Masjid Al-Mansyur Sawah Lio Jakarta Barat

February 13, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Tak begitu mudah menemukan lokasi Masjid Al-Mansyur Sawah Lio Jakarta. Sempat melihat gapura dari besi batangan berbentuk kubah masjid di mulut gang ketika melintas Jl KH Muhammad Mansyur namun mengabaikannya lantaran tak menduga bahwa itu adalah tanda buat ke masjid ini. Selain tak melihat nama gang, fokus saat itu memang mencari lokasi Masjid Jami An-Nawier Pekojan.

Tak sadar juga bahwa nama Jl KH Muh Mansyur yang saya lewati diambil dari nama tokoh ulama Betawi dan pejuang yang namanya digunakan sebagai nama Masjid Sawah Lio itu. Barulah ketika mencari masjid ini kami melewati gapura itu untuk masuk ke gang Jl Sawah Lio II. Ada baiknya memang di setiap mulut jalan di Jakarta dibuat patung dan prasasti yang berisi riwayat singkat tokoh yang namanya dipakai sebagai nama jalan.

Masjid Al-Mansyur Sawah Lio Jakarta Barat didirikan pada 1717 M oleh Abdul Malik yang konon adalah putera dari Pangeran Cakrajaya dari Mataram. Arah mihrab kemudian diperbaiki oleh Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin bersama sejumlah ulama setempat pada 11 Agustus 1767 M.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta
Sekitar 70 meter masuk gang terlihat sebuah masjid di kanan jalan dengan menara tunggalnya. Adanya dua papan lapuk berdasar putih bertulis hitam menandai bangunan cagar budaya yang ditetapkan pada 1980 oleh Mendikbud dan Gubernur DKI Jakarta, memberi keyakinan bahwa ini adalah masjid yang saya hendak kunjungi. Foto di atas memperlihatkan dua papan penanda itu serta menunjukkan tampak muka Masjid Al-Mansyur Sawah Lio dengan menaranya.

Atap masjid yang berbentuk limasan tak begitu terlihat, lantaran bidang pandang yang sempit serta karena atapnya tak terlalu tinggi. Daerah Sawah Lio dimana masjid berada dahulunya memang terdapat persawahan. Disebut Sawah Lio karena selain ada persawahan, di daerah ini juga ada tempat pembakaran batu bata (lio) yang lokasinya berada di dekat jembatan.

Adalah KH. Muhammad Mansyur yang menggunakan masjid ini sebagai basis untuk menggerakkan pejuang di sekitar Tambora dalam melawan tentara pendudukan Belanda pada masa perang kemerdekaan. Keberanian KH Muhammad Mansyur mengibarkan bendera Merah Putih di atas menara masjid membuat marah Belanda, dan memicu baku tembak antara pejuang yang berada di dalam masjid dengan tentara Belanda. KH. Muhammad Mansyur kemudian diadili dan dibui oleh Belanda lantaran perbuatannya itu.

Keempat sokoguru yang masih terlihat kekar kokoh itu menopang atap tumpang tiga masjid yang berbentuk limasan. Tangga kayu itu sebelumnya digunakan oleh muazin untuk naik ke menara masjid yang kala itu masih ada di sini saat hendak mengumandangkan adzan. Perluasan Masjid Al-Mansyur Sawah Lio dilakukan pada 1937, dipimpin oleh KH. Muhammad Mansyur bin H. Imam Muhammad Damiri.

Di ruang utama dimana terdapat mihrab dan mimbar, ada pilar-pilar penyangga yang jumlah seluruhnya berjumlah 16, empat diantaranya adalah sokoguru. Bagian ini merupakan area asli Masjid Al-Mansyur Sawah Lio yang berukuran 12 x 14,4 meter. Lazimnya di sebuah masjid, pemandangan orang meluruskan punggung pun terlihat pula di sini, meski ada tanda dilarang tidur. Kesan pertama ketika memasuki ruang Masjid Al-Mansyur Sawah Lio saat itu adalah bahwa masjid ini sudah memerlukan perhatian Pemprov DKI untuk dilakukan pemugaran, dari mulai pengecatan, perbaikan genteng bocor, sampai keramik.

KH Muhammad Mansyur, yang dulu lebih dikenal sebagai Guru Mansyur, lahir di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta, pada 1878 M. Semasa hidupnya ia dikenal sabagai ahli falak dengan ilmu agama yang tinggi, serta seorang pejuang yang berani. Beliau wafat pada 12 Mei 1967 dan dimakamkan di area masjid ini. Ucapannya yang khas dan masih dikenang orang adalah "Rempug! Kalau jahil belajar. Kalau alim mengajar. Kalau sakit berobat. Kalau jahat lekas tobat." Untuk menghargai jasa-jasanya, pemerintah RI menggunakan namanya sebagai nama masjid yang sebelumnya dikenal sebagai Masjid Kampung Sawah ini, serta sebagai nama jalan besar di ujung gang dekat masjid.

Sebuah bedug dengan dudukan sederhana, berikut kentongannya, saya jumpai di bagian belakang Masjid Al-Mansyur Sawah Lio Jakarta. Bedug sempat dikeluarkan dari dalam masjid-masjid dan digantikan pengeras suara oleh Islam modernis yang menguasai kementrian agama pada jaman Orde Baru. Namun tindakan ini mendapat perlawanan keras dari warga NU sehingga keberadaan bedug masih tetap lestari sampai saat ini. Masuknya bedug ke dalam masjid diduga karena pengaruh kedatangan Laksamana Cheng Ho, seorang muslim, yang sampai tujuh kali mampir ke berbagai tempat di Indonesia pada kurun waktu 1405 - 1433. Meski budaya asli Nusantara juga mengenal pemakaian alat tabuh pada acara ritual, namun struktur bedug lebih mirip tambur pada kebudayaan Tiongkok.

Masjid Al-Mansyur Sawah Lio adalah masjid tertua ketiga di Jakarta. Masjid pertama di Jakarta berada di Jl Kali Besar Barat dan Jl Roa Malaka Utara. Sayangnya masjid bergaya Jawa dengan bahan utama kayu ini dihancurkan ketika J.P. Coen menyerbu dan menduduki Jayakarta pada 1619. Masjid kedua di Jakarta adalah Masjid Al-Anshor yang didirikan pedagang Islam asal Hejaz dan Gujarat pada 1648, sekarang ada di Jl Pengukiran II, Pekojan. Selanjutnya berturut-turut adalah Masjid Al-Mansyur (1717) di Sawah Lio ini, lalu Masjid Luar Batang (1736), Masjid Kampung Baru (1748) di Bandengan Selatan, dan Masjid Jami AnNawier (1760) di Pekojan.

Masjid Al-Mansyur Sawah Lio Jakarta masih memerlukan halaman parkir yang memadai, juga taman yang luas untuk menjadikan masjid tertua ketiga di Jakarta ini menjadi ikon Jakarta tempo dulu yang anggun hijau. Dengan begitu, selain menjadi ruh kota, masjid ini nantinya bisa dibanggakan bukan saja oleh warga Betawi, namun juga oleh warga Jakarta pada umumnya.

Masjid Al-Mansyur Sawah Lio Jakarta

Alamat : Jalan Sawah Lio II/33, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.1465, 106.80636, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Masjid Al-Mansyur Sawah Lio

Sokoguru masjid yang kokoh menyangga atap masjid yang berbentuk limasan tumpang tiga. Ada tangga kayu untuk naik ke menara masjid namun saya tak naik ke sana.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta

Mihrab dan mimbar masjid berada di ujung ruangan utama yang berhias pilar berjumlah 16 buah. Bagian asli Masjid Al-Mansyur Sawah Lio berukuran 12 x 14,4 meter. Saat itu Masjid Al-Mansyur Sawah Lio sudah membutuhkan uluran Pemprov DKI untuk dipugar dan diperbaiki.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta

Bedug dan kentongannya ada di bagian belakang Masjid Al-Mansyur Sawah Lio. Masuknya bedug ke masjid diduga merupakan pengaruh dari kedatangan Laksamana Cheng Ho ke berbagai tempat di Indonesia pada rentang waktu 1405 - 1433.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta

Mihrab yang serong itu, jam duduk besar, serta mimbar antik yang masih asli berbentuk seperti sebuah kursi tinggi dengan sandaran gemuk berwarna keemasan. Selain mimbar, bagian yang masih asli di Masjid Al-Mansyur Sawah Lio adalah keempat sokoguru, jendela, dan pintu masjid.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta

Kesan pertama ketika memasuki ruang Masjid Al-Mansyur Sawah Lio adalah bahwa masjid ini sudah memerlukan perhatian dari Pemprov DKI untuk dilakukan perbaikan dan pemugaran, dari mulai sekadar pengecatan, perbaikan genteng bocor, sampai pada pemolesan keramik masjid.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta

Memasuki halaman masjid yang sempit terlihat papan nama dan jadwal rutin sholat Jumat menempel pada dinding di samping pintu masuk bercat hijau dengan ornamen kotak ganda warna keemasan dan ornamen dedaunan pada kusennya.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta

Menara Masjid Al-Mansyur Sawah Lio ini dibuat pada tahun 1950-an untuk menggantikan menara asli yang yang sebelumnya berada di dalam ruang utama masjid. Menara masjid terdiri dari lima bagian dengan pelipit setengah lingkaran membatasi bagian pertama sampai ketiga. Pada bagian keempat dan kelima terdapat dek pengamatan berpagar besi. Sedangkan pada bagian puncak menara terdapat kubah yang menyerupai bentuk topi baja.

masjid al-mansyur sawah lio jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Barat, Tempat Wisata di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.