Langgar Bubrah Kudus

November 16, 2019. Label:
aroengbinang.com - Namanya cukup eksotis, Langgar Bubrah Kudus, yang dari sana orang bisa memperkirakan bahwa kondisi langgar ini tentu tidak berada dalam keadaan utuh. Namun demikian, meskipun katakanlah berupa reruntuhan sekalipun, tetap kurang afdol jika tak mengunjunginya. Lagipula jaraknya dekat saja, masih di dalam kota, hanya sekitar 400 meter dari Masjid Menara Kudus, arah ke selatan.

Langgar ini berada di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati sepeda motor, sekitar 180 meter dari Jalan Sunan Kudus, atau jika masuk dari Jl. Dr. Wahidin maka bisa jalan kaki masuk ke dalam gang sejauh 200 meter. Nama Langgar Bubrah Kudus mengingatkan saya pada sebuah reruntuhan candi yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan.

Gang yang berada di sebelah timur dan sejajar dengan Jl Kyai Telingsing itu sebenarnya lurus saja, dan pasti ketemu langgarnya jika sudah ada di dalam gang ini, namun saya sempat bertanya saat berpapasan dengan seorang penduduk, hanya untuk memastikan. Bertanya memang mudah, menjawabnya yang kadang susah, oleh karena itu bertanya belum tentu tak sesat di jalan, jika bertemu orang yang salah.

langgar bubrah kudus

Tanda Langgar Bubrah Kudus yang mencolok, ditulis dengan huruf besar berwarna putih di atas dasar hitam yang kontras. Di bawahnya ada pernyataan bawah situs ini merupakan benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Diperkuat dengan plang di sebelahnya yang berisi larangan merusak, mengambil, memindahkan, mengubah bentuk, dan memisahkan bagian kelompok dan kesatuan, yang dibuat Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Meskipun namanya Langgar Bubrah, namun bangunan yang terbuat dari susunan bata merah telanjang ini tidak atau belum sepenuhnya runtuh karena struktur dindingnya masih ada, sebagian masih rapi dan sebagian retak di sana sini.

Namun tinggi dinding Langgar Bubrah Kudus terlihat tidak rata, ada yang sampai 2,5 meter dan ada yang tinggal semetaran saja. Bangunan ini dinaungi atap genteng berbentuk joglo yang meninggi di tengahnya. Atap itu tidak asli dari dulunya, namun dibuat hanya untuk melindungi bangunan bata di bawahnya.

Langgar yang dibangun sebelum Masjid Menara itu kabarnya merupakan basis awal penyebaran Islam di Kudus sebelum Menara dibangun. Ada beberapa mitos yang berkembang sehubungan dengan rusaknya langgar ini. Salah satunya adalah ketika Pangeran Pontjowati sedang menyelesaikan pembangunan langgar menjelang subuh, ia melihat seorang janda sedang menyapu yang membuatnya pergi tak menyelesaikan pembuatan langgar dan merubah wanita itu menjadi patung. Patung itulah yang terpahat pada batu yang ada di sana.

langgar bubrah kudus

Ada yang menarik ketika kami mengelilingi bangunan langgar yang tak begitu besar ini, yaitu adanya batu tegak yang bentuknya agak aneh karena tak sepenuhnya persegi dan bagian atasnya rompal, sebuah batu bundar dengan lubang di tengahnya yang mungkin merupakan umpak atau landasan tiang kayu, dan sebuah batu lagi yang permukaannya segi empat dan mengecil di tengahnya. Kedua batu pertama berwarna kehitaman, sedangkan yang terakhir bersemu coklat putih.

Yang tak kalah menariknya adalah adanya ornamen pada dinding batu bata yang ada di sebelah ketiga batu itu. Meskipun bagian bawah susunan batanya sudah terlihat sudah berantakan, namun bagian yang ada ornamennya relatif masih bagus. Hanya saja sulit untuk menyebutkan bentuk apa yang hendak digambarkan pada ornamen itu, selain bunga dan dedaunan.

Tidak terlihatnya bentuk hewan atau manusia pada Langgar Bubrah Kudus boleh jadi karena sudah sepenuhnya dipengaruhi oleh tradisi dalam agama Islam, yang umumnya hanya memperbolehkan ornamen dalam bentuk suluran, dedaunan dan bebungaan. Karenanya tidak akan pernah ditemukan adanya ornamen dalam bentuk hewan atau orang di dalam tempat ibadah agama Islam.

Langgar Bubrah ini konon dibangun pada sekitar tahun 1533 Masehi oleh Pangeran Pontjowati, yang menikahi puteri Sunan Kudus bernama Ratu Prodobinabar. Makam Pangeran yang disebut sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang ini saya jumpai saat berkunjung ke Makam Sunan Kudus.

Meski ada pendapat bahwa langgar ini tak selesai dibuat, namun saya cenderung pada anggapan bahwa langgar ini dahulunya sempurna hanya saja kemudian rusak, entah dimakan waktu atau rusak semasa perang yang terjadi di berbagai jaman. Walau nyaris berupa reruntuhan, namun Langgar Bubrah Kudus ini masih menarik untuk dikunjungi.

Sebuah dinding bata rendah dengan ornamen berbentuk berlian dan bulatan berada dalam kotak-kotak, dan di atasnya ada batu memanjang dengan relief orang di bagian bawah dan lekuk bermotif dedaunan yang dibuat simetris repetitif hingga sampai ke ujung. Posisi asli batu memanjang itu kemungkinannya adalah tegak, entah sebagai pilar penyangga atau berada pada sisi pintu masuk.

Pandangan pada dinding dengan sepasang gapura yang memisahkan bagian luar dan bagian dalam langgar sempat saya ambil fotonya. Dalam keadaan utuh, gapura ini mestinya berbentuk paduraksa karena memisahkan bagian tengah dengan bagian dalam dimana ibadah biasa dilaksanakan. Relief pada dinding bata juga terlihat pada tembok di ujung sana.

Selain adanya dinding-dinding bata yang memiliki relief bebungaan, berlian, bulatan, dan bentuk lainnya, ada pula sejumlah batu kuno yang sepertinya merupakan peninggalan dari jaman kebudayaan Hindu Buddha, atau boleh jadi berumur lebih tua lagi. Di dalam ruang utama juga ada lekukan segi empat yang menyerupai tempat bagi imam.

Agak sulit untuk mengkaitkan langgar ini sebagai peninggalan kebudayaan Hindu, namun adanya relief orang, dan batu tegak yang mungkin adalah lingga, bisa jadi merupakan sedikit dari petunjuk keterkaitan itu. Ada atau tidak, mungkin sudah waktunya langgar ini direstorasi sehingga bisa menjadi bangunan utuh yang anggun memikat, karena memelihara warisan budaya tidak mesti harus membiarkannya terus dalam keadaan rusak.

Langgar Bubrah Kudus

Alamat : Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Lokasi GPS : -6.807014, 110.8335301, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto Langgar Bubrah Kudus

Sebuah dinding bata rendah dengan ornamen berbentuk berlian dan bulatan yang berada dalam kotak-kotak, dan di atasnya ada batu memanjang dengan relief orang di bagian bawah dan lekuk bermotif dedaunan yang dibuat simetris repetitif hingga sampai ke ujung. Posisi asli batu memanjang itu kemungkinannya adalah tegak, entah sebagai pilar penyangga atau berada pada sisi pintu masuk.

langgar bubrah kudus

Pandangan pada dinding dengan sepasang gapura yang memisahkan bagian luar dan bagian dalam langgar. Dalam keadaan utuh, gapura ini mestinya berbentuk paduraksa karena memisahkan bagian tengah dengan bagian dalam dimana ibadah biasa dilaksanakan. Relief pada dinding bata juga terlihat pada tembok di ujung sana.

langgar bubrah kudus

Sudut pandangan yang memperlihatkan cungkup atap langgar, yang meskipun dibuat belakangan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada situs, namun mampu membuat langgar ini menjadi sedikit lebih menarik.

langgar bubrah kudus

Sudut pandang lain pada batu bundar dan batu tegak dengan reruntuhan tembok bata di ujung sana. Ada yang menyebut batu bundar itu sebagai tempat sesaji, dan ada pula yang menyebut batu tegak itu sebagai Lingga. Namun lingga biasanya sepenuhnya peregi atau bulat untuk diletakkan pada Yoni.

langgar bubrah kudus

Salah satu sudut dinding bata dengan ornamen berupa bunga dan dedaunan, yang sebagian telah rusak karena retak dan lepas. Saya tak menemukan bentuk binatang atau manusia pada ornamen bata ini. Saya kira bata-bata berornamen itu dibentuk dahulu dan baru kemudian dibakar dan disusun menurut polanya.

langgar bubrah kudus

Bentuk dinding pada bagian tengah terlihat nyaris masih sempurna, hanya bagian bawah, samping dan atasnya yang terlihat berantakan atau tidak pada keadaan aslinya. Saya tak bisa membayangkan setinggi apa dinding ini pada keadaan aslinya, karena jika tidak ada lubang hawa dan lubang udara, maka dinding bata itu mestinya tidak terlalu tinggi.

langgar bubrah kudus

Bagian sudut dinding bata yang mengesankan bentuk seperti pilar dengan ornamen yang dibuat simetris. Bagi saya yang menarik adalah bagaimana proses perencanaan pembuatan langgar ini, dan bagiamana ornamen itu dibuat, sehingga memberi bentuk seperti yang terlihat pada foto. Boleh jadi bata mentah dibakar setelah diukir dan sudah disusun dalam posisi terpasang seperti itu. Jika tidak, tentu akan sangat repot dalam menyusunnya, kecuali bagian belakang bata diberi nomor urut.

langgar bubrah kudus

Meskipun atap langgar bukanlah bagian dari bangunan asli, namun bentuk dan ornamen pada puncak dan sisi atapnya terlihat cukup menarik. Bagian tengahnya seperti labu dengan sulur-suluran, dan di kiri kanannya berjejer masing-masing tiga hiasan yang mengingatkan saya pada makuta wayang.

langgar bubrah kudus

Pandangan dekat pada ornamen di sebuah dinding langgar. Meskipun pada ornamen yang berada di bagian atas saya bisa melihat ada bentuk semacam mahluk manusia, namun itu sangat samar. Sedangkan ornamen pada bagian bawah jelas merupakan bunga dan dedaunan.

langgar bubrah kudus

Lekukan berbentuk persegi yang berada di sudut ruangan bagian dalam. Boleh jadi area itu adalah tempat yang dikhususkan bagi imam ketika shalat berjamaah. Karena lekuk ini seingat saya mengarah ke kiblat yang ada di sebelah barat. Bisa juga itu merupakan area untuk bersemedi.

langgar bubrah kudus

Penampakan pada dinding yang berada di sisi sebelah kanan lekukan tempat imam itu. Susunan batanya terlihat polos saja, dan sudah agak berantakan, kecuali pada susunan bata yang berada di dekat lekukan tempat imam yang membentuk lekuk semacam pilar.

langgar bubrah kudus

Salah satu akses masuk ke dalam ruangan langgar, dengan sisi kanan yang sudah berantakan hanya berupa tumpukan bata yang disusun ala kadarnya. Di ujung sana adalah lekuk yang saya duga tempat imam itu.

langgar bubrah kudus

Salah satu bagian pojok dinding berupa pilar yang kondisinya relatif masih baik, meskipun ornamennya sudah tak bisa dilihat dengan sempurna. Susunan bata itu meskipun tidak menggunakan rekatan semen sebenarnya terlihat kokoh. Konon pada jaman dahulu orang menggunakan campuran putih telur sebagai bahan perekat.

langgar bubrah kudus

Ornamen tegak lainnya yang terlihat masih relatif utuh. Penggunaan bata merah boleh jadi dengan pertimbangan biaya yang jauh lebih murah ketimbang menggunakan batu dan kayu, meskipun mencari kayu berkualitas bagus pada jaman itu tentu saja masih sangat mudah.

langgar bubrah kudus

Sudut pandang yang memperlihatkan struktur tembok bata yang sudah tidak sempurna lagi, dan bangunan atap penutup di atasnya. Jika dibiarkan terus dalam kondisi seperti itu, saya khawatir bangunan ini akan benar-benar runtuh menjadi hanya sekadar tumpuk bata tak bermakna.

langgar bubrah kudus

Ornamen pada salah satu bagian bawah struktur dinding langgar, dengan ornamen berupa lingkaran, segi empat, dan berlian. Sayang tumpuk bata di bagian atasnya terlihat sudah sangat rapuh dan sepertinya tinggal menunggu keruntuhan dengan getaran sedikit saja.

langgar bubrah kudus

Ornamen pada bagian bawah dinding lainnya, yang menyerupai ornamen pada foto sebelumnya. Hanya saja ornamen di sebelah kanannya lagi sudah rusak dan tinggal berbentuk tumpuk bata. Lumut sudah mulai tumbuh pada bagian bawah bata, yang membuatnya akan semakin rapuh dan mudah hancur.

langgar bubrah kudus

Pemandangan pada gang dimana Langgar Bubrah Kudus berada. Kudus adalah sebuah kota berbudaya yang bisa dibilang kaya secara finansial. Mengumpulkan dana untuk membiayai restorasi langgar ini saya kira bukan merupakan hal yang sulit. Tinggal menemukan seorang pakar bertangan dingin yang bisa merancang ulang langgar ini sehingga menjadi bagunan anggun memukau, dan saya kira dana restorasi akan mengalir dengan mudah, jika pun tak bisa dibiayai dengan APBD.

langgar bubrah kudus

Pandangan tegak pada dinding bata rendah dengan ornamen berlian dan bulatan dalam kotak-kotak, dan di batu memanjang dengan relief orang dan lekuk bermotif dedaunan.

langgar bubrah kudus

Info Kudus

Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.