di bawahnya adalah altar Panglima Harimau, pengawalnya yang setia. Sedangkan di ujung sana adalah altar sembahyang bagi Kwan Im Po Sat, sang Dewi Welas Asih.

kelenteng hok tik bio kudus

Altar Dewi Kwan Im dengan sejumlah rupang berbagai ukuran di sana. Satu yang terbesar diletakkan di bagian luar. Altar sembahyang ini juga sederhana, namun patung-patungnya cukup baik dan indah. Jika saja keramik pada tembok di belakang altar diganti, serta setiap altar utama dibuat rumah-rumahan, maka Kelenteng Hok Tik Bio ini akan terlihat jauh lebih elok.

kelenteng hok tik bio kudus

Papan nama Kelenteng Hok Tik Bio Kudus yang rupanya juga dikenal sebagai Kelenteng Tanjung Karang. Lambang ketiga agama, yaitu Buddha, Tai dan Konghucu terlihat di bagian atas. Warna yang sudah pudar ini mudah-mudahan sudah baru lagi saat anda berkunjung ke sana.

kelenteng hok tik bio kudus

Ornamen yang dilihat secara sepintas sepertinya ornamen biasa tak bermakna. Namun jika dilihat dengan lebih teliti baru terlihat bahwa ornamen hijau yang ada di tengah lingkaran adalah dua naga elok yang tengah berebut mustika matahari.

kelenteng hok tik bio kudus

Hiolo Thian (Dewa Langit) yang diletakkan di ruangan bagian depan kelenteng, dekat pintu masuk. Ciri khas dari hiolo dewa langit adalah berkaki tiga, dengan bentuk dudukan dan hiolo yang bisa bermacam-macam.

kelenteng hok tik bio kudus

Inilah sejarah lengkap berdirinya Kelenteng Hok Tik Bio, dari sejak peristiwa pembantaian di Batavia terhadap warga keturunan Tionghoa, hingga dipindahkannya kelenteg dari Desa Bogo ke lokasinya yang sekarang ini.

kelenteng hok tik bio kudus

Kliping koran atau majalah Surya bertanggal 31 Januari 2008 tentang Gus Dur, yang disebut sabagi Keturunan Putri Campa. Versi lain menyebutkan bahwa leluhur Gus Dur, seorang Tionghoa muslim, datang ke wilayah Nusantara bersama armada Laksamana Cheng Ho yang juga seorang muslim.

kelenteng hok tik bio kudus

Daftar Hari Raya Para Sin Bing di Kelenteng Hok Tek Bio Kudus yang ditempel pada dinding. Karena panjangnya, daftar itu dibuat dalam dua halaman bersisian.

kelenteng hok tik bio kudus

Prasasti yang dimulai dengan tulisan "Dengan restu Tao Thian - Tuhan Yang Mahaesa". Lalu di bawahnya ada tulisan "Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) - Kelenteng Saw Ciao Miaoe Ie". Di bawahnya ada tulisan Tionghoa dan lalu "HOK TIK BIO". Prasasti itu dibuat pada 1 Agustus 2013.

kelenteng hok tik bio kudus

Sebuah hiolo dari kuningan yang diapit kayu untuk ritual ciamsi, hiolo trapesium dan di belakangnya lagi ada hiolo dengan ornamen sepasang naga di kedua sisinya. Huruf-huruf Tionghoa itu jika ada terjemahannya akan lebih baik.

kelenteng hok tik bio kudus

Altar pemujaan bagi Houw Ciangkun (Panglima Harimau) dan Lung Yu (Dewa Naga), kedua pengawal Hok Tek Ceng Sin yang setia. Ada yang menyebut mereka sebagai Dewa Macan Putih (Pai Fu Sen) dan Dewa Naga (Lung Sen). Keduanya adalah dewa yang bijaksana yang akan menolong mereka yang susah karena diganggu orang.

kelenteng hok tik bio kudus

Altar Chiauw Koen Kong atau Tjiauw Koen Kong (Dewa Dapur) yang dipuja sejak jaman Dinasti Zhou, sekitar 2000 tahun yang lalu. Dewa Dapur tidak hanya mengawasi masalah rumah tangga, namun juga sebagai pengawas moral setiap anggota keluarga.

kelenteng hok tik bio kudus

Altar Kwik Sing Ong, yang sepertinya adalah sama dengan Kong Tek Cun Ong, Raja Mulia yang memberikan berkah melimpah. Ia adalah dewa leluhur bagi orang keturunan asal Min Selatan, terutama daerah Nan An, dan sangat populer di kalangan penduduk Fujian Selatan dan Tionghoa perantauan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

kelenteng hok tik bio kudus

Altar sembahyang bagi Kwan Kong (Kwan Seng Tee Kun) atau Satyadharma Bodhisattva. Kwan Kong banyak dipuja karena keteladanannya sebagai kesatria sejati yang selalu menepati janji, setia pada sumpah, dan jujur. Ia juga banyak dipuja sebagai Dewa Pelindung Perdagangan, pelindung kesusastraan, dan pelindung rakyat dari bencana akibat peperangan.

kelenteng hok tik bio kudus

Lukisan pada kaca yang menggambarkan Dewi Kwan Im yang mengenakan jubah putih, duduk di atas bunga teratai, diapit oleh dua dewa kecil. Pada tangannya ada sebuah labu.

kelenteng hok tik bio kudus

Pandangan dari pojok kanan pada ruang sembahyang dimana terdapat rupang pada dewa. Ruang di bagian bawah hanya diperuntukkan bagi altar kedua pengawal Hol Tek Ceng Sin.

kelenteng hok tik bio kudus

Ada tulisan menarik pada poster ini, namun sayang tak bagus resolusinya. Meski tak jelas karya siapa, tapi inilah bunyinya:

"Di Saat Daku Tua
Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu. Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.
Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku. Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu.Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarkan, membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat daku dengan pikunnya mengulang terus-menerus ucapan yang membosankanmu.
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku. Dimasa kecilmu, daku mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Disaat daku membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkan ku. Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Disaat daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah mentertawaiku. Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.
Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicarban kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
Disaat engkau melihat diriku menua, jangalah bersedih.
Maklumilah aku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan."

kelenteng hok tik bio kudus

Pandangan dekat pada hiolo trapesium, kayu ciamsi, san hiolo dengan ornamen sepasang naga di kedua sisinya. Di bagian atas ada sulaman sepasang naga masing-masing di kiri dan kanan, serta ada pula sulaman sepadang harimau.

kelenteng hok tik bio kudus

Pandangan dekat pada altar Hok Tek Ceng Sin, memperlihatkan dengan jelas arca-arca yang ada di sana. Altar Dewa Bumi tak pernah dilewatkan oleh orang untuk berdoa, karena siapa pun yang berdoa di kelenteng ini tentu membutuhkan rejeki yang cukup untuk keluarganya.

kelenteng hok tik bio kudus

Deretan altar pemujaan di Kelenteng Hok Tik Bio Kudus dari mulai altar Kwan Tee Koen di sisi sebelah kiri sampai altar Hok Tek Ceng Sin di ujung kanan.

kelenteng hok tik bio kudus

Sudut pandang lainnya pada altar Dewi Kwan Im Po Sat di Kelenteng Hok Tik Bio Kudus dengan patung-patung yang bermutu baik dan elok.

kelenteng hok tik bio kudus

Pandangan pada altra Kwan Im Po Sat yang memperlihatkan adanya sejumlah perangkat ritual yang berada di kolong altar. Belum pernah saya melihat alat itu digunakan dalam sebuah acara.

kelenteng hok tik bio kudus

Sudut pandang lainnya lagi pada altar utama, yaitu altar Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi) dengan arca para pengawalnya yang berada tepat di bawah altarnya.

kelenteng hok tik bio kudus

Info Kudus

Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.