Taman Mangrove Morosari Demak

September 02, 2019. Label:
aroengbinang.com - Kasmudi mulai mencari jalan putar untuk menuju ke Taman Mangrove Morosari Demak setelah sekitar 16 km meninggalkan pusat Kota Demak menuju arah ke Semarang. Jalan masuk ke tempat itu rupanya cukup banyak, dan karena buta arah maka kami sempat salah arah dan berkendara lumayan jauh. Jika dari Demak, jalan terdekat mestinya belok ke kiri di Alfamart setelah Jembatan Morosari, lewat jalan kecil lalu belok kiri menyeberang di bawah jalan besar.

Kesan baik saat ke Pekalongan Mangrove Park membuat kami bersemangat untuk menyambangi Taman Mangrove Morosari Demak, berharap mendapat pengalaman menyenangkan. Waktu itu sekitar satu jam jelang tengah hari, setelah beberapa saat sebelumnya sempat mampir melihat Stasiun Demak yang sudah tak lagi digunakan karena jalur keretanya mati. Kondisi stasiun itu sudah sangat menyedihkan. Jarak terdekat dari pinggir jalan besar ke lokasi taman mangrove adalah sekira 4,5 km dengan kualitas jalan bervariasi, dari cukup baik hingga cukup buruk di beberapa ruas jalan, melewati perumahan penduduk yang sebagian agak kumuh. Di beberapa tempat terlihat rumah yang sudah ditinggalkan pemiliknya lantaran terendam lumpur dan air laut. Wilayah ini memang terkena abrasi yang cukup parah.

Mangrove dan makam keramat yang ada di sana dulunya adalah daratan dari sebuah kampung kecil yang terkikis abrasi sejak tahun 1998, membuatnya tergenang air hingga mencapai 60 cm. Akhirnya pada tahun 1999 sekitar 80 keluarga memilih menyerah dan pindah ke Desa Purwosari, menyisakan beberapa keluarga yang masih tetap bertahan. Kini, sensasi naik ojeg di atas jembatan sempit saat menyeberangi laut dangkal, dan melihat bangau dan ikan barangkali sudah cukup untuk menjadi alasan untuk orang pergi ke sana.

taman mangrove morosari demak

Salah satu pemandangan yang kami lihat saat dalam perjalan menuju Taman Mangrove Morosari Demak. Area yang tergenang air laut pada foto di atas dulunya adalah daratan kering, yang ketika telah terendam maka tinggal menyisakan sepetak gerumbul di ujung sana itu yang masih terus berusaha bertahan, dan terpaksa dihubungkan dengan daratan menggunakan jembatan bambu.

Genangan air laut yang luas di pesisir utara Jawa ini juga digunakan untuk membuka kolam-kolam tambak ikan yang lumayan besar, sehingga harus menggunakan perahu untuk hilir mudiknya. Struktur-struktur bambu, baik sebagai dermaga sampan maupun sebagai penopang jala-jala ikan berukuran besar di tambak, dengan mudah bisa ditemukan di wilayah ini.

Singkat cerita, setelah melewati jalan berliku, sampailah kami di pangkalan ojeg Taman Mangrove Morosari. Lumayan lama dan cukup jauh jalan yang kami tempuh untuk sampai di sana. Begitu pun ketika sampai di dekat tempat tujuan umumnya ada kepuasan karena telah berhasil menemukan arah yang benar ke lokasi yang dicari.

Ujung lintasan ojeg yang baru saja kami lewati beberapa saat sebelumnya sempat saya ambil fotonya. Agak ngeri-ngeri sedap ketika membonceng melewati lintasan yan sangat sempit dan kiri kanannya adalah genangan air laut, meski dangkal. Panjang lintasan di atas hamparan air laut itu ada sekitar 850 meter, sedangkan panjang kampung kecil di awal lintasan hanya 100 meteran.

Baru saja kaki mengayun beberapa langkah, mata sudah tertumbuk pada sejumlah papan peringatan, diantaranya agar tamu pengunjung yang membawa kamera harus ijin dengan tanda panah mengarah ke rumah si pemberi ijin. Kami harus mengeluarkan uang Rp.25.000 untuk mendapat ijin membawa kamera di Taman Mangrove Morosari Demak dengan mendapat tanda terima yang ditulis manual oleh seorang ibu untuk bisa berjalan tenang di sepanjang jembatan kayu.

Ketika berada di Taman Mangrove Morosari Demak kami melihat ada dua atau tiga anak muda tengah memandangi genangan air di sebelah kanan jembatan. Rupanya memang ada sesuatu yang menarik di sana, yaitu Ikan Gelodok (Periophthalmodon schlosseri) atau Mudskipper dalam bahasa Inggris, karena ikan ini biasa melompat-lompat di lumpur dan air dangkal hutan mangrove. Nama lainnya adalah Belodok, Tempakul, Timpakul, Gabus laut, Lunjat, dan Belacak. Ikan aneh ini masuk dalam suku Oxudercinae.

Mata ikan itu menonjol di kepalanya yang aneh dengan sirip punggungnya bisa mengembang. Hebatnya lagi ikan ini bisa memanjat akar pohon bakau dan seolah berjalan di atas lumpur. Itu adalah berkat sirip dadanya yang kuat, ia juga mampu bernafas lewat kulit yang membuatnya bisa bertahan hingga 7-8 menit di darat. Setelah kawin ikan betina bisa menghasilkan 70.000 butir telur yang ditempelkan pada dinding sarang dan dijagainya.

Hanya ada satu trek atau jembatan kayu lurus yang membagi Taman Mangrove Morosari Demak itu menjadi dua bagian, sisi kiri dan kanan. Panjang hutan mangrove sekitar 280 meter, dengan lebar mulai dari 30 meter hingga 120 meter. Tak ada tempat duduk di sepanjang jembatan, sehingga pengunjung hanya bisa duduk di lantai papan kayu yang kotor.

Ketika sampai di ujung jembatan terlihat ada sejumlah orang, yang rupanya adalah penduduk yang mengelola Taman Mangrove Morosari Demak. Saat itu mereka tengah membuat sesuatu, mungkin pendopo di jalan menuju ke makam seorang ulama bernama Kyai Abdullah Mudzakir dari Tambaksari. Sayang tak ada keramahan pada sikap orang-orang itu, malah satu diantaranya dengan ketus menegur soal tiket kamera, dan diam merungut setelah kami tunjukkan tiket.

Sikap tak ramah mereka berhasil membantu melenyapkan minat untuk berjalan kaki menyeberangi jembatan kayu sempit ke arah makam yang jaraknya masih sekitar 135 meter lagi, dengan kiri kanan jembatan berupa air laut. Lagipula ada larangan memotret makam yang tampaknya secara kaku diterapkan. Akan lebih simpatik jika pengelola memperbolehkan memotret namun wajah peziarah harus disamarkan.

Hiburan lain di Taman Mangrove Morosari Demak selain ikan unik, yang baru pertama kali saya lihat seumur hidup di habitatnya itu, adalah bangau putih dengan leher dan kaki panjang. Mereka mencari makan atau berlindung dari panas matahari di sela-sela pohon bakau, agak jauh dari jembatan. Rupanya mereka belum merasa nyaman dengan kehadiran manusia.

Meskipun kesan saya tak begitu baik saat berkunjung ke Taman Mangrove Morosari Demak ini, oleh sebab tidak ramahnya warga yang saat itu ada di sana serta sudah terlalu komersial dengan fasilitas minim, namun tetap saya anjurkan untuk setidaknya sekali berkunjung ke sana dan melihat sendiri keunikan Ikan Gelodok.

Taman Mangrove Morosari Demak

Alamat : Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Lokasi GPS : -6.9173525, 110.4834509, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Harga tiket masuk : gratis. Parkir motor Rp.2.000. Bawa kamera DSLR Rp.25.000, kamera ponsel gratis.

Galeri Foto Taman Mangrove Morosari Demak

Ujung lintasan ojeg yang baru saja kami lewati beberapa saat sebelumnya. Agak ngeri-ngeri sedap ketika membonceng melewati lintasan yan sangat sempit dan kiri kanannya adalah genangan air laut, meski dangkal. Panjang lintasan di atas hamparan air laut itu ada sekitar 850 meter, sedangkan panjang kampung kecil di awal lintasan hanya 100 meteran.

taman mangrove morosari demak

Hanya ada satu trek atau jembatan kayu lurus yang membagi Taman Mangrove Morosari Demak itu menjadi dua bagian, sisi kiri dan kanan. Panjang hutan mangrove sekitar 280 meter, dengan lebar mulai dari 30 meter hingga 120 meter. Tak ada tempat duduk di sepanjang jembatan, sehingga pengunjung hanya bisa duduk di lantai papan kayu yang kotor.

taman mangrove morosari demak

Saat hendak meninggalkan lokasi, kami melihat ada dua atau tiga anak muda tengah memandangi genangan air di sebelah kanan jembatan. Rupanya memang ada sesuatu yang menarik di sana, yaitu Ikan Gelodok (Periophthalmodon schlosseri) atau Mudskipper dalam bahasa Inggris, karena ikan ini biasa melompat-lompat di lumpur dan air dangkal hutan mangrove. Nama lainnya adalah Belodok, Tempakul, Timpakul, Gabus laut, Lunjat, dan Belacak. Ikan aneh ini masuk dalam suku Oxudercinae.

taman mangrove morosari demak

Tambak-tambak ikan yang kami lewati dalam perjalanan menuju ke taman mangrove. Seperti tampak pada foto, di pinggiran tambak ini juga tumbuh tanaman bakau yang di beberapan tempat terlihat cukup rimbun.

taman mangrove morosari demak

Sebuah sampan yang ditambat di dermaga bambu sederhana di sebuah tambak. Luasnya kolam membuat petani tambak merasa perlu untuk menggunakan sampan untuk berkeliling memeriksa investasinya.

taman mangrove morosari demak

Seorang petani berdiri di atas sampannya setelah kembali dari memeriksa tambaknya. Melihat bagaimana bentuk tambak ini memang mustahil untuk menggunakan alat transportasi lain selain sampan.

taman mangrove morosari demak

Muara Sungai Morosari dengan gerumbul hutan bakau yang cukup lebat. Ada banyak kehidupan diantara pepohonan itu yang kelangsungan hidupnya perlu senantiasa dijaga.

taman mangrove morosari demak

Asiknya duduk meluncur sendirian di atas sampan. Tak ada head phone menutup telinga, tak ada gadget di tangan. Kehidupan tampak lebih sederhana dan alami di sana. Di belakangnya tampak jala-jala yang menggantung diikat pada batang bambu.

taman mangrove morosari demak

Jala-jala yang diikat pada bambu adalah cara yang paling mudah dan murah untuk memanen ikan setelah waktunya tiba, ketimbang mengosongkan air yang mustahil dilakukan di area tambak dengan bentuk seperti ini.

taman mangrove morosari demak

Gerumbul di sana itu adalah tempat yang akan kami tuju, yaitu Taman Mangrove Morosari. Air laut dari tempat saya berdiri hingga ke gerumbul itu sebelumnya adalah daratan kering. Bisa dibayangkan luasnya area yang telah terendam oleh air laut. Di sebelah kanan adalah jalan menuju ke gerumbul yang membuat jantung berdegub lebih cepat dari biasa karena sempitnya.

taman mangrove morosari demak

Di latar depan ada sebuah gerumbul kecil lainnya dengan rumah di dalamnya yang masih bisa bertahan karena letaknya yang lebih tinggi dari area sekitar. Di belakang sana adalah Taman Mangrove Morosari.

taman mangrove morosari demak

Jembatan bambu yang panjang terpaksa dibuat untuk menghubungkan tempat yang sekarang telah menjadi pulau itu dengan daratan.

taman mangrove morosari demak

Pos ojek di mulut jalan masuk ke dalam area dusun kecil yang panjangnya hanya sekitar 100 meter. Dusun mini itu menjadi awal jalan masuk ke Taman Mangrove Morosari.

taman mangrove morosari demak

Inilah dusun mini itu dengan hanya satu jalan sempit untuk dilalui sepeda motor. Di ujung sana adalah awal lintasan menuju ke taman mangrove. Jika tak naik sepeda motor maa mau tak mau harus naik ojek.

taman mangrove morosari demak

Tempat parkir motor dan pangkalan ojek setelah kami tiba di Taman Mangrove Morosari. Tukang ojek yang mengantar adalah juga yang membawa kami pulang, dengan membayar sekaligus belakangan.

taman mangrove morosari demak

Tulisan berisi tata tertib yang sudah bisa menjelaskan sendiri maksudnya.

taman mangrove morosari demak

Si ibu tengah menulis tanda terima setelah kami membayar Rp.25.000 karena membawa kamera. Entah apa dosa kamera sehingga harus dihukum dengan membayar mahal. Padahal tanpa kamera bagaimana orang bisa memperlihatkan tempat ini ke dunia luar?

taman mangrove morosari demak

Sejumlah papan peringatan dan larangan yang saya kira kurang begitu ramah kepada pengunjung.

taman mangrove morosari demak

Meskipun jelang tengah hari, namun rimbunnya pohon bakau di tempat ini membuat pengunjung tak merasa terlalu kepanasan.

taman mangrove morosari demak

Jalan simpang ke sebelah kiri adalah menuju ke masjid kecil, dengan kotak sumbangan tampak di depan sana. Tidak adanya tempat duduk membuat pengunjung terpaksa duduk di sembarang tempat di atas kayu-kayu yang kotor ini.

taman mangrove morosari demak

Sepotong daratan kecil memanjang dengan pohon bakau mengapit di samping kiri kanannya.

taman mangrove morosari demak

Ujung Taman Mangrove Morosari yang selanjutnya akan menuju ke makam. Jika air laut tinggi maka jembatan terendam air dan orang harus naik sampan untuk menyeberang.

taman mangrove morosari demak

Cungkup makam Kyai Abdullah Mudzakir dari sela-sela konstruksi kayu dan bambu saat sebuah perahu warga tengah melintas.

taman mangrove morosari demak

Dua ekor burung bangau tampak memandang kami dari jauh. Perhatikan lehernya yang sangat panjang itu.

taman mangrove morosari demak

Seekor burung bangau mengepakkan sayapnya hendak terbang dan hinggap ke pohon bakau, sementara yang satunya lagi masih terus memandang kami menilai keadaan.

taman mangrove morosari demak

Burung bangau yang tinggal sendirian itu masih saja merasa aman berdiri di sana. Jarak kami memang cukup jauh, setidaknya dua puluh meteran.

taman mangrove morosari demak

Deretan jaring yang dipasang pada batang-batang bambu. Pemandangan yang kami lihat lagi saat meninggalkan taman mangrove.

taman mangrove morosari demak

Bagaimana konstruksi bambu serta pemasangannya pada jaring bisa dilihat pada foto ini. Sebuah karya rekayasa teknologi sederhana yang tepat guna.

taman mangrove morosari demak

Kanal sungai dengan gerumbul pepohonan bakau di sebelah kanan dan sebuah surau dengan atap limasan tumpang di sebelah kiri. Di daerah ini, selain sepeda motor, sampan menjadi alat transportasi utama.

taman mangrove morosari demak

Sebuah pohon yang buahnya seperti klandingan atau mlandingan dengan ukuran lebih besar, atau semacam pete, yang entah apa nama pohonnya namun sering saya lihat, dengan latar rawa-rawa di belakangnya.

taman mangrove morosari demak

Petak-petak tambak yang digunakan untuk budidaya ikan adalah merupakan pemandangan yang lazim terlihat di sepanjang perjalanan menuju ka Taman Mangrove Morosari Demak.

taman mangrove morosari demak

Dua buah sampan tampak tengah bersandar di tepian gerumbul pepohonan mangrove. Selain sebagai alat transportasi menuju dan dari petak-petak tambak ikan atau ke tempat lain, sampan juga bisa menjadi alat untuk menangkap ikan atau satwa yang hidup di hutan mangrove, meski umumnya satwa itu dilindungi atau dibiarkan hidup damai di habitatnya.

taman mangrove morosari demak

Sepotong pemandangan pada area hutan Mangrove Morosari dengan batang-batang pohon kecil yang menyerupai paku panjang yang sepertinya akan membuat orang sulit untuk melangkah melewatinya.

taman mangrove morosari demak

Pemandangan pada area gerumbul mangrove lainnya yang menjadi hunian entah berapa jenis satwa, selain sebagai benteng yang efektif dalam menahan abrasi air laut.

taman mangrove morosari demak

Pandangan tegak pada jembatan panjang terbuat dari bambu dan bilah kayu yang menjadi akses utama ke dalam kawasan Taman Mangrove Morosari menggunakan sepeda motor, selain menggunakan perahu. Jalan yang sangat sempit ini tidak memungkinkan untuk sepeda motor berpapasan.

taman mangrove morosari demak

Berfoto di kawasan Taman Mangrove Morosari menjadi salah satu daya tarik utama tempat ini, selain melihat dan mengamati satwa unik yang hidup di sana.

taman mangrove morosari demak

Tiga buah sampan bersandar di dekat sebuah rumah, seperti layaknya orang kota memiliki tiga buah kendaraan, sepeda motor atau mobil, untuk keperluan transportasi ketika keluar rumah. Satu buat ayah, satu buat ibu, dan satu lagi buat anaknya.

taman mangrove morosari demak

Tanda larangan lewat bagi sepeda motor, informasi tutupnya kawasan Taman Mangrove Morosari bagi pengunjung yang hendak jalan-jalan (tak berlaku bagi mereka yang hendak berziarah), dan terpotong di bagian bawah adalah kewajiban melapor bagi pengunjung yang membawa kamera selain hape.

taman mangrove morosari demak

Info Demak

Hotel di Demak, Peta Wisata Demak, Tempat Wisata di Demak.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.