Keraton Kasepuhan Cirebon

June 19, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Keraton Kasepuhan Cirebon kami kunjungi dengan menumpang becak secara beriringan, masing-masing becak diisi satu orang, setelah meninggalkan Vihara Pemancar Keselamatan yang mengesankan, melewati pasar dengan gapura menuju ke Keraton Kanoman, melewati Masjid Agung Sang Ciptarasa di sebelah kanan jalan, serta Alun-alun.

Setelah membayar tiket masuk, seorang pemandu wisata bernama Muhammad H Permadi dengan pakaian tradisional Cirebonan menemani kami masuk ke dalam lingkungan Keraton Kasepuhan, sembari memberi penjelasan mengenai sejarah, struktur bangunan, dan benda di dalam Keraton Kasepuhan yang jumlahnya hampir tak terhitung banyaknya. MH Permadi telah mengabdi di Keraton Kasepuhan Cirebon selama 13 tahun, dan merupakan generasi ke-17 yang mengabdi di keraton ini. Menurut penuturan Permadi, bangunan keraton dikerjakan oleh Raden Sepat, arsitek Prabu Brawijaya. Raden Sepat adalah santri Sunan Ampel yang ditugaskan untuk merancang bangunan-bangunan di Pulau Jawa.

Waktu pembangunan Keraton Kasepuhan Cirebon ini, Sunan Gunung Jati dibantu oleh Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Yang menjadi pengawas adalah Sunan Kalijaga yang juga mengawasi pembangunan Masjid Sang Cipta Rasa. Keraton Kasepuhan dibangun setelah pembangunan Masjid Demak lebih dahulu selesai dikerjakan.

keraton kasepuhan cirebon
Undakan dan Gapura Adi Keraton Kasepuhan Cirebon bergaya candi bentar Majapahitan yang menuju ke Siti Inggil atau lemah duwur. Siti tanah dan Inggil tinggi, yang ditafsirkan bahwa meskipun Adam diciptakan dari tanah namun derajadnya ditinggikan. Menempel pada dinding adalah piring porselen Eropa dan Tiongkok bertahun 1745.

Di Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding. Bangunan utamanya bernama Malang Semirang bertiang 6 melambangkan rukun iman dan jumlah keseluruhan tiangnya 20 buah yang melambangkan 20 sifat Allah. Gapura Banteng berada di selatan Siti Inggil, dimana terdapat Lingga Yoni dan Candra Sakala Kuta Bata Tinata Banteng yang berarti tahun 1451.

Saat saya lewat, seorang pria menabuh beduk di salah satu bangunan Siti Inggil Keraton Kasepuhan Cirebon tanda waktu Sholat Dzuhur tiba. Bangunan Siti Inggil warnanya merah, sedangkan bagian dalam keraton berwarna putih, melambangkan bahwa Sultan harus bisa menjadi penyatu antara rakyat di luar dengan pejabat yang di dalam.

Pada taman terdapat sepasang singa barong, meriam kecil, dengan latar gapura keraton. Keraton Kasepuhan Cirebon didirikan tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit Sunan Gunung Jati) yang naik tahta pada 1506. Sebelumnya keraton ini bernama Keraton Pakungwati, sehingga Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Batuan hitam di depan gapura bernama Tugu Manunggal delapan penjuru mata angin, dengan pot keramik putih yang menunjukkan arah masing-masing mata angin.

Di sini terdapat bundaran untuk tempat berputar, dan ditanam batu-batu karang yang konon berfungsi untuk menyaring air Keraton Kasepuhan Cirebon agar tidak terasa asin. Di atas atap bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon terdapat ornamen menyerupai angsa yang elok. Ukiran kayu dengan detail sangat indah terlihat di dekat pintu masuk. Di dalam kompleks ada dua museum, bangsal kraton, petilasan Dalem Agung Pakungwati, petilasan Sunan Gunung Jati, serta sumur kuno yang digunakan Sunan Gunung Jati dan keluarganya.

Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan peninggalan yang mengesankan, perpaduan budaya Hindu Jawa, Islam Jawa, Tionghoa, dan Belanda. Perawatan menjadi tantangan bagi keraton yang luasnya 25 Ha ini, dengan luas total tembok keliling 50 Ha. Acara tahunan paling sakral adalah Panjang Jimat, semacam Sekatenan yang merupakan peringatan Maulid Nabi.

Saya sempat mengambil foto pemandangan pada Bangsal Pringgandani tempat dimana Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon menerima pisowanan para Adipati, dengan ornamen keramik pada dinding di latar belakang. Kayu pada langit-langit ruangan bangsal berornamen ukir warna-warni dengan detail indah yang didonimansi warna hijau dan lampu kristal di tengah-tengahnya.

Keramik-keramik Belanda dan Tiongkok yang menempel pada dinding ruangan berjumlah sangat banyak, dengan lukisan klasik yang sangat beraneka ragam dan indah. Dari sekian banyak keramik itu, hanya ada satu keramik yang berisi lukisan "The Last Supper". Selain keramik, ada pula hiasan ukir pada kayu berupa bentuk bunga dan burung hitam.

Hampir setiap bagian di dalam keraton ini ada filosofinya, dan pemandu wisata keraton yang berjumlah 12 orang itu semuanya sanggup menjelaskannya dengan sangat rinci. Benda lain yang menarik perhatian saya adalah umpak dengan detail ornamen sangat indah. Umpak itu berada pada bangunan di bagian depan keraton yang semuanya masih asli.

Keraton Kasepuhan Cirebon

Alamat : Kelurahan Kasepuhan, Kec Lemahwungkuk, Cirebon. Lokasi GPS : -6.72611, 108.57098, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Keraton Kasepuhan

Pada taman terdapat sepasang singa barong, meriam kecil, dengan latar gapura keraton. Keraton Kasepuhan Cirebon didirikan tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit Sunan Gunung Jati) yang naik tahta pada 1506. Sebelumnya keraton ini bernama Keraton Pakungwati, sehingga Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Batuan hitam di depan gapura bernama Tugu Manunggal delapan penjuru mata angin, dengan pot keramik putih yang menunjukkan arah masing-masing mata angin.

keraton kasepuhan cirebon

Pemandangan pada Bangsal Pringgandani tempat dimana Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon menerima pisowanan para Adipati, dengan ornamen keramik pada dinding di latar belakang. Kayu pada langit-langit ruangan bangsal berornamen ukir warna-warni dengan detail indah yang didonimansi warna hijau dan lampu kristal di tengah-tengahnya.

keraton kasepuhan cirebon

Salah satu bangunan pendopo tanpa dinding di Siti Inggil, dengan satu lagi terlihat di belakangnya. Kemuncaknya bertingkat dua dengan tangan mengarah keempat penjuru mata angin dan kelopak bunga di puncaknya. Bangunan utamanya bernama Malang Semirang bertiang 6 melambangkan rukun iman dan jumlah keseluruhan tiangnya 20 buah yang melambangkan 20 sifat Allah.

keraton kasepuhan cirebon

Gapura Banteng Keraton Kasepuhan Cirebon yang berada di sebelah selatan Siti Inggil, dimana terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang berarti tahun 1451. Di sebelah kanan adalah batu Lingga dan Yoni, lambang kesuburan pria dan wanita dalam budaya Hindu.

keraton kasepuhan cirebon

Seorang pria tengah menabuh beduk di Keraton Kasepuhan Cirebon tanda waktu Sholat Dzuhur telah tiba. Bangunan Siti Inggil yang berada di sebelah luar warnanya merah, sedangkan bagian dalam Keraton Kasepuhan Cirebon berwarna putih, yang melambangkan bahwa Sultan harus bisa menjadi penyatu antara rakyat di sebelah luar dengan pejabat-pejabat yang berada di dalam.

keraton kasepuhan cirebon

Papan petunjuk arah di dalam kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. Di Keraton Kasepuhan Cirebon ini terdapat dua museum, bangsal kraton, petilasan Dalem Agung Pakungwati, petilasan Sunan Gunung Jati, serta sumur kuno yang digunakan oleh Sunan Gunung Jati dan keluarganya.

keraton kasepuhan cirebon

Batuan hitam yang berada di tengah bernama Tugu Manunggal delapan penjuru mata angin, dengan pot keramik putih yang menunjukkan arah masing-masing mata angin. Di sini terdapat bundaran untuk tempat berputar, dan ditanam batu-batu karang yang konon berfungsi untuk menyaring air Keraton Kasepuhan Cirebon agar tidak terasa asin.

keraton kasepuhan cirebon

Ornamen yang menyerupai kepala angsa atau burung yang terlihat pada atap Keraton Kasepuhan Cirebon. Ornamen ini hanya ada pada pinggiran dan lekukan atap, tidak ada ornamen pada bagian tengahnya. Pada dinding terlihat ornamen berupa kuntum bunga yang sering terlihat pada bangunan kerajaan.

keraton kasepuhan cirebon

Sebuah ukiran kayu dengan detail yang sangat indah yang menjadi tiang penyangga atap bagi bangunan kecil yang berada di dekat pintu masuk ruangan Keraton Kasepuhan Cirebon. Pada kayu bersusun di langit-langit juga ada ragam hias ukirnya.

keraton kasepuhan cirebon

Susunan kayu pada langit-langit dengan detail ornamen ukir indah yang didonimansi dasar warna hijau dengan lampu kristal di tengahnya ini berada di ruangan depan Bangsal Pringgandani Keraton Kasepuhan Cirebon, tempat menghadapnya para Adipati.

keraton kasepuhan cirebon

Sejumlah kursi dan sebuah meja bundar dengan ragam hias ukir suluran dan bunga di bagian tepinya, menjadi tempat meletakkan tengara bagi Bangsal Pringgandani Keraton Kasepuhan Cirebon.

keraton kasepuhan cirebon

Ornamen ukir kayu dengan bunga merah kuning, daun kehitaman, dan sepasang burung berwarna krem dengan kepala memutar mengarah ke atas. Ornamen ini dikelilingi puluhan keramik klasik dengan lukisan dalam lingkaran berwarana tunggal biru laut. Banyak diantara lukisan pada keramik itu yang persis sama atau sangat mirip, yang kebanyakan berupa lukisan binatang dan pemandangan alam.

keraton kasepuhan cirebon

Sebuah piring keramik berlukis rumah Eropa, pepohonan, perahu, dan jembatan, berada di tengah tatanan keramik lainnya yang jelas berupa keramik Belanda, dengan adanya kincir angin dan dan bendera tiga warna pada atap sebuah rumah. Kondisi keramik-keramik itu boleh dikatakan kurang baik. Diperlukan seorang ahli untuk membuat keramik itu kembali bercahaya dan menjadi terlihat anggun kembali.

keraton kasepuhan cirebon

Keramik dinding lainnya dengan ragam hias ukir kayu di bagian atasnya. Keramik ini juga dari Belanda, dengan lukisan kincir angin, binatang, sungai, pemandangan alam, dan bendera tiga warna. Berbeda dengan keramik sebelumnya, kondisi keramik ini masih cukup baik.

keraton kasepuhan cirebon

Lukisan pada keramik yang ada di tengah itu tampaknya adalah apa yang disebut sebagai "The Last Supper", meskipun tidak sama persis dengan lukisan aslinya yang dibuat oleh Leonardo da Vinci. Lukisan di kanan kirinya juga berupa lukisan manusia yang mestinya ada cerita yang hendak disampaikan dari setiap lukisan itu.

keraton kasepuhan cirebon

Bahkan pada dinding undakan pun di tempel deretan keramik. Ada dua warna keramik di Keraton Kasepuhan ini, yaitu biru laut dan keunguan. Warna biru laut lebih banyak berisi lukisan alam dan binatang serta gedung, sedangkan yang warna keunguan lebih banyak bercerita tentang manusia.

keraton kasepuhan cirebon

Bisa dibayangkan bagaimana keindahan ruangan ini ketika semua keramik dan ukir kayu itu baru saja dipasang. Pasti sangat indah dan cemerlang. Menjaga peninggalan berharga memang sering tidak mudah, dan lebih tidak mudah lagi untuk membuatnya menjadi lebih indah dan lebih anggun dari sebelumnya. Itulah yang kini dihadapi oleh pewaris Keraton Kasepuhan Cirebon.

keraton kasepuhan cirebon

Umpak dengan detail ornamen sangat indah yang berada pada bangunan di bagian depan keraton yang semuanya masih asli. Umpak adalah landasan bagi tiang kayu penopang atap sebuah bangunan tradisional Jawa yang biasanya terbuat dari batu alam atau batu andesit.

keraton kasepuhan cirebon

Dinding luar Keraton Kasepuhan bercorak Majapahitan yang artistik, dihias keramik Cina dan Eropa. Luas total tembok keliling keraton adalah 50 Ha, sedangkan luas Keraton Kasepuhan sendiri 25 Ha.

keraton kasepuhan cirebon

Info Cirebon

Hotel di Cirebon, Hotel Murah di Cirebon, Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.