Blog Post, Dongeng

Dongeng - Menyelamatkan Burung Kecil

Suatu hari saat musim semi, empat pria terlihat sedang menunggang kuda di jalanan pedesaan. Orang-orang ini adalah para pengacara, dan mereka sedang pergi ke kota sebelah untuk menghadiri sebuah sidang pengadilan.

Hujan yang turun beberapa saat sebelumnya telah membuat tanah menjadi sangat lunak. Air menetes dari sela rimbun pepohonan, dan rerumputan pun tampak basah.

Keempat pengacara itu berkuda berurutan, satu di belakang yang lain oleh karena jalannya sempit, dan lumpur di setiap sisinya cukup dalam. Mereka berkuda dengan perlahan, sambil berbincang dan sesekali tertawa dengan sangat riang.

Saat mereka melewati rerimbunan pohon-pohon kecil, mereka mendengar kicauan nyaring di atas kepala mereka dan kicau lemah di rerumputan di pinggir jalan.

"Cicitcuit! cicitcuit! cicitcuit!" suara yang berasal dari cabang-cabang berdaun di atas kepala mereka.

"Ciak! ciak! ciak!" suara yang berasal dari rerumputan basah.

"Ada apa ini?" tanya pengacara pertama yang bernama Speed. "Oh, itu hanya suara burung Robin tua!" sahut pengacara kedua yang bernama Hardin.

"Badai rupanya telah menerbangkan dua burung kecil itu keluar dari sarangnya. Mereka terlalu muda untuk bisa terbang dan induk burung membuat suara ribut karena soal itu."

"Sayang sekali! Mereka akan mati di rerumputan di bawah sana," kata pengacara ketiga yang namanya saya lupa.

"Oh, baiklah! Mereka hanyalah burung," kata Hardin. "Kenapa kita harus repot?"

"Ya, kenapa harus kita yang repot?" timpal Speed.

Ketiga pria itu melihat ke bawah dan terlihat burung-burung kecil sedang berusaha terbang di rerumputan yang dingin dan basah. Mereka pun melihat induk Robin terbang kesana kemari, seperti menangis pada pasangannya.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan, berbincang dan tertawa-tawa seperti sebelumnya. Dalam beberapa menit mereka telah melupakan persoalan burung-burung itu.

Tetapi pengacara keempat yang bernama Abraham Lincoln, berhenti. Dia turun dari kudanya dan dengan sangat lembut mengambil anak-anak burung kecil itu di tangannya yang besar dan hangat.

Mereka tidak tampak ketakutan, tetapi berkicau pelan, seolah-olah mereka tahu bahwa mereka aman dan akan mendapat pertolongan.

"Sudahlah, teman-teman kecilku," kata Lincoln "Aku akan membawa dan meletakkanmu di tempat tidur kecilmu yang nyaman."

Kemudian ia melihat ke atas untuk menemukan sarang dari mana anak-anak burung itu jatuh. Sarang itu ternyata tinggi, jauh lebih tinggi dari yang bisa ia capai.

Tapi Lincoln bisa memanjat pohon dengan baik karena terbiasa melakukannya ketika masih kecil. Ia lalu meletakkan burung-burung kecil itu dengan lembut, satu per satu, ke dalam rumah kecil mereka yang hangat. Dua burung kecil lainnya yang tidak terjatuh masih ada di sana. Semua berpelukan dan tampak sangat bahagia.

Tak lama kemudian, ketiga pengacara yang berkuda di depan berhenti di sebuah mata air untuk memberi kesempatan kepada kuda mereka agar bisa minum.

"Di mana Lincoln?" tanya pria pertama.

Semua terkejut setelah sadar bahwa ia tidak bersama mereka.

"Apakah kamu ingat burung-burung itu?" kata Speed. "Sangat mungkin dia berhenti untuk menolong mereka."

Dalam beberapa menit kemudian Lincoln pun bergabung dengan mereka. Sepatunya tertutup lumpur dan mantelnya terlihat robek karena tersangkut dahan pohon.

"Hai, Abraham!" kata Hardin. "Kemana saja kau?"

"Aku berhenti sebentar untuk memberikan burung-burung kecil itu kepada induk mereka," jawabnya.

"Yah, kami memang selalu menganggapmu sebagai pahlawan," kata Speed. "Sekarang kita telah membuktikannya."

Kemudian mereka bertiga tertawa terbahak-bahak karena menganggap adalah sangat bodoh bahwa seorang pria kuat harus begitu repot hanya untuk beberapa burung muda yang sama sekali tidak berharga.

"Kawan-kawan," kata Lincoln, "aku tidak akan bisa tidur malam ini jika meninggalkan burung Robin kecil yang tak berdaya itu untuk binasa di rumput basah."

Abraham Lincoln kemudian menjadi sangat terkenal sebagai pengacara dan negarawan. Ia pun terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-16, yang menjabat sejak 4 Maret 1861. Setelah George Washington, ia adalah orang Amerika berikutnya yang paling hebat dalam sejarah negara itu.

Sumber: The Gutenberg Project, Fifty Famous People oleh James Baldwin.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang lahir di Desa Mersi - Purwokerto, dan sekarang tinggal di Jakarta. Diperbarui: Juni 21, 2021.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".

« Tulisan Baru©2021 IkutiTulisan Lama »



Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.