Museum Sasmitaloka Ahmad Yani Jakarta

March 22, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Museum Sasmitaloka Ahmad Yani lokasinya berada di rumah pojok Jl Lembang 58 dan Jl Laruharhari 65, Menteng, Jakarta Pusat. Sebelum kunjungan ini saya pernah mencoba mampir, namun karena sepi dan tidak terlihat ada petugas, saya pun batal untuk masuk.

Rupanya pagar selalu tertutup, dan pos jaga berada di sisi lain, sehingga pengunjung tidak perlu ragu membuka pagar. Ada beberapa mahasiswa yang kebetulan datang ke Museum Ahmad Yani saat saya berada di sana, sehingga suasana museum menjadi agak hidup. Setelah mengisi buku tamu, kami masuk melalui lorong belakang, jalur Pasukan Cakrabirawa saat menyatroni rumah ini pada pagi 1 Oktober 1965 setelah lebih dulu memutus kabel telepon. Pintu masuk yang kacanya berlubang akibat ditembus peluru dibiarkan seperti aslinya.

Saya melewati mobil sedan merk Chevrolet berwarna biru di Museum Ahmad Yani yang digunakan semasa beliau masih hidup. Mobil ini diletakkan pada ruangan samping pintu masuk belakang museum. Semasa hidupnya Jenderal Ahmad Yani dikenal selalu berseberangan dengan PKI. Ia menolak keras keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang menjadi dalih PKI untuk mempersenjatai buruh dan tani. Karenanya ia menjadi salah satu target utama PKI dalam G30S (Gerakan Tiga Puluh September).

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani
Bagian depan Museum Ahmad Yani yang menghadap ke Jl Latuharhari, Jakarta. Museum diresmikan pada 1 Oktober 1966 oleh Menpangad Mayjen Soeharto, sesaat setelah rumah dan isinya diserahkan Ibu A Yani dan putera-puterinya kepada negara. Gedung yang dibangun 1930-an ini semula rumah pejabat maskapai swasta Belanda, dan sejak 1950-an dikelola Dinas Perumahan Tentara, sebelum dihuni Letjen Ahmad Yani.

Di lorong belakang rumah Museum Sasmitaloka Ahmad Yani dipajang dokumentasi foto, diantaranya rekonstruksi penembakan dan penculikan oleh Pasukan Cakrabirawa terhadap LetJen Ahmad Yani yang saat itu menjabat Menpangad (Menteri / Panglima Angkatan Darat), jabatan yang kemudian diduduki Mayjen Soeharto pada 18 Oktober 1965. Di lorong museum juga ada foto pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi pada 4 Oktober 1965, upacara pemakaman pada 5 Oktober 1965, foto-foto keluarga, penyerahan Kota Magelang pada 1949 dari Belanda diwakili Letkol van Santen kepada Letkol Ahmad Yani, dan foto lainnya.

Di ruang tamu Museum Ahmad Yani terdapat lukisan besar memperlihatkan saat Letjen Ahmad Yani menempeleng Mukidjan, komando pasukan penyerbu, lantaran marah karena tidak diperbolehkan untuk berganti pakaian. Melihat situasinya, tampaknya beliau tidak bermaksud berganti pakaian, namun mengambil senjata api, dan para penculiknya tidak mau mengambil resiko.

Pada dinding ruang makan Museum Ahmad Yani Jakarta terdapat foto para Pahlawan Revolusi. Di samping kiri terdapat kamar tidur Ahmad Yani, dimana disimpan senjata otomatis Thompson Cakrabirawa yang menewaskannya lengkap dengan sisa pelurunya, senjata LE Cal 7,62 buatan Cekoslovakia yang dipakai untuk membunuh Letjen TNI Anumerta S. Parman, dan senjata Owengun yang digunakan untuk menembak DN Aidit dan tokoh PKI lainnya.

Di sudut atas ruang tidur ada bekas sambaran halilintar yang seolah menjadi pertanda bagi Ibu A. Yani. Dalam ruang tidur juga disimpan replika pakaian tidur lengan pendek yang digunakan Ibu Ahmad Yani untuk membersihkan lantai dari lumuran darah suaminya, gaji terakhir bulan Obtober 1965 sebesar Rp. 120.000, cincin, kaca mata, keris, dan tongkat komando. Lantaran dianjurkan petugas untuk tidak memotret kamar ini, saya pun menurutinya.

Koleksi pribadi sang jenderal yang disimpan di ruang tunggu Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, diantaranya harimau, cindera mata, senjata, lambang-lambang, medali, gading gajah dan koleksi buku dalam rak dinding. Para tamu biasanya menunggu di ruang ini sebelum diterima di ruang lain. Di bar sebelah kanan ruang makan ada kutipan kata-kata Ahmad Yani berbunyi "Sampai liang kubur kupertahankan Pancasila".

Di lantai berbatas kayu di ruang makan tertulis "DI SINILAH GUGURNJA PAHLAWAN REVOLUSI DJENDERAL TNI A. YANI PADA TANGGAL 1 OKTOBER 1965 DJAM 04.35". Letjen Ahmad Yani tewas dengan 8 luka tembak di bagian depan dan 2 luka tembak di bagian belakang. Jenazahnya dibawa ke Lubang Buaya oleh kelompok tentara yang menyerbu kediamannya dan selanjutnya dimasukkan ke dalam sumur maut.

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani adalah salah satu dari lima museum yang dikelola oleh Dinas Sejarah Angkatan Darat. Dua museum lainnya adalah Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution, dan Museum Sasmitaloka PETA di Bogor. Dua lagi adalah Museum Sasmitaloka Pangsar Jenderal Soedirman, dan Museum Dharma Wiratama, keduanya ada di Yogyakarta.

Letjen Ahmad Yani dikenal sangat dekat dengan Soekarno. Dua bulan sebelum tewas, Soekarno dikabarkan memintanya untuk menggantikan dirinya menjadi presiden bila kesehatan proklamator itu menurun. Pernyataan itu disampaikan Soekarno dalam rapat petinggi negara yang dihadiri antara lain oleh Soebandrio, Chaerul Saleh dan AH Nasution.

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani Jakarta

Alamat : Jl Lembang D-58, Menteng, Jakarta Pusat. Telp 021-31901623. Lokasi GPS : -6.20455, 106.83669, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa s/d Minggu: 08.00 - 14.00. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto

Foto para Pahlawan Revolusi terlihat ditempel di dinding Museum Sasmita Loka Ahmad Yani yang dulu adalah ruang makan. Di sebelah kirinya ada kamar tidur Ahmad Yani, tempat menyimpan senjata otomatis Thompson yang dipakai anggota pasukan Cakrabirawa untuk membunuh Ahmad Yani. Di sana ada pula senjata LE Cal 7,62 buatan Cekoslovakia yang pelurunya membunuh Letjen TNI Anumerta S. Parman, serta senjata Owengun untuk menembak DN Aidit dan tokoh PKI.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Di ruang tamu dengan lukisan besar menggantung pada dinding menggambarkan ketika Ahmad Yani menempeleng Mukidjan, komando pasukan Cakrabirawa, karena tidak boleh berganti pakaian.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Di lantai tertulis "DI SINILAH GUGURNJA PAHLAWAN REVOLUSI DJENDERAL TNI A. YANI PADA TANGGAL 1 OKTOBER 1965 DJAM 04.35". Ahmad Yani wafat setelah mengalami 8 luka tembak di tubuh bagian depan dan 2 luka tembak di tubuh bagian belakang.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Sebuah mobil sedan merk Chevrolet berwarna biru yang digunakan Ahmad Yani semasa hidupnya. Mobil ini diletakkan pada ruangan samping pintu masuk belakang Museum Sasmita Loka Ahmad Yani.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Dokumentasi di lorong belakang Museum Sasmita Loka Jenderal Ahmad Yani yang memperlihatkan rekonstruksi saat penculikan dan penembakan terhadap Menpangad Letjen Ahmad Yani oleh gerombolan PKI / G 30 S.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Dokumentasi yang memperlihatkan proses penggalian dan pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya oleh regu KIPAM (Komando Intai Para Amfibi) KKO (Marinir), disaksikan oleh Mayjen Soeharto pada 4 Oktober 1965.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Dokumentasi di lorong belakang Museum Sasmita Loka Ahmad Yani yang memperlihatkan upacara pemakaman jenazah Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta pada 5 Oktober 1965.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Koleksi foto di lorong menuju pintu masuk ke ruang makan Museum Sasmita Loka Ahmad Yani. Diantaranya foto pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi oleh KKO (Marinir) pada 4 Oktober 1965, upacara pemakaman pada 5 Oktober 1965, foto-foto keluarga, penyerahan Kota Magelang pada 1949 dari Belanda diwakili Letkol van Santen kepada Letkol Ahmad Yani, dan foto-foto karier militer Ahmad Yani lainnya.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Dokumentasi yang memperlihatkan peran Kolonel Ahmad Yani ketika itu dalam memimpin Operasi 17 Agustus untuk menumpas pemberontakan PRRI / Permesta di Padang dan sekitarnya tahun 1957 - 1958. Kata yang diucapkannya ketika itu adalah "Bagi saya hanya ada dua alternatif, pertama: berkubur di dasar lautan dan kedua ialah mendarat di Kota Padang."

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Pintu masuk ke ruang makan Museum Sasmita Loka Ahmad Yani yang kacanya berlubang akibat ditembus peluru. Pasukan Cakrabirawa masuk melalui lorong ini setelah terlebih dahulu memutus kabel telepon.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Seorang pengunjung tengah mengamati foto-foto di bagian belakang rumah Museum Sasmita Loka Ahmad Yani , diantaranya adalah rekonstruksi penembakan dan penculikan oleh Pasukan Cakrabirawa terhadap LetJen Ahmad Yani yang ketika itu menjabat sebagai Menpangad (Menteri / Panglima Angkatan Darat). Jabatan ini kemudian diduduki Mayjen Soeharto pada 18 Oktober 1965.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani
Kondisi Museum Sasmita Loka Ahmad Yani terlihat dijaga dan dirawat dengan baik. Di bagian kiri ruang makan yang menyerupai bar ada kutipan kata-kata Ahmad Yani berbunyi “Sampai liang kubur kupertahankan Pancasila”. Pintu terbuka pada foto adalah pintu kamar tidur Ahmad Yani.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Empat tiang kayu yang dihubungkan dengan rantai menjadi pengingat lokasi dimana Jenderal Ahmad Yani ditembak hingga tewas oleh para penyerbu pada 1 Oktober 1965.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Lukisan di ruang tamu Museum Sasmita Loka Ahmad Yani, memperlihatkan saat Letjen Ahmad Yani menempeleng Mukidjan, komando pasukan penyerbu, saat marah karena tidak diperbolehkan untuk berganti pakaian. Melihat situasinya, tampaknya Ahmad Yani tidak bermaksud berganti pakaian, namun mengambil senjata api, dan para penculiknya tidak mau mengambil resiko.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Koleksi pribadi Ahmad Yani yang disimpan di ruang tunggu Museum Sasmita Loka Ahmad Yani, diantaranya harimau, cindera mata, senjata, lambang-lambang, medali, gading gajah dan koleksi buku dalam rak dinding. Para tamu biasanya menunggu di ruang ini sebelum diterima Jenderal TNI A. Yani di ruang lain.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Tulisan pada dinding depan gedung yang berisi sejarah Museum Sasmita Loka Jenderal Ahmad Yani. Gedung yang dibangun pada 1930-an ini semula digunakan sebagai rumah pejabat maskapai swasta Belanda, dan sejak 1950-an dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara, sebelum dihuni oleh Letjen Ahmad Yani.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Gerbang yang menjadi akses masuk ke dalam halaman Museum Sasmita Loka Jenderal Ahmad Yani yang berada di Jalan Lembang D58.

museum sasmitaloka jenderal ahmad yani

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.